cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
KARYA MUSIK “OVERTURE UL-DAUL” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI KHOIRUR ROZIQIN, MUHAMMAD; SARJOKO, MOH
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

?Overture Ul-Daul? merupakan sebuah karya musik yang terispirasi dari musik tradisi di Madura. Pengertian Ul-Daul bermula dari kata Ul-Gaul yang berarti gaul/mudah diterima. Musik ini pada awalnya sebuah musik patrol untuk membangunkan sahur pada bulan Ramadhan, namun seiring berkembangnya zaman, musik ini mengalami banyak tambahan dalam segi musikal dan akhirnya digunakan sebagai sarana hiburan untuk acara adat maupun acara keagamaan. Karya musik ini akan dibuat dalam bentuk overture dengan pembagian tempo Allegro-Lento-Allegro serta akan dimainkan dalam sebuah format orkestra yang pengertiannya ialah sekumpulan musisi dalam jumlah besar, terdiri dari 4 kelompok (musik gesek, petik, tiup dan pukul) dan bermain di bawah pimpinan seorang kondaktor. Instrumen yang digunakan adalah violin, viola, cello, bass elektrik, flute, alto saxophone, tenor saxophone, trumpet, trombone, cymbal, bass drum, snar drum, tom-tom, serta tambahan alat yang biasa digunakan pada musik ul-daul yaitu drum air, tok-tok, glockenspiel, tram-tram, dan tamborin. Dalam karya musik ini terdapat beberapa teknik variasi melodi yang digunakan, yaitu : (1) Dead spot filler; (2) Melodic variation and fake; (3) Rhytmic variation and fake; (4) Counter melody. Karya ini memiliki total 156 birama, memiliki 3 bagian yaitu introduksi, bagian A-B-A dan memiliki durasi 6 menit 2 detik. Tangga nada yang digunakan dalam ialah tangga nada pentatonic dengan dominasi nadanya adalah Do Re Mi Sol La Do.Kata kunci: Overture Ul-Daul, Orkestra, Variasi Melodi
KARYA MUSIK ”REQUIEM OF GENOCIDE”DALAM TINJAUAN ORKESTRASI ADAM ADHITAMA, AHMAD; SARJOKO, MOH
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Etnis Rohingya merupakan Etnis paling menyedihkan di dunia ini, karena di negara sendiri tidak di akui di negara tetangga pun di tolak. Di negara nya sendiri yakni Myanmar mereka mendapatkan perlakuan yang sangat tidak manusiawi sejak tahun 1962 dan hal itu berlangsung hingga sekarang, mereka menjadi korban pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, dan pelanggaran HAM lainnya atau bisa disebut sebagai Genosida. Dari fenomena tersebut komposer mengungkapkan suasana hati yang dirasakan melalui karya musik yang berjudul ? Requiem Of Genocide. Karya ini menggambarkan kekejaman yang diberikan oleh militer Myanmar kepada etnis Rohingya.Requiem adalah sebuah istilah yang memiliki arti misa arwah atau sebuah upacara pemakaman sedangkan Genocide yang memiliki arti Genosida atau pembantaian masal tersistematis oleh karena itu komposer menuangkan fenomena tersebut dalam bentuk karya musik dengan tinjauan orkestrasiSecara keseluruhan, komposisi pada karya ?Requiem Of Genocide? terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian pertama , bagian ke-dua, bagian ke-tiga, dengan total durasi 7 menit 4 detik. Tempo yang bervariasi mulai dari lento andante, moderato, hingga allegro. Tangga nada yang digunakan untuk karya musik tersebut yaitu D, Eb dan E dengan sukat 4/4, 3/4, 6/8, 5/4. Intrument yang digunakan pada karya musik tersebut antara lain : String Instrument ( Violin 1, Violin 2, Viola, Violoncello, Contrabass), Wind Instrument ( Flute, Alto Saxophone, Tenor Saxophone, Horn, Trumpet, Trombone) dan Percussion Instrument ( Bass Drum, Snare Drum, Cymbal, Floor tom,Triangle. ) karya musik tersebut ditinjau dari orkestrasi musik antara lain : (1) Ilmu bentuk dan Analisis Musik, (2) Instrumentasi, (3) Pemillihan Instrumen, (4) Timbre Instrumen, (5) Ambitus Instrumen, (6) Teknik, (7) dinamika, (8) penerapan Orkestrasi karya.Berdasarkan hasil penciptaan dan pembahasan simpulan yang dibahas mengenai karya musik ? Requiem Of Genocide ?dalam format orkestra dengan peletakan intrumentasi sesuai kemampuan masing masing instrumen. Semoga apa yang telah komposer sampaikan secara sederhana ini bisa menjadi referensi yang menarik, menambah wawasan dan pengetahuan, serta dapat membawa perubahan yang positif bagi diri komposer, bagi mahasiswa sendratasik dan bagi pembaca sekalian.Kata Kunci : Orketrasi,Orkestra, Requiem Of Genocide
