cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of International Relations Studies
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Journal of International Relations seeks original manuscripts that provide theoretically informed empirical analyses of issues in international relations, as well as original theoretical or conceptual analyses. The journal represents no particular school or approach, nor is it restricted to any particular methodology. Instead, it seeks to foster an awareness of methodological and epistemological questions in the study of International Relations, and to reflect research and developments of a conceptual, normative and empirical nature in all the major sub-areas of the field.
Arjuna Subject : -
Articles 645 Documents
Aktivitas Ofensif Rusia dalam Konflik Ukraina Tahun 2022 Ni Nyoman Dinda Ayudya Putri Kirana; Syaakirah Nur Airin; Rania Asweta Hirra; Anak Ayu Nindya Rastyrania; Najmi Aulia Haritzmi Putri
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.58468

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah dinamika konflik internasional, dengan ruang siber muncul sebagai domain strategis kelima di samping darat, laut, udara, dan antariksa. Meskipun berbagai aktivitas ofensif di ruang siber sering dikategorikan sebagai "perang siber," Thomas Rid (2012) berargumen bahwa perang siber belum pernah terjadi di masa lalu, tidak sedang terjadi saat ini, dan kecil kemungkinannya akan terjadi di masa depan karena seluruh serangan siber bermotif politik hanyalah versi canggih dari tiga bentuk aktivitas ofensif, yaitu sabotage, espionage, dan subversion. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk-bentuk aktivitas ofensif yang dilakukan Rusia dalam konflik dengan Ukraina pada tahun 2022 menggunakan kerangka konseptual Thomas Rid. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan data sekunder dari literatur akademik, laporan pemerintah, dan publikasi intelijen keamanan siber. Temuan menunjukkan bahwa aktivitas ofensif Rusia termanifestasi dalam tiga bentuk: sabotage melalui penyebaran wiper malware destruktif yang menargetkan sistem pemerintahan dan teknis Ukraina; espionage melalui kampanye pencurian kredensial dan pengintaian digital oleh kelompok yang berafiliasi dengan GRU; serta subversion melalui kampanye disinformasi sistematis, amplifikasi bot farm, dan teknologi deepfake. Temuan ini mengkonfirmasi argumen Rid bahwa aktivitas ofensif lebih tepat dipahami sebagai sabotage, espionage, dan subversion daripada perang dalam pengertian Clausewitzian.
Ancaman Deepfake: Potensi Degradasi Identitas Nasional Indonesia Natasha Priadi; Marten Hanura; Muhammad Faiq Adi Pratomo
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.52975

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi ancaman deepfake terhadap proses politik dan demokrasi yang dapat mendegradasi identitas nasional Indonesia sebagai negara demokrasi. Penelitian ini menggunakan metode mix method dengan descriptive analysis untuk menguraikan ancaman bahaya deepfake terhadap keberlangsungan politik dan demokrasi Indonesia. Analisis penelitian ini menggunakan kerangka konstruktivisme dan konsep liar’s dividend untuk menunjukkan ancaman maupun efek lanjutan dari penyalahgunaan deepfake, terkhususnya potensi degradasi identitas nasional Indonesia. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menemukan berbagai kerentanan yang ada dalam proses demokrasi di Indonesia yang dapat diperburuk dengan penyalahgunaan deepfake. Kerentanan ini kemudian dianalisis untuk menunjukkan berbagai potensi ancaman yang dipengaruhi oleh penyalahgunaan deepfake. Dari berbagai potensi ancaman yang telah dipaparkan, penelitian ini mengidentifikasi efek lanjut dari hadirnya deepfake dengan melihat potensi terjadinya fenomena democratic backsliding dan liar’s dividend yang dapat terjadi di Indonesia pada jangka panjang.
the implementation of cooperation between Indonesia and Malaysia in handling money laundering in Indonesia Tiurma Debora Simamora
Journal of International Relations Diponegoro Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v9i2.47050

