cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pusbullhsr@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BULETIN PENELITIAN SISTEM KESEHATAN
ISSN : 14102935     EISSN : 23548738     DOI : https://doi.org/10.22435/hsr.v23i2.3101
hasil-hasil penelitian, survei dan tinjauan pustaka yang erat hubungannya dengan bidang sistem dan kebijakan kesehatan
Articles 154 Documents
Komunikasi Kanker: Suatu Telaah Sistematik Sarwititi Sarwoprasodjo; Muchlisah Harliani; Annisa Utami Seminar
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 4 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.689 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i4.2075

Abstract

In Indonesia, the prevalence of cancer is increasing. Approaches to cancer prevention have been carried out by the government, hospitals, and non-governmental organizations. Health communication was one of the efforts to support cancer prevention. This study intends to describe the current conditions of research on cancer prevention communication as a reference to recommend further research on cancer prevention communication in the future. This study uses a systematic review method by analyzing 56 journal articles, undergraduate thesis, master thesis, and dissertations based on relevant keyword searches. All samples are then described as quantitatively and qualitatively. The results of the systematic review show that cancer prevention communication studies in Indonesia are in line with Indonesia’s government priorities in cancer prevention, however effective communication approach has not been used in cancer communication research. Two important variables to be researched to support the effective cancer communication are: credibility and competency of source and message design in cancer communication. Abstrak Kanker adalah salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia. Pendekatan-pendekatan untuk pengendalian kanker telah dilakukan oleh pemerintah, rumah sakit, bahkan lembaga swadaya masyarakat. Komunikasi kesehatan merupakan salah satu upaya mendukung pengendalian kanker. Kajian ini bermaksud untuk menggambarkan kondisi mutakhir penelitian-penelitian tentang komunikasi kanker sebagai acuan untuk dapat merekomendasikan penelitian mengenai komunikasi kanker di masa datang. Telaah ini menggunakan metode review sistematis, dengan menganalisa 56 artikel jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi berbasis pencarian kata kunci yang relevan. Seluruh sampel kemudian dideskripsikan secara kualitatif. Hasil dari review sistematis menunjukkan bahwa fokus penelitian komunikasi kanker di Indonesia sudah sejalan dengan upaya promotif dan preventif pemerintah dalam pengendalian kanker, namun belum menggunakan pendekatan komunikasi efektif sehingga belum dapat dirumuskan strategi komunikasi kanker di Indonesia. Dua fokus utama yang menjadi peluang untuk menyumbang pada strategi komunikasi kanker di Indonesia adalah penelitian mengenai kredibilitas dan kompetensi sumber komunikasi kanker serta desain pesan komunikasi kanker.
Analisis Diskriminan Fisher untuk Hubungan Incidence Rate dengan Indeks Entomologi berdasarkan Klasifikasi Ekosistem Revi Rosavika Kinansi; Mega Tyas Prihatin
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 4 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.363 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i4.2151

