cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Department of Naval Architecture
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Jurusan Teknik Perkapalan yang berisi artikel karya ilmiah mahasiswa program Sarjana Teknik Perkapalan universitas Diponegoro
Arjuna Subject : -
Articles 797 Documents
ANALISA KEKUATAN KONSTRUKSI TANK TOP AKIBAT PERPINDAHAN POSISI DARI GENERATOR SET PADA KAPAL ACCOMODATION WORK BARGE ( AWB ) 5640 DWT DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Achmad Nurochman; Imam Pujo Mulyatno; Hartono Yudo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 4 (2015): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.356 KB)

Abstract

Accomodation Work Barge atau disingkat AWB adalah kapal tongkang kerja yang tidak memiliki alat penggerak sendiri. Untuk memenuhi semua kebutuhan kelistrikan di dalam kapal menggunakan Generator Set sebagai sumber daya utamanya. Pada kapal AWB 5640 DWT telah dilakukan perubahan posisi atau tata letak dari Generator Set yang ada. Karena perpindahan posisi dari Generator Set ini, maka akan menimbulkan beban yang berbeda pada konstruksi Pondasi dan Tank Top kapal tersebut. Dalam kasus ini, maka diperlukan analisa kekuatan untuk menjamin bahwa pondasi dari Generator Set dan konstruksi Tank Top dibawahnya mencukupi persyaratan yang diijinkan. Penelitian ini menggunakan metode elemen hingga linear statis dengan jenis analisa structural. Hasil analisa berupa tegangan von Mises pada beberapa kondisi pembebanan, yaitu kondisi normal, kondisi sagging, dan kondisi hogging. Untuk membantu penulis dalam menganalisa kekuatan, penulis menggunakan alat bantu software berbasis metode elemen hingga dengan membuat dua model yaitu model konstruksi lama dan konstruksi baru pada program MSC Patran dan dianalisa pada program MSC Nastran. Tegangan von Misses terbesar yang tejadi pada konstruksi lama adalah sebesar 104 MPa pada kondisi Sagging 1 dan Sagging 2 dengan deformasi maksimal 3,09 mm. Sedangkan pada konstruksi baru nilai tegangan maksimalnya adalah 104 MPa pada kondisi Sagging 1 dan Sagging 2 dan deformasi maksimalnya 3,96 mm. Dari analisa yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kedua konstruksi sama – sama bagus karena nilai tegangan maksimal dari hasil analisa masih dibawah tegangan ijin BKI sebesar 190 MPa.
Analisa Perbandingan Kekuatan Tarik pada Sambungan Las Baja SS400 Pengelasan MAG Dengan Variasi Arus Pengelasan dan Media Pendingin Sebagai Material Lambung Kapal Nanda Julian
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.24 KB)

