cover
Contact Name
Livana PH
Contact Email
jurkep.jiwa@gmail.com
Phone
+6289667888978
Journal Mail Official
jurkep.jiwa@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Nursing and Health Sciences | University of Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang Gedung NRC University of Muhammadiyah Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia
ISSN : 23382090     EISSN : 26558106     DOI : 10.26714/jkj
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Keperawatan Jiwa publishes articles in the scope of mental nursing broadly but is limited, especially in the field of mental nursing in healthy groups, risks, and disorders. Articles must be the result of research, case studies, results of literature studies, scientific concepts, knowledge and technology that are innovative and renewed within the scope of mental nursing science both on a national and international scale.
Articles 819 Documents
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PERAWAT DENGAN PERILAKU CARING Wisnu Tri Anggoro; Qurrotul Aeni; Istioningsih Istioningsih
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 6, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.008 KB) | DOI: 10.26714/jkj.6.2.2018.98-105

Abstract

Perilaku caring perawat penting dalam melakukan asuhan keperawatan, karena perawat  tidak hanya dituntut untuk melakukan skill atau keterampilan dan pengetahuan saja. Perilaku caring perawat kepada pasien berdampak besar bagi layanan rumah sakit karena akan menimbulkan kepuasan pasien. Caring pada dasarnya perilaku perawat yang dipengaruhi oleh karakteristik perawat. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik perawat dengan perilaku caring perawat di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal. Penelitian ini menggunakan desainkorelasional dengan pendekatancross sectional. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan Proportionate Stratified Random Sampling  sebanyak132 perawat di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal. Alat penelitian menggunakan kuesionerkarakteristik danCaring Behavior Investment (CBI) Questionnaire yang dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara umur (pvalue= 0,000), dan masa kerja (pvalue= 0,001) dengan perilaku caring perawat, sedangkan jenis kelamin (pvalue= 0,107), pendidikan (pvalue= 0,055), dan status pernikahan (pvalue= 0,117) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Usia yang lebih dewasa dan semakin lama masa kerja perawat maka semakin baik perilaku caring perawat, sedangkan jenis kelamin, pendidikan, dan status pernikahan tidak membedakan perilaku caring perawat. Peneliti selanjutnya diharapkan mengembangkan faktor internal dan eksternal perawat. Kata kunci: Karakteristik Perawat, Perilaku Caring RELATIONSHIP OF CARE CHARACTERISTICS WITH CARING BEHAVIOR ABSTRACTNurses caring behavior important in nursing care, as nurses are not only required to perform the skill or skills and knowledge alone. The behavior of the nurses caring for patients with major implications for hospital services because it will cause the patient satisfaction. Caring nurse whose behavior is basically influenced by the characteristics of nurses. The purpose of this study to determine the characteristics of the relationship with the nurse caring behaviors of nurses in hospitals Dr. H. Soewondo Kendal. This study uses a correlational design with cross sectional approach. The sample in this study were taken by using Proportionate Stratified Random Sampling 132 nurses at the Hospital Dr. H. Soewondo Kendal. Research tool questionnaire characteristics and Caring Behavior Investment (CBI) Questionnaire were analyzed by univariate and bivariate using chi square test. The results showed no significant relationship between age (pvalue= 0.000), and the work period (pvalue = 0.001) with the nurse caring behaviors, whereas gender (pvalue = 0.107), education (pvalue = 0.055), and marital status (pvalue = 0.117) did not show a significant relationship. The more mature age and the longer the nurse's working period the better the caring behavior of the nurse, while the sex, education, and marital status do not distinguish the caring behavior of the nurse. The researcher is then expected to develop internal and external factors of the nurse. Keywords: Characteristics of Nurses, Caring Behaviors
KESIAPAN DAN PERSEPSI MAHASISWA KEPERAWATAN PADA PROGRAM IPE : STUDI PADA SGD DENGAN LBM JIWA Betie Febriana
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.472 KB) | DOI: 10.26714/jkj.7.1.2019.101-106