Abstract

Cooperation of handling money laundering in Indonesia
Foreign Aid Cina Kepada Laos dalam Upaya Memberantas Perdagangan Obat-Obatan Terlarang di Wilayah Golden Triangle Melalui Safe Mekong Joint Operation Periode 2022-2025 Adelita Diaz Sasangka; Vania Faadhilah Khansa; Muhammad Hanif Abidin
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.58457

Abstract

Kejahatan lintas batas seperti perdagangan obat-obatan terlarang muncul sebagai ancaman non-tradisional di kawasan Asia Tenggara, khususnya di wilayah Golden Triangle. Wilayah Golden Triangle yang meliputi Myanmar, Laos, dan Thailand, menjadi pusat produksi opium, heroin, dan metamfetamin terbesar kedua di dunia setelah Afghanistan. Perdagangan obat-obatan terlarang di wilayah Golden Triangle memanfaatkan aliran Sungai Mekong sebagai jalur utamanya. Secara geografis, hilir Sungai Mekong yang terletak di wilayah Cina menghasilkan inisiatif untuk membangun kerja sama dengan Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Kamboja, dalam kegiatan patroli gabungan di Sungai Mekong yang disebut dengan Safe Mekong Joint Operation. Kontribusi Cina dalam Safe Mekong Joint Operation dapat dilihat salah satunya melalui pemberian bantuan atau foreign aid kepada negara-negara yang terlibat di dalamnya. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis motif Cina dalam memberikan foreign aid kepada Laos sebagai salah satu negara anggota dalam pelaksanaan Safe Mekong Joint Operation periode 2022-2025. Analisis motif Cina dalam memberikan foreign aid kepada Laos dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan konsep foreign aid yang dikemukakan oleh Maria Andersson dengan mengkategorikannya dalam jenis economic motive dan strategic motive berdasarkan karakteristik foreign aid dan niat politik Cina yang membersamainya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksplanatif kualitatif dengan mengambil data dari sumber sekunder, seperti buku, artikel jurnal, situs internet, dan dokumen laporan. 
The Role of the World Meteorological Organization (WMO) in Mitigating Natural Disasters in Laos 2024 Through the Climate Risk and Early Warning Systems (CREWS) Program Finna Kharisma Marulitta; Gonda Yumitro
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.51397

Abstract

 Developing countries face significant challenges in managing climate-related disaster risks due to limitations in technical capacity, institutional frameworks, and early warning systems. Laos is one of the countries with high vulnerability to hydrometeorological disasters, particularly floods. The World Meteorological Organization (WMO) is an international organization that plays a crucial role in enhancing the capacity of developing nations to address climate-related disaster risks through technical assistance, early warning systems, and institutional strengthening. One of its flagship programs, the Climate Risk and Early Warning Systems (CREWS), is designed to assist high-risk countries in developing impact-based early warning systems. This study aims to analyze the role of WMO through the CREWS program in disaster mitigation efforts in Laos, using the 2024 major flood as a case study. The research adopts a descriptive qualitative approach and is analyzed through the theoretical framework of the role of international organizations from a liberalist perspective as proposed by Kelly-Kate S. Pease, specifically focusing on the roles of problem solver, capacity builder, and aid provider. The method involves a literature study approach, with data collected from books, journals, internet sources, and other written references as the foundation for the analysis. The findings reveal that prior to the intervention, Laos faced significant limitations in infrastructure, risk data, and inter-agency coordination. Through the CREWS program, WMO contributed to strengthening the technical capacity of the Department of Meteorology and Hydrology (DMH) of Laos, modernizing weather stations, and implementing an impact-based forecasting approach. This study finds that WMO's intervention through CREWS has encouraged improved disaster preparedness and response at both national and community levels, although challenges remain in system integration and funding sustainability. The research underscores the importance of multilateral cooperation and strengthened climate risk governance in enhancing the resilience of developing countries to disasters.
Nestapa di Balik Tambang: Kekerasan Ekologi Transnasional Pada Pertambangan Timah Inkonvensional di Bangka Belitung Muhammad Adzan Amien; Anjani Tri Fatharini
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.58695

