cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
The Ecology of Kaili Oral Literature in Narrative and Non-Narrative Form in Dolo District, Sigi Regency Gazali Gazali; Syamsuddin Syamsuddin; Agustan Agustan; Ade Nurul Izatti; Fadillah Fadillah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8465

Abstract

Indonesia possesses a rich tradition of oral literature that reflects local culture and indigenous wisdom, with regional languages serving as inherited cultural identities across generations. One of these traditions is the Kaili oral literature in the Ledo dialect, which is actively preserved in Dolo District, Sigi Regency, Central Sulawesi. This study aims to examine the forms and ecological meanings of Kaili oral literature, both narrative and non-narrative, and to document its role in preserving local cultural and environmental knowledge. Using a literary ecology approach, this study analyzes the relationship between culture and environment as represented in oral traditions, focusing on how human interactions with nature, social life, and spiritual beliefs are encoded in oral expressions. The data were analyzed qualitatively to identify linguistic forms, symbolic meanings, and ecological values embedded in legends, myths, customary expressions, poems, and folk songs. The findings show that Kaili oral literature comprises narrative forms (legends and myths) and non-narrative forms (customary expressions, poetry, and folk songs), all of which embody ecological values such as environmental ethics, respect for nature, social harmony, and spiritual balance. Narrative texts emphasize human–nature–spiritual relationships through symbolic events, while non-narrative texts function as moral guidance, social regulation, and ecological awareness in daily life. Kaili oral literature serves not only as cultural heritage but also as a medium of ecological education that reinforces the interconnectedness between humans and the environment. Abstrak Indonesia memiliki kekayaan tradisi sastra lisan yang mencerminkan budaya dan kearifan lokal, dengan bahasa daerah sebagai identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu di antaranya adalah sastra lisan Kaili dialek Ledo yang berkembang di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk dan makna ekologis sastra lisan Kaili, baik dalam bentuk naratif maupun non-naratif, serta mendokumentasikan perannya dalam pelestarian pengetahuan budaya dan lingkungan masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekologi sastra untuk menganalisis hubungan antara budaya dan lingkungan sebagaimana tercermin dalam tradisi lisan. Analisis difokuskan pada bentuk linguistik, makna simbolik, serta nilai-nilai ekologis yang terkandung dalam legenda, mitos, ungkapan adat, syair, dan nyanyian rakyat. Data dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi pola representasi hubungan manusia dengan alam, sosial, dan spiritual dalam tradisi lisan Kaili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sastra lisan Kaili terdiri atas bentuk naratif (legenda dan mitos) serta non-naratif (ungkapan adat, syair, dan nyanyian rakyat) yang sama-sama mengandung nilai ekologi. Sastra lisan naratif menekankan relasi manusia, alam, dan spiritual melalui simbolisasi peristiwa dan tokoh, sedangkan sastra lisan non-naratif berfungsi sebagai media pendidikan moral, pengendalian sosial, dan penanaman kesadaran ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Sastra lisan Kaili tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan ekologis yang menegaskan keterhubungan manusia dengan lingkungan dan semesta.
KOMPARASI KEARIFAN LOKAL SUNDA DAN JEPANG: PEMBENTUK KARAKTER ANAK Nani Sunarni
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.327