Abstract

Pengenalan kolaborasi antar professional kesehatan penting dilakukan sejak dini melalui pendidikan dengan model interprofessional education(IPE). Beberapa studi melaporkan, hal lain yang mempengaruhi kolaborasi tersebut adalah self-efficacy dari mahasiswa. Untuk membentuk self efficacy yang baik diperlukan kajian mengenai kesiapan dan persepsi mahasiswa terkait mePengenalan kolaborasi antar professional kesehatan penting dilakukan sejak dini melalui pendidikan dengan model interprofessional education (IPE). Beberapa studi melaporkan, hal lain yang mempengaruhi kolaborasi tersebut adalah self-efficacy dari mahasiswa. Untuk membentuk self efficacy yang baik diperlukan kajian mengenai kesiapan dan persepsi mahasiswa terkait metode pembelajaran IPE di unissula. Pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis deskriptif non-eksperimental dan rancangan cross sectional. Sampel penelitian adalah 100 mahasiswa menggunakan purposive sample yaitu mahasiswa yang telah mengikuti SGD LBM Jiwa dengan lengkap. Alat ukur menggunakan kuisioner SPICES untuk mengukur persepsi dan RIPLS untuk kesiapan. Analisa univariat menggunakan distribusi frekuensi untuk tingkat persepsi dan kesiapan IPE dengan skala ordinal. Studi ini menemukan bahwa 84% persepsi mahasiswa keperawatan terhadap IPE adalah baik dan mahasiswa 85% berada dalam kondisi siap pada tahap akademik. Baiknya, dilakukan pengukuran dan pembandingan persepsi dan kesiapan antar mahasiswa lintas profesi untuk memformulasikan konsep yang baik demi tercapainya tujuan IPE. Kata kunci: Interprofessional education, persepsi, kesiapan ,small group discussion. EARLY INTRODUCTION OF COLLABORATION BETWEEN HEALTH PROFESSIONALS IS IMPORTANT THING. IT COULD BE DONE  THROUGH INTERPROFESSIONAL EDUCATION (IPE) MODELS ABSTRACTEarly introduction of collaboration between health professionals is important. It could be done through education with interprofessional education (IPE) models. Several studies report, another thing that affects the collaboration is student self-efficacy. To form a good self efficacy,  study of the readiness and perception of students related to the IPE learning method is needed to know before. This researches was Quantitative research approach with descriptive non-experimental type and cross sectional design. The research sample was 100 students using random technique samples, students who had attended the SGD LBM mental health completely. The instrument used the SPICES questionnaire fot perceptions and RIPLS for readiness. Analysis used univariate with frequency distribution for the level of perception and readiness of IPE. This study found that 84% of nursing students' perceptions of IPE were good and 85% students were in a condition ready at the academic stage. It is better to measure and compare perceptions and readiness between cross-professional students to formulate good concepts to achieve the objectives of IPE. Keywords: Interprofessional education, persepsi, kesiapan ,small group discussion.tode pembelajaran IPE di unissula. Pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis deskriptif non-eksperimental dan rancangan cross sectional. Sampel penelitian adalah 100 mahasiswa menggunakan purposive sample yaitu mahasiswa yang telah mengikuti SGD LBM Jiwa dengan lengkap. Alat ukur menggunakan kuisioner SPICES untuk mengukur persepsi dan RIPLS untuk kesiapan. Analisa univariat menggunakan distribusi frekuensi untuk tingkat persepsi dan kesiapan IPE dengan skala ordinal. Studi ini menemukan bahwa 84% persepsi mahasiswa keperawatan terhadap IPE adalah baik dan mahasiswa 85% berada dalam kondisi siap pada tahap akademik. Baiknya, dilakukan pengukuran dan pembandingan persepsi dan kesiapan antar mahasiswa lintas profesi untuk memformulasikan konsep yang baik demi tercapainya tujuan IPE..Kata kunci: Interprofessional Education, persepsi, kesiapan ,Small Group Discussion. ABSTRACTarly introduction of collaboration between health professionals is important thing. it could be done  through interprofessional education (IPE) models.Early introduction of collaboration between health professionals is important. It could be done through education with interprofessional education (IPE) models. Several studies report, another thing that affects the collaboration is student self-efficacy. To form a good self efficacy,  study of the readiness and perception of students related to the IPE learning method is needed to know before. This researches was Quantitative research approach with descriptive non-experimental type and cross sectional design. The research sample was 100 students using random technique samples, students who had attended the SGD LBM mental health completely. The instrument used the SPICES questionnaire fot perceptions and RIPLS for readiness. Analysis used univariate with frequency distribution for the level of perception and readiness of IPE. This study found that 84% of nursing students' perceptions of IPE were good and 85% students were in a condition ready at the academic stage. It is better to measure and compare perceptions and readiness between cross-professional students to formulate good concepts to achieve the objectives of IPE.Keywords: Interprofessional Education, persepsi, kesiapan ,Small Group Discussion.
HUBUNGAN ANTARA PERAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN SKIZOFRENIA Dede Nurjamil; cucu rokayah
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.5.1.2017.53-59