Abstract

Indonesia melalui Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu negara penghasil timah terbesar di dunia. Namun, timah yang berasal dari aktivitas pertambangan timah ilegal (tambang inkonvensional) telah mengalir ke rantai pasok raksasa teknologi global, termasuk Apple, Samsung, hingga Tesla, sehingga menjadi isu kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana aktivitas pertambangan timah, baik ilegal maupun legal menjadikan masyarakat lingkar tambang Desa Rebo, Sungailiat, Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbebani secara tidak proporsional oleh bahaya lingkungan, bahkan menjadikan mereka “korban kejahatan hijau” melalui pendekatan Transnational Ecoviolence oleh Stoett & Omrow. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri pertambangan timah telah berkontribusi terhadap perekonomian, tetapi eksistensinya telah memicu kerusakan lingkungan. Meskipun terdapat pembaruan undang-undang, seperti UU No. 4 Tahun 2009, UU No. 3 Tahun 2020, dan Perpres No. 55 Tahun 2022, penambangan ilegal masih berlanjut, memperburuk kerusakan lingkungan. Di Desa Rebo, hal tersebut pada gilirannya berkontribusi terhadap hilangnya pendapatan dan mata pencaharian yang diperoleh dari pekerjaan dan sumber daya lingkungan hingga hilangnya keamanan dari praktik komunitas yang menindas. Dalam pendekatan Transnational Ecoviolence, adanya bentuk-bentuk ketidakadilan lingkungan dan ketidakamanan manusia tersebutlah yang menjadikan masyarakat lingkar tambang Desa Rebo “korban kejahatan hijau”.
Menelaah Peran Rezim Internasional dan Penegakan Hukum AS dalam Mendorong Keadilan Lingkungan bagi Komunitas Pesisir California: Kasus Bilge Dumping Zeaborn I Gede Gohan Adiputra; Muhammad Arief Zuliyan
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.56893

Abstract

Kejahatan lingkungan bilge dumping oleh perusahaan pelayaran menimbulkan dampak serius terhadap ekosistem laut dan komunitas pesisir, namun hal ini seringkali luput dari penegakan hukum yang efektif. Esai ini mengkaji bagaimana rezim internasional dan penegakan hukum Amerika Serikat mampu mengakomodasi prinsip keadilan lingkungan bagi komunitas pesisir dalam kasus bilge dumping oleh Zeaborn Ship Management di Perairan California. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis studi kasus, esai ini membahas keterkaitan antara instrumen hukum internasional, mekanisme hukum domestik AS, serta keterlibatan komunitas lokal dalam menuntut pertanggungjawaban korporasi. Hasil kajian menunjukan bahwa meskipun kerangka hukum internasional seperti MARPOL dan UNCLOS memberikan landasan penting, efektivitasnya sangat bergantung pada penegakan hukum nasional yang tegas dan berbasis kolaboratif. Kasus Zeaborn mencerminkan perlunya sinergi antara otoritas federal, negara bagian, dan masyarakat sipil dalam mendeteksi, menindak, dan mencegah pencemaran laut. Esai ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik dan partisipatif dalam mewujudkan keadilan lingkungan yang substansial serta menawarkan rekomendasi untuk penguatan tata kelola lingkungan laut secara berkelanjutan.
ESKALASI KONFLIK CHINA-TAIWAN DALAM PERSPEKTIF REALISME OFENSIF: DINAMIKA PENAMBAHAN KAPABILITAS MILITER CHINA SEBAGAI RESPONS TERHADAP KERJASAMA TAIWAN-AMERIKA SERIKAT Rahma - Azizah; Mayza Ariella Nurandriyanti
Journal of International Relations Diponegoro Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v9i2.48014

