cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Authentic assessment in intensive training (bootcamp) of higher education students as well as feedback on the learning experience process Taopik Barkah
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v21i1.61020

Abstract

Authentic assessment in competency-based education should create opportunities that allow students to integrate learning and practice, resulting in mastery of the professional skills students will need in their future workplaces. Authentic assessment provides students with opportunities to engage in authentic tasks to develop, use and expand their knowledge, higher-order thinking and digital skills competencies. The role of authentic assessment in intensive training (Bootcamp) can prepare learners to improve their ability to be ready to practice when in the world of work based on tasks undertaken after completing a program in higher education. This study aims to describe the authentic form of assessment as an evaluation process used in intensive training (Bootcamp) for students to describe feedback on the Bootcamp learning experience process as consideration for improvement in the implementation of the next program. The author uses a descriptive method to provide an overview of the phenomenon studied through a literature study of existing documents. Authentic assessment activities in Bootcamp learning activities for each session per day ended with the assignment of a project called "Challenge" which was group in nature and was carried out for approximately two weeks, students were asked to express what they had understood and done during the project. Students can also give/convey feedback to each other. This is done so students can understand the material better and develop their skills.   Abstrak Penilaian otentik dalam pendidikan berbasis kompetensi harus menciptakan peluang yang memungkinkan mahasiswa untuk mengintegrasikan pembelajaran dan praktik, menghasilkan penguasaan keterampilan profesional yang akan dibutuhkan mahasiswa di tempat kerja masa depan mereka. Tujuan dari penilaian otentik adalah untuk memberikan mahasiswa kesempatan untuk terlibat dalam tugas-tugas otentik untuk mengembangkan, menggunakan dan memperluas pengetahuan mereka, keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan digital. Peran penilaian autentik dalam pelatihan intensif (Bootcamp) dapat mempersiapkan mahasiswa untuk meningkatkan kemampuannya untuk siap mempraktikkan ketika dalam lingkup dunia kerja berdasarkan tugas-tugas yang dikerjakan setelah menyelesaikan program di pendidikan tinggi. Tujuan studi ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk penilaian otentik sebagai proses evaluasi yang digunakan dalam pelatihan intensif (Bootcamp) bagi mahasiswa, mendeskripsikan umpan balik terhadap proses pengalaman pembelajaran Bootcamp sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan pada pelaksanaan program berikutnya. Penulis menggunakan metode deskriptif untuk bertujuan memberikan gambaran tentang fenomena yang sedang dikaji melalui studi literatur terhadap dokumen-dokumen yang telah ada. Kegiatan penilaian otentik dalam kegiatan pembelajaran Bootcamp untuk setiap sesi per harinya diakhiri dengan pemberian penugasan proyek dengan sebutan challenge atau penugasan yang mengharuskan peserta untuk mengungkapkan apa saja yang telah mereka pahami dan lakukan selama proyek berlangsung. Sehingga mahasiswa dapat saling memberi/menyampaikan umpan balik kepada satu sama lain. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat memahami materi dengan lebih baik dan mengembangkan keterampilannya. Kata Kunci: Pelatihan intensif; pengalaman pembelajaran; penilaian otentik
Parental problems in early children's education in the digital era Navy Ana Saputri; Hayani Wulandari
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64115

