cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Influence of pragmatism and scholasticism on contemporary education development Eva Puspitasari
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75787

Abstract

The foundation of this study lies in the longstanding debate between practice-oriented, experiential educational approaches (pragmatism) and more traditional, theory-centered methods grounded in deductive logic (scholasticism). This research examines the influence of the philosophical streams of pragmatism and scholasticism on contemporary education. Adopting a qualitative approach, the study employs comparative literature analysis to evaluate the application of these philosophies within the modern educational framework. Findings reveal that pragmatism plays a pivotal role in shaping an educational system that is dynamic, adaptable, and responsive to contemporary societal needs, particularly by linking learning to real-life experiences. Conversely, scholasticism contributes significantly by preserving the value of education founded on deep theoretical comprehension and systematic logic. The synergy between these two philosophical approaches is posited to create a more balanced and holistic curriculum, blending practical and theoretical aspects essential for fostering student competencies in modern education. This research offers a new perspective on curriculum formulation by integrating the strengths of both approaches.   Abstrak Latar belakang penelitian ini berakar dari perdebatan panjang antara pendekatan pendidikan yang berorientasi pada praktik dan pengalaman langsung (pragmatisme) dan pendekatan pendidikan yang lebih tradisional berbasis teori dan logika deduktif (scholatisisme). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dua aliran filsafat pragmatisme dan scholatisisme terhadap pendidikan kontemporer. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif, mengadopsi analisis literatur dengan metode komparatif guna mengevaluasi implementasi kedua aliran filsafat dalam konteks sistem pendidikan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian ini menawarkan perspektif baru dalam perumusan kurikulum yang efektif dengan mengintegrasikan kekuatan dari kedua pendekatan. Pragmatisme berperan penting dalam membentuk sistem Pendidikan yang dinamis, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer, khususnya dalam menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman sehari-hari. Di sisi lain, scholatisisme memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan pentingnya Pendidikan yang berbasis pada pemahaman teori yang mendalam dan logika yang sistematis. Sinergi antara kedua aliran filsafat ini diyakini mampu menciptakan kurikulum pendidikan yang lebih seimbang dan holistik, memadukan aspek praktis dan teoretis yang esensial bagi pengembangan kemampuan peserta didik di era kontemporer. Kata Kunci: pragmatisme; scholatisisme; pendidikan kontemporer
Improving teachers’ understanding of reproductive health and sexuality education in special schools Tati Hernawati; Tarishah Aulia; Wina Tri Saptari; Arif Prawira; Zulfa Rahmah Effendi; Prinanda Gustarin Ridwan; Euis Heryati; Agus Irawan Sensus; Imas Diana Aprilia; Fitri Mulyani
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75622

Abstract

The inability to achieve complete independence in students with special needs has the potential to make this group vulnerable to problems, including reproductive health and sexuality problems. These problems are suspected to be due to the lack of understanding and perception of teachers in the concept and implementation of reproductive health and sexuality education in Special Schools (SLB). This study was conducted to see teachers' understanding of reproductive health and sexuality education for students with special needs. Using a quantitative approach with a one-group pretest-posttest design, this study involved 15 teachers from six SLBs in Bandung City who were selected using the purposive sampling method. The data obtained were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test. The results of the study showed a significant increase in the average score, indicating that the efforts made could improve teachers' understanding of reproductive health and sexuality education. Teachers felt more prepared to deal with the problems of students with special needs regarding reproductive health and sexuality after participating in competency refresher courses by participating in training or discussions. Training and discussions that are planned systematically, sustainably, and comprehensively can improve teacher competence and, more broadly, can improve the quality of reproductive health and sexuality education in SLB.   Abstrak Ketidakmampuan pencapaian kemandirian secara utuh pada peserta didik berkebutuhan khusus berpotensi membuat kelompok ini rentan terhadap masalah, termasuk masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas. Permasalahan tersebut disinyalir karena adanya kekurangpahaman dan persepsi guru dalam tataran konsep dan implementasi pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas di Sekolah Luar Biasa (SLB). Penelitian ini dilakukan untuk melihat pemahaman guru terhadap pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas untuk peserta didik berkebutuhan khusus. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan one group pretest -posttest design, penelitian ini melibatkan 15 guru dari enam SLB di Kota Bandung yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukan peningkatan rata-rata skor secara signifikan yang menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan dapat meningkatkan pemahaman guru terhadap pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas. Guru merasa lebih siap untuk menghadapi permasalahan peserta didik berkebutuhan khusus mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas setelah mengikuti penyegaran kompetensi dengan mengikuti pelatihan atau diskusi. Pelatihan dan diskusi yang direncanakan dengan sistematis, berkelanjutan, dan komprehensif dapat meningkatkan kompetensi guru dan secara lebih luas dapat meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas di SLB.
Academic policy for establishing new junior high schools in South Tangerang City Mustofa Kamil; Neneng Nurjanah; Muhammad Yus Firdaus; Bambang Mardi Sentosa; Purnomo Purnomo; Cucu Sukmana
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74566