Abstract

ABSTRAKSkizofrenia merupakan suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi,Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia adalah 0,3 - 1 % dan biasanya timbul pada usia 18 sampai 45 tahun. Peran keluarga (family role) yaitu  menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu, Kepatuhan minum obat yaitu taat terhadap peraturan yang berlaku seperti minum obat sesuai dosis dan waktu yang diperintahkan. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan antara peran keluarga dengan kepatuhan minum obat pasien skizofrenia di poliklinik jiwa RSAU dr. M. Salamun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi.Sampel dalam penelitian ini berjumlah 47keluarga pasien.Variabel independen yang di teliti yaitu peran keluarga dan variabel dependen yang diteliti yaitu kepatuhan minum obat. Hasil penelitian menunjukkan pasien yang mempunyai peran  keluarga baik 18 responden (38,3%), peran keluarga cukup sebanyak 17 responden (36,2%), dan yang patuh minum obat sebanyak 36 responden (76,6%). Terdapat hubungan yang signifikan antara peran keluarga dengan kepatuhan minum obat pasien skizofrenia di poliklinik jiwa RSAU dr. M. Salamun  p= 0,003. Saran untuk keluarga adalah lebih peduli terhadap kesehatan keluarganya baik kesehatan secara fisik maupun mental.Bagi pihak rumah sakit harus menampilkan lebih banyak lagi pomosi kesehatan baik dalam bentuk poster, baner dan lainnya. Kata kunci: Kepatuhan minum obat, peran keluarga THE RELATIONSHIP BETWEEN ROLE OF FAMILY AND THE OBEDIENCE OF PATIENTS WITH SCHIZOPHRENIA IN TAKING MEDICINE ABSTRACTSchizophrenia is a persistent and serious brain disease that causes psychotic behavior, concrete thought, difficulty in processing information, interpersonal relationship, and problem solving. The prevalence of people with schizophrenia in Indonesia is 0,3- 1 %, and it commonly emerges at the age of between 18 to 45 years old. The role of family describes a set of interpersonal behaviors, characters, and individuals’ activities related to certain position and situation. This study aims at finding out the relationship between role of family and the obedience of patients with schizophrenia in taking medicine in mental polyclinic of RSAU dr. M. Salamun. This study employed correlated descriptive method. Samples of this study are 47 families of patient. Independent variable studied is the role of family, and dependent variable is the obedience in taking medicine. The results of the study show that patients who have got good role of family are  18 respondents (38,3%), 17 respondents (36,2%) with adequate role of family, and patients who were obedient in taking medicine are 36 respondents (76,6%). There is a significant relationship between the role of family and the obedience of patients with schizophrenia in mental polyclinic of RSAU dr. M. Salamun  by p= 0,003. It is suggested that the family should give more care to its members’ health condition, both physically and mentally. To the hospital, it is suggested that it should provide more health promotions in form of posters, banners, and other media. Keywords: Medication adherence, role of family
PERSEPSI GAY TERHADAP PENYEBAB HOMOSEKSUAL Azhari, Nanang Khosim; Susanti, Herni; Wardani, Ice Yulia
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.788 KB) | DOI: 10.26714/jkj.7.1.2019.1-6

