cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Kajian Semiotik Roland Barthes pada Puisi Sawer Pengantin Sunda sebagai Usulan Bahan Ajar Puisi Rakyat di Kelas VII SMP Wachyudin Wachyudin; Dwi Purwati; Anwar Faris; Yasifa Erida Dzulhijah; Diva Raehandika; Miftahul Malik
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7825

Abstract

The research was carried out to find out the meaning contained in the bride's sawer poem which will later be used as a proposal for teaching materials for class VII junior high school folk poetry. The bride's sawer poems studied are sawer poems with the rules of pupuh kinanti and asmarandana, which will be analyzed using the Roland Barthes semiotics approach. Denotative meaning and connotative meaning are important points in this study because the results of the meaning analysis will be used as a proposal for teaching materials for folk poetry in grade VII of junior high school, which is then made a folk poetry learning module. The research method used is a qualitative descriptive method that aims to understand the written and oral language of the community and observable behavior. The results of the analysis show that the connotative meaning of the Sundanese bride sawer poem is a request to God so that the expectations of the bride and groom are always fulfilled and get the best in their married life. The text of the Sundanese bride sawer poem has five meanings denotatively: piety to God, hope, responsibility, affection, and ethics. The denotative and connotative meanings that have been analyzed can be used as a reference for the proposed teaching materials for folk poetry in grade VII of junior high school. Because in phase D of the independent curriculum, students are expected to be able to read and watch the content of folk poetry. AbstrakPenelitian dilakukan guna mengetahui makna yang terdapat pada puisi sawer pengantin yang nantinya akan dijadikan sebagai usulan bahan ajar puisi rakyat kelas VII SMP. Puisi sawer pengantin yang dikaji adalah puisi sawer dengan aturan pupuh kinanti dan asmarandana, yang akan dianalisis menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Makna denotatif dan makna konotatif menjadi poin penting dalam penelitian ini karena hasil analisis makna tersebut akan bisa digunakan sebagai usulan bahan ajar puisi rakyat di kelas VII SMP, yang selanjutnya dibuatkan modul pembelajaran puisi rakyat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memahami bahasa tulis dan lisan  masyarakat serta perilaku yang dapat diamati. Hasil analisis menunjukkan bahwa makna konotatif dari puisi sawer pengantin Sunda adalah permohonan kepada Tuhan agar harapan kedua mempelai senantiasa terpenuhi dan mendapatkan yang terbaik dalam hidup rumah tangga mereka. Teks puisi sawer pengantin Sunda memiliki lima makna secara denotatif: ketakwaan kepada Tuhan, harapan, tanggung jawab, kasih sayang, dan budi pekerti. Makna denotatif dan konotatif yang telah dianalisis bisa dijadikan sebagai acuan dari usulan bahan ajar puisi rakyat di kelas VII sekolah menengah pertama. Karena pada fase D kurikulum merdeka peserta didik diharapkan mampu untuk membaca dan memirsa isi dari puisi rakyat.
BATARI HIYANG JANAPATI DALAM PERSPEKTIF GENDER Elis Suryani NS
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.177

