cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL PSIKOLOGI UDAYANA
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 422 Documents
165 PERSEPSI KARYAWAN TERHADAP KEBUTUHAN AFILIASI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI PADA PERHOTELAN DI BALI Putera, Benny Sedana; Indrawati, Komang Rahayu
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.274 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p16

Abstract

The tourism sector is a favorite and seeded sector in Bali. That situation make many hotels in Bali compete with other hotels to give best service and best quality accommodation for tourist who came to Bali. In hotels, to give best service for tourist, the hotels need employee who has good skill and strong organizational commitment. Beside of that, how the employee have a perception about need for affiliation being important factor to interact with coworker in organization for reach the goal of hotels. The purpose of this research is to find the relationship between the perception of the need for affiliation with organizational commitment at hotels in Bali.This research use the quantitative method. The sampling technique that used in this research is a cluster sampling. This research use 128 respondent who work in hotel. Measure instrument in this research use scale perception of the need for affiliation with 59 item total and scale of organizational commitment with 42 item total. The coefficient of reliability for scale perception of the need for affiliation is 0,950 and for scale of organizational commitment is 0,958.Data in this research analyzed by simple linier regression with computer software SPSS version 15.0. The result of this research obtained that correlation coefficient is 0,715 with probability score is 0,000 (p<0,05). Based on the result can indicated there are significant relationship between the perception of the need for affiliation with organizational commitment. Determination coefficient (R2) which obtained in this research is 0,511 can be interpreted that perception of the need for affiliation have 51,1% can explain toward commitment organizational.Keyword: Perception of the need for affiliation, organizational commitment and hotel
Perbedaan Keterikatan Kerja berdasarkan Generasi Kerja Karyawan pada Perusahaan Berkonsep THK ditinjau dari Etos Kerja Adi, Putu Ratih Puspita; Indrawati, Komang Rahayu
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.285 KB)

Abstract

Perubahan yang paling hangat diperbincangkan di dunia kerja adalah adanya percampuran dan pengelolaan dari tiga generasi kerja karyawan yaitu, generasi Boomers, generasi X, dan generasi Y. Fenomena banyak generasi di dunia kerja tersebut menimbulkan perdebatan mengenai perbedaan etos kerja dan keterikatan kerja diantara generasi kerja karyawan. Adapun peraturan di Bali yang mewajibkan perusahaan yang bergerak pada industri pariwisata untuk menerapkan konsep Tri Hita Karana (THK). Konsep THK merupakan dimensi hidup orang Bali yang menyelaraskan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterikatan kerja berdasarkan generasi kerja karyawan pada perusahaan berkonsep THK ditinjau dari etos kerja. Sampel penelitian diambil secara acak dengan metode two-stage cluster sampling hingga mendapatkan 120 sampel dari 10 perusahaan berkonsep THK di Denpasar. Subjek penelitian terdiri dari 34 karyawan dari generasi Boomers (kelahiran tahun 1946-1964), 43 karyawan dari generasi X (kelahiran tahun 1965-1980), dan 43 karyawan dari generasi Y (kelahiran tahun 1981-2000). Instrumen dalam penelitian ini adalah skala keterikatan kerja dan skala etos kerja. Hasil analisis ancova menunjukkan ada perbedaan keterikatan kerja berdasarkan generasi kerja karyawan ditinjau dari etos kerja. Perbedaan keterikatan kerja dan etos kerja ditinjau dari generasi kerja karyawan menggunakan analisis uji komparasi anova, yang menunjukkan tidak ada perbedaan keterikatan kerja berdasarkan generasi kerja karyawan di perusahaan berkonsep THK, dan ada perbedaan etos kerja berdasarkan generasi kerja karyawan diperusahaan berkonsep THK. Hasil analisis regresi menunjukkan adanya hubungan fungsional antara keterikatan kerja dan etos kerja. Kata kunci: Keterikatan Kerja, Etos Kerja, Generasi Kerja Karyawan, Perusahaan Berkonsep Tri Hita Karana
STUDI KORELASI PERILAKU ADAPTIF DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA UNDERACHIEVER DI BALI Carina, Tiara; Supriyadi, Supriyadi
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.02 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p04

