cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Teacher performance in carrying out duties as curriculum developers in schools Lukman Lukman; Nurhayati Nurhayati
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63517

Abstract

The research aims to determine the competency and performance of Mataram City MTsN 1 teachers in planning, implementing, and evaluating the Merdeka curriculum. The research method used is qualitative. The research location is MTs Mataram City, Mataram City State. The data collection techniques used were observation, interviews, and documentation studies. The research results concluded that teachers' performance in carrying out their duties as curriculum developers generally showed performance in their role as educators. Factors that support teacher performance in carrying out their responsibilities as curriculum developers are the quality of the principal's leadership, teacher educational background, teacher welfare level, school environment, and facilities and infrastructure. Efforts are being made to improve teacher performance, namely empowering teacher development platforms, such as MGMP, providing opportunities for teachers to take part in higher education at state universities and private universities, as well as through various training activities, upgrading, workshops, seminars, improving teacher welfare, the role of supervisors, completing the facilities and infrastructure needed by teachers in carrying out teaching and learning process activities. Recommendations from the results of this research are addressed to school principals, teachers, and future researchers.   Abstrak Tujuan penelitian untuk mengetahui kompetensi dan kinerja guru MTsN 1 Kota Mataram dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum Merdeka. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Lokasi penelitian di MTs Kota Mataram Negeri Kota Mataram. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa kinerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pengembang kurikulum secara umum sudah memperlihatkan kinerja yang sesuai dengan perannya selaku pendidik. Faktor-faktor yang mendukung kinerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pengembang kurikulum adalah kualitas kepemimpinan kepala sekolah, latar belakang pendidikan guru, tingkat kesejahteraan guru, lingkungan sekolah, dan sarana dan prasarana. Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru yaitu memberdayakan wadah-wadah pembinaan guru, seperti MGMP, memberi kesempatan kepada guru untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi di Perguruan Tinggi Negeri dan di Perguruan Tinggi Swasta, maupun melalui berbagai kegiatan pelatihan, penataran, lokakarya, seminar, peningkatan kesejahteraan guru, peran pengawas, melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar. Rekomendasi dari hasil penelitian ini ditujukan kepada, kepala sekolah, guru, serta peneliti selanjutnya. Kata Kunci: Kinerja guru; pengembang kurikulum; pengembangan kurikulum; sekolah
Teacher competency: Descriptive study of Guru Penggerak Kinanti Geminastiti Hilmiatussadiah; Eeng Ahman; Disman Disman
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63482

Abstract

Teachers must have competence in teaching. There are four competencies that teachers must have, namely pedagogical competence, professional competence, personality competence, and social competence. The Guru Penggerak program is hoped to increase competence in learning activities. This research aims to determine whether there are differences in the competencies of driving and non-moving teachers and describe the indicators of each competency. Based on a questionnaire distributed to students in classes X and XI, the greater pedagogical competence of driving teachers and no-moving teachers is found in the indicator that economics teachers speak politely and politely when delivering learning material, there is an ability to adapt to the surrounding environment, which is the highest average in social competences. The research instrument was given to students taught by Guru Penggerak and non-moving teachers. The results of the research show that for each competency indicator, there are indicators that have the same average value of driving teachers and non-moving teachers, but there are differences in professional, pedagogical, and personality competence between driving teachers and non-moving teachers, while social competence is the same between driving teachers and non-moving teachers.   Abstrak Guru harus memiliki kompetensi dalam mengajar, terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Adanya program Guru Penggerak diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pada kegiatan pembelajaran. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan kompetensi yang dimiliki Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak dan mendeskripsikan indikator dari setiap kompetensi. Instrumen penelitian diberikan kepada siswa yang diajar oleh Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak. Berdasarkan angket yang disebar kepada siswa kelas X dan XI sejumlah 23 pertanyaan tentang kompetensi guru, hasil penelitian menunjukkan kompetensi guru berada pada kategori tinggi, kompetensi profesional yang dimiliki Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak memiliki nilai rata-rata tertinggi pada penguasaan materi nilai rata-rata Kompetensi pedagogik Guru penggerak dan bukan Guru Penggerak yang lebih besar terdapat pada indikator Guru ekonomi berbicara santun dan sopan pada saat menyampaikan materi pembelajaran, terdapat kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar merupakan rata-rata tertinggi pada kompetensi sosial. Tetapi terdapat perbedaan kompetensi profesional, pedagogik dan kepribadian antara Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak sedangkan untuk kompetensi sosial sama antara Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak. Kata Kunci: Guru; guru penggerak; kompetensi guru
Eco-literacy components on Kurikulum Merdeka: 5th-grade elementary school’s IPAS textbook analysis Kartika Nofiyanti; Yulia Maftuhah Hidayati
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64029