Abstract

The life of Indonesian society is dominant with patriarchal culture that puts women always under the shadow of men. In, the perception of social structure of society, women are always underestimated. In Indonesia, many women are also oppressed and abused. Women in a patriarchal culture are always considered helpless and should always be dependent on men, in the Sundanese language proverb, there is an "awewe mah dulang tinande" proverb which means that women are in the second class after men. In everyday life, women are positioned in the domestic sphere, whose activities and work are limited only around wells, kitchens and mattresses. Women's duties only serve the husband, are at home and take care of the child. But now, along with the progress and development of the era, the role and position of women began to change toward equality and equality. The dominance of patriarchal culture in Indonesia, in contrast to some ancient Sundanese script and inscription records, it turns out there are ancient Sundanese women already have the spirit of equality and equality with men. The figure of this woman is a brave, clever, ingenious figure, intellectual, a brave warlord, agile and nimble, as well as a batari 'religious teacher' in his day, as revealed in the Inscription Geger Hanjuang and Galunggung Mandate Text is named Batari Hyang Janapati . This paper aims to reveal the gender issues revealed through Sundanese texts and inscriptions, judging by the role, position, and motives behind them, through the gender approaches in social, literary, and cultural contexts in texts and inscriptions.AbstrakKehidupan masyarakat Indonesia dominan dengan budaya patriarki yang menempatkan perempuan selalu berada di bawah bayang-bayang laki-laki. Dalam, persepsi struktur sosial masyarakat, perempuan selalu dipandang sebelah mata. Di Indonesia juga ditengarai banyak perempuan yang tertindas dan dilecehkan. Perempuan dalam budaya patriarki selalu dianggap tidak berdaya dan harus selalu bergantung kepada laki-laki, dalam pribahasa bahasa Sunda, ada pribahasa “awewe mah dulang tinande” yang berarti mengharuskan perempuan ada dalam kelas kedua setelah laki-laki. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan diposisikan ada dalam ranah domestik, yang aktivitas dan perkerjaanya dibatasi hanya seputar sumur, dapur dan kasur. Tugas perempuan hanya melayani suami, berada di rumah dan mengurus anak. Namun saat ini, seiring dengan kemajuan dan perkembangan jaman, peran dan kedudukan perempuan mulai berubah menuju kesejajaran dan kesetaraan. Dominannya budaya patriarki di Indonesia, bertolak belakang dengan beberapa catatan naskah dan prasasti Sunda kuno, ternyata ada perempuan Sunda zaman dahulu sudah memiliki semangat kesejajaran dan kesetaraan dengan laki-laki. Sosok perempuan ini merupakan sosok yang gagah berani, pandai, cerdik, cendekia, seorang panglima perang yang gagah berani, tangkas dan cekatan, sekaligus seorang batari ‘guru agama’ pada zamannya, sebagaimana terungkap dalam Prasasti Geger Hanjuang dan Naskah Amanat Galunggung bernama Batari Hyang Janapati. Tulisan ini bertujuan mengungkap masalah gender yang terkuak lewat naskah dan prasasti Sunda, dilihat dari peran, kedudukan, dan motif yang melatarbelakanginya, melalui pendekatan gender dalam sosial, sastra, dan budaya yang ada dalam naskah dan prasasti.
Analisis Minat Mahasiswa dalam Berliterasi Sastra melalui Kegiatan Membaca dan Menyimak di Era VUCA Rina Heryani; Haerul Haerul
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6270

