cover
Contact Name
Muhamad Sahiddin
Contact Email
jurnaljktp@gmail.com
Phone
+6281342494099
Journal Mail Official
msahiddin@gmail.com
Editorial Address
Jalan Padang Bulan II, Hedam, Distrik Heram, Kota Jayapura
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Tropis Papua
ISSN : -     EISSN : 26545756     DOI : https://doi.org/10.47539
Core Subject :
Peer-reviewed, open-access journal publishing original research articles, systematic reviews, and nursing case studies in the field of nursing science and practice. Scientific coverage focuses on tropical nursing, with an emphasis on malaria, tuberculosis, dengue fever, and other neglected tropical diseases, as well as all fundamental fields of nursing practice in eastern Indonesia and similar tropical settings.
Arjuna Subject : -
Articles 147 Documents
Efek pemberian rebusan kunyit dan gula merah pada pasien dengan tuberkulosis: The effect of turmeric and palm sugar decoction on patients with tuberculosis Ibrahim Wisapla; Nurmah Rachman; Demianus Tafor
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.446

Abstract

Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi tantangan kesehatan global dengan tingginya angka kejadian dan kompleksitas pengobatan. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas rebusan kunyit dan gula merah sebagai terapi adjuvan pada pasien TBC. Studi quasi-eksperimental dilakukan pada 20 pasien TBC yang menerima intervensi rebusan kunyit (5 gram) dan gula merah (10 gram) dua kali sehari selama 8 minggu, bersamaan dengan pengobatan OAT standar. Data dikumpulkan meliputi gejala klinis (batuk >2 minggu dan demam malam hari) serta berat badan. Analisis statistik menggunakan uji McNemar untuk gejala klinis dan paired t-test untuk berat badan. Sebanyak 60% responden berjenis kelamin laki-laki dengan distribusi usia merata (<35 dan ≥35 tahun masing-masing 50%). Terjadi penurunan signifikan proporsi pasien dengan batuk >2 minggu dari 100% menjadi 60% (p<0,001), namun perubahan pada demam malam hari tidak signifikan (75% menjadi 60%; p=0,581). Rerata berat badan meningkat signifikan dari 54,06±3,86 kg menjadi 56,82±0,79 kg (p<0,001). Rebusan kunyit dan gula merah menunjukkan efek signifikan dalam mengurangi gejala batuk dan meningkatkan berat badan pasien TBC. Temuan ini mendukung potensi penggunaan sebagai terapi adjuvan, meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih ketat. Tuberculosis (TB) remains a global health challenge due to its high incidence and the complexity of treatment. This study evaluated the effectiveness of a turmeric and palm sugar decoction as an adjuvant therapy for TB patients. A quasi-experimental study was conducted on 20 TB patients who received an intervention consisting of turmeric (5g) and palm sugar (10g) decoction administered twice daily for eight weeks, alongside standard anti-tuberculosis (OAT) treatment. Data collected included clinical symptoms (cough lasting more than two weeks and night-time fever) and body weight. Statistical analysis was performed using McNemar’s test for clinical symptoms and paired t-test for body weight. A total of 60% of respondents were male, with an even age distribution (<35 and ≥35 years, each comprising 50%). There was a significant reduction in the proportion of patients experiencing cough lasting more than two weeks, from 100% to 60% (p<0.001), although the change in night-time fever was not statistically significant (from 75% to 60%; p=0.581). The average body weight increased significantly from 54.06±3.86 kg to 56.82±0.79 kg (p<0.001). The turmeric and palm sugar decoction demonstrated a significant effect in reducing cough symptoms and improving body weight in TB patients. These findings support its potential as an adjuvant therapy, although further studies with more rigorous designs are warranted.
Penerapan terapi foot massage dalam menurunkan tekanan darah lansia dengan hipertensi di Maluku: Studi kasus: Application of foot massage therapy in lowering blood pressure in elderly parents with hypertension in Maluku: A case study Sitti Johri Nasela; Nilam C. Latulumamina; Cut Mutia Tatisina; Yona Sahalessy; Mintje M. Nendissa
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.449