Abstract

In the current era of globalization, cultures blend and dominate each other, making children confuse about their identity. Indonesia, as a multiracial and multicultural nation, is very rich in local wisdoms, and this wealth can be applied to build the character of children and fortify themselves from the negative influence of global or foreign cultures. Japan is a nation that lives based on culture and use local wisdoms as a foundation of life and learning materials that are directly implemented in everyday life. The same thing can be seen in the Sundanese society. Today many children do not recognize their own local wisdoms. This, according to the researchers, is due to the vacuum of local wisdom values in the curriculum and learning process. Therefore, various researchs on local wisdoms learning need to be done, include the learning program through oral tradition such as pupuh and folktale, and also traditional game. The method used in this research is descriptive qualitative method. The data used is the local wisdoms learning in Sundanese culture, which is the learning schedule related to local wisdoms that is limited to character building, and data related to local wisdoms in education in Japan, which is the schedule of "moral" learning activity. Data are analyzed based on Ratna's view (2015). Based on the results of the research, it is identified that the understanding of the values of local wisdoms can create a nation of character. The results of this study are theoretically useful to add references, especially on local wisdoms learning, and can be practically used as a learning model.  ABSTRAKDi era globalisasi seperti sekarang ini, budaya membaur dan saling mendominasi sehingga membuat anak bingung akan jati dirinya. Indonesia, sebagai negara majemuk yang multiras dan multikultural, sangat kaya dengan kearifan-kearifan lokal, dan kekayaan ini bisa diaplikasikan untuk membentuk karakter anak dan membentengi diri mereka dari pengaruh negatif budaya global atau asing. Jepang merupakan bangsa yang hidup dengan berbasis budaya dan menjadikan kearifan lokal sebagai landasan hidup serta materi pembelajaran yang langsung diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal serupa juga terlihat dalam masyarakat Sunda. Saat ini banyak anak-anak yang tidak mengenali kearifan lokalnya. Hal ini, menurut peneliti, disebabkan adanya kekosongan nilai-nilai kearifan lokal dalam kurikulum dan pembelajaran. Untuk itu, berbagai penelitian tentang pembelajaran kearifan lokal perlu dilakukan, termasuk pembelajaran melalui tradisi sastra lisan seperti pupuh dan dongeng, serta permainan tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah pembelajaran kearifan lokal dalam budaya Sunda, yaitu jadwal pembelajaran terkait kearifan lokal yang dibatasi pada pembentukan karakter, dan data terkait kearifan lokal dalam pendidikan di Jepang, yaitu berupa jadwal kegiatan pembelajaran “moral”. Data dianalisis berdasarkan pandangan Ratna (2015). Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai kearifan lokal dapat menciptakan bangsa yang berkarakter. Hasil penelitian ini secara teoretis bermanfaat untuk menambah referensi, khususnya tentang pembelajaran kearifan lokal, dan secara praktis dapat dijadikan model pembelajaran. 
The Inner Conflict of Characters in The Short Story of Genetic Medicine, Ice Cream, and Canibal by Bernard Batubara (An Overview of Literature Psychology) (Konflik Batin Tokoh dalam Cerpen Obat Genetik, Es Krim, dan Kanibal Karya Bernard Batubara (Sebuah Tinjauan Psikologi Sastra)) Imron Niatul Nur Hasanah; Wahyu Nur Khasanah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.2457

Abstract

This study aims to analyze the inner conflicts of characters in the short stories of Obat Genetik, Es Krim, and Kanibal by Bernard Batubara. This study use qualitative desriptive method by applying the theory of literary psychology. The character’s inner conflict can be identified using Sigmund Freud’s theory, namely the id, ego, and superego. The results indicate that the inner conflict in Obat Genetik, Es Krim, and canibal is caused by a sense of patrionalism, unrequited love, and trauma to the past. This research is expected to provide an understanding of psychological disorders caused by inner conflicts in it. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik batin tokoh dalam cerpen Obat Genetik, Es Krim, dan Kanibal karya Bernard Batubara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menerapkan teori psikologi sastra. Konflik batin tokoh dapat diidentifikasi menggunakan teori Sigmund Freud, yaitu Id, Ego, dan Superego. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik batin dalam cerpen tersebut disebabkan oleh rasa patrionalisme, cinta tak sampai, dan trauma terhadap masa lalu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang gangguan psikologis yang diakibatkan konflik batin dalam cerpen Obat Genetik, Es Krim, dan Kanibal.
IDENTITAS DAN WARNA LOKAL DALAM SASTRA MADURA MODERN Mashuri Mashuri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i2.402

Abstract

Kajian terhadap sastra Madura modern ini menggunakan pendekatan studi kultural (cultural studies). Tujuannya untuk menggali identitas, karakter, dan warna lokal Madura dalam karya sastra yang ditulis generasi kiwari. Teks dalam sastra Madura modern menyimpan sebuah transisi diskursif sepanjang sejarah kemunculan karya tersebut dan kultur masyarakatnya. Karya tersebut memiliki beragam cara pandang dan mode deskripsi terhadap lokalitasnya, baik itu yang berupa ruang budaya, manusia, ingatan kolektif, konflik komunal maupun aspek kemanusiaan dengan segala pergulatannya. Dalam karya itu, terdapat pembacaan pada kekhasan identitas dan lokalitasMadura, baik itu yang hablur dalam kultur maupun tersengal di ranah sosial. Identitas itu tidak statis.
Resistansi dan Alternatif dari Singularitas terhadap Empire dalam Film Captain Fantastic Lastry Monika
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.3479