Abstract

The era of disruption, which is full of uncertain phenomena, has affected the way people think and act today, including in the context of education. This era was later referred to as the era of volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA). This study aims to analyze the comparative interest of students in literary literacy through reading and listening activities in the VUCA era. The method used in this research is descriptive qualitative method. Research data was collected through the Google Questionnaire instrument which contained statements related to comparisons between students' literary literacy activities through reading and listening activities. The data obtained is then analyzed and interpreted then described. The results of this study indicate that the number of students who are very interested in literature teaching materials in book form, namely 11 people (13.4%), while the number of students who are very interested in literature teaching materials in video form, namely 36 people (43.9%) ). The number of students who were very able to focus on reading literature learning books, namely 20 people (24.4%), while the number of students who were very able to focus on listening to literature learning videos, namely 33 people (40.2%). The number of students who collected information about literature by reading books was 13 people (15.9%), while the number of students who researched information about literature by watching videos was 30 people (36.6%). The number of students who read literature learning books very regularly, namely 7 people (8.5%), while the number of students who very regularly watched literature learning videos, namely 17 people (20.7%). The number of students who strongly agreed to prepare for learning literature by reading books, namely 8 people (9.8%), while the number of students who strongly agreed to prepare for learning literature by watching videos, namely 16 people (19.5%). Therefore, it is necessary to carry out a learning transformation and efforts to increase literary literacy through digitizing learning media. Efforts to improve the quality of literary literacy in the VUCA era cannot only be focused on reading activities, but also utilizing listening activities. AbstrakEra disrupsi yang penuh dengan fenomena ketidakpastian telah mempengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat saat ini, termasuk dalam konteks pendidikan. Era tersebut kemudian disebut sebagai era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan minat mahasiswa dalam berliterasi sastra melalui kegiatan membaca dan menyimak di era VUCA. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Data penelitian dikumpulkan melalui instrumen google quesioner yang berisi pernyataan-pernyataan terkait perbandingan antara kegiatan berliterasi sastra mahasiswa melalui kegiatan membaca dan menyimak. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diinterpretasi kemudian dideskripsikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yang sangat tertarik dengan bahan ajar sastra dalam bentuk buku, yaitu 11 orang (13,4%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat tertarik dengan bahan ajar sastra dalam bentuk video, yaitu 36 orang (43,9%). Jumlah mahasiswa yang sangat mampu memusatkan perhatian dalam membaca buku pembelajaran sastra, yaitu 20 orang (24,4%), sedangkan  jumlah mahasiswa yang sangat mampu memusatkan perhatian dalam menyimak video pembelajaran sastra , yaitu 33 orang (40,2%). Jumlah mahasiswa yang menggali informasi tentang sastra dengan membaca buku, yaitu 13 orang (15,9%), sedangkan jumlah mahasiswa yang menggali informasi tentang sastra dengan menyimak video, yaitu 30 orang (36,6%). Jumlah mahasiswa yang sangat rutin membaca buku pembelajaran sastra, yaitu 7 orang (8,5%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat rutin menyima video pembelajaran sastra, yaitu 17 orang (20,7%). Jumlah mahasiswa yang sangat setuju melakukan persiapan pembelajaran sastra dengan membaca buku, yaitu 8 orang (9,8%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat setuju melakukan persiapan pembelajaran sastra dengan menyimak video, yaitu 16 orang (19,5%). Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah transformasi pembelajaran dan upaya peningkatan literasi sastra melalui digitalisasi media pembelajaran. Upaya peningkatan kualitas literasi sastra di era VUCA, tidak bisa hanya difokuskan melalui kegiatan membaca, tetapi juga memanfaatkan kegiatan menyimak.
Disfemisme sebagai Representasi Konflik Sosial dalam Film Kontemporer Pengepungan di Bukit Duri Laila Nurmayanti; Hasan Suaedi; Astri Widyaruli Anggraeni
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8422

Abstract

This study aims to describe the forms of dysphemism found in the film “Pengepungan di Bukit Duri” and to explain their meanings and functions within the context of character interaction. This research employs a qualitative method through observation and documentation, in which the film was watched repeatedly to identify utterances containing dysphemism. Data were analyzed using the dysphemism classification proposed by Allan & Burridge. The findings indicate that five categories of dysphemism appear in the film, namely direct swearing, zoonym dysphemism, excretory dysphemism, appearance dysphemism, and disability dysphemism. The use of dysphemism does not merely serve as an expression of anger or insult, but also plays a role in shaping character identity, strengthening conflict atmosphere, and reflecting the social conditions portrayed in the narrative. Therefore, dysphemism in this film has a significant pragmatic function as a means of representing the social reality experienced by the characters. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk disfemisme yang muncul dalam film Pengepungan di Bukit Duri serta menjelaskan makna dan fungsi penggunaannya dalam konteks interaksi tokoh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik observasi dan dokumentasi, yaitu dengan menonton film secara berulang untuk mengidentifikasi tuturan yang mengandung disfemisme. Analisis data dilakukan berdasarkan klasifikasi disfemisme menurut Allan & Burridge. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam film ini ditemukan lima kategori disfemisme, yaitu direct swearing, zoonym dysphemism, excretory dysphemism, appearance dysphemism, dan disability dysphemism. penggunaan disfemisme tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ekspresi kemarahan atau penghinaan, tetapi juga berperan dalam membangun karakter tokoh, mempekuat suasana konflik, serta mencerminkan kondisi sosial yang penuh ketegangan dan diskriminasi. Dengan demikian, disfemisme dalam film ini memiliki fungsi pragmatis yang signifikan sebagai sarana representasi realitas sosial tokoh dalam cerita.
HIBRIDITAS POSTKOLONIALISME HOMI K. BHABHA Dalam Novel Midnight’s And Children Salman Rushdie Syihabul Furqon; NFN Busro
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.494

