cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Analyzing Platform Merdeka Mengajar utilization in high school teachers in Jakarta Elsa Kurnia Hudiana; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.76185

Abstract

This study analyzes the utilization of the Platform Merdeka Mengajar by 5.046 teachers across 117 public high schools in Jakarta, aiming to evaluate the extent to which the platform is used by teachers in supporting the implementation of the Kurikulum Merdeka. The central research question is: To what extent do public high school teachers in Jakarta utilize the Platform Merdeka Mengajar to support the implementation of the Kurikulum Merdeka? Using a quantitative descriptive method, secondary data from the platform's dashboard were analyzed, focusing on three metric levels that measure activities such as independent training, teaching tools, assessments, and validated teacher actions. The findings reveal that independent training videos and teaching tools are the most frequently used features, reflecting their accessibility and relevance to teachers' professional needs. However, features such as webinars and validated actual actions show lower levels of participation, indicating a need for improvement in utilizing these features. This study concludes that the Platform Merdeka Mengajar holds great potential to support teacher professional development and the implementation of the Kurikulum Merdeka. However, further efforts are needed to enhance the use of underutilized features and adjust content to meet teachers' needs better.   Abstrak Penelitian ini menganalisis pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar oleh 5.046 guru di 117 SMA negeri di Jakarta, dengan tujuan untuk mengevaluasi sejauh mana platform tersebut digunakan oleh guru dalam mendukung penerapan Kurikulum Merdeka. Pertanyaan utama penelitian ini adalah: Sejauh mana pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar oleh guru SMA Negeri di Jakarta dalam mendukung penerapan Kurikulum Merdeka? Menggunakan metode deskriptif kuantitatif, data sekunder dari dashboard platform dianalisis, dengan fokus pada tiga level metrik yang mengukur aktivitas seperti pelatihan mandiri, alat pembelajaran, asesmen, dan tindakan nyata yang tervalidasi oleh guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur video pelatihan mandiri dan alat pembelajaran merupakan fitur yang paling banyak digunakan, mencerminkan aksesibilitas dan relevansinya dengan kebutuhan profesional guru. Namun, fitur seperti webinar dan tindakan nyata yang tervalidasi menunjukkan tingkat partisipasi yang lebih rendah, yang mengindikasikan perlunya peningkatan dalam pemanfaatan fitur-fitur tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Platform Merdeka Mengajar memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan profesional guru dan penerapan Kurikulum Merdeka, tetapi perlu upaya lebih untuk meningkatkan pemanfaatan fitur yang kurang digunakan dan menyesuaikan konten agar lebih sesuai dengan kebutuhan guru. Kata Kunci: impelementasi kurikulum; guru sekolah menengah atas; Kurikulum Merdeka; platform merdeka mengajar; PMM
Analysis of creative thinking ability in implementing the PBM-B3 Model Monalisa Sinaga; Bornok Sinaga; Waminton Rajagukguk
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.73719

Abstract

Indonesian students' low creative thinking ability at both international and national levels highlights the need for further efforts to improve the quality of mathematics education in Indonesia. This research aims to describe the level of students' mathematical creative thinking abilities and students' difficulties in completing students' mathematical creative thinking ability tests after implementing the Batak Culture Problem-Based Mathematics Learning model (PBM-B3). This research is a qualitative descriptive research. The subjects of this research were fourth-grade students at SD Negeri 030280 Sidikalang. In contrast, the object of this research was the ability to think creatively in mathematics in applying the PBM-B3 model. The research results indicate that students' mathematical creative thinking abilities improved after implementing the PBM-B3 model compared to conventional methods. Most students fall into the medium category, while very high, high, and low categories represent smaller percentages. Indicator analysis shows fluency in the high category, flexibility and elaboration in the medium category, and originality in the low category. Students in the very high category excelled across all indicators. In contrast, those in the high category faced difficulties with principles, while those in the medium and low categories struggled with principles and procedures.   Abstrak Rendahnya kemampuan berpikir kreatif peserta didik Indonesia di tingkat internasional maupun nasional menyoroti perlunya upaya lebih lanjut dalam meningkatkan kualitas pendidikan Matematika di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik dan kesulitan peserta didik dalam menyelesaikan tes kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik setelah pelaksanaan model Pembelajaran Matematika Berdasarkan Masalah Berbasis Budaya Batak (PBM-B3). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IV SD Negeri 030280 Sidikalang, sedangkan objek dalam penelitian ini adalah kemampuan berpikir kreatif matematis dalam penerapan model PBM-B3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik meningkat setelah penerapan model PBM-B3 dibandingkan pembelajaran konvensional. Sebagian besar peserta didik berada pada kategori sedang, sementara kategori sangat tinggi, tinggi, dan rendah memiliki persentase yang lebih kecil. Analisis indikator menunjukkan kelancaran berada pada kategori tinggi, fleksibilitas dan elaborasi di kategori sedang, serta orisinalitas di kategori rendah. Peserta didik kategori sangat tinggi unggul dalam semua indikator, sedangkan kategori tinggi mengalami kesulitan pada prinsip, dan kategori sedang serta rendah mengalami kesulitan pada prinsip dan prosedur. Kata Kunci: budaya Batak; kemampuan berpikir kreatif; PBM-B3; pembelajaran Matematika berbasis masalah
The ethnographic study of teacher experiences in implementing the Madrasah Ibtidaiyah Kuttab Al-Fatih curriculum Nor Hapipah; Shaleh Shaleh
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.66070