Abstract

Baja SS400 termasuk jenis baja karbon rendah, baja jenis karbon rendah memiliki sifat ulet dan tangguh sehingga sering digunakan untuk bahan konstruksi bangunan maupun konstruksi kapal. Pemilihan kuat arus pengelasan dan penambahan media pendingin yang tepat dapat menghasilkan sambungan las yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil uji kekuatan tarik dari sambungan las baja SS400 dengan pengelasan MAG, untuk mengetahui pengaruh beda kuat arus 90 A dan 100 A terhadap ketahanan uji tarik serta bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan media pendingin collent, air, udara terhadap ketahanan uji tarik sambungan las baja SS400. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dimulai dari mempersiapkan baja SS400, pemotongan baja, pengelasan dengan kuat arus 90 A dan 100 A kemudian pendinginan dengan media pendingin collent, air, udara secara spontan. Proses selanjutnya adalah pembuatan spesimen kemudian pengujian tarik setiap spesimen. Hasil dari penelitian ini dapat memberikan informasi untuk meningkatkan mutu sambungan las baja.  Setelah dilakukan pengujian menunjukkan bahwa RAW material baja SS 400 memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 391,02 MPa, rata-rata regangan sebesar 47,71%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 202 Gpa. Pendinginan collent dengan kuat arus 90 A dan 100 A memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 396,18 Mpa dan 394,74 MPa, rata-rata regangan sebesar 44,04 % dan 43,04 %, rata-rata modulus elastisitas sebesar 245 Gpa dan 251GPa. Pendinginan air dengan kuat arus 90 A dan 100 A memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 409 Mpa dan 409,62 MPa , rata-rata regangan sebesar 46,65 % dan 48,4 %, rata-rata modulus elastisitas sebesar 254 Gpa dan 239 GPa. Pendinginan udara dengan kuat arus 90 A dan 100 A memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 391,15 Mpa dan 389,76 MPa , rata-rata regangan sebesar 48,79 % dan 47,6 %, rata-rata modulus elastisitas sebesar 224 Gpa dan 221 GPa. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja SS400 dengan media pendingin air dengan kuat arus pengelasan 90 A maupun 100 A memiliki kekuatan tarik terbesar dari jenis pendingin dan kuat arus lainnya. Untuk regangan tarik tertinggi ada pada variasi pendinginan udara pada kuat arus 90 A. Dan untuk media pendingin air 90 A memiliki harga modulus elastisitas tertinggi. 
Modifikasi Kapal Tipe Monohull Menjadi Tipe Katamaran Untuk Menunjang Kegiatan Pariwisata Di Kawasan Perairan Danau Toba (Studi Kasus KM. Horas Nainggolan) Mercyan Orado Doloksaribu; Parlindungan Manik; Kiryanto Kiryanto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KM. Horas Nainggolan merupakan salah satu kapal pariwisata di kawasan perairan danau toba yang memiliki lambung tunggal dengan 2 deck dan memiliki kapasitas penumpang sampai 100 orang. Dengan begitu besarnya kapasitas wisatawan di danau toba perlu dilakukannya modifikasi lambung monohull menjadi tipe katamaran. Sehingga dapat meningkatkan kapasitas penumpang serta meningkatkan kualitas stabilitas kapal menjadi lebih baik. Dalam melaksanakan penelitian ini dilakukan beberapa tahapan yaitu membuat model kapal katamaran dengan variasi jarak lambung S/L 0,3 ; 0,35 ; 0,4 , membuat rencana umum, perhitungan hambatan, analisa stabilitas, dan analisa olah gerak kapal. Setelah pembuatan rancangan umum dengan 2 deck didapatkan jumlah penumpang S/L 0,3 243 orang, S/L 0,35 262 orang, S/L 0,4 281 orang. Dari hasil perhitungan hambatan total diketahui bahwa katamaran S/L 0,4 memiliki hambatan paling besar dengan Rt sebesar 21,95 KN pada fn 0,32 dan dapat disimpulkan terjadinya peningkatan nilai hambatan dari 6,67 KN untuk kapal monohull . Berdasarkan hasil analisa stabilitas, ketiga variasi memenuhi kriteria IMO (International Maritime Organization), didapatkan nilai GZ maksimum pada S/L 0,4 sebesar 4,199m di sudut 12,70 dan disimpulkan lebih baik dari monohull dengan GZ maksimum sebesar 0,656 m di sudut 31,80. Untuk analisa olah gerak ketiga variasi memenuhi kriteria NORDFORSK dengan nilai heaving dan pitching setiap variasi tidak mengalami perubahan yang signifikan. Akan tetapi di nilai rolling terjadi perbedaan yang cukup besar, dan nilai roling yang paling kecil yaitu pada S/L 0,4 dengan kemiringan 1,960 pada wave heading 900 dan disimpulkan lebih baik dari rolling monohull sebesar 6,070.
ANALISA TEKNIS DAN EKONOMIS PENGGUNAAN SISTEM PENDINGIN REFRIGERATED SEA WATER (RSW) PADA KAPAL IKAN TRADISIONAL Mamat Riyadi; Untung Budiarto; Ari Wibawa Budi Santosa
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.91 KB)