Abstract

Orientasi seksual merupakan perasaan ketertarikan secara seksual dan emosional dengan orang lain. Homoseksual merupakan ketertarikan seksual yang terjadi antara sesama jenis kelamin. Hingga saat ini penyebab terjadinya orientasi seksual ini belum dapat dipastikan secara pasti. Prevalensi homoseksual mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Untuk itu peneliti mencoba menggali penyebab homoseksual dari perspektif pelaku homoseksual sendiri. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah enam orang. Data yang terkumpul diolah dengan analisa tematik dan diperoleh 1 tema yaitu pengalaman masa lalumenjadipenyebabhomoseksual yang terbentuk dari 2 kategori (menjadi korban pelecehan seksual dan kurang interaksi dengan ayah). Penelitian ini merekomendasikan peran aktif kedua orang tua dalam mendidik anak sejak kecil. Kata kunci : Gay, homoseksual, peran ayah, pengalaman trauma, pelecehan seksual GAY PERCEPTIONS TO THE CAUSES OF HOMOSEXUALITY ABSTRACTSexual orientation is a sexual and emotional attraction feeling with others. Homosexuality is sexual attraction that happens to people with the same sex. Until now, this sexual orientation cause has not been confirmed yet. Homosexuality prevalence has increased from year to year. For this reason, the researchers try to explore the causes of homosexuality by the perspective of homosexuals themselves. This research is a qualitative research with a descriptive qualitative approach. There are six participants in this study. The collected data is processed with thematic analysis and one theme is obtained, past experience is a cause of homosexuality that is formed from two categories (being victims of sexual abuse and lack of interaction with father). This research recommends the active role of both parents in educating children from childhood. Keywords: Gay, homosexual, father's role, trauma experience, sexual abuse
HUBUNGAN ANTARA RESPON KOPING DENGAN KECEMASAN MAHASISWA S1 KEPERAWATAN SAAT PERTAMA KALI PRAKTIK DIRUMAH SAKIT Dwi Heppy Rochmawati; Nawangsari Wahyuningtyas Abdussamad
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 5, No 2 (2017): November 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.596 KB) | DOI: 10.26714/jkj.5.2.2017.103-106

Abstract

Praktek klinik memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa dalam mencapai keberhasilan dalam proses pendidikan. Pengalaman klinik yang pertama kali merupakan pengalaman yang paling menyebabkan cemas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara respon koping dengan kecemasan mahasiswa S1 keperawatan pada saat pertama kali praktik dirumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental dengan studi korelasi. Jumlah responden sebanyak 64 orang dengan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil analisa diperoleh bahwa dari sebagian besar responden memiliki berumur 18-19 tahun sebanyak 89,10% dan berjenis kelamin yaitu sebagian besar memiliki jenis kelamin perempuan sebanyak 89.10%. Hasil menunjukan bahwa 51,6 % responden mempunyai  respon koping maladaptif dan 60.9 % responden mempunyai cemas sedang. Tidak ada hubungan antara respon koping dengan kecemasan mahasiswa S1 keperawatan pertama saat kali praktik di rumah sakit p value 0,081 (>0,05) Kata kunci : Kecemasan, Non eksperimental, Purposive sampling   RELATIONSHIP BETWEEN THE RESPONSE WITH THE ANXIETY OF NURSING S1 STUDENTS AT THE FIRST TIME OF HOSPITAL PRACTICES ABSTRACTClinical practice provides learning experiences to students in achieving success in the education process. The first clinical experience was the most worrying experience. The purpose of this study was to determine the relationship between coping responses and the anxiety of nursing undergraduate students at the time of their first practice in the hospital. This research is a non-experimental quantitative study with correlation studies. The number of respondents was 64 people with a purposive sampling technique. Based on the results of the analysis, it was found that from the majority of respondents having an age of 18-19 years as many as 89.10% and having sex, most of them had female sex as much as 89.10%. The results showed that 51.6% of respondents had maladaptive coping responses and 60.9% of respondents had moderate anxiety. There is no relationship between coping responses and the anxiety of the first nursing S1 students when they practice at the hospital p value 0.081 (> 0.05)  Keywords: Anxiety, Non-experimental, Purposive sampling
GAMBARAN HARGA DIRI, CITRA TUBUH, DAN IDEAL DIRI REMAJA PUTRI BERJERAWAT Dian Agustin; Muhammad Khabib Burhanuddin Iqomh; Hendra Adi Prasetya
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 6, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.142 KB) | DOI: 10.26714/jkj.6.1.2018.8-12

