cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Cerita Rakyat Bugis dan Gagasan Toleransi: Kajian Nilai Berbasis Filsafat Kebebasan Lutbi Adam; Usman Usman
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8345

Abstract

This study aims to identify the values of tolerance in Bugis folklore based on John Stuart Mill's theory of freedom. Using a qualitative descriptive approach, data were taken from excerpts of dialogue and narrative in folklore contained in the book Sastra Sana Bugis. The data collection technique was carried out through documentation studies with reading and note-taking techniques for excerpts containing values of tolerance. The data analysis technique used a content analysis model which included data reduction, categorization, interpretation based on Mill's theory, and drawing conclusions. The results of the analysis showed that the main category of tolerance values was freedom of thought and speech, such as respecting opinions, not imposing one's will, and opening up space for discussion. These values are reflected explicitly and implicitly in the narrative of the story, and are in line with the principles of harm and individuality according to Mill. These findings indicate that Bugis folklore can be a means of character learning based on local wisdom that is relevant for strengthening tolerance in the context of multicultural education. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai toleransi dalam cerita rakyat Bugis berdasarkan teori kebebasan John Stuart Mill. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data diambil dari kutipan dialog dan narasi dalam cerita rakyat yang termuat dalam buku Sastra Lisan Bugis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan teknik baca dan catat terhadap kutipan yang mengandung nilai-nilai toleransi. Teknik analisis data menggunakan model analisis isi (content analysis) yang meliputi reduksi data, kategorisasi, interpretasi berdasarkan teori Mill, dan penarikan simpulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kategori utama nilai toleransi adalah kebebasan berpikir dan berbicara, seperti menghargai pendapat, tidak memaksakan kehendak, dan membuka ruang diskusi. Nilai-nilai ini tercermin secara eksplisit dan implisit dalam narasi cerita, dan selaras dengan prinsip harm dan individualitas menurut Mill. Temuan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat Bugis dapat menjadi sarana pembelajaran karakter berbasis kearifan lokal yang relevan untuk penguatan toleransi dalam konteks pendidikan multikultural.
KAUM KOMUNIS DAN ISLAM REFORMIS DALAM ROMAN-ROMAN ABDOELXARIM M.S. Dedi Arsa
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.1334

Abstract

In this article, the image of communists and the ideas of reformist Islam is discussed in the two novels of Abdoelxarim, namely Pandoe Anak Boeangan and Hadji Dadjal. Using a neohistorical approach, the author sees the image and views carried by the two novels related to communism and Islamic reformism in the context of its presence amid Indonesian social reality before the Pacific War. The result is the first novel represents an ambivalent image of the communist, i.e. they wants class equality but at the same time maintain ethnic discrimination and also fight for great socialism, but also explain the suffering of personal love life. Meanwhile, the second novel echoes the ideas of Islamic reformists in terms of ijtihad and the use of rational reasoning in religion which is opposing pilgrimage to the graves of saints and sacred scholars such as rejecting the sayyid, habib, and sheikh cults - the Arab cult as the most authoritative translating Islamic teachings. They also revile the practices of haul and festivity for death. The two novels relate to the historical reality of Indonesia before the Pacific War at a time when Islamic reform/ reform was rising in tandem with the emergence of communists in the movement arena. In addition, the novel also relate to Xarim himself who was one of Sumatra's main communist activists and familiar with the absorption of reformist ideas. Abstrak: Dalam artikel ini dibahas citra kaum komunis dan gagasan Islam reformis dalam  dua roman Abdoelxarim, yaitu Pandoe Anak Boeangan dan Hadji Dadjal. Dengan menggunakan pendekatan neohistorisisme, melalui artikel ini penulis melihat citra dan pandangan yang diusung kedua roman itu terkait dengan komunisme dan reformisme Islam dalam konteks kehadirannya di tengah realitas sosial Indonesia sebelum Perang Pasifik. Hasilnya adalah roman pertama merepresentasikan citra komunis yang ambivalen; menginginkan kesetaraan kelas, tetapi pada saat yang bersamaan memelihara diskrimatif etnis; serta memperjuangkan sosialisme yang agung, tetapi juga memaparkan derita percintaan personal. Sementara itu, roman kedua menggemakan ide-ide kaum reformis Islam bersoal ijtihad dan penggunaan akal yang rasional dalam beragama; menentang ziarah ke makam wali dan ulama keramat; menolak kultus sayyid, habib, dan syekh—kultus Arab sebagai yang paling otoritatif menerjemahkan ajaran-ajaran Islam; dan mencerca praktik haul dan kenduri untuk kematian. Kedua roman tersebut berkait dengan realitas historis Indonesia sebelum Perang Pasifik pada saat pembaruan/reformasi Islam sedang menanjak naik beriringan dengan kemunculan kaum komunis di gelanggang pergerakan. Selain itu, roman tersebut berkait juga dengan Xarim sendiri yang merupakan salah seorang aktivis komunis Sumatra yang utama, tetapi juga akrab dengan penyerapan ide-ide kaum reformis.
The Concept of Jack Zipes’ Thoughts On Folktales Widjati Hartiningtyas; Nur Wulan; Ida Nurul Chasanah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6385