Abstract

This research explores the challenges and parenting patterns in early childhood education in the digital era. With rapid technological advancements, parents play a crucial role in guiding their children through new dynamics. The literature review highlights the importance of a balanced parental approach, providing attention and affection while adapting to technological advancements. Employing a quantitative approach with a cross-sectional design, the study investigates parental issues and technology's impact on early childhood development. Data on technology use, screen time limits, allowed content types, and parental educational strategies were collected and statistically analyzed through a structured questionnaire. The research findings reflect diverse parental views on technology use, with the majority acknowledging its benefits but expressing concerns about potential negative impacts. The conclusion underscores the significance of active collaboration between parents, educators, and the community to create a balanced educational environment in the digital era. The proposed solution involves enhancing parental understanding and fostering intensive collaboration to develop a holistic approach to technology use in early childhood education.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggali permasalahan dan pola pengasuhan orangtua dalam pendidikan anak usia dini di era digital. Dengan pertumbuhan teknologi yang pesat, peran orangtua dalam membimbing anak-anak mereka menghadapi dinamika baru. Tinjauan literatur menyoroti pentingnya pendekatan orangtua yang seimbang dalam memberikan perhatian dan kasih sayang, sambil menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan desain lintas-seksi untuk mengeksplorasi masalah orang tua dan dampak penggunaan teknologi pada perkembangan anak usia dini. Melalui penggunaan kuesioner terstruktur, data terkait penggunaan teknologi, batasan waktu layar, jenis konten yang diperbolehkan, dan strategi pendidikan orangtua dikumpulkan dan dianalisis secara statistik. Hasil penelitian mencerminkan keragaman pandangan orangtua tentang penggunaan teknologi, dengan sebagian besar mengakui manfaatnya tetapi juga mengekspresikan kekhawatiran terhadap dampak negatifnya. Kesimpulan menyoroti pentingnya kolaborasi aktif antara orangtua, pendidik, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang seimbang di era digital, dengan solusi yang melibatkan pemahaman yang lebih baik oleh orangtua dan kerja sama intensif untuk menciptakan pendekatan holistik terhadap penggunaan teknologi dalam pendidikan anak usia dini. Keywords: Era digital; gawai; pola pengasuhan
Developing an animation video for earthquake mitigation education for elementary school students Novita Nirmala; Nurmida Catherine Sitompul; Meini Sondang Sumbawati
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64853

Abstract

Earthquakes cause damage and often cause casualties, where 30% of the victims are children and adolescents. Earthquake mitigation education should be conducted to improve earthquake literacy in children. The National Search and Rescue Agency organizes an education program to provide knowledge on natural disaster mitigation facilitated by instructors who give PowerPoint-assisted lectures. This delivery strategy is ineffective because earthquake mitigation content must visualize earthquake events and emergency responses. Experts determined the most effective video-based media for earthquake mitigation, so animated videos needed to be developed for this program. This study aims to develop an animated video of earthquake mitigation when it occurs in elementary schools. Products are developed with the ADDIE model. The instrument consists of a questionnaire containing criteria on the Likert scale. The analysis technique uses percentages. Animated videos developed are considered feasible as instructional media by experts. Field trials of elementary school students showed that almost all students could give the correct disaster mitigation.    Abstrak Peristiwa gempa bumi mengakibatkan kerusakan dan sering mendatangkan korban jiwa, dimana 30% diantara korban adalah anak-anak dan remaja. Pendidikan mitigasi gempa bumi harus dilakukan untuk meningkatkan literasi gempa bumi pada anak-anak. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan menyelenggarakan program Pendidikan untuk memberikan pengetahuan mitigasi bencana alam yang difasilitasi oleh para instruktur dengan memberikan ceramah berbantuan power point. Strategi penyampaian ini tidak efektif karena konten mitigasi gempa bumi harus memvisualisasikan kejadian gempa dan tanggap darurat. Para pakar menetapkan media berbasis video yang paling efektif untuk mitigasi gempa bumi sehingga video animasi perlu dikembangkan untuk program ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan video animasi mitigasi gempa bumi bila terjadi di sekolah dasar. Produk dikembangkan dengan model ADDIE. Instrumen terdiri atas kuesioner yang berisikan kriteria-kriteria dalam skala Likert. Teknik analisis menggunakan persentase. Video animasi yang telah dikembangkan dinilai layak sebagai media pembelajaran oleh sejumlah pakar. Uji coba lapangan kepada para siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa hampir semua siswa dapat memberikan jawaban yang benar dan siswa dapat memberikan contoh-contoh tanggap darurat. Video animasi ini layak dan efektif dipakai sebagai media pendidikan mitigasi bencana gempa bumi untuk siswa sekolah dasar. Kata Kunci: Media pembelajaran; mitigasi gempa bumi; siswa sekolah dasar; video animasi
Technology in listening and writing learning for BIPA learners Hazhiyah Fildzah Nurramdhani; Nuny Sulistiany Idris; Ida Widia
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65481