Abstract

Postcolonialism is a branch of the cultural studies that focuses on socio-cultural analysis, including signs and languages. Colonialism had clear implications in the actions of postcolonial society. Homi K. Bhabha found identification that in postcolonialism there emerged what he called as hybridity. Hybridity is a cross-culture (both intrinsic and extrinsic) that appears in society in many forms, one of which is language and attitude. This research will review Salman Rushdie's Midnight’s Children novel to reveal which aspects are hybridities. As a methodological tool, the authors use descriptive analysis (intrinsic-extrinsic). In this study, the authors found a large number of hybridity identifications in the novel Midnight’s Children. Especially in the aspects of identity (especially the formation of the subject), language, and inner struggle of characters in the novel. AbstrakPoskolonialisme merupakan cabang kajian studi budaya yang berfokus pada analisis sosiokultural, termasuk tanda-tanda dan bahasa. Kolonialisme memunculkan implikasi yang terbaca jelas dalam tindakan masyarakat poskolonial. Homi K. Bhabha menemukan identifikasi bahwa dalam poskolonialisme muncul apa yang disebutnya sebagai hibriditas. Hibriditas adalah silang budaya, baik intrinsik maupun ekstrinsik, yang muncul di masyarakat dalam banyak bentuk, seperti bahasa dan sikap. Dalam penelitian ini akan ditinjau novel Midnight’s Children karya Salman Rushdie untuk mengungkapkan aspek mana saja yang merupakan hibriditas. Sebagai alat metodologi, penulis menggunakan analisis deskriptif (intrinsik-ekstrinsik). Dalam penelitian ini penulis menemukan sejumlah identifikasi hibriditas dalam novel Midnight’s Children, terutama dalam aspek identitas (pembentukan subjek), bahasa, serta pergulatan batin tokoh..
PERISTIWA SEKITAR KRISIS NASIONAL 1965 SEBAGAI LATAR SOSIAL-POLITIK DALAM KARYA SASTRA INDONESIA 1966-1974: Kajian Awal Atas Cerpen-Cerpen dalam Majalah Sastra dan Majalah Horison Didik Pradjoko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i1.11

Abstract

Hubungan antara karya sastra dengan peristiwa sosial dan politik yang terjadi pada suatu masa merupakan suatu keniscayaan. Pengarang novel atau cerpen adalah manusia yang hidup pada zamannya, mengalami ‘jiwa zaman’ (zeitgeist) yang langsung atau tidak langsung memengaruhinya sehingga pada suatu masa terdapat penulis sastra yang mengambil peristiwa sejarah, sosial, politik atau budaya sebagai bahan karyanya dan menerjemahkan peristiwa tersebut ke dalam bahasa imajiner. Pengarang dapat menciptakan kembali sebuah peristiwa sejarah, sosial dan politik menurut pengetahuan dan daya imajinasi pengarang. Sehingga penting untuk melihat hubungan antara karya sastra dan sejarah atau peristiwa sosial-politik di masa lalu. Hal ini berarti bahwa karya sastra bukan ‘an sich’ mengungkapkan dirinya, namun juga merupakan hasil dari zamannya. Artikel ini menyoroti dan menganalisis cerpen-cerpen yang ditulis dengan mengambil setting sosial-politik pada masa krisis nasional tahun 1965-1966. Peristiwa sosial politik ini ditandai dengan dominasi Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam kehidupan sosial, politik dan kebudayaan antara tahun 1960-1965, dan puncaknya adalah pengganyangan pimpinan dan anggota PKI pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau lebih tepatnya Gerakan 1 Oktober 1965. Cerpen-cerpen yang dibahas dalam artikel ini diterbitkan oleh majalah Sastra dan majalah Horison yang terbit antara tahun 1968-1970.kata kunci: sastra, sejarah, sosial-politik, cerpen, dan Peristiwa Krisis Nasional 1965
WISRAN HADI, REPRESENTASI PADRI, & SUARA-SUARA MODERASI: TELAAH ATAS EMPAT NASKAH SANDIWARA Dedi Arsa
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.2613