Abstract

This paper aims to discuss the issues of singularity, resistance, and alternatives chosen by the subject to fight against the empire contained in Matt Ross's Captain Fantastic movie. The analysis was carried out using the visual analysis method through the stages of taking notes and selecting dialogues between the characters to then be elaborated through literature study. Based on the use of Antonio Negri's perspective, the results of the analysis found that there was rejection of the homogeneity and capitalistic global order formed by the empire. This then gave rise to a singularity with independent human subjectivity. The subjectivity begins with the family structure to resist the all-materialistic and consumerismstic life order. Resistance takes place through a pattern of life and education in the form of a combination of the traditional and the modern as an alternative to dealing with empire. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk membahas mengenai persoalan singularitas, resistansi, dan alternatif yang dipilih oleh subjek untuk melakukan perlawanan terhadap empire yang terdapat dalam film Captain Fantastic garapan Matt Ross. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode analisis visual melalui tahapan mencatat serta menyeleksi dialog antartokoh untuk kemudian dielaborasi melalui studi kepustakaan. Berdasarkan penggunaan perspektif Antonio Negri, hasil analisis menemukan bahwa terdapat penolakan terhadap homogenitas dan tatanan global yang kapitalistik bentukan empire. Hal itu kemudian memunculkan singularitas dengan subjektivitas manusia yang merdeka. Subjektivitas tersebut diawali dari tatanan keluarga untuk melakukan resistansi terhadap tatanan kehidupan yang serba materielistisk dan konsumerismetik. Resistansi berlangsung melalui pola kehidupan dan pendidikan yang berupa perpaduan antara yang tradisional dengan yang modern sebagai alternatif untuk menghadapi empire.
Metafora Konseptual Perempuan dalam Lirik Lagu Christina Aguilera dan Little Mix Sulis Tiyana; Jismulatif Jismulatif; Afrianto Daud
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.6349

Abstract

This research purposes to analyze the conceptual metaphor of women in song lyrics by Christina Aguilera and Little Mix. This research was conducted at the library of the University of Riau, Pekanbaru, Riau. Using qualitative research because the data is in the form of words and using descriptive qualitative which focuses on describing the conceptual metaphors about women in song lyrics. The researcher used the Metaphor Identification Procedure (MIP) to identify the metaphorical conceptualization of women in song lyrics with the stages of re-reading all data, reducing unnecessary data, marking metaphors, interpreting data, and making conclusions. The results of the research showed 10 conceptual metaphors about women have been found, such as; women are fighters, women are victims, women are songs, women are flowers, women are stars, women are witches, women are thieves, women are butterflies, women are survivors, and women are mirrors. Women are survivors is the conceptual metaphor about women whose metaphorical expression is most often found in the song lyrics 13 times which illustrates that women are very great who are able to survive in any situation. AbstrakPenilitian ini bertujuan untuk menganalisis metafora konseptual perempuan yang digambarkan dalam lirik lirik lagu Christina Aguilera dan Little Mix. Penelitian ini dilakukan di perpustakaan Universitas Riau, Pekanbaru, Riau. Menggunakan penelitian kualitatif karena data dalam bentuk kata dan menggunakan kualitatif deskriptif yang fokus untuk mendeskripsikan konseptual metafora tentang perempuan di dalam lirik lagu. Peneliti menggunakan Prosedur Identifikasi Metafora atau Metaphor Identification Procedurre (MIP) untuk mengidentifikasi metafora konseptual terhadap perempuan di lirik lagu dengan tahapan membaca kembali semua data, mengurangi data yang tidak perlu, menandai metafora, menginterpretasikan data, dan membuat kesimpulan. Dari penelitian ini, telah ditemukan 9 konseptual metafora tentang perempuan, yaitu; perempuan adalah pejuang, perempuan adalah korban, perempuan adalah lagu, perempuan adalah bunga, perempuan adalah bintang, perempuan adalah penyihir, perempuan adalah pencuri, perempuan adalah kupu kupu, dan perempuan adalah orang penyintas. Perempuan adalah penyintas merupakan konseptual metafora tentang perempuan yang metafora ekspresinya paling banyak ditemukan di dalam lirik lagu sebanyak 13 kali yang menggambarkan bahwa perempuan itu sangat hebat yang mampu bertahan hidup dalam situasi apapun.
GUGURITAN SUNDA DALAM TIGA GAYA PENYAIR Dian Hendrayana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.681

