cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL PSIKOLOGI UDAYANA
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 422 Documents
Pola Asuh Permisif Ibu dan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki di Sma Negeri 1 Semarapura Sanjiwani, Ni Luh Putu Yuni; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.597 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2014.v01.i02.p13

Abstract

Indonesia placed the 4th rank in the highest number of smokers in the world which consisted of not only adults but also adolescents. There are several things that influence adolescent smoking behavior, namely parenting style, peers, personality factors, and also advertisements. Parenting style which will be investigated in this research has three forms namely democratic, authoritarian, and permissive. Permissive parenting style is one form of parenting style which is presumably associated with smoking behavior. Permissive parenting style has characteristics as no child guiding, agreeing child's behavior, and do not use punishment, thus making the child feels brave in doing maladaptive behaviors such as smoking. Since the prevalence of smoking behavior among men is bigger, the researcher wanted to see whether there is a relationship between permissive parenting style of mother and smoking behavior of male adolescents in SMA Negeri 1 Semarapura.   Subjects in this research are 75 male students in SMA Negeri 1 Semarapura. Research method uses correlational study. Data are collected with questionnaires. Permissive parenting style of mother questionnaire has 16 valid items and its reliability coefficient is 0,916 which means the questionnaire is reliable since its reliability coefficient is higher than minimum standard 0,600. Smoking behavior questionnaire has 20 valid items and its reliability coefficient is 0,906 which means the questionnaire is reliable since its reliability coefficient is higher than minimum standard 0,600. Result of assumption test shows data are normal and linear. Linearity test between permissive parenting style of mother and smoking behavior has significance level 0,000 which means linear since its significance level is lower than 0,05. Result of this research finds positive significant relationship between permissive parenting style of mother and smoking behavior and its correlational coefficient is 0,493. The value of coefficient of determination is 0,243 which shows permissive parenting style  of mother has 24,3% contribution to smoking behavior.   Keywords: permissive parenting style, smoking behavior, male adolescents.    
PERBEDAAN SUBJECTIVE WELL BEING PADA IBU DITINJAU DARI STRUKTUR KELUARGA DI KOTA DENPASAR Dewi, Gina Sonia Martha; Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.721 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p11

Abstract

Ilmu psikologi tidak hanya studi yang membahas tentang kelemahan tetapi juga studi tentang kekuatan dan kebijakan individu yang kemudian disebut sebagai Psikologi Positif. Salah satu pokok bahasan dalam psikologi positif adalah terkait dengan subjective well being individu. Terdapat enam prediktor subjective well being individu dimana salah satu prediktor tersebut adalah hubungan sosial yang positif. Kelompok sosial terkecil didalam masyarakat adalah keluarga. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode analisis Independent Sample T-test, teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu two stage area sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah ibu yang tinggal pada struktur keluarga nuclear family (N=60) dan struktur keluarga extended family (N=60) dengan rentang usia 18-40 tahun. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala subjective well being sebanyak 27 aitem (?= 0,857).  Hasil dari penelitian ini diperoleh t hitung pada Equal varians assumed sebesar 2,519 dengan probabilitas 0,013 atau berada dibawah 0,05 (p<0,05), maka Ha diterima, atau dapat dikatakan kedua kelompok berbeda secara signifikan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan subjective well being pada ibu yang tinggal dalam struktur keluarga nuclear family dengan ibu yang tinggal dalam struktur keluarga extended family.   Kata Kunci : Subjective well being, Ibu, Extended Family, Nuclear Family
DYADIC COPING DAN KEPUASAN PERNIKAHAN PASANGAN SUAMI ISTRI DENGAN SUAMI DIABETES MELITUS TIPE II Yuliana, Ida Ayu Intan; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.301 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i02.p14

Abstract

This study was conducted to examine the relationship between dyadic coping and marital satisfaction in couples with husband diabetes mellitus type II. Dyadic coping is an interpersonal process that involves both partners in a marriage relationship (Bodenmann, 2005), dyadic coping were measured using dyadic coping scale. Marital satisfaction is an evaluation of the areas in marriage that includes communication, leisure activities, religious orientation, conflict resolution, financial management, sexual relationships, family and friends, equalitarian roles, and parenting styles (Olson & Olson, 2000), marital satisfaction measured using marital satisfaction scale. This research method is quantitative method with the research subjects were married couples with husband diabetes mellitus type II, married with a minimum marriage age of 5 years, and not being bedridden (n = 80). Technique sampling in this research is purposive sampling. The data were analyzed using simple linear regression . The results of simple linear regression show that the value of significant level 0.001 (p <0.05). The results analysis of this research showed that there is a significant correlation between dyadic coping and marital satisfaction among couples with husband diabetes mellitus type II. The correlation coefficient was 0.380 (r = 0.380) which means that the relationship is held in low category with a value of R square of 0.144 which shows the effective contribution of dyadic coping of marital satisfaction that is equal to the remaining 14.4% is equal to 85 , 6% is the contribution of other factors such as the age of marriage, monthly income, and education.Keywords : dyadic coping , marital satisfaction, diabetic melitus type II.
Peran Keluarga terhadap Manajemen Relapse (Kekambuhan) pada Orang Dengan Skizofrenia (ODS) Meiantari, Ni Nengah Henny; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.912 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p07