Abstract

Hipertensi telah menjadi tantangan kesehatan yang krusial di Indonesia dan Maluku, di mana kelompok lansia menghadapi risiko komplikasi yang mengancam kualitas hidup mereka. Terapi foot massage muncul sebagai solusi non-farmakologis yang menjanjikan untuk membantu menurunkan tekanan darah di antara lansia, namun penerapannya di Maluku Tengah belum banyak dieksplorasi sehingga perlu diuji dalam asuhan keperawatan.Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi penerapan terapi foot massage sebagai intervensi asuhan keperawatan untuk menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di Maluku Tengah. Studi kasus eksploratif ini melibatkan tiga lansia hipertensi (usia 63–91 tahun) yang menerima intervensi foot massage selama 30 menit/hari selama lima hari. Teknik pijat mengacu pada protokol Puthusseril dengan stimulasi titik refleks jantung dan ginjal. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi fisik, dan pengukuran tanda vital. Data tekanan darah, frekuensi nadi, dan keluhan subjektif dianalisis secara deskriptif komparatif. Seluruh responden menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik secara bertahap dan konsisten setelah intervensi. Penurunan frekuensi nadi rata-rata 10–20 kali per menit juga tercatat. Pada hari kelima, seluruh responden melaporkan tidak ada keluhan seperti pusing, leher tegang, atau lelah. Terapi foot massage dapat menurunkan tekanan darah dan perbaikan keluhan subjektif pada lansia hipertensi. Hypertension has become a crucial health challenge in Indonesia and Maluku, where the elderly population faces the risk of complications that threaten their quality of life. Foot massage therapy has emerged as a promising non-pharmacological solution to help lower blood pressure among the elderly; however, its application in Central Maluku has not been widely explored and therefore, needs to be tested in nursing care. This study aims to investigate the effectiveness of foot massage therapy as a nursing care intervention in reducing blood pressure in elderly individuals with hypertension in Central Maluku. This exploratory case study involved three elderly hypertensive patients (aged 63–91 years) who received a 30-minute foot massage intervention for five consecutive days. The massage technique refers to the Puthusseril protocol, which involves stimulating cardiac and kidney reflex points. Data were collected through interviews, physical observations, and vital sign measurements. Blood pressure, pulse rate, and subjective complaints data were analyzed descriptively comparatively. All respondents exhibited a gradual and consistent decrease in both systolic and diastolic blood pressure following the intervention. An average reduction in pulse rate of 10–20 beats per minute was also recorded. On the fifth day, all respondents reported no complaints such as dizziness, neck tension, or fatigue. Foot massage therapy can lower blood pressure and improve subjective complaints in elderly hypertensives.
Evaluasi diri mahasiswa keperawatan dalam praktik simulasi laboratorium gawat darurat dan kritis: Self-evaluation of nursing students in emergency and critical care simulation laboratory practice Hestia Magdalena; Maria Regina Olifiani Koehuan; Marry Angel Tuapetel; Eva Chris Veronica Gultom; Edson Kasenda
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.451