Abstract

Discriminant analysis is one of the statistical techniques that may use to provide the most appropriate estimation for classifying individuals into one group based on the independent variable score (discriminant score). There are 2 main assumptions in discriminant analysis such as fulfilled data normality and similarity of variant-covariants. This study aims to determine whether there is a relationship between DHF Incidence Rate (IR) and entomology index if a region is classified as a coast-not a coast and rural-urban. This research conducted in 78 districts in Indonesia carried out in Disease Reservoir and Vector Specific Research from 2016 to 2017. The geographical area of ​​Indonesia which has a tropical climate with three months of rainy season in December, January, February and three months of the dry season in June, July, August can be a hyperendemic area of ​​DHF. This condition is exacerbated by the development of increasingly complex urban areas and the development of rural areas into cities that reduce environmental quality and have an impact on the expansion of the habitat of Aedes aegypti as vector of DHF. The data to be analyzed are the entomology index in the form of numbers of HI, BI, CI and ABJ against IR. The results of the analysis provide information that the very low value of Canonical Correlation is 0.076 classified as coast and not coast so that there is no relationship between the independent variable and the dependent variable. While the Canonical Correlation value is quite high, which is 0.219 classified as rural and urban showed that there is a relationship between the independent variable and the dependent variable. Based on the results, densely populated ecosystems in urban or rural areas have a great chance of cases of dengue hemorrhagic fever, so people need to monitor mosquito larvae to control DHF. Abstrak Analisis diskriminan adalah salah satu teknik statistik yang dapat digunakan untuk memberikan pendugaan yang paling tepat untuk mengklasifikasikan individu ke dalam salah satu kelompok berdasarkan skor variabel bebas (skor diskriminan). Terdapat 2 asumsi utama dalam melakukan analisis diskriminan, yaitu normalitas data harus terpenuhi dan kesamaan varian-kovarian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara Incidence Rate (IR) DBD dengan indeks entomologi jika suatu wilayah diklasifikasi menjadi pantai-bukan pantai dan perdesaan-perkotaan. Penelitian telah dilakukan di 78 kabupaten di Indonesia pada Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit tahun 2016 hingga 2017. Wilayah geografis Indonesia yang beriklim tropis dengan tiga bulan musim hujan pada Desember, Januari, Februari dan tiga bulan musim kemarau pada Juni, Juli, Agustus dapat menjadi wilayah hiperendemik DBD. Kondisi tersebut diperparah oleh perkembangan wilayah perkotaan yang semakin kompleks dan perkembangan wilayah pedesaan menjadi kota yang menurunkan kualitas lingkungan hidup dan berdampak pada perluasan habitat nyamuk Aedes aegypti vektor penyakit DBD. Data yang akan dianalisis adalah data indeks entomologi berupa angka HI, BI, CI dan ABJ terhadap IR. Hasil analisis memberikan informasi bahwa nilai Canonical Correlation yang sangat rendah yaitu 0,076, jika diklasifikasi menjadi pantai dan bukan pantai menunjukkan tidak terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai Canonical Correlation yang cukup tinggi yaitu 0,219, jika diklasifikasi menjadi perdesaan dan perkotaan menunjukkan terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat nya. Berdasarkan hasil penelitian ini, ekosistem padat penduduk di perkotaan atau perdesaan memiliki peluang besar terhadap adanya kasus demam berdarah dengue, sehingga masyarakat perlu melakukan monitoring terhadap jentik nyamuk untuk pengendalian DBD.
Gambaran Pembiayaan Farmasi di Rumah Sakit Pemerintah dengan Pengelolaan BLU/BLUD Lukman Prayitno; Selma Siahaan
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 4 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.469 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i4.2229

Abstract

Pharmacy costs are one of the components that absorb the largest costs from the hospital's health budget. At present, there is still little information and data on the percentage of pharmaceutical costs to the costs of medical devices and non-medical devices. It is very useful in making financial planning. It can illustrate of pharmaceutical financing against other operational costs in hospitals, as financial planning, as scientific evidence for improving drug policy. This research was an analysis on the Indonesia Health Financing Survey data in the referral health care Facilities (FKRTL) in 2016. Data from 84 hospitals in 3 regions. The details were 9 class A hospitals, 37 class B hospitals, 38 class C hospitals. The analysis used a descriptive statistical approach. Pharmacy costs in 3 types of hospitals were 169.07 Billion, 23.66 Billion, 10.79 Billion. The percentage of the proportion of pharmaceutical costs to the cost of non-medical equipment in 3 types of hospitals is 1073.05%, 665.42%, 292.29%. The proportion of pharmaceutical costs to the cost of medical devices in 3 types of hospitals is 208.12%, 172.20%, 148.96%. In all types of hospitals the total pharmaceutical costs are greater than the costs of medical equipment and non-medical equipment costs. The proportion of pharmaceutical costs to the costs of non-medical devices and medical devices is high. This is due to the depreciation of the cost of medical devices and non-medical devices while the pharmaceutical costs always increase in price from the previous year. Abstrak Biaya farmasi merupakan salah satu komponen yang menyerap biaya terbesar dari anggaran kesehatan Rumah Sakit. Saat ini masih sedikit informasi dan data mengenai prosentase biaya farmasi terhadap biaya alat medis dan alat non-medis. Prosentase biaya di rumah sakit sangat bermanfaat dalam membuat perencanaan pembiayaan. Data penelitian sebagai gambaran pembiayaan farmasi terhadap biaya operasional lain di rumah sakit, sebagai perencanaan pembiayaan, sebagai bukti ilmiah untuk penyempurnaan kebijakan obat. Data riset merupakan analisis lanjut hasil Riset Pembiayaan Kesehatan Fasilitas Kesehatan Rawat Tingkat Lanjut (FKRTL) Tahun 2016. Data dari 84 rumah sakit yang di 3 regional. Dengan rincian adalah 9 rumah sakit kelas A, 37 rumah sakit kelas B, 38 rumah sakit kelas C. Data riset dimasukkan dalam dumy tabel untuk analisa lanjut. Analisis menggunakan pendekatan kuantitatif statistik diskriptif. Biaya farmasi pada 3 tipe RS masing-masing sebesar 169,07 Milyard, 23,66 Milyard, 10,79 Milyard. Prosentase proporsi biaya farmasi terhadap biaya alat non medis pada 3 tipe RS adalah 1073,05%, 665,42%, 292,29%. Prosentase proporsi biaya farmasi terhadap biaya alat medis pada 3 tipe RS adalah 208,12%, 172,20%, 148,96%. Di semua tipe RS total biaya farmasi lebih besar dibanding biaya alat medis dan biaya alat non medis. Prosentase proporsi biaya farmasi terhadap biaya alat non medis dan alat medis menjadi tinggi. Hal ini disebabkan terjadi penyusutan terhadap biaya alat medis dan alat non medis sedangkan biaya farmasi selalu terjadi peningkatan harga dari tahun sebelumnya.
Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Jemaah Haji terkait Istithaah Kesehatan di Indonesia asep kusnali; Rustika Rustika; Herti Windya Puspasari; Primasari Syam; Ratih Oemiyati; Dede Anwar Musadad; Ristrini Ristrini
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 4 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.932 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i4.2244

Abstract

The number of Indonesian pilgrims in 2018 was 205,886 people. Pilgrims who died in Saudi Arabia, both in Medina, Makkah, and Jeddah were 386 people. Based on the embarkation, the majority of hajj pilgrims who died in Saudi Arabia was from the embarkation of SUB (Surabaya) of 68 people (17.62%). This number was the highest compared with previous years. The increase in the number of pilgrims who died is closely related to the old age and the possession of chronic and degenerative diseases so that they experience complications during the pilgrimage. The Ministry of Health has issued a policy on the hajj health istithaah. To find out about the holding of the hajj pilgrims about health, a study was carried out on the description of knowledge of attitudes and actions as well as the dominant factors regarding health Istithaah. The study used a quantitative approach with a cross-sectional design for interviews. The research locations were selected based on the number of pilgrims, namely DKI Jakarta, West Java, Central Java, and East Java. Samples were pilgrims who would perform the pilgrimage in 2018. Data analysis was carried out bivariate and multivariate. The results showed that the dominant factors that determine health Istithaah actions are knowledge, attitudes and waiting times, while the highest OR value is knowledge with an OR value of 2.689 (CI; 1.081 - 2.839), p-value 0.000 <0.05. This means that knowledge has a risk of 2.6 times the action of health isthitaah. Therefore, to increase knowledge and attitudes of prospective pilgrims need to be disseminated about health isthaah through health promotion programs. Abstrak Jumlah Jemaah haji Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 205.886 orang. Jemaah haji yang wafat selama masa operasional kesehatan haji di Arab Saudi, baik di Madinah, Makkah, dan Jeddah sebanyak 386 orang. Berdasarkan embarkasi, Jemaah haji wafat terbanyak berasal dari embarkasi SUB (Surabaya) sebanyak 68 orang (17,62%). Angka ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah jemaah yang meninggal tersebut sangat berkaitan dengan banyaknya jemaah yang lanjut usia, memiliki penyakit kronik dan degeneratif sehingga mengalami komplikasi pada saat perjalanan ibadah haji. Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan kebijakan Istithaah kesehatan jemaah haji. Untuk mengetahui pemahanan jemaah haji tentang Istithaah kesehatan dilakukan kajian gambaran pengetahuan sikap dan tindakan serta faktor dominan mengenai Istithaah kesehatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang untuk itu dilakukan wawancara. Lokasi penelitian dipilih pada jemaah haji terbanyak yaitu di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sampel adalah jemaah haji yang akan melakukan ibadah haji tahun 2018. Analisis data dilakukan bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor dominan yang menentukan tindakan Istithaah kesehatan adalah pengetahuan, sikap dan waktu tunggu, sedangkan nilai OR yang tertinggi adalah pengetahuan dengan nilai OR 2,689 (CI; 1,081 – 2,839), p-value 0,000 < 0,05. Artinya pengetahuan memiliki risiko 2,6 kali terhadap tindakan isthitaah kesehatan. Oleh karena itu untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap calon Jemaah haji perlu sosialisasi mengenai istithaah kesehatan melalui program promosi kesehatan.
Analisis Ekologi Persalinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia Agung Dwi Laksono; Christyana Sandra
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1225.578 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v23i1.2323