KARYA MUSIK “SOUND OF OSING” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI BUDI PRATAMA, FAISAL; SUWAHYONO, AGUS
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik Sound Of Osing adalah suatu Karya Musik yang tercipta dari ide musikal musik Banyuangi. Karya musik ini terinspirasi pola kuntulan terbang pada tari jejer jaran dawuk banyuwangi. Tabuhan terbang yang rancak dan atraktif membuat Komposer ingin membuat suatu karya musik dengan format orchestra yang bertemakan musik banyuwangi yang di dalamnya ada syair nyayian dan permainan kuntulan dari alat musik terbang.Terdapat beberapa teknik variasi melodi yang dapat di gunakan, namun dalam karya musik ?Sound Of Osing ? kompoer menggunakan 4 teknik variasi melodi dalam penggarapannya, yaitu diantara lain : (1) Dead spot Filler,(2) Melody variation and fake, (3) Rhytmic variation and fake, dan(5) counter melody.Karya musik ?Sound Of Osing ? memiliki empat bagian yang terdiri dari bagian 1, 2, 3,dan 4. Dalam bagian 1 merupakan introduksi dimana Violin 1 dan Violin 2 menjadi melodi utama dengan tempo Andnte.pada bagian 2 terdapat solo Vocaldan di iringi solo violin sebagai Filler yang berfungsi untuk background vocal. Dalam bagian 3 terdapat perubahan tempo dari Andante menjadi allegro di tandai dengan tanda Accelerando sehingga tempo awal andante berubah semakin cepat menjadi tempo allegro dan juga terdapat pola permainan instrument terbang yang memainkan pola timpalan sebagai ciri khas kutulan yang terdapat pada iringan tari Jejer jaran dawuk Banyuwangi. Pada bagian 4 terdapat pola permainan terbang dan kendang dengan tempo allegro yang melakukan solist secara bergantian dimainkan dengan pola yang rancak.Melalui karya musik ?Sound Of Osing? di harapkan mampu menjadi karya musik inspiratif bagi sesama mahasiswa dan tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat luas , karena bermusik dapat digunakan sebagai media komunikasi dengan cara yang berbeda sekaligus menyenangkan, selain itu diharapkan dapat menumbuhkan rasa apresiai tinggi terhadap suatu karya eni khususnya seni musik.Kata kunci : Sound of Osing, variasi melodi.
KARYA MUSIK “FANTASTICUS CIRCUS” DALAM TINJAUAN STRUKTUR BENTUK MUSIK WISNU GARUDAPAKSI, RAHADYAN; SUWAHYONO, AGUS
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik ?Fantasticus Circus? merupakan suatu komposisi musik programatik yang mengambil ide tema dari film ?The Greatest Showman? yang menceritakan tentang perjalanan karir tokoh Phineas Taylor Barnum dan perjuangannya dalam mengembangkan ?Barnum?s Circus?, karya musik ?Fantasticus Circus? disajikan dalam format Orchestra.Karya musik ?Fantasticus Circus? ini mengerucut pada tinjauan struktur dari bentuk musik 3 bagian kompleks / besar , bagian Introduksi menggambarkan introduksi tokoh Phineas Taylor Barnum dengan kehidupan yang kelamnya semasa kecil . Bagian Ak menceritakan tentang usaha Phineas Taylor Barnum dalam membangun usaha pertunjukan sirkus. Pada bagian Bk menceritakan tentang masa kejayaan dan tentang masa sulit yang dialami oleh Phineas Taylor Barnum dalam karirnya, kemudian Bagian Ak yang merupakan bagian Rekapitulasi. Pada bagian ini menggambarkan Barnum?s Circus bangkit dari keterpurukan hingga meraih kesuksesannya kembali. Karya musik ?Fantasticus Circus? memiliki 176 birama, menggunakan tangga nada D minor dengan modulasi ke E minor. modulasi kembali ke tangga nada D minor. Sukat yang digunakan adalah 4/4 dan 3/4. Kata Kunci : Fantasticus Circus. Struktur Bentuk Musik.