Abstract

Praktik simulasi laboratorium menjadi metode penting dalam pendidikan keperawatan gawat darurat, namun evaluasi diri mahasiswa setelah pelatihan masih perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran evaluasi diri mahasiswa keperawatan setelah mengikuti praktik simulasi laboratorium gawat darurat dan kritis. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan sampel 176 mahasiswa (teknik convenience sampling). Data dikumpulkan melalui kuesioner Scale Evaluation Scale for Simulation Laboratory Practices (SES-SLP) yang telah divalidasi (Cronbach’s alpha 0,916) dan dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan skor evaluasi diri rata-rata 75,6±9,1 (rentang 35-92), dengan faktor pengembangan (62,7±8,6) lebih tinggi daripada faktor penyulit (12,9±3,9). Sebanyak 50,6% responden sangat setuju simulasi meningkatkan pengetahuan, sedangkan 75,0% tidak setuju bahwa simulasi menyulitkan pembelajaran. Simulasi laboratorium efektif meningkatkan kompetensi mahasiswa, tetapi perlu pengembangan skenario untuk meminimalkan faktor stres. Laboratory simulation practice has become a crucial method in emergency nursing education; however, students' self-evaluation after training remains an area requiring further investigation. This study aims to explore the self-evaluation of nursing students following emergency and critical care simulation laboratory practice. A descriptive quantitative design was employed, involving 176 students selected through convenience sampling. Data were collected using the validated Scale Evaluation Scale for Simulation Laboratory Practices (SES-SLP) (Cronbach's alpha 0.916) and analyzed using univariate analysis. The results showed an average self-evaluation score of 75.6±9.1 (range 35–92), with the development factor (62.7±8.6) scoring higher than the hindering factor (12.9±3.9). A total of 50.6% of respondents strongly agreed that simulation improved their knowledge, while 75.0% disagreed that simulation hindered their learning. Laboratory simulation was found to be effective in enhancing student competence; however, scenario development is necessary to mitigate stress-related factors.
Hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir: The relationship between stress levels and sleep quality among final-year nursing students Nasrah; Kismiyati Kismiyati; Zeth Roberth Felle; Frengky Apay; Theresia Febriana Christi Tyas Utami; Ananda Ayu Marchella
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.452

Abstract

Mahasiswa keperawatan tingkat akhir menghadapi tekanan akademik dan klinis yang tinggi, yang dapat berdampak pada kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir. Penelitian ini menggunakan desain cross setional. Sebanyak 48 mahasiswa semester VIII pada Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jayapura dipilih secara acak. Tingkat stres diukur menggunakan Student Stress Inventory (SSI), sedangkan kualitas tidur dinilai menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data dianalisis dengan uji Chi-square, odds ratio (OR), dan uji t tidak berpasangan. Sebanyak 29,2% responden tergolong stres tinggi (skor SSI >96), sedangkan 50% memiliki kualitas tidur buruk (skor PSQI >5). Terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dan kualitas tidur (p=0,026; OR=5,92; 95% CI: 1,38–25,30). Selain itu, ditemukan perbedaan signifikan dalam durasi tidur (p= 0,023) dan skor total PSQI (p= 0,044) antara kelompok mahasiswa dengan kategori stres tinggi dan rendah. Mahasiswa dengan stres tinggi memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kualitas tidur buruk. Diperlukan intervensi institusional untuk membantu mahasiswa mengelola stres dan meningkatkan kualitas tidur, terutama menjelang akhir masa studi mereka. Final-year nursing students face intense academic and clinical pressures, which may negatively impact their sleep quality. This study aimed to analyze the relationship between stress levels and sleep quality among final-year nursing students. A cross-sectional design was employed. A total of 48 eighth-semester students from the Applied Bachelor of Nursing Program at Poltekkes Kemenkes Jayapura were randomly selected. Stress levels were measured using the Student Stress Inventory (SSI), while sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using Chi-square tests, odds ratios (OR), and independent t-tests. A total of 29.2% of respondents were classified as having high stress (SSI score >96), and 50% reported poor sleep quality (PSQI score >5). A significant association was found between stress level and sleep quality (p=0.026; OR=5.92; 95% CI: 1.38–25.30). In addition, significant differences were found in sleep duration (p=0.023) and total PSQI scores (p=0.044) between students in the high-stress and low-stress categories. Students with high stress were more likely to experience poor sleep quality. Institutional interventions are needed to help students manage stress and improve sleep quality, especially toward the end of their academic program.
Integrasi kearifan lokal dalam program pelatihan tanggap darurat dan evakuasi sebagai strategi peningkatan kesiapsiagaan bencana : Integration of local wisdom in emergency response and evacuation training programs as a strategy to improve disaster preparedness Guruh Suprayitno; Hugo Kingson Borneo
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.453