Abstract

Policies to encourage childbirth in health care facilities were emphasized to reduce maternal mortality rates that are still high in Indonesia. The study was aimed at analyzing population, socio-economic, and resource input variables related to childbirth in health care facilities. This study used an ecological study approach (an aggregate study) sourced from the 2018 Indonesia Health Profi le. Bivariate analysis was performed using scatter plots and Pearson correlation tests. The results showed a wide disparity in terms of childbirth in health care facilities coverage. Maluku was the province with the lowest coverage (45.18%), while the highest coverage was achieved by DKI Jakarta (100%). The results of scatter plots and bivariate tests showed that the more population in a province, the higher the coverage of delivery in health care facilities, the deeper and worse the poverty in a province, the lower the coverage of delivery in health care facilities. The more obstetrician and hospitals in a province, there was a tendency for coverage of births in health care facilities to be higher. In conclusion, population, the ratio of obstetricians, and the ratio of hospitals have a positive relationship with deliveries in healthcare facilities. In contrast, the Poverty Depth and Severity Index has a tendency to had a negative relationship with the coverage of deliveries in health care facilities. It was recommended that the government formulate specifi c policies to target regions with a small population, poor and have a small number of obstetricians and hospitals. Abstrak Kebijakan mendorong persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan ditekankan untuk menurunkan angka kematian ibu yang masih tinggi di Indonesia. Studi ditujukan untuk menganalisis variabel kependudukan, sosial-ekonomi dan input sumber daya yang berhubungan dengan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan. Desain studi menggunakan pendekatan studi ekologi (studi agregat) bersumber data Profi l Kesehatan Indonesia Tahun 2018. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan scatter plot dan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan disparitas persentase cakupan persalinan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang sangat lebar, Provinsi Maluku memiliki cakupan paling rendah (45,18%), sementara cakupan tertinggi dicapai Provinsi DKI Jakarta (100%). Hasil scatter plot dan uji bivariat menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah penduduk pada suatu provinsi maka ada kecenderungan cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi semakin tinggi. Semakin dalam dan parah kemiskinan pada suatu provinsi maka ada kecenderungan cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi semakin rendah. Semakin banyak dokter spesialis obgyn dan rumah sakit pada suatu provinsi maka ada kecenderungan cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi semakin tinggi. Disimpulkan bahwa jumlah penduduk, rasio dokter spesialis obgyn dan rasio rumah sakit (RS) memiliki hubungan positif, sementara Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan memiliki kecenderungan hubungan negatif dengan cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan. Disarankan pemerintah menyusun kebijakan khusus pada sasaran wilayah dengan jumlah penduduk sedikit, miskin dan memiliki dokter spesialis obgyn dan RS yang sedikit.
Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi di Rumah Sakit Pemerintah. Studi di 5 Provinsi Indonesia Suharmiati Suharmiati; Lestari Handayani; Zainul Khaqiqi Nantabah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i2.2361

Abstract

Nowadays, Traditional Health Services increasingly in demand by the Indonesian Community. According to the National Basic Health Research data of 2018, 31.4% of the population utilized THS. Moreover, the practice of traditional medicine has widely provided in several places. Traditional health services at public hospitals are known as integrated traditional health services (ITHS). This study aims at analyzing the utilization of integrated traditional health services at public hospitals by the community in fi ve provinces. This study, a descriptive with a cross-sectional design, involved ten public hospitals. It selected according to the availability of traditional health services, which is before or since 2014. The number of patients (called respondents) interviewed was determined purposively as many as fi ve patients per hospital; therefore, there were fi fty people. The results of this study indicated that Integrated Traditional Health Services has utilized by most patients aged 20 to 50 years. Information sources regarding the availability of Traditional Health Services mainly from physicians or health professionals. Most respondents lived not far from hospitals so that access to the hospitals can be reachable. Most respondents are satisfi ed with the services accepted. Manager of Traditional Health Services is a physician. Even though most respondents said that not only the cost of treatment for Traditional Health Services is expensive, but also is not covered in benefi t packages of the National Health Insurance Scheme (JKN). Therefore, they remain seeking Traditional Health Services practicing out of pocket payment method. It is recommended that the financing of Traditional Health Services should be covered by Social Security Administration Body (BPJSK) through
Reproduksi Makna Miskin dalam Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Non Kuota di Kabupaten Sidoarjo Munari Kustanto; Ardi Anindita
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 4 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.927 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i4.2398

Abstract

A relief letter (SKTM) from Social Service Office of Sidoarjo is a mechanism for non-quota poor people to access health services. The dilemma occurred when the office indicated that 80% of the target users of the letter were inaccurate. Understandings on terms of “poor”in relief letter and by health service providers play an important role in this phenomenon. This study identifies the reproduction of the meaning of poor on non-quota poor health services in Sidoarjo. This was a qualitative approach, conducted in Sidoarjo and Tarik District that had different characteristics to obtain comprehensive results. The structuration theory from Anthony Giddens used to analyze the data findings. The results indicated that poverty for non-quota poor users was interpreted as (i) unemployed conditions, and (ii) inability to meet health needs. Reproduction of “poor” meaning occurred when informants relate it to the accessibility of health services. This term was also reproduced into business and political interests by health officers and government officials at the poor village. Discursive awareness among agents involved in non-quota health services modified the service. Abstrak Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo menjadi sebuah mekanisme bagi masyarakat miskin non kuota untuk mengakses pelayanan kesehatan. Dilema terjadi manakala Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo mengindikasikan bahwa 80% pengguna surat tersebut tidak tepat sasaran. Pemahaman pengguna surat rekomendasi tidak mampu dan penyelenggara pelayanan kesehatan tentang makna miskin memiliki peran penting dalam fenomena tersebut. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi reproduksi makna miskin pada pelayanan kesehatan masyarakat miskin non kuota di Kabupaten Sidoarjo. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sidoarjo dan Kecamatan Tarik yang memiliki karakteristik berbeda guna memperolah hasil yang komprehensif. Teori Strukturasi dari Anthony Giddens digunakan untuk menganalisis temuan data. Hasil penelitian menemukan bahwa kemiskin bagi pengguna masyarakat miskin non kuota dimaknai sebagai (i) kondisi tanpa pekerjaan, dan (ii) ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kesehatan. Reproduksi makna miskin terjadi manakala informan berhubungan dengan aksesibilitas layanan kesehatan. Melalui petugas medis dan aparatur pemerintah desa miskin direproduksi menjadi kepentingan bisnis dan politis. Kesadaran diskursif antar agen yang terlibat dalam pelayanan kesehatan non kuota telah memodifikasi layanan tersebut.
Analisis Biaya Satuan Program Pendampingan Ibu Hamil Wahyu Pudji Nugraheni; Jasmariyadi Jasmariyadi; Suparmi Suparmi; Risky Kusuma Hartono
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.607 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v23i1.2436

Abstract

Currently, One of the Ministry of Health’s programs to improve maternity and child health is through the Assistance to Pregnant Women Program. Furthermore, as an evaluation material for the implementation of them conducted by students and health cadres, the unit cost information needed in the Assistance to Pregnant Women Program. This study aims to analyze the unit costs of the Assistance to Pregnant Women Program using the Activity-Based Costing (ABC) method. Qualitative research with a descriptive-analytic approach. This approach describes and interprets investment, operational, and maintenance costs that are directly related to the assistance to Pregnant Women Program. This research was performed in two districts, specifi cally Lebak District, which represented areas with diffi cult access and Surabaya City, which represented areas with easy access. The results showed that the unit cost of the assistance to pregnant women program in the City of Surabaya was IDR. 3,027,750.00, and the District of Lebak was IDR. 2,907,250.00. These unit costs can be used as a recommendation for the District Health Offi ces and other districts. Abstrak Salah satu Program Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak adalah melalui Program Pendampingan Ibu Hamil. Sebagai bahan evaluasi pelaksanaan Program Pendampingan Ibu Hamil yang dilakukan oleh mahasiswa dan kader, maka diperlukan informasi biaya satuan yang dibutuhkan dalam Program Pendampingan Ibu Hamil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya satuan Program Pendampingan Ibu Hamil menggunakan metode Activity Based Costing (ABC). Merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Pendekatan ini menguraikan dan menginterpretasikan biaya investasi, operasional dan pemeliharaan yang terkait langsung dengan Program Pendampingan Ibu Hamil. Penelitian ini dilakukan di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Lebak yang mewakili daerah dengan akses sulit dan Kota Surabaya yang mewakili daerah dengan akses mudah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya satuan program pendampingan ibu hamil di Kota Surabaya sebesar Rp 3.027.750,00 dan Kabupaten Lebak sebesar Rp2.907.250,00. Biaya satuan tersebut dapat menjadi bahan rujukan Dinas Kesehatan dan daerah lain dalam mengalokasikan pelaksanaan Program Pendampingan Ibu Hamil.
Kajian Keputusan Menteri Kesehatan Nomor (KMK) 514 Tahun 2015 di bidang Pelayanan Kesehatan Jiwa di Puskesmas dan Implementasinya Sri Idaiani; Tince Arniati Jovina; Widianto Pancaharjono; Danny Fajar Mogsa
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.571 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v23i1.2513

Abstract

Treatment services for people with mental disorders at the community health care center (CHC) still have problems even though supporting policies are available. The purpose of this study was to provide recommendations on policies related to the treatment for people with mental disorders in CHC. This study was conducted in 2018. Data collection was carried out through the review of relevant regulatory documents and in-depth interviews with eleven informants. The results of the study showed that the type of mental disorders diagnosis was less appropriate to the needs. Moreover, the doctors prioritized services than the content of regulations. Problems also occurred on the unavailability of mental disorders medicine because of the insignifi cant number of cases and poor medicine needs planning. There was no sanction when the policy was not implemented. In conclusion, revision of the Minister of Health (MOH) decree number 514 is needed on the aspect of mental disorders diagnosis and competency level of the general practitioner. Dissemination of policies on mental health is needed for general practitioners. Abstrak Pelayanan pengobatan penderita gangguan jiwa di Puskesmas masih mengalami berbagai masalah meskipun kebijakan yang mendukung telah tersedia. Tujuan dari kajian ini adalah untuk memberikan rekomendasi kebijakan tentang pengobatan penderita gangguan jiwa di Puskesmas. Kajian dilaksanakan pada tahun 2018. Pengumpulan data dilakukan melalui telaah dokumen peraturan yang relevan serta wawancara mendalam terhadap sebelas informan. Hasil kajian menunjukkan jenis diagnosis gangguan jiwa yang kurang sesuai kebutuhan. Hal-hal lain yaitu dokter lebih mengutamakan pelayanan dibandingkan isi peraturan, ada masalah ketidaktersediaan obat gangguan jiwa karena kasusnya kecil dan perencanaan kurang baik. Tidak ada sanksi bila kebijakan tidak dijalankan. Kesimpulannya bahwa diperlukan perbaikan tentang jenis gangguan jiwa, tingkat kompetensi dokter umum pada Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) nomor 514 tahun 2015 dan diperlukan sosialisasi bagi dokter tentang kebijakan kesehatan yang berlaku.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Tuberkulosis pada Umur 15 Tahun ke Atas di Indonesia Lamria Pangaribuan; Kristina Kristina; Dian Perwitasari; Teti Tejayanti; Dina Bisara Lolong
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.531 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v23i1.2594

Abstract

Today, Pulmonary Tuberculosis still remains a notable health concern in Indonesia. Pulmonary Tuberculosis (called TB) is a disease of ancientness who determined by numerous factors. These factors are relating to host, including age, sex, race, socioeconomic, lifestyle, marital status, work, heredity, nutrition and immunity. This study aimed to fi nd out on infl uence factors pulmonary tuberculosis occurrence of 15 years old or above in Indonesia, according to the Tuberculosis Prevalence Survey Data Year 2013-2014. A Cross-Sectional study design. The Number of Samples aged 15 years or above was 67,944. We had performed analysis from secondary data of Tuberculosis Prevalence Survey Year 2013-2014 using Univariate, Bivariate, and Multivariate Logistic Regression analysis. Multivariate analysis showed that participants who had been: diagnosed with TB by a health professional [OR = 6.06 (95% CI; 4.69–7.83)], aged 35-54 years [OR = 1.22 (CI95%; 0 , 96 - 1.5)], aged 55 years + [OR = 1.73 (CI95%; 1.32-2.27)], male [OR = 2.07 (CI95%; 1.60-2 , 69)], Urban areas [OR = 1.48 (CI95%; 1.21-1.80)], Eastern Indonesia Region [OR = 1.59 (CI95%; 1.26-2.02)], Sumatera Region [OR = 1.68 (CI95%; 1.32-2.12)], education level < Junior High School [OR = 1.48 (CI95%; 1.19-1.83)], diagnosed with DM by a physician [OR = 1.44 (95% CI; 0.92-2.25)], lived with TB patient [OR = 1.84 (CI95%; 1.27-2.65)], smoking [OR = 1.25 (CI95%; 098-1.60)]. Furthermore, the fi nal model shows that all independent variables are factors infl uencing TB cases that occurred in Indonesia (p <0.05). These variables are a group of age, sex, regional classifi cation, areas, education level, had been diagnosed with DM by a physician, had been diagnosed with TB by a health professional, and had been lived with TB sufferer. The most dominant factor infl uencing TB occurrence of 15 years or above had been diagnosed with TB. Thus, it concluded that the participant had a risk of 6.06 times the occurrence of TB compared to the participant who had never been diagnosed with TB by a health professional. Abstrak Saat ini tuberkulosis masih menjadi masalah utama kesehatan di Indonesia. Penyakit TB dipengaruhi oleh beberapa faktor pejamu. Adapun faktor yang berkaitan dengan pejamu antara lain usia, jenis kelamin, ras, sosial ekonomi, kebiasaan hidup, status perkawinan, pekerjaan, keturunan, nutrisi, dan imunitas. Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Tuberkulosis pada umur 15 tahun ke atas di Indonesia berdasarkan data SPTB 2013-2014. Disain studi potong lintang. Jumlah sampel yang berumur 15 tahun ke atas adalah 67.944. Analisis data dengan univariat, bivariate, dan multivariat regresi logistik. Analisis Multivariat menunjukkan bahwa partisipan yang pernah di diagnosis TB oleh tenaga kesehatan [OR= 6,06 (CI 95%; 4,69–7,83)], umur 35-54 tahun [OR=1,22 (CI95%;0,96 – 1,5)], umur 55 tahun+ [OR= 1,73 (CI95%; 1,32-2,27)], laki-laki [OR= 2,07 (CI95%; 1,60-2,69)], Perkotaan [OR=1,48 (CI95%; 1,21-1,80)], Kawasan Timur Indonesia [OR= 1,59 (CI95%; 1,26-2,02)], Kawasan Sumatera [OR=1,68 (CI95%; 1,32-2,12)], Pendidikan < SMP [OR=1,48 (CI95%; 1,19-1,83)], pernah di diagnosis DM oleh dokter [OR=1,44 (CI95%; 0,92-2,25)]. Pernah tinggal dengan penderita TB [OR=1,84 (CI95%; 1,27-2,65)], Merokok [OR=1,25 (CI95%; 098-1,60)]. Pada model akhir terlihat bahwa seluruh variabel independen merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB di Indonesia (p<0,05) adalah kelompok umur, jenis kelamin, klasifi kasi daerah, kawasan, pendidikan, pernah di diagnosis DM oleh dokter, pernah di diagnosis TB oleh tenaga kesehatan, dan pernah tinggal dengan penderita TB. Faktor yang paling dominan mempengaruhi terjadinya TB pada usia 15 tahun ke atas adalah pernah di diagnosa TB oleh tenaga kesehatan. Partisipan yang pernah di diagnosa TB oleh tenaga kesehatan berisiko 6,06 kali untuk terjadinya TB dibandingkan orang yang belum pernah di diagnosa TB oleh tenaga kesehatan.

Page 8 of 16 | Total Record : 154