Abstract

Jerawat merupakan masalah yang sering dialami remaja karena pada masa remaja terjadi perubahan hormonal. Jerawat akan mempengaruhi harga diri, citra tubuh, ideal diri pada remaja. Salah satu upaya untuk meningkatkan harga diri, citra tubuh, ideal diri terkait dengan munculnya jerawat dengan melakukan perawatan wajah. Desain deskriptif analisis dengan metode cross sectional. Sampel sebanyak 77 siswi dengan caraasidentil sampling. Hasil penelitian diperoleh responden yang melakukan perawatan wajah sebagian besar memiliki harga diri tinggi27 (77,1%), citra tubuh positif 29 responden (82,9%), dan ideal diri positif 27 responden (77,1%). Sedangkan responden yang tidak melakukan perawatan wajah sebagian besar memiliki harga diri rendah 23 (54,8%), citra tubuh positif 23 (54,8%), ideal diri positif dan negatif yang seimbang sebesar 21 (50,0%). Responden yang melakukan perawatan sebagian besar memiliki harga diri tinggi, citra tubuh positif, dan ideal diri positif. Sedangkan responden yang tidak melakukan perawatan sebagian besar memiliki harga diri rendah, citra tubuh positif, dan ideal diri seimbang positif dan negatif. Kata kunci: Citra tubuh, Harga diri, ideal diri, Jerawat DESCRIPTION OF SELF-ESTEEM, BODY IMAGE, SELF IDEAL IN ADOLESCENTS ABSTRACTAcne is a common problem for teenagers becaused in adolescence hormonal changes occur. Acne will affects self-esteem, body image, self ideal in adolescents. One effort to improve self-esteem, body image, self-ideal associated with the appearance of acne by doing facial treatment. Descriptive design analysis with cross sectional method. Sample of  research were 77 female students by asidentil sampling. The result of the research showed the most respondents had high self esteem 27 (77,1%), positive body image 29 respondents (82,9%), and self positive ideal 27 respondents (77,1%). While respondents who did not do facial treatment mostly have low self esteem 23 (54,8%), positive body image 23 (54,8%), balanced positive and negative ideal equal to 21 (50,0%). The most of respondents do  care had high self esteem, positive body image, and positive self ideal. While the most of respondents do not care had low self-esteem, positive body image, and positive self-balanced positive and negative. Keywords: Acne, Body image, Self esteem, self ideal,  
Intervensi keperawatan terhadap self efficacy keluarga pasien skizofrenia Rokhyati, Rokhyati; Dwidiyanti, Meidiana; Sari, Sri Padma
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.375 KB) | DOI: 10.26714/jkj.7.2.2019.199-204