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko bencana alam yang tinggi, sehingga diperlukan strategi efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan tanggap darurat dan evakuasi berbasis kearifan lokal dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Metode penelitian menggunakan desain quasi-eksperimen Pretest-posttest tanpa kelompok kontrol dengan 55 partisipan yang dipilih secara purposive. Intervensi berupa lima sesi pelatihan yang menggabungkan edukasi, simulasi, role play, dan praktik langsung dengan pendekatan kearifan lokal. Evaluasi dilakukan dengan kuesioner kesiapsiagaan dan observasi lapangan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan tingkat kesiapsiagaan dari kategori rendah (71%) menjadi tinggi (58%) pasca pelatihan, dengan nilai uji Wilcoxon Z = -6,317 (p= <0,001). Skor rata-rata kesiapsiagaan juga meningkat di semua domain, khususnya pada keterampilan tindakan gawat darurat. Simulasi dan partisipasi tokoh adat memberikan dampak positif dalam menginternalisasi materi pelatihan secara kontekstual dan berkelanjutan. Pelatihan berbasis kearifan lokal terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat secara holistik. Indonesia is a country with a high risk of natural disasters, making it essential to implement effective strategies to improve community preparedness. This study aimed to evaluate the effectiveness of local wisdom-based emergency response and evacuation training in enhancing disaster preparedness. A quasi-experimental pretest-posttest design without a control group was employed, involving 55 participants selected purposively. The intervention consisted of five training sessions combining education, simulation, role play, and hands-on practice using a local wisdom approach. Evaluation was conducted using a preparedness questionnaire and field observations. The results showed a significant increase in preparedness level, from 71% categorized as low before the training to 58% categorized as high afterward, with a Wilcoxon test value of Z= -6.317 (p< 0.001). The average preparedness scores also increased across all domains, particularly in emergency response skills. Simulations and the involvement of traditional leaders had a positive impact on contextualizing and internalizing the training materials. Local wisdom-based training proved to be effective in holistically improving community disaster preparedness.
Pengaruh pengetahuan gizi dan status gizi terhadap kualitas hidup lansia di Posyandu Kampung Bambar, Kabupaten Jayapura: The influence of nutritional knowledge and nutritional status on the quality of life of elderly at the posyandu in Kampung Bambar, Jayapura Regency Rosmin Mariati Tingginehe; Arius Togodly
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.455

Abstract

Penuaan populasi di Indonesia termasuk di wilayah pedesaan Papua, menimbulkan tantangan baru dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan peningkatan kualitas hidup lansia. Pengetahuan gizi dan status gizi merupakan dua faktor penting yang dapat memengaruhi kesejahteraan lansia secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi dan status gizi dengan kualitas hidup lansia di Posyandu Kampung Bambar, Kabupaten Jayapura. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sebanyak 30 lansia berpartisipasi sebagai responden melalui total sampling. Pengukuran pengetahuan gizi menggunakan kuesioner terstandar berbasis Pedoman Gizi Seimbang, status gizi dinilai melalui Indeks Massa Tubuh (IMT), dan kualitas hidup diukur menggunakan instrumen WHOQOL-BREF. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi p<0,05. Mayoritas lansia memiliki status gizi obesitas (53,3%) dan kualitas hidup yang tergolong baik terutama pada domain lingkungan (60,0%). Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi dengan kualitas hidup (p<0,001), namun tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kualitas hidup (p=0,063). Pengetahuan gizi yang baik berkontribusi positif terhadap kualitas hidup lansia. Intervensi edukasi gizi yang kontekstual dan berbasis budaya lokal perlu dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan lansia di wilayah pedesaan Papua. Population aging in Indonesia, including in rural areas of Papua, poses new challenges in fulfilling nutritional needs and improving the quality of life of the elderly. Nutritional knowledge and nutritional status are two important factors that may influence the overall well-being of older adults. This study aimed to analyze the relationship between nutritional knowledge and nutritional status with the quality of life of elderly individuals at the Posyandu in Kampung Bambar, Jayapura Regency. This research employed a cross-sectional design with a quantitative approach. A total of 30 elderly respondents were selected through total sampling. Nutritional knowledge was assessed using a standardized questionnaire based on the Balanced Nutrition Guidelines, nutritional status was measured using Body Mass Index (BMI), and quality of life was measured using the WHOQOL-BREF instrument. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of p<0.05. The majority of elderly participants were classified as obese (53.3%) and had a good quality of life, particularly in the environmental domain (60.0%). A significant relationship was found between nutritional knowledge and quality of life (p<0.001), while no significant association was found between nutritional status and quality of life (p=0.063). Good nutritional knowledge contributes positively to the quality of life of elderly individuals. Contextual and culturally based nutrition education interventions need to be developed to improve the well-being of the elderly in rural areas of Papua.
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 0-24 BULAN DI KABUPATEN MAJENE: RELATIONSHIP BETWEEN LOW BIRTH WEIGHT AND THE NUTRITIONAL STATUS OF CHILDREN UNDER TWO YEARS OLD IN MAJENE REGENCY Nur Zakiah; Novi Aryanti; Nurul Annisa; Supiyati; Rahmaniah
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.456