Abstract

Folktales are a form of folklore that reflects the values and social order that prevail in a community group in a certain period. To maintain the existence of folktales and transmit their cultural values, folktales have been adapted as children’s books. However, folktales undergo a lot of changes during the adaptation. The authors deliberately make the changes to eliminate the bad values in the folktales and make them educational reading for children. This article aims to analyze the adaptation process of Hikayat Maharaja Bikramasakti into a picture book entitled Ratna Komala and the Magic Rumbia Seed. Through close reading techniques, the researcher wrote the changes made to Hikayat Maharaja Bikramasakti when adapted into a picture book. Then, the researcher analyzed the data using Jack Zipes' thoughts. The research results show that the moral values prevailing in society and the government's ideology influence the adaptation of folklore. AbstrakCerita rakyat merupakan salah satu bentuk folklor yang mencerminkan nilai dan tatanan sosial yang berlaku dalam sebuah kelompok masyarakat dalam periode tertentu. Untuk menjaga eksistensi cerita rakyat serta mewariskan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya pada generasi mendatang, cerita rakyat diadaptasi menjadi bacaan bagi anak. Namun dalam proses adaptasi tersebut, cerita rakyat banyak mengalami perubahan. Perubahan itu dilakukan oleh penulis cerita adaptasi untuk menghilangkan nilai-nilai buruk cerita rakyat dan menjadikan cerita rakyat bacaan yang mendidik bagi anak. Artikel ini bertujuan menganalisis proses adaptasi Hikayat Maharaja Bikramasakti menjadi buku cerita bergambar yang berjudul Ratna Komala dan Biji Rumbia Ajaib. Melalui teknik pembacaan dekat, peneliti mencatat perubahan-perubahan yang terjadi pada cerita rakyat ketika diadaptasi menjadi buku cerita bergambar. Kemudian, peneliti menganalisis data tersebut menggunakan pemikiran Jack Zipes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai moral yang berlaku di masyarakat dan ideologi penguasa memengaruhi proses adaptasi cerita rakyat.
Subaltern Women, Colonialism, and Feminism in Remy Sylado’s Novel "Kembang Jepun" Intan Sholeha; Suroso Suroso
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8563

