cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu@institutkristenrealbatam.ac.id
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : https://doi.org/10.53547/775swq73
Core Subject :
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika is an open-access, peer-reviewed, and nationally accredited journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia. The journal is registered under ISSN 2685-3485 (online) and ISSN 2685-3515 (print) and publishes articles in both Indonesian and English. The primary focus of DIEGESIS is Pentecostal-Charismatic theology, approached from academic, interdisciplinary, and contextual perspectives. Its scope includes biblical and hermeneutical studies, church history, spirituality, and the relationship between theology and issues of society, culture, Christian education, psychology, and religions. DIEGESIS is nationally accredited at SINTA 2 level (Decree No. 295/C/C3/KPT/2026) for the 2025–2029 period. It is published twice a year, in June and December, and welcomes contributions from academics and theological practitioners, both nationally and internationally. All manuscripts that meet the submission requirements are evaluated by expert reviewers through a double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Menelisik Spiritualitas Gerakan Pentakostal-Kharismatik dalam Potret Megachurch di Indonesia Fredy Simanjuntak
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.484

Abstract

This study examines the notable expansion of Indonesian churches in urban areas, particularly in relation to the Pentecostal-Charismatic movement and its subsequent metamorphosis into megachurches. This phenomenon has become indisputable in the modern church's image, giving it a unique symbolism in the culture at large. With their expressive worship styles, vibrant environments, modern music, expansive stages, and inspirational sermons, these churches provide a distinctive religious experience. Even though this movement is gaining traction and expanding quickly, the research also draws attention to the idea that megachurches are a kind of religious commodification that may be more designed to appeal to the general public. As a result, the purpose of this study is to determine whether this transformation is only on the surface or if it includes comprehensive changes in the structure and essence of the church. The research method used is phenomenology, and theologically, this research finds a strong foundation for this movement in the Bible. The findings of this study show that, despite the criticism leveled at it, the megachurch movement has had a positive impact on the spiritual growth of its congregation, demonstrating that the megachurch phenomenon is not only superficial, but also includes a profound transformation in their spiritual experience.Keywords: pentecostal-charismatic movement; spirituality; megachurch; IndonesiaAbstrakPenelitian ini mengeksplorasi pertumbuhan gereja yang signifikan di daerah perkotaan di Indonesia, khususnya dalam konteks gerakan Pentakostal-Kharismatik yang kemudian mengalami transformasi menjadi gereja raksasa atau megachurch. Fenomena ini menjadi tak terbantahkan dalam gambaran gereja kontemporer, menciptakan simbolisme khas dalam masyarakat modern. Gereja-gereja ini menawarkan pengalaman religius yang unik dengan gaya ibadah ekspresif, suasana yang aktif, musik kontemporer, panggung yang megah, dan khotbah motivasional. Meskipun gerakan ini mendapat dukungan dan pertumbuhan pesat, penelitian ini juga menyoroti kritik terhadap konsep gereja mega sebagai komodifikasi agama yang mungkin lebih ditujukan untuk menarik massa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri apakah transformasi ini hanya terjadi di permukaan atau mencakup perubahan menyeluruh dalam struktur dan esensi gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologi, dan secara teologis, penelitian ini menemukan dasar yang kuat dalam Alkitab untuk gerakan ini. Hasil penelitian ini merinci bahwa, di samping kritik yang muncul, gerakan ini memiliki dampak positif dalam pertumbuhan spiritual para jemaatnya, menunjukkan bahwa fenomena gereja raksasa tidak hanya bersifat permukaan, tetapi mencakup transformasi yang mendalam dalam pengalaman rohaniah mereka.Kata Kunci: Gerakan Pentakostal-Kharismatik; Spiritualitas; Megachurch; Indonesia
Mendengar Suara Perempuan dalam Peristiwa Bungkamnya Sarah: Studi Naratif Dialog Abram dengan Sarai dalam Kej. 12:10-20 Abraham Pakpahan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.485

Abstract

Dialogue is an interaction between two or more people that involves mutually constructive communication between the speaker and the interlocutor, but in the narrative Gen. 12:10-20 looks like just one way dialogue. This dialogue is seen through the conversation between Abram and Sarai. Abram, who was filled with fear, told Sarai to recognize herself as Abram's sister and not as his wife. The author's aim in conducting this research is to see that Sarai is an important character in this narrative. The author sees that Sarai has an important role in shaping this narrative even though she is shown as someone who is silent without offering any resistance. This research was conducted by the author using narrative criticism to understand that the narrative of Sarai's silence is a criticism for today's readers to hear women's voices and respect women.Keywords: Abram; sarai; voice; Lord; silence; narrativeAbstrakDialog merupakan interaksi dua orang atau lebih yang melibatkan komunikasi yang saling membangun interaksi antara pembicara dengan lawan bicaranya namun dalam narasi Kej. 12:10-20 terlihat hanya dialog satu arah. Dialog ini terlihat melalui percakapan antara Abram dan Sarai. Abram yang sedang dipenuhi ketakutan menyuruh Sarai untuk mengakui dirinya sebagai adik Abram dan bukan sebagai istrinya. Tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini untuk melihat bahwa Sarai merupakan tokoh yang penting dalam narasi ini. Penulis melihat bahwa Sarai memiliki peranan penting dalam membentuk narasi ini meskipun ia diperlihatkan sebagai seorang yang bungkam tanpa memberikan perlawanan. Penelitian ini dilakukan oleh penulis dengan menggunakan kritik naratif untuk memahami bahwa narasi bungkamnya Sarai merupakan kritik kepada pembaca masa kini untuk mendengar suara perempuan dan menghormati perempuan.Kata Kunci: Abram; sarai; suara; Tuhan; bungkam; narasi
Relasi Alam dengan Eksistensi Manusia Terhadap Krisis Ekologi Berdasarkan Perspektif Filsafat-Teologis Delinda Elizabeth Aritonang; Roberto Hamonangan Silitonga; Destri Ayu Natalia Hutauruk
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.489

Abstract

This study examines the relationship between nature and human existence regarding the current ecological crisis. God, humans and nature are inseparable links. Recently, society has been faced with an environmental crisis and a decline in the ecosystem system, ranging from global warming, drought, floods, climate change, reduction in natural resources, to the extinction of flora and fauna diversity. When technological developments become more advanced and penetrate development that does not pay attention to environmental welfare, an ecological crisis occurs. Humans are considered the main actor in the ecological crisis which occurs due to greed and negligence in exploiting natural resources. A crisis of human existence and disharmony in the relationship between God and nature occurred. The aim of this research is to provide an understanding of the relationship between nature and human existence in order to create awareness of the relationship between humans and their love of nature and minimize the ecological crisis. The research method uses descriptive qualitative methods. This research method is carried out by collecting data, describing, analyzing and evaluating through critical thinking from books, journal articles and the Bible related to the discussion. This method divides this research into three important points. First, Human Existence and the Ecological Crisis. Second, the meaningful relationship between humans, nature and God towards the ecological crisis. Third, Understanding the Spiritual-Ecological Relationship between Nature and Human Existence. The result of this research is to offer a reconstruction of the paradigm of human existence towards an awareness of the meaningful relationship between God and nature as an alternative in overcoming the ecological crisis and conserving natural resources. The conclusion is to convey the message that through awareness, humans as God's creation must be grateful and responsible for maintaining and preserving them in the form of positive-constructive actions.Keywords: relations; human existenc; ecological crisis; nature; ecological spiritualityAbstrakKajian ini menelisik relasi alam dengan eksistensi manusia terhadap krisis ekologi yang terjadi sekarang ini. Allah, manusia dan alam, merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Akhir-akhir ini masyarakat diperhadapkan pada krisis lingkungan dan penurunan dalam sistem ekosistem, mulai dari pemanasan global, kekeringan, banjir, perubahan iklim, berkurangnya sumber daya alam, hingga punahnya keanekaragaman flora dan fauna. Ketika perkembangan teknologi semakin maju dan merasuki pembangunan yang tidak memperhatikan kesejahteraan lingkungan, terjadilah krisis ekologis. Manusia dianggap sebagai aktor utama atas krisis ekologi yang terjadi karena keserakahan dan kelalaian dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Krisis eksistensi manusia dan disharmoni relasi antara Allah dan alam pun terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi pemahaman relasi alam dengan eksistensi manusia demi mewujudukan kesadaran relasi manusia terhadap kecintaan kepada alam dan meminimalisir krisis ekologi. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mendeskripsikan, menganalisis dan mengevaluasi melalui pemikiran kritis dari buku, artikel jurnal dan Alkitab yang berkaitan dengan pembahasan. Metode ini membagi penelitian ini menjadi tiga poin penting. Pertama, Eksistensi Manusia dan Krisis Ekologi. Kedua, Relasi Bermakna Manusia, Alam dan Tuhan terhadap Krisis Ekologi. Ketiga, Memaknai Relasi Alam dan Eksistensi Manusia yang Spiritualitas-Ekologis. Hasil dari penelitian ini adalah menawarkan rekonstruksi paradigma eksistensi manusia terhadap kesadaran relasi yang bermakna antara Allah dan alam sebagai suatu alternatif dalam menanggulangi krisis ekologis dan melestarikan sumber daya alam. Kesimpulannya adalah untuk menyampaikan pesan bahwa melalui kesadaran manusia sebagai ciptaan Allah harus bersyukur dan bertanggungjawab menjaga dan melestarikan dipertanggungjawabkan dalam bentuk perbuatan yang positif-konstruktif.Kata Kunci: relasi; eksistensi manusia; krisis ekologi; alam; spiritualitas ekologis
Konsep Simbol Keagamaan Yang Sakral Menurut Mircea Eliade Dan Relevansinya Bagi Umat Kristiani Dalam Relasi Antar Agama Di Indonesia Siprianus Bruto; Fransiska Widyawati; Antonius Marius Tangi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.491

Abstract

Incidents of religious harassment are frequently reported in Indonesia, often manifesting as insults or damage to sacred religious symbols, including those of Christianity. This not only disrupts the tranquility of the Christian community but also undermines interfaith relationships. This study explores the thoughts of Mircea Eliade on sacred religious symbols, distinguishing them from the profane, and assesses their relevance to Christians and the development of interfaith relations. The research aims to reinforce Christian understanding of the sacred and profane within their religion and to correlate these concepts with biblical principles. A qualitative approach, specifically a literature review, is employed in this study. The findings suggest that Eliade’s philosophy provides a theoretical framework for comprehending the sanctity of symbols across religions. Each religion has its unique interpretation of the sacred and profane, shaped by its theological and historical context. Sacred elements demand a different level of respect and protection compared to the profane. Eliade’s philosophy aligns with the interpretation of the Scriptures, which also employ symbols to depict the presence of the Holy Trinity. For Indonesian Christians, Eliade’s thoughts are relevant as they encourage religious communities to respect each other’s religious symbols, engage in symbolic dialogues, and strengthen faith experiences and relationships. Eliade’s philosophy can enrich Christians’ understanding of the sanctity of religious symbols. Externally, Christians can apply Eliade’s philosophy to foster respect and build tolerant and inclusive interfaith relationships. Keywords: Mircea Eliade; Symbol; Sacred; Religious Relations; InfidelAbstrak Insiden pelecehan agama sering dilaporkan di Indonesia, seringkali berwujud penghinaan atau kerusakan terhadap simbol-simbol sakral agama, termasuk simbol-simbol milik agama Kristen. Hal ini tidak hanya mengganggu ketenangan komunitas Kristen tetapi juga merusak hubungan antaragama. Studi ini mengeksplorasi pemikiran Mircea Eliade tentang simbol-simbol keagamaan yang sakral, membedakannya dari yang profan, dan menilai relevansinya bagi umat Kristen dan pengembangan hubungan antaragama. Penelitian ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman umat Kristen tentang konsep sakral dan profan dalam agama mereka dan untuk mengaitkan konsep-konsep ini dengan prinsip-prinsip Alkitab. Pendekatan kualitatif, khususnya studi literatur, digunakan dalam penelitian ini. Temuan menunjukkan bahwa filsafat Eliade memberikan kerangka teoritis untuk memahami kesucian simbol di berbagai agama. Setiap agama memiliki interpretasi unik tentang sakral dan profan, yang dibentuk oleh teologi dan konteks historisnya. Elemen-elemen sakral menuntut tingkat penghormatan dan perlindungan yang berbeda dibandingkan dengan yang profan. Filsafat Eliade sejalan dengan interpretasi Kitab Suci, yang juga menggunakan simbol untuk menggambarkan kehadiran Allah Tritunggal. Bagi umat Kristen di Indonesia, pemikiran Eliade relevan karena mendorong komunitas agama untuk saling menghormati simbol-simbol agama masing-masing, melakukan dialog simbolik, dan memperkuat pengalaman dan hubungan iman. Pemikiran Eliade dapat memperkaya pemahaman umat Kristen tentang kesucian simbol-simbol keagamaan. Secara eksternal, umat Kristen dapat menerapkan pemikiran Eliade untuk menunjukkan penghormatan dan membangun hubungan antaragama yang toleran dan inklusif.Kata Kunci: Mircea Eliade; simbol; sakral; relasi agama; kafir
Hakikat Kemiskinan Menurut Montfort Dan Relevansinya Bagi Kehidupan Umat Katolik Di Indonesia Yakobus Syukur; Antonius Denny Firmanto
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.523

Abstract

This research aims to explore the nature of poverty according to Montfort and its relevance to the lives of Catholic communities in Indonesia. Poverty is often associated with living in discomfort, injustice, unhappiness, a life of scarcity, and a lack of material wealth to meet one's needs. This common paradigm needs to be examined more deeply using the surgical tool of the nature or spirituality of poverty according to Montfort. The research employs a literature review methodology. The study reveals that Montfort's spirituality of poverty highlights the ability to fulfill responsibilities and live responsibly, especially by engaging with others and paying attention to the needs of many, particularly those who are poor and marginalized. The use of material wealth is emphasized not for worldly pleasures but as a necessary means to support life. The relevance of Montfort's teachings in the context of how Catholics in Indonesia experience their religious life can be seen in three essential attitudes. Firstly, poverty is considered a means to attain holiness. Secondly, poverty is viewed as an effort in service and solidarity. Thirdly, poverty is seen as a means to guide the community towards the virtues of spiritual life. Keywords: God; Catholic church; poverty; humanit; MontfortAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hakikat kemiskinan menurut Montfort dan relevansinya bagi kehidupan umat Katolik Indonesia. Kemiskinan kerapkali diidentikkan dengan hidup dalam ketidakadilan, ketidakbahagiaan, hidup yang serba kekurangan, serta hidup yang tidak berharta (hartanya tidak mencukupi kebutuhannya). Paradigma umum ini perlu dikaji lebih dalam dengan menggunakan pisau bedah hakikat atau spiritualitas kemiskinan menurut Montfort. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Kajian ini menemukan bahwa spiritualitas kemiskinan menurut Montfort menunjukkan kesanggupan untuk menjalankan tugas dan hidup secara bertanggung jawab, terlebih terpanggil untuk terlibat dalam hidup dengan orang lain serta menaruh perhatian kepada kebutuhan banyak orang, khususnya bagi mereka yang miskin dan terlantar serta dalam penggunaan harta benda bukan untuk menjadi kesenangan duniawi melainkan diperlukan untuk menunjang hidup. Relevansi ajaran Montfort dalam konteks bagaimana umat Katolik di Indonesia menghayati kehidupan agamanya dapat dilihat dalam tiga sikap penting. Pertama, kemiskinan merupakan sarana menuju kekudusan. Kedua, kemiskinan adalah upaya pelayanan dan solidaritas. Ketiga, kemiskinan adalah sarana untuk menghantar umat kepada keutamaan hidup rohani.Kata Kunci: Allah; gereja katolik; kemiskinan; manusia; Montfort
Koreksi Paulus terhadap Spiritualitas Eskapis dalam 1 Korintus 15 Rynaldi Mahardika Situmeang
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/s3b4ha30

Abstract

This article examines Paul’s correction of escapist spirituality in 1 Corinthians 15 by situating the doctrine of resurrection within the historical, cultural, and theological context of the Corinthian community. Influenced by Greek dualism, some believers rejected bodily resurrection and reinterpreted salvation as a purely spiritual reality detached from the body and history. Through an apologetic argument, Paul affirms the resurrection of Christ as a historical and eschatological event that constitutes the foundation of Christian faith and the guarantee of believers’ resurrection. The concept of soma pneumatikon underscores that resurrection does not abolish the body but entails an ontological transformation under the power of the Spirit. Within the framework of inaugurated eschatology, resurrection is presented as a reality already initiated in Christ while awaiting its final consummation. Consequently, resurrection functions as a theological correction to escapist, individualistic, and ahistorical forms of spirituality. Keywords: 1 Corinthians 15; new creation; Pauline eschatology; resurrection of the body; escapist spirituality Abstrak Artikel ini memperlihatkan koreksi Paulus terhadap spiritualitas eskapis dalam 1 Korintus 15 dengan menempatkan ajaran kebangkitan dalam konteks historis, kultural, dan teologis jemaat Korintus. Dipengaruhi oleh dualisme filsafat Yunani, sebagian jemaat menolak kebangkitan tubuh dan mereduksi keselamatan menjadi pengalaman rohani yang terlepas dari tubuh dan sejarah. Melalui argumentasi yang bersifat apologetik, Paulus menegaskan kebangkitan Kristus sebagai peristiwa historis dan eskatologis yang menjadi dasar iman Kristen serta jaminan kebangkitan orang percaya. Konsep soma pneumatikon menunjukkan bahwa kebangkitan bukan penghapusan tubuh, melainkan transformasi ontologis tubuh di bawah kuasa Roh. Dalam kerangka inaugurated eschatology, kebangkitan dipahami sebagai realitas yang telah dimulai di dalam Kristus sekaligus menantikan penggenapan akhir. Dengan demikian, kebangkitan berfungsi sebagai koreksi teologis terhadap spiritualitas yang eskapis, individualistik, dan a-historis. Kata kunci: 1 Korintus 15; ciptaan baru; eskatologi Paulus; kebangkitan tubuh; spiritualitas eskapis
Karunia-Karunia Rohani bagi Pelayanan Gerejawi: Perspektif dari Roma 12:6-8 Joko Priyono; Andarias Pangngaroan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 2: Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.552

Abstract

This study aims to investigate the integration of the gifts of the Spirit in the context of ecclesiastical ministry as presented in Romans 12:6-8. This research uses qualitative methods by performing text analysis and contextual interpretation of relevant verses. The research findings show that the gifts mentioned in the text, namely gifts of prophecy, service, teaching, encouragement, contribution, leadership, and mercy, are mutually integrated and complementary in ecclesiastical service. The implications of this study emphasize the importance of acknowledging and developing the gifts of the Spirit in forming a healthy and productive church community in the mission of ministry. Keywords: spiritual gifts; church service; Romans 12:6-8AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki integrasi karunia-karunia Roh dalam konteks pelayanan gerejawi dalam Surat Roma 12:6-8. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan analisis teks dan interpretasi kontekstual terhadap ayat-ayat yang relevan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa karunia-karunia yang disebutkan dalam teks tersebut, yaitu karunia bernubuat, pelayanan, pengajaran, menasihati, memberi sumbangan, kepemimpinan, dan belas kasihan, saling terintegrasi dan saling melengkapi dalam konteks pelayanan gerejawi. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya pengakuan dan pengembangan karunia-karunia Roh dalam membentuk komunitas gereja yang sehat dan produktif dalam misi pelayanan.Kata Kunci: karunia rohani; pelayanan gerejawi; Roma 12:6-8
Merefleksi Konsep Tuhan Menurut Ulangan 6:4 dan Implikasinya dalam Pemahaman Trinitas Candra Gunawan Marisi; Alex Djuang Papay; Upa Silaen; Jabes Pasaribu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 2: Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.557

Abstract

The views of certain groups within Christianity include the arguments of Arius (Jehovah's Witnesses), who asserts that although Jesus possesses a special nature, He remains human and therefore should not be regarded as more than merely a "creation," like any other human. There is also a belief known as Jesus Only or Oneness, which resembles the heretical teachings of Sabellianism in a new form. Additionally, Islamic perspectives challenge the Christian belief in the Trinity by suggesting that Christians believe in three gods and interpreting the concept of the Trinity as a practice of tritheism. Deuteronomy 6:4 serves as the primary commandment that requires total commitment from the nation of Israel on a personal level, as well as for contemporary believers in Jesus Christ. The purpose of this research is to analyze Deuteronomy 6:4 to reflect on the meaning of the oneness of God. Through this research, it can also be affirmed that the LORD is the God worthy of worship by every believer, and that only God, and no other gods, deserve human worship. The research is conducted using a qualitative method with an inductive approach, specifically through exegesis and lexical and grammatical analysis of the studied verse, which is then reflected upon with other biblical verses, journals, or books to support the research findings. The results indicate that the doctrine of the Trinity affirms the unity of God in three persons, which is not a contradiction: God has one essence and three persons. The Bible affirms both the oneness of God and the divinity of the Father, the Son, and the Holy Spirit. The Trinity provides boundaries for human speculation about the nature of God. The oneness of God is expressed as His essence or existence, while His diversity is expressed in three persons. In the context of conveying God's laws, the oneness of God has several important implications: 1) When God speaks, there is no one else who can contradict Him. 2) When God promises, there is no one else who can retract it. 3) When God punishes disobedience, there is no one else who can protect against it. 4) The LORD is the only true God, not a god among other gods. Keywords: God is one; Trinity; the only true God; concept of LordAbstrak Pandangan beberapa kalangan umat ‘kristen’ mencakup argumen Arius (saksi Yehuwa) yang menyatakan bahwa meskipun Yesus memiliki sifat yang istimewa, Ia tetap merupakan manusia dan oleh karena itu tidak seharusnya dianggap lebih dari sekadar "ciptaan," seperti halnya manusia lainnya, ada juga pemahaman yang dikenal sebagai Jesus Only atau Oneness, yang menyerupai ajaran sesat Sabelianisme dalam bentuk yang baru. Selain itu, pandangan dari Islam menyerang keyakinan Kristen mengenai Allah Tritunggal dengan anggapan bahwa Kristen meyakini adanya tiga Allah, serta menafsirkan bahwa konsep Tritunggal adalah praktik triteisme. Ulangan 6:4 merupakan hukum utama yang mengharuskan komitmen total dari bangsa Israel secara personal demikian juga bagi orang percaya Yesus Kristus masa kini. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk menganalisa Ulangan 6:4 untuk merefleksikan makna Tuhan itu esa, melalui penelitian ini juga dapat menegaskan bahwa TUHAN adalah Allah yang layak disembah oleh setiap orang percaya, hanya Tuhan dan allah yang lain tidak layak mendapatkan penyembahan dari manusia. Penelitian dilakukan dengan Metode Kualitatif dengan pendekatan induktif yakni, eksegesa dan analisa ayat secara leksikal dan gramatikal dari ayat yang diteliti, selanjutnya direfleksikan dengan ayat Alkitab yang lain, jurnal atau buku yang lain untuk mendukung hasil penelitian.  Hasil yang ditemukan, doktrin Trinitas meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi, bukan merupakan kontradiksi: Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi. Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian Bapa, Anak dan Roh Kudus. Trinitas memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esesnsiNya atau keberadaanNya, sedangkan keragamanNya diekspresikan dalam tiga pribadi. Dalam konteks penyampaian hukum-hukum Allah, keesaan Allah mempunyai beberapa implikasi yang penting: 1, Kalau Allah berfirman, tidak ada yang lain yang dapat menolaknya. 2, Kalau Allah berjanji, tidak ada yang lain yang dapat menariknya. 3, Kalau Allah menghukum ketidaktaatan, tidak ada yang lain yang dapat melindungi. 4, TUHAN adalah satu-satunya Allah yang benar, bukan Tuhan diantaran tuan yang lain.Kata kunci: Esa; Trinitas; satu-satunya Tuhan; konsep Tuhan
Harmoni Teologi: “Unconditional Election” dan Teologi Kovenan bagi Kehidupan Rohani Jemaat Daniel Pesah Purwonugroho; Iman Kristina Halawa; Saut Maruli P. Panggabean
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 2: Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.574

Abstract

This article is designed to explore the theological harmony between the doctrine of "unconditional election" and covenant theology and its implications for the spiritual life of the congregation. "Unconditional election" is the concept where God chooses individuals for salvation without regard to their conditions or efforts. Covenant theology frames the interaction between God and humanity through covenants. The harmonization between the doctrine of "unconditional election" and covenant theology centres on the redemptive work and obedience of Jesus Christ on the cross. This obedience of Jesus Christ results in human salvation without any human effort. It also allows humans to experience the covenant of grace without any human effort. Through a qualitative descriptive research method, the theological harmonization between the doctrine of "unconditional election" and covenant theology will be explored to draw spiritual implications for the congregation. The harmonization of "unconditional election" and covenant theology brings individual spiritual well-being and assurance and fosters communal growth.Keywords: harmony; unconditional election; covenant theologyAbstrak Artikel ini dirangkai guna menelusuri harmoni teologi antara doktrin “unconditional election” dengan teologi kovenan dan implikasinya bagi kehidupan rohani jemaat. “Unconditional election” merupakan konsep dimana Allah memilih manusia untuk diselamatkan dan tidak bergantung dengan kondisi dan daya upaya manusia. Teologi kovenan membingkai interaksi Allah dengan manusia melalui kovenan. Harmonisasi antara doktrin “unconditional election” dan teologi kovenan ini bertitik tumpu di dalam karya penebusan dan ketaatan Yesus Kristus di kayu salib. Ketaatan Yesus Kristus ini membawa dampak manusia mengalami keselamatan tanpa melibatkan sedikitpun usaha manusia. Ketaatan Yesus Kristus juga membuat manusia mengalami kovenan anugerah tanpa adanya usaha manusia sedikitpun. Melalui metode penelitian kualitatif deskriptif beserta pengumpulan data studi pustaka, harmonisasi teologi antara doktrin “unconditional election” dan teologi kovenan akan ditelusuri guna menarik implikasi spiritual bagi jemaat. Harmonisasi “unconditional election” dan teologi kovenan membawa jemaat mengalami kesejahteraan dan kepastian spiritual secara individu dan mendatangkan pertumbuhan secara komunal.Kata Kunci: harmoni; unconditional election; teologi kovenan
Demokrasi Politik dalam Perspektif Pentakostalisme dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Berdemokrasi di Indonesia Yosua Feliciano Camerling
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/0f5dh628

Abstract

This paper aims to analyze the concept of political democracy in the perspective of Pentecostalism and its application to democratic life in Indonesia. To answer the main problem of this research, the author uses a qualitative research method with data collection techniques through literature studies, namely books, journals and various articles both in print media and online media that are related to the topic of political democracy in the perspective of Pentecostalism and its essence towards democratic life in Indonesia. The results of this study indicate that although the Bible is not explained literally, democratic values are still discussed in it. This means that Christians, including Pentecostals, need to realize the importance of their understanding of political democracy in Indonesia. The impact on democratic life in Indonesia is that Pentecostals should provide support for political democracy, as well as take part in community activities and be actively involved in social services. Thus, the church can carry out its function as an extension of God's hand in the world by creating peace and social justice. Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis konsep demokrasi politik dalam perspektif pentakostalisme dan implikasinya terhadap kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Untuk menjawab pokok masalah penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kajian kepustakaan yaitu buku-buku, jurnal-jurnal serta berbagai artikel baik di media cetak maupun di media online yang memiliki kaitan dengan topik demokrasi politik dalam perspektif pentakostalisme dan implikasinya terhadap kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa walaupun tidak secara harfiah dijelaskan dalam Alkitab, namun nilai-nilai demokrasi tetap dibahas di dalamnya. Hal itu berarti umat Kristen termasuk kaum Pentakostalisme, perlu menyadari peranan mereka dalam bersikap terhadap demokrasi politik di Indonesia. Adapun implikasinya terhadap kehidupan berdemokrasi di Indonesia ialah kaum Pentakostalisme patut memberi dukungan kepada demokrasi politik, turut mengambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan dan terlibat aktif dalam pelayanan sosial. Dengan demikian, gereja dapat menjalankan fungsinya sebagai perpanjangan tangan Tuhan di dunia dengan menciptakan kedamaian dan keadilan sosial.