Abstract

Keluarga merupakan orang-orang yang terkena dampak langsung dari anggota keluarga penderita skizofrenia. Keluarga juga pihak yang menderita seperti halnya penderita skizofrenia, bahkan skizofrenia merupakan gangguan yang dapat berlangsung seumur hidup, menjadi beban finansial dan emosional yang berat serta berkepanjangan bagi keluarga. Keluarga menanggung beban stigma yang cenderung melekat kepada keluarga yang mempunyai anggota keluarga penderita skizofrenia. Keluarga dalam merawat penderita skizofrenia membutuhkan self efficacy. Intervensi keperawatan diperlukan untuk meningkatkan self efficacy keluarga, memperkuat strategi koping, mencegah kekambuhan skizofrenia, meningkatkan fungsi keluarga dan menurunkan beban keluarga. Literatur review ini bertujuan mengetahui intervensi- intervensi yang digunakan terhadap self efficacy keluarga dengan skizofrenia. Metode yang digunakan menggunakan review artikel dan Jurnal keperawatan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2018. Hasil berbagai intervensi yang dilakukan menunjukkan perubahan yang bermakna terhadap self efficacy.Simpulan perawat perlu mengetahui berbagai intervensi keperawatan terhadap self efficacy keluarga untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat dan penerimaan terhadap penderita dengan skizofrenia. Saran perlu dikembangkan intervensi keperawatan untuk lebih meningkatkan selft efficacy keluarga antara lain intervensi keperawatan Mindfulness Spiritual Islam. Kata Kunci : intervensi keperawatan, self effycacy, keluarga skizofrenia  NURSING INTERVENTION OF FAMILY SELF EFFICACY SKIZOFRENIA PATIENTS ABSTRACTThe family is an affected parent directly from a family member with schizophrenia. Families also suffer from schizophrenia, even schizophrenia is a disorder that can last a lifetime, a heavy and prolonged financial and emotional burden on the family.Families bear the burden of stigma that tends to cling to families that have family members with schizophrenia.Families in treating schizophrenia need self efficacy. Nursing interventions are needed to improve family self-efficacy, strengthen coping strategies, prevent schizophrenia recurrence, improve family function and reduce family burden. This literature review aims to find out which interventions are used against family self-efficacy with schizophrenia. The method used uses a review of articles and nursing journals from 2007 to 2018. The results of various interventions conducted showed significant changes to self efficacy. Conclusions nurses need to know a variety of nursing interventions to family self efficacy to improve the ability of families to care for and receive patients with schizophrenia. Suggestions need to be developed nursing interventions to further improve the family efficacy, including Islamic Spiritual Mindfulness nursing interventions. Keywords: nursing interventions, self effycacy, schizophrenia family
GAMBARAN PERILAKU ORANG TUA DALAM STIMULASI PADA ANAK YANG MENGALAMI KETERLAMBATAN PERKEMBANGAN USIA 0-6 TAHUN Dwi Haryanti; Khatimul Ashom; Qurrotul Aeni
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 6, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.904 KB) | DOI: 10.26714/jkj.6.2.2018.64-70

Abstract

Perkembangan merupakan suatu perubahan yang tejadi pada anak yang dapat dilihat dari aspek motorik, emosi, kognitif dan psikososial interaksi anak terhadap lingkungan. Perkembangan anak paling pesat pada umur 0-6 tahun biasanyadisebut sebagai masa keemasaan atau the goldenages. Pada masa ini faktor stimulasi menjadi sangat penting dalam suatu perkembangan anak  agar  kemampuan anak terganggu meliputi perkembangan motorik halus, motorik kasar, bahasa dan kemampuan sosial. Tuhuan penelitian untuk mengetahui perilaku orang tua dalam menstimulasi anak usia 0-6 tahun di kecamatan Gringsing. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriftif dengan menggunakan pendekatan metode survey. Tehnik pengembalian sampel menggunakan purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 65 responden. Alat penggumpulan data menggunakan kuesioner perilaku. Penelitian ini didapatkan hasilsebagian besar orang tua memiliki perilaku baik yaitu sebanyak 56 responden (86,2%), sebagian kecil memiliki perilaku cukup yaitu sebanyak 9 responden (13,8%) dan ≥35% responden belum melakukan motorik halus. Orang tua dapat mencari informasi tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-6 tahun dengan jalan sering membaca buku, majalah, membuka internet bertanya kepada tenaga kesehatan, kader Posyandu, teman, atau keluarga untuk meningkatkan stimulasi perkembangan anak usia 0-6 tahun akan meningkat. Kata kunci: Perilaku orangtua , stimulasi  perkembangan anak IDENTIFIEDTHE BEHAVIOR OF PARENTS IN STIMULATING CHILDREN AGED 0-6 YEARS ABSTRACTDevelopment a change that happen in children that can be seen from the motorik, emotional, cognitive and psychosocial aspects of the child's interaction with the environment. The most rapid child development at the age of 0-6 years is usually called  as the golden age or the goldenages. At this time the stimulation factor becomes very important in a child's development so that the ability of children disturbed include the to development of soft motorik, coarse motorik, language and social ability. Objectiveb to identifiedthe behavior of parents in stimulating children aged 0-6 years in Gringsing district. This research descriptive quantitative research by using survey method approach. The technique of returning this sample with that purposive sampling and be found sample of 65 respondents. The instrument to collect data used questionnaire. This research got the result most parents have good behavior that as much 56 respondents 86,2%), some have enough behavior which  9 respondents (13,8%) and ≥35% of respondents have not done fine motor skills. Expected to find information about the stimulation of development of children aged 0-6 years by often reading books, magazines, opening the internet asking health workers, Posyandu cadres, friends, or family so that knowledge of developmental stimulation of children aged 0-6 years will increase. Keywords: Parent behavior, Child development stimulation
Pengaruh restrain terhadap penurunan skore panss EC pada pasien skizofrenia dengan perilaku kekerasan Hastuti, Retno Yuli; Agustina, Nurwulan; Widiyatmoko, Widiyatmoko
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.542 KB) | DOI: 10.26714/jkj.7.2.2019.135-142

Abstract

Kasus perilaku kekerasan di RSJD Dr. RM. Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah  adalah sebanyak 158 orang yang di restrain sebanyak 72 orang dan nilai panss EC adalah gaduh gelisah. Penanganan yang dilakukan adalah dengan menenangkan pasien dan memberikan terapi restrant dengan tepat sesuai SOP selama 24 jam sehingga  menurunkan perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia yang dinilai dengan skor Panns EC. Tujuan penelitian ini  untuk mengetahui Pengaruh Restrain terhadap Penurunan Skor Panss EC pada Pasien Skizofrenia dengan Perilaku Kekerasan di Ruang Edelweis Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. RM. Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah. Desain penelitian ini menggunakan Quasy Eksperimental dengan rancangan One Group Pre Test-Post Test Design, Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien perilaku kekerasan di RSJD dr. RM. Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah sebanyak 158 orang. Teknik sampling yang digunakan concecutive sampling, analisa data paired t-test. Hasil. Karakteristik responden meliputi umur yaitu 26-45 tahun, jenis kelamin adalah laki-laki dan pekerjaan adalah tidak bekerja.  Skor Panss EC pada pasien skizofrenia sebelum dilakukan restrain di yaitu gaduh gelisah dengan mean 21,90. Skor Panss EC pada pasien skizofrenia setelah dilakukan restrain yaitu gelisah dengan mean 19,50 Kesimpulan. Ada Pengaruh Restrain terhadap Penurunan Skor Panss EC pada Pasien Skizofrenia dengan Perilaku Kekerasan dengan nilai p = 0,000 (α<0,05) Kata Kunci : restrain, skizofrenia, skor panss EC, perilaku kekerasan  ABSTRACT Cases of violent behavior in RSJD Dr. RM. Soedjarwadi Central Java province as many as 158 people in restrained as many as 72 people and the value of EC panss is noisy anxiety. The handling is to calm the patient and provide restrant therapy, restrain implementation is done by tying the hands of the patient to sleep for 24 hours to reduce the in schizophrenic patients with violent behavior with eczema score. Aim. To know the effect of Restrain on Impairment of EC Panss Scores in Schizophrenic Patients with Violent Behavior in Edelweis Room Mental Hospital Area Dr. Soedjarwadi Central Java Province. Method. The design of this study using Quasy Experimental with the design of One Group Pre-Test Post Test Design, Population in this study are all patients violent behavior in RSJD dr. RM. Soedjarwadi Central Java Province as many as 158 people. Sampling technique used concecutive sampling, paired t-test data analysis. Results. Characteristics of respondents include age ie 26-45 years, gender is male and job is not working. Panss EC score in schizophrenic patients before restrained in Edelweis Room Mental Hospital Area Dr. Soedjarwadi Central Java Province is anxious with a mean of 21.90. Panss EC score in schizophrenic patients after restrained is anxious with the mean of 19.50. Conclusion. There is a Restrain Effect on Decreasing Panss EC Scores in Schizophrenic Patients with Violent Behavior with p value = 0,000 (α <0,05) Keywords: restrain, schizophrenia, EC panss score, violent behavior
GAMBARAN TINGKAT STRES KELUARGA LANSIA Mohammad Fatkhul Mubin; Livana PH; Azizah Rahma Mahmudah
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 6, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.788 KB) | DOI: 10.26714/jkj.6.2.2018.128-133