Abstract

This research discusses the use of technology in BIPA learning, with a particular focus on listening and writing skills. This research will explore how technology can improve BIPA students' listening and writing skills. By understanding the potential and challenges of using technology in BIPA learning, it is hoped that this research will contribute to developing more effective learning methods in the BIPA context. This research method uses a descriptive qualitative design. This is based on research data in the form of the results of filling out a questionnaire, and the researcher acts as the main instrument. It was found that, on average, BIPA teachers have used technology in BIPA learning, especially for listening and writing. In the context of BIPA learning, technology has proven to be an effective tool for improving BIPA students' listening and writing skills. Technology also positively influences BIPA learning, especially when it can make learning more exciting and varied. Learners have rich exposure and experience of languages used today. However, the research results also show that the use of technology in BIPA learning also has challenges, barriers, and obstacles.   Abstrak Penelitian ini membahas tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran BIPA, dengan fokus khusus pada keterampilan menyimak dan menulis. Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan keterampilan menyimak dan menulis siswa BIPA. Dengan memahami potensi dan tantangan penggunaan teknologi dalam pembelajaran BIPA, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi penting dalam pengembangan metode pembelajaran yang lebih efektif dalam konteks BIPA. Metode penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif. Hal ini didasarkan pada data penelitian berupa hasil pengisian angket dan peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengajar BIPA telah menggunakan teknologi dalam pembelajaran BIPA, terutama untuk menyimak dan menulis. Dalam konteks pembelajaran BIPA, teknologi terbukti menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kemampuan menyimak dan menulis siswa BIPA. Teknologi juga memberikan pengaruh positif dalam pembelajaran BIPA, terutama ketika teknologi dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bervariasi. Para pembelajar memiliki eksposur dan pengalaman yang kaya akan bahasa yang digunakan saat ini. Namun, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran BIPA juga memiliki tantangan, hambatan, dan rintangan tersendiri. Kata Kunci: BIPA; menulis; menyimak; pembelajaran; teknologi
Ancient sites as ethnomathematics for strengthening Profil Pelajar Pancasila in Malang Wikan Budi Utami; Sri Hariyani; Fikri Aulia
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65091

Abstract

This study aims to determine the effectiveness of learning mathematics using ancient sites as a source of learning and to raise students' awareness of protecting and preserving ancient sites. The research design used was the pre and post-test group design with two groups. The experimental and control groups will be given a pretest before treatment and a posttest after treatment. The population used was 148 grade IV elementary school students, and the sample used was 120 people consisting of 60 experimental class students and 60 control class students. Data analysis in this study used statistical data processing software IBM SPSS version 27. Based on the summary of the independent t-test results, the value of Sig. (2-tailed) on the post-test data is <0.001. This value is smaller than the specified significance level of 0.05. This means that the averages of the experimental and control groups at the post-test were significantly different. The results showed that the archaeological site of Singosari temple can be used as a source of learning mathematics for elementary schools and can increase students' understanding of the preservation of ancient sites as a form of strengthening the Profil Pelajar Pancasila.   Abstrak Penelitian ini mengungkap keefektifan pembelajaran matematika dengan menggunakan situs purbakala sebagai sumber belajar serta meningkatkan kesadaran siswa untuk menjaga dan melestarikan situs purbakala. Desain penelitian yang digunakan adalah pre and posttest group design dengan dua kelompok. Kelompok eksperimen dan kontrol akan diberikan pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah perlakuan design dengan dua kelompok. Kelompok eksperimen dan kontrol akan diberikan pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah perlakuan. Populasi yang digunakan sebanyak 148 siswa sekolah dasar kelas IV dan sampel yang digunakan sebanyak 120 orang yang terdiri dari 60 siswa kelas eksperimen dan 60 siswa kelas kontrol. Analisis data pada penelitian ini menggunakan software pengolah data statistik IBM SPSS versi 27. Berdasarkan rangkuman hasil uji t independen diperoleh nilai Sig. (2-tailed) pada data posttest <0,001. Nilai ini lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditentukan yaitu 0,05. Artinya rata-rata kelompok eksperimen dan kontrol pada saat posttest berbeda secara signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs arkeologi Candi Singosari dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran matematika untuk sekolah dasar dan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelestarian situs purbakala sebagai bentuk penguatan profil siswa Pancasila. Kata Kunci: Ethnomathematic; Profil Pelajar Pancasila; situs purbakala; sumber belajar
Optimization of Kurikulum Merdeka through differentiated learning: Effectiveness and implementation strategy Umi Nahdhiah; Oktaviani Adhi Suciptanigsih
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65069