Abstract

This research was motivated by public unrest related to the main problem of education recently, namely the rampant violence among elementary school students. Multicultural-based character education is an alternative solution for forming a polite and respectful character for children that needs to be instilled early. This kind of character-building has been done at Madrasah Ibtidaiyah Kuttab Al-Fatih. The purpose of this study is to explore the experience of teachers in Madrasah Kuttab Al-Fatih to shape the character of polite students. This research uses a qualitative ethnographic approach, combining in-depth interview data with relevant references. Data analysis techniques are carried out in stages: data collection, reduction, data presentation, conclusion drawing, and verification. The study results showed that teachers' experience implementing the Kuttab Al-Fatih curriculum in schools is clearer. The learning objectives are supported where, using this curriculum, teachers do not only teach properly. The curriculum is mushrooming now, but in this curriculum, teachers must also provide examples of attitudes as the Prophet exemplified. Teachers teach by delivering material and ensuring every student can apply what is obtained during the learning process. Students have good morals not only in school but in the family and community environment as a result of the curriculum that has existed in the era of Prophet Muhammad SAW. Cultivating character in students is easier because the role of educating is not only a teacher but there is cooperation between teachers and parents.    Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keresahan masyarakat terkait permasalahan utama pendidikan akhir-akhir ini, yaitu maraknya tindak kekerasan di kalangan peserta didik sekolah dasar. Pendidikan karakter berbasis multikultural menjadi alternatif Solusi bagi pembentukan karakter yang santun dan saling menghormati bagi anak yang perlu ditanamkan sejak dini. Pembentukan karakter seperti ini telah dilakukan pada Madrasah Ibtidaiyah Kuttab Al-Fatih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pengalaman guru pada Madrasah Kuttab Al-Fatih dalam Upaya membentuk karakter peserta didik yang santun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif etnografi, yang mengombinasikan data hasil wawancara mendalam dengan berbagai referensi yang relevan. Teknik analisis data dilakukan dengan tahapan: pengumpulan data, pengurangan, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ditemukan bahwa: Pengalaman guru saat diterapkannya kurikulum Kuttab Al-Fatih di sekolah lebih jelas dan transparannya tujuan pembelajaran di mana pada penggunaan kurikulum ini guru tidak hanya mengajar selayaknya kurikulum yang menjamur sekarang tetapi pada kurikulum ini guru juga dituntut dapat memberikan contoh sikap sebagaimana Rasulullah contohkan dan guru mengajar tidak hanya menyampaikan materi tetapi sampai memastikan setiap peserta didik dapat menerapkan apa yang didapatkan selama proses pembelajaran berlangsung. Serta peserta didik memiliki akhlak yang baik tidak hanya disekolah tetapi sampai di lingkungan keluarga dan masyarakat inilah hasil dari kurikulum yang sudah pernah ada di zaman Rasulullah Muhammad SAW. Penanaman karakter pada peserta didik lebih mudah sebab yang berperan mendidik tidak hanya seorang guru tetapi ada kerja sama antara guru dan orang tua. Kata Kunci: etnografi; kurikulum; Kuttab Al-Fatih curriculum; pengalaman guru
The effect of anti-corruption character education on educational integrity Aida Ratna Zulaiha; Asep Herry Hernawan; Laksmi Dewi
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.77126