Abstract

The study was conducted to analyze eco-literacy components in Kurikulum Merdeka, especially those contained in IPAS textbooks for grade 5th elementary school students, to facilitate the development of students' environmental literacy skills. The method for this study uses a qualitative approach, with data collection using content analysis techniques. Test the validity of the data using an expert judgment approach. The research finding that the six components of eco-literacy have been included in Kurikulum Merdeka, in the IPAS textbook for grade 5th elementary school students. There are many Cognitive Knowledge components and Knowledge of Environmental Issues components in books, but the Affection components, Ecological and Natural History knowledge components, Socio-political Knowledge components, and Environmentally Responsible Behavior (ERB) components still receive less attention. The results of this study from the analysis of eco-literacy components suggest that there should be further study and development regarding eco-literacy-based learning media to support eco-literacy education in Indonesia.   Abstrak Kajian ini dilakukan guna menganalisis komponen ekoliterasi pada Kurikulum Merdeka, terutama yang termuat dalam buku teks Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) siswa kelas V Sekolah Dasar, sehingga dapat memfasilitasi pengembangan kecakapan literasi ekologi siswa. Jenis metode kajian ini adalah pendekatan kualitatif dimana teknik pengumpulan datanya menggunakan desain analisis isi (Content Analysis). Metode keabsahan data yang digunakan adalah penilaian ahli (Expert Judgement). Hasil kajian ini menunjukkan bahwa enam komponen ekoliterasi telah termuat pada Kurikulum Merdeka, yaitu di dalam buku teks IPAS siswa kelas V Sekolah Dasar. Komponen Pengetahuan Kognitif serta Komponen Pengetahuan terhadap Masalah dan Isu Lingkungan merupakan komponen yang banyak ditemukan di dalam buku teks. Namun, komponen Afeksi, Pengetahuan Ekologi dan Sejarah Alam, Pengetahuan Sosial-Politik, serta Komponen Perilaku Bertanggung Jawab terhadap Lingkungan masih belum banyak mendapatkan perhatian. Hasil dari kajian tentang analisis komponen ekoliterasi ini menyarankan adanya kajian dan pengembangan lebih lanjut terkait media pembelajaran berbasis ekoliterasi untuk mendukung pendidikan literasi lingkungan di Indonesia. Kata Kunci: Buku teks; ekoliterasi; Kurikulum Merdeka; Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Trend analysis of the development of Indonesian local disaster: A bibliometric study Aminkun Imam Rafii
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.61796