Abstract

The implementation of Kurikulum Merdeka presents differentiated learning. Some challenges in implementing differentiated learning are teachers' expertise and insufficient resources. Moreover, the execution of Kurikulum Merdeka at all education levels often perplexes many teachers. Meanwhile, the literature findings indicate that there is still minimal research related to differentiated learning, emphasizing the need for studies on the impact of differentiated approaches. This study aims to explain the implementation strategy of differentiated learning and review its effectiveness in learning Kurikulum Merdeka. This research uses a qualitative descriptive approach with a literature review method. Data is obtained from articles and publications that align with the writing topic. The finding of this study is that differentiation learning is implemented through the differentiation of content, processes, products, and environments. Differentiated teaching, assessment, and learning activities should accommodate diverse student learning styles, interests, and readiness levels. Differentiated learning can be effectively applied to learning. Differentiated learning has a positive effect on learning in terms of learning outcomes and learning processes. Differentiated learning can improve student academic achievement, positively affecting student motivation, participation, independence, learning concentration, self-confidence, and understanding of the material.   Abstrak Implementasi kurikulum merdeka menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi. Beberapa tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah keahlian guru dan keterbatasan sumber daya. Terlebih lagi, penerapan Kurikulum Merdeka di semua jenjang pendidikan seringkali membingungkan banyak guru. Sementara itu, temuan literatur menunjukkan masih minimnya penelitian terkait pembelajaran berdiferensiasi, sehingga menekankan perlunya kajian mengenai dampak pendekatan berdiferensiasi. Tujuan penelitian ini ialah menjelaskan bagaimana strategi implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan meninjau efektivitasnya dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka. Penelitian ini memakai pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode literature review. Data diperoleh dari artikel maupun publikasi lain yang selaras dengan topik tulisan. Temuan penelitian ini ialah pembelajaran diferensiasi diimplementasikan melalui diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan. Pengajaran, penilaian, dan aktivitas pembelajaran berdiferensiasi harus mengakomodasi keragaman gaya belajar, minat, dan tingkat kesiapan siswa. Pembelajaran berdiferensiasi efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi berpengaruh positif dalam pembelajaran dari segi hasil belajar maupun proses belajar. Pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan prestasi akademik siswa, memberikan pengaruh positif terhadap motivasi, partisipasi, kemandirian, konsentrasi belajar, rasa percaya diri, dan pemahaman materi siswa. Kata Kunci: Efektivitas: Kurikulum Merdeka; pembelajaran berdiferensiasi; strategi
QR-codes in English textbook: Improving listening and speaking skills Ni’matul Izza; Henry Praherdhiono; Yerry Soepriyanto
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65117

Abstract

This quantitative study examines the impact of implementing QR codes in English textbooks on students' listening and speaking skills. This study used a quasi-experimental design with pre-tests and post-tests within experimental and control classes to evaluate the effectiveness of QR-code content in improving language skills. Sixty students in an Islamic elementary school as the participants will be randomly assigned to an experimental class and a control class. The experimental class used an English textbook published by Erlangga, which is enriched with a QR code connected to multimedia resources for listening and interactive exercises for speaking practice. The control class used a traditional textbook without a QR code. The assessments for both groups will include pre-and post-assessments to evaluate the changes in their listening and speaking skills. The T-test is conducted to determine the significance of the improvement in the experimental class compared to the control class. The study revealed statistically significant improvements in listening and speaking skills among students exposed to QR-code content in English textbooks.   Abstrak Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk menguji dampak penerapan kode QR dalam buku pelajaran Bahasa Inggris terhadap keterampilan mendengarkan dan berbicara siswa. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pre-test dan post-test dalam kelas eksperimen dan kontrol untuk mengevaluasi efektivitas konten kode QR dalam meningkatkan keterampilan berbahasa. 60 siswa di sebuah sekolah dasar Islam sebagai partisipan akan secara acak ditugaskan ke dalam kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen menggunakan buku pelajaran Bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Erlangga yang diperkaya dengan kode QR yang terhubung dengan sumber daya multimedia untuk latihan mendengarkan dan latihan berbicara interaktif. Kelas kontrol menggunakan buku pelajaran tradisional tanpa kode QR. Evaluasi untuk kedua kelompok akan mencakup pre-test dan post-test untuk mengevaluasi perubahan dalam keterampilan mendengarkan dan berbicara mereka. Uji T dilakukan untuk menentukan signifikansi peningkatan dalam kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan secara statistik dalam keterampilan mendengarkan dan berbicara di antara siswa yang menggunakan konten kode QR dalam buku pelajaran Bahasa Inggris dari pada siswa yang pembelajarannya secara konvensional. Kata Kunci: Kode QR; Sekolah Dasar; Listening; Speaking
Identification of curriculum and empirical needs for the writing BIPA 4 GBL model Dewi Suharyanti; Suci Sundusiah; Halimah Halimah
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65868