Abstract

Masalah gizi pada anak usia dini merupakan isu kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Majene. Salah satu faktor risiko utama yang dapat memengaruhi status gizi anak adalah riwayat berat badan lahir rendah (BBLR), yang diketahui dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara riwayat BBLR dengan status gizi anak usia 0–24 bulan di Kabupaten Majene. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan potong lintang dan dilaksanakan pada bulan Agustus–September 2024 di Kecamatan Banggae Timur. Sampel terdiri atas 91 anak yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan perhitungan odds ratio (OR) dengan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat BBLR berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p = 0,012; OR = 3,30; 95% CI: 1,37–7,94) dan underweight (p = 0,006; OR = 3,41; 95% CI: 1,40–8,33). Hubungan antara BBLR dan wasting juga menunjukkan kecenderungan signifikan (p = 0,055; OR = 2,55; 95% CI: 0,96–6,71). Temuan ini mengindikasikan bahwa anak dengan riwayat BBLR memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah gizi dibandingkan anak yang lahir dengan berat badan normal. Upaya pencegahan BBLR melalui peningkatan gizi ibu hamil dan pemantauan kehamilan secara berkelanjutan perlu diperkuat untuk menurunkan risiko gangguan gizi pada anak usia dini. Childhood malnutrition remains a major public health concern, particularly in regions such as Majene Regency. One of the key risk factors influencing nutritional outcomes in early life is a history of low birth weight (LBW), which has been associated with impaired growth and development. This study aimed to analyze the relationship between LBW history and the nutritional status of children aged 0–24 months in Majene Regency. A cross-sectional observational design was employed, and data collection was conducted in Banggae Timur Subdistrict during August–September 2024. A total of 91 children were selected through purposive sampling. Data were analyzed using the chi-square test and odds ratios (OR) with 95% confidence intervals. The results showed that LBW was significantly associated with stunting (p = 0.012; OR = 3.30; 95% CI: 1.37–7.94) and underweight (p = 0.006; OR = 3.41; 95% CI: 1.40–8.33). A near-significant association was also observed between LBW and wasting (p = 0.055; OR = 2.55; 95% CI: 0.96–6.71). These findings indicate that children with a history of LBW are at higher risk of experiencing nutritional problems compared to those born with normal weight. Strengthening efforts to prevent LBW through improved maternal nutrition and antenatal care is essential to reduce the risk of early childhood malnutrition.
Pengalaman perawat dalam memberikan edukasi manajemen perawatan diri pada pasien penyakit ginjal kronik: studi fenomenologi: Nurses’ experiences in providing self care management education to patients with chronic kidney disease: a phenomenological study Ferlan Ansye Pondaag; Gresty Natalia Maria Masi; Imelda Sirait
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.461