Abstract

This study is motivated by the plight of subaltern women who have never been given the opportunity to speak out and lack a space to voice their experiences within an oppressive colonial structure. This study aims to analyze the struggles of subaltern women in Remy Sylado’s novel Kembang Jepun through James Scott’s (1990) concept of the “hidden transcript,” based on a postcolonial feminist approach. The concept of the hidden transcript was chosen because it can reveal the forms of subaltern women’s struggles that are not always carried out openly. The method used in this study is qualitative descriptive, with the novel Kembang Jepun by Remy Sylado as the data source. Data collection techniques involved careful and repeated reading, marking sentences that indicate subaltern women’s struggles, and recording data on subaltern women’s struggles into data cards. Data analysis in this study was conducted through data collection, data condensation, data presentation, and drawing conclusions. The findings of this study include women’s struggles through (1) elementary forms of disguise (3 data points), (2) breaking the silence (7 data points), and (3) breaking the charm (6 data points), totaling 16 data points. This study enriches feminist scholarship through Spivak’s concept of the subaltern, which can be interpreted through the hidden transcript perspective to understand the struggles of subaltern women within the context of colonial literature. Abstrak Penelitian dilatarbelakangi oleh permasalahan perempuan subaltern yang tidak pernah diberi kesempatan untuk bersuara dan tidak memiliki ruang untuk menyuarakan pengalamannya dalam struktur kolonial yang menindas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perjuangan subaltern perempuan dalam novel Kembang Jepun karya Remy Sylado melalui konsep hidden transcript James Scott (1990) berdasarkan pendekatan feminisme poskolonial. Konsep hidden transcript dipilih karena mampu mengungkap bentuk-bentuk perjuangan perempuan subaltern yang tidak selalu dilakukan secara terbuka. Metode dalam penelitian ini yakni deskriptif kualitatif dengan sumber data novel Kembang Jepun karya Remy Sylado. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca dengan teliti serta membaca secara berulang, memberi penanda pada kalimat yang menunjukkan perjuangan perempuan subaltern, mencatat data perjuangan perempuan subaltern ke dalam kartu data. Dalam penelitian ini dilakukan analisis data melalui pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian ini meliputi perjuangan perempuan melalui (1) elementary forms of disguise, terdapat 3 data, (2) breaking the silence, terdapat 7 data, dan (3) breaking the charm, terdapat 6 data, dengan total 16 data. Penelitian ini memperkaya kajian feminisme melalui konsep subaltern Spivak yang dapat dibaca melalui perspektif hidden transcript untuk memahami perjuangan perempuan subaltern dalam konteks sastra kolonial.
HUBUNGAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN DALAM CERPEN SUNDA KAWUNG RATU KARYA WAHYU WIBISANA KAJIAN EKOKRITIK Taufik Rahayu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2834

Abstract

Humans and the natural environment should have a mutually beneficial and mutually beneficial symbiotic relationship. Humans need the natural environment to survive, as well as the natural environment requires humans to maintain their habitat. But in fact, humans actually take advantage of the natural environment and over-exploit it with greed, causing environmental damage. Humans tend to think of themselves as anthropocentric, which then backfires on themselves, because nature is corrupted and humans become miserable. In a Sundanese short story entitled "“Kawung Ratu”" by Wahyu Wibasana, it is described how the human relationship with nature is so close and friendly. Nature and the environment are represented by kawung / aren / enau trees. There is a symbiotic relationship between mutualism that occurs in the main character (human) and the kawung tree (plant) which can then be interpreted as one of the ways the Sundanese are so close to nature. In the short story, the presence of nature and the environment is not to be overexploited but to be used as partners and friends in life. The research method used is a qualitative descriptive method, with a focus on ecocritical ethical studies. The results of his research clearly illustrate how the attitude of the main character Aki Sukarma towards the kawung tree which is named “Kawung Ratu” (nature), such as how responsibility, affection, care and caution are so as not to disturb their natural life. Through the short story “Kawung Ratu”, the Sundanese people can be said to be very close to nature and treat nature as well as they treat themselves. AbstrakManusia dan lingkungan alam seharusnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Manusia membutuhkan lingkungan alam untuk bertahan hidup. Begitu juga lingkungan alam membutuhkan manusia untuk memelihara habitat hidupnya. Namun, pada kenyataanya manusia justru memanfaatkan lingkungan alam dan mengekspolitasinya secara berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Manusia cenderung menganggap dirinya antroposentris yang kemudian menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, karena alam rusak hidup manusia menjadi sengsara. Dalam cerpen berbahasa Sunda yang berjudul “Kawung Ratu” karya Wahyu Wibasana, digambarkan bagaimana hubungan manusia dengan alamnya yang begitu dekat dan bersahabat. Alam dan lingkungan diwakili oleh pohon kawung/aren/enau. Ada hubungan simbiosis mutualisme terjadi dalam tokoh utama (manusia) dengan pohon kawung (tumbuhan) yang kemudian dapat dimaknai sebagai salah satu cara orang Sunda bersahabat dengan alam. Dalam cerpen tersebut, kehadiran alam dan lingkungan bukan untuk diekspolitasi secara berlebihan tetapi dijadikan sebagai mitra dan sahabat dalam menempuh hidup. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan fokus kajian etis ekokritik. Hasil penelitiannya tergambar jelas bagaimana sikap dari tokoh utama Aki Sukarma terhadap pohon kawung yang diberi nama “Kawung Ratu”, seperti bagaimana tanggung jawab, kasih sayang, kepedulian dan kehati-hatiaannya agar tidak mengganggu kehidupan alamnya. Melalui cerpen ““Kawung Ratu””, masyarakat Sunda dapat dikatakan begitu dekat dengan alam dan memperlakukan alam sebaik ia memperlakukan dirinya sendiri.
Sastra dan Penjajahan: Membaca Karya Pengarang Tersohor Indonesia dan Malaysia Rahimah A. Hamid
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.365