Abstract

As a skill that experts place at the highest level in language acquisition, writing skills become considered the most difficult. BIPA level 4 is the initial level of complex writing according to the SKL BIPA Permendikbud No. 27 of 2017. Writing skills considered difficult should be packaged with a fun and meaningful learning model, one of which is developing a Game-based Learning model. Identifying curriculum and empirical needs is the initial stage carried out in developing Game-based Learning. This research aims to identify the curriculum and syllabus of BIPA 4 writing, which aligns with identifying empirical learning needs through field studies of BIPA teachers at home and abroad. The results showed that argumentation text is the most challenging text to learn, while the most accessible text to learn is persuasion text. In terms of grammar, the affixes me-kan, ke-an, and ter- are the most difficult languages to learn, while the most accessible grammar to learn is sentence expansion, conjunctions, rephrases, and technical terms. The results also found that BIPA 4 learners need to read texts related to Indonesian insights, including culinary, biodiversity, culture, local wisdom, and tourism.   Abstrak Keterampilan menulis sebagai keterampilan yang ditempatkan para ahli pada tataran paling tinggi dalam pemerolehan bahasa menjadi sebuah keterampilan yang dianggap paling sulit. Jenjang BIPA 4 merupakan jenjang awal pembelajaran menulis yang kompleks menurut Standar Kompetensi Lulusan BIPA Permendikbud No. 27 Tahun 2017. Keterampilan menulis yang dianggap sulit sebaiknya dikemas dengan model pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, salah satunya dengan mengembangkan model pembelajaran berbasis game edukasi atau Game-based Learning. Identifikasi kurikulum dan kebutuhan empiris di lapangan merupakan tahap awal yang dilakukan dalam pengembangan Game-based Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kurikulum dan silabus menulis BIPA 4 yang kemudian diselaraskan dengan identifikasi kebutuhan pembelajaran secara empiris melalui studi lapangan terhadap pengajar BIPA di dalam dan luar negeri. Hasil penelitian didapatkan bahwa teks argumentasi merupakan teks yang paling sulit dipelajari sedangkan teks yang paling mudah dipelajari adalah teks persuasi. Dari segi kebahasaan, imbuhan me-kan, ke-an, dan ter- merupakan kebahasaan yang paling sulit dipelajari sedangkan kebahasaan yang paling mudah dipelajari adalah perluasan kalimat, kata hubung, kata ulang dan istilah teknis. Hasil penelitian juga menemukan bahwa pemelajar BIPA 4 memerlukan teks-teks bacaan yang berkaitan dengan wawasan nusantara atau wawasan ke-Indonesiaan, di antaranya yaitu kuliner, keanekaragaman hayati, budaya, kearifan lokal dan wisata. Kata Kunci: BIPA 4; GBL; identifikasi kurikulum; kebutuhan pembelajaran empiris; keterampilan menulis
Foundations of Kurikulum Merdeka development in elementary education (from a philosophical perspective) Abdul Rahman; Babang Robandi
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65859

