cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
HUBUNGAN TEKSTUR SEDIMEN DAN BAHAN ORGANIK DENGAN MAKROZOOBENTOS DI HABITAT MANGROVE PANTAI TIRANG SEMARANG Sinulingga, Hiskia Arapenta; Muskananfola, Max Rudolf; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (920.463 KB)

Abstract

ABSTRAK Pantai Tirang merupakan salah satu pantai di Semarang, terletak di sebelah barat dari bandara Ahmad Yani, pantai Maron dan Muara Kali Angke di Desa Tambakrejo, Kecamatan Tugu, Kabupaten Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tekstur sedimen dan bahan organik, mengetahui nilai indeks biologi (indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominasi), dan mengetahui hubungan tekstur sedimen dan bahan organik dengan makrozoobentos di Habitat Mangrove Pantai Tirang Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: metode deskriptif (analisa lapangan dan laboratorium). Analisa lapangan di Pantai Tirang Semarang dan analisa laboratorium di Lab Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Pengambilan  sampel dilakukan 3 kali dengan interval waktu 2 minggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tektur sedimen didominasi oleh fraksi pasir berkisar 90,92-94,56% pada sampling pertama; fraksi liat 26,08 – 61,24% pada sampling kedua; fraksi liat berkisar 23,28-59,88 % pada sampling ketiga; dan Nilai bahan organik berkisar antara 1,88-5,88%. Nilai indeks  keanekaragaman berkisar 0,563-1,003, indeks keseragaman berkisar 0,579-0,909, indeks dominasi berkisar 0,371-0,624 dan kelimpahan makrozoobentos berkisar antara 1995,27-5985,83 ind/m3. Jenis makrozoobentos yang mendominasi adalah dari genus Cerithidea. Hubungan tekstur sedimen dominan (fraksi clay) dan bahan organik dengan makrozoobentos: fraksi clay dengan kelimpahan makrozoobentos memiliki hubungan terbalik, semakin tinggi fraksi clay maka kelimpahan makrozoobentos makin rendah dengan koefisien korelasi -0,18. Bahan organik dengan kelimpahan makrozoobentos memiliki keeratan hubungan sedang, bahan organik makin tinggi maka kelimpahan makrozoobentos meningkat. Kata Kunci : Tekstur Sedimen; bahan organik; makrozoobentos; Pantai Tirang Semarang  ABSTRACT Tirang Beach is one of the beaches in Semarang located at the westside of Ahmad Yani airport, Maron Beach and the estuari of Angke River, Tambakrejo village, Tugu subdistrict, Semarang Regency. The objective of the research is to determine the sediment textures and organic matters, to know the biological indices (diversity index, uniformity index, and the dominance index), and to determine the relationship between macrozoobenthos with sediment textures and organic matter in Mangrove habitat at Tirang Beach Semarang.This study adopts a descriptive method (Field and laboratory analysis). Field analysis in Tirang Beach Semarang and laboratory analysis at the Laboratory of Fish Resources Management and Environment Faculty of Fisheries and Marine Sciences, University of Diponegoro in Semarang. Sampling was conducted three times at intervals of 2 weeks.The results of this study shows that sediment textures is dominated by sand fraction ranged from 90,92 to 94,56% at fiirst sampling; clay fractions ranged from 26,08 to 61,24 % at second sampling; clay fraction ranged from 23,28-59,88 % at third sampling. Diversity index values ranged from 0,563 to 1,003, uniformity index ranges from 0,579 to 0,909, dominance index ranged from 0,371 to 0,624 and the abundance of macrozoobenthos from 1995.27 to 5985.83 ind/cm3. Macrozoobenthos is dominated by genus Cerithidea. Relation of sediment texture (clay fraction) and organic material with macrozoobenthos. The clay fraction and abundance of macrozoobenthos has a negative correlation, high clay concentration low macrozoobenths abundance and correlation value of -0.18. Organic matter and abundance of macrozoobenthos has a moderate correlation, high organic material high macrozoobenthos abundance and correlation value 0.73. Keywords: Sediment textures, organic matters; Macrozoobenthos; Tirang Beach Semarang
ANALISIS HUBUNGAN BAHAN ORGANIK DENGAN TOTAL BAKTERI PADA TAMBAK UDANG INTENSIF SISTEM SEMIBIOFLOK DI BBPBAP JEPARA Putra, Stephanus Jeanua Widyalistyo; Nitisupardjo, Mustofa; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.906 KB)