KARYA MUSIK “PENTATONIC VARIATION IN MARCHING BAND DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI LINTANG HIMANTORO, BAGAS; WINARKO, JOKO
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik ?Pentatonic Variation in Marching Band? merupakan jenis karya musik absolut dengan durasi 7 menit dan total birama 162. Karya musik ini merupakan hasil dari proses penciptaan musik dengan metode konversi nada-nada Pelog menggunakan format Marching Band dan menggunakan teknik variasi melodi Rhytmyc Variation and Fake, Melodic Variation and Fake, Counter melody,dan Dead Spot Filler. Dalam karya ini terdiri dari 3 bagian yaitu bagian 1, 2 dan 3.Bagian pertama dalam karya musik ?Pentatonic Variation in Marching Band? menggunakan variasi Melodic Variation and Fake, dan Counter melody. Pada bagian kedua menggunakan variasi melodi Melodic Variation and Fake, Rhytmyc Variation and Fake, Dead Spot Filler dan Counter melody. Pada bagian ketiga menggunakan variasi Rhytmyc Variation and Fake, Melodic Variation and Fake, dan Counter melody. Variasi melodi dalam tiga bagian karya tersebut merupakan dasar dari pembentukan sajian komposisi pada karya musik ?Pentatonic Variation in Marching Band? sebagai penguat harmoni nada pentatonik yang digunakan, pembentukan variasi ritmikal marching band dan kebutuhan aransemen.Kata kunci: Laras Pelog, Variasi Melodi, Marching Band
KARYA MUSIK ”SEMANGAT TANI” DALAM TINJAUAN ORKESTRASI HUDA SASMITA, AFAN; MURBIYANTORO, HERI
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik ?Semangat tani? diambil dari bahasa madura yang artinya semangat seorang petani, karya ini terinspirasi dari Usaha pertanian padi di kabupaten Bondowoso hingga saat ini sebagian besar masih dikategorikan sebagai usaha pertanian skala kecil yang lazimnya disebut dengan usaha pertanian rakyat. Dalam pertanian skala kecil kehidupan petani-petani tersebut masih melakukan kegiatan pertanian seperti membajak, menanam hingga memanen dilakukan secara tradisional tanpa bantuan mesin. Hal yang menarik yang dapat membedakan antara petani tradisional dengan modern terletak dari prosesnya, di mana proses penanaman hingga memanen petani tradisional biasanya mengawali kegiatannya dengan ritual-ritual seperti halnya ritual yang sering dilakukan petani padi di Bondowoso sebelum memanen yakni yang biasa dikenal dengan ritual ?Arajhuk?. Ritual ini biasanya dilakukan dengan mengambil batang padi delapan helai dilengkapi dengan sesajen, bubur tujuh warna dan kemenyan di mana semuanya diletakkan di sawah dengan harapan agar memberikan hasil panen yang melimpah.Di samping itu petani Bondowoso masih memakai sistem gotong royong dalam melakukan kegiatan bertani, mulai dari menyemai bibit padi, membajak sawah, menanam padi, merawat hingga memanen. Kebersamaan dan gotong royong dalam bertani masyarakat Bondowoso tergambar jelas sejak ritual penanaman padi dilakukan. Mereka terlihat sangat bersemangat, berusaha dan gembira dengan senyum lebar dalam menyemai bibit, merawat hingga menunggu musim panen tiba. Semangat usaha kerja keras petani menanam, merawat hingga musim panen telah menginspirasi komposer yang dituangkan dalam ide musik yang diwujudkan melalui orkestrasi, teknik tabla permainan kendang ketipung yang dipadukan dalam bentuk sajian orkestra yang menggambarkan suasana hati dan perjuangan para petani di pedesaan. Fenomena ini dituangkan oleh komposer dalam sebuah karya musik yang berjudul ??Semanagat Tani?? yang artinya semangat seorang petaniKarya Musik ?Semanagat Tani? ditinjau dari segi orkestrasi musik antara lain ; (1) Ilmu Bentuk dan Analisis Musik; (2) Instruumentasi; (3) Pemilihan instrumen; (4) Timbre Instrumen; (5) Ambitus instrumen (6) Teknik; (7) Dinamika; (8) Penerapan aransemen pada karya.Karya Musik ?Semanagat Tani? terdiri dari 208 Birama dengan durasi 7 menit 55 detik. Tempo yang digunakan Allegreto, alegro, maestoso, dan Prestisimo. Tangga nada yang digunakan adalah, G Mayor dan D Mayor dan sukat 4/4. Instrument yang digunakan pada karya musik ini mulai dari Strings I (Violin I, Violin II, Viola, Violoncello ( Trombone, Trumpet), Woodwind (Flute dan clarinet) dan perkusi (Snare Drum, Bass Drum, Cymbals, Tambourine, triengel, gentong, tok-tok, kendang ketipung, cobel dan kendang) eletrik bass.Berdasarkan hasil penciptaan dan pembahasan simpulan yang dibahas mengenai karya musik ?Semangat Tani? yang berbentuk tiga bagian dengan tinjauan orkestrasi yang disajikan dengan format orkestra dengan instrumentasi sesuai kapasitas masing-masing instrumen.Kata kunci: Semangat Tani, Orkestrasi
TINJAUAN ESTETIKA DALAM KARYA MUSIK MEMENTO MORI WILLIAM SIMANJUNTAK, JOSIA; DHARMAWANPUTRA, BUDI
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memento Mori adalah judul yang terinspirasi dari sebuah lagu yang diciptakan oleh sebuah band Inggris yaitu Architects. Memento Mori merupakan Bahasa latin yang memiliki arti ?Be Mindful Of Death?. Karya musik ini mengusung gaya sebuah Requiem dengan jenis musik programatik. Karya yang berformat pada string orchestra dengan choir yang terdiri total pemain berjumlah 40 orang. Kematian merupakan sebuah kejadian yang semua manusia akan lewati, ketika sang kuasa menghendakinya. Manusia belajar untuk mencintai hidup sama seperti mencintai sebuah kematian yaitu dengan menciptakan lagu. Lagu untuk seseorang yang berpulang kepada Yang Maha Kuasa memiliki nama latin yaitu Requiem. Beragam kejadian yang terjadi pada umat manusia seperti peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 merupakan penggambaran bahwa Tuhan sendiri yang menentukan waktu manusia untuk kembali kepada dia. Karya musik Memento Mori yang berdurasi 7 menit 30 detik ini menggunakan tanda sukat yaitu ¾ dengan beberapa tangga nada yaitu Am, Ab mayor, F#m, Bm dan Dm. dan disertai tempo 90 BPM, 120 BPM, 90 BPM. Metode yang dipakai dalam mengkaji nilai estetika dalam karya musik Memento Mori ini adalah metode deskriptif kualitatif dasar dengan melakukan pendalaman pada fullscore karya musik Memento Mori sebagai obyek yang dianalisis. Peneliti akan mendeskripsikan tinjauan estetika karya musik Memento Mori yang divalidasikan dengan teori Monroe Beardsley yang mencakup tiga sifat keindahan dalam karya musik tersebut.Dari hasil penelitian, maka dapat dihasilkan sebuah kesimpulan bahwa karya musik Memento Mori ini memiliki satu bagian pembuka dan tujuh bagian besar yaitu bagian 0, bagian A, B, C, D, E, F, dan G. pada bagian 0 merupakan bagian dimana semua player tuning semua instrument yang dimainkan agar tidak terjadi kesalahan dalam memainkan karya tersebut. Pada bagian A, keindahan terlihat dari harmoni yang dipadukan antara string section dengan piano. Pada bagian A menggambarkan penggambaran tentang seseorang yang lahir dan hidup dengan memiliki satu pandangan hidup yaitu ?aku adalah Tuhan untuk hidupku sendiri?. Pada bagian B, keindahan yang tergambarkan terlihat dari susunan piano yang mengambil Teknik permainan octave sedangkan string dan choir menjadi harmoni yang selaras dengan iringan piano. Bagian B menggambarkan kematian akan selalu mendatangi manusia dan dimana saat itu tiba, manusia akan selalu menyesal dan melihat semua kehidupannya terlintas di matanya dan tidak dapat mengulanginya lagi. Untuk bagian C, piano dan choir menjadi pemegang kendali dalam penggambaran suasana yang ditampilkan pada karya tersebut. Pada bagian D, keindahan yang tergambar pada bagian ini adalah pergantian suasana dari Am menjadi Ab mayor dan piano Pada bagian F, masuk pada bagian solo dimana violin serta solo vocal sopran dan piano menjadi sebuah paduan harmoni yang inda. Pada bagian G, ini adalah dimana bagian orang tersebut kembali menuju kesadarannya sendiri. Kata kunci : Memento Mori, estetika musik, bentuk musik