Abstract

This study aims to analyze trends in the development of disaster education studies in Indonesia by considering the literature and its implementation. Bibliometric and network analysis is carried out based on the visualization of research trends in disaster education in Indonesia. Based on 35 articles analyzed, the result shows that disaster education has received increasing attention from researchers in recent years. Then, research mainly focused on simulation-based disaster education and limited training. However, this trend in disaster education research has overgrown since mid-2016 and will peak in 2022. This study also involves geographic mapping of disaster education research in several regions of Indonesia. The findings show that Central Java is the main focus of the study. However, the research also involves other areas in Indonesia vulnerable to disasters, such as Aceh, South Sumatra, North Sumatra, Jakarta, East Java, Sulawesi, and Jayapura. This study also found that disaster education literature's dominant discussion trend is "Local Wisdom-Based Disaster Education." This research underscores the importance of innovation in disaster education through local wisdom and various tools. The results of this study also show that journals with SINTA 3 and SINTA 5 indexes have more publications related to disaster education.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren perkembangan kajian pendidikan bencana di Indonesia dengan mempertimbangkan literatur dan implementasinya. Analisis bibliometrik dan jaringan dilakukan berdasarkan visualisasi tren penelitian pendidikan bencana di Indonesia. Berdasarkan 35 artikel yang dianalisis, hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan semakin mendapat perhatian para peneliti dalam beberapa tahun terakhir. Kemudian, penelitian terutama difokuskan pada pendidikan kebencanaan berbasis simulasi dan pelatihan terbatas. Namun tren penelitian pendidikan bencana ini telah berkembang sejak pertengahan tahun 2016 dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2022. Kajian ini juga melibatkan pemetaan geografis penelitian pendidikan bencana di beberapa wilayah di Indonesia. Temuan menunjukkan bahwa Jawa Tengah menjadi fokus utama penelitian. Namun penelitian tersebut juga melibatkan daerah lain di Indonesia yang rawan bencana, seperti Aceh, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi, dan Jayapura. Penelitian ini juga menemukan bahwa tren pembahasan literatur pendidikan kebencanaan yang dominan adalah “Pendidikan Kebencanaan Berbasis Kearifan Lokal”. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya inovasi dalam pendidikan kebencanaan melalui kearifan lokal dan berbagai alatnya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa jurnal dengan indeks SINTA 3 dan SINTA 5 memiliki publikasi terkait pendidikan kebencanaan lebih banyak. Kata Kunci: Analisis bibliometric; analisis jaringan; mitigasi bencana; pendidikan kebencanaan; tren bencana lokal.
Curriculum design to improve adolescent social-emotional skills Rika Yustikarini; Dadang Sukirman
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63495

Abstract

Strawberry generation, internet addiction disorder, consumerism, identity diffusion, and promiscuity are phenomena that affect adolescents today. One of the triggers of these things is the maturity of the amygdala first as the center of emotion control compared to the prefrontal cortex as the logical mind controller. Efforts are needed so that adolescents are not trapped in acts of delinquency or juvenile crime. Adult guidance in training social-emotional skills can be one of the efforts. Social-emotional skills are a process to hone the competence to recognize self-identity, recognize and manage emotions, be responsible in making decisions, be assertive, and apply effectively to various social demands. The curriculum design in this study was developed by adapting backward design with the stages of setting goals in the form of competencies expected to be attached to students, then determining activities or evidence to test the achievement of goals, and lastly, designing learning experiences. This research uses literature studies to find the theoretical basis of the phenomena that occur and design solutions to these phenomena. Social-emotional skills have a high level of urgency to be implemented because they can prevent delinquency and crime in adolescents and improve student academic achievement.   Abstrak Generasi strawberry, gangguan kecanduan internet, konsumerisme, difusi identitas, dan pergaulan bebas adalah fenomena yang terjadi di remaja saat ini. Salah satu pemicu dari hal-hal tersebut adalah matangnya amigdala terlebih dahulu sebagai pusat pengendali emosi dibandingkan korteks prefrontal sebagai pengendali pikiran logis. Diperlukan upaya agar remaja tidak terjebak dalam tindakan kenakalan atau kejahatan remaja. Bimbingan orang dewasa dalam melatih keterampilan sosial-emosional dapat menjadi salah satu upaya. Keterampilan sosial-emosional merupakan suatu proses untuk mengasah kompetensi mengenali identitas diri, mengenali dan mengelola emosi, bertanggung jawab dalam mengambil keputusan, bersikap asertif, dan berlaku efektif terhadap berbagai tuntutan sosial. Desain kurikulum dalam penelitian ini dikembangkan dengan mengadaptasi backward design dengan tahapan menetapkan tujuan berupa kompetensi yang diharapkan melekat pada diri siswa, kemudian menentukan kegiatan atau bukti untuk menguji ketercapaian tujuan, dan yang terakhir adalah mendesain pengalaman belajar. Penelitian ini menggunakan studi literatur untuk mencari landasan teori dari fenomena yang terjadi dan merancang solusi untuk fenomena tersebut. Keterampilan sosial emosional memiliki tingkat urgensi yang tinggi untuk diimplementasikan karena tidak hanya dapat mencegah kenakalan dan kriminalitas pada remaja, tetapi juga dapat meningkatkan prestasi akademik siswa. Kata Kunci: Desain backward; desain kurikulum; keterampilan sosial emosional
Diversified curriculum design based on the potential of the archipelago area Kasman Kasman; Rudi Susilana; Dadang Sukirman
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64149