Abstract

Education is an effort that deliberately, regularly runs and plans to modify or develop behavior which the environment wish for (Wahyuningsih, 2004). There are several problem in education, which is some students have learning difficulties. Student with above average level of intelligence but low achieving at school is called by underachiever. Academic achievement is result of learning processes that shown from the changes on knowledge and comprehension, value, attitude, and skill (Winkle, 1997). According to Suryabrata, Shertzer, and Stone (in Winkle, 1997), there are some psychological factors that influence academic achievement. Psychological factors that were studied in this research are adaptive behavior and emotional intelligence.This research is quantitative study using double regression technique. Subjects of this research are 47 underachiever students (n boys = 24; n girls = 23) who their age are between 11 to 15 year old. The sampling method is random cluster sampling. The data collection method uses Adaptive Behavior Scale (rxx = 0.983), Emotional Intelligence Scale (rxx = 0.870), and study report in odd semester.From hypothesis test with double regression technique, it is found that the correlational coefficient is 0.857, the regression coefficient is 0.735, the significant coefficient of the regression is 0.000, and the significant coefficient of independent variables are both 0.000 and 0.043. It shows that there is significant causal correlation between adaptive behavior and emotional intelligence with academic achievement, the adaptive behavior and emotional intelligence influences academic achievement as 73.5%.Keywords: adaptive behavior, emotional intelligence, academic achievement, underachiever
HUBUNGAN ANTARA CITRA TUBUH DAN PERILAKU MAKAN INTUITIF PADA REMAJA PUTRI DI DENPASAR Paramitha, Ni Made Kristizia; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.097 KB)

Abstract

Perilaku makan intuitif merupakan perilaku makan adaptif yang berlangsung secara naluriah, ditandai denganhubungan yang kuat dengan isyarat-isyarat internal dari rasa lapar dan kenyang fisiologis. Perilaku makan intuitifmeminimalisir tekanan psikologis akibat menahan keinginan dan lapar yang terjadi dalam perilaku diet sertamengurangi gejala gangguan makan. Perilaku makan ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya citra tubuh. Citratubuh merupakan cara individu memandang, merasakan, serta mengevaluasi bentuk tubuh yang dapat berupagambaran atau penilaian positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan citra tubuh danperilaku makan intuitif. Subjek pada penelitian ini adalah remaja putri di Denpasar. Sampel pada penelitian berjumlah80 orang. Hasil uji hipotesis menggunakan Product Moment Pearson menunjukkan signifikansi sebesar 0,000 dengankoefisien korelasi sebesar 0,419. Koefisien korelasi sebesar 0,419 menunjukkan bahwa tingkat hubungan antara citratubuh dan perilaku makan intuitif adalah sedang. Signifikansi <0,05 menunjukkan bahwa hubungan citra tubuh danperilaku makan intuitif adalah signifikan. Koefisien korelasi positif menunjukkan bahwa arah hubungan citra tubuhdan perilaku makan intuitif bersifat positif. Artinya, semakin positif citra tubuh, semakin tinggi pula perilaku makanintuitif dan semakin negatif citra tubuh, semakin rendah perilaku makan intuitif. Kata Kunci: Perilaku makan intuitif, citra tubuh, diet, remaja putri.
Peran problem focused coping dan dukungan sosial teman sebaya terhadap kecemasan remaja SMA yang akan menempuh ujian nasional Pradana, I Gusti Ngurah Ade; Susilawati, Luh Kadek Pande Ary
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.589 KB)

Abstract

Ujian Nasional (UN) merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang dianggap strategis dan mudah dalam memetakan serta mengukur standar pendidikan sejak tahun 2005. Masalah yang sering dialami remaja SMA terkait dengan menghadapi UN adalah kecemasan. Salah satu pemilihan cara mengatasi masalah disebut dengan proses coping. Coping yang dipergunakan adalah problem focused coping. Kecemasan menghadapi UN dapat juga dikurangi dengan dukungan sosial. Siswa yang mendapat dukungan sosial yang tinggi dari teman sebayanya akan merasa dicintai dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Rasa percaya diri yang tinggi akan merasa mampu menyelesaikan UN dengan hasil maksimal, sebaliknya yang memiliki dukungan sosial yang rendah akan merasa gagal dan kurang memilki motivasi belajar yang berakibat pada meningkatnya kecemasan sebelum menempuh UN. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran problem focused coping dan dukungan sosial teman sebaya terhadap kecemasan remaja SMA yang akan menempuh Ujian Nasional. Subjek dalam penelitian ini 214 remaja SMA Negeri di Denpasar yang akan menempuh Ujian Nasional, terdiri dari 69 laki-laki dan 145 perempuan dengan rentang usia 15-18 tahun sebagian besar berusia 18 tahun. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala problem focused coping berdasarkan dimensi dari Lazarus dan Folkman (1984) dengan reliabilitas 0,902, dukungan sosial teman sebaya berdasarkan aspek Haber (2010) dengan reliabilitas 0,922, dan skala kecemasan berdasarkan gejala kecmasan Nevid (2005) dengan reliabilitas 0,864. Analisis data dilakukan teknik regresi berganda. Hasil uji regresi berganda menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,581, nilai koefisien determinasi sebesar 0,337, nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05), nilai koefisien beta terstandarisasi variabel problem focused coping sebesar -0,625 dan variabel dukungan sosial teman sebaya sebesar 0,067. Hasil tersebut menunjukkan bahwa problem focused coping dan dukungan sosial teman sebaya berperan terhadap kecemasan remaja SMA yang akan menempuh Ujian Nasional. Kata Kunci: Dukungan sosial teman sebaya, kecemasan, problem focused coping, remaja
PERBEDAAN KEMANDIRIAN REMAJA SMA ANTARA YANG SINGLE FATHER DENGAN SINGLE MOTHER AKIBAT PERCERAIAN Suwinita, I Gusti Ayu Mirah; Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.781 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i01.p06

Abstract

  Structure of the family is one of the factors that builds the independence of adolescents. Nowadays, it is uncommon to find families that are not united due to divorcement. The condition where families are no longer united (single parent) will affect the independence of adolescents. Independence of adolescence is the ability to organize behavior and decision without being dependent on parents (Steinberg, 2002). The purpose of this research is to see the difference of independence between senior high school adolescents with single mother and adolescents with single father due to divorcement.   A total of 64 senior high school adolescents in Bali in aged 15-18 years who have single parents due to divorcement were included as subjects in this quantitative research, with comparison approach. The sampling technique that was used in this research was cluster sampling. Measuring instrument used in this research was Independence Scale (34 item, rxx=0.889). The statistical technique used to process the data of this study is a parametric test of independent t-test.   Based on the outcome of this research, it appears that there is no significant difference between the independence of senior high school adolescents with a single father nor single mother due to divorcement (t=1.212) with p equal to 0,230 (p>0,05).   Keyword: Autonomy of Adolescence, single father, single mother.  
PERAN SELF REGULATED LEARNING DAN KONSEP DIRI TERHADAP PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA REMAJA AKHIR FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA YANG PERNAH MENJADI FINALIS BALI PAGEANTS Liana Puspita, Syntia Agung; Rustika, I Made
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.802 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p01

Abstract

Pencapaian prestasi akademik yang tinggi merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi remaja yang pernah mengikuti ajang Bali Pageants. Keberhasilan mencapai prestasi yang tinggi berkaitan dengan self regulated learning dan juga konsep diri. Self regulated learning adalah kemampuan individu untuk mengatur disiplin diri dalam belajar, sedangkan konsep diri merupakan kemampuan seorang menilai kekuatan dan kelemahan dalam diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran self regulated learning dan konsep diri terhadap prestasi akademik pada mahasiswa remaja akhir. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa remaja akhir FK UNUD yang pernah menjadi finalis ajang Bali Pageants. Hasil uji regresi berganda adalah R=0,385 dan koefisien determinasi sebesar 0,148. Hal ini menunjukkan variabel self regulated dan konsep diri secara bersama-sama berperan sebesar 14,8% terhadap prestasi akademik. Koefisien beta terstandarisasi self regulated learning sebesar 0,405 dan signifikansi 0,012 (p<0,05) menunjukkan self regulated learning berperan secara signifikan terhadap prestasi akademik. Koefisien beta terstandarisasi konsep diri sebesar -0,034 dan signifikansi 0,827 (p>0,05) menunjukkan konsep diri tidak berperan terhadap prestasi akademik. Kata kunci: prestasi akademik, self regulated learning, konsep diri, remaja akhir, finalis Bali Pageants
CITRA TUBUH PADA REMAJA PENYANDANG TUNADAKSA YANG MENEMPUH PENDIDIKAN DI SEKOLAH UMUM Prima Dewi, I Gusti Ayu Jayanthi; Widiasavitri, Putu Nugrahaeni
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.268 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p09

Abstract

Pada saat remaja mengalami masa pubertas, remaja cenderung fokus pada bentuk tubuhnya dan memiliki keyakinan deskriptif dan evaluatif terkait dengan penampilan yang disebut dengan citra tubuh. Setiap remaja pasti menginginkan tubuh yang sempurna, namun terdapat remaja yang tidak mendapatkan tubuh sempurna karena memiliki keterbatasan fisik, seperti yang dialami oleh penyandang tunadaksa. Remaja penyandang tunadaksa akan menemukan permasalahan ketika bersekolah di sekolah umum yang akan berpengaruh terhadap citra tubuh. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor yang memengaruhi citra tubuh pada remaja penyandang tunadaksa yang menempuh pendidikan di sekolah umum. Wawancara dan observasi dilakukan pada tiga orang remaja penyandang tunadaksa yang menempuh pendidikan di sekolah umum, serta kepada significant others dari masing-masing responden. Hasil yang diperoleh setelah menganalisis data dengan teknik theoretical coding dan Model Miles dan Huberman, antara lain terdapat remaja penyandang tunadaksa yang memiliki citra tubuh negatif dan ada yang memiliki citra tubuh yang lebih positif. Remaja penyandang tunadaksa dengan citra tubuh negatif mempersepsikan tubuhnya kurang ideal, berpikiran negatif, malu, menghindar dari situasi tertentu, tidak terlalu puas dengan bentuk tubuhnya, serta ingin bisa berjalan. Remaja penyandang tunadaksa dengan citra tubuh yang lebih positif memiliki pikiran yang lebih positif, percaya diri, senang berkegiatan di luar rumah, mau memulai pertemanan, dan bersyukur atas apa yang telah dimiliki, walaupun masih menginginkan tubuh yang berotot. Hal tersebut dipengaruhi oleh bagaimana perlakukan orang disekitar, keberadaan orang dengan kondisi yang sama, beryukur atau tidaknya atas kondisi yang dimiliki saat ini, kondisi tunadaksa yang dialami sejak atau setelah masa kanak-kanak, serta dukungan dari orangtua. Kata kunci: tunadaksa, sekolah umum, citra tubuh, remaja
Hubungan Dimensi Kepribadian The Big Five Personality dengan Penyesuaian Diri Mahasiswa Asing di Universitas Udayana Shaifa, Demira; Supriyadi, Supriyadi
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.283 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p08

Abstract

International students are vulnerable to have adjustment issues and faced stressful events when they study abroad (Yusoff & Chelliah, 2006). How they cope with adjustment issues depends on their unique personality (Ward, Leong, & Low, 2004). This quantitative research with correlational approach is aimed to find out the relationship between personality dimensions from The Big Five Personality and adjustment of international students in Udayana University. One hundred and forty five international exchange students across nations who stayed in Bali for maximum of one year and have a course in Udayana University became subject of this research. Personality was measured by The Big Five Inventory (reliability = 0,946) and sojourner adjustment was measured by Sojourner Adjustment Measure that modified from Pedersen’s (2011) version (reliability = 0,785). Data has a normal distribution, those are  p = 0,776 for personality and p = 0,199 for adjustment and also has a linear model (p = 0,000). Partial correlation was performed to do the analysis. The result indicates that there are positive and significant relationship between agreeableness (r = 0,285, p < 0,05) and openness to new experience   (r = 0,136, p < 0,05) towards adjustment of international students in Udayana University. However, there are no significant relationship found in extraversion, conscientiousness, and neuroticism towards adjustment of international students in Udayana University. Keywords: personality, The Big Five Personality, sojourner adjustment, international students.
PERBEDAAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA PEREMPUAN BALI YANG MENIKAH SESAMA WANGSA DAN BERBEDA WANGSA Vratasti, I Gusti Ayu Maya; Wilani, Ni Made Ari
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.313 KB)

Abstract

Subjective wellbeing is a thorough assessment of the individual's life that involves cognitive and affective aspects. The cognitive aspect is reflected in the assessment of life satisfaction and affective aspect is reflected from the positive and negative affects felt by the individual, the happiness of individual is when positives affect more dominant than the negatives affect. Marriage is one of the most powerful predictors of subjective wellbeing . In the collective culture, happiness can be caused by social acceptance of their marital status. Wangsa is a social stratification system in Balinese society that divides people into specific groups based on lineage. Wangsa system affects the process and marriage system in Bali which resulted in the emergence of same and different wangsa marriages. Same wangsa marriage will be easier to obtain the consent of the parents marriage more than different wangsa marriage, as well as their social consequences that must be faced by a woman who married different wangsa. In modern times the implementation of wangsa system have been improper, and some rules related to different wangsa married have been more flexible compared to the ancient times. This study aimed to see the condition of subjective wellbeing in Balinese women who married the same and different wangsa. This study used quantitative methods. The sampling technique in this study was three-stage cluster random sampling. Total sample of 60 people, consisting of 30 Balinese women who married the same wangsa and 30 Balinese women married the different wangsa. Measure tool used was subjective wellbeing scale. Data analysis method used was independent sample t-test. The study stated that there was no difference of subjective wellbeing in Balinese women who married the same and different wangsa. Keyword: subjective wellbeing , balinese women, same wangsa married, defferent wangsa married.