Abstract

Sistem Refrigerated Sea Water (RSW) adalah sebuah teknologi penanganan hasil tangkap yang dirancang khusus, dipasang sebagai tempat menampung ikan/palka kapal sehingga ikan hasil tangkapan khususnya jenis ikan tertentu yang mempunyai nilai ekonomis dan dapat dipertahankan kualitasnya, tetapi seberapa besar efektifitas dan efesiensinya merupakan pertanyaan besar yang perlu dijawab dengan pengujian terhadap produk yang ada.Dengan demikian diperlukan penelitian yang mengkaji, baik secara teknis maupun secara ekonomis, penggunaan sistem refrigerated sea water sebagai sistem pendingin pada kapal perikanan untuk kalangan nelayan kecil, yang mana pada pengujian ini membandingkan waktu dan suhu sistem pendingin es dengan rsw yang akhirnya dapat meningkatkan produktifitas dan tingkat kesejahteraan nelayan itu sendiri.Dari hasil pengujian ini,diperoleh desain dari RSW untuk perahu nelayan tradisional dengan kapasitas ruangan 0,908 m3. Ketika diuji dengan menggunakan sistem Refrigerated Sea Water (RSW) yang berisi udara,membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai 00C, sedangkan pendinginan menggunakan Es batu membutuhkan 90 menit untuk mencapai suhu 10C. Berbeda dengan sistem RSW yang berisi air laut membutuhkan waktu 75 menit untuk mencapai suhu 00C, dan sekitar 6 jam mencapai suhu 00C menggunakan pendingin es batu. Perubahan stabilitas kapal karena penambahan sistem RSW, terjadi perubahan pada titik GM yaitu 0.005 m dan pada GZ yaitu 0,036 m.Biaya pembuatan sistem RSW ini sama dengan biaya pendingin ikan menggunakan es balok selama 2,8 tahun.
Analisa Perbandingan Respon Struktur Full Modelling dengan Parallel Middle Body (PMB) Pada Kapal Ro-Ro Passenger 99 m dan Oil Tanker 149 m di Perairan Indonesia dan Atlantik Utara Havid Kresnadi
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 1 (2019): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPada penelitian yang dilakukan oleh A. S. Kurniwan, dan juga A.K.G. adli, yang membahas mengenai analisa respon struktur kapal ro-ro dan kapal oil tanker terhadap beban perairan atlantik utara dan perairan Indonesia, telah dilakukan perhitungan respon struktur global (full modelling) dengan menggunakan FEA. Dalam analisa tersebut menerapkan kondisi batas pada bagian midship, yang seharusnya kondisi batas fleksibel, karena bisa jadi nilai vertical bending moment maksimum yang terjadi bukan pada midship. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perbandingan respon struktur full modelling dengan parallel middle body pada perairan Indonesia dan North Atlantic Ocean. Hasil analisa pada penelitian ini didapatkan hasil yang memenuhi batas maksimum tegangan rules BKI (tegangan max < 175 Mpa), pada kapal tanker 149m memiliki tegangan 21.4 Mpa pada kondisi flat, 108 Mpa pada kondisi sagging perairan atlantik utara, 115 Mpa pada kondisi hogging perairan atlantik utara, 42.8 Mpa pada kondisi sagging perairan Indonesia, dan 63.1 Mpa pada kondisi hogging perairan Indonesia, pada kapal ro-ro passanger 99m didapatkan hasil 22.2 Mpa pada keadaan flat. 145 Mpa pada kondisi sagging perairan atlantik utara, 94.8  Mpa pada kondisi hogging perairan atlantik utara, 42.9 Mpa pada kondisi sagging perairan Indonesia, dan 58.2 Mpa pada kondisi hogging perairan Indonesia. Kesimpulan dari penelitian ini adalah desain kapal yang berlayar di perairan Indonesia over desain. Perhitungan kekuatan memanjang kapal dapat dilakukan pada bagian PMB (parallel middle body)/ 3 kompartemen utama kapal, karena semua unsur kekuatan memanjang tercakup dalam PMB. Hal ini sesuai dengan rules BKI (Guidelines BKI Part. 1, vol.6, Guidelines for Analysis Techniques Strength, 2005 dan  Rules BKI Part.1, Vol.XVII, Common Structural Rrules for Bulk Carrier and Oil Tanker, 2018)
Analisa Teknis Dan Ekonomis Penggunaan Bambu Laminasi Apus Dan Petung Sebagai Material Alternatif Pembuatan Komponen Kapal Kayu K Kamal; Parlindungan Manik; S Samuel
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 2 (2017): APRIL
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.42 KB)