Abstract

Pasien penyakit ginjal kronik (PGK) yang menjalani hemodialisis dituntut untuk mampu melakukan manajemen perawatan diri, meliputi pengaturan diet, pembatasan cairan, kepatuhan pengobatan, perawatan akses vaskular, serta kepatuhan menjalani hemodialisis. Edukasi merupakan komponen penting yang menentukan keberhasilan manajemen perawatan diri pada pasien hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman perawat dalam memberikan edukasi mengenai manajemen perawatan diri pada pasien penyakit ginjal kronik. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan terdiri atas sembilan perawat bersertifikat pelatihan perawat dialisis yang bertugas di ruang hemodialisis RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis secara tematik melalui proses pengodean, kategorisasi, serta pengembangan tema secara induktif. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, member checking, dan refleksivitas peneliti. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu: (1) strategi pendidikan kesehatan yang efektif, meliputi penyesuaian bahasa dan tingkat pendidikan pasien, penggunaan media edukasi, serta pendekatan interpersonal yang suportif; (2) hambatan dalam memberikan pendidikan kesehatan, meliputi resistensi pasien akibat informasi yang bertentangan, keterbatasan fisik seperti gangguan pendengaran, serta dukungan keluarga yang tidak konsisten; dan (3) upaya mengatasi hambatan melalui pemberian motivasi berkelanjutan, penguatan keyakinan diri pasien, serta kolaborasi aktif dengan anggota keluarga dalam perencanaan perawatan. Pendidikan kesehatan pada pasien hemodialisis memerlukan pendekatan yang adaptif dan peka terhadap konteks sosial budaya. Keberhasilan manajemen perawatan diri sangat dipengaruhi oleh literasi kesehatan pasien, dukungan keluarga, dan hubungan terapeutik antara perawat dan pasien. Patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing hemodialysis are required to perform effective self-care management, including dietary regulation, fluid restriction, medication adherence, vascular access care, and compliance with hemodialysis schedules. Education is a key component in determining the success of self-care management among hemodialysis patients. This study aimed to explore nurses’ experiences in providing self-care education to patients with chronic kidney disease. This study employed a qualitative design with a phenomenological approach. Participants consisted of nine dialysis-trained nurses working in the hemodialysis unit of Prof. Dr. R.D. Kandou General Hospital. Data were collected through semi-structured, in-depth interviews and were analyzed thematically through coding, categorization, and inductive theme development. Data trustworthiness was ensured through source triangulation, member checking, and researcher reflexivity. The findings identified three main themes: (1) effective health education strategies, including adjustment of language and educational level to patient needs, use of educational media, and supportive interpersonal approaches; (2) barriers to health education, including patient resistance due to conflicting information, physical limitations such as hearing impairment, and inconsistent family support; and (3) strategies to overcome barriers through continuous motivation, strengthening patients’ self-efficacy, and active collaboration with family members in care planning. Health education for hemodialysis patients requires an adaptive approach that is sensitive to socio-cultural contexts. The success of self-care management is strongly influenced by patient health literacy, family support, and the therapeutic relationship between nurses and patients.
Pengaruh posisi orthopneic terhadap penurunan frekuensi penapasan pada pasien tuberkulosis paru: The effect of the orthopnea position on the reduction of respiratory rate in patients with pulmonary tuberculosis Hazzun Sa'ida Haidar; Defi Eka Kartika; Bayu Saputra; Sandra Sandra; Agnita Utami
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.462

