cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pusbullhsr@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BULETIN PENELITIAN SISTEM KESEHATAN
ISSN : 14102935     EISSN : 23548738     DOI : https://doi.org/10.22435/hsr.v23i2.3101
hasil-hasil penelitian, survei dan tinjauan pustaka yang erat hubungannya dengan bidang sistem dan kebijakan kesehatan
Articles 154 Documents
Budaya Kehamilan Dan Persalinan Pada Masyarakat Baduy, Di Kabupaten Lebak, Tahun 2018 Vita Kartika; asep kusnali; Rozana Ika Agustiya
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 3 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.636 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i3.1494

Abstract

Maternal and infant mortality rates in Lebak District are still high. Pregnancy and maternity culture that rooted in Baduy community be one of those catalytic factors that increase mortality rates. Intervention research based on Baduy culture itself was intended to reduce the maternal and neonatal mortality rates. The purpose of the research was to get more information about pregnancy and childbirth behaviors in the Baduy community combined with the concept of modern health services. Participation Action Research (PAR) was used as the method in this research. Data were collected by in-depth interview and Focus Group Discussion (FGD). Informants were chosen purposively consisting of Health Care Centres in Baduy, elders (kokolot), and infl uencers in Baduy Tribe. The method of data analysis uses content analysis. This research indicated that Baduy Tribes were very obedient in their norms including the process of pregnancy and maternity. They often delivered a baby without any help from the health centre or midwife. They still asked shaman for help because they believed that shaman had power to heal people. This delivery behaviour triggered a limitation for a mother to get proper health treatment. We should not also neglect the fact that geographically, Baduy Tribes live in the uphill areas. Both factors were the main reasons why women in Baduy did not get proper delivery treatment and ended up dying because of complications. Effective communications are required between health care staff and the Baduy community to decrease the mortality rate both for mothers and infants in Baduy. Abstrak Tingkat kematian ibu dan bayi di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten masih cukup tinggi. Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya tingkat kematian tersebut adalah budaya pada masa kehamilan dan persalinan pada masyarakat Baduy, sehingga diperlukan upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi melalui intervensi kesehatan berbasis budaya. Tujuan penelitian adalah menggali lebih dalam perilaku kehamilan dan persalinan pada masyarakat Baduy yang dipadukan dengan konsep pelayanan kesehatan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah (focus group discussions/FGD). Informan dipilih secara purposive terdiri dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Puskesmas, para ketua adat, tokoh masyarakat, dan kokolot serta informan penting lainnya yang berpengaruh di masyarakat Baduy. Metode analisis data menggunakan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Baduy sangat patuh dalam melaksanakan norma-norma dalam masa kehamilan dan persalinan di kehidupannya. Hal ini tergambar dari masih banyaknya persalinan yang dilakukan sendiri tanpa penolong, baik oleh dukun paraji maupun tenaga medis, kecuali terdapat penyulit dalam persalinan meminta bantuan tenaga medis. Kedudukan dukun paraji dalam masyarakat Baduy sangat dihormati dan berpengaruh karena dianggap memiliki kemampuan yang bisa memberikan pertolongan pengobatan ketika sakit. Kepatuhan dan ketaatan pada budaya serta faktor geografi s menyebabkan terbatasnya kesempatan ibu hamil pada masyarakat Baduy untuk mendapat pertolongan secara medis di fasilitas kesehatan terutama pada saat mengalami penyulit dalam proses persalinan. Diperlukan pendekatan dengan komunikasi efektif dan kerjasama yang sinergis antar tenaga kesehatan dengan para lintas program dan lintas sektor pada masyarakat Baduy untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan bayi.
Perilaku Pemenuhan Gizi pada Ibu Menyusui di Beberapa Etnik di Indonesia oktarina oktarina oktarina; Yurika Fauzia wardhani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 4 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.613 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i4.1550