Abstract

Through the diversity curriculum, local education units are expected to adjust, expand, and deepen competence through learning adapted to local and school potential, and the talents and interests of learners. However, in doing so, the diversification curriculum has not been implemented properly. Based on field studies conducted, it was found that there were some teachers who did not understand the diversification curriculum and students who did not recognize the potential of the archipelago area in several aspects. The study aimed to design a diversified curriculum based on the potential islands in south Sulawesi. The method used in the study was design and development for the findings that researchers have successfully obtained of a diversified curriculum design product based on the potential archipelago area. The design of the diversification curriculum is designed to consider two things: the framework for diversifying the design of the curriculum refers to the 2013 curriculum framework, the national education goals and national standards of education and the local content curriculum plans follow the micro curriculum steps. The study suggested local government support and a need for curriculum developers that could facilitate schools in diversified curriculum development.    Abstrak Melalui kurikulum diversifikasi diharapkan bahwa satuan pendidikan di daerah dapat menyesuaikan, memperluas, dan memperdalam kompetensi melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan potensi daerah dan sekolah, serta bakat dan minat peserta didik. Namun dalam pelaksanaannya, kurikulum diversifikasi belum dijalankan sebagaimana mestinya. Berdasarkan studi lapangan yang dilakukan ditemukan bahwa terdapat sebagian guru yang belum memahami kurikulum diversifikasi, dan siswa yang tidak mengenal potensi daerah kepulauan pada beberapa aspek. Atas permasalahan tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana mendesain kurikulum diversifikasi berdasarkan potensi daerah kepulauan di Sulawesi Selatan. Sekaligus merupakan upaya peneliti mengisi celah studi penelitian terdahulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa penelitian Design and Development (D&D). Adapun temuan yang berhasil diperoleh peneliti berupa produk desain kurikulum diversifikasi berdasarkan potensi daerah kepulauan. Desain kurikulum diversifikasi ini dirancang dengan mempertimbangkan dua hal yaitu kerangka pengembangan desain kurikulum diversifikasi mengacu pada kerangka kurikulum 2013, Tujuan Pendidikan Nasional (TPN) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan rancangan kurikulum mata pelajaran muatan lokal mengikuti langkah-langkah perancangan kurikulum mikro. Penelitian ini menyarankan adanya dukungan pemerintah daerah dan diperlukan tenaga pengembang kurikulum (TPK) yang dapat memfasilitasi sekolah dalam pengembangan kurikulum diversifikasi. Kata Kunci: Desain kurikulum; kurikulum diversifikasi; potensi daerah kepulauan
Evaluation of problem-based learning models in the integrated midwifery curriculum Ari Indra Susanti; Rani Nurparidah; Ariyati Mandiri
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63498