Abstract

Puisi guguritan dalam khazanah sastra Sunda merupakan materi puisi lama yang hingga kini masih ditulis dan diminati. Tradisi menulis guguritan dalam sastra Sunda banyak dilakukan sejak awal abad XX. Puisi ini masih pula ditulis dan dibaca oleh masyarakat Sunda, terutama para peminat sastra hingga awal abad XXI. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana gaya penulisan guguritan dari tiga penyair Sunda yang pada tiga dekade terakhir dianggap tokoh penulis guguritan. Ketiga penyair guguritan tersebut yakni Dedy Windyagiri, Dyah Padmini, dan Wahyu Wibisana. Mereka merupakan tokoh penyair yang dianggap baik dalam menulis puisi guguritan seperti yang terbaca pada  Jamparing Hariring (1992) karya Dedy Windyagiri, Jaladri Tingtrim (1999) karya Dyah padmini,  dan Riring-riring Ciawaking (2004) karya Wahyu Wibisana. Penelitian dimaksudkan untuk memperlihatkan sejauh mana gaya kepenulisan dari ketiga penyair ini beserta pembeda yang dimilikinya masing-masing, terutama dalam pemilihan tema, pemilihan diksi, pengimajinasian, kata konkret, serta bahasa figuratif dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Dari hasil penelitian ini muncul kecenderungan-kecenderungan gaya kepenulisan sebagai pembeda dari masing-masing penyair, yakni kecenderungan nuansa feminin pada guguritan karya Dedy, kecenderungan nuansa maskulin pada guguritan Dyah Padmini, serta kecenderungan nuansa netral pada guguritan karya Wahyu Wibisana. Abstract: Guguritan Poetry in the Sundanese literature is a matter of old poetry which is still written and have a good demand in current condition. The tradition of writing guguritan in Sundanese literature is mostly done since the beginning of the XX century. This poem is still written and read by Sundanese people, especially literary enthusiasts until the early of XXI century. This study describes how the style of writing the guguritan of three Sundanese poets who in the last three decades are considered as guguritan authors. The three poets are Dedy Windyagiri, Dyah Padmini, and Wahyu Wibisana. They are well-known poets in writing guguritan poetry as it reads in works Jamparing Hariring (1992) by Dedy Windyagiri, Jaladri Tingtrim (1999) by Dyah Padmini, and Riring-Riring Ciawaking (2004) by Wahyu Wibisana. The research is intended to show the extent of the authorship style among the three poets and their respective distinctions; especially in the themes selection, dictionary selection, imagination, concrete words, and figurative languages which using descriptive-analytic methods. From the results of this study appeared the tendencies of the authorship style as a differentiator of each poet, namely the tendency of feminine nuances in the Dedy's work, the tendency of masculine nuance in Dyah Padmini's work, and the tendency of neutral nuances in the work of Wahyu Wibisana.
Adaptasi Project Based Learning dalam Mata Kuliah Kajian Drama Saat Pandemi: Membangun Interkoneksi dengan Komunitas Rosida Erowati; Elve Oktaviani; Aprilia Pitaloka; Ellen Febrine; Syihaabul Hudaa
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.5459

