cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
DIFFERENCES IN INCREASING VO2 MAX BETWEEN BRISK WALKING AND HIGH INTENSITY INTERVAL TRAINING (HIIT) IN YOUNG ADULTS Cindy Calista Chandra; Yosef Purwoko; Sumardi Widodo; Tanjung Ayu Sumekar
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.632 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25788

Abstract

Background: Sedentary lifestyle is widely adopted by the society. Sedentary lifestyle is associated with limited physical activity, thereby increasing the risk of diseases, as well as reducing fitness. Fitness is assessed with VO2Max. However, people with sedentary lifestyle are reluctant to exercise, thus the authors want to see whether briskwalking, an easy exercise and HIIT, a short-time exercise can increase VO2Max. Research Method: Quasi-experimental research with a pre-test and post-test comparison group design. 60 young adult women were divided into three groups, namely brisk walking, HIIT, and control by using purposive sampling. The brisk walking group did brisk walking and HIIT did HIIT aerobics for six weeks, three times in every week. The control group was not treated. All subjects performed VO2Max pretest and posttest with Cooper test. Result: The VO2Max value for brisk walking and HIIT increased by averages of 9.83±3.93 and 8.84±4.76, while the control decreased by -3.97±4.02 The result from paired t-test and Wilcoxon shows significancy thus indicating a significant difference of VO2 max value before and after the treatments towards the brisk walking, HIIT, and control groups. After the Mann Whitney test is performed, no significant difference is found between brisk walking and HIIT, whereas there is a significant difference between brisk walking and control, and also between HIIT and control. Conclusion: Brisk walking and HIIT can increase VO2Max. However, there was no difference in the increase between brisk walking and HIIT.Key Words: VO2Max, brisk walking, HIIT
PENGARUH INTERVENSI MUSIK KLASIK MOZART DIBANDING MUSIK INSTRUMENTAL POP TERHADAP TINGKAT KECEMASAN DENTAL PASIEN ODONTEKTOMI Ayu Welly Jovita; Oedijani Santoso; Natalia Dewi Wardani
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.833 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14252

Abstract

Latar Belakang : Kecemasan dental masih menjadi masalah yang perlu pengkajian lebih untuk mengurangi kecemasan tersebut. Banyak hal yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan dental baik secara visual, auditorik, dan suasana ruangan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan dental, salah satunya distraksi dengan terapi musik.Tujuan : Mengetahui pengaruh terapi musik klasik Mozart dibanding terapi musik instrumental pop terhadap tingkat kecemasan dental pada pasien odontektomi.Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental klinis dengan non randomized post test only group design. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dengan jumlah sampel 32 orang merupakan pasien odontektomi berusia 18-50 tahun di Rumah Sakit Nasional Diponegoro dan klinik gigi jejaring lainnya. Subjek dibagi menjadi dua kelompok perlakuan yaitu kelompok musik klasik Mozart dan kelompok musik instrumental pop. Tingkat kecemasan dental dinilai menggunakan skor Dental Anxiety Scale (DAS). Data hasil penelitian diuji menggunakan uji t tidak berpasangan.Hasil : Skor tingkat kecemasan dental (DAS) tidak berbeda bermakna antara kelompok perlakuan musik Mozart dibanding kelompok perlakuan musik instrumental pop dengan nilai p > 0,05 ( p = 0,640 ).Kesimpulan : Tidak ada perbedaan yang bermakna antara pemberian musik klasik Mozart dibanding pemberian musik instrumental pop terhadap tingkat kecemasan dental pasien odontektomi.
PERBANDINGAN NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA LANSIA WANITA YANG RUTIN BERENANG DAN YANG TIDAK RUTIN BERENANG Andar, Nadiya Arawinda; Indraswari, Darmawati Ayu; Utami, Aras
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.046 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20705