Abstract

Evaluation of the Problem-Based Learning (PBL) model in the integrated curriculum aims to encourage midwifery students' learning abilities, evaluate the effectiveness of learning, and test students' abilities in midwifery knowledge. This article aims to evaluate the PBL model's evaluation in the integrated midwifery curriculum. The research method uses descriptive cross-sectional. Data was collected by administering content-validated questionnaires to 113 D4 Midwifery Study Program students, and then the univariate data was analyzed descriptively. The research results showed that the majority of students rated the implementation of the tutorial method and practice with lab activities, evaluation of theoretical learning with Multiple Choice Questions (MCQ) and Structure Oral Case Assessment (SOCA), and practice evaluation using the Direct Observation of Procedural Skills (DOPS) method. Apart from that, the majority of students agree that evaluation of field practice learning (clinic/community) can improve clinical abilities and advocacy skills across sectors (56.6%), and students are satisfied with lecturers as tutors during the learning process. This research concludes that the integrated curriculum uses tutorial learning strategies with MCQ and SOCA evaluations, thereby improving clinical and cross-sector advocacy skills based on student perceptions.   Abstrak Evaluasi model Problem Based Learning (PBL) pada kurikulum terintegrasi bertujuan mendorong kemampuan belajar mahasiswa kebidanan, mengevaluasi keefektifan pembelajaran dan menguji kemampuan mahasiswa dalam pengetahuan kebidanan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi model PBL pada kurikulum kebidanan terintegrasi. Metode penelitian menggunakan deskriptif dengan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner yang telah tervalidasi content kepada 113 mahasiswa Program Studi D4 Kebidanan, kemudian data univariat dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar mahasiswa menilai baik terhadap pelaksanaan metode tutorial dan praktik dengan lab activity, evaluasi pembelajaran teori dengan Multiple Choice Question (MCQ) dan Structure Oral Case Assesment (SOCA), dan evaluasi praktik dengan metode Direct Observation of Prosedural Skills (DOPS). Selain itu, sebagian besar mahasiswa setuju terhadap evaluasi pembelajaran praktik lapangan (klinik/komunitas) dapat meningkatkan kemampuan klinis dan keterampilan advokasi pada lintas sektor, serta mahasiswa puas terhadap dosen sebagai tutor saat proses pembelajaran. Simpulan pada penelitian ini bahwa kurikulum terintegrasi menggunakan strategi pembelajaran tutorial dengan evaluasi MCQ dan SOCA sehingga meningkatkan keterampilan advokasi klinis dan lintas sektor berdasarkan persepsi mahasiswa. Kata Kunci: Evaluasi; kurikulum terintegrasi; problem-based learning
Integration of integrated Islamic school curriculum into Kurikulum Merdeka Rahmat Rahmat; Dinn Wahyudin; Laksmi Dewi
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63071

Abstract

Integrated Islamic Schools (SIT) is a unique entity specifically born in Indonesia at the same time as the Nurul Fikri Integrated Islamic Elementary School in Depok in 1993. This school model developed rapidly until 2003 when the Integrated Islamic Schools Network was declared, and more than 1000 schools were established throughout Indonesia. This research discusses the stages and layers in developing a typical curriculum for Integrated Islamic Schools. The research results show that integrated Islamic schools organize themselves, including organizing the curriculum to align with all applicable rules and regulations in Indonesia. On the other hand, it aligns with the established institutional vision. In this way, integrated Islamic schools carry out a curriculum development process. This development process is carried out through various stages and layers, namely through conceptual aspects to realize belief in the creator, aspects of subject matter containing religious knowledge (kauliyah) and worldly knowledge (kauniyah), as well as integration in implementation to create education that is academic, spiritual, ethics, and social.   Abstrak Integrated Islamic Schools merupakan entitas unik yang secara spesifik lahir di Indonesia bersamaan dengan hadirnya Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Fikri di Depok pada tahun 1993. Model sekolah ini berkembang pesat, hingga tahun 2003 saat Jaringan Integrated Islamic Schools dideklarasikan telah tercatat lebih dari 1000 sekolah berdiri di seluruh Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang tahapan dan lapisan yang dimaksud dalam konteks pengembangan kurikulum khas Integrated Islamic Schools. Hasil penelitian menunjukan bahwa sekolah islam terpadu melakukan penataan dirinya termasuk menata kurikulum agar sejalan dengan seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di Indonesia dan disisi lain sejalan dengan visi kelembagaan yang didirikan. Dengan demikian maka sekolah islam terpadu melakukan proses pengembangan kurikulum. Proses pengembangan ini dilakukan melalui berbagai tahapan dan lapisan, yaitu melalui aspek konseptual untuk mewujudkan keyakinan kepada pencipta, aspek materi pelajaran yang mengandung ilmu agama (kauliyah) maupun ilmu duniawi (kauniyah), serta integrasi dalam implementasi untuk menciptakan pendidikan yang bersifat akademis, spiritual, etika, dan sosial. Kata Kunci: Integrated Islamic Schools; kurikulum merdeka; kurikulum nasional; kurikulum terpadu; pengembangan kurikulum
Utilization of Kurikulum Merdeka to develop diversity character at Mentari Ambarawa School Rosi Tunas Karomah; Santi Fahrima; Kulsum Nur Hayati; Andi Prasetyo
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64108