Abstract

This study explores the academic policy regarding establishing new Junior High Schools (SMP) in South Tangerang City in response to the rising number of Elementary School (SD) graduates and the limited availability of secondary education facilities. Using a theoretical and quantitative approach, the research applies the "Social Demand Approach" planning model to identify the need for new schools. Findings reveal a significant imbalance between the number of SD and SMP, particularly in Setu, North Serpong, Pondok Aren, and Ciputat sub-districts, highlighting an urgent need for new school units (USB) and classrooms (RKB) to ensure equitable access to quality education. The analysis is supported by geographic and demographic data, considering essential variables such as student group sizes (rombel). Therefore, the policy for establishing new schools in South Tangerang City must be implemented promptly to address primary and secondary education challenges, ensuring adequate facilities for the growing student population. The research emphasizes the importance of addressing educational infrastructure needs to support student's educational progress and highlights the critical role of geographic information systems (GIS) in mapping school locations and planning future school development.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi kebijakan akademik terkait pendirian Sekolah Menengah Pertama (SMP) baru di Kota Tangerang Selatan sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah lulusan Sekolah Dasar (SD) dan terbatasnya ketersediaan fasilitas pendidikan menengah. Dengan menggunakan pendekatan teoritis dan kuantitatif, penelitian ini menerapkan model perencanaan "Social Demand Approach" untuk mengidentifikasi kebutuhan akan sekolah baru. Temuan menunjukkan ketidakseimbangan yang signifikan antara jumlah SD dan SMP, khususnya di kecamatan Setu, Serpong Utara, Pondok Aren, dan Ciputat, menyoroti kebutuhan mendesak akan unit sekolah baru (USB) dan ruang kelas (RKB) untuk memastikan akses yang merata terhadap pendidikan berkualitas. Analisis didukung oleh data geografis dan demografis, mempertimbangkan variabel penting seperti ukuran kelompok peserta didik (rombel). Oleh karena itu, kebijakan pendirian sekolah baru di Kota Tangerang Selatan harus dilaksanakan segera untuk mengatasi tantangan dalam pendidikan dasar dan menengah, serta memastikan fasilitas yang memadai bagi populasi peserta didik yang berkembang. Penelitian ini menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan infrastruktur pendidikan untuk mendukung kemajuan peserta didik. Sistem informasi geografis (GIS) memainkan peran penting dalam pemetaan lokasi sekolah dan perencanaan pengembangan pendidikan di masa depan. Kata Kunci: kebijakan pendidikan; kelompok belajar pendirian SMP; social demand approach
Utilization of wall magazines in improving fifth-grade students' writing skills Natasya Navira Elberni; Febrina Dafit
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75951

Abstract

Writing skills are something that students cannot ignore. Therefore, using wall magazine media can significantly improve students' writing skills in elementary schools. This research aims to determine the plan, implementation, and evaluation of the use of wall magazines in improving the writing skills of VA students at SDN 19 Mandau, Bengkalis Regency. This research uses qualitative methods with the type of classroom action research (PTK). The research subjects in this study were 26 VA class students at SDN 19 Mandau. Data collection techniques in this research used observation and tests. Meanwhile, the instruments used are observation sheets and test sheets. The data analysis technique in this research was carried out using qualitative descriptive analysis. Based on the research results, it can be seen that the use of wall magazines can improve the writing skills of class VA students at SDN 19 Mandau. Student learning outcomes using wall magazines increased, where in cycle I, the average obtained was 74 with sufficient classical completeness. In contrast, in cycle II, there was an increase with an average of 80 and very good classical completeness.   Abstrak Keterampilan menulis merupakan hal yang tidak bisa diabaikan bagi peserta didik. Oleh karena itu, pemanfaatan media majalah dinding dapat signifikan dalam meningkatkan kemampuan menulis peserta didik di sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rencana, pelaksanaan serta evaluasi penggunaan majalah dinding dalam meningkatkan kemampuan menulis peserta didik VA di SDN 19 Mandau Kabupaten Bengkalis. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian pada penelitian ini adalah peserta didik kelas VA di SDN 19 Mandau berjumlah 26 peserta didik. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi dan tes. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan lembar tes. Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa penggunaan majalah dinding dapat meningkatkan kemampuan menulis peserta didik kelas VA di SDN 19 Mandau. Hasil belajar peserta didik dengan menggunakan majalah dinding mengalami peningkatan dimana pada siklus I rata-rata yang didapatkan yaitu 74 dengan ketuntasan klasikal cukup, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan dengan rata-rata 80 dan ketuntasan klasikal sangat baik. Kata Kunci: kemampuan menulis; majalah dinding; sekolah dasar
Curriculum learning organization (study at Madrasah Ibtidaiyah) Zulia Nurul Faizah; Oktaviani Adhi Suciptaningsih; Siti Faizah
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75807