Abstract

Anti-corruption character education is a strategic effort to create a generation with integrity. This study analyzes the outcomes of anti-corruption character education in formal education in Indonesia, focusing on honesty, responsibility, discipline, and independence. A survey conducted via WhatsApp Blast, CAWI, and CAPI, involving 57,611 students, university students, teachers, lecturers, and education personnel from 3,098 educational institutions, was carried out. The results indicate that students demonstrate a higher level of honesty in terms of not lying and cheating, while university students exhibit a higher level of honesty in terms of not falsifying data. Students display higher levels of responsibility and discipline compared to university students. Regarding independence, university students show lower results in terms of completing assignments without assistance, managing time effectively, and initiating tasks. This study highlights the crucial role of teachers, lecturers, school principals, and university leaders as role models in fostering these values. However, the role modeling of school principals and university leaders is relatively low, emphasizing the need for enhanced leadership integrity within educational institutions. This study underscores the importance of strengthening role modeling, integrating character values into the curriculum, improving the integrity of the education ecosystem, and promoting collaboration to create a generation with integrity.   Abstrak Pendidikan karakter antikorupsi merupakan upaya strategis untuk menciptakan generasi yang berintegritas. Penelitian ini menganalisis outcome dari pendidikan karakter anti-korupsi pada pendidikan formal di Indonesia, dengan fokus pada kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian. Survei melalui WhatsApp Blast, CAWI dan CAPI melibatkan 57.611 siswa, mahasiswa, guru, dosen dan tenaga kependidikan, dari 3.098 satuan pendidikan Hasilnya menunjukkan kejujuran siswa lebih baik pada aspek tidak berbohong dan tidak curang, sedangkan mahasiswa lebih baik pada aspek tidak memalsukan. Siswa memiliki tanggung jawab dan disiplin yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa. Terkait kemandirian, mahasiswa menunjukkan hasil lebih rendah dalam menyelesaikan tugas tanpa bantuan, mengatur waktu secara efektif, dan menunjukkan inisiatif dalam memulai pekerjaan. Penelitian ini menyoroti peran penting guru, dosen, kepala sekolah dan pimpinan universitas sebagai teladan dalam menumbuhkan nilai-nilai tersebut, namun, keteladanan kepala sekolah dan pimpinan universitas relatif rendah, menekankan perlunya peningkatan integritas kepemimpinan dalam lembaga pendidikan. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya memperkuat keteladanan, mengintegrasikan nilai-nilai karakter pada kurikulum, meningkatkan integritas ekosistem pendidikan, dan mendorong kolaborasi untuk menciptakan generasi berintegritas. Kata Kunci: Antikorupsi; pendidikan karakter; integritas; keteladanan
Implementation of Kirkpatrick Model in Boarding Training Evaluation at BBPVP Bandung Ellina Rienovita; Aqsha Azelta Ragawaluya; Zainal Arifin
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.62055

Abstract

Training as a competency improvement activity requires evaluation to determine the program's effectiveness. This research is to analyze the evaluation of boarding member-based training programs using the Kirkpatrick model at level I (reaction) and level II (learning). This research uses a quantitative approach with descriptive methods. Data collection techniques were carried out by meansprogram's effectiveness of observation, questionnaires, and documentation studies. The population was 192 participants who participated in stage I training at BBPVP Bandung, and the sample used was 32 boarding participants from the ICT vocational. Data analysis using descriptive quantitative in the form of percentages. This study's findings are the reaction level of boarding participants during training in the ICT vocational program at BBPVP Bandung in the “Good” category. However, some participants were dissatisfied with the services of the organizing committee, which were not responsive and solutive and provided inadequate facilities for less skilled instructors. Judging from the learning outcomes, participants experienced an increase, so participants were said to be competent and received certificates. There is a negative impact, namely the many rules that psychologically make some boarding participants feel unfree and burdened because they cannot adapt to their environment.   Abstrak Pelatihan sebagai kegiatan peningkatan kompetensi memerlukan evaluasi untuk mengetahui keefektifan program. Penelitian ini untuk menganalisis tentang evaluasi program pelatihan berbasis boarding member dengan menggunakan model Kirpatrick pada level I (reaction) dan level II (learning). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, angket/kuesioner, dan studi dokumentasi. Populasi berjumlah 192 peserta yang mengikuti pelatihan tahap I di BBPVP Bandung dan sampel yang digunakan berjumlah 32 peserta boarding dari kejuruan TIK. Analisis data meggunakan deskriptif kuantitatif berupa persentase. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah tingkat reaksi peserta boarding selama mengikuti pelatihan pada program kejuruan TIK di BBPVP Bandungdalam kategori “Baik”. Namun, sebagian peserta merasa kurang puas dengan pelayanan panitia penyelenggara yang tidak responsif dan solutif, fasilitas yang kurang memadai hingga instruktur yang kurang terampil. Dilihat dari hasil pembelajarannya, peserta mengalami peningkatan sehingga peserta dikatakan kompeten dan mendapatkan sertifikat. Terdapat dampak negatif yakni banyaknya peraturan sehingga secara psikologis membuat sebagian peserta boarding merasa tidak bebas dan terbebani karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Kata Kunci: boarding member; hasil belajar; model evaluasi Kirkpatrick; reaksi
Improving assessment quality: Development of evaluation instruments for sixth-grade Mathematics learnin Eny Cahyaningsih; Wardani Rahayu; Riyan Arthur
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.77242