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir harga kayu jati sebagai material dasar pembangunan kapal kayu semakin mahal. Hal tersebut disebabkan karena ketersediaan kayu jati mengalami penurunan. Sehingga diperlukan material alternatif pengganti kayu. Bambu dapat dijadikan sebagai material alternatif karena mudah didapatkan, mudah dalam pengolahan, memiliki sifat mekanis yang baik, dan memiliki harga yang relatif murah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan nilai kuat tarik dan kuat tekan maksimum bambu laminasi dari dua jenis bambu, apus dan petung dengan 2 variasi susunan bilah horizontal dan bata. Pengujian tarik menggunakan standar SNI 03 – 3399 – 1994 dan pengujian tekan menggunakan standar SNI 03 – 3958 – 1995. Setelah dilakukan pengujian, dapat disimpulkan bahwa kuat tarik dan kuat tekan laminasi bambu petung lebih baik dibanding laminasi bambu apus dengan rata – rata masing – masing 2412,72 kg/cm2 dan 639,15 kg/cm2. Dari hasil tersebut dapat digolongkan ke dalam Kelas Kuat II pada BKI Kapal Kayu. Bambu dapat dijadikan sebagai alternatif kayu dalam pembuatan kapal kayu dengan biaya produksi laminasi sebesar Rp6.439.793 per m3 untuk laminasi bambu petung, Rp5.187.706 per m3 untuk laminasi bambu apus
PERANCANGAN KAPAL UNTUK MENUNJANG PARIWISATA DI MENJANGAN BESAR-KARIMUNJAWA Ishak Ari Prabowo; Kiryanto Kiryanto; Wilma Amiruddin
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 3 (2014): Agustus
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.265 KB)

Abstract

ABSTRAKKarimunjawa merupakan kepulauan yang berada di wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Daerah ini memiliki potensi pariwisata yang sangat bagus sebagai wahana rekreasi yang berbasis alam. Beragam kegiatan menarik bisa dilakukan para wisatawan seperti berenang bersama hiu, melihat Taman Nasional Karimunjawa, mengunjungi penangkaran  penyu, dll.Dalam  melaksanakan penelitian ini dilakukan beberapa tahapan perancangan yaitu membuat rencana garis, rencana umum, analisa hidrostatik, stabilitas kapal, pemilihan peralatan kapal dan motor induk berdasarkan hasil perhitungan daya motor sesuai dengan hambatan yang dialami. Perancangan kapal wisata ini menggunakan metode perbandingan.Ukuran utama yang dihasilkan dari perhitungan di dapatkan Loa : 11,66 m  m, B: 3,40 m, T: 0,90 m, H: 1,70 m, Cb: 0,62.  Kapal ini menggunakan sebuah mesin diesel Outboard  dengan daya yang dihasilkansebesar 19,22 HP.  Berdasarkan hasil analisa di dapatkan nilai hambatan sebesar 3,18 kN pada Vmax 7 knot.  Pada tinjauan stabilitas, hasil analisa menunjukkan nilai GZ terbesar saat kapal pada kondisi kosong kosong dan periode oleng terbesar terjadi saat kapal pada kondisi III, dan nilai MG terbesar terjadi pada saat kapal muatan kosong dan memiliki periode oleng  3,906 detik
Efek Temperatur Normalizing Terhadap Sifat Mekanik Baja ST 60 Sebagai Poros Baling-Baling Kapal Lukman Gewa Nurhakim; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Normalizing adalah proses pemanasan baja dimana pemanasan mencapai suhu austenite kemudian didinginkan perlahan melalui udara terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik dari baja ST 60 dengan proses pemanasan normalizing di tiga variasi suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baja ST 60 dengan perlakuan normalizing suhu 8000C memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 641,45 MPa dan rata-rata regangan sebesar 25,85%. Serta memiliki tegangan geser sebesar 527,46 MPa dan rata-rata kekerasan sebesar 195,05 VHN. Baja ST 60 dengan proses normalizing suhu 8500C memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 632,83 MPa dan rata-rata regangan sebesar 24,37%. Serta memiliki tegangan geser sebesar 485,82 MPa dan rata-rata kekerasan sebesar 190,90 VHN. Sedangkan baja ST 60 dengan proses normalizing suhu 9500C memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 592,81 MPa dan rata-rata regangan sebesar 22,48%. Serta memiliki tegangan geser sebesar 466,54 MPa dan rata-rata kekerasan sebesar 181,14 VHN. Perlakuan panas perlakuan panas normalizing dengan variasi suhu 8000C struktur mikro menunjukkan fasa pearlite yang lebih dominan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja ST 60 dengan perlakuan panas normalizing di suhu 8000C memiliki sifat mekanik yang lebih baik dari baja ST 60 dengan variasi suhu 8500C dan 9500C.
ANALISA KESELAMATAN KAPAL FERRY RO-RO DITINJAU DARI DAMAGE STABILITY PROBABILISTIK Lily Muzdalifah; Deddy Chrismianto; Eko Sasmito Hadi
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 2 (2016): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.943 KB)