Abstract

Good education races in an independent curriculum that promotes freedom in regulating learning patterns. A good education will produce good character in diversity. This study aims to analyze the results of using the independent curriculum in developing the character of diversity in children. The method used in this research is a phenomenological qualitative approach that relates to the findings. The subjects of this study were class teachers and observation to 25 students. Data collection techniques are done by observing, interviewing, and documenting. Data analysis by doing data reduction, presentation, and data verification. The results of this study indicate that the use of the independent curriculum to develop the character of diversity that has been implemented results in students becoming more polite in their actions, then adding broader insights related to diversity and full or supportive support in the implementation of other people's religious activities. The results of this study have implications related to the character of diversity which can be developed by applying independent curriculum-based teaching. And implementing an independent curriculum to form children’s character who is high intolerance   Abstrak Pendidikan yang baik berpacu pada kurikulum merdeka yang mengedepankan kebebasan dalam mengatur pola pembelajaran. Pendidikan yang baik akan menghasilkan karakter yang baik dalam keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana hasil penggunaan kurikulum mandiri dalam mengembangkan karakter keberagaman pada anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif fenomenologis yang berkaitan dengan temuan-temuan di sekitar. Subjek penelitian ini adalah guru kelas dan observasi kepada peserta didik sebanyak 25 orang. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dengan melakukan reduksi data, penyajian dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kurikulum mandiri untuk mengembangkan karakter keberagaman yang telah diterapkan menghasilkan peserta didik menjadi lebih santun dalam bertindak, kemudian menambah wawasan yang lebih luas terkait keberagaman dan dukungan penuh atau suportif dalam penerapan lainnya. kegiatan keagamaan masyarakat. Hasil penelitian ini mempunyai implikasi terkait karakter keberagaman yang dapat dikembangkan dengan menerapkan pembelajaran berbasis kurikulum mandiri. Menerapkan kurikulum merdeka untuk membentuk karakter anak yang tinggi akan toleransi Kata Kunci: Karakter kebhinekaan; karakter kesetaraan; Kurikulum Merdeka
Development of project-based learning model based on ethno-steam to improve numeracy literacy skill Haryanto Haryanto; Samsudi Samsudi; Mintarsih Arbarini
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63400

Abstract

21st-century learning is learning that prepares students to have the ability to think creatively, critically, and innovatively and master technology. This research aims to analyze and describe the development design, feasibility, and effectiveness of a project-based learning model based on ethno-steam (science, technology, engineering, mathematics, and art) to improve numeracy literacy skills. This research uses the R&D method with ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation). This research was conducted in class VIII MTsN 3 Lima Puluh Kota in mathematics. PjBL, STEAM, and Material experts have validated this learning model. The results of the expert validation obtained an average value of 91% with a very feasible category. The N-Gain results to determine the effectiveness of the ethno-STEAM-based project-based learning model to improve numeracy literacy skills obtained a value of 0.69 in the medium category. The Ethno-STEAM-based project-based learning model is classified as adequate based on the N-Gain results. Developing an ethno-STEAM-based project learning model (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) is highly recommended to be applied in mathematics learning and implementing Kurikulum Merdeka.   Abstrak Pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan berpikir kreatif, kritis, inovatif serta menguasai teknologi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan mendeskripsikan desain pengembangan, menganalisis dan mendeskripsikan kelayakan serta menganalisis dan mendeskripsikan efektivitas pembelajaran project-based learning model based ethno-steam (sains teknologi teknik seni matematika) dalam meningkatkan kemampuan literasi numerasi. Penelitian ini menggunakan metode R&D dengan ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation).Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII MTsN 3 Lima Puluh Kota pada mata pelajaran matematika. Model pembelajaran ini telah divalidasi oleh ahli PjBL, ahli STEAM dan ahli Materi. Hasil validasi ahli tersebut memperoleh nilai rata-rata sebesar 91% dengan kategori sangat layak. Hasil N-Gain untuk mengetahui keefektifan model project-based learning berbasis ethno-STEAM untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasi memperoleh nilai sebesar 0,69 dengan kategori sedang. Berdasarkan hasil N-Gain penggunaan model project-based learning berbasis Ethno-STEAM tergolong efektif Pengembangan model pembelajaran proyek berbasis etno-STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) sangat dianjurkan untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika, khususnya dalam menyambut kurikulum merdeka. Kata Kunci: Etno-STEAM; literasi numerasi; model pembelajaran berbasis proyek