Abstract

Latar  Belakang:  Fungsi paru pada lansia dapat dipertahankan dan ditingkatkan dengan berenang rutin dan parameter fungsi paru yang mudah digunakan adalah Arus Puncak Ekspirasi (APE). Berenang lebih dari 30 menit adalah salah satu contoh latihan aerobik yang mudah dan tidak berat sehingga dapat menjadi salah satu alternatif latihan yang cocok untuk diterapkan pada lansiaTujuan : Membuktikan aktivitas berenang rutin  berpengaruh terhadap nilai APE pada pada komunitas renang  lansia.Metode : Desain penelitian yang digunakan  merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang. Subjek penelitian berjumlah 46  lansia  di semarang   yang di ukur APE dengan alat peak flow meter  dibedakan dengan kelompok yang rutin berenang dan tidak rutin berenang atau tidak berenang . Uji statistik menggunaan uji t- tidak berpasanganHasil: Rerata arus puncak ekspirasi (APE) pada subjek di penelitian ini adalah 223,48 ± 109,02 l/mnt dengan nilai APE tertinggi adalah 450 l/mnt dan terendah adalah 60 l/mnt . Nilai APE pada kelompok yang rutin berenang menunjukkan hasil yang lebih tinggi yaitu dengan rerata 150  l/mnt. Uji beda menggunakan Mann Whitney digunakan karena distribusi data nilai APE tidak normal, menunjukkan p= <0,001Kesimpulan: pada penelitian ini terdapat perbedaan bermakna nilai APE antara  lansia  rutin berenng dan tidak rutin berenang .
PERBEDAAN LUARAN MATERNAL DAN PERINATAL PREEKLAMPSIA BERAT DENGAN DAN TANPA SINDROM HELLP Wahyu Choerul Tamsir; Julian Dewantiningrum
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.106 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15980

Abstract

Latar belakang: Preeklampsia berat dengan sindrom HELLP memiliki risiko untuk mendapatkan komplikasi kehamilan dan persalinan yang lebih banyak dari preeklampsia berat.Tujuan: Memberi gambaran pada ibu tentang penyulit kehamilan dan persalinan pada preeklampsia berat dengan sindrom HELLP.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional retrospektif dengan pendekatan studi cross sectional, dari data rekam medis RSUP Dr. Kariadi Semarang. Data diambil dari periode Januari 2013 sampai April 2016. Sampel penelitian terdiri 136 sampel, 42 subyek preeklampsia berat dengan sindrom HELLP, 34 subyek preeklampsia berat dengan sindrom HELLP parsial dan 60 subyek preeklampsia berat. Data dianalisis dengan uji Chi Square, Fisher’s Exact test dan analisis uji regresi logistikHasil: Terdapat perbedaan preeklampsia berat dengan dan tanpa sindrom HELLP. Dari luaran maternal yaitu eklampsia p=0,03 dan perawatan ICU p=<0,01. Pada luaran perintal yaitu mortalitas perinatal p=<0,01, IUGR p=<0,01, IUFD p=<0,01, asfiksia p=<0,01, gawat janin p=<0,01, kelahiran prematur p=<0,01 dan kelainan pemeriksaan doppler arteri umbilikalis p=<0,01. Terdapat perbedaan preeklampsia berat dengan dan tanpa sindrom HELLP parsial. Dari luaran maternal yaitu perawatan ICU p=<0,01. Pada luaran perintal yaitu mortalitas perinatal p=0,02, IUGR p=<0,01, IUFD p=<0,01, asfiksia p=<0,01, gawat janin p=<0,01, kelahiran prematur p=<0,01 dan kelainan pemeriksaan doppler arteri umbilikalis p=<0,01.Simpulan: Luaran maternal dan perintal pada preeklampsia berat dengan sindrom HELLP tidak lebih baik dari preeklampsia berat.
PENGARUH PEMBERIAN ANALGESIK KOMBINASI PARASETAMOL DAN MORFIN TERHADAP KADAR UREUM SERUM PADA TIKUS WISTAR JANTAN Nadhief Akbar Azzami; Taufik Eko Nugroho
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.478 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23347