Abstract

   Bioflok merupakan salah satu teknologi yang mampu mengatasi permasalahan limbah akuakultur, sebab dengan penambahan materi heterotrof mampu mengubah nitrogen anorganik yang berasal dari feses maupun sisa pakan menjadi protein sel tunggal yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ikan atau udang. Penguraian bahan organik oleh bakteri menjadi sangat komplek di perairan, mengingat banyak faktor lingkungan yang berperan. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam penelitian ini akan dilakukan penelitian tentang analisis pengaruh bahan organik terhadap total bakteri di tambak dengan melihat hubungan dan pengaruh dari faktor lingkungan terhadap total bakteri. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui hubungan bahan organik dengan total bakteri pada tambak udang intensif sistem semibioflok. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga April 2014. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air yang berasal dari tambak intensif di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif adalah metode yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deksripsi tentang suatu keadaan. Metode pengambilan sampel yaitu metode purposive sampling dimana teknik pengambilan sampel mempunyai pertimbangan tertentu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, kandungan bahan organik pada tambak udang intensif sistem semibioflok yang diperoleh dalam penelitian ini berkisar antara 41,14 – 162,45 mg/l. Jumlah total bakteri pada tambak udang intensif sistem semibioflok yang diperoleh dalam penelitian ini berkisar antara 2,0 x103 _ 2,4 x105 (CFU/ml). Berdasarkan hasil Uji Pearson correlation bahwa hubungan bahan organik dengan total bakteri pada tambak udang intensif sistem semibioflok menunjukkan arah korelasi yang linier positif yaitu semakin besar nilai bahan organik semakin besar juga nilai total bakterinya.    Biofloc is one technology that can overcome the aquatics waste, for with the addition of heterotrophic material are capable of changing inorganic nitrogen derived from feces and the remaining feed into a protein single cell be used as a source of feed for fishes or shrimps. Decomposition of organic matter by bacteria become very complex, in the waters bearing numerous environmental factors play. With respect to the matters in this study will be carried out research on the analysis of the influence of organic material to the total bacteria in pond by viewing the relationships and the influence of environmental factors to the total bacteria. The purpose of this research, to know relations organic matter with total bacteria on intensive shrimps with semibiofloc system. This research conducted in february until april 2014. Material that was used in this research is a sample of water originating from intensive aquculture in Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. The methods used in this research was descriptive method which was done with the main objective to create an overview or description of a situation. Method of sample collection was purposive sampling techniques where the sample have certain consideration. The result of this research shows that, any organic matter at intensive shrimps with semibiofloc system obtained in this research are generally between 41,14 – 162,45 mg/l. Total bacteria at intensive shrimps with semibiofloc system obtained in this research are generally between 2,0 x103 _ 2,4 x105 (CFU/ml). Based on the results of the test pearson correlation that relationship organic matter with a total bacteria at intensive shrimp with semibioflok system indicates the direction that was linear positive correlation was increasingly large values of organic matter the more the total value of the bacteria. 
ANALISIS FOOD HABIT TERIPANG HITAM (Holothuria atra) DI PERAIRAN PANTAI ALANG-ALANG TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Analysis Food Habit of Black Sea Cucumber (Holothuria atra) in The Coastal Waters of Alang-Alang Karimunjawa National Park Anjani, Putri Dewi; Sulardiono, Bambang; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.764 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26484