Abstract

The Covid-19 pandemic has changed the way humans learn and work. After a year of adjustment, both lecturers and students are learning different ways to adapt to this situation. The isolation and loneliness felt when the pandemic began needs to be taken into consideration for the adaptation process. During the pandemic, Project Based Learning (PBL) Drama Studies in higher education needs to be adjusted, with a new normal. Therefore, this article aims to describe 1) the adaptation of PBL in drama courses during the pandemic, 2) students' perceptions of the PBL adaptation, and 3) factors that influence PBL adaptation during the pandemic. The research was organized descriptively, with qualitative methods. Data were obtained through lecture observations, questionnaires, short essays, and interviews. The results showed that the adaptation of PBL Drama Studies in the Indonesian Language and Literature Education Study Program, and Indonesian Language and Literature, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta is a productive response to the ongoing pandemic situation. In this adaptation process, the syllabus development carried out by the lecturers of each study program still uses the PBL approach, with a different project orientation. In both study programs, this adaptation was responded positively by students. The grades they achieved ranged between Good and Very Good. Meanwhile, their response to the selection and implementation of PBL in Drama Studies showed positive results. This course adaptation also helped students master drama concepts and practices, as well as improve academic and social competencies. Mixed responses (positive-negative) were also obtained on the aspect of adaptation, which helped them build communication with the community / other drama / theater arts actors. Factors that encourage the adaptation process of PBL Drama Studies are mainly related to the policies of each lecturer to respond to the pandemic and PSBB situation, the enforcement of health protocols, students' efforts to overcome boredom due to being cooped up at home during PSBB, and the economic resilience of students' families. AbstrakPandemi Covid-19 telah mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Setelah satu tahun mengalami proses penyesuaian, baik dosen maupun mahasiswa mempelajari beragam cara untuk beradaptasi dengan situasi ini. Keterasingan dan kesepian yang dirasakan ketika pandemi dimulai perlu menjadi pertimbangan bagi proses adaptasi. Pada masa pandemi, Project Based Learning (PBL) Kajian Drama di perguruan tinggi perlu disesuaikan, dengan situasi kenormalan baru. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) adaptasi PBL dalam mata kuliah Kajian Drama di masa pandemi, 2) persepsi mahasiswa terhadap adaptasi PBL tersebut, dan 3) faktor-faktor yang memengaruhi adaptasi PBL di masa pandemi. Penelitian disusun secara deskriptif, dengan metode kualitatif. Data diperoleh melalui observasi perkuliahan, kuesioner, esai pendek, serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi PBL Kajian Drama di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan respon produktif terhadap situasi pandemi yang masih terus berlangsung. Dalam proses adaptasi ini, pengembangan silabus yang dilakukan oleh dosen masing-masing program studi tetap menggunakan pendekatan PBL, dengan orientasi proyek yang berbeda. Di kedua program studi, adaptasi ini ditanggapi secara positif oleh para mahasiswa. Nilai yang mereka capai berkisar antara Baik dan Sangat Baik. Sedangkan respon mereka terhadap pemilihan dan pelaksanaan PBL Drama menunjukkan hasil yang positif. Adaptasi perkuliahan ini pun membantu mahasiswa menguasai konsep dan praktik drama, serta meningkatkan kompetensi akademik dan sosial. Respon campuran (positif-negatif) pun didapatkan pada aspek adaptasi, yang membantu mereka membangun komunikasi dengan komunitas masyarakat/pelaku seni drama/teater lainnya. Faktor-faktor yang mendorong proses adaptasi PBL drama ini khususnya terkait dengan kebijakan masing-masing dosen untuk menanggapi situasi pandemi dan PSBB, penegakan protokol kesehatan, upaya mahasiswa mengatasi kebosanan akibat terkurung di rumah di masa PSBB, dan ketahanan ekonomi keluarga mahasiswa.
Mitologi Burung Bonyia Kas di Kabupaten Banggai: Kajian Semiotika Roland Barthes Eri Hermawansa; Gazali Gazali; Juniati Juniati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8453