Abstract

Konflik China-Taiwan telah menjadi salah satu isu utama dalam geopolitik Asia Timur sejak lama yang melibatkan kepentingan global. China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taiwan berupaya mempertahankan otonomi dengan dukungan Amerika Serikat. Ketegangan meningkat, ditandai dengan persaingan militer, di mana China memperkuat kemampuan militernya untuk menanggapi pengaruh AS di Taiwan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eskalasi konflik China-Taiwan dalam perspektif Realisme Ofensif, dengan fokus pada dinamika peningkatan kapabilitas militer China. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang merupakan bagian dari pendekatan kualitatif, dengan menganalisis berbagai sumber sekunder seperti jurnal ilmiah, Buku, dan artikel terkait. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kapabilitas militer China mencerminkan prinsip Realisme Ofensif. China menganggap kerjasama strategis antara Taiwan dan Amerika Serikat, sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional dan kedaulatan wilayahnya. Sebagai respons, China memperkuat postur militernya untuk mengimbangi dan mengantisipasi potensi ancaman eksternal. 
Kepentingan Diplomasi Qatar dalam Penyelenggaraan Piala Dunia 2022 Anindya Karimah Aulia; Gonda Yumitro
Journal of International Relations Diponegoro Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v9i2.39278

Abstract

Artikel ini mendiskusikan kepentingan diplomasi Qatar dalam penyelenggaraan Piala Dunia Qatar 2022. Topik ini menarik karena mengaitkan antara olahraga dengan diplomasi karena umumnya diplomasi bersifat formal, sementara Qatar menggunakan media olahraga sebagai media diplomasi. Data ini dikumpulkan dengan melakukan kajian literatur menggunakan google scholar, harzing, published or perished. Analisa data digunakan dengan metode analisis kualitatif. Penulis menemukan bahwa dalam penyelenggaraan Piala Dunia Qatar 2022, Qatar mempunyai kepentingan diplomasi membangun image atau citra Islam, dan kepentingan pariwisata. Dalam kaitannya dengan image atau citra Islam, Qatar menyebarkan ajaran Islam pada orang-orang yang hadir di stadion maupun yang menonton di rumah dan juga agar Islam tidak dipandang sebelah mata lagi oleh sebagian orang non-muslim. Sementara dalam kepentingan diplomasi pariwisata, adanya Piala Dunia Qatar 2022 juga dapat meningkatkan sektor pariwisata Qatar.
Diplomasi kemanusiaan Vanuatu dan kontestasi kedaulatan dalam isu HAM Papua Amalthia Parah Rezky; Miftah Farid Darussalam
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.58067

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis langkah-langkah yang diambil oleh Vanuatu dalam upaya diplomatiknya terkait isu HAM Papua dan menjelaskan respon Indonesia dalam menanggapi upaya Vanuatu. Studi ini mengeksplorasi upaya Vanuatu dalam dalam konteks diplomasi menggunakan instrumen kemanusiaan. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dan studi kasus dengan pendekatan studi literatur. Selain itu, tulisan ini menggunakan teori diplomasi kemanusiaan dalam menganalisis upaya-upaya Vanuatu dalam forum internasional. Penulis mengidentifikasi tiga jenis intervensi yang digunakan oleh Vanuatu yakni pengumpulan informasi faktual, penggunaan perjuangan simbolis, dan koalisi diplomatik. Meskipun tujuan strategi ini adalah membantu Indonesia memenuhi komitmen internasional dalam bidang hak asasi manusia, hasilnya menunjukkan bahwa respons Indonesia terhadap upaya tersebut merupakan bentuk ancaman eksternal terhadap integritas Indonesia. Dalam konteks ini, advokasi internasional yang bertujuan memastikan nilai-nilai kemanusaan diimpelemntasikan justru menciptakan tantangan baru bagi masyarakat Papua. Penulis menyoroti bahwa isu hak asasi manusia bersinggungan dengan isu kedaulatan negara dan menunjukkan keterbatasan intervensi internasional dalam mengintervensi isu kemanusiaan yang bersifat domestik.