Abstract

Artikel ini menelaah empat lakon sandiwara yang terkumpul dalam Empat Lakon Perang Paderi karya Wisran Hadi. Empat lakon ini berbicara tentang suatu periode penting (lagi krisis) dalam sejarah Islam di Minangkabau. Menggunakan pendekatan neo-historisisme, artikel ini melihat gagasan moderasi Islam yang diusung pengarangnya dalam citra-citra tentang tokoh-tokoh Padri yang ditampilkan pada keempat lakon. Menjawabnya sekaligus akan memperlihatkan wacana keislaman yang diketengahkan Wisran Hadi di dalamnya. Dari hasil pengkajian ditemukan bahwa keempat lakon ini merupakan representasi Wisran atas keempat tokoh Padri (tokoh-tokoh utama Padri: Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol, & Tuanku Sembahyang). Representasi Wisran atas mereka tampak punya garis yang sewarna: representasi Padri yang korektif dan evaluatif atas keradikalan gerakan yang dicetuskan dari dan oleh kalangan mereka sendiri. Di tengah bangkitnya radikalisme agama dan kekerasan atas nama Tuhan, Wisran tetap memenangkan akal-sehat, kewajaran, dan kepatutan sebagai puncak dari praktik menuju kebenaran. Yang dimenangkannya, dalam konteks ini, adalah suara-suara tokoh-tokohnya yang moderat yang menawarkan jalan-jalan akomodatif untuk mengubah masyarakat, sementara suara-suara yang menginginkan perubahan cepat dengan gerakan kekerasan sebagai pilihan dibuatnya acap tidak berdaya di hadapan suara-suara yang pertama. Tokoh-tokoh radikal mengakui kekeliruan dari kekerasan tindakan mereka dan ‘menyerah’ bersalah di hadapan suara-suara yang lebih moderat. Representasi itu terhubung dengan latar sosial dan politik (semangat zaman) ketika keempat lakon itu ditulis dan terhubung pula dengan latar belakang pengarangnya secara biografis.
Model Growth Mindset dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Cerita Anak Sitti Rachmi Masie; Sayama Malabar; Herman Didipu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4801

Abstract

The purpose of this study was to describe the growth mindset model in improving children's story writing. Writing children's stories is part of the learning process to develop literary skills with mastery of language. This type of research is development research, qualitative descriptive method. The method of data collection was carried out by interviewing, documenting, and compiling products to be tested on students and teachers. The research subject is at one school, namely SDIT in Gorontalo City. The results show that writing stories using the growth mindset model can increase students' writing of children's stories. The interest of students in writing is because the guide model includes various types of exercises in creating ideas through positive stories, writing creatively and revealing the wisdom of stories, so that they can retell the contents of the story. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan model growth mindset dalam meningkatkan menulis cerita anak. Menulis cerita anak adalah bagian dari proses pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bersastra dengan penguasaan bahasa. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan, metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, dan penyusunan produk untuk diujicobakan pada peserta didik dan guru.  Subjek penelitian pada satu sekolah yaitu SDIT di Kota Gorontalo.  Hasilnya menunjukkan bahwa  menulis cerita dengan menggunakan model growth mindset dapat meningkatkan peserta didik menulis cerita anak. Ketertarikan peserta didik dalam menulis dikarenakan model panduannya mencantumkan beragam jenis latihan dalam menciptakan ide melalui kisah positif, menulis kreatif dan mengungkapkan  hikmah cerita, sehingga dapat  menceritakan kembali  isi cerita.
SIAPA PEMBUNUHNJA: ROMAN DETEKTIF KARYA JOESOEF SOU’YB Atisah Atisah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i2.446