Abstract

Valid and reliable assessment instruments are crucial for accurately measuring student competencies, yet many fail. This study aims to develop a Mathematics learning outcome assessment instrument based on the Kurikulum Merdeka for sixth-grade elementary school students, focusing on validity and reliability using the Rasch model. This instrument is designed to encompass cognitive, affective, and psychomotor competencies following the needs of the Kurikulum Merdeka. Analysis was conducted on 213 students using a quantitative approach with Winsteps software to evaluate item quality, unidimensionality, reliability, difficulty level, and potential differential item functioning (DIF). The research results indicate that the instrument is highly reliable and meets the unidimensionality criteria. The distribution of question difficulty levels varies from very easy to very difficult, reflecting the instrument's ability to measure students with a range of abilities. All items meet the fit criteria based on fit statistics (Outfit MNSQ, ZSTD, and Point Measure Correlation). However, two items (Item 1 and Item 5) show significant DIF bias based on gender analysis. This study concludes that this assessment instrument based on the Kurikulum Merdeka is valid, reliable, and suitable for assessing students' mathematical abilities.   Abstrak Instrumen penilaian yang valid dan reliabel sangat penting untuk mengukur kemampuan peserta didik secara objektif, namun banyak instrumen yang ada belum merepresentasikan kompetensi peserta didik dengan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar matematika berbasis Kurikulum Merdeka untuk peserta didik kelas VI Sekolah Dasar, dengan fokus pada validitas dan reliabilitas menggunakan model Rasch. Analisis dilakukan pada 213 peserta didik menggunakan pendekatan kuantitatif dengan software Winsteps untuk mengevaluasi kualitas item, unidimensionalitas, reliabilitas, tingkat kesulitan, dan potensi bias diferensial (Differential Item Functioning/ DIF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen memiliki reliabilitas tinggi dan memenuhi kriteria unidimensionalitas. Sebaran tingkat kesulitan soal cukup bervariasi dari sangat mudah hingga sangat sulit, mencerminkan kemampuan instrumen dalam mengukur peserta didik dengan beragam tingkat kemampuan. Semua item memenuhi kriteria kesesuaian berdasarkan statistik kecocokan (Outfit MNSQ, ZSTD, dan Point Measure Correlation), namun terdapat dua item (Item 1 dan Item 5) yang menunjukkan bias DIF signifikan berdasarkan analisis gender. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa instrumen penilaian berbasis Kurikulum Merdeka ini valid, reliabel, dan cocok untuk digunakan dalam menilai kemampuan matematika peserta didik. Kata Kunci: evaluasi instrumen; Kurikulum Merdeka; Model Rasch; penilaian pendidikan; reliabilitas; validitas
Analysis of religious moderation values in students' extracurricular religious guidance activities Rahilah Supina Nst; Kholidah Nur; Yuni Sarah
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.78115