Abstract

Makalah ini membincangkan hubungan antara sastra dengan penjajahan. Hal ini demikian karena karya sastra telah digunakan oleh pihak penjajah sebagai wahana untuk mewajarkan perlakuan penjajahan mereka ke atas peribumi dan negara jajahannya. Sebagai wacana balas, genre karya sastra bawaan penjajah Barat seperti novel, drama, cerpen dan sajak telah dijadikan alat juga oleh pengarang peribumi untuk menentang penjajahnya. Dengan melihat kepada penjajahan oleh Belanda di Indonesia dan Inggris di Malaysia, maka dua buah cerpen bertemakan politik karya Mochtar Lubis (Indonesia) berjudul “Kuli Kontrak” dan karya Keris Mas (Malaysia) berjudul Penjual Ubat Merdeka” telah dipilih untuk dijadikan materi kajian ini bagi melihat pertembungan dan pergeseran konsep dan idealisme antara peribumi tanah jajahan dengan penjajahnya. Untuk meneliti hal ini, teori kesusastraan pascakolonial digunakan sebagai teras kajian. Pada akhirnya ditemukan bagaimana karya sastra berfungsi sebagai medium yang meruntuhkan imperialisme dan kolonialisme Barat di kedua-dua buah negara ini.
MODEL PEMBALIKAN MITOS RANGDA I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.432

Abstract

The myth Rangda (Calon Arang) does not only belong to the Balinese. Rangda phenomenon as the destructive force has been successful going through centuries. In this modern era, new force from Rangda that deconstructs Rangda myth emerges. Rangda as the protector force is seen in the novel Janda dari Jirah (2007). This writing shows the writer’s efforts in creating Rangda’s new image creatively. Through this research, it is expected to encourage the writers to produce creative works that source from classic texts. Those texts are found out to contain noble values that are timeless. Several things found in this research are the Buddhist characteristics dominate this novel, which also break the last long perception that the classic text (Calon Arang) reinforces Siva’s teaching. Economic, politic, and social cultural aspects in this novel are also represented inversely from the original text. It can be said that this novel offers renewal with the inversion way as it is said by Riffaterre (1978). AbstrakMitos Rangda (Calon Arang) bukan hanya milik masyarakat Bali. Fenomena Rangda sebagai kekuatan penghancur telah berhasil melewati abad demi abad. Pada zaman modern ini muncul kekuatan baru dari Rangda yang mendekonstruksi mitos Rangda. Rangda sebagai kekuatan pelindung dijumpai dalam novel Janda dari Jirah (2007). Tulisan ini memperlihatkan upaya pengarang di dalam menciptakan imaji baru Rangda secara kreatif. Melalui penelitian ini diharapkan mendorong para pengarang untuk menghasilkan karya kreatif yang bersumber dari teks klasik. Teks tersebut diketahui mengandung nilai luhur yang tidak lekang oleh zaman. Beberapa hal yang ditemukan di dalam penelitian ini, yakni corak keagamaan Buddha mendominasi novel itu sekaligus mematahkan persepsi yang sejak lama bertahan bahwa teks klasik (Calon Arang) menekankan ajaran Siwa. Aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya di dalam novel itu juga digambarkan bertolak belakang dari teks aslinya. Dapat dikatakan bahwa novel itu menawarkan pembaruan dengan cara pembalikan sebagaimana disinggung oleh Riffaterre (1978). 
Nilai Pendidikan Karakter dalam Ungkapan Bahasa Kaili Dialek Rai Abdul Kamaruddin; Ulinsa Ulinsa; Sitti Harisah; Taqyuddin Bakri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5628

Abstract

The Kaili language expression of the Rai dialect has special characteristics in education. The purpose of this research is to describe the form of the values and functions of the characters in the Kaili language expression of the Rai dialect as part of the values of character education. The research method used is descriptive qualitative. The type of data is in the form of oral data sourced from predetermined informants. Data collection techniques include; (1) observation, (2) interviews, (3) recording, and 4) note-taking techniques, so the stages in the analysis technique are collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. As for how to analyze it, namely transcribing and translating data findings, classifying data, analyzing forms and functions, and testing data to obtain conclusions. The research results obtained are that there are three forms of character education values, including; (1) educational value, (2) social value, and (3) moral value. In conclusion, the Kaili dialect of Rai can manifest educational values that are oriented towards character building, both for students at school and in living life as a society. AbstrakUngkapan bahasa Kaili dialek Rai memiliki karakteristik khususnya pada pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk nilai dan fungsi karakter dalam ungkapan bahasa Kaili dialek Rai sebagai bagian nilai pendidikan karakter. Metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif kualitatif. Jenis data berupa data lisan yang bersumber dari informan yang telah ditentukan. Teknik pengumpulan data antara lain; (1) observasi, (2) wawancara, (3) perekaman, dan 4) teknik catat, sehingga tahapan dalam teknik analisis yaitu mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, menarik kesimpulan. Adapun cara menganalisisnya yaitu mentranskripsi dan menerjemahkan temuan data, mengklasifikasian data, analisis bentuk serta fungsi, dan menguji data agar memperoleh kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu terdapat tiga bentuk dari nilai pendidikan karakter, antara lain; (1) nilai edukasi, (2) nilai sosial, dan (3) nilai moral. Kesimpulannya, bahasa Kaili dialek Rai dapat memanifestasikan nilai pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter, baik kepada siswa di sekolah, maupun dalam menjalani kehidupan sebagai masyarakat.
Unggah-Ungguh sebagai Etika Jawa: Analisis Sosiologi Sastra dalam Film Kartini Karya Hanung Bramantyo Nur Khasanatun Ni'mah; Ken Widyatwati; Muhammad Suryadi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8341