Abstract

Pasien tuberkulosis paru sering mengalami peningkatan frekuensi pernapasan akibat gangguan ventilasi dan elastisitas paru, yang dapat mengganggu efektivitas pertukaran gas. Intervensi keperawatan nonfarmakologis melalui pengaturan posisi tubuh merupakan salah satu pendekatan untuk memperbaiki pola pernapasan. Posisi Orthopneic diketahui dapat meningkatkan ekspansi paru dan menurunkan kerja otot pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh posisi Orthopneic terhadap frekuensi pernapasan pada pasien tuberkulosis paru. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan non-equivalent control group pretest–posttest. Sampel terdiri dari 24 pasien tuberkulosis paru yang dirawat di Ruang Jasmin RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n = 12) dan kelompok kontrol (n = 12). Kelompok intervensi diberikan posisi orthopneic selama 10 menit, sedangkan kelompok kontrol diberikan posisi semi-Fowler. Analisis data dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengukuran awal tidak terdapat perbedaan frekuensi pernapasan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kontrol (p=0,246). Setelah intervensi, frekuensi pernapasan pada kelompok intervensi menurun sebesar 20,25 ± 1,73 kali/menit, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 23,17 ± 2,19 kali/menit. Perbedaan frekuensi pernapasan antara kedua kelompok setelah intervensi menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik (p = 0,002). Penerapan posisi Orthopneic terbukti efektif menurunkan frekuensi pernapasan pada pasien tuberkulosis paru dan dapat dipertimbangkan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis tambahan dalam praktik keperawatan di ruang perawatan. Patients with pulmonary tuberculosis often experience an increased respiratory rate due to impaired ventilation and reduced lung elasticity, which may compromise the effectiveness of gas exchange. Nonpharmacological nursing interventions through body positioning represent one approach to improving breathing patterns. The orthopneic position is known to enhance lung expansion and reduce the workload of respiratory muscles. This study aimed to analyze the effect of the orthopneic position on respiratory rate in patients with pulmonary tuberculosis. This study employed a quasi-experimental design using a non-equivalent control group pretest–posttest approach. The sample consisted of 24 patients with pulmonary tuberculosis hospitalized in the Jasmin Ward of Arifin Achmad Regional Hospital, Riau Province, who were divided into an intervention group (n=12) and a control group (n = 12). The intervention group was positioned in the orthopneic position for 10 minutes, while the control group was placed in the semi-Fowler position. Data were analyzed using the Mann–Whitney U test. The results showed that there was no significant difference in respiratory rate between the intervention and control groups at baseline (p = 0.246). After the intervention, the respiratory rate in the intervention group decreased to a mean ± standard deviation of 20.25 ± 1.73 breaths per minute, whereas the control group showed a mean ± standard deviation of 23.17 ± 2.19 breaths per minute. The difference in respiratory rate between the two groups after the intervention was statistically significant (p = 0.002). The application of the orthopneic position was effective in reducing respiratory rate in patients with pulmonary tuberculosis and may be considered an additional nonpharmacological nursing intervention in clinical practice.
Pengaruh musik Korea pop terhadap tingkat stress pada mahasiswa tingkat akhir : Effects of Korean pop music exposure on stress reduction in final-year college students Rahmat Kurniawan; Rida Fajriani Barokah; Supriadi B.; Nurmiaty; Sumiaty; Siti Kusnul Khotimah; Sova Evie; Eli Saripah; Helena Pangaribuan
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.463

Abstract

Stres merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang sering dialami mahasiswa, terutama mahasiswa tingkat akhir yang menghadapi tuntutan akademik tinggi. Terapi musik merupakan intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu menurunkan stres melalui efek relaksasi dan regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh terapi musik K-pop terhadap tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel terdiri dari 25 mahasiswa tingkat akhir yang dipilih dengan purposive sampling. Tingkat stres diukur menggunakan kuesioner DASS-21 (subskala stres) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan bermakna skor stres setelah pemberian terapi musik K-pop, dari rata-rata 18,56 pada pengukuran awal menjadi 7,08 pada pengukuran setelah intervensi (p < 0,001). Setelah intervensi, mayoritas responden yang sebelumnya berada pada kategori stres ringan–sedang mengalami perbaikan ke kategori normal (96%). Terapi musik K-pop berpotensi menjadi intervensi pendukung yang sederhana, terjangkau, dan mudah diakses untuk membantu menurunkan stres pada mahasiswa tingkat akhir. Stress is one of the mental health problems commonly experienced by university students, particularly final-year students who face high academic demands. Music therapy is a nonpharmacological intervention that can be used to help reduce stress through relaxation effects and emotional regulation. This study aimed to analyze the effect of K-pop music therapy on stress levels among final-year students. This study employed a quasi-experimental design using a one-group pretest–posttest approach. The sample consisted of 25 final-year students selected through purposive sampling. Stress levels were measured using the DASS-21 questionnaire (stress subscale) before and after the intervention. The results showed a significant reduction in stress scores after the implementation of K-pop music therapy, from a mean score of 18.56 at baseline to 7.08 after the intervention (p < 0.001). After the intervention, the majority of respondents who were previously categorized as having mild to moderate stress showed improvement to the normal stress category (96%). K-pop music therapy has the potential to serve as a simple, affordable, and easily accessible supportive intervention to help reduce stress among final-year students.