Abstract

Semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah lansia terus meningkat dari tahun ketahun. Begitu juga dengan jumlah lansia diseluruh indonesia juga mengalami peningkatan tiap decade. Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang terkait dalam perkawinan, hubungan darah, adopsi dan tinggal dalam satu rumah. Adanya kejadian-kejadian yang signifikan seperti anggota keluarga yang mempunyai lansia dalam satu rumah menciptakan kondisi stres bagi keluarga yang merawatnya sehingga menjadi tuntutan yang memaksa keluarga untuk dapat beradaptasi terhadap adanya berubahan dalam segi membagi waktu untuk merawat lansia tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat stres pada keluarga yang mempunyai lansia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, total sampel 55 responden. Penelitian dilakukan di Desa Mororejo kec. Kaliwungu menggunakan kuesioner Weber State Sniversity dan dianalisis dengan metode deskriptif presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga mengalami tingkat stres sedang sebanyak 37 responden (67.27%) sedangkan tingkat stres berat sebanyak 8 responden (14.55%) dan tingkat stres ringan sebanyak 10 responden (18.18). Penelitian ini diharapkan keluarga dan lansia untuk lebih memaksimalkan peran sertanya didalam memberikan dukungan kepada keluarga dan lansia guna mengurangi tingkat stres keluarga yang pada akhirnya dapat tercipta kehidupan mental yang lebih sehat baik bagi keluarga maupun lansia dan Sebagai tolak ukur keluarga dalam meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan dalam memberi perawatan aktivitas kehidupan sehari-hari. Kata kunci : Tingkat Stres, Keluarga. DESCRIPTION OF THE ELDERLY FAMILY STRESS LEVEL ABSTRACTThe family is the unity of the people involved in the marriage, blood relationship, adoption and living in one house. The presence of significant events such as family members who have elderly in a home creates stres for families who care for them so that the demands are forcing the family to be able to adapt to the berubahan in terms of allocating their time to care for the elderly. This study aims to describe the level of stress in families with elderly. This study used a descriptive exploratory method, the total sample of 55 respondents. The study was carried out in the village of Mororejo Kec. Kaliwungu used the Weber State Sniversity questionnaire and analyzed it using descriptive percentage method. The results showed that most families experienced moderate stress levels as much as 37 respondents (67.27%) while severe stress levels were 8 respondents (14.55%) and mild stress levels as many as 10 respondents (18.18). This research is expected that families and elderly people to maximize their participation in providing support to families and the elderly to reduce the level of family stress which ultimately can create a healthier mental life for both families and the elderly and as a family benchmark in increasing knowledge and skills in giving daily life care activities. Keywords: Tinhkat Stress, Family

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): Agustus 2025 Vol 13, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 12, No 4 (2024): November 2024 Vol 12, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 12, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 12, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 11, No 4 (2023): November 2023 Vol 11, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 11, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 11, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 10, No 4 (2022): November 2022 Vol 10, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 10, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 10, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 9, No 4 (2021): November 2021 Vol 9, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 9, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 9, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 8, No 4 (2020): November 2020 Vol 8, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 7, No 3 (2019): November 2019 Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019 Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019 Vol 6, No 2 (2018): November 2018 Vol 6, No 2 (2018): November 2018 Vol 6, No 1 (2018): Mei 2018 Vol 6, No 1 (2018): Mei 2018 Vol 5, No 2 (2017): November 2017 Vol 5, No 2 (2017): November 2017 Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017 Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei 2016 Vol 3, No 2 (2015): November 2015 Vol 3, No 2 (2015): November 2015 Vol 3, No 1 (2015): Mei 2015 Vol 3, No 1 (2015): Mei 2015 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan Jiwa More Issue