KARYA MUSIK " CHE LA TRADITI ( L AMORE CORRISPOSTO UN TRADIMENTO )" DALAM TINJAUAN ARANSEMEN FEBRI ROMADHONI, FAHRIAWAN; SARJOKO, MOH
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik ?Che la traditi (L?amore Corrisposto Un Tradimento)? karya musik yang penciptaannya terlatar belakangi oleh keinginan komposer untuk menuangkan atau membagian perasaan komposer tentang manis pahitnya romantika percintaan yang dialami, serta melihat sahabat-sahabat komposer yang juga mengalami nasib yang sama, maka dari itu komposer mempunyai ide untuk mengungkapkan perasaan tersebut kedalam sebuah karya musik ?Che la traditi (L?amore Corrisposto Un Tradimento)?. judul tersebut sengaja komposer sadur dari bahasa italia yang berati; Che la traditi yang berarti ?Yang terkhianati? dalam bahasa indonesia, serta ?L?amore Corrisposto Un Tradimento? yang berarti ?Cinta yang dibalas dengan pengkhianatan? yang komposer rasa judul tersebut sesuai dengan tujuan komposer menciptakan karya ini, serta sesuai dengan jenis musik yang ingin komposer tampilkan yaitu bernuansa klasik eropa.Karya musik ?Che la traditi (L?amore Corrisposto Un Tradimento)? ditinjau dari segi aransemen musik berdasarkan ilmu aransemen pada bagian yang sudah disusun oleh komposer, antara lain; (1) melodic variation; (2) counter melody yang disusun dari segi komposisi, yaitu; (1) introduction; (2) transitio; (3) retransition; (4) codeta; (5) interlude; (6) seksi; (7) coda; dan (8) postlude.Karya musik ?Che la traditi (L?amore Corrisposto Un Tradimento)? memiliki total 167 birama dengan durasi 5 menit 47 detik yang memiliki berbagai macam akor. Karya musik ?Che La Traditi (L?amore Corrisposto un Tradimento? dimainkan dengan tempo Allegro secara konstan. Karya musik ?Che La Traditi (L?amore Corrisposto un Tradimento? mempunyai 2 bagian, A dan B. Bagian A berisi kalimat a, a, b, b, c, d, c1, d1, e, yang tedapat pada birama 17 - 88 dengan memakai sukat 4/4 dan tempo allgero serta menggunakan tangga nada F. Bagian B berisi kalimat a1, a1, b1, b1, c2, d2, e1, c3, d3. Karya musik ini mempunyai unsur-unsur aransemen dalam keilmuan aransemen yang disusun melalui bentuk komposisinya. Bagian introduksi instrumen Soprano solo berperan sebagai melodi pokok pengantar, sedangkan instrumen strings section sebagai pembentuk akor dalam tangga nada C. Variasi melodi yang digunakan ada dua macam, yaitu melodic variation and fake dan rhytmic variation and fake. Karya ini mempunyai interlude yang terdapat pada birama 89-94 menggunakan tangga nada F dengan sukat 4/4 dan tempo Allegro. Sebagai penutup, terdapat postlude yang berfungsi memberikan kesimpulan.Melalui karya musik ?Che la traditi (L?amore Corrisposto Un Tradimento)? diharapkan mahasiswa dan masyarakat umum dapat menjadi referensi, wacana, dan inspirasi dalam mengungkapkan isi hati melalui media musikKata Kunci : Che la traditi, orchestra, Aransemen
KOREOGRAFI NONLITERAL DALAM KARYA TARI “ROAR” FARA ANANDA, ILMA; , NOORDIANA