Abstract

This study aims to uncover the denotative, connotative, and mythical meanings contained in the mythology of the Bonyia Kas Bird in Banggai Regency through Roland Barthes' semiotic study. This study uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data were obtained through in-depth interviews with community leaders and informants who understand the mythology of the Bonyia Kas Bird, and supported by documentation of oral stories that have developed in the community. The data analysis technique was carried out by classifying the data into three stages of meaning, namely denotation, connotation, and myth in accordance with Roland Barthes' semiotic theory. The results of the study show that at the denotative level, the Bonyia Kas Bird is understood as a bird figure that has physical characteristics resembling an eagle and is known through its sound as a certain marker. At the connotative level, the Bonyia Kas Bird is interpreted as a symbol of warning, caution, and a moral message for the community in carrying out daily activities. Meanwhile, at the mythical level, the Bonyia Kas Bird functions as a cultural sign system that represents the relationship between humans, nature, and God's power, and is part of the identity and local wisdom of the Banggai community. This research confirms that the mythology of the Bonyia Kas Bird serves not only as a traditional story but also as a means of transmitting social and cultural values that are still believed today. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam mitologi Burung Bonyia Kas di Kabupaten Banggai melalui kajian semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data diperoleh melalui teknik wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan informan yang memahami mitologi Burung Bonyia Kas, serta didukung oleh dokumentasi cerita lisan yang berkembang di masyarakat. Teknik analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan data ke dalam tiga tahapan pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos sesuai dengan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tataran denotatif, Burung Bonyia Kas dipahami sebagai sosok burung yang memiliki ciri fisik menyerupai burung elang dan dikenal melalui bunyinya sebagai penanda tertentu. Pada tataran konotatif, Burung Bonyia Kas dimaknai sebagai simbol peringatan, kehati-hatian, serta pesan moral bagi masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sementara itu, pada tataran mitos, Burung Bonyia Kas berfungsi sebagai sistem tanda budaya yang merepresentasikan hubungan antara manusia, alam, dan kekuasaan Tuhan, serta menjadi bagian dari identitas dan kearifan lokal masyarakat Banggai. Penelitian ini menegaskan bahwa mitologi Burung Bonyia Kas tidak hanya berfungsi sebagai cerita tradisional, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai sosial dan budaya yang masih diyakini hingga saat ini.
Kekerasan, Balas Dendam, dan Pengkambinghitaman dalam Tiga Cerpen Indonesia Novita Dewi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.1755

Abstract

This study aims to investigate the representation of violence, revenge, and scapegoating in three Indonesian short stories, i.e. “Kuli Kontrak” [The Contract Coolie] by Mochtar Lubis, “Tukang Cukur” [The Barber] by Budi Darma, and “Akhir Perjalanan Gozo Yoshimasu” [The End of  Gozo Yoshimasu’s Journey] by Sori Siregar. Content analysis method is applied to read the short stories in light of René Girard’s theory of mimetic desire and sacpegoating. The study reveals that first, violence as repercussion of mimetic desires and rivalry can occur between individuals, individuals to groups, and groups to individuals; and violence is contagious and spreads quickly. Second, revenge which is a direct impact of rivalry in the three short stories takes place on behalf of women, bloodshed, and power; and the most corrosive is power. Third, the scapegoat mechanism in these short stories has different causes and implications; while the similarity is that the scapegoat manifests in the defeated and marginalized personas. They are sacrificed to break the chains of violence and to bring peace.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah mengamati representasi kekerasan, balas dendam, dan pengambinghitaman dalam tiga cerpen Indonesia, yaitu “Kuli Kontrak” karya Mochtar Lubis, “Tukang Cukur” karya Budi Darma, dan “Akhir Perjalanan Gozo Yoshimasu” karya Sori Siregar. Metode content analysis digunakan dalam penelitian ini dengan terang teori hasrat mimesis dan kambing hitam dari René Girard. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan. Pertama, kekerasan sebagai buntut hasrat mimesis dapat terjadi antarindividu, inividu terhadap kelompok, dan kelompok terhadap individu. Kekerasan bersifat menular serta menyebar dengan cepat. Kedua, aksi balas dendam yang merupakan dampak langsung rivalitas dalam ketiga cerpen terjadi atas nama perempuan, kucuran darah, dan kekuasaan. Dari ketiga hal tersebut yang paling korosif adalah kekuasaan. Ketiga, mekanisme kambing hitam pada ketiga cerpen memiliki penyebab dan siratan yang berbeda-beda, sedangkan persamaannya adalah kambing hitam mewujud dalam diri tokoh-tokoh yang kalah dan terpinggirkan. Mereka dikorbankan untuk memutus rantai kekerasan sehingga dapat membawa perdamaian. 

Page 10 of 27 | Total Record : 266