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi dan perilaku. Penanganan yang umum dilakukan oleh anggota keluarga yaitu mengajak orang dengan skizofrenia (ODS) untuk melakukan pengobatan ke dokter spesialis jiwa (psikiater) maupun berobat ke rumah sakit jiwa. Kurangnya pengetahuan keluarga dan masyarakat akan deteksi dini dan penanganan pasca pengobatan di rumah sakit jiwa menyebabkan ODS tidak memperoleh penanganan dengan baik. Penanganan yang kurang baik dapat menimbulkan gejala-gejala kekambuhan atau yang sering disebut relapse. Relapse atau kambuh dapat diartikan sebagai munculnya gejala yang sama seperti sebelumnya dan mengakibatkan ODS harus dirawat kembali. Relapse dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu obat, keluarga dan sosial. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran keluarga terhadap manajemen relapse (kekambuhan) pada orang dengan skizofrenia (ODS). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan desain penelitian fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi pada 10 orang responden dan wawancara kelompok pada 2 kelompok yang terdiri dari keluarga ODS. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, data display dan conclusion drawing atau verification. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pencegahan yang dilakukan keluarga untuk meminimalisir munculnya relapse yaitu melakukan perlindungan dari stresor, memastikan ODS minum obat secara teratur, rutin melakukan kontrol ke dokter maupun rumah sakit dan mengajak ODS untuk beraktivitas. Penanganan yang dilakukan keluarga apabila gejala relapse muncul yaitu membawa ODS ke rumah sakit, memberikan obat, dan memberikan perhatian keluarga. Kata kunci: peran keluarga, skizofrenia, relapse, ODS
Peran kecerdasan emosional terhadap kecemasan menghadapi ujian pada mahasiswa tahun pertama Program Studi Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Agus, Hagelin Putri; Wilani, Ni Made Ari
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.476 KB)

Abstract

Mahasiswa tahun pertama sangat membutuhkan bantuan selama periode awal di perguruan tinggi. Masalah dan konflik yang dihadapi di tahun pertama adalah penyesuaian akademik seperti, perubahan gaya belajar dari sekolah menengah atas ke perguruan tinggi, tugas-tugas perkuliahan, dan target pencapaian nilai. Mahasiswa kedokteran rentan mengalami kecemasan, karena sistem belajar pada program studi pendidikan dokter yang kompleks dan padat. Adanya tuntutan akademik, harapan keluarga dan masyarakat juga turut meningkatkan beban psikologis mahasiswa yang dapat berakibat pada kecemasan. Dalam hal ini salah satu rangsangan yang membangkitkan kecemasan adalah situasi saat ujian. Kecemasan menghadapi ujian adalah suatu keadaan atau perasaan yang tidak menyenangkan yang mengakibatkan mahasiswa mengalami perasaan khawatir dan takut, karena memikirkan penilaian dari hasil belajarnya selama pendidikan. Banyak faktor yang dapat memengaruhi kecemasan mahasiswa tahun pertama saat menghadapi ujian salah satunya adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional merupakan kecakapan emosi untuk mengendalikan diri sendiri, daya tahan ketika menghadapi rintangan, mengendalikan impuls, mengatur suasana hati serta mengelola kecemasan agar tidak mengganggu kemampuan berpikir serta mampu berempati dan berharap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan kecemasan pada mahasiswa tahun pertama yang akan menghadapi ujian. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa tahun pertama di Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana angkatan 2017 yang berjumlah 100 orang. Hasil uji regresi linear sederhana mendapatkan hasil nilai R2 mendapatkan nilai sebesar 0,097 yang artinya kecerdasan emosional memberikan sumbangan sebesar 9,7%, sedangkan sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain di luar variabel kecerdasan emosional. Kata kunci: Kecemasan menghadapi ujian, kecerdasan emosional, mahasiswa tahun pertama
PENGARUH OUTBOUND TERHADAP EFIKASI DIRI PADA MAHASISWA Widarnandana, I Gde Dhika; Simarmata, Nicholas
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.871 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i02.p04

