cover
Contact Name
Wildan Insan Fauzi
Contact Email
wildaninsanfauzi@upi.edu
Phone
+6285221045707
Journal Mail Official
historia@upi.edu
Editorial Address
Gedung Numan Soemantri, FPIPS UPI, Laboratorium Prodi Pendidikan Sejarah, Lantai 4, Jl. Dr. Setiabudhi No 229 Bandung, 40154
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah
ISSN : 26204789     EISSN : 26157993     DOI : https://doi.org/10.17509/historia.v5i1
Focus and Scope 1. Learning History at school 2. Learning History in college 3. History education curriculum 4. Historical material (local, national, and world history) 5. History of education 6. Historical material in social studies
Articles 241 Documents
Haji Agus Salim: Diplomat dari Negeri Kata-Kata Fauzi, Wildan Insan
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 2, No 2 (2019): Pendidikan Sejarah abad 21
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.638 KB) | DOI: 10.17509/historia.v2i2.16625

Abstract

Artikel ini membahas Haji Agus Salim serta peranannya dalam upaya memperoleh pengakuan kedaulatan Indonesia pada peristiwa Inter Asian Relation Conference (Konferensi Antar Asia) dan pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN). Metode yang digunakan adalah metode historis dengan pendekatan interdisipliner. Hasil penelitian menyimpulkan beberapa hal. Pertama, keunggulan Haji Agus Salim dalam berdebat, rasa humor yang tinggi serta kepribadiannya yang hangat, tidak bisa dilepaskan dari struktur budaya yang membesarkannya. Sebagai tokoh yang dibesarkan dalam adat Minangkabau, Haji Agus Salim menonjol dalam tiga hal, yaitu: pandai berkata-kata, dinamis, dan kosmopolit. Kedua, diutusnya Haji Agus Salim ke Konferensi Antar Asia yang dilanjutkan dengan perjalanan diplomatiknya ke negara-negara Arab dalam rangka upaya memperoleh pengakuan kedaulatan adalah tepat. Selain dikenal sebagai diplomat, Haji Agus Salim juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai pengetahuan yang luas tentang Islam. Dengan ditandatanganinya Perjanjian Persahabatan antara Indonesia-Mesir pada tanggal 10 Juni 1947, dipandang sebagai kemenangan diplomasi Indonesia. Ketiga, dengan upaya pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN), maka permasalahan Indonesia-Belanda menjadi permasalahan internasional. Dampak positif dari terbentuknya Komisi Tiga Negara yang terdiri dariAustralia, Amerika Serikat dan Belgia, maka pertikaian antar Indonesia-Belanda dapat ditengahi. Hal inilah yang menyebabkan terlaksananya Konferensi Meja Bundar yang merupakan puncak pengakuan kedaulatanIndonesia dari Belanda.
The Role of Civil Society in the War of Indonesia Independence : A Case Study in the Battle Against the Allied Forces In Sukabumi 1945-1946 Sulasman, Sulasman
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 13, No 2 (2012): Local History in History Learning
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.452 KB) | DOI: 10.17509/historia.v13i2.6215

Abstract

The revolution of Sukabumi is closely related to the role of many kyai, ulama and pesantren’s leaders in its process. They had great power to encourage people’s spirit and emotion. This success was gained by using their religious language to communicate. They used the concept of jihad fi sabilillah. The climax of the revolution is the battle against the invader’s alliance along the road of Cigombong– Ciranjang that was followed by a series of battle,such as Bojongkokosan battle,causing the bombing of Cibadak by Alliance air force; Gekbrong battle; and general attack involving army force, ulama, people’s organization and the students of pesantrens.
Menggali Daya Intelektual Lokal sebagai Basis Pembelajaran Sejarah yang Kreatif Purwiyastuti, Wahyu
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 1, No 1 (2017): Pembelajaran Sejarah lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.149 KB) | DOI: 10.17509/historia.v1i1.7007

Abstract

Belajar sejarah di Indonesia mengalami berbagai dinamika. Materi sejarah yang dibuat membosankan, siswa tidak termotivasi untuk belajar sejarah karena kondisi diskriminasi dalam hirarki pengetahuan, dan lain-lain. Pada tahun 2013, Pemerintah Indonesia meluncurkan kurikulum baru. Kurikulum ini menekankan pengembangan pemikiran kritis - kreatif dan inovatif bagi peserta didik. Tujuan kurikulum baru adalah mendorong guru sejarah menjadi kreatif. Tulisan ini mencoba memusatkan perhatian pada dua tokoh intelektual dalam sejarah Indonesia dan India. Ada Ki Hadjar Dewantara dan Mohandas Karamchand Gandhi. Nilai-nilai kebijaksanaan budaya Dewantara dan Gandhi berikut dapat diaktualisasikan dalam sejarah. Pendidik histoical dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk menciptakan materi sejarah. Penerapan berbasis ilmiah pada tahun 2013 kurikulum yang akan memberikan ruang yang tepat untuk diimplementasikan. Diantaranya dengan berbagai cara seperti membentuk ruang diskusi, membuat media elektronik, menciptakan sebuah komunitas, sekelompok penggemar sejarah, menulis sebuah sejarah gerakan, mengadakan program karakter camp yang bertemakan dan berinteraksi dengan masyarakat, atau berbagai tindakan yang mampu mengobarkan semangat siswa.
Pemikiran Abdul Latief Muchtar dan Perubahan Sikap Politik Persatuan Islam Tahun 1983-1997 Amin, Lukman
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 1, No 2 (2018): Buku Teks Sejarah dan Sejarah Indonesia
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.504 KB) | DOI: 10.17509/historia.v1i2.10904

Abstract

Perubahan yang terjadi dalam Persis masa kepemimpinan A. Latief Muchtar tidak merubah identitas Persis secara keseluruhan. Identitas Persis yang muncul dari sejak tahun 20-an sebagai sebuah organisasi puritan masih tampak pada kepemimpinan A. Latief Muchtar dengan perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari pemikiran dan tindakan kepemimpinan A. Latief Muchtar, juga diakibatkan oleh perkembangan sosial politik yang terjadi di Indonesia. Persis hendaknya sebagai salah satu organisasi yang besar di Indonesia  senantiasa memelihara khasanah keilmuan yang pernah disusun oleh para pendahulunya seperti A. Hassan, M. Natsir, Isa Anshary, K.H.E. Abdurrahman, Abdullah dan juga A. Latief Muchtar tanpa meninggalkan temuan-temuan terbaru dalam arus pemikiran dan metodologi keilmuan. Semua peninggalan tersebut akan sangat berguna dalam memberikan arah bangsa Indonesia ke depan dan untuk pengembangan keilmuan agama. Sejarawan hendaknya terus mengeksplorasi khasanah pemikiran tokoh-tokoh nasional Indonesia seperti A. Latief Muchtar yang akan sangat berguna bagi kemajuan bangsa. Pemikiran tersebut akan menjadi pemandu bagi pemikir-pemikir muda selanjutnya sehingg lebih mencintai sejarahnya sendiri. Para sejarawan juga harus menampilkan teladan dalam setiap penulisannya agar sejarah bukan hanya sekedar tulisan tanpa makna, tetapi mampu memberikan pengaruh terhadap bangsa Indonesia yang hari ini sedang tidak stabil. Guru Sejarah hendaknya  mampu mengambil teladan dari keberadaan tokoh seperti A. Latief Muchtar yang menjadi guru tanpa pamrih, juga dalam setiap proses belajar mengajar hendaknya guru selalu menampilkan tokoh-tokoh teladan Indonesia, salah satunya adalah A. Latief Muchtar. Hari ini bangsa Indonesia telah kehilangan teladan para pahlawan terdahulu  karena posisi idola hari ini bagi siswa tergantikan dengan peran-peran tokoh semu yang ditampilkan media massa.
WOMEN AND NATIONALISM IN INDONESIA Pohlman, Annie
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 12, No 1 (2011): Nationalism and History Education
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.727 KB) | DOI: 10.17509/historia.v12i1.12114

Abstract

Indonesia was established 65 years ago, but the progress of Indonesian nasionalism had not yet done when the independence was proclaimed. The nationalism movement in Indonesia has been growing since the early of the 20th century until today because nationalism is not static but it always changing. In the nationalism development process, women always play the basic and important role. However, in many academic discourses discussing the nationalism history, women are neglected most of the time. Women participation in the nationalism movement is rarely discussed. The gender relation and its association with the development of Indonesia development are also neglected most of the time.  Therefore, women role in the nationalism movement and the women interest tend to be removed. However, women always play the central role in the nationalism movement, such as in the beginning of the 20th century, during the colonialism government and Japanese era, the Revolution era against the Dutch, and the regime of Soekarno and Soeharto era. In this article, I will focus my discussion on the women movement development since the 1920s and their role in the Reformation movement and Indonesia nationalism. This article will discuss: (1) the first discussion starts with the summary of the women movement and nationalist movement background in the twentieth century; (2) the second discussion is about the development of women movement in the Reformation era; and (3) finally, I will explore some issues that affect the discussion of the women and nationalism in the Reformation Era – the Indonesian nationalism developed by the Government utilizing the women’s body and sexuality for achieving their goal is the central issue in the discussion about the form of Indonesia nationality. 
EDUCATION IN ANCIENT INDONESIA CULTURE (700-1700) Kasdi, Aminuddin
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 11, No 1 (2010): Feudalism, History, and Education
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.432 KB) | DOI: 10.17509/historia.v11i1.12130

Abstract

Within 1359-1364, Hayam Wuruk did a quest monitoring Majapahit, either to the east side, or the west side. From the many objects he visited, in addition to visiting authorities and local villagers, he also visited religious sacred places. Prapanca, who worked as Dharmadyaksa ring Kasogatan was one of the higher authorities in the kingdom who followed him (Pigeaude, 1963, IV, 150-153). The king’s quest was also followed by many authorities, and they were certainly intellectual prominent figures in their era. The position of saptopapati, for instance, was occupied by those who were entitled to as pangei or sanget. The term was derived from the root words of (V pgat) meaning: putus (Jw) mastery (Van Naerssen, 1933: 239-258). Furthermore, the terms of pgat is also defined by Van Nseassen as notable (Naerssen, 1933: 239-258). Within various epigraphs, authority titled with pamget or samget was under the third position of kingdom higher authority: rakryan katrini, namely rakrayan kartini (three higher authority), rakrayan mamantri I Hino, Rakryan I halu, Rakryan I Siikan. Within Nagarakratagama, pupuh 68, the second syair noted :” … wanten bodda Mahayana pgat/rin tantra yogiswara … was an expert (Jw. Mumpuni) of Buddha mahyana’s lesson on Tantra and Yoga …” (Pigeadu, 1963: 52). The terms refer to educated people who have comprehensive and mastery knowledge, so that they can take a decision based on their expertise independently, either in the field of science or governmental problems. Accordingly, if they master their knowledge (Jw. Putusing ngilmu), they will have the authority to make decision towards a problem whenever they are needed. The question is: what kind of knowledge, how can they attain it, and where they learn it? In many sources it was known that one kind of education spread within the age was mandala. During his quest, Hayam Wuruk, for example visited mandala segara. The term mandaleng (mandala – ing) was also found in Serat Pararaton. This article focuses on studying education in ancient Indonesia.
CHINESE EDUCATION AND CHINESE IDENTITY IN MALAYSIA Lee, Yok Fee
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 10, No 2 (2009): Nationalism, Ethnicity, and National Integrity
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.761 KB) | DOI: 10.17509/historia.v10i2.12218

Abstract

In general, research and discourse on the concept of identity has been naturally evolved as the changes of social structures in social processes, such as industrial affairs, modernization, and globalization, are expanding as well. The concept of identity, meanwhile, has also changed by following the development of social thoughts, i.e. the formation and change in the philosophy of knowledge paradigm, such as the development of structural theoretical perspective to post-structural and post-modernism (Bendle, 2002; Lee, 2007).  
HISTORIOGRAPHY ANALYSIS OF HISTORY TEXT BOOK FROM NEERLANDOCENTRIC TO SCIENTIFIC Darmawan, Wawan
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 11, No 2 (2010): History Teaching
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.748 KB) | DOI: 10.17509/historia.v11i2.12333

Abstract

History text book is a historiography work for educational purpose. The historiography exposed in the history text book is definitely different from historiography of another scientific history book. The practical purpose of education becomes one of the important goals of composing the history text book. The history understood from history text book can do more than only developing the student’s historical awareness. The historical awareness can be detected in the attitude expressed by the students, such as their sense of nationality, partriotism, unity, willingness to sacrifice, etc. However, the history books composition, including the history text books, cannot avoid the spirit of the period it was written. According to the historiography development in Indonesia, the history text books has been written based on nederlandocentrism, indonesiacentrism, ideologism, and scientific, which are the result of how the spritit of a period affected the history text composition. This research analyse the historiography of history text books that are used in school, especialy in how these history text books appropriately reconstruct historical events with the spirit of a period and how it is composed based on scientific rules of history science.
UNDERSTANDING OF REGIONAL HISTORY AND PERCEPTION OF CULTURAL DIVERSITY IN DEVELOPING NATIONALISM Susanto, Heri
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 14, No 1 (2013): local wisdom in history education
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.925 KB) | DOI: 10.17509/historia.v14i1.1926

Abstract

Pengembangan Kreativitas Imajinatif Abad Ke-21 dalam Pembelajaran Sejarah Supriatna, Nana
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 2, No 2 (2019): Pendidikan Sejarah abad 21
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.097 KB) | DOI: 10.17509/historia.v2i2.16629

Abstract

“Bangsa Indonesia belum merdeka sejak tahun 1945”. Itulah jawaban seorang peserta didik di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Bandung ketika ditanya gurunya dengan kalimat tanya “Bagaimana cara bangsa Indonesia mengisi kemerdekaan setelah memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945? Jawaban itu muncul ketika guru melontarkan pertanyaan kepada seluruh kelas dan salah seorang siswa mengangkat tangan dan langsung menjawabnya. Kegiatan tanya jawab itu berlangsung saat seorang guru pamong mengajar sesuai Kurikulum Tahun 2013. Artikel ini dikembangkan dari hasil observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru Sejarah dan mahasiswa peserta Program Pengalaman Lapangan (PPL) Departemen Pendidikan Sejarah, UPI, di salah satu SMA di Bandung. Melalui dialog antara dosen, mahasiswa dan guru pamong disepakati kegiatan pembelajaran lebih fokus pada pencapaian kompetensi inti kedua (KI-2) disamping pencapaian Kompetensi Dasar (KD). Salah satu unsur KI-2 adalah kreatifitas yang dikembangkan lebih lanjut menjadi kreatifitas-imajinatif serta dihubungkan dengan keterampilan yang banyak digarap oleh kalangan pendidik guna menyiapkan peserta didik berperan aktif di abad ke-21 ini. Creativity and Innovation yang dikembangkn oleh Trilling and Fadel (2009), Piirto (2011) dan Griffin (2012), digunakan sebagai rujukan. Kurikulum Tahun 2013 dijadikan sebagai guideline terkait dengan KI dan KD dan diperkaya dengan curriculum as an experiences dan dikembangkan dalam pembelajaran kontekstual. Peserta didik ditempatkan sebagai pelaku sejarah pada zamannya (Supriatna, 2007).

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 2 (2025): on progress Vol 8, No 1 (2025): Media dan Propaganda Kesehatan era Kolonial Vol 7, No 1 (2024): Kritik Sosial dalam Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 6, No 2 (2023): Pembelajaran Sejarah berbasis Digital Vol 6, No 1 (2023): Sejarah untuk Pembelajaran Sejarah Vol 5, No 2 (2022): Pengembangan Materi dalam Pembelajaran Sejarah Vol 5, No 1 (2022): Kreativitas dalam Pembelajaran Sejarah Vol 4, No 2 (2021): Pengayaan Materi Pembelajaran Sejarah Vol 4, No 1 (2021): Monumen Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal Vol 3, No 1 (2020): Pendidikan Sejarah dan Sejarah Pendidikan Vol 2, No 2 (2019): Pendidikan Sejarah abad 21 Vol 2, No 1 (2019): Historiografi Buku Teks Sejarah: dari nasionalisme hingga Ecopedagogy Vol 1, No 2 (2018): Buku Teks Sejarah dan Sejarah Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Pembelajaran Sejarah lokal Vol 14, No 2 (2013) Vol 14, No 2 (2013): Pembelajaran sejarah berbasis budaya Vol 14, No 1 (2013): local wisdom Vol 14, No 1 (2013): local wisdom in history education Vol 13, No 2 (2012): Local History in History Learning Vol 13, No 1 (2012): pembelajaran sejarah lokal dan nasional Vol 12, No 2 (2011): History Learning Vol 12, No 1 (2011): Nationalism and History Education Vol 11, No 2 (2010): History Teaching Vol 11, No 1 (2010): Feudalism, History, and Education Vol 10, No 2 (2009): Nationalism, Ethnicity, and National Integrity Vol 9, No 2 (2008): Perkembangan Islam di Indonesia More Issue