cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu@institutkristenrealbatam.ac.id
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : https://doi.org/10.53547/775swq73
Core Subject :
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika is an open-access, peer-reviewed, and nationally accredited journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia. The journal is registered under ISSN 2685-3485 (online) and ISSN 2685-3515 (print) and publishes articles in both Indonesian and English. The primary focus of DIEGESIS is Pentecostal-Charismatic theology, approached from academic, interdisciplinary, and contextual perspectives. Its scope includes biblical and hermeneutical studies, church history, spirituality, and the relationship between theology and issues of society, culture, Christian education, psychology, and religions. DIEGESIS is nationally accredited at SINTA 2 level (Decree No. 295/C/C3/KPT/2026) for the 2025–2029 period. It is published twice a year, in June and December, and welcomes contributions from academics and theological practitioners, both nationally and internationally. All manuscripts that meet the submission requirements are evaluated by expert reviewers through a double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Pendampingan Pelayanan Pastoral Pentakostal Kharismatik dalam Menangani Permasalahan Kesehatan Mental Jemaat Sang Putra Immanuel Duha; Nona Beta Marpaung
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 2: Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.612

Abstract

Pentecostal-Charismatic churches have a unique approach to pastoral care for congregants facing mental health issues. This approach integrates spiritual, emotional, and communal aspects to respond to mental well-being issues. However, research on the effectiveness of the charismatic pastoral care model in this area is limited. This study aims to evaluate Pentecostal-Charismatic pastoral care in addressing congregational mental health issues. The method used is a qualitative case study with document analysis from various related sources. The formulation of the problem is the extent to which the practice of pastoral care in these churches can address the mental health of the congregation, as well as the challenges faced.  The results showed that charismatic pastoral care plays an important role in addressing mental health issues through three elements: spiritual, emotional, and communal. Spiritually, congregants find strength through faith and prayer. The emotional aspect allows them to share their feelings, while the communal aspect encourages involvement in church activities. However, challenges such as lack of training for pastors and mental health stigma still exist. This research emphasizes the importance of developing a more systematic mentoring model to make the church a safe and supportive place for congregants experiencing mental health issues. Keywords: pastoral care; mental health; pentecostal charismaticAbstrak Gereja-gereja Pentakostal-Kharismatik memiliki pendekatan unik dalam pendampingan pastoral bagi jemaat yang menghadapi masalah kesehatan mental. Pendekatan ini mengintegrasikan aspek spiritual, emosional, dan komunal untuk merespons isu kesejahteraan mental. Namun, penelitian tentang efektivitas model pendampingan pastoral kharismatik di bidang ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelayanan pastoral Pentakostal-Kharismatik dalam menangani masalah kesehatan mental jemaat. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan analisis dokumen dari berbagai sumber terkait. Rumusan masalahnya adalah sejauh mana praktik pelayanan pastoral di gereja-gereja ini dapat menangani kesehatan mental jemaat, serta tantangan yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan pastoral kharismatik berperan penting dalam mengatasi masalah kesehatan mental melalui tiga elemen: spiritual, emosional, dan komunal. Secara spiritual, jemaat menemukan kekuatan melalui iman dan doa. Aspek emosional memungkinkan mereka berbagi perasaan, sementara aspek komunal mendorong keterlibatan dalam kegiatan gereja. Namun, tantangan seperti kurangnya pelatihan bagi pendeta dan stigma kesehatan mental masih ada. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan model pendampingan yang lebih sistematis untuk menjadikan gereja sebagai tempat yang aman dan mendukung bagi jemaat yang mengalami masalah kesehatan mental.Kata kunci: pendampingan pastoral; kesehatan mental;  pentakostal kharismatik
Kajian Teologis tentang Pembedaan Gender dan Hak Waris Suku Batak Toba serta Implikasinya di Perantauan Marulam Simangunsong; Joni Manumpak Parulian Gultom
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 2: Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.624

Abstract

The Batak Toba tribe applies a patrilineal kinship system passed down from generation to generation. And if, in the current context, gender differentiation and inheritance rights that are more dominant for men than women are still rigidly applied, it is not following the position of women as God's creatures who are equal to men. In addition, this does not follow human rights. The study aims to explain gender differentiation and the granting of actual inheritance rights in a theological study. This study provides a practical solution for customary leaders in the community to adapt and adjust Biblical values. The research method uses a qualitative ethnographic approach. The results are [1] The Bible explicitly provides gender equality and inheritance rights to men and women based on the love of God the Father. [2] The patrilineal kinship system should undergo significant adaptation and value adjustments in the diaspora. [3] The church guides church members and is socialized to the leaders of clan holders in the diaspora. Keywords: Toba Batak; gender; female; Parents; patrilinealAbstrak Suku Batak Toba menerapkan sistem kekerabatan secara patrilineal turun-temurun dengan pembedaan gender dan hak waris yang lebih dominan kepada anak laki laki daripada perempuan. Penerapan secara kaku tentu tidak sesuai dengan kedudukan perempuan sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang setara dengan laki laki. Selain itu tidak sesuai dengan hak azasi manusia itu sendiri. Tujuan penelitian adalah menjelaskan dalam kajian teologis tentang pembedaan gender dan pemberian hak waris yang sebenarnya dan kontektualisasi penerapannya kepada masyarakat suku ini yang tinggal di perantauan. Penelitian ini memberikan solusi praktis kepada masyarakat tersebut untuk beradaptasi dan melakukan penyesuaian nilai secara Alkitabiah.  Penelitian dengan pendekatan kualitatif etnografi. Hasil nya adalah [1] Alkitab secara tegas memberikan kesetaraan gender dan hak waris kepada laki laki dan perempuan berdasarkan kasih Allah Bapa. [2] Sistem kekerabatan patrilineal sebaiknya perlu mengalami adaptasi dan penyesuain nilai yang significant di perantauan. [3] Gereja memberi pembinaan kepada warga gereja dan disosialisasikan kepada para pimpinan pemegang marga di perantauan.Kata kunci: Batak Toba; gender; Perempuan; Orangtua; patrilineal
Kepemimpinan Transformasional di Era Postmodern: Strategi Meningkatkan Keterlibatan Spiritualitas Pemuda Gereja Karismatik Yudhy Sanjaya; Victor Angsono Huatama; Ronald Sianipar
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/fsx9bh97

Abstract

This study examines the influence of Transformational Leadership on the spiritual engagement of young people in charismatic churches. The background of this study is based on the need for charismatic churches to increase the engagement of young people which has tended to decline in recent years. Transformational Leadership, which emphasizes inspiration, emotional attachment, and individual development, is believed to be able to create strong bonds that support sustainable spiritual engagement. The formulation of the research problem focuses on how Transformational Leadership can influence the engagement of young people, the strategies adopted by charismatic churches to achieve this engagement, and the challenges that arise in its implementation. This study uses a descriptive qualitative method with a literature study approach that includes journals and academic books in the last five years. A literature review was conducted to understand the relevant trends, strategies, and dynamics related to transformational leadership styles in the church. The results of the study indicate that Transformational Leadership is able to increase the engagement of young people through an inspirational approach and supporting programs such as mentoring and social service activities. The main challenges faced are adaptation to technology and the values of the younger generation. In conclusion, Transformational Leadership plays a significant role in building spiritual attachment in charismatic churches and needs to be adapted innovatively to remain relevant to the younger generation. Abstrak Penelitian ini mengkaji pengaruh Kepemimpinan transformasional terhadap keterlibatan spiritual generasi muda di gereja-gereja karismatik. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kebutuhan gereja karismatik untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Kepemimpinan transformational, yang menekankan inspirasi, keterikatan emosional, dan pengembangan individu, diyakini mampu menciptakan ikatan kuat yang mendukung keterlibatan spiritual berkelanjutan. Rumusan masalah penelitian ini berfokus pada bagaimana Kepemimpinan transformasionaldapat memengaruhi keterlibatan generasi muda, strategi yang diadopsi gereja karismatik untuk mencapai keterlibatan ini, dan tantangan yang muncul dalam implementasinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur yang mencakup jurnal dan buku akademik lima tahun terakhir. Tinjauan literatur dilakukan untuk memahami tren, strategi, dan dinamika yang relevan terkait gaya kepemimpinan transformasional di gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepemimpinan transformasional mampu meningkatkan keterlibatan generasi muda melalui pendekatan inspiratif dan program-program pendukung seperti mentoring dan kegiatan pelayanan sosial. Tantangan utama yang dihadapi adalah adaptasi terhadap teknologi dan nilai-nilai generasi muda. Kesimpulannya, kepemimpinan transformasional berperan signifikan dalam membangun keterikatan spiritual di gereja karismatik dan perlu diadaptasi secara inovatif agar tetap relevan bagi generasi muda.
Pantekostalisme dalam Studi Agama: Merekonstruksi Sejarah Sosio-Intelektual di Indonesia Elia Tambunan; MC Reonald Debataraja
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 2: Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.628

Abstract

Some say that there is no Pentecostal theology, there is only biblical theology by previous academics, that is the main problem in this article. According to the author, the argument built on the framework and work of postcolonial studies epistemology actually reveals things related to Pantecost in Indonesia (including theology) for the emergence of something distinctive, local, and original, which is then named Pantecostalism as a technical umbrella term. So that, this article is not the same as the previous researcher. This qualitative research paper is a social history approach with a source analysis method. We collected apart from primary, empirical, observational, interview, as well as literature studies, whether it is by academics working in the Pentecostal field including social media on various platforms, website pages or non-Pantecostal but as a secondary source for the sake of building the solidity of the decipherment of the writing. This paper presents the findings of a new intellectual orientation on Pantecostal studies in Indonesia that should not be equated with studying global Pentecostalism, because Pantecostalism, although it has a historicality from a socio-intellectual perspective, has its own distinction so that it is appropriate to be included as an inherent part of the study of religion. Keywords: Indonesia; pantecostalism; socio-intellectual; study of religionAbstrak Tak sedikit yang mengatakan, tidak ada teologi Pantekosta, yang ada ialah teologi alkitabiah saja oleh para akademisi sebelumnya, itulah masalah utama dalam tulisan ini. Oleh penulis, argumentasi yang dibangun berdasarkan kerangka pikir dan kerja epistemologis postcolonial studies justru menampakkan hal-hal sekaitan dengan Pantekosta di Indonesia (termasuk teologi) demi munculnya sesuatu hal yang khas, yang lokal, dan yang asali, yang kemudian dinamai dengan Pantekostalisme sebagai payung istilah secara teknis. Sehingga, tulisan ini tidak sama dengan peneliti sebelumnya. Tulisan penelitian kualitatif ini pendekatan sejarah sosial dengan metode analisis sumber. Kami mengumpulkan data selain dari sumber primer, empiris, observasi, wawancara, juga dengan kajian literatur, apakah itu oleh akademisi yang bekerja di ladang Pantekosta termasuk media sosial berbagai platform, laman website maupun yang bukan Pantekosta namun sifatnya sebagai sumber sekunder demi terbangunnya soliditas uraian tulisan. Tulisan ini menampilkan temuan kebaruan orientasi intelektual terkait studi Pantekosta di Indonesia yang tidak boleh, tidak perlu disama-samakan dengan studi global Pentekostalisme karena Pantekostalisme meskipun memiliki pertalian historisitas dari sisi sosio-intelektual tetapi memiliki distingsi tersendiri sehingga tepat dimasukkan sebagai bagian inheren studi agama.Kata-Kata Kunci: Indonesia; pantekostalisme; sosio-intelektual; studi agama
BERAGAMA YANG DISRUPTIF DI ERA POST-TRUTH: Klausa “Yaitu di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus”isi Doktrinal Pantekostalisme di Indonesia Dipanggungkan Aktor Digital Media Sosial Elia Tambunan; Haqqul Yaqin
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/ee4e7x29

Abstract

This paper explores the clause “Namely in the Name of the Lord Jesus Christ” within the context of the meaning disruptions that occur in the post-truth era, particularly as influenced by social media. Historically rooted in the practice of immersion baptism within the Pantecostalism tradition since the Dutch East Indies era, this clause has undergone shifts in perception and has even been stigmatized as deviant teaching by various digital actors in today’s public sphere. Using a qualitative approach that combines digital ethnography and content analysis, this study investigates the representation, interpretation, and rejection of the clause across various digital platforms. The findings indicate that social media has transformed into a theatrical arena where digital figures renegotiate theological meanings through personal expressions of faith intertwined with viral public opinion. This research contributes to academic discussions on post-truth Indonesia’s Pantecostalism in the religious landscape shaped by social media. It highlights how the transformation of Indonesian Pantecostal theology is influenced by subjectivity, emotion, and the dynamics of viral digital information-oftenly by cyberbullying they ignore historical foundations, sociological data, and biblical truths. These findings emphasize the urgency for the church to critically engage with digital developments as a new arena for shaping understandings of faith. Abstrak Tulisan ini mengkaji klausa “Yaitu di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus” dalam konteks disrupsi makna yang terjadi di era post-truth melalui media sosial. Klausa yang historisitasnya berakar dari praktik sakramen baptisan selam dalam tradisi Pantekostalisme sejak era Hindia Belanda ini mengalami pergeseran persepsi, bahkan stigmatisasi sebagai ajaran menyimpang oleh sejumlah aktor digital di ruang publik kontemporer. Dengan pendekatan kualitatif melalui gabungan digital ethnography dan content analysis, penelitian ini menelusuri representasi, interpretasi, serta penolakan terhadap klausa tersebut dalam konten digital di sejumlah platform. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi arena teaterikal di mana figur-figur digital menegosiasikan ulang makna teologis melalui ekspresi iman personal yang terjalin dengan opini publik yang viral. Studi ini menawarkan kontribusi kebaruan dalam isi kajian akademik, yakni Pantekostalisme di Indonesia era post-truth beragama di media sosial yang disumbangkan setelah mengkaji doktrin gereja dengan menyoroti bagaimana transformasi makna teologi Pantekosta Indonesia dapat terbentuk oleh subjektivitas, emosi, dan dinamika viralitas informasi digital-sering kali dengan cyberbullying justru mengabaikan fondasi historis, data sosiologis, dan kebenaran biblika. Temuan ini memperlihatkan urgensi bagi gereja untuk merespons secara kritis perkembangan digital sebagai medan baru pembentukan pemahaman iman.
INTERSEKSI HERMENEUTIK RICOEUR DENGAN HERMENEUTIK PENTAKOSTAL Valentino Wariki
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/27t3yr84

Abstract

This article explores Pentecostal hermeneutics as a distinctive Pentecostal approach to interpreting Scripture and actualizing it in the practice of life. In ecumenical life, how do Pentecostals combine Pentecostal hermeneutics as a hermeneutic method that is parallel to other theological products? By bringing together Paul Ricoeur's views on linguistic symbols and narratives, Pentecostal hermeneutics rejects the overly dominant historical-critical methodology. The results show that Pentecostal hermeneutics offers a dynamic and relevant reading model for the context of contemporary communities. The emphasis of Pentecostal hermeneutics is on the literalization of the text and the implementation of narrative criticism. Narrative criticism becomes a hermeneutical tool that is able to reach the features that are on the surface of the text and unite them in the vortex of interpretation. Pentecostal hermeneutics becomes an alternative for a simpler reading that can offer substantive and unsubstituted meaning from the context of its narrative. Abstrak Artikel ini mengeksplorasi hermeneutik Pentakostal sebagai pendekatan khas Pentakostal dalam menafsirkan Kitab Suci dan mengaktualisasikannya pada praktik kehidupan. Dalam kehidupan ekumenikal, bagaimana Pentakostal mempresentasikan hermeneutik Pentakostal sebagai suatu metode hermeneutik yang sejajar dengan produk teologis lainnya? Dengan mempertemukan pandangan Paul Ricoeur mengenai simbol-simbol linguistik dan narasi, hermeneutik Pentakostal menolak metodologi historis-kritis yang terlampau dominan. Hasilnya memperlihatkan bahwa hermeneutik Pentakostal menawarkan model pembacaan yang dinamis dan relevan dengan konteks komunitas kontemporer. Penekanan hermeneutik Pentakostal ada pada literalisasi teks dan implementasi kritik naratif. Kritik naratif menjadi alat hermeneutis yang mampu menjangkau fitur-fitur yang berada di permukaan teks dan menyatukannya dalam pusaran tafsir. Hermeneutik Pentakostal menjadi alternatif guna pembacaan yang lebih sederhana yang dapat menawarkan makna yang substantif dan tidak tersubtitusi dari konteks narasinya.
Ketundukan kepada Pemimpin dalam Ketegangan Iman dan Keadilan: Studi Biblika dan Etika Publik Kristen Masa Kini Harapan Nainggolan; Jhon Remofe Malau; Yosua Michael Nainggolan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/c7frr094