Abstract

Balanced nutrition during breastfeeding is important for breastfeeding mothers because it affects breastmilk production. The fulfillment of good nutrition for breastfeeding mothers will affect the nutritional status and the growth of their babies. The concept of sick and healthy, food and drink that is good for health, trust and abstinence, on one hand, can be a barrier for health development but on the other one can be a potential for overcoming health problems. This study is a secondary data analysis, which is sourced from Health Ethnographic Research data in 2012, 2014 and 2015. Samples taken were from the Rote, Sabu and Madura ethnic groups. Data collected included breastfeeding mothers' behavior as well as the adequacy of nutrition for breastfeeding mothers in the three ethnic groups. The results showed that maternal behavior in newborns gave a prelactal type of food, where in the ethnic Rote in the form of coffee water or sugar water, in the ethnic Sabu in the form of a concoction of chili leaves that were pounded, filtered and taken the juice, and the Madura ethnic in the form of honey and young coconut water aimed to smoothen baby’s digestion. Abstrak Gizi seimbang penting bagi ibu menyusui karena sangat erat kaitannya dengan produksi air susu. Pemenuhan gizi yang baik akan berpengaruh terhadap status gizi ibu menyusui dan tumbuh kembang bayinya. Konsep tentang sehat-sakit, makanan-minuman yang baik untuk kesehatan, kepercayaan dan pantangan, di satu lain bisa menjadi penghalang namun di sisi lain bisa menjadi potensi untuk mengatasi permasalahan kesehatan. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder, yang bersumber dari data Riset Etnografi Kesehatan tahun 2012, 2014 dan 2015 yang bertujuan untuk mengetahui perilaku pemenuhan gizi ibu menyusui pada etnik Sabu, Rote dan Madura. Data yang dikumpulkan meliputi perilaku ibu menyusui serta kecukupan zat gizi ibu menyusui pada tiga etnik tersebut. Hasil menunjukkan bahwa perilaku ibu pada bayi baru lahir memberikan jenis makanan prelaktal, dimana pada etnik Rote berupa air kopi atau air gula, pada etnik Sabu berupa ramuan daun cabai yang ditumbuk, disaring dan diambil sarinya, serta etnik Madura berupa madu dan air kelapa muda yang bertujuan untuk melicinkan pencernaan bayi.
Hubungan Antara Kemampuan Reproduksi, Kepemilikan Anak, Tempat Tinggal, Pendidikan Dan Status Bekerja Pada Wanita Sudah Menikah Dengan Pemakaian Kontrasepsi Hormonal Di Indonesia Tahun 2017 Diyah Herowati; Mugeni sugiharto
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.328 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.1553

Abstract

Hormonal contraception type such as: injections, pills and implants is a type of contraception used by married women in Indonesia, because the contraception is very eff ective for preventing pregnancy and very easy to use. Nevertheless, each type has diff erent side eff ects. This study is to analyse the relationship between reproductive ability, child ownership, residence, education and work status for married women with hormonal contraceptive use. This quantitative study obtained the data from the Indonesian Demographic Health Survey 2017 which was analyzed by bivariate correlation tests and displayed descriptively in a table form. The results indicated signifi cant among reproductive capacity, location of residence, ownership of the number of children and employment of married women with hormonal contraception use. However the education variable had no relationship. Hormonal contraception type was concluded as a type of contraception that eff ectively prevents pregnancy. Married women used more injectable contraception, then pills and implants. They are advised to use injectable contraception as it eff ectively prevents pregnancies, reduces side eff ects, and is easy to use.Thus, they have to gain correct information fi rst from health workers ABSTRAK Kontrasepsi hormonal, seperti suntik, pil dan implant adalah jenis alat kontrasepsi yang di gunakan oleh wanita yang sudah menikah di Indonesia, karena sangat efektif mencegah kehamilan dan mudah penggunaannya, namun memiliki efek samping yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kemampuan reproduksi, kepemilikan anak, tempat tinggal, pendidikan dan status bekerja pada wanita sudah menikah dengan penggunaan alat kontrasepsi hormonal. Jenis penelitian kuantitatif menggunakan data SDKI tahun 2017 yang di analisis dengan uji korelasi bivariat dan deskriptif ditampilkan dalam bentuk tabel. Analisis menunjukkan, bahwa terdapat hubungan signifi kan antara kemampuan reproduksi, lokasi tempat tinggal, kepemilikan jumlah anak dan pekerjaan wanita menikah dengan penggunaan kontrasepsi hormonal, akan tetapi variabel pendidikan tidak ada hubungan. Kontrasepsi hormonal disimpulkan sebagai jenis kontrasepsi yang efektif mencegah kehamilan. Wanita menikah lebih banyak menggunakan kontrasepsi suntik, kemudian pil dan implant. Wanita menikah disarankan untuk menggunakan kontrasepsi suntik, karena efektif mencegahkehamilan, efek samping yang ringan dan mudah penggunaannya, tetapi perlu memperoleh informasi yang benar terlebih dahulu dari petugas kesehatan.
Ibu Hamil “Kemel” Pada Etnis Gayo Di Kecamatan Blang Pegayon Kabupaten Gayo Lues, Aceh Niniek Lely Pratiwi; Yunita Fitrianti; Syarifah Nuraini; Tety Rachmawati; Agung Dwi Laksono
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1601.917 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.1693

Abstract

The unique and enormous culture of concealed pregnancy or “Kemel” in Gayo ethnic, low coverage of antenatal care for pregnant women in health workers and high numbers of neonatal mortality, and infection in infants with low birth weight were social determinants of health issues existing in Aceh. These were urgently observed to fi gure out solution in reducing low examination of antenatal care by pregnant women in Gayo. Increasing the interest of researchers to conduct this research. This descriptive study was based on socio-cultural phenomena that aff ect a “Kemel” pregnant woman. The results showed ‘Kemel’ vulnerability perceptions were indicated by keeping the pregnancy as a secret in case of being used by those who do not like their pregnancies. ’Kemel’ perceived severity aff ects the safety of women pregnancies. Pregnant women may get some threats such as: malnutrition, lack of calorie energy, anemia, newborn with low birth weight, premature newborn, and infectious diseases. “Kemel” cues to action, pregnant women check theirpregnancies after 5 months pregnancy to a traditional birth attendant. Soon after TBA claimed their pregnancies, they refer to midwives. This the reason why examination of antenatal care were very low. Family role in the social structure, the culture of the Gayo, parents-in-law and parents of pregnant women, have a great contribution in making decisions such as pregnancy, childbirth and postpartum cares. A marriage tradition of the Gayo, was when a woman pawned into a part of male family, she must follow its habits and traditions. Thus, intervention by forming an agent of change are highly recommended by involving parent in law. Abstrak Tingginya budaya merahasiakan kehamilan/”Kemel”pada etnis Gayo, rendahnya cakupan antenatal care ibu hamil pada petugas kesehatan dan tingginya kematian neonatal, infeksi pada bayi dengan Berat badan lahir rendah, menambah ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian ini. Metode penelitian adalah kualitatif, peneliti menganalisis berdasarkan fenomena sosial budaya yang dapat mempengaruhi seorang ibu hamil “Kemel”. Hasil menunjukkan Persepsi kerentanan ‘Kemel’, dengan merahasiakan kehamilannya, takut diguna-guna orang lain yang tidak suka kehamilannya. Perceived severity Kemel mempengaruhi keselamatan kehamilannya, ancaman pada ibu hamil: gizi kurang, Kurang Energi Kalori, anemia dan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah/BBLR, bayi lahir prematur dan serangan penyakit infeksi pada ibu hamil. Cues To Action Kemel, periksa kehamilan saat kehamilan berusia 5 bulan pada bidan kampong, setelah bidan kampong menyatakan hamil ia baru pergi ke bidan, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab rendahnya pemeriksaanantenatal care pada ibu hamil. Peran keluarga dalam struktur sosial, budaya masyarakat Gayo, Mertua dan orang tua bumil sangat besar dalam menentukan keputusan segala sesuatu yang berkaitan dengan keputusan dalam perawatan kehamilan, persalinan dan perawatan nifas. Suatu tradisi perkawinan masyarakat Gayo, perempuan sudah tergadai menjadi bagian besar keluarga pihak laki laki, ia mengikuti kebiasaan dan tradisi keluarga laki laki, sehingga bila membentuk agen perubahan perlu mempertimbangkan peran mertua.
Hubungan Antara Rasio Bidan Dengan Kinerja Program Kesehatan Ibu Dan Anak Di Indonesia ratna dwi wulandari; Agung Dwi Laksono
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 3 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.336 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i3.1740

Abstract

The focus of Maternal and Child Health (MCH) performance review was based on the input ratio of midwives important for evaluation. This study was to identify the relationship between the ratio of midwives and the coverage of MCH program. The analysis involved Midwives per 100,000 population ratios as independent variables, and 5 dependent variables, namely fi rst visit (K1), fourth visit (K4), neonates visit (KN), puerperal visit (KF) and childbirth assisted by health workers. The analysis was by scatter plot diagrams. The ratio of midwives to standards was dominantlytohe West of Indonesia. Variability in the ratio of midwives between 41.53 to 225.90 midwives per 100,000 population. Jakarta, West Java, and NTB that have K1 coverage above 100%. However, the midwife ratio was below the standard. Jakarta and Jambi have K4 coverage above 100%. KN coverage above 100% was reached by Jakarta, West Java, Jambi, and Bali. Kaltara and Jakarta had KF coverage above 100%. None of province, except Jakarta, had childbirth coverage by health workers above 100%. Even though the ratio of midwives was still below the standard, some provinces were able to show better performance of MCH programs than those that met the ratio. It was necessary to expand benchmarking in provinces with good MCH program performance, though the ratio of midwives was below the standard. Abstrak Fokus kajian kinerja Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) berdasarkan input rasio bidan penting untuk evaluasi. Tujuan penelitian untuk menjawab hubungan rasio bidan dengan cakupan program KIA. Analisis melibatkan rasio bidan per 100 ribu penduduk sebagai variabel independent, dan 5 variabel dependen, yaitu kunjungan 1 (K1), kunjungan 4 (K4), kunjungan neonatus (KN), kunjungan nifas (KF) dan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan. Analisis hubungan dilakukan melalui diagram scatter plot. Rasio bidan sesuai standar cenderung ada di wilayah Barat. Variabilitas rasio bidan antara 41,53 sampai 225,90 bidan per 100.000 penduduk. Provinsi DKI Jakarta, Jabar, dan NTB yang memiliki cakupan K1 di atas 100%, meski rasio bidan di bawah standar. DKI Jakarta dan Jambi memiliki cakupan K4 di atas 100%. Cakupan KN di atas 100% dicapai oleh DKI Jakarta, Jabar, Jambi dan Bali. Kaltara dan DKI Jakarta memiliki cakupan KF di atas 100%. Tidak ada satu pun provinsi, kecuali DKI Jakarta, yang memiliki cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di atas 100%. Meski memiliki rasio bidan yang masih di bawah standar, beberapa provinsi mampu menunjukkan kinerja program KIA yang lebih baik dibanding yang sudah memenuhi rasio. Perlu lebih lanjut dengan melakukan benchmark pada provinsi yang memiliki kinerja program KIA baik, meski dengan rasio bidan di bawah standar.
Upaya Pengendalian Malaria Dalam Rangka Pre-Eliminasi di Kabupaten Garut: Sebuah studi kualitatif Endang Puji Astuti; Mara Ipa; aryo ginanjar; tri wahono
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 4 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.608 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i4.1761

Abstract

Indonesia is one of the malaria-endemic countries commits to eliminate malaria in 2030. The implementation of malaria control program policy is a determinant to achieve the goal. This research was qualitative that described the implementation of malaria control program policy in Garut Regency, West Java Province. The data collected through in-depth interviews and documents’ review. The implementation of malaria control had referred to guidelines from the Ministry of Health, Republic of Indonesia. This control was also technically adjusted to regional conditions. Case detection of malaria was conducted such as a mass blood survey, rapid diagnostic tests and a microscopic laboratory test both passive and active. The malaria case surveillance has already accomplished. However, the vector was left. The malaria vector control focused on the distribution of insecticide-treated nets and the insecticide spray by the Indoor Residual Spraying (IRS) technique. The analysis indicated that the cross-program cooperation at the central government was well coordinated. However, at the level of the district, this cooperation has to be tightened. Moreover, malaria control budget was still the under district level, so that controlling malaria program did not cover all aspects of the implementation. Abstrak Indonesia sebagai salah satu negara endemis malaria, berkomitmen melakukan eliminasi di tahun 2030. Implementasi kebijakan program pengendalian malaria menjadi determinan keberhasilan eliminasi. Tujuan penelitian ini memberikan gambaran pelaksanaan program pengendalian malaria di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam pada pengelola Program Penanggulangan Malaria serta telaah dokumen dan data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pelaksanaan program pengendalian malaria di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat sudah merujuk pada pedoman Kementerian Kesehatan RI, secara teknisnya disesuaikan dengan kondisi wilayah. Penemuan penderita dilakukan secara pasif maupun aktif melalui Mass Blood Survey (MBS), dengan pemeriksaan menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) dan laboratorium secara mikroskopis, Surveilans yang dilakukan oleh Puskesmas hanya terfokus pada surveilans kasus dan belum dilakukan surveilans vektor malaria. Pengendalian vektor malaria yang dilakukan berupa pembagian kelambu dan penyemprotan insektisida dengan metode Indoor Residual Spraying (IRS). Kerjasama lintas program berjalan dengan baik, namun kerjasama lintas sektor terutama pada tingkat kabupaten masih perlu dilakukan dan ditingkatkan. Pembiayaan program pengendalian malaria hanya dari pemerintah daerah dan belum dapat mengakomodir kegiatan pengendalian secara keseluruhan.
Strategi Pemerintah dalam Program Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi Novia Susianti
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 1 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.431 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i1.1799

Abstract

Kasus DBD di Indonesia terus berfluktuasi dan semakin meningkat angka kesakitan dan sebaran wilayah yang terjangkit. Kabupaten Merangin merupakan kabupaten dengan Case Fatality Rate (CFR) tertinggi di Provinsi Jambi untuk tahun 2015, selain itu belum efektifnya upaya pemberantasan yang dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, untuk mengidentifikasi aspek implementasi upaya pemberantasan dan menentukan strategi pemberantasan DBD di Kabupaten Merangin. Lokasi penelitian di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi, pemilihan kecamatan dan kelurahan dilakukan secara purposiv sampling, dengan kriteria Case Fatality Rate (CFR) meningkat signifikan dengan 14 kasus di tahun 2014 menjadi 84 kasus di tahun 2015 dan 1 orang meninggal, yaitu di wilayah kerja puskesmas Kandis. Pemilihan desa dalam hal ini diwakili oleh Rukun Tetangga (RT) dipilih yaitu yang terdekat dengan puskesmas. Skema pengkajian berdasarkan skema implementasi kebijakan pemerintah dalam pemberantasan DBD dengan identifikasi faktor berdasarkan analisis USG (Urgensi, Serious, Growth). Strategi upaya pemberantasan berdasarkan analisis SWOT (Strenght, Weaknesses, Opportunities, Threats). Penentuan alternatif strategi dipilih berdasarkan teori tapisan Mc. Namara, dengan 5 kriteria yaitu efektifitas, kemudahan, manfaat, waktu dan biaya. Hasil penelitian menunjukkan ketidaktepatan pelaksanaan upaya pemberantasan DBD di Kabupaten Merangin yaitu belum terintegrasinya kegiatan pemberantasan DBD dengan sektor terkait, masyarakat dan sektor swasta dalam terutama pada gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin dan mandiri. Strategi utama yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah mendapatkan dukungan kebijakan pemerintah terkait upaya pemberantasan DBD dengan melibatkan semua sektor terkait, masyarakat dan sektor swasta di dalam mengkampanyekan gerakan pemberantasan DBD melalui gerakan PSN secara rutin baik di lingkungan rumah maupun di intansi/institusi.
Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Tentang Pengisian Buku Kia Oleh Ibu Terhadap Stimulasi Dan Perkembangan Anak Usi 0-3 Tahun Di Puskesmas Tambak Pulau Bawean-Gresik Astik Umiyah; Irwanto Irwanto; Windhu Purnomo
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.022 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.1973

Abstract

One factor infl uencing children development is mother’s knowledge concerning the actual process of child development. Health counseling to the mother is one option to maintain the children’s health, as well as to monitor their development. This study was to analyze the infl uence of health counseling concerning mothers’ practice in fi lling mother and child health book towards stimulation and development in children aged 0-3 years in Tambak Health Center, Bawean Island, Gresik Regency. This applied quasi-experimental pretest - posttest group design, with provision of health counseling as intervention. This study was conducted in Tambak Health Center at Bawean Island for 3 months, with overall sample consisted of 60 mothers with children aged 0-3 years, divided into 30 each in the treatment and the control groups. Questionnaires were utilized and analysis was done using the Mann-Whitney Test. The results indicated signifi cant value of p (p> 0.05) meaning that stimulation provided no diff erence between the treatment and control groups, but a downward trend occurred every month, with the fi rst month (p = 0.937), the second month (p = 0.289) and the third month (p = 0.213) On the other hand, development provided the infl uence with value of p <0.05. Counseling on fi lling up MCH book can improve mother’s ability to stimulate the development of children aged 0-3 years and mother can provide stimulation at every stage of child development through MCH book. Abstrak Salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan anak adalah ketidaktahuan ibu tentang proses perkembangan anak sesungguhnya, penyuluhan kesehatan kepada ibu merupakan salah satu cara untuk bagaimana menjaga kesehatan anak dan cara pemantauan perkembangan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penyuluhan kesehatan tentang pengisian BuKu KIA terhadap stimulasi dan perkembangan pada anak usia 0-3 Tahun di Puskesmas Tambak Pulau Bawean-Kab.Gresik. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen pretest post test group design, intervensi yang diberikan berupa pemberian penyuluhan kesehatan. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tambak Pulau Bawean selama 3 bulan, keseluruhan sampel berjumlah 60 ibu yang terdiri dari kelompok perlakuan dan kelompok kontrol masing-masing 30 ibu yang mempunyai anak usia 0-3 tahun. Instrumen menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji MannWhitney. Hasil uji statistik nilai signifi kan (p> 0,05) arti bahwa stimulasi tidak ada perbedaan antar kelompok perlakuan dan kontrol, tetapi ada penurunan tren tiap bulan yang terjadi yaitu bulan pertama (p=0,937), bulan kedua (p=0,289),dan bulan ketiga (p=0,213). Sedangkan perkembangan ada pengaruh (p< 0,05). Pemberian penyuluhan kesehatan tentang pengisian Buku KIA oleh ibu dapat meningkatkan kemampuan ibu dalam menstimulasi perkembangan anak usia 0-3 tahun dan ibu dapat memberikan stimulasi di setiap tahapan usia perkembangan anak melalui Buku KIA.
Analisis Perbedaan Jenis Metode Kontrasepsi Berdasarkan Siklus Reproduksi, Jumlah Anak, Pendidikan, Status Bekerja dan Tempat Tinggal pada Wanita Miskin dan Sangat Miskin di Indonesia Mugeni sugiharto; Niniek Lely Pratiwi
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.341 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v23i1.2015

Abstract

Coverage on the use of contraception among poor and very poor women who are married in Indonesia is signifi cant to increase. This condition occurred as the children’s birth rate was still very high. This research analyzed the different types of contraception based on reproductive cycles, child ownership, education, employment status, and residence in poor and very poor women in Indonesia. This study was quantitative with a cross-sectional design, using secondary data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2017. The analysis indicated that there was a signifi cant effect of p <α = 5% of the reproductive cycle, the number of children owned, the status of work, education, and residence in poor and very poor women on the type of contraceptive method they used. These groups remained using traditional contraception and without contraception. These might affect the number of population growth. Thus, several factors infl uencing the selection of contraceptive methods among poor and very poor groups were reproductive cycle factors, the number of children owned, the work status, education, and residence. It was so crucial to control married women with traditional contraception and without contraception so that they become acceptors with modern contraception. Abstrak Cakupan penggunaan kontrasepsi pada wanita miskin dan sangat miskin yang sudah menikah di Indonesia penting untuk ditingkatkan, karena tingkat kelahiran bayi pada kelompok ini masih sangat tinggi. Penelitian bertujuan untuk menganalisis perbedaan jenis alat kontrasepsi berdasarkan siklus reproduksi, kepemilikan anak, pendidikan, status pekerjaan dan tempat tinggal pada wanita miskin dan sangat miskin di Indonesia. Jenis penelitian kuantitatif, design cross sectional, menggunakan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh signifi kan p < α = 5% dari siklus reproduksi, jumlah anak yang dimiliki, status bekerja, pendidikan dan tempat tinggal pada wanita miskin dan sangat miskin terhadap jenis metode kontrasepsi yang mereka gunakan. Kelompok WUS miskin dan sangat miskin masih ditemukan yang menggunakan kontrasepsi tradisional dan tidak menggunakan kontrasepsi dan hal ini dapat berpengaruh terjadinya pertambahan penduduk. Disimpulkan bahwa pemilihan jenis metoda kontrasepsi pada wanita miskin dan sangat miskin dipengaruhi oleh faktor siklus reproduksi, jumlah anak yang dimiliki, status bekerja, pendidikan dan tempat tinggal. Disarankan pentingnya mengendalikan wanita menikah yang tidak menggunakan alat kontrasepsi dan yang masih menggunakan kontrasepsi tradisonal, agar mereka menjadi akseptor menggunakan kontrasepsi modern.
Riset Implementasi (Implementation Research) Sebagai Metodologi Riset Untuk Mengawal Kebijakan Siswanto Siswanto
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.213 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.2050

Abstract

The appropriate approach for operational research is by using problem solving cycle model, comprising (i) measuring the magnitude of the problem, (ii) identifying the causes of the problem, (iii) developing the solution, (iv) implementing program/ intervention, and (v) evaluating the program. Within a scientific perspective, in every phase of problem solving cycle, it needs research, including the fourth phase i.e. implementing program/ intervention. Research that provide scientific evidence for better implementation is labeled as Implementation Research. As a methodological approach, Implementation Research belongs to critical realism paradigm that is possible to use mixed method (combination of qualitative and quantitative), or stand alone of qualitative method, or quantitative method. The role of Implementation Research is very crucial for better implementation or for better scale-up of the program by understanding the implementation process as well as the impact of the program under concern. Participatory action research, as one of the Implementation Research approach, can be used as an appropriate methodology for better implementation in the real context of the new policy (new program) by tailoring the implementation process (management process) with the real world situation in terms of policy actors, organizational situation, human resources variable, community variable, as well as, resources variable. Abstrak Pendekatan yang tepat untuk riset operasioanl adalah melalui siklus pemecahan masalah terdiri dari (i) mengukur besaran masalah, (ii) mencari penyebab masalah, (iii) mengembangkan solusi, (iv) implementasi intervensi/ program, dan (v) evaluasi program. Dalam perspektif ilmiah, maka dalam setiap tahapan siklus pemecahan masalah memerlukan penelitian, termasuk tahap keempat yakni tahapan implementasi program. Penelitian yang menyediakan bukti ilmiah untuk implementasi program disebut dengan Riset Implementasi (Implementation Research). Sebagai pendekatan metodologi, Riset Implementasi termasuk dalam paradigma realisme kritis (critical realism), yang memungkinkan untuk menggunakan metoda campuran (mixed method) (kombinasi kuantitatif dan kualitatif), atau secara senidri hanya menggunakan kuantitatif, atau kualitatif saja. Peran Riset Implementasi menjadi sangat penting untuk mendapatkan cara-cara implementasi yang lebih baik, atau dalam rangka memperluas jangkauan progam, guna mempelajari proses implementasi dan melihat dampak program sebagaimana diinginkan. Riset tindak partisipatif (Participatory action research), dapat dipergunakan sebagai metodologi yang tepat untuk mendapatkan cara-cara implementasi yang lebih baik dalam konteks penerapan kebijakan/ progam baru, dengan menyesuaikan proses implementasi (proses manajemen) disesuaikan dengan situasi dunia nyata di lapangan, berkaitan dengan aktor kebijakan, situasi organisasi, variasi sumber daya manusia, variasi masyarakat, maupun variasi sumber daya lainnya.

Page 7 of 16 | Total Record : 154