Abstract

Latar Belakang: Nyeri adalah pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan. Nyeri dapat dibagi menjadi dua menurut durasi nya yaitu nyeri akut dan nyeri kronik. Pada penatalaksanaan nyeri, sering digunakan obat analgesik kombinasi untuk mengurangi rasa nyeri. Kombinasi parasetamol dan morfin dapat digunakan untuk mengurangi rasa nyeri terutama nyeri sedang hingga berat. Parasetamol dan morfin selain bisa mengurangi rasa nyeri, juga memiliki efek samping terhadap organ penting didalam tubuh terutama pada ginjal. Fungsi ginjal yang dapat dinilai untuk mengetahui efek samping penggunaan obat analgesik adalah kadar ureum serum. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian analgesik kombinasi parasetamol dan morfin terhadap kadar ureum serum tikus wistar. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Post Test Only Control Group Design. Sampel adalah 24 ekor tikus wistar dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok pemberian parasetamol 9 mg, kelompok pemberian morfin 0,18 mg, dan kelompok pemberian kombinasi parasetamol 9 mg dan morfin 0,18 mg. Pemberian dilakukan secara oral dengan sonde lambung sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari. Hari ke-15, dilakukan pengambilan darah melalui pembuluh darah retroorbita untuk diukur kadar ureum serum. Uji statistik menggunakan uji ANOVA dan Post – Hoc. Hasil: Hasil penelitian diperoleh dari uji statistic dimana terdapat peningkatan kadar ureum serum yang bermakna pada tikus wistar yang mendapat pemberian kombinasi parasetamol dan morfin terhadap kelompok kontrol (p = 0,003), terdapat peningkatan kadar ureum serum yang bermakna pada tikus wistar yang mendapat pemberian parasetamol terhadap kelompok kontrol (p = 0,009), terdapat peningkatan kadar ureum serum yang bermakna pada tikus wistar yang mendapat pemberian kombinasi tehadap kelompok morfin (p = 0,043). Namun tidak ada peningkatan yang signifikan dalam kadar ureum serum pada kelompok lain. Kesimpulan: Terdapat perbedaan kenaikan kadar ureum yang signifikan antara pemberian kombinasi parasetamol dan morfin dibandingkan dengan kelompok kontrol.Kata Kunci : Parasetamol, Morfin, Ureum Serum, Nyeri
PEMBERIAN JUS BROKOLI KUKUS (BRASSICA OLERACEA L. VAR ITALICA) UNTUK MENURUNKAN KADAR MALONDIALDEHID DARAH TIKUS DENGAN AKTIVITAS FISIK MAKSIMAL Firdaus, Ozi Rahmat; Probosari, Enny
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.864 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18613

Abstract

Latar belakang : Aktivitas fisik maksimal dapat meningkatkan produksi radikal bebas di dalam tubuh. Jika laju peningkatan radikal bebas melebihi kapasitas pertahanan antioksidan tubuh maka radikal bebas dapat menyerang membran lipid sel sehingga terbentuk berbagai produk akhir seperti malondialdehid (MDA). Brokoli (Brassica oleracea L. var italica) mengandung antioksidan alami seperti vitamin, karotenoid, dan flavonol glycoside yang dapat meredam efek buruk dari radikal bebas.Tujuan : Mengetahui pengaruh jus brokoli kukus (Brassica oleracea L. var italica) dalam menurunkan kadar MDA darah tikus dengan aktivitas fisik maksimal.Metode : Penelitian ini merupakan true experimental dengan desain post test only control group. Penelitian ini menggunakan 18 ekor tikus yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok J0A0 diberi pakan standar, kelompok J0A1 diberi pakan standar dan aktivitas fisik maksimal, dan kelompok J1A1 diberi pakan standar, jus brokoli kukus dan aktivitas fisik maksimal. Keluaran (outcome) dari penelitian ini adalah kadar MDA darah tikus. Hasil : Pada Uji One-way ANOVA didapatkan tidak adanya perbedaan kadar MDA yang bermakna pada 3 kelompok dengan nilai p=0,966 (p>0,05). Kadar MDA pada setiap kelompok adalah kelompok J0A0 sebesar 12,66 nmol/ml, kelompok J0A1 sebesar 12,90 nmol/ml, dan kelompok J1A1 sebesar 12,77 nmol/ml.Kesimpulan : Terdapat perbedaan kadar MDA sebesar 1 % antara tikus dengan aktifitas fisik maksimal yang diberi jus brokoli kukus dosis 35 mg/gramBB dibandingkan tikus dengan aktifitas fisik maksimal yang tidak diberi jus brokoli kukus namun tidak signifikan.
PERBANDINGAN KADAR GLUKOSA DARAH SETELAH MENGONSUMSI COCA-COLA REGULER DAN COCA-COLA ZERO PADA POPULASI NON-DIABETES Gabriella Carolina Hutapea; Ariosta Ariosta; Hardian Hardian
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14450

Abstract

Latar belakang : Diabetes melitus (DM) tipe II dan obesitas merupakan penyakit metabolik yang disebabkan oleh sejumlah faktor gaya hidup diantaranya adalah aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, pola diet. Coca-cola merupakan salah satu minuman yang digemari dan mengandung tinggi karbohidrat yang diduga meningkatkan risiko obesitas dan kejadian DM tipe II. Coca cola zero merupakan solusi yang diberikan oleh coca cola untuk mengurangi peningkatan glukosa darah.Tujuan : Mengetahui perbedaan kadar glukosa darah setelah mengonsumsi 1 kaleng (330ml) coca-cola reguler dan coca-cola zero pada populasi non diabetes.Metode : Penelitian eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Rancangan penelitian menggunakan two group Pre-test and Post-test group design (cross over). Data diambil dari mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Diponegoro pada bulan April 2016. Analisa data menggunakan paired t-test dan uji Wilcoxon.Hasil : Subyek penelitian sebanyak 14 sampel, 6 laki-laki dan 8 perempuan.Perbandingan delta semua menggunakan uji Wilcoxon karena distribusi data tidak normal.Hasil didapatkan perbedaan bermakna (p<0,05) pada perbandingan delta GDPP 1jam-GDP (p=0,009) dan delta kadar GDPP 2jam-GDPP (p=0,005) antar kelompok coca-cola reguler dan kelompok coca-cola zero, sedangkan pada perbandingan delta GDPP 2jam-GDP antar kelompok coca-cola reguler dan kelompok coca-cola zero didapatkan perbedaan tidak bermakna (p=0,4).Kesimpulan : Didapatkan perbedaan bermakna pada kadar glukosa darah post-prandial 1 jam setelah konsumsi 1 kaleng (330ml) coca-cola reguler dan coca cola zero.
PENGARUH EKSTRAK KULIT MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L.) TERHADAP JUMLAH KELAINAN HISTOPATOLOGI STRIA VASKULARIS KOKLEA PADA OTOTOKSISITAS (STUDI EKSPERIMENTAL PADA TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI GENTAMISIN) Fathoni, Mohammad Rifqi; Santosa, Yanuar Iman
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20850

Abstract

Latar Belakang Gentamisin merupakan salah satu obat golongan aminoglikosida yang sangat luas penggunaannya. Namun, penggunaan obat gentamisin dapat menimbulkan efek samping berupa ototoksik, sehingga diperlukan upaya untuk mengurangi atau bahkan mencegah timbulnya efek samping tersebut. Salah satu upaya adalah penggunaan zat antioksidan yang terdapat dalam kulit (pericarp) manggis.Tujuan Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap jumlah kelainan histopatologi dan indeks apoptosis sel rambut koklea pada ototoksisitas gentamisinMetode Penelitian ini menggunakan true experimental with post-test only control group design yang menggunakan tikus wistar sebagai subjek penelitian. Tikus wistar dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok kontrol negatif yang tidak diinduksi apa – apa, kelompok kontrol positif diinduksi gentamisin secara intraperitonial dengan dosis 120 mg/KgBB selama 25 hari dan kelompok perlakuan diinduksi gentamisin secara intraperitonial dengan dosis 120 mg/KgBB selama 25 hari diikuti pemberian ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) secara per oral dengan dosis 100 mg/KgBB pada hari ke -12 sampai dengan hari ke - 25, kemudian diterminasi untuk dinilai jumlah kelainan histopatologi dan indeks apoptosis. Analisis data diolah menggunakan uji Chi-SquareHasil Terdapat perbedaan jumlah kelainan histopatologi yang tidak signifikan antara kelompok yang diberikan gentamisin saja dan kelompok yang diberikan gentamisin dan ekstrak kulit manggis dengan nilai p = 1,000 (p>0,05). Sedangkan apoptosis tidak tampak pada preparat koklea.Kesimpulan Jumlah kelainan histopatologi koklea pada kelompok yang diinduksi gentamisin kemudian diberikan ekstrak kulit manggis lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang hanya diinduksi gentamisin namun tidak signifikan.
FAKTOR – FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN DEPRESI PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI RSUP DR. KARIADI SEMARANG Nisrina Darin Nahda; Fathur Nur Kholis; Natalia Dewi Wardani; Hardian Hardian
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.947 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i4.18383

Abstract

Latar Belakang : Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular penyebab kematian. Pada pasien tuberkulosis dapat terjadi depresi. Ada beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, ada komplikasi dan penyakit komorbid serta efek samping obat diduga berhubungan dengan kejadian depresi.Tujuan:  Untuk membuktikan faktor – faktor yang berpengaruh terhadap kejadian depresi pada pasien Tuberkulosis di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode : Penelitian belah lintang dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode Maret s/d Juni 2016. Subyek penelitian adalah 52 orang pasien tuberkulosis yang menerima terapi rawat jalan dan rawat inap. Variabel bebas adalah umur, jenis kelamin, komplikasi tuberkulosis dan penyakit komorbid, serta efek samping obat. Variabel terikat adalah  kejadian depresi yang diukur dengan skor DASS. Skor DASS ³14 dikategorikan sebagai depresi, < 14 sebagai tidak depresi. Uji t-tidak berpasangan, c2,  korelasi Rank-Spearman dan uji rgreswi logistik multivariat digunakan untuk analisis data.Hasil : Rerata±SB skor DASS subyek penelitian adalah 16,1±10,92. Berdasarkan kategori skor DASS dijumpai subyek dengan depresi  adalah 27 orang (51,9%). Rerata umur subyek depresi adalah 49,3±18,15 dan tidak depresi adalah 36,2±11,88 tahun (p=0,04). Ada korelasi positif derajat sedang antara umur dengan skor DASS (koefisien korelasi=0,47; p<0,001).  Adanya  komplikasi tuberkulosis dan penyakit komorbid berhubungan secara bermakna dengan kejadian depresi pada pasien Tuberkulosis (p<0,001). Hasil analisis uji regresi logistik multivariat hanya komplikasi tuberkulosis dan penyakit komorbid yang berpengaruh terhadap kejadian depres i(OR= 20,1; 95% IK= 3,4 s/d117,6; p=0,001).Kesimpulan : Adanya komplikasi dan penyakit komorbid berpengaruh terhadap kejadian depresi pada penderita Tuberkulosis.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SAMPO TRADISIONAL BERBAHAN MERANG (Rice Straw) DENGAN SAMPO MODERN TERHADAP KETOMBE PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO Eleonora Nada Klarissa; Retno Indar Widayati; Widyawati Widyawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.558 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23788

Abstract

Latar Belakang: Ketombe merupakan suatu masalah pada kulit kepala yang sangat umum. Ketombe menyebabkan penderitanya merasa kurang percaya diri. Oleh karena itu, penderita ketombe umumnya ingin segera melakukan perawatan dan pengobatan yang tepat. Kebanyakan orang menangani kondisi tersebut dengan sampo anti ketombe. Sampo anti ketombe yang sering dijumpai di pasaran saat ini tergolong sebagai sampo modern yang mengandung zat-zat aktif kimiawi. Namun terkadang penggunaan sampo anti ketombe modern yang mengandung zat-zat aktif kimiawi belum tentu langsung menghilangkan ketombe dan kemungkinan memiliki efek samping yang membahayakan tubuh sehingga penderita ketombe mencoba alternatif lain yaitu menggunakan sampo berbahan alami dan tradisional. Tujuan:Mengetahui perbandingan efektivitas penggunaan sampo tradisional berbahan merang (rice straw) dengan sampo modern terhadap ketombe. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan cross over design pada mahasiswa laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro sejumlah 33 orang. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2018 di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang dan tempat tinggal masing-masing subjek penelitian. Subjek penelitian mencuci rambut dengan sampo modern pada minggu pertama dan sampo tradisional berbahan merang (rice straw) pada minggu kedua dengan frekuensi seminggu 3 kali dan kemudian dicek ada tidaknya ketombe. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan uji McNemar test. Hasil: Dari 33 orang yang yang menjadi subjek penelitian terdapat20 orang (60,6%) tidak ditemukan ketombe dan 13 orang (39,4%) masih ditemukan ketombe setelah menggunakan sampo modern, sedangkan 17 orang (51,5%) tidak ditemukan ketombe dan 16 orang (48,5%) masih ditemukan ketombe setelah menggunakan sampo tradisional berbahan merang (rice straw). Hasil statistik McNemar testmenunjukkan p=0,508 yang berarti terdapat perbedaan yang tidak signifikan antara efektivitas sampo tradisional berbahan merang (rice straw) dengan sampo modern terhadap ketombe. Kesimpulan: Sampo tradisional berbahan merang (rice straw) dan sampo modern memiliki efektivitas yang sama dalam menghilangkan ketombe.Kata kunci: Ketombe, sampo anti ketombe, sampo tradisional, sampo modern

Page 66 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue