cover
Contact Name
Kurniatun Karomah
Contact Email
hsji.indonesia@gmail.com
Phone
+6281287852886
Journal Mail Official
hsji.indonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Percetakan Negara no. 29 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Health Science Journal of Indonesia
ISSN : 20877021     EISSN : 23383437     DOI : https://doi.org/10.22435/hsji
Core Subject : Health,
Health Science Journal of Indonesia is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such as researchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of health research and towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in health research in order to advance science and technology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factor in the development of science and technology.
Articles 95 Documents
Evaluation of caregiver intervention on recovery of patient stroke: a systematic review Irna Megawaty; Elly Lilianty Sjattar; Andi Masyitha Irwan
Health Science Journal of Indonesia Vol 11 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v11i1.2445

Abstract

Latar belakang: Stroke merupakan kontributor utama pada kecacatan jangka panjang. Keadaan tersebut dapat menyebabkan kelangsungan hidup stroke bergantung pada caregiver, yang mungkin seorang profesional atau anggota keluarga, sehingga tujuan dari tinjauan literatur ini untuk memberikan informasi terkait hasil dari intervensi yang diperantarai oleh caregiver pada penderita stroke. Metode: Systematic Review ini disusun dengan melakukan pencarian literature dengan memasukkan kata kunci yang relevan berdasarkan database PubMed, Proquest, Ebsco, Science Direct, dan Google Scholar, dengan mengikuti panduan PRISMA. Hasil: Diperoleh 6 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan didapatkan hasil bahwa intervensi yang diperantarai caregiver dapat menurunkan tingkat keparahan dan kematian, pemulihan fungsi fisik, perubahan kemampuan fungsi kognitif, kecemasan dan kualitas hidup pada penderita stroke. Selain itu dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kepuasan caregiver. Kesimpulan: Perawat dapat memberdayakan caregiver dalam merawat pasien stroke dengan tujuan terjadi peningkatan pemulihan fisik, mental serta menurunkan angka kematian. Kata Kunci: Caregiver, Intervensi keperawatan, Penderita stroke Abstract Background: Stroke is a major contributor to long-term disability. This situation can lead to stroke survival depending on the caregiver, who may be a professional or family member, so the purpose of this literature review is to provide information regarding the outcome of caregiver-mediated interventions in stroke patients. Method: The Systematic Review was compiled by searching literature by entering relevant keywords based on the PubMed, Proquest, Ebsco, Science Direct, and Google Scholar databases, following the PRISMA guidelines. Results: Obtained 6 articles that fit the inclusion criteria and found that caregiver-mediated interventions can reduce the severity and death, recovery of physical function, changes in cognitive function abilities, anxiety and quality of life in stroke patients. Moreover, it can increase knowledge, skills and caregiver satisfaction. Conclusion: Nurses can empower caregivers in caring for stroke patients with the aim of increasing physical, mental recovery and reducing mortality. Keywords: Caregiver, Nursing interventions, Stroke patients
Correlation of noise level exposure on the reaction time of workers at a manufacturing company in Bandung, Indonesia Herqutanto Herqutanto; Irwan Suhadi; Imron Khazim; Dewi S. Soemarko; Retno A. Werdhani
Health Science Journal of Indonesia Vol 11 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v11i1.2447

Abstract

Latar Belakang: Para pekerja sering kali terpaksa berhadapan dengan kebisingan tinggi ditempat kerja. Kebisingan mengganggu perhatian yang diperlukan terus-menerus dan menurunkan produktivitas kerja, oleh sebab itu pekerja yang melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap satu proses produksi atau hasilnya, dapat membuat kesalahan akibat dari terganggunya konsentrasi dan kurang fokusnya perhatian. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran waktu reaksi cahaya dan suara untuk menilai fokus perhatian/konsentrasi. Metode: Studi analitik dengan desain komparatif cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur yang memproduksi benang nylon sintetik. Membandingkan rerata selisih waktu reaksi cahaya dan suara sebelum dan setelah bekerja dengan pajanan kebisingan pada kelompok subjek yang bekerja pada intensitas kebisingan di atas NAB (area braiding) dibandingkan dengan yang di bawah NAB (area waring), dimana sebelumnya dilakukan pengukuran intensitas tingkat kebisingan di kedua area tersebut. Hasil Penelitian: Perbedaan bermakna waktu reaksi cahaya yang melambat pada subjek yang bekerja dengan pajanan kebisingan di atas NAB sebelum dan setelah bekerja (p=0.007), namun tidak dengan waktu reaksi suara. Tidak terdapat perbedaan bermakna waktu reaksi cahaya dan suara pada subjek yang bekerja dengan pajanan kebisingan di bawah NAB sebelum dan setelah bekerja. Terdapat perbedaan bermakna rerata selisih waktu reaksi cahaya yang melambat pada subjek yang bekerja pada pajanan kebisingan di atas NAB dengan di bawah NAB, p=0,017, namun tidak bermakna terhadap rerata selisih waktu reaksi suara. Kesimpulan: Terdapat perbedaan rerata selisih waktu reaksi cahaya pada pekerja yang bekerja dengan pajanan kebisingan di atas NAB dibandingkan dengan pekerja yang bekerja dengan pajanan kebisingan di bawah NAB, sehingga tingkat intensitas kebisingan tinggi (di atas NAB) mempengaruhi waktu reaksi cahaya dan menjadi lebih lambat. Kata Kunci: waktu reaksi cahaya; waktu reaksi suara; kebisingan Abstract Background: Workers are often exposed to high noise level at their workplaces. Noise can disrupt the worker’s concentration and focus and in the end, may cause lower productivity. Thus, workers whose main job descriptions are to supervise workflow from one phase to another are prone to mistakes due to the loss of concentration and focus. In this research, we used reaction timer with light and sound stimuli to assess attention or concentration. Methods: The study was an analytical study with comparative cross sectional design, comparing a mean difference between light and sound reaction time before and after work. This research was conducted at a manufacturing company that produces synthetic nylon fibers. The subjects were divided into two groups; the workers with noise intensity above TLV (braiding’s area) and with noise intensity below TLV (waring’s area). Prior to the study, the research has measured the intensity of the noise level in the workplace area. Result: A significant difference was found in the light’s reaction time who work with noise exposure above TLV (p= 0.007) and it was found to be slower after work with the workers who are exposed to noise above TLV. There was also a significant mean difference for the light’s reaction time between the above TLV noise group and below TLV noise group (p = 0.017). There was no significant difference in sound reaction time. Conclusion: There was a significant mean difference in light reaction time for the workers who work with noise exposure above TLV compare with the workers who work in below TLV, so that high intensity of noise level is found to affect and decrease the light reaction time of the workers. Keywords: light’s reaction time, sound’s reaction time, noise.
Adolescents school students in Java and Sumatra are in greater risk of obesity Nunik Kusumawardani; Anissa Rizkianti Rizkianti; Rofingatul Mubasyiroh; Prisca Petty Arfines; Tities Puspita
Health Science Journal of Indonesia Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v12i2.2448

Abstract

Latar belakang: Indonesia masih menghadai beban ganda masalah gizi berkaitan dengan obesitas yang meningkat sementara masalah kurang gizi masih terjadi, termasuk pada remaja. Hasil penelitian masih terbatas, dalam hal aspek demografi dan geografi di Indonesia, sementara strategi pencegahan obesitas pada remaja membutuhkan intervensi yang lebih optimal. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk memberikan gambaran masalah obesitas berdasarkan karakteristik populasi dan perilaku berisiko di region yang berbeda. Metode: Studi ini menggunakan data sekunder dari survei kesehatan berbasis sekolah tahun 2015 yang dikembangkan oleh CDC Amerika dan WHO, dengan modifikasi sesuai kondisi Indonesia. Analisis mencakup 10,544 pelajar kelas 7 – 12 dengan representasi populasi nasional di tiga regional/pulau di Indonesia. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square dan log regression. Hasil: Model logistik menunjukkan pelajar remaja yang tinggal di pulau Jawa mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami obesitas (adjusted OR 2.1;95%CI 1.3-3.3) dibandingkan pada pelajar yag tinggal di pulau Sumatra dan luar pulau Jawa dan Sumatra, sementara perilaku berisiko seperti aktivitas fisik dan perilaku diet tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian obesitas. Kesimpulan: Disparitas masalah obesitas terjadi pada remaja di tiga pulau besar di Indonesia, di tingkat kelas yang berbeda dan perilaku diet berisiko yang berbeda. Strategi pencegahan diperlukan lebih mengarah pada intervensi berbasis sekolah dengan memperhatikan faktor geografis tempat tinggal di pulau Sumatra dan lainnya serta tingkat atau kelas yang berbeda. (Health Science Journal of Indonesia 2019;10(2):119-27) Kata kunci: Obesitas, remaja, perilaku diet, region, aktivitas fisik Abstract Background: Indonesia faces burden of nutrition related diseases as obesity is increasing while malnutrition still exists, including in adolescents. Research are limited in term of which specific demography and geography aspects in Indonesia while stronger strategic intervention to prevent obesity in adolescents is needed. Objective: This study aims to describe proportion of obesity in indifferent adolescents characteristic and eating behaviour in different regions. Method: This study used data from Indonesia 2015 Global School-based Health Survey developed by US CDC and WHO) with modification based on Indonesia specific. The analysis included 10,544 students covered national representative and three regions of school students (grade 7 to 12) in Indonesia. Statistical analysis used chi square and log regressions. Results: The logistic model showed adolescents students living in Java island has significantly higher risk of obesity (adjusted OR 2.1;95%CI 1.3-3.3) compare to their peers in outside Java and Sumatra Island, while behavior risk factors such as physical activity and dietary habit were not significantly associated with obesity. Conclusions: Issues disparity of obesity in adolescents occurred in the three main Islands in Indonesia, in different school grades and in those with different dietary risk behaviours. Intervention strategy to address adolescents obesity issues will need to be directed toward school-based settings with taking into account specific approaches for students in Sumatra and other main islands in Indonesia as well as specific for junior and senior high school. (Health Science Journal of Indonesia 2019;10(2):119-27). Keywords: Obesity, adolescents, dietary behaviour, region, physical activity
HDAC2 and PCNA expression is correlated to decreasing of endoxifen sensitivity in human breast cancer stem cells ALDH+ Syarifah Dewi; Mohamad Sadikin; Muchlis Ramli; Septelia Inawati Wanandi
Health Science Journal of Indonesia Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v12i2.2449

Abstract

Latar belakang: Sel punca kanker payudara (breast cancer stem cells/BCSC) adalah subpopulasi sel kanker yang memiliki kemampuan menghasilkan tumor baru dan bersifat seperti sel punca. Penelitian kami sebelumnya menggunakan jaringan kanker payudara mengungkapkan bahwa ekspresi gen histone deacetylase 2 (HDAC2) dan proliferating cell nuclear antigen (PCNA) ditemukan perbedaan signifikan setelah terapi neoajuvan hormon dan kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ekspresi HDAC2 dan PCNA dengan kelangsungan hidup sel punca kanker payudara dengan penanda aldehyde dehydrogenase + (ALDH+) yang diberi perlakuan endoksifen. Metode: Sampel adalah BCSC primer manusia ALDH+ yang diberi perlakuan endoksifen 4 uM masingmasing selama 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14 hari. Viabilitas sel dilihat dengan menggunakan trypan blue dan ekspresi mRNA HDAC2 dan PCNA ditentukan menggunakan qRT-PCR. Hasil: Viabilitas BCSCs ALDH + menurun setelah 2 sampai 4 hari pemberian endoksifen. Pada periode ini juga didapatkan ekspresi mRNA HDAC2 dan PCNA mengalami penurunan. Tetapi setelah pemberian endoksifen selama 8 hari, viabilitas BCSCs ALDH + mengalami peningkatan dan ditemukan peningkatan yang signifikan pada hari ke-14 pemberian endoksifen. Ekspresi mRNA HDAC2 dan PCNA juga menunjukkan peningkatan mulai pada hari ke-8 dan terus meningkat hingga hari ke-14 pemberian endoksifen. Penelitian ini menunjukkan pola yang sama antara ekspresi mRNA HDAC2 dan PCNA dan viabilitas sel. Kesimpulan: Induksi endoksifen yang lama menurunkan sensitivitas efek endoksifen pada BCSC manusia dan ekspresi HDAC2 dan PCNA berkorelasi dengan viabilitas BCSC manusia setelah induksi endoksifen. (Health Science Journal of Indonesia 2019;10(2):77-81) Kata kunci: sel punca kanker payudara, viabilitas sel, HDAC2, PCNA, endoksifen Abstract Background: Breast cancer stem cells (BCSCs) are subpopulation of cancer cells that has the ability to generate new tumor and similar properties to stem cell. Our previous study using breast cancer patients revealed that gene expression of histone deacetylase 2 (HDAC2) and proliferating cell nuclear antigen (PCNA) were significantly altered after neoadjuvant hormone and chemotherapy. This study aimed to analyze the correlation between HDAC2 and PCNA expressions with the viability of breast cancer stem cells aldehyde dehydrogenase + (BCSC ALDH+) treated by endoxifen. Method: Samples are human primary BCSCs ALDH+ that treated with 4 uM of endoxifen for 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14 days, respectively. Cell viability was measured using trypan blue exclusion assay and the mRNA expressions of HDAC2 and PCNA were determined using qRT-PCR. Results: The viability of BCSCs ALDH+ was decreased after 2 days until 4 days-endoxifen treatment. It also demonstrated that mRNA expression of HDAC2 and PCNA were decreased in this period. But after 8 days endoxifen treatment, the viability of BCSCs ALDH+ was increased. The increasing of viability was higher in 14 days-endoxifen treatment. The mRNA expression of HDAC2 and PCNA also showed increasing begin on 8 days and continued to increase until 14-days endoxifen treatment. We found a similar pattern between HDAC2 and PCNA expression and cell viability. Conclusion: Prolonge endoxifen treatment decrease sensitivity of endoxifen effect in human BCSC and the expression of HDAC2 and PCNA are correlated to human BCSCs viability after endoxifen treatment. (Health Science Journal of Indonesia 2019;10(2):77-81) Keywords: human breast cancer stem cells, viability, HDAC2, PCNA, endoxifen
Treatment patterns of acute respiratory tract infection in children under-fives in Bogor, Indonesia Anggita Bunga Anggraini; Sundari Wirasmi
Health Science Journal of Indonesia Vol 11 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v11i1.2714

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan obat yang tidak rasional menjadi masalah dalam pelayanan kesehatan, baik di negara maju maupun negara berkembang. Pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) tidak hanya tergantung pada antibiotik, tetapi dengan terapi penunjang untuk kasus yang disebabkan oleh virus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pengobatan pasien ISPA pada balita di rumah sakit di Bogor, Indonesia. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan desain potong lintang menggunakan data rekam medis pasien balita dengan ISPA periode 1 Januari hingga 31 Desember 2015 di rumah sakit pemerintah dan swasta di Bogor. Analisis dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Rekam medis yang yang dikumpulkan dari kedua rumah sakit sebanyak 105 kasus. Pola pengobatan pada pasien ISPA rawat jalan (n=32) di rumah sakit swasta adalah mukolitik (81,3%), dekongestan (56,3%), antipiretik (43,8%), dan antibiotik (6,3%). Sementara itu, rumah sakit pemerintah (n=8) menggunakan antibiotik (75%), antipiretik (50%), dan mukolitik (50%). Pola pengobatan pada rawat inap di rumah sakit swasta (n=27) adalah antibiotik (85,2%), antipiretik (63%), kortikosteroid (33,3%), dan mukolitik (25,9%), sedangkan rumah sakit pemerintah (n=38) adalah antibiotik (92,1%), antipiretik (89,5%), kortikosteroid (31,6%), dan mukolitik (71,1%). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengobatan pada rawat jalan tidak dapat diidentifikasi karena kurangnya informasi klinis dan hasil tes laboratorium. Pemberian antibiotik pada pasien rawat inap di kedua rumah sakit tidak berhubungan dengan kadar leukosit dan suhu tubuh. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik untuk ISPA belum sesuai dengan pedoman klinis yang pemberiannya harus didahului dengan pemeriksaan klinis dan mikrobiologis. Kepatuhan terhadap pedoman klinis sangat penting untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik dan mengurangi terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan. Kata kunci: Anak, antibiotik, infeksi saluran pernafasan akut, pengobatan Abstract Background: Irrational use of medicines has become a problem in health services, both in developed and developing countries. Treatment of Acute Respiratory Tract Infections (ARTIs) is not only dependent on antibiotics, but only with supportive treatment for cases caused by viruses. This study aimed to determine treatment patterns for children under-fives with ARTIs in hospitals in Bogor, Indonesia. Methods: A cross-sectional study was conducted using medical records of patients under-fives with ARTIs in a government and a private hospital in Bogor from January 1st to December 31st, 2015. The analysis was performed using Chi-square test. Results: There were 105 medical records collected from both hospitals. The pattern of ARTIs’ outpatient treatments (n= 32) at private hospital were mucolytic (81.3%), decongestants (56.3%), antipyretic (43.8%), and antibiotics (6.3%). Meanwhile, the government hospital (n=8) used antibiotics (75%), antipyretics (50%) and mucolytic (50%). The pattern of ARTIs inpatient treatments in private hospitals (n=27) were antibiotics (85.2%), antipyretic (63%), corticosteroids (33.3%), and mucolytics (25.9%). Otherwise, the government hospital (n=38) used antibiotics (92.1%), antipyretic (89.5%), corticosteroids (31.6%) and mucolytics (71.1%). Factors affected outpatient treatment could not be traced because it lacked clinical information and laboratory test results. Meanwhile, antibiotic use for inpatients in both hospitals was not related to blood leukocytes level and body temperature. Conclusion: This study showed that antibiotics prescribing for ARTIs is still not in accordance with the clinical guidelines that must be preceded by various clinical examinations and microbiological. Adherence to clinical guidelines is important to prevent antibiotic resistance and to decrease adverse effects. Keywords: Acute respiratory tract infections, antibiotics, children, treatment
Risk factors of soil transmitted helminth infection among primary school students I Gede Gita Sastrawan; Jordaniel Setiabudi; Ni Putu Sanjiwani; Ni Komang Indriyani; Dewa Ayu Laksemi
Health Science Journal of Indonesia Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v11i2.2885

Abstract

Latar belakang: Infeksi kronis dari soil transmitted helminth (STH) dapat menyebabkan gangguan gizi, pertumbuhan dan kognitif pada anak. Untuk mengurangi dampak infeksi STH, diperlukan identifikasi faktor risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan infeksi STH pada siswa sekolah dasar di Desa Seraya Timur, Karangasem, Bali. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan mengambil total sampel. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2020. Data primer mengenai faktor-faktor risiko infeksi STH dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Diagnosis infeksi STH dilakukan dengan pemeriksaan tinja dengan metode Kato-Katz. Analisis data menggunakan uji chi-square untuk menentukan faktor risiko yang berhubungan dengan infeksi STH. Hasil: Sebanyak 83 siswa yang berusia 6-12 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini. Terdapat 9 siswa (10.84%) yang terinfeksi STH dengan intensitas infeksi ringan. Sebanyak 55.56% terinfeksi Trichuris trichiura, 33.33% terinfeksi Ascaris lumbricoides dan 11.11% terinfeksi cacing tambang. Terdapat beberapa faktor risiko yang memiliki hubungan bermakna dengan infeksi STH diantaranya adalah sering bermain tanah (OR=6.86; 95%CI 1.326-35.494), bermain tanpa alas kaki (OR=10.5; 95%CI 1.249-88.278) tidak mencuci tangan setelah bermain tanah (OR=9.450; 95%CI 1.809-49.358) dan tidak memotong kuku secara rutin (OR=6.462; 95%CI 1.250-33.388). Pemberian obat cacing setiap enam bulan mampu memberikan efek proteksi terhadap infeksi STH (OR=0.085; 95%CI 0.016-0.449). Kesimpulan: Kebersihan diri menjadi faktor risiko yang berhubungan dengan infeksi STH. Direkomendasikan untuk meningkatkan promosi kesehatan terkait kebersihan diri disamping pemberian obat cacing setiap enam bulan. Kata kunci: Faktor risiko, infeksi STH, anak sekolah dasar Abstract Background: Chronic soil transmitted helminth (STH) infection might cause nutritional, growth and cognitive impairment in children. Identifying the risk factors of STH infection is crucially needed to minimize the infection effects. This study aimed to identify risk factors associated with STH infections among primary school students in Seraya Timur Village, Karangasem, Bali. Methods: This study used a cross-sectional design with a total sampling method. The study was conducted in January 2020. Risk factors data were collected using a questionnaire. The diagnosis of STH infection was done by stool examination with the Kato-Katz method. The chi-square test was used to determine the risk factors associated with STH infection. Results: 83 students with ages ranging from 6-12 years participated in this study. There were 9 students (10.84%) whose infected with mild infection of STH. 55.56% of students were infected by Trichuris trichiura, 33.33% were Ascaris lumbricoides infections and 11.11% were hookworm infections. There were several risk factors that significantly associated with STH infection including ground’s playing (OR=6.86; 95%CI 1.326-35.494), barefoot (OR=10.5; 95%CI 1.249-88.278), did not wash hands after playing soil (OR=9.450; 95%CI 1.809-49.358) and did not routinely cut their nails (OR=6.462; 95%CI 1.250-33.388). Deworming every six months could provide a protective effect against STH infection (OR=0.085; 95%CI 0.016-0.449). Conclusion: Personal hygiene is a risk factor associated with STH infection. It is recommended to increase personal hygiene promotion besides dewormed every six months. Keywords: Risk factors, STH infection, primary school students
A case-control study related to vitamin and mineral intake in female adolescents with iron deficiency anemia Dwi Rahayu; Dono Indarto
Health Science Journal of Indonesia Vol 11 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v11i1.3066

Abstract

Latar belakang: Anemia defisensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah nutrisi pada remaja putri di seluruh dunia. Penyerapan zat besi di usus halus dipengaruhi oleh adanya vitamin C, kalsium, dan zink pada makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi vitamin A, vitamin C, kalsium dan zink terhadap kejadian ADB pada remaja putri. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian case control yang melibatkan 60 remaja putri dengan ADB dan 58 remaja putri tanpa ADB. Diagnosis ADB berdasarkan kadar Hb dan indeks eritrosit, dan semikuantitatif FFQ digunakan untuk menentukan asupan vitamin dan mineral. Semua data dianalisis menggunakan test chi square dan tes regresi logistik ganda dengan p<0.05. Hasil: Semua subjek penelitian mempunyai asupan vitamin A dan C harian yang cukup tetapi asupan kalsium dan zinknya tergolong kurang (dalam mg). Namun, mereka semua memiliki frekuensi harian yang berbeda dalam mengkonsumsi mikronutrien tersebut. Remaja putri dengan asupan vitamin A yang jarang (OR=2.67; CI95%=1.10-6.50; p=0.03) dan asupan kalsium yang sering (OR=2.27; CI95%=0.85-6.03; p=0.10) lebih berisiko terkena ADB dibandingkan dengan remaja putri dengan asupan vitamin A yang sering dan asupan kalsium yang jarang. Akan tetapi hanya asupan vitamin A yang memiliki efek signifikan secara statistik. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya risiko ADB pada remaja putri berkaitan dengan asupan vitamin A yang jarang. Kata kunci: anemia defisiensi besi, asupan mikronutrien, remaja putri Abstract Background: Iron deficiency anemia (IDA) is a nutritional problem that occurs in female adolescents around the world. Iron absorption in the small intestine is influenced by the presence of vitamin C, calcium, and zinc in ingested foods. This study aimed to investigate the relationship of vitamin A, vitamin C, calcium, and zinc intake with IDA in female adolescents. Methods: This case-control study was conducted in 60 anemic and 58 normal female adolescents. IDA diagnosis was determined using Hb levels and erythrocyte indexes and the semiquantitative food frequency questionnaire was used to determine vitamin and mineral intake. All collected data were analyzed using chisquare and multiple logistic regression tests with p<0.05. Results: All groups had an adequate intake of vitamin A and C but they had inadequate intake of calcium and zinc (in mg). However, they all had different frequencies in consuming those micronutrients. Rare intake of vitamin A (OR=2.67; CI95%=1.10-6.50; p=0.03) and frequent intake of calcium (OR=2.27; CI95%=0.85- 6.03; p=0.10) increased IDA, compared with frequent intake of vitamin A and rare intake of calcium but only vitamin A intake had a significant effect. Conclusion: Our findings suggest that a higher risk of IDA in female adolescents is related to a rare intake of vitamin A. Keywords: Iron deficiency anemia; micronutrient intake; female adolescents
The influence of body image and gender in adolescent obesity Vita Pertiwi; Balgis Balgis; Yusuf Ari Mashuri
Health Science Journal of Indonesia Vol 11 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v11i1.3068

Abstract

Latar Belakang: Body image adalah persepsi penampilan fisik diri sendiri. Mispersepsi berat badan pada remaja dapat menyebabkan rasa ketidakpuasan terhadap tubuh dan obesitas pada remaja. Jenis kelamin juga berperan dalam obesitas remaja dan body image. Remaja yang obes memiliki risiko penyakit tidak menular lebih besar dibandingkan remaja dengan berat badan normal. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh body image dan jenis kelamin pada obesitas di remaja. Metode: Desain penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2019 di SMK Negeri 9 Surakarta. Jumlah subjek dari penelitian ini sebanyak 57 siswa yang dipilih dengan cara two stage sampling. Body image dan obesitas dinilai melalui kuesioner MBSRQ-AS, Grafik IMT berdasarkan usia dan lingkar pinggang. Data yang telah terkumpul diolah dengan independent T-test, fisher exact test, uji regresi logistik dengan nilai signifikansi p <0,05. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan dalam skor body image antara kelompok obesitas dan non obesitas (p = 0,006) dan rata - rata skor laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Selain itu, laki – laki memiliki skor lebih tinggi dalam setiap aspek body image dibandingkan perempuan. Hubungan signifikan juga ditemukan antara body image dan obesitas (p = 0,045), dan jenis kelamin dengan obesitas (p = 0,009). Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara citra tubuh dan jenis kelamin dengan obesitas pada remaja dan skor citra tubuh berbeda secara signifikan antara kelompok obesitas dan non obesitas dan antara siswa pria dan wanita. Kata kunci: body image,obesitas, jenis kelamin, remaja Abstract Background: Body image is a perception of our physical appearance. Weight misperception in adolescent lead to body dissatisfaction and obesity in adolescent. Gender also plays a role in adolescent obesity and body image. Obese adolescents have greater risk of non-communicable diseases than adolescents with normal weight. therefore, this research aims to discover body image and gender influence on adolescent obesity. Method: This study is an observational design with cross sectional approach. The study was conducted in November 2019 at SMK Negeri 9 Surakarta. The subjects were 57 sophomore that were chosen randomly with simple random sampling. Body image and obesity were measured using MBSRQ-AS questionnaire, BMI for Age Charts and waist circumference. Data was processed by independent T-test, fisher exact test, logistic regression test with significance value p <0.05. Results : There is a significant difference in body image scores between obese and non obese group (p = 0.006) and male students scored higher in every aspect of body image than female students. A significant relationship was found between body image and obesity (p=0,045), and gender with obesity (p = 0.009). Conclusion: There is a significant relationship between body image and gender with obesity in adolescents and body image scores differ significantly between obese and non obese group and between male and female students. Keywords: body image, obesity, gender, adolescents
Role of external ventricular drainage in spontaneous intraventricular haemorrhage patients in cileungsi district hospital Feda Anisah Makkiyah; Shelly Nobel; Rahma Hida Nurrizka
Health Science Journal of Indonesia Vol 11 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v11i1.3070

Abstract

Latar Belakang: Perdarahan intraventrikel otak (intraventricular haemorrhage=IVH) memperburuk prognosis pada perdarahan intraserebri (intracerebral haematoma=ICH). Prosedur drainage cairan serebrospinal dari ventrikel otak (external ventricle drainage=EVD) bertujuan menurunkan tekanan intrakranial yang tinggi dikarenakan progresivitas IVH. Meskipun demikian, EVD merupakan prosedur pilihan karena terbukti tidak selalu efektif. Penelitian ini memperlihatkan faktor yang mempengaruhi keluaran pada pasien perdarahan intraventrikel dan apakah EVD memperbaiki keluaran pada pasien tersebut. Metode: Penelitian potong-lintang retrospektif yang mengikutsertakan pasien IVH dan ICH yang berekstensi IVH(ICH-IVH) dengan EVD dan tidak di RSUD Cileungsi pada Januari sampai Desember 2018. Perbandingan antara grup EVD dan tidak berdasarkan jenis kelamin, umur, pulse pressure, Glasgow Coma Scale (GCS), jumlah perdarahan, skor volume perdarahan di ventrikel lateral, ketiga dan keempat pada CT scan, Charlson Comorbid Index (CCI) dan modified Rankin Scale (mRS). Untuk mengetahui faktor yang berperan dalam perbaikan keluaran dari pasien dengan EVD dilakukan analisis Spearman Correlation test (STATA 15). Hasil: 100 pasien datang dengan diagnosis ICH spontan, 5 pasien IVH, dan 16 pasien ICH-IVH. Perdarahan di ventrikel empat merupakan pembeda yang signifikan antara pasien yang mendapatkan EVD atau tidak pada kelompok ICH-IVH (p=0,035). Skor GCS (p=0,034) berhubungan signifikan dengan prognosis ICH-IVH pasien dengan koefisien korelasi 0,671. EVD tidak memperbaiki keluaran dari IVH pasien atau ICH- IVH pasien. Kesimpulan: GCS yang tinggi berkorelasi dengan prognosis baik pada grup ICH-IVH. Indikasi EVD pada adanya darah di ventrikel empat. EVD tidak memperbaiki keluaran pasien ICH-IVH spontan atau pasien IVH spontan tetapi sebaiknya dilakukan karena kemungkinan progresivitas menjadi hidrosefalus yang tipe penyumbatan yang dapat berakhir kematian. Kata kunci: prognosis, IVH, ICH, EVD, RSUD Cileungsi Abstract Background: Intraventricular haemorrhage (IVH) worsen the prognosis of Intracerebral hematoma (ICH). External Ventricular Drain (EVD) is inserted to reduce intracranial pressure that resulted from the progression of IVH. However, EVD is still an optional procedure because it is not always proven effective. This study was aimed to demonstrate prognostic factors of IVH and whether EVD insertion might improve the outcome. Methods: This cross-sectional retrospective study included IVH patients and concomitant ICH-IVH that required or not EVD in Cileungsi Hospital from January to December 2018. We made comparisons between EVD insertion group and non-EVD group based on sex, age, pulse pressure, Glasgow Coma Scale (GCS), bleeding volume, score of bleeding volume in ventricle lateral, third and fourth based on CT scan, Charlson Comorbid Index (CCI) and modified Rankin Scale (mRS). To determine factors contributing to the good prognosis of EVD, Spearman Correlation test was used with STATA 15 software. Results: 100 patients were diagnosed with ICH, five patients IVH, 16 patients ICH and IVH. Blood in the fourth ventricle made a significant difference between EVD and non-EVD groups in the concomitant ICHIVH group (p=0.035). GCS score (p=0.034) correlated significantly with the prognosis of concomitant ICHIVH patients that had EVD insertion with correlation coefficient 0.671. EVD did not improve the outcome in IVH patients nor patients with ICH-IVH. Conclusion: EVD did not improve the prognosis of spontaneous concomitant ICH-IVH or spontaneous IVH patients, but it still needs to be inserted in case of developing obstructive hydrocephalus that might be lethal. Keywords: prognosis, IVH, ICH, EVD, Cileungsi Hospital
Is hypoalbuminemia a predictor marker of mortality? Siti Maemun; Nina Mariana; Surya Otto Wijaya; Dina Oktavia; Vivi Lisdawati; Rita Rogayah
Health Science Journal of Indonesia Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v11i2.3072

Abstract

Latar belakang : Hipoalbuminemia pada pasien rawat inap berkaitan dengan prognosis buruk pasien. Penelitian ini, mengidentifikasi bahwa hipoalbuminemia berat pada awal pasien masuk rawat inap sebagai prediktor andalan penanda laboratorium dalam mortalitas. Metode : Sebuah studi cross sectional pada pasien dewasa dengan hipoalbuminemia (kadar albumin < 3,5 g / dL) pada pasien rawat inap (usia > 18 tahun) pada periode Januari 2013 - Maret 2018. Kami mengevaluasi penanda prediktor kematian. Multivariat dengan regresi logistik diterapkan dalam penelitian ini. Hasil : Dari 747 hipoalbuminemia pada pasien rawat inap dengan rata-rata kadar albumin pada awal adalah 2,0 ± 0,6 g / dL. Sebagian besar pasien (83,4%) memiliki kadar albumin ≤ 2,5 g / dL (hipoalbuminemia berat), 16,6 persen memiliki > 2,5 g / dL (hipoalbuminemia ringan-sedang). Kondisi yang mendasari pasien adalah infeksi HIV / AIDS (26,9%) dan sepsis (26,6%). Proporsi multiple komorbiditas pada kelompok hipoalbuminemia berat adalah 55,1 persen Pada kelompok hipoalbuminemia berat terutama untuk kadar albumin 2,01 - 2,5 g / dL, angka mortalitas adalah 28,3 persen. Berdasarkan model regresi logistik akhir, faktor risiko kematian meliputi kadar albumin pada awal dan lama rawat pasien. Mortalitas lebih tinggi pada pasien dengan hipoalbuminemia berat (rasio odds yang disesuaikan 2,91, 95% CI 1,88-4,50) dibandingkan pasien dengan hipoalbuminemia ringan-sedang. Kesimpulan: Hipoalbuminemia berat pada awal pasien rawat inap sebagai prediktor penanda kematian di rumah sakit. Kata kunci: hipoalbuminemia, pasien rawat inap, mortalitas Abstract Background: Hypoalbuminemia in hospitalized patients has been associated with poor prognosis. In this study, we attempted to identify that severe hypoalbuminemia at baseline in hospitalized patients is a reliable predictor of laboratory marker for mortality. Methods: A cross sectional study on adults of hypoalbuminemia (albumin level < 3.5 g/dL) in hospitalized patients (aged > 18 years old) in period January 2013 - March 2018. We evaluated the predictor marker of mortality. Multivariate with the logistic regression was applied in this study. Results: Of the 747 hypoalbuminemia in hospitalized patients with the mean albumin level at baseline was 2.0 ± 0.6 g/dL. Most patients (83.4 %) had less than or equal to 2.5 g/dL albumin level (severe hypoalbuminemia), 16.6 percent had over 2.5 g/dL (mild-moderate hypoalbuminemia). The underlying condition of patients was HIV/AIDS infection (26.9%) and sepsis (26.6 %). The proportion of multiple comorbidities in the severe hypoalbuminemia group was 55.1percent. In the severe hypoalbuminemia group especially for 2.01 – 2.5 g/dL albumin level, the mortality rate was 28.3 percent. Based on the final logistic regression model, known risk factors of mortality include albumin level at baseline and length of stay. Mortality was higher among patients with severe hypoalbuminemia (adjusted odds ratio 2.91, 95 % CI 1.88-4.50) than patients with mild-moderate hypoalbuminemia. Conclusion: Severe hypoalbuminemia at baseline in the hospitalized patients was a predictor laboratorymarker of hospital mortality. Keywords: hypoalbuminemia, hospitalized patients, mortality

Page 5 of 10 | Total Record : 95