Abstract

The role of the curriculum for educational units is absolute. Therefore, curriculum development must be adjusted to the madrasah environment's identity and potential, including in organizing learning. The organization of learning is closely related to the learning process. This can also be one of the community's attractions to the madrasah. This study aims to examine the components of organizing intracurricular, co-curricular, and extracurricular learning at MI Miftahul Ulum Bukur. Researchers used interviews and documentation. The research findings state that intracurricular learning on national content is arranged and carried out according to the guidelines of the Ministry of Education, Culture, Research and Technology and the Decree of the Minister of Religion but also maintains the potential of teachers such as maintaining science and social studies subjects that apply in each semester for all levels of grades III-VI. The local content that is applied shows the madrasah's identity, such as Mabadi, 'Alala, and BTQ. Co-curricular learning is carried out through P5RA activities, and the selection of activities is based on the needs and availability of surrounding resources. Extracurricular learning as an effort of madrasah to achieve in non-academic fields offers scouting activities, drumband, qira'at, banjari, speech (English and Indonesian), calligraphy, and English. This research can be used as a reference for other madrasahs to observe, imitate, and modify the organization according to their educational units.   Abstrak Peran kurikulum bagi satuan pendidikan adalah hal yang mutlak. Oleh karenanya, pengembangan kurikulum harus disesuaikan dengan identitas dan potensi lingkungan madrasah termasuk dalam mengorganisasikan pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaran memiliki keterkaitan yang erat dengan proses pembelajaran. Pula hal ini bisa menjadi salah satu daya tarik masyarakat terhadap madrasah. Penelitian ini bertujuan mengkaji komponen pengorganisasian pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler MI Miftahul Ulum Bukur. Peneliti menggunakan wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian menyatakan bahwa pembelajaran intrakurikuler pada muatan nasional disusun dan dilakukan sesuai pedoman Kemdikbudristek dan Keputusan Menteri Agama namun juga tetap mempertahankan potensi guru seperti mempertahankan mata pelajaran IPA dan IPS berlaku di tiap semester untuk semua jenjang kelas III-VI. Sedangkan muatan lokal yang terapkan benar-benar menunjukkan identitas madrasah seperti Mabadi, ‘Alala, dan BTQ. Pembelajaran kokurikuler dilaksanakan melalui kegiatan P5RA dan pemilihan kegiatannya berdasarkan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya sekitar. Pembelajaran ekstrakurikuler sebagai upaya madrasah untuk berprestasi dibidang non akademik menawarkan kegiatan pramuka, drumband, qira’at, banjari, pidato (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia), kaligrafi, serta bahasa Inggris. Penelitian ini bisa dijadikan referensi bagi madrasah lain untuk mengamati, meniru, dan memodifikasi pengorganisasian tersebut sesuai satuan pendidikannya. Kata Kunci: ekstrakurikuler; intrakurikuler; kokurikuler; kurikulum
Developing STEM-based LKPD to improve student's critical thinking abilities Korinti Nalsalsalisa Br Milala; Fauziyah Harahap; Hasruddin Hasruddin
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74743

Abstract

Students' critical thinking skills in science learning remain low due to suboptimal teaching approaches. This study aims to develop and assess the feasibility, practicality, and effectiveness of STEM-based student worksheets (LKPD) on the life cycle topic for fourth-grade students at SDN 064027 Karang Sari. The research employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, which includes analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. Data collection methods included observations, interviews, and tests, while data analysis was conducted through expert validation, practicality tests, and effectiveness evaluations. The results showed that the STEM-based LKPD is feasible, practical for classroom implementation, and effective in enhancing students' critical thinking skills. The LKPD supports active learning and fosters 21st-century skills such as critical thinking, creativity, collaboration, and communication. The STEM approach provides meaningful learning experiences by integrating science, technology, engineering, and mathematics, enabling students to relate learning concepts to real-life contexts. This study recommends the STEM-based LKPD as an innovative alternative for science education, particularly for the life cycle topic, to enhance students' critical thinking skills and conceptual understanding.    Abstrak Kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPA masih rendah akibat pendekatan pembelajaran yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji kelayakan, kepraktisan, serta keefektifan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis STEM pada materi daur hidup untuk peserta didik kelas IV di SDN 064027 Karang Sari. Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang terdiri dari tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan tes, sedangkan analisis data dilakukan melalui validasi ahli, uji kepraktisan, dan uji keefektifan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD berbasis STEM layak digunakan dalam pembelajaran, praktis diterapkan, dan efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. LKPD ini dirancang untuk mendukung pembelajaran aktif, berorientasi pada pengembangan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Pendekatan STEM memberikan pengalaman belajar yang bermakna melalui integrasi sains, teknologi, rekayasa, dan matematika, sehingga peserta didik dapat mengaitkan konsep pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan LKPD berbasis STEM sebagai alternatif inovatif dalam pembelajaran IPA, khususnya pada materi daur hidup, untuk membantu peserta didik meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman konseptual. Kata Kunci: Berpikir kritis; LKPD; STEM.
Student perspectives of MOOCs process M. Ridwan Sutisna; Arie Susanty; Paulina Pannen; Gatot Fatwanto Hertono; Rahayu Dwi Riyanti; Rini Febrianti; Rudi Susilana
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.76161

Abstract

This study investigates participants' experiences in Massive Open Online Courses (MOOCs). In the last decade, online learning has experienced rapid growth, and MOOCs have become one of the most popular forms of online learning. The digital transformation led to increased mobile and internet users, facilitating the adoption of online learning platforms. As one of the digital transformation products, this study aims to describe the use of Massive Open Online Courses from the perspectives of higher education students. Despite the increase of MOOCs use in the higher education, the dropout rates tend to be high. Students play an essential role in that case. This study focuses on MOOCs prior to learning, the activity during learning, and how the learning assessment is delivered from student perspectives. Using descriptive method, with the involvement of twelve MOOCs students from higher education. This study has concluded that the information presented in the prior learning process is essential regarding choosing specific MOOCs courses. Students value interaction and engage in content during the learning process, especially real-world examples. Although some participants found the assessment process challenging, it was perceived as relevant to the course objectives. At the same time, easy navigation and access to learning resources are essential for MOOCs platforms to be considered user-friendly courses. Overall, the study suggests that MOOCs students should be well informed initially. Then MOOCs courses should be delivered dynamically to maintain student motivation and provide relevant assessment.   Abstrak Selama sepuluh tahun terakhir, telah terjadi pertumbuhan yang signifikan dalam pendidikan daring, dengan MOOCs muncul sebagai salah satu opsi yang paling populer. Transformasi digital, yang ditandai dengan peningkatan langganan seluler, pengguna internet, dan akses pita lebar, telah mendorong munculnya platform pembelajaran daring. Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman individu yang berpartisipasi dalam Massive Open Online Courses (MOOCs). Sebagai salah satu produk transformasi digital, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan Massive Open Online Courses dari perspektif mahasiswa pendidikan tinggi. Meskipun penggunaan MOOCs meningkat di universitas yang lebih tinggi, tingkat penyelesaian kursus cenderung tinggi. Sangat jelas bahwa mahasiswa memainkan peran penting dalam kasus tersebut. Fokus penelitian ini adalah pada pembelajaran sebelumnya melalui MOOCs, aktivitas selama pembelajaran, dan bagaimana penyampaian asesmen pembelajaran dari perspektif mahasiswa. Dengan menggunakan metode deskriptif, penelitian ini melibatkan dua belas mahasiswa pendidikan tinggi yang mengikuti MOOCs. Temuan menunjukkan bahwa materi pembelajaran awal sangat penting dalam memengaruhi keputusan untuk mendaftar di kursus MOOCs tertentu. Selama fase pembelajaran, mahasiswa menghargai konten yang interaktif dan menarik, terutama jika mencakup aplikasi dunia nyata. Meskipun beberapa peserta menganggap proses penilaian sulit, mereka menganggapnya relevan dengan tujuan kursus. Selain itu, navigasi yang mudah dan akses ke materi pembelajaran sangat penting agar platform MOOCs dianggap sebagai kursus yang mudah digunakan. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menyoroti pentingnya memberikan informasi yang memadai kepada siswa di awal dan menyarankan agar MOOCs disampaikan dengan cara yang menarik untuk mempertahankan motivasi siswa dan menawarkan penilaian yang relevan di akhir. Kata Kunci: desain pembelajaran; kursus daring; MOOCs; pembelajaran di perguruan tinggi
Empowering speaking skills through problem-based learning in Indonesian blended classrooms Jenny Ngo
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.76037

Abstract

The COVID-19 pandemic accelerated the shift towards remote and blended learning, prompting educators to seek innovative pedagogical approaches. In response, the Indonesian government introduced the Merdeka curriculum, emphasizing student-centered learning, critical thinking, and independent knowledge-building. Problem-based learning (PBL) aligns well with these objectives, engaging students in real-world problem-solving and promoting critical thinking, collaboration, and communication skills. This study examines the effectiveness of PBL in enhancing English-speaking skills within a blended learning environment at a private university in Surabaya. Using a quantitative research approach, data were collected through classroom observations and surveys and analyzed with SPSS. The findings revealed that PBL effectively promoted self-directed learning, peer collaboration, and speaking skill development. These suggest that PBL is an effective strategy for enhancing language proficiency and fostering student engagement that aligns with Indonesia’s educational reforms. However, to further optimize PBL's effectiveness, it is recommended to consider adjustments such as flexibility for attendance, scaffolding for highly diverse students, and culturally relevant activities. These modifications can create a more inclusive and supportive learning environment for English Language Learners (ELLs) in Indonesia.   Abstrak Pandemi COVID-19 mempercepat peralihan ke pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran campuran, sehingga mendorong para pendidik untuk mencari pendekatan pedagogi yang inovatif. Sebagai tanggapannya, pemerintah Indonesia memperkenalkan kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, berpikir kritis, dan membangun pengetahuan secara mandiri. Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) selaras dengan tujuan-tujuan ini, karena pembelajaran ini melibatkan siswa dalam pemecahan masalah di dunia nyata dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi. Penelitian ini menguji efektivitas PBL dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris dalam lingkungan pembelajaran campuran di sebuah universitas swasta di Surabaya. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif, data dikumpulkan melalui observasi kelas dan survei dan dianalisis dengan SPSS. Temuannya mengungkapkan bahwa PBL secara efektif mendorong pembelajaran mandiri, kolaborasi teman sebaya, dan pengembangan keterampilan berbicara. Hal ini menunjukkan bahwa PBL merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan kemahiran bahasa dan mendorong keterlibatan siswa sejalan dengan reformasi pendidikan di Indonesia. Namun, untuk lebih mengoptimalkan efektivitas PBL, disarankan untuk mempertimbangkan penyesuaian seperti fleksibilitas kehadiran, scaffolding untuk siswa yang sangat beragam, dan kegiatan yang relevan dengan budaya. Modifikasi ini dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan mendukung bagi Pembelajar Bahasa Inggris (ELLs) di Indonesia. Kata Kunci: pembelajaran campuran; pembelajaran berbasis masalah; peningkatan keterampilan berbicara
Implications of ChatGPT implementation on students' understanding level in Pancasila Education subjects Ismi Adnin; Sapriya Sapriya; Rahmat Rahmat; Abhi Rachma Ramadhan; Karlin Geriun Antonius Manik; Daffa Fakhri Maulana; Aland Aryaguna; Kireida Rona Islam; Muhammad Fajri Mubarok; Tebi Lesmana
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75634

Abstract

Learning requires supporting media to achieve the desired goals. The modern era makes technology an inseparable part of human life, including in the learning process in educational units. The technology that is currently developing rapidly is artificial intelligence (Artificial Intelligence), one of which is implemented in the form of the ChatGPT program. Currently, many students use ChatGPT to help them understand the subject matter, supported by the various conveniences offered by this technology. This study aims to provide an argumentative overview of the importance of utilizing technology, especially the ChatGPT program, in improving student understanding. The approach used in this study is qualitative with a descriptive method, which includes data and document analysis through the process of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. In this study, the resource persons involved were 36 students in grade XI-4 at SMA Negeri 1 Tanjung Raja. The results of the study showed that the use of ChatGPT significantly helped improve students' understanding in the Pancasila Education subject, as well as supporting the achievement of educational goals such as critical thinking skills, creativity, and independent problem-solving skills.   Abstrak Pembelajaran membutuhkan media pendukung untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Era modern menjadikan teknologi sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam proses pembelajaran di satuan pendidikan. Teknologi yang saat ini berkembang pesat adalah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang salah satunya diimplementasikan dalam bentuk program ChatGPT. Saat ini, banyak pelajar menggunakan ChatGPT untuk membantu mereka memahami materi pelajaran, didukung oleh berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi ini. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran argumentatif tentang pentingnya pemanfaatan teknologi, khususnya program ChatGPT, dalam meningkatkan pemahaman peserta didik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif, yang melibatkan analisis data dan dokumen melalui proses reduksi data, penyajian data, hingga penarikan kesimpulan. Dalam penelitian ini, narasumber yang dilibatkan adalah peserta didik kelas XI-4, sebanyak 36 orang di SMA Negeri 1 Tanjung Raja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ChatGPT secara signifikan membantu meningkatkan pemahaman peserta didik dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila, serta mendukung tercapainya tujuan pendidikan seperti kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan keterampilan menyelesaikan masalah secara mandiri. Kata Kunci: ChatGPT; pemahaman peserta didik; pendidikan Pancasila
Enhancing teacher competencies in ESD: a framework for professional development Lia Susanti; Asep Herry Hernawan; Laksmi Dewi; Dudun Najmudin; Rohim Abdurohim
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75831

Abstract

Education for Sustainable Development (ESD) equips students with the knowledge and skills to address global sustainability challenges. However, the effectiveness of ESD largely depends on the competencies of teachers. This article aims to develop a comprehensive framework for improving teachers' competencies in ESD. This research uses a qualitative approach, literature review, qualitative content analysis, secondary case study, and conceptual design methods. The framework identifies essential competencies, including critical thinking, problem-solving, and ethical decision-making, that educators must possess to integrate sustainability principles into their teaching practices effectively. Additionally, the paper explores professional development strategies that can support teachers in acquiring these competencies, such as continuous training, collaborative learning, and experiential education. The findings suggest that a holistic approach to professional development is necessary to empower teachers and enable them to foster a sustainability-oriented mindset in their students. By implementing this framework, educational institutions can contribute to preparing future generations to engage actively in sustainability efforts. This study highlights the importance of teacher competencies in ESD and provides actionable recommendations for policymakers and educational leaders to enhance teacher training programs and promote sustainability education in schools.   Abstrak Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) memainkan peran penting dalam membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan keberlanjutan global. Namun, efektivitas ESD sangat bergantung pada kompetensi guru. Artikel ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka kerja komprehensif untuk meningkatkan kompetensi guru dalam ESD. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan literatur, metode analisis konten kualitatif, studi kasus sekunder, dan metode desain konseptual. Kerangka kerja ini mengidentifikasi kompetensi penting, termasuk berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan etis, yang harus dimiliki pendidik untuk secara efektif mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam praktik pengajaran mereka. Selain itu, artikel ini mengeksplorasi strategi pengembangan profesional yang dapat mendukung guru dalam memperoleh kompetensi tersebut, seperti pelatihan berkelanjutan, pembelajaran kolaboratif, dan pendidikan berbasis pengalaman. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan holistik terhadap pengembangan profesional sangat diperlukan untuk memberdayakan guru dan memungkinkan mereka untuk membina pola pikir yang berorientasi pada keberlanjutan di antara siswa mereka. Dengan menerapkan kerangka ini, lembaga pendidikan dapat berkontribusi dalam mempersiapkan generasi mendatang untuk secara aktif terlibat dalam upaya keberlanjutan. Studi ini tidak hanya menyoroti pentingnya kompetensi guru dalam ESD tetapi juga memberikan rekomendasi yang dapat diterapkan bagi pembuat kebijakan dan pemimpin pendidikan untuk meningkatkan program pelatihan guru dan mempromosikan pendidikan keberlanjutan di sekolah. Kata Kunci: kompetensi guru; pengembangan profesional; pendidikan berkelanjutan; pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan