Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat
Refleksi (ISSN 0215 6253) is a journal published by the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta. The Journal specializes in Qur'an and Hadith studies, Islamic Philosophy, and Religious studies, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Articles
824 Documents
Telaah Penafsiran Ayat-Ayat Kekerasan: Upaya Mewujudkan Perdamaian dalam Bingkai Keindonesiaan
Lufaefi Lufaefi
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 16 No. 1 (2017): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v16i1.9730
Issues of violence and radicalism in Indonesia increasingly prevalent. Various acts of anarchism and terrorism seem to be mushrooming in this country that has a lot of diversity. Actions that harm the public and even the religion is not rare background against the understanding of the holy verses of the Koran. The Qur’an is understood as a revelation that legalizes these actions. Then, is it true that the revelation of the Qur’an permits acts of violence that would harm many people? this article attempts to interpret the verses of the Koran that are justified as supporting verses of the above mentioned actions. Through the historical review of the verse (asbab an-nuzul), in fact none of the Qur’anic verses permit violence, terrorism and radicalism. As a revelation coming from the Lord of the universe, indeed the verses of the Koran precisely require creating peace for the whole of nature, not least the nature of Indonesia.
Resolusi Konflik dan Islam Nusantara: Memromosikan Dialog antar Budaya dan Rekognisi Sosial
Masykur Wahid
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 15 No. 2 (2016): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v15i2.10164
This paper is a philosophical study about conflicts resolution and Islam Nusantara among multicultural societies. This article discusses the relationships between individuals who produce social conflicts of ethnic and religious nuance. Referring to the theory of multiculturalism from Bhikhu Parekh, literature study method, phenomenology of religious life method, and critical reflection method, it is concluded that the social conflicts (a) emerged from an individual behavior that interprets moral and cultural in different view; and (b) happened in countries that provide political uniformity. These social conflicts should be cultivated by an individual through cultural dialogues and the actions of intercultural dialogue and social recognition. The dialogue is expected to rediscover harmony in social life.
Etika Falsafah Islam Perspektif Kesetaraan Gender
Edwin Syarif
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 15 No. 2 (2016): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v15i2.10165
Etika merupakan salah satu cabang kajian dari falsafah yang mengkaji secara mendalam tentang perilaku baik teori maupun praktek. Para failusuf muslim mengkaji tentang etika ini secara mendalam dengan tetap berpegang pada teks-teks al-Qur’an. Khazanah pengetahuan Islam klasik cukup banyak yang berbicara tentang etika di antaranya: Tafsir al-Qur’an, al-Hadis, Falsafah Islam, Tasawuf, Kalam. Etika sebagai sebuah kajian filosofis belum mendapat tempat yang memadai dalam falsafah Islam, karena wacana syari’ah masih mendominasi. Sebagai akibatnya, literatur tentang etika falsafah Islam sangat minim. Pada saat ini, perkembangan pengetahuan dalam berbagai aspeknya, menuntut kesetaraan peran perempuan dengan laki-laki di berbagai bidang kehidupan. Dalam teori gender melihat telah terjadi ketidakadilan, yang menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai korban dari sistem tersebut. Dalam pandangan falsafah Islam masalah kesetaraan dan ketidakadilan perlu dilacak pada kajian nilai-nilai etis, baik yang bersumber dari al-Qur’an maupun rasional, sehingga dapat diketahui konsep manusia yang utuh dan adil baik perempuan maupun laki-laki.
Menurunkan Konsep Ontologi Mullâ Shadrâ Ke Dalam Filsafat Ketuhanan
Kusen Kusen
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 15 No. 2 (2016): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v15i2.10166
Dalam QS.18:110 terinformasikan bahwa salah satu syarat berjumpa dengan Tuhan ialah tidak melakukan kesyirikan. Dan untuk menjamin tindakan kita masuk katagori syirik atau tidak syirik niscaya berilmu. Dan ontologi Mullâ Shadrâ (Ashâlah Al-Wujûd dan Tasykîk Al-Wujûd) dapat dijadikan landasan merumuskan Tauhid yang lurus, sehingga dengannya dapat diperoleh pengetahuan jaminan syirik dan tidak syirik. Dalam konteks inilah nilai penting menurunkan ontologi Mullâ Shadrâ (Ashâlah Al-Wujûd dan Tasykîk Al-Wujûd) ke dalam Filsafat Ketuhanan, yang dengannya dapat diturunkan konspsi Tauhid.
Penyertaan Mahram Pada Pelaksanaan Haji Dan Umrah
Atiyatul Ulya;
Maulana Maulana
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 15 No. 2 (2016): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v15i2.10167
Umrah carried out by agencies of a travel agency with several provisions issued by the ministry of religion RI. The meaning of mahram that was set by the ministry of religion is include to a mahram pilgrims, mahram referred in family relationship or marriage. This is regulated by the rules of registration of pilgrims and associated with the administration of Hajj and Umrah service. So that they try as much as possible to include a mahram as defined in the shari'ah by including the documents to indicate the mahram validation. They try to make it all based on the documents which corroborate these requirement as evidence of the validity of requirement. The provision as above, would be very detrimental to women those will carry out the pilgrimage, because they will be burdened with additional costs while they did not get the expected benefits. For contextual understanding that participation of mahram can be interpreted as safety. But in pilgrimage, mahram has not been found detailed provisions in the pilgrims discurs. By paying a "mahram money" for women under 40 years old those without mahram in $ 300,000 upto $. 600,000, they will be looked for a Mahram by officer. Although, for the fact or in practice, during Umrah trip, they are not accompanied by a mahram that should accompany during the implementation of Umrah.
Ritualitas Ibadah, Antara Qurbah dan Kurbah Dari Dimensi Spiritual-Dogmatis Sampai Dimensi Sosial-Praktis
Abdul Syukur
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 15 No. 2 (2016): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v15i2.10168
Pemahaman antara berqurban (dengan huruf ‘q’) dan berkurban (dengan huruf ‘k’), bagi kebanyakan lidah masyarakat Indonesia, sering diartikan simpang siur, sehingga tidak jarang makna hakiki dari ibadah itu sendiri lebur begitu saja dengan sangat mudah. Padahal, jika direnungkan lebih mendalam, masing-masing term memiliki karakteristik yang khas. Di dalamnya, meskipun terkadang memiliki tujuan yang sama, yakni sesuatu yang bisa saja berbentuk materi untuk orang lain yang membutuhkan atau kesusahan, baik sebagai korban kezhaliman atau korban bencana alam, namun akan nampak jelas perbedaan pada penghayatan keduanya. Tulisan ini mencoba untuk menjembatani, dan sebisa mungkin akan memberikan penyelesaian terhadap seputar pembahasan kedua terminologi tersebut.
Tak Ada Domba di Kampung Naga: Studi Etnografi Perayaan Idul Adha dan Hajat Sasih di Kampung Naga Tasikmalaya Jawa Barat
Rahman Rahman
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 14 No. 1 (2015): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v14i1.10171
Human beings always try to implement their religious faith invarious rituals as an instrument to be closed to God. One of such rituals is‘Īd al-Aḍḥā (Islamic Great Bairam) conducted by the community KampungNaga.This ritual accomplishment is continued by Hajat Sasih as thanksexpression to their ancestors. However, they more respect their traditionalcustom, Hajat Sasih ritual, rather than Islamic ritual eventhough theyare actually Muslims. For this reason then they do not sacrifice a lamb inthe Great Bairam day (as obliged by the Islamic doctrine), for they claimthat they are poor people, but on the other occasion they do so for theirtraditional ritual such as ngaruwat lembur. This article uses ethno-sciencebelonging to James P. Spradley.
Warisan Islam Lokal untuk Peradaban Islam Nusantara: Kontribusi Penafsiran al-Qur’ān di Tatar Sunda
Jajang A Rohmana
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 14 No. 1 (2015): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v14i1.10172
Kajian ini berusaha memberikan sedikit gambaran tentangkontribusi tafsir lokal di tatar Sunda (Jawa Barat) sebagai warisankhasanah Islam Nusantara. Sedikitnya terdapat tiga hal yang menunjukkankarakter lokal dalam tafsir Sunda: penggunaan tingkatan bahasa (undakusuk basa), ungkapan tradisional dan metafor alam Sunda. Kajian inisangat signifikan tidak saja menegaskan identitas tafsir Sunda yang tidakbisa dipisahkan dari tradisi intelektual Islam Nusantara, tetapi pentingdalam rangka menjelaskan kreatifitas orang Sunda dalam memertemukantradisi tafsir dengan latar bahasa dan budayanya. Kajian ini signifikanuntuk menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak lagi sekedar di permukaansebagaimana diasumsikan Geertz dan Wessing, tetapi sudah merasuk kedalam dan menjadi bagian dari identitas Islam di tatar Sunda. Ekspresilokalitas tafsir Sunda kiranya menjadi bagian dari pengukuhan identitasIslam lokal itu sebagai warisan peradaban Islam Nusantara.
Studi Pesantren dan Filologi: Kontribusi untuk Studi Islam Indonesia Kontemporer
Mahrus Mahrus
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 14 No. 1 (2015): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v14i1.10173
Dalam khazanah studi Islam Indonesia, sedari dulu telahmuncul kajian filologi terhadap naskah-naskah di pesantren. Naskahpesantren tentu saja bagian tak terpisahkan dari khazanah studi IslamIndonesia. Studi tentang pesantren dalam 20 (dua puluh) tahun terakhirnampaknya masih belum menggunakan khazanah tersebut denganpendekatan filologi. Padahal studi pesantren telah diminati tidak hanyaoleh kalangan orientalis, Islamolog-Indonesianis, tapi juga kalangan santriyang menjadi intelektual.Melalui keberadaan naskah kuna di pesantren,dapat pula diungkap geneologi keilmuan ulama di pesantren tersebut.Karena itu tidak mengherankan apabila naskah pesantren dapat menjadianak panah peradaban Islam Nusantara.Dalam batas tertentu, relasipesantren dan kerajaan Islam Nusantara ibarat koin mata uang.
Pesan-Pesan Ideologis Liberalisme pada Akun Twitter @Ulil: Sebuah Analisis Wacana Kritis
Fitria Sis Nariswari
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 14 No. 2 (2015): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/ref.v14i2.10174
Penelitian ini mengaji ideologi liberalisme yang tersirat dalamstatus akun Twitter @Ulil milik Ulil Abshar Abdalla sebagai pendirikelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan menggunakan pendekatananalisis wacana kritis untuk mengetahui pandangan, keberpihakan,pendapat yang pro-kontra dari pengguna Twitter lain, dan ideologi dariakun @Ulil. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metodeanalisis wacana kritis yang diterapkan oleh Norman Fairclough, yangmenitikberatkan deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi teks. Interpretasi dandeskripsi teks dilakukan dengan menggunakan pendekatan makrostrukturTeun A. van Dijk untuk mencari makroproposisi dan makrostruktur setiapstatus dari akun Twitter @Ulil.Hasil penelitian ini memerlihatkan bahwaterdapat ideologi liberalisme yang tersirat di dalam akun Twitter @Ulilyang termanifestasi ke dalam bentuk-bentuk kebahasaan.