Abstract

The mismatch of philosophical foundations often causes the ineffectiveness of curriculum implementation. Ideally, the philosophical basis of a curriculum guides its implementation direction. This research examines the philosophical foundation for developing primary education curricula, particularly the Kurikulum Merdeka. The method employed Library Research by sourcing data from nationally and internationally indexed journals. This study is crucial to understanding the philosophical basis underlying the "Kurikulum Merdeka" in primary education. Findings reveal diverse approaches in the learning process, reinforcement of specific values, and a unique focus in preparing students for complex societal life. The Kurikulum Merdeka in basic education is based on various philosophical schools ranging from idealism, realism, pragmatism, existentialism, and perennialism to progressivism, reconstructivism, postmodernism, and humanism in education to create a learning environment that is diverse, responsive, and relevant for students' overall development. By applying these streams, the curriculum aims to create a responsive and holistic learning platform that caters to students' needs in this ever-evolving era.   Abstrak Ketidakefektifan implementasi kurikulum sering kali disebabkan oleh ketidaksesuaian landasan filosofi yang digunakan. Landasan filosofi sebuah kurikulum memperjelas arah implementasinya. Penelitian ini bertujuan mengamati landasan filosofis yang digunakan dalam pengembangan kurikulum pendidikan dasar, khususnya Kurikulum Merdeka. Metode pada penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan pengambilan data dari jurnal yang terindeks nasional dan internasional yang memiliki kaitan dengan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini penting untuk memahami dasar filosofis yang melandasi Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar. Hasilnya menunjukkan beragam pendekatan dalam proses pembelajaran, penguatan nilai-nilai khusus, dan fokus unik dalam mempersiapkan siswa menghadapi masyarakat yang kompleks. Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar didasarkan pada berbagai aliran filsafat mulai dari idealisme, realisme, pragmatisme, eksistensialisme, perenialisme, hingga progresivisme, rekonstruktivisme, postmodernisme, dan humanisme dalam pendidikan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang beragam, responsif, dan relevan bagi perkembangan siswa secara menyeluruh. Dengan menerapkan aliran-aliran ini, kurikulum tersebut bertujuan menciptakan platform pembelajaran yang responsif dan holistik bagi kebutuhan siswa di era yang terus berkembang. Kata Kunci: Landasan filosofis; pengembangan kurikulum; pendididkan dasar
Relationship between intelligence quotient (IQ) level and learning motivation for psychology students Imam Dedikasi Malik Nur; Eva Meizara Puspita Dewi; Adinda Berliana Apriliyanti; Andi Tasya Alifya Ahsan
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63667

Abstract

One of the many factors that supports student achievement is IQ (Intelligence Question). This study aimed to find out the relationship between intellectual ability (IQ) and the learning motivation of psychology students. The research method used is a non-experimental quantitative method and a statistical analysis approach using correlational analysis supported by SPSS version 26.0. Based on the research results, there is a significant relationship between IQ and Learning Motivation. Based on the Sig. (2-tailed) is 0.841, so it is more significant than 0.05, so there is no relationship between high IQ and learning motivation. The level of closeness of the relationship is -0.010, which, if confirmed by the correlation category, is below 0.020, which means the relationship is very low. This means there is no guarantee that the motivation to learn is high if IQ is high. Looking at the direction of the relationship, namely negative, it means that the higher a person's IQ, the lower the learning motivation. Thus, it can be concluded that the relationship formed between IQ test results and learning achievement is a low or weak but sure relationship. So, it can be said that there is no positive relationship between Intellectual Intelligence (IQ) and student learning motivation by looking at the significant relationship between IQ and learning motivation.   Abstrak Dalam sekian banyak faktor yang menjadi Salah satu penunjang prestasi s iswa adalah IQ (Intelligence Question). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara kemampuan intelektual (IQ) dengan motivasi belajar mahasiswa baru Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar angkatan 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif non eksperimental dan pendekatan analisis statistik menggunakan analisis korelasional yang didukung SPSS versi 26.0. Berdasarkan hasil penelitian Melihat adanya hubungan yang signifikan antara IQ dengan Motivasi Belajar. Berdasarkan Sig. (2-tailed) sebesar 0,841 sehingga lebih besar dari 0,05 sehingga tidak ada hubungan antara IQ tinggi dengan motivasi belajar. Melihat tingkat keeratan hubungannya sebesar -0,010 yang jika dikonfirmasi dengan kategori korelasi yang berada di bawah 0,020 berarti hubungannya sangat rendah. Artinya tidak ada jaminan jika IQ tinggi maka motivasi belajar pun tinggi. Dilihat dari arah hubungannya yaitu negatif artinya semakin tinggi IQ seseorang maka semakin rendah motivasi belajarnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan yang terbentuk antara hasil tes IQ dengan prestasi belajar adalah hubungan yang rendah atau lemah tetapi pasti. Jadi dapat dikatakan tidak terdapat hubungan yang positif antara Kecerdasan Intelektual (IQ) dengan motivasi belajar siswa dengan melihat adanya hubungan yang signifikan antara IQ dengan motivasi belajar. Kata Kunci: Mahasiswa Psikologi, Motivasi Belajar, Tingkat Kecerdasan (IQ)