Abstract

Sebagai salah satu moda transportasi yang paling berhasil di dunia kapal, feri ro-ro menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, karena moda transportasi ini sangatlah efisien dan efektif. Setiap kapal dapat mengalami kerusakan pada lambung yang disebabkan beberapa fakor antara lain tabrakan, kandas atau terjadi ledakan. Demikian pula kapal feri ro-ro yang sangat rentan terhadap terjadinya kebocoran. Kondisi stabilitas kapal saat terjadi kebocoran pada satu atau beberapa kompartemen disebut damage stability. Untuk mengetahui stabilitas bocor dan peluang kapal tenggelam, analisa dilakukan melalui perhitungan damage stability dengan metode pendekatan probabilistik dengan parameter aturan mengenai konsep probabilitas sesuai ketentuan SOLAS (Safety of Life at Sea) 2009 Chapter II-1 tentang perhitungan indek subdivisi R(required subdivision index) dan A (attained subdivison index)yang mana nilai indeks A harus lebih besar atau sama dengan nilai indeksR (A≥R). Nilai indeks R dipengaruhi oleh jumlah penumpang kapal, sedangkan nilai indeks A dipengaruhi oleh faktor pi dan si.Aturan ini diaplikasikan untuk kapal feri ro-ro berukuran 500,600 dan 750 GT yang umum digunakan pada penyebrangan pulau-pulau di Indonesia. Hasil perhitungan pada ketiga kapal yaitu, kapal pertama dengan panjang 40,15 m (500GT) menghasilkan indek R sebesar 0,693865 dan indek A sebesar 0,968. Kapal kedua dengan panjang 48,70 m (600GT) menghasilkan indek R sebesar 0,695886dan indek A sebesar 0,960. Kapal ketiga dengan panjang 48,82 m (750GT) menghasilkan indek R sebesar 0,694448 dan indek A sebesar 0,816. Maka, dari hasil tersebut disimpulkan bahwa nilai damage stability masing-masing  kapal  telah memenuhi aturan SOLAS Consolidated Edition 2009 Chapter II-I part B-1 tentang subdivision and damage stability.
Analisa Pengaruh Penambahan Tip Winglet dan Variasi Sudut Rake Terhadap Performa Propeller Tipe B4-70 Buyung Vidiarto; Ahmad Fauzan Zakki; Eko Sasmito Hadi
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 8, No 1 (2020): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1210.929 KB)

Abstract

Propeller merupakan salah satu alat penggerak yang di gunakan pada kapal. Dalam perkembangan teknologi perkapalan semakin banyak riset dan pengembangan desain dari propeller dimana bertujuan untuk meningkatkan nilai effisiensi dari propeller tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi dalam pendesainan pada propeller, beberapa contoh faktor tersebut adalah Pitch, Skew angle dan Rake Pada penelitian  ini analisa propeller direncanakan dengan penambahan Tip Winglet dan pemvariasian Sudut Rake yang dimuat secara utuh yaitu penulis akan melakukan Analisa penambahan Tip Winglet dan pemvariasian Sudut Rake pada propeller B4-70 menggunakan metode CFD (Computation Fluid Dynamic). Nilai Thrust yang di dapat dari perbandingan propeller  B4-70 dengan penambahan Tip Winglet 50mm dan variasi sudut rake 15° mampu meningkatkan nilai Thrust dengan nilai tertinggi yaitu 39930 N dengan persentase 15% dari nilai Thrust propeller B4-70 konvensional. Penambahan Tip Winglet juga berpengaruh pada Torque propeller dimana terjadi peingkatan secara konstan seiring dengan penambahan ukuran panjang Tip winglet yang digunakan dimana nilai tersebut dapat mencapai hingga 45% dari nilai Torque propeller B4-70  konvensional. Effieciency pada propeller B4-70   dengan penambahan Tip Winglet dan pemvariasian Sudut Rake juga mengalami peningkatan sebesar 5% dari propeller B4-70 konvesional yang di dapat pada model propeller Tip Winglet 50mm dan variasi sudut rake 15° sehingga dari hasil ini dapat di ambil kesimpulan bahwa penggunaan Tip Winglet dan variasi sudut rake sangat mempengaruhi hasil dari Thrust ,Torsi dan Efficiency pada suatu propeller.