Abstract

In education, religious moderation is considered an approach to building harmony, tolerance, and mutual respect among religious communities. This study explores the values of religious moderation in extracurricular activities for the religious development of students at SMA Negeri 2 Padangsidimpuan. This study uses a qualitative approach with a descriptive method, collecting data through interviews with school officials and students who actively participate in religious extracurricular activities. The research results show that the values of religious moderation in schools include a commitment to nationalism, tasamuh (tolerance), i'tidal (justice), shura' (deliberation), and anti-violence. Implementing the values of religious moderation begins with the internalization of values through three stages: value transformation, value transaction, and value transinternalization. The supervisor evaluates the members of religious extracurricular activities to determine the extent to which the values of religious moderation are applied. The results of applying these values in extracurricular activities to develop students' religion are reflected in attitudes of care, helpful deliberation, and justice in words and deeds. The importance of religious moderation in promoting harmony, mutual respect, and tolerance among students can develop a more loving and respectful environment.   Abstrak Pada konteks pendidikan, moderasi beragama dianggap sebagai pendekatan untuk membangun harmoni, toleransi, dan saling menghormati antar umat beragama. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai-nilai moderasi beragama dalam kegiatan ekstrakurikuler untuk pengembangan keagamaan siswa di SMA Negeri 2 Padangsidimpuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, mengumpulkan data melalui wawancara dengan pejabat sekolah dan siswa yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai moderasi beragama di sekolah mencakup komitmen kebangsaan, tasamuh (toleransi), i'tidal (keadilan), shura' (musyawarah), dan anti-kekerasan. Proses penerapan nilai-nilai moderasi beragama dimulai dengan proses internalisasi nilai dengan tiga tahap: transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi nilai. Pengawas melakukan evaluasi terhadap anggota ekstrakurikuler keagamaan untuk menentukan sejauh mana nilai-nilai moderasi beragama diterapkan. Hasil penerapan nilai-nilai ini dalam kegiatan ekstrakurikuler untuk pengembangan agama siswa tercermin dalam sikap peduli, musyawarah yang membantu, dan keadilan baik dalam kata-kata maupun perbuatan. Pentingnya moderasi agama dalam mempromosikan harmoni, saling menghormati, dan toleransi antara siswadapat mengembangkan lingkungan yang lebih penuh kasih dan saling menghormati. Kata Kunci: ekstrakurikuler keagamaan; moderasi beragama; pembinaan keagamaan
Analysis of the problems implementing Kurikulum Merdeka in educational units Syamsidah Lubis
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.76518

Abstract

This research aims to find and analyze solutions to problems in implementing the Kurikulum Merdeka (IKM), especially in educational unit planning, implementation, and evaluation. This research was carried out because of the challenges in implementing the Kurikulum Merdeka, which requires more attention to the planning and implementation aspects. The method used in this study is a literature review analyzing information and qualitative concepts from various articles and literature sources relevant to the problem discussed. Data was collected by reading books, searching the internet, and finding journal articles on Google Scholar, with the number of articles analyzed being around 30. The findings of this study identify that teachers face obstacles in the planning, implementation, and evaluation stages of IKM, including a lack of understanding and skills in developing teaching modules and creative learning techniques. In addition, other problems faced are limited facilities and infrastructure, as well as human resource (HR) support. Based on these findings, it is recommended that teacher competency training, improved facilities, support from parents and the community, and more effective supervision be implemented in the Kurikulum Merdeka.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan menganalisis solusi permasalahan dalam implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), khususnya pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi implementasi di satuan pendidikan. Penelitian ini dilakukan karena adanya tantangan dalam implementasi Kurikulum Merdeka yang memerlukan perhatian lebih pada aspek perencanaan dan implementasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka dengan analisis informasi dan konsep kualitatif dari berbagai artikel dan sumber pustaka yang relevan dengan permasalahan yang dibahas. Pengumpulan data dilakukan melalui membaca buku, pencarian di internet, dan artikel jurnal yang terdapat pada Google Scholar, dengan jumlah artikel yang dianalisis sekitar 30 artikel. Temuan penelitian ini mengidentifikasi bahwa guru menghadapi kendala dalam tahap perencanaan, implementasi, dan evaluasi IKM, antara lain kurangnya pemahaman dan keterampilan guru dalam mengembangkan modul ajar dan teknik pembelajaran kreatif. Selain itu, permasalahan lain yang dihadapi adalah terbatasnya sarana dan prasarana, serta dukungan sumber daya manusia (SDM). Berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan agar ada pelatihan kompetensi guru, peningkatan sarana, dukungan dari orang tua dan masyarakat, serta supervisi yang lebih efektif dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kata Kunci: evaluasi kurikulum; implementasi kurikulum; perencanaan kurikulum; satuan pendidikan
Religious moderation curriculum in a global perspective Dudun Najmudin; Asep Herry Hernawan; Laksmi Dewi; Lia Susanti; Ilham Pebrian
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.75832

Abstract

This research is motivated by the rise of radicalism and intolerance in various parts of the world, which emphasizes the importance of education to promote religious moderation. Religious moderation curriculum is a solution to building a more inclusive and tolerant global society. This study aims to identify the application of religious moderation curriculum in various global contexts and evaluate its impact on forming moderate attitudes, interfaith dialogue, and social peace. This research uses a qualitative method with a systematic literature study. Data were collected from various appropriate and relevant articles to identify effective policies, approaches, and implementation strategies, as well as the development of a religious moderation curriculum. The results show that implementing the religious moderation curriculum has successfully encouraged tolerance, strengthened interfaith dialogue, and suppressed the potential for radicalism. However, some challenges are still faced, such as resistance from conservative groups and difficulties adapting the curriculum to be relevant to the local context without losing the essence of the universal values of moderation. The conclusion of this study underscores that religious moderation curricula have great potential to support global peace and promote harmonious diversity if implemented appropriately.   Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya radikalisme dan intoleransi di berbagai belahan dunia, yang menekankan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk mempromosikan moderasi beragama. Kurikulum moderasi beragama dipandang sebagai solusi dalam membangun masyarakat global yang lebih inklusif dan toleran terhadap perbedaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penerapan kurikulum moderasi beragama dalam berbagai konteks global dan mengevaluasi dampaknya terhadap pembentukan sikap moderat, dialog antaragama, serta perdamaian sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi literatur sistematis. Pengumpulan data diambil dari berbagai artikel yang layak dan relevan untuk mengidentifikasi kebijakan, pendekatan, dan strategi implementasi yang efektif, serta pengembangan kurikulum moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kurikulum moderasi beragama berhasil mendorong sikap toleransi, memperkuat dialog antaragama, dan menekan potensi radikalisme. Namun, beberapa tantangan masih dihadapi, seperti resistensi dari kelompok konservatif dan kesulitan dalam mengadaptasi kurikulum agar relevan dengan konteks lokal tanpa kehilangan esensi nilai universal moderasi. Simpulan penelitian ini menggarisbawahi bahwa kurikulum moderasi beragama memiliki potensi besar dalam mendukung perdamaian global dan mempromosikan keberagaman yang harmonis apabila diterapkan secara tepat. Kata Kunci: kurikulum; moderasi beragama; perspektif global
Implementation of differentiated learning in the Kurikulum Merdeka in class IV Fajri Anuar; Febrina Dafit
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.77847

Abstract

Differentiated learning is learning that accepts and acknowledges readiness and interest in learning so that student learning diversity occurs. The aim of carrying out a differentiated approach is to ensure that students receive an approach that suits their characteristics and needs to maximize their potential and motivate them to learn. This research uses a qualitative approach in its methodology. The instruments used were interviews, observation, and documentation. Triangulation is a data validation technique that compares or checks the correctness of data using sources other than the original data. The validity of the data in this research uses three triangulations: technique, source, and time triangulation. Data and data sources were obtained through observation, documentation, and interviews. Primary data in this research are teachers and school principals. Meanwhile, secondary data used in this research was collected from various sources, including books, journals, papers, and other supporting materials. The results of the study concluded that there are several stages in differentiated learning, namely mapping students' needs through diagnostic assessments, designing differentiated learning plans according to students' needs by implementing content, process, and product strategies, and evaluating and reflecting on the learning that has been implemented.   Abstrak Pembelajaran berdiferensiasi ialah pembelajaran yang menerima serta mengakui dengan adanya kesiapan dan minat belajar sehingga terjadilah keberagaman belajar peserta didik. Tujuan dilakukannya pendekatan berdiferensiasi supaya peserta didik menerima pendekatan yang sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan peserta didik untuk memaksimalkan potensi serta memiliki motivasi dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam metodologinya. Instrumen yang digunakan berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Triangulasi adalah teknik validasi data yang membandingkan atau memeriksa kebenaran data dengan menggunakan sumber selain data asli. Dan keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan 3 teknik triangulasi yakni triangulasi teknik, sumber dan waktu. Data dan sumber data didapatkan melalui observasi, dokumentasi dan wawancara. Data primer pada penelitian ini adalah guru dan kepala sekolah. Sementara data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber, antara lain buku, jurnal, makalah, dan bahan pendukung lainnya. Hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat beberapa tahapan dalam pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan pemetaan kebutuhan peserta didik melalui asesmen diagnostik, merancang perencanaan pembelajaran berdiferensiasi sesuai kebutuhan peserta didik dengan mengimplementasikan strategi konten, proses, dan produk, melakukan evaluasi dan merefleksi pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Kata Kunci: kurikulum merdeka; pembelajaran berdiferensiasi; penerapan kurikulum