Abstract

Students in their lectures faced on academic and non academic challenge. In academic challenge, such as orientation period, lecture, assignment, mid test, final test, community service and thesis. From non academic challenge, student who join in organization student should be smart to divide their time in campus. Facing the academic and non academic challenge, student must to have toughness in him self to be able face and resolve their lecture as well, student must to have self efficacy. Self efficacy is a judgment one’s ability to organize and execute tasks aims to produce an achievement. Self efficacy can be enchanced through training program, one’s of outdoor training program can be called Outbound. Outbound defined by learning process by interacting through experienced, Outbound is simulation of game in outdoors and have goal to get experience has meaning. This is quantitave research with analysis Paired Sample T-Test. Data collection by use experiment method, pre-experiment design. Researcher deploy self efficacy pre-test scale and self efficacy post-test scale as many as 20 item, data collection techniques use multistage random sampling. Respondent in this research is student in Udayana University, as many as 30 respondent. Result from this research found probability 0,000 (p)<0,05. This means there Outbound influence in self efficacy student. In addition from analysis regresion amount of success variable can be predicts an increase of self efficacy post-test variabel. Based on that data can be concluded Outbound give influence to increase student self efficacy.   Keyword : Outbound, Self Efficacy, Student, Experiment
HUBUNGAN ANTARA RASA KOMUNITAS DAN KOMITMEN ORGANISASI DENGAN KOHESIVITAS KELOMPOK PADA ANGGOTA SEKAA TERUNA-TERUNI DI BADUNG Vilayanti, Luh Putu Ela; Supriyadi, Drs
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.94 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p15

Abstract

Masa remaja merupakan masa mengembangkan potensi diri sehingga diperlukan wadah untuk remaja mengembangkan kemampuan dirinya agar menjadi remaja yang lebih baik. Provinsi Bali memiliki suatu perkumpulan bagi remaja yang disebut dengan Sekaa Teruna-Teruni. Sekaa Teruna-Teruni merupakan kumpulan pemuda-pemudi yang berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial. Kegiatan dan program kerja Seka Teruna-Teruni agar menjadi sukses diperlukan rasa komunitas, komitmen organisasi dan kohesivitas kelompok antar anggota, akan tetapi fakta yang terjadi pada beberapa anggota Sekaa Teruna-Teruni yaitu kehadiran anggota yang sedikit, keaktifan yang kurang, kegiatan yang kurang menarik, anggota banyak yang merantau, sibuk dengan pekerjaan rumah serta terjadinya kelompok-kelompok kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara rasa komunitas dan komitmen organisasi dengan kohesivitas kelompok pada anggota Sekaa Teruna-Teruni. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah anggota Sekaa Teruna-Teruni di Badung yang berjumlah 99 orang. Instrumen dalam penelitian ini yaitu skala rasa komunitas, skala komitmen organisasi dan skala kohesivitas kelompok yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara rasa komunitas dan komitmen organisasi dengan kohesivitas kelompok pada anggota Sekaa Teruna-Teruni di Badung. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut berhubungan secara signifikan (p<0.05) dan diyakini bahwa variabel rasa komunitas dan komitmen organisasi dapat memprediksi kohesivitas kelompok. Varian rasa komunitas dan komitmen organisasi dapat menjelaskan varian kohesivitas kelompok sebesar 72,3%, sehingga dapat disimpulkan bahwa rasa komunitas dan komitmen organisasi dapat meningkatkan kohesivitas kelompok pada anggota Sekaa Teruna-Teruni. Kata kunci: kohesivitas kelompok, rasa komunitas, komitmen organisasi, Sekaa Teruna-Teruni
KEHIDUPAN BERMAKNA PEREMPUAN YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Ariyanti, Ni Made Putri; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.402 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i02.p05

Abstract

Meaningful life occurs when an individual is able to give meaning to his life. To achieve a meaningful life, individuals go through a process of achieving a meaningful life that begins from the suffering stage, the stage of self-understanding, the discovery phase of the meaning of life, the meaning realization stage, and the stage of meaningful life. This study aimed to see a meaningful life of women who have experienced violence in the home. Domestic violence is any act against someone, especially women, which results in the emergence of physical, sexual, or psychological suffering, and /or negligence of households within the domestic sphere.This study used qualitative research with a phenomenological approach and the number of the respondents was three women experiencing domestic violence. The data used in this study were observation and interviews. The results of this study indicated that the process of achieving a meaningful life started from the stage of suffering, experiencing violence. The women who experienced violence were the ones found to have been divorced but reconciled with her husband, when women underwent violence they were not able to give meaning to their life in a positive way. When women were not able to give meaning to their life, they began praying and reading positive books that directed them to seek the meaning of life, namely children, religion, values, and expectations as the meaning of life which then directed them to change attitudes in the face of violence. Changing attitudes carried out by women are looking for help and choosing to separate from her husbands. After changing attitudes, women committed themselves to living a meaningful life that had been found to fulfill the meaning of life with work and developing skills. The women who had fulfilled the meaning of life were able to look at life more meaningful by generating belief, seeing violence as a trial and behind the trial is a lesson that can be learned and that it can ultimately bring happiness.Keywords: women, domestic violence, meaningful life
Hubungan Kontrol Diri, Beban Kerja, dan Dukungan Sosial Teman Sebaya terhadap Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Universitas Udayana yang Bekerja Part Time Dinata, I Dewa Gede Angga; Supriyadi, Drs
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.054 KB)

Abstract

Mahasiswa yang memilih untuk bekerja akan kehilangan sebagaian besar waktu untuk mengerjakan tugas, belajar maupun melakukan aktivitas pribadi lainnya. Kepadatan kegiatan perkuliahan dan bekerja cenderung menimbulkan kemungkinan terjadinya prokrastinasi akademik. Kontrol diri yang terdiri dari kemampuan untuk mengontrol perilaku, kognitif dan pengambilan keputusan dapat membantu mahasiswa untuk terhindar dari prokrastinasi akademik. Beban kerja yang rendah juga dinyatakan dapat menghindari kelelahan berlebih pada mahasiswa yang merupakan salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya prokrastinasi akademik. Taraf dukungan sosial yang tinggi juga dapat menghindarkan mahasiswa dari prokrastinasi akademik, terutama dukungan sosial dari teman sebaya yang memiliki pengaruh besar pada masa remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri, beban kerja dan dukungan sosial teman sebaya terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Udayana yang bekerja part time. Subjek dalam penelitian ini adalah 110 orang mahasiswa Universitas Udayana yang bekerja part time, dipilih dengan menggunakan teknik two stage cluster sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah angket beban kerja, skala kontrol diri, skala dukungan sosial teman sebaya dan skala prokrastinasi akademik yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hipotesis dari penelitian ini diuji dengan teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan nilai R=0,757 dan adjusted R square sebesar 0,562. Hal ini menunjukkan bahwa kontrol diri, beban kerja, dan dukungan sosial teman sebaya memiliki hubungan terhadap prokrastinasi akademik dan dapat menjelaskan varian prokrastinasi akademik sebesar 56,2%, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa kontrol diri, beban kerja dan dukungan sosial teman sebaya secara bersama-sama memiliki hubungan terhadap prokrastinasi akademik. Kata kunci: kontrol diri, beban kerja, dukungan sosial teman sebaya, prokrastinasi akademik, mahasiswa yang bekerja part time. ?
PERAN DUKUNGAN SOSIAL DAN PENERIMAAN DIRI PADA STATUS DIABETES MELITUS TIPE II TERHADAP KEPATUHAN MENJALANI DIET PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II BERUSIA DEWASA MADYA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WANGAYA KOTA DENPASAR Ayu, Desak Ulan Sukmaning; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.107 KB)

Abstract

Diabetes Melitus tipe II disebut diabetes yangtidak bergantung dengan insulin, disebabkan penggunaan insulin yang kurang efektif oleh tubuh yang dapat menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Kondisi ini yang memicu timbulnya stressor psikologis dan psikososial terhadap pemeliharaan status kesehatan. Terdapat lima komponen dalam penatalaksanaan DM tipe II adalah diet, latihan, pemantauan, terapi dan pendidikan.Kepatuhan menjalani diet berkaitan dengan faktor internal pasien yaitu penerimaan diri pada status DM tipe II dan faktor eksternal yaitu dukungan sosial dari lingkungan sekitar pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dukungan sosial dan penerimaan diri pada status DM tipe II terhadap kepatuhan menjalani diet pada pasien DM tipe II berusia dewasa madya di RSUD Wangaya kota Denpasar.Subjek dalam penelitian ini adalah 82 orang pasien DM tipe IIberusia dewasa madya di RSUD Wangaya kota Denpasar. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik simple random sampling. Metode analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan R=0,286 dan adjusted R square sebesar 0,268. Hal ini menunjukkan bahwa variabel dukungan sosial dan penerimaan diri pada status DM tipe II memberikan peran terhadap kepatuhan menjalani diet sebesar 26,8%. Nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan dukungan sosial dan penerimaan diri pada status DM tipe II secara bersama-sama berperan terhadap kepatuhan menjalani diet. Kata kunci: kepatuhan menjalani diet, dukungan sosial, penerimaan diri pada status diabetes melitus tipe II, diabetes melitus tipe II