Abstract

The controversy over submission to leaders, both in the realm of the church and secular government, is a serious issue that demands in-depth theological and ethical studies. This study offers a critical approach through a qualitative study with a literature review method to examine historically, biblically, and socially how the legitimacy of leadership is understood and practiced, especially when the leader is repressive or corrupt. The results of the study show that the Bible emphasizes obedience to the government as part of the call of faith, but this obedience is not absolute, but must go hand in hand with ethical awareness and prophetic courage to reject injustice. The urgency of this study lies in true submission must be rooted in justice, moral integrity, and commitment to the values ??of the Kingdom of God, so that the church is a critical partner in building a just and dignified social order. Abstrak Kontroversi ketundukan kepada pemimpin, baik dalam ranah gerejawi maupun pemerintahan sekuler, menjadi persoalan serius yang menuntut kajian teologis dan etis yang mendalam. Penelitian ini menawarkan pendekatan kritis melalui studi kualitatif dengan metode tinjauan pustaka untuk menelaah secara historis, biblika dan sosial bagaimana legitimasi kepemimpinan dipahami serta dipraktikkan, khususnya ketika pemimpin bersifat represif atau koruptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alkitab menekankan ketaatan kepada pemerintah sebagai bagian dari panggilan iman, namun ketaatan tersebut tidak bersifat mutlak, melainkan harus berjalan beriringan dengan kesadaran etis dan keberanian profetik untuk menolak ketidakadilan. Urgensitas dari penelitian ini terletak pada ketundukan yang benar harus berakar pada keadilan, integritas moral, dan komitmen pada nilai-nilai Kerajaan Allah, sehingga gereja sebagai mitra kritis dalam membangun tatanan sosial yang adil dan bermartabat.
Law Enforcement and Social Conflict Detection: A Study of Jürgen Moltmann’s Public Theology in the Indonesian Context Hendy Tan; Iman Kristina Halawa
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/x9zv8v53

Abstract

Social conflict in Indonesia is no longer merely incidental but rather systemic and recurrent, rooted in structural inequality, social exclusion, and weak institutional capacity to detect potential conflicts at an early stage. Under these conditions, law enforcementwhich remains legally formalistic and reactivehas not yet been optimized as a mechanism for the early detection of social conflict. Although various studies have examined the relationship between law and conflict, existing approaches tend to be partial and have not been able to integrate legal, moral, and social dimensions simultaneously. This study aims to analyze the limitations of law enforcement in the early detection of social conflict and to reconstruct its function through the perspective of Jürgen Moltmann’s public theology, specifically the concept of the Theology of Hope. This study employs a qualitative approach with a normative-conceptual design within a socio-legal framework through systematic literature review. The findings indicate that the limitations of law enforcement lie in the dominance of a reactive paradigm, a weak orientation toward substantive justice, and the absence of mechanisms sensitive to structural injustice. This study offers an integrative model that positions law as a preventive, responsive, and transformative instrument in the prevention of social conflict, while also providing a theoretical contribution to the development of public theology in the Indonesian context. Abstrak Konflik sosial di Indonesia tidak lagi sekadar bersifat insidental, melainkan sistemik dan berulang, yang berakar pada ketimpangan struktural, eksklusi sosial, dan lemahnya kapasitas institusional dalam mendeteksi potensi konflik sejak dini. Dalam kondisi ini, penegakan hukum yang masih berorientasi legal-formal dan reaktif belum mampu dioptimalkan sebagai mekanisme deteksi dini konflik sosial. Meskipun berbagai studi telah mengkaji hubungan antara hukum dan konflik, pendekatan yang ada cenderung parsial dan belum mampu mengintegrasikan dimensi hukum, moral, dan sosial secara simultan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbatasan penegakan hukum dalam deteksi dini konflik sosial serta merekonstruksi fungsinya melalui perspektif teologi publik Jürgen Moltmann, khususnya konsep Theology of Hope. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain normatif-konseptual dalam kerangka socio-legal melalui studi pustaka sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan penegakan hukum terletak pada dominasi paradigma reaktif, lemahnya orientasi pada keadilan substantif, serta absennya mekanisme yang sensitif terhadap ketidakadilan struktural. Penelitian ini menawarkan model integratif yang menempatkan hukum sebagai instrumen preventif, responsif, dan transformatif dalam pencegahan konflik sosial, sekaligus memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan teologi publik dalam konteks Indonesia.
The Tension between Divine Sovereignty and Human Agency in Pentecostal Theology: Miracles, Healing, and the ‘Word of Faith’ Movement Upa Silaen; Ibiang O. Okoi; Foret Nicholson
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/pv6qz253

Abstract

Pentecostal theology has long emphasized the dynamic interplay between divine sovereignty and human agency, particularly in the realms of miracles, healing, and faith. However, the rise of the Word of Faith movement with its teachings on “claiming” blessings through faith has intensified theological and pastoral tensions within Pentecostalism. This study examines the biblical, historical, and theological foundations of Pentecostal views on healing, contrasting classical Pentecostal perspectives with the more controversial Word of Faith approach. It further analyzes how this core tension manifests in the gendered dynamics of global healing ministries, where women’s Spirit-empowered authority often exists in paradoxical tension with institutional patriarchy. While early Pentecostals like William Seymour and Charles Parham viewed healing as a sovereign act of God, albeit responsive to faith, later figures such as Kenneth Hagin and Kenneth Copeland framed faith as an almost mechanistic force that obligates divine intervention. The paper explores key biblical passages (e.g., Mark 5:34, James 5:14-16, and 2 Corinthians 12:7-10) to assess whether the Word of Faith movement aligns with Scripture or risks reducing God’s power to human manipulation. It also engages critiques from Pentecostal scholars (e.g., Gordon Fee, Amos Yong) who warn against the movement’s potential for spiritual abuse, particularly in its tendency to blame believers for unanswered prayers. The study further analyzes pastoral implications, including theodicy concerns when healing does not occur, the ethical pitfalls of prosperity-centered preaching, and the need for an ecclesial practice that affirms the Spirit’s sovereign distribution of healing gifts across gender lines. Ultimately, the paper argues for a balanced Pentecostal theology that upholds both God’s sovereignty and human responsibility, one that makes theological space for the full exercise of charismatic gifts by all believers, thereby avoiding the extremes of passive fatalism and presumptive “faith formulas.” By reclaiming the early Pentecostal emphasis on the Spirit’s unpredictability and the biblical theology of suffering, and by confronting its own gendered paradoxes, contemporary Pentecostalism can navigate these tensions with greater theological integrity and pastoral sensitivity. Keywords: divine healing; divine sovereignty; pentecostal theology; word of faith movement Abstrak Teologi Pentakosta sejak lama menekankan keterkaitan dinamis antara kedaulatan ilahi dan agensi manusia, khususnya dalam ranah mujizat, kesembuhan, dan iman. Namun, kemunculan gerakan Word of Faith dengan ajarannya tentang “mengklaim” berkat melalui iman telah memperuncing ketegangan teologis dan pastoral di dalam Pentakostalisme. Studi ini menelaah dasar biblika, historis, dan teologis dari pandangan Pentakosta tentang kesembuhan, dengan membandingkan perspektif Pentakosta klasik dan pendekatan Word of Faith yang lebih kontroversial. Studi ini juga menganalisis bagaimana ketegangan mendasar tersebut termanifestasi dalam dinamika pelayanan kesembuhan di berbagai konteks global yang bercorak gender, di mana otoritas perempuan yang diberi kuasa oleh Roh seringkali berada dalam ketegangan paradoksal dengan struktur patriarki institusional. Sementara para Pentakosta awal seperti William Seymour dan Charles Parham memandang kesembuhan sebagai tindakan kedaulatan Allah, meskipun tanggap terhadap iman, tokoh-tokoh kemudian seperti Kenneth Hagin dan Kenneth Copeland membingkai iman sebagai suatu kekuatan yang hampir mekanistik yang mewajibkan intervensi ilahi. Artikel ini mengeksplorasi bagian-bagian Alkitab kunci (misalnya Markus 5:34; Yakobus 5:14–16; dan 2 Korintus 12:7–10) untuk menilai apakah gerakan Word of Faith sejalan dengan Kitab Suci atau justru berisiko mereduksi kuasa Allah menjadi manipulasi manusia. Tulisan ini juga berinteraksi dengan kritik para sarjana Pentakosta (misalnya Gordon Fee, Amos Yong) yang memperingatkan potensi penyalahgunaan rohani dalam gerakan tersebut, khususnya kecenderungannya menyalahkan orang percaya atas doa yang tidak dijawab. Studi ini selanjutnya menganalisis implikasi pastoral, termasuk persoalan teodise ketika kesembuhan tidak terjadi, jebakan etis dari pengkhotbahan yang berpusat pada kemakmuran, serta kebutuhan akan praktik gerejawi yang menegaskan distribusi kedaulatan karunia kesembuhan oleh Roh melintasi batas-batas gender. Akhirnya, artikel ini berargumen bagi suatu teologi Pentakosta yang seimbang yang menegakkan baik kedaulatan Allah maupun tanggung jawab manusia yang memberi ruang teologis bagi pelaksanaan penuh karunia-karunia karismatik oleh semua orang percaya, sehingga menghindari ekstrem pasif fatalistik maupun “rumus iman” yang presumtif. Dengan memulihkan penekanan Pentakosta awal pada ketidak-terdugaan Roh dan teologi penderitaan yang alkitabiah, serta dengan menghadapi paradoks gendernya sendiri, Pentakostalisme kontemporer dapat menavigasi ketegangan ini dengan integritas teologis dan kepekaan pastoral yang lebih besar. Kata kunci: kesembuhan ilahi; kedaulatan ilahi; teologi Pentakosta; gerakan Word of Faith
Peirasmos and Dokimion in the New Testament: Contextual-Theological Analysis and Contemporary Implications Wennar; Djone Georges Nicolas; Peter Oyugi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/k917qv76

Abstract

This study investigates the Koine Greek terms peirasmos (temptation) and dokimion (testing) in the New Testament to clarify the widespread confusion among contemporary Christians regarding the origins, purposes, and theological significance of trials. Employing a qualitative method grounded in textual analysis, linguistic study, and hermeneutics, this research examines the etymology, distribution, and contextual use of both terms across selected New Testament passages. The study reveals that peirasmos frequently denotes a challenge that intends to weaken or disrupt faith, whereas dokimion refers to a refining test designed to strengthen and validate spiritual character. Nevertheless, the findings also show that peirasmos, when responded to in faith, can function as a means through which dokimion takes place, producing endurance and spiritual maturity. In light of contemporary challenges such as materialism, moral relativism, digital pressure, and identity fragmentation, this study demonstrates the relevance of these biblical concepts for shaping Christian responses to modern ethical and spiritual struggles. By integrating linguistic, historical, and contextual-theological analysis, this research provides a framework for understanding how believers can transform temptation into opportunities for growth and spiritual resilience. The study contributes to contextual theology by bridging biblical interpretation with practical implications for Christian life in a rapidly changing world. Keywords: crisis of faith; dokimion and peirasmos; modern era spirituality; spiritual maturity; weak loyalty Abstrak Penelitian ini mengkaji istilah Yunani Koine peirasmos (pencobaan) dan dokimion (ujian) dalam Perjanjian Baru untuk memperjelas kerancuan pemahaman di kalangan umat Kristen masa kini mengenai asal-usul, tujuan, dan signifikansi teologis dari berbagai tantangan iman. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi linguistik, analisis teks, dan pendekatan hermeneutika, penelitian ini menelusuri akar kata, distribusi, serta konteks penggunaan kedua istilah tersebut dalam beberapa bagian Perjanjian Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peirasmos sering merujuk pada tantangan yang bertujuan melemahkan atau menjatuhkan iman, sedangkan dokimion menggambarkan proses pengujian yang dimaksudkan untuk memurnikan dan menguatkan karakter rohani. Temuan juga mengindikasikan bahwa peirasmos, apabila dihadapi dengan iman, dapat menjadi sarana bagi terjadinya dokimion yang menghasilkan ketekunan serta kematangan rohani. Dalam konteks modern seperti materialisme, relativisme moral, tekanan digital, dan krisis identitas, konsep-konsep ini terbukti relevan untuk membentuk respons Kristen terhadap pergumulan etis dan spiritual masa kini. Dengan mengintegrasikan analisis linguistik, historis, dan teologi kontekstual, penelitian ini memberikan kerangka untuk memahami bagaimana orang percaya dapat mengubah pencobaan menjadi kesempatan pertumbuhan rohani. Penelitian ini berkontribusi pada teologi kontekstual dengan menjembatani pemahaman biblika dengan tantangan praktis kehidupan Kristen kontemporer. Kata kunci: dokimion dan peirasmos; kematangan rohani; kesetiaan lemah; krisis iman; spiritual era modern