Abstract

Teripang merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang melimpah di perairan Indonesia. Teripang merupakan komponen penting di perairan pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic level) dalam rantai makanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui food habit teripang hitam (Holothuria atra) dan bahan organik sedimen pada ekosistem lamun di Perairan Pantai Alang-Alang Taman Nasional Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Pengambilan data menggunakan metode systematic random sampling. Penelitian ini dilakukan pada tiga titik pengamatan pada ekosistem lamun. Hasil pengamatan kelimpahan teripang sebanyak 25 ekor teripang hitam (Holothuria atra) ditemukan dengan nilai kelimpahan relatif (KR) di titik sampling 1 sebesar 32%, titik sampling 2 sebesar 48% dan di titik sampling 3 sebesar 20%. Nilai IP (Index of Preponderance) tertinggi sebesar 40,08% pada jenis makanan Rhizosolenia spp dan nilai IP terendah sebesar 0,21% pada jenis makanan Iasis spp dan Triceratium spp. Kandungan bahan organik sedimen di titik sampling 1 sebesar 5,426%, titik sampling 2 sebesar 19,917% dan di titik sampling 3 sebesar 14,584%. Hubungan kelimpahan teripang hitam (Holothuria atra) dengan bahan organik sedimen menunjukkan hubungan yang positif dengan persamaan regresi y = 0,2104x + 5,5327. Nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,439 dengan kategori cukup atau sedang dan nilai koefisien determinasi (R2) 0,1929 dengan kategori buruk. ABSTRACT  Sea cucumber is one of the abundant coastal resources in Indonesian waters. Sea cucumber is an important component in the water at various trophic levels in the food chain. The purpose of this research is to find out the black sea cucumber (Holothuria atra) food habit and sedimentary organic material in seagrass ecosystem in the coastal waters of Alang-Alang Karimunjawa National Park. The method used in the research is descriptive method. The sampling method used is systematic random sampling technique. This research is conduct at three observation locations in seagrass ecosystem. The result of observations of the abundance of sea cucumber were found 25 sea cucumbers with a relative abundace value at the first observation location of 32%, second observation location of 48% and third observation location of 20 The highest IP value (Index of Preponderance) at 40,08% is Rhizosolenia spp and the lowest IP value at 0,21% is Iasis spp and Triceratium spp.Sedimentary organic material content at the first observation location of 5,426%, second observation location of 19,917% and third observation location of 14,584%. The relation between abundance of black sea cucumber (Holothuria atra) with sedimentary organic material shows positive relation which is regression equation y = 0,2104x + 5,5327. The correlation of coefficient value is 0,439 in moderate category and determination of coefficient value (R²) is 0,1929 in bad category.
PERBEDAAN KELIMPAHAN TERIPANG (Holothuroidea) PADA EKOSISTEM LAMUN DAN TERUMBU KARANG DI PULAU KARIMUNJAWA JEPARA Permadi, Martantya Bagus; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.457 KB)

Abstract

Kepulauan Karimunjawa Jepara Jawa Tengah sangat terkenal akan kekayaan sumberdaya alam yang ada di dalam laut seperti pada daerah ekosistem terumbu karang dan lamun. Banyak biota-biota yang berasosiasi di daerah tersebut salah satunya teripang untuk keperluan mencari makan, melakukan pemijahan dan juga sebagai tempat perlindungan. Kepulauan Karimunjawa mempunyai potensi perikanan khususnya teripang. Kondisi substrat,mikro habitat,serta aktifitas pengelolaan wilayah di suatu perairan mempengaruhi keseimbangan ekosistem terumbu karang dan ekosistem lamun yang berdampak pada penyebaran dan kelimpahan teripang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan jenis teripang di ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang serta untuk mengetahui perbedaan kelimpahan teripang di ekosistem lamun dan terumbu karang di Pulau Karimunjawa Jepara pada bulan Mei 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi. Metode penelitian ini dilakukan  pada masing-masing stasiun, yaitu stasiun A (padang lamun) B (terumbu karang). Nilai persentase penutupan karang  sebesar 66,09 % nilai tersebut termasuk dalam kondisi baik. Pada ekosistem lamun didapatkan kelimpahan teripang sebanyak 91 ind/150 m2 sedangkan pada ekosistem terumbu karang 16 ind/150 m2. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah ekosistem lamun memiliki kelimpahan teripang lebih tinggi dibandingkan daerah ekosistem terumbu karang. Berdasarkan hasil Uji Tes “T” dapat disimpulkan bahwa kelimpahan jenis teripang yang paling banyak adalah pada ekosistem lamun.  Karimunjawa Island central java jepara is very well known for the wealth of natural resource that exist in the area of marine ecosystems such as coral reefs and seagrass. Many biota in the area of one sea cucumber for the purpose of feeding, spawning and perform wellas a place refuge. Karimunjawa island has the potential sea cucumber fisheries especially micro habitat, substrate conditions and management activities in a region affects the water balance of reef ecosystem and seagrass that have an impact on the spread and abudance of sea cucumbers. The purpose of this study was to determine the abudance of sea cucumber species in seagrass and coral reef on the island karimunjawa jepara in may 2014. The method used in this research is the method observation conducted at eachstasion A (seagrass) B (reef). Value percentage of coral cover amounting to 66,09% of the value include in the conditions good. In seagrass abudance of sea cucumber as much 91 ind/150 m2 while on the coral reef ecosystem 16 ind/150 m2. From these data it can be concluded that the area of seagrass ecosytem possess an abudance of sea cucumber are higher than the area of coral reef ecosystem. Based on the results of Test “T” can be conclude that the abudance of sea cucumber is the most seagrass in the area. 
DOMESTIKASI LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) MELALUI OPTIMALISASI MEDIA DAN PAKAN Rahmawati, Yunita Asrofania; Anggoro, Sutrisno; Subiyanto, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.763 KB)

Abstract

Lobster air tawar menghadapi banyak hambatan dalam upaya peningkatan produksi lobster air tawar seperti tingkat pertumbuhan yang kurang optimal serta tingginya tingkat kematian pada fase pasca larva, salah satunya karena faktor salinitas. Domestikasi merupakan suatu cara pengadopsian hewan dalam suatu populasi yang hampir punah (terancam kelestariannya) dari kehidupan liar (habitat asli) ke dalam lingkungan budidaya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pola osmoregulasi, pertumbuhan, dan efisiensi pakan. Pola osmoregulasi lobster air tawar pada perlakuan S3 (14 ppt) mengalami pola osmoregulasi  isosmotik, sedangkan S4 (21 ppt) mengalami pola osmoregulasi hiperosmotik. TKO terendah terdapat pada perlakuan S3 (14 ppt) sebesar 30,54±0,01 mOsml/l H20, sedangkan pada perlakuan S4 (21 ppt) memiliki TKO tertinggi yaitu sebesar 287,82±0,04 mOsml/l H20. Laju pertumbuhan mutlak terbaik pada perlakuan S3 (14 ppt) yaitu 3,51 gr dan efisiensi pakan pada perlakuan S3 (14 ppt) sebesar 20,04%.
ANALISIS KOMPETISI MAKANAN ANTARA IKAN TAWES (Barbonymus gonionotus), IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI PERAIRAN WADUK WADASLINTANG KABUPATEN WONOSOBO (Analysis of Food Competition Between Java Barb (Barbonymus gonionotus), Java Tilapia (Oreochromis mossambicus) and Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) in Wadaslintang Reservoir, Wonosobo Regency) Kurnia, Rahanti; Widyorini, Niniek; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.28 KB)

Abstract

Ikan tawes (B. gonionotus), ikan mujair (O. mossambicus) dan ikan nila (O. niloticus) merupakan jenis ikan yang terdapat di perairan Waduk Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Waduk Wadaslintang juga memiliki KJA yang membudidayakan jenis ikan nila (O. niloticus). Berdasarkan jenis ikan yang hidup di Waduk Wadaslintang, maka akan memiliki peluang kompetisi makanan terhadap sumberdaya makanan yang tersedia di perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebiasaan makanan ikan tawes, ikan mujair dan ikan nila sehingga dapat mengetahui kompetisi makanan yang terdapat di dalamnya, selain itu juga untuk mengetahui kelimpahan jenis plankton di perairan Waduk Wadaslintang. Penelitian dilakukan bulan Mei 2017 di kawasan perairan Waduk Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Jumlah sampel ikan yang diperoleh 41 ekor. Kelimpahan jenis plankton yang terdapat di perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 424-8376 ind/l dengan jenis fitoplankton yang berasal dari kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Xantophyceae dan Zygnematophyceae. Hasil dari perhitungan Index of Preponderance, ikan tawes, ikan mujair dan ikan nila (non KJA) memanfaatkan kelas Bacillariophyceae sebagai makanan utamanya, sedangkan ikan nila (KJA) memanfaatkan pakan buatan yang diduga pelet sebagai makanan utamanya dan kelas Bacillariophyceae sebagai makanan pelengkapnya. Berdasarkan hasil perhitungan tumpang tindih dan luas relung, diketahui beberapa kelompok yang memiliki peluang kompetisi makanan. Kelompok I adalah ikan tawes yang bersifat selektif sehingga tidak memiliki peluang kompetisi makanan, kelompok II adalah ikan mujair dan ikan nila (non KJA) yang memiliki peluang kompetisi tertinggi. Java barb (B. gonionotus), java tilapia (O. mossambicus) and nile tilapia (O. niloticus) are  type of fish contained in the waters of Wadaslintang Reservoir, Wonosobo Regency. Wadaslintang reservoir has a floating net cage (KJA) that cultivate the type of Nile Tilapia (O. niloticus). Based on the type of fish live in Wadaslintang Reservoir it will have a chance of food competition to available food resources in the waters. The research aimed to know food habits Java barb, Java tilapia and Nile tilapia that it can know the food competiton contained in it, moreover that it to know about the abundance of plankton in Wadaslintang reservoir. This research held on May 2017 in the Wadaslintang reservoir, Wonosobo regency. A total of fish is 41. The abundance of plankton in Wadaslintang reservoir ranged between 424-8376 ind/L with the type of phytoplankton derived from Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Xantophyceae and Zygnematophyceae. The result from Index of Preponderance of java barb, java tilapia and nile tilapia (non KJA) utilized Bacillariophyceae as the main food, while nile tilapia (KJA) utilized an artificial feeds which is supposed to pellets as the main food and Bacillariophyceae as the complementary food. Based on niche overlap, there are some groups have an opportunities for food competition. First group is Java barb that haven't an opportunities for food competition because java barb is a selective fish, second group are Java tilapia and nile tilapia (non KJA) have a highest opportunities for food competition.
KELIMPAHAN DAN POLA PERSEBARAN SAND DOLLAR BERDASARKAN LOKASI KEGIATAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU PRAMUKA KEPULAUAN SERIBU Masruroh, Nurul Hidayati; Suryanti, -; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.974 KB)

Abstract

Sand dollar termasuk dalam kelas Echinoidea dari filum Echinodermata yang memiliki bentuk tubuh irregular yaitu bentuk tubuh bilateral dan pipih atau oval tanpa lengan, duri-duri menutup tubuh. Habitatnya di dasar perairan yang berpasir atau daerah berlumpur. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau  yang mempunyai daerah rataan pasir yang luas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi jenis, kelimpahan dan pola sebaran sand dollar yang terdapat pada lokasi kegiatan yang berbeda di perairan Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2014 di Pulau Pramuka Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan yang bersifat deskriptif, pengambilan data dilakukan pada 3 stasiun, yakni stasiun 1 (lokasi pemukiman), stasiun 2 (lokasi alami), stasiun 3 (lokasi pariwisata). Tekhnik pengambilan sampel dilakukan pada setiap stasiun dengan menggunakan line transek 50 meter dengan jarak antar tali 10 meter, pada tiap line transek dilakukan pengamatan dan pengambilan sand dollar menggunakan kuadran 1 x 1 meter. Hasil penelitian menunjukkan di pulau Pramuka terdapat 11 corak jenis sand dollar, dengan kelimpahan pada stasiun 1 sebanyak 537 individu, sedangkan  pada stasiun 2 sebanyak 601 individu, dan stasiun 3 sebanyak 195 individu. Kelimpahan relatifnya terbesar yang didapatkan di pulau Pramuka pada jenis Laganum depresum dan L.depresum tonganense sedangkan kelimpahan relatif  terkecil adalah L. fudsiyama africanum, L. retins, L. decagonale rectum, L. central dan L. decagonale. Pola sebarannya sebagian besar termasuk mengelompok (clumped). Sand dollar belong to class of Echinoidea from phylum Echinodermata that have an irregular body shape bilateral and flat or oval without arms,  covered by spines. Sand dollar habitat is in the sandy or muddy areas.  Pramuka island is one island that has a large area of sand flat. The purpose of this study were to determine species composition, abundance and distribution patterns of sand dollars found in the location with different activities in the Pramuka Island waters Kepulauan Seribu. This study was conducted in May-June 2014 at the Pramuka Island Kepulauan Seribu National Marine Park. The research method used a descriptive field observations, data collected at 3 station, in which stations 1 (Residential location), stations 2 (Natural location), stations 3 (tourism location).The sampling method is done by pulling the line transect 50 meters long at each station with distance of each rope 10 meter.  On each 1 meter the sand dollar was observed and collected using 1 x 1 m quadrant. The results showed that Pramuka Island has 11 types of sand dollar. With abundance at station 1 is 537 individual, station 2 is 601 individual, and station 3 is 195 individual. The Largest relative abundance found in the Pramuka Island are Laganum depresum and L. depresum tonganense whereas the smallest relative abundance are L. fudsiyama africanum, L. retins, L. decagonale rectum, L. central and L. decagonale. Sand dollars distribution patterns mostly clumped.
Analisis Morfometri dan Faktor Kondisi pada Cumi-Cumi Photololigo chinensis dan Photololigo duvaucelii yang Didaratkan di Beberapa TPI Pantai Utara Jawa Tengah Nuzapril, Mulkan; Afiati, Norma; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.705 KB)