Abstract

This writing was intended to analyze Siapa Pembunuhnya by Joesoef Sou’yb. The analysis was focused on the murder characters that also became the problem of the story. The approach used was detective story theory in Apsanti’s books, while the method used was analysis-descriptive method. In 1930s, Joesoef Sou’yb was very famous as a detective stories author. The story Siapa Pemboenoehnja was one of his works in which in it were murder problems filled with riddles. Complicatedand full of surpriseplot accompanied by supporting background description made readers curious wanting to know the end of the story. It showed the skill of the author in creating a story
Identitas Kuliner Nusantara dalam Kumpulan Puisi Aku Lihat Bali Karya Mas Triadnyani Dian Hartati; Ahmad Abdul Karim
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6002

Abstract

Culinary-themed poetry phenomenon shows that poets begin to construct and utilize culinary issues in the creative process. Responding to this phenomenon, it is important to interpret the elements of literary gastronomy in culinary-themed poetic texts. This research aims to describe the culinary identity of the deep archipelago poetry collection I See Bali by Mas Triadnyani. Poetry studies utilize a qualitative approach and study design gastrocritic. The approach and design of the study are used as an effort to unravel the culinary identity of the archipelago in poetry texts. Data collection techniques apply reading techniques, note-taking techniques, and literature study techniques to books, journals, articles, and readings that are relevant to the focus of the study. The data that has been collected is processed through several stages, including data selection, data meaning, and conclusions in the form of interpretation of the selected data. The results of the analysis show that the lyrics in the poetry text symbolically show behavior in the form of (1) the feeling of pleasure when eating crackers and spice-scented dishes, (2) measurements are used to create dishes according to recipes, (3) the unique sound created when eating crackers is a contemporary musical performance; (4) ketupat and kerupuk have different names in each region, (5) the diamond is closely related to the history of the spread of Islam by Sunan Kalijaga, (6) ketupat become one of the culinary archipelagoes that is closely related to tradition Idulfitri, and (7) crackers has existed since the Mataram kingdom, Dutch East Indies colonialism, to the contemporary era. AbstrakFenomena puisi bertema kuliner menunjukkan para penyair mulai mengonstruksi dan memanfaatkan isu kuliner dalam proses kreatif. Merespons fenomena tersebut, penting dilakukan penafsiran anasir gastronomi sastra dalam teks-teks puisi bertema kuliner. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan identitas kuliner nusantara dalam kumpulan puisi Aku Lihat Bali karya Mas Triadnyani. Kajian puisi memanfaatkan pendekatan kualitatif dan desain kajian gastrokritik. Pendekatan dan desain kajian dimanfaatkan sebagai upaya membongkar identitas kuliner nusantara dalam teks puisi. Teknik pengumpulan data menerapkan teknik membaca, teknik mencatat, serta teknik studi literatur terhadap buku, jurnal, artikel, dan berbagai bacaan yang relevan dengan fokus kajian. Semua data yang telah dihimpun diolah melalui beberapa tahapan, meliputi pemilihan data, pemaknaan data, serta simpulan berupa tafsir terhadap data terpilih. Hasil analisis menunjukkan aku lirik dalam teks puisi secara simbolis menunjukkan perilaku berupa (1) perasaan senang saat menyantap kerupuk dan masakan beraroma rempah, (2) takaran digunakan untuk menciptakan masakan sesuai dengan resep, (3) suara unik yang tercipta saat menyantap kerupuk merupakan sebuah pertunjukkan musik kontemporer, (4) ketupat dan kerupuk mempunyai penamaan yang berbeda-beda di setiap daerah, (5) ketupat berhubungan erat dengan sejarah penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, (6) ketupat menjadi salah satu kuliner nusantara yang bertalian erat dengan tradisi Idulfitri, dan (7) kerupuk memiliki eksistensi mulai dari masa kerajaan Mataram, kolonialisme Hindia Belanda, hingga era kontemporer.

Page 8 of 27 | Total Record : 266