Abstract

This study aims to describe the manners of Javanese nobility in the Kartini film. Using qualitative methods, with a sociology of literature approach based on Ian Watt's theory and semiotics according to Charles Sanders Peirce. Data collection techniques include observing and taking notes. Primary data was obtained from the film in the form of dialogue, visual expressions, and interactions between characters, while secondary data came from various supporting literature. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, interpretation of visual-verbal signs, and drawing conclusions. The results of the study show that the character Kartini represents a Javanese noble figure who still holds fast to the values of manners despite having a critical view of customs that limit the role of women. The character Kartini does not fight tradition head-on, but chooses a dialogical path by continuing to carry out aristocratic ethics such as sembah, ndodhok, and timpuh. This attitude reflects that manners are a cultural awareness that plays a role in maintaining social harmony, not just a formality. Thus, the Kartini film emphasizes that tradition does not have to be a barrier to change, but can be a dialectical space between respect for cultural heritage and the courage to think progressively. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unggah-ungguh bangsawan Jawa dalam film Kartini. Menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan sosiologi sastra berdasarkan teori Ian Watt dan semiotika menurut Charles Sanders Peirce. Teknik pengumpulan data berupa simak dan catat. Data primer diperoleh dari film dalam bentuk dialog, ekspresi visual, dan interaksi antartokoh, sedangkan data sekunder bersumber dari berbagai literatur pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, interpretasi tanda visual-verbal, serta penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Kartini merepresentasikan sosok bangsawan Jawa yang tetap memegang teguh nilai unggah-ungguh meskipun memiliki pandangan kritis terhadap adat yang membatasi peran perempuan. Tokoh Kartini tidak melawan tradisi secara frontal, tetapi memilih jalan dialogis dengan tetap menjalankan etika aristokratik seperti sembah, ndodhok, dan timpuh. Sikap ini mencerminkan bahwa unggah-ungguh merupakan kesadaran budaya yang berperan menjaga harmoni sosial, bukan sekadar formalitas. Dengan demikian, film Kartini menegaskan bahwa tradisi tidak harus menjadi penghalang perubahan, melainkan dapat menjadi ruang dialektika antara penghormatan terhadap warisan budaya dan keberanian untuk berpikir progresif.
Aspek Sosial dalam Novel Surat Wasiat Karya Samsoedi Ema Siti Muliawati; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6949

Abstract

This research was conducted due to the lack of public awareness in appreciating literary works that are full of social values. The purpose of this study is to describe the social elements contained in the novel Surat Wasiat by Samsoedi. In this research, the descriptive analysis method is used, which involves collecting data from the novel Surat Wasiat, analyzing the collected data, and presenting a description of the data. The main source of data in this research comes from the novel Surat Wasiat.  The data obtained is a record of the results of analyzing the literature that has been studied. The results of this study identified three social dimensions, including religious, economic, and educational aspects. In the religious social dimension, three related elements were identified, including 1) belief in Allah Swt, 2) obeying His commands, and 3) sincere attitude and gratitude to Him. In the social dimension of education, there are six elements, including 1) ethics, 2) respect, 3) patriotism, 4) peace, 5) avoiding envy and jealousy, and 6) complying with prevailing social norms. AbstrakPenelitian ini dilakukan karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menghargai karya sastra yang sarat dengan nilai-nilai sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan elemen-elemen sosial yang terdapat dalam novel Surat Wasiat karya Samsoedi. Dalam penelitian ini, digunakan metode analisis deskriptif yang melibatkan pengumpulan data dari novel Surat Wasiat, proses analisis terhadap data yang terhimpun, serta penyajian deskripsi dari data tersebut. Sumber utama data dalam penelitian ini berasal dari novel Surat Wasiat.  Data yang didapatkan adalah catatan dari hasil analisis literatur yang telah diteliti. Hasil dari penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi sosial, meliputi aspek keagamaan, ekonomi, dan pendidikan. Dalam dimensi sosial keagamaan, teridentifikasi tiga elemen terkait, termasuk 1) keyakinan pada Allah Swt, 2) mematuhi perintah-Nya, serta 3) sikap ikhlas dan rasa syukur kepada-Nya. Dalam dimensi sosial pendidikan, terdapat enam unsur, di antaranya 1) etika, 2) sikap menghargai, 3) patriotisme, 4) kedamaian, 5) menghindari rasa iri dan dengki, serta 6) patuh pada norma-norma sosial yang berlaku.

Page 9 of 27 | Total Record : 266