Abstract

Salah satu hasil laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi setelah ikan dan udang adalah cumi-cumi. Cumi-cumi merupakan salah satu jenis sumberdaya perikanan yang berperan nyata dalam sektor perikanan laut dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Pemanfaatan sumberdaya cumi-cumi melalui kegiatan penangkapan sudah saatnya disertai dengan upaya pengaturan penangkapan. Upaya ini dapat memperbaiki kerusakan sumberdaya cumi-cumi, karena stok dapat diperkaya untuk memperbaiki dan mempertahankan kelestarian sumberdaya cumi-cumi. Studi mengenai morfometri dari cumi-cumi sangat diperlukan guna selektivitas ukuran bagi kegiatan penangkapan. Selektivitas alat tangkap sangat penting dilakukan untuk menghindari terjadinya overfishing. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik morfometri dan faktor kondisi dari cumi-cumi P.chinensis dan P. duvaucelii yang didaratkan di TPI sekitar Pantai Utara Jawa Tengah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif yang dalam pelaksanaannya dilakukan melalui teknik survei yaitu melakukan kegiatan pengamatan secara langsung dilapangan dengan bertanya terhadap nelayan sebagai data primer dan pengambilan sampel menggunakan metode random sampling yaitu bahwa semua anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dimasukkan sebagai anggota sampel. Hasil penelitian ini adalah mengidentifikasi 2 jenis cumi-cumi yaitu P.chinensis dan P. duvaucelii. Ukuran yang mendominasi untuk P. duvaucelii  yaitu berkisar antara 25 – 40 mm dan P. chinensis  yaitu antara ukuran 55 – 70 mm. Hubungan panjang berat P.chinensis dan P. duvaucelii mempunyai persamaan W = 0,0024 L2,055dan W = 0,00129 L2,213. Karakteristik alometri pada cumi-cumi  P.chinensis dan P.duvaucelii mempunyai sifat pertumbuhan alometrik positif, alometrik negatif dan isometrik. Nilai faktor kondisi dari P.chinensis dan P. duvaucelii dengan rumus K= W/ aLb masing- masing adalah 1,007 dan 1,082. Hal tersebut menunjukkan bahwa tubuh dari kedua cumi-cumi yaitu kurang pipih. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa pertumbuhan panjang mantel kedua spesies tumbuh lebih cepat dibanding organ tubuh lain dan pertumbuhan panjang mata P. chinensis lebih cepat dibanding tinggi mata, sedangkan panjang mata   P. duvaucelii tumbuh seimbang terhadap tinggi mata.
ANALISIS PERUBAHAN LUASAN TERUMBU KARANG DENGAN MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH CITRA LANDSAT 7 ETM+ DAN 8 OLI DI PERAIRAN PULAU MENJANGAN KECIL KARIMUNJAWA (JEPARA) Ilham, Muhammad; Supriharyono, Supriharyono; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.379 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22536

Abstract

Ekosistem terumbu karang menjadi salah satu potensi sumberdaya pesisir yang memiliki banyak manfaat bagi lingkungan sekitar. Pulau Menjangan Kecil merupakan salah satu pulau di Karimunjawa yang memiliki ekosistem terumbu karang. Beraneka ragam ekosistem terumbu karang yang ada, menjadikan pulau ini sebagai salah satu destinasi wisata yang menarik untuk wisatawan. Penelitian dilaksanakan pada Bulan September 2017. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang ditinjau dari nilai persentase luasam penutupan terumbu karang, tingkat akurasi penggunaan citra Landsat 7 ETM+ dan 8 OLI tahun 2013, 2015, dan 2017. Sampling dilakukan pada empat titik. Metode yang digunakan Line Transect, Lyzenga Transformation dan Confusion Matrix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tutupan luasan terumbu karang sebesar 54,31%, perubahan luasan terumbu karang berkurang sebesar 14,1 Ha (3,2%), uji akurasi citra satelit yang dihasilkan sebesar 86,95%. Coral reef ecosystems become one of the potential of coastal resources that have many benefits for the surrounding environment. Menjangan Kecil Island is one of the islands in Karimunjawa which has coral reef ecosystem. A wide range of coral reef ecosystems, making this island as one of the tourist destinations to attract tourists. The research was conducted in September 2017. The objectives of this study were to determine the condition of coral reefs from the percentage of coral cover coverage, the accuracy of Landsat 7 ETM + and 8 OLI imagery in 2013, 2015 and 2017. Sampling was conducted on four stations. The method used is Line Transect, Lyzenga Transformation and Confusion Matrix. The results showed that the percentage of coral cover cover was 54,31%, the coral reef area decreased by 14,1 Ha (3,2%), the test of satellite image accuracy was 86,95%. 
ANALISA FUNGSI EKOSISTEM AREA PERLINDUNGAN LAUT (APL) DI TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Febrianti, Mutia Ismi; Purwanti, Frida; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.403 KB)

Abstract

Area Perlindungan Laut (APL) adalah suatu area yang terdiri dari berbagai habitat, keberadaannya dilindungi dan dikelola dengan sistem zonasi. Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) dalam wilayahnya memiliki beberapa titik APL yang tersebar di Kelurahan Pulau Harapan, Pulau Kelapa, Pulau Panggang, Pulau Tidung dan sisanya dikelola oleh masyarakat Pulau Pari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi biofisik dan keanekaragaman hayati APL, tingkat pemahaman, persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap APL dan fungsi ekosistem APL. Metode penelitian adalah deskriptif yang bersifat studi kasus dengan observasi lapangan di dua wilayah APL, yaitu APL Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Harapan. Pengambilan data berupa aspek ekologi dan aspek sosial. Hasil penelitian menunjukkan kondisi APL Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Harapan dalam tingkat oligosaprobik dan keanekaragaman biota APL Kelurahan Pulau Panggang lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau Harapan. APL Kelurahan Pulau Panggang memiliki 18 genera terumbu karang dan 8 genera ikan karang sedangkan APL Kelurahan Pulau Harapan memiliki 5 genera terumbu karang dan 6 genera ikan karang. Tingkat pemahaman masyarakat 61% tidak paham akan fungsi dibentuknya APL, 53% masyarakat menyatakan bahwa wilayah konservasi penting keberadaannya dan 58% masyarakat tidak pernah berpartisipasi dalam pengelolaan APL. Fungsi ekosistem APL sudah berjalan dengan baik, sesuai dengan tujuan dibentuknya APL. Marine Protected Area (MPA) was defined as an area consisting of varieties habitats, where its existence should be protected and managed within zoning systems. In the Kepulauan Seribu National park (TNKpS) area have some APL points spread at the Harapan island, Kelapa island, Panggang island, Tidung island and the rest managed by The Pari island community. The research aimed to know the state of biophysical and biodiversity of MPA, the level of understanding, perception and public participation toward MPA and functions of the MPA ecosystem. The research method was descriptive by case study through a field observation in two MPA region, namely MPA Panggang island and Harapan island. Data collecting in the form of ecological and social aspects. The result showed that condition of MPA in the Panggang island and Harapan island were the level of oligosaprobic and the diversity of biota, at the MPA Panggang island was higher than Harapan island. MPA Panggang island have 18 genera of coral reefs and 8 genera of coral fishes while MPA Harapan island have 5 genera of coral reefs and 6 genera of coral fishes. The Level of public understanding was 61% do not understand function of the MPA establishment, 53% of the people said that the conservation area were important and 58% people never be participated in the management of MPA.The function of the MPA ecosystem has been running well in accordance with the purpose of MPA establisment.

Page 5 of 55 | Total Record : 548