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya Tari Roar adalah suatu ungkapan kesengsaraan masyarakat sekitar Kabupaten Jember akibat meletusnya Gunung Raung. Meluasnya erupsi Gunung Raung yang terletak di perbatasan Kabupaten Jember dan Banyuwangi menyebabkan tembakau di sejumlah daerah akan mengalami gagal panen. Abu vulkanis juga telah menutupi sebagian besar lahan tembakau di Jember. Akibatnya berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pada daerah tersebut. Banyak masyarakat sekitar Gunung Raung yang bekerja sebagai petani tembakau yang menderita. Koreografer berusaha menciptakan sebuah Karya Tari Roar melalui teori Koreografi Nonliteral. Karya Tari Roar ini tidak lepas dari teori Komposisi Tari dan Koreografi. Pendekatan karya Tari Roar ini melalui rangsang dari adanya fenomena alam yang terjadi, yaitu meletunya gunung Raung. Kemudian dari rangsang tersebut bertambah ke rangsang audio yaitu dari musik yang dibuat sesuai emosi yang akan dihadirkan. Selanjutnya eksplorasi rangsang kinestetik dengan menggabungkan rangsang rangsang yang ada.Koreografer menjadikan Karya Tari Roar menjadi bentuk sajian yang baru melalui tipe tari dramatik dengan lebih menguatkan emosi serta daya tarik kepada penonton dengan penambahan, pengurangan bahkan perubahan pada suasana serta dinamika yang dibangun pada Koreografi Nonliteral dalam Karya Tari Roar ini.Kata Kunci: Koreografi Nonliteral, Karya Tari Roar
KEMBANG DERMO DALAM RITUAL KESUBURAN DI DESA OLEHSARI BANYUWANGI PADA KARYA TARI “SEBLANG LULIAN” , M.TRI.RAGEL.ALFAN.FAJAR; DWI SASANADJATI, JAJUK
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual adat Seblang Olehsari merupakan salah satu dari beberapa ritual adat yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Ritual adat Seblang rutin diadakan tiap tahunya untuk menolak bala dan membersihkan desa dari segala penyakit dan musibah yang melanda desa tersebut. Ketertarikan awal terhadap ritual adat Seblang sehingga menjadikan sebuah ide garap, karena Seblang merupakan sebuah pertunjukan yang berbeda daripada pertunjukan lainya. Perbedaan itu terlihat dari bentuk penyajianya dan gerak-gerak yang dilakukan secara tidak sadar oleh sang penari Seblang tersebut. Keunikan Seblang Olehsari di bandingkan dengan Seblang Bakungan sehingga koreografer tertarik untuk menjadikan sebuah ide garap, yaitu terletak pada saat keterlibatan penonton atau masyarakat pada saat upacara adat tersebut berlangsung. Koreografer menjadikan makna dari upacara adat Seblang Olehsari tersebut sebagai fokus pembuatan karya dengan tujuan untuk memvisualisasikan simbol-simbol yang terdapat pada ritual Seblang tersebut melalui karya tari Seblang Lulian. Pentahapan penciptaan dalam menciptakan karya seni dimulai dari eksplorasi, improvisasi, komposisi. Terdapat banyak metode yang digunakan dalam penciptaan tari. Beberapa metode tersebut kemudian digabung untuk dapat ditemukan fokus serta tema yang tepat. Setelah itu baru konsep karya menjadi acuan untuk membuat suatu karya tari. Struktur penyajian dalam karya tari Seblang Lulian dibagi menjadi empat bagian yaitu intro (awalan) menceritakan persiapan upacara adat Seblang tersebut, yang di awali dengan selamatan desa, pada bagaian intro ini koreografer mencoba untuk membangun imajinasi penonton dengan memunculkan simbol-simbol yang biasa digunakan pada saat acara selamatan sebelum upacara adat seblang dimulai. Koreografer mengambil properti tempeh,karena tempeh merupakan simbol terkuat pada saat selamatan tersebut berlangsung. Setelah terciptanya karya tari Seblang Lulian, koreografer menemukan sebuah transformasi yaitu pada bentuk dari fungsi ritual dan bentuk fungsi untuk pertunjukan. Seblang pada saat ritual menggunakan panggung arena dengan posisi penonton berada di sekeliling panggung, melihat fungsi dari ritual kesuburan tersebut yang harus kembali pada masyarakat itu sendiri sedangkan dalam bentuk pertunjukan, panggung yang digunakan adalah panggung procenium dimana pemain dan audient (penonton) memiliki batasan.Kata Kunci: Kembang Dermo, Seblang Lulian, Ritual Kesuburan,Dramatik