cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
HUBUNGAN ANTARA SKOR APACHE II, SOFA, EWS TERHADAP KEJADIAN PROLONGED MECHANICAL VENTILATOR DI ICU RSUP H. ADAM MALIK MEDAN T. Abdurrahman Johan; Tasrif Hamdi; Rr. Sinta Irina
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n1.3676

Abstract

Pasien yang dirawat di ICU sekitar 30−60% membutuhkan ventilasi mekanik. Penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa 3−7% pasien dengan ventilasi mekanis memerlukan prolonged mechanical ventilator (PMV). Prevalensi individu yang membutuhkan ventilator assisted individuals (VAI) berkisar 6,6 hingga 23 per 100.000 pasien. Individu dengan VAI meningkat mengindikasikan peningkatan kebutuhan ventilasi mekanik yang lama/prolonged mechanical ventilation (PMV) dan prognosis yang lebih buruk. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis apakah penilaian skor APACHE II, SOFA, dan NEWS memiliki hubungan dengan penggunaan ventilator mekanik yang memanjang selama Januari–Desember 2022 di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Desain penelitian ini menggunakan uji analitik retrospektif dengan rancangan cohort. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dipilih dengan metode total sampling. Jumlah sampel 96 pasien yang dinilai skor APACHE, SOFA, NEWS, dan apakah pasien mengalami PMV. Hasil penelitian ini pasien dengan PMV didapatkan skor APACHE dengan nilai median 18, pada skor SOFA 7 dan pada skor NEWS 12, dengan nilai p=0,001 pada ketiga penilaian ditemukan hubungan yang signifikan. Simpulan penelitian ini didapatkan hubungan skor APACHE II, SOFA, dan NEWS dengan kejadian PMV.
PERBANDINGAN EFIKASI MGSO4 DENGAN KETAMIN SEBAGAI ADJUVAN MULTIMODAL ANALGESIA PASKA OPERASI SEKSIO SESARIA Eka Setia Miharja; Mhd Ihsan; Dadik Wahyu Wijaya; Yuki Yunanda
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3652

Abstract

Nyeri perut pascaseksio sesaria tampaknya menjadi masalah yang signifikan, namun cukup bervariasi, berbagai modalitas analgesia diketahui dapat digunakan sebagai analgesia pascaoperasi. Salah satunya adalah ketamin dan magnesium sulfat yang sering digunakan sebagai tambahan untuk analgesik pascaoperasi. Penelitian ini merupakan studi randomized control trial (RCT) dilakukan selama Agustus–September 2023. Sampel merupakan pasien hamil yang akan menjalani pembedahan seksio sesaria dalam anetesi spinal. Penelitian dibagi menjadi 3 kelompok, MgSO4, ketamin, dan kontrol. Pada periode pascaoperasi, kelompok MgSO4 diberikan infus MgSO4 20 mg/kg/jam, kelompok ketamin menerima infus ketamine 0,2 mg/kg/jam selama 12 jam. Lalu, dilakukan penilaian skala nyeri pascaoperasi Penelitian terdiri dari 30 sampel, yaitu 10 sampel setiap kelompok. Berdasarkan skala nyeri istirahat dan aktivitas didapatkan perbedaan bermakna secara statistik pada pemantauan jam ke-12 dan jam ke-24, p<0,05. Sementara pada perubahan hemodinamik selama pemantauan tidak didapatkan perbedaan bermakna pada perubahan MAP dan detak jantung pada seluruh waktu pemantauan, p>0,05. Didapatkan 2 kejadian sedasi pada perlakuan ketamin dan 8 sampel memerlukan rescue opioid. Terdapat perbedaan efikasi ketamin dibanding dengan magnesium sulfat sebagai adjuvan analgesia pascaoperasi. Ketamin memberikan efek analgesia yang lebih baik dibanding dengan magnesium sulfat. 
Diagnosis dan Tatalaksana Ensefalitis Autoimun Antibodi Negatif Dewi Ramadani Hosen; Osmond Muftilov Pison
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n2.3765

Abstract

Ensefalitis autoimun merupakan penyebab utama ensefalitis non-infeksi. Kasus ensefalitis autoimun antibodi-negatif yang dicurigai secara klinis sulit dikonfirmasi. Pada kasus ini dihadapkan pasien laki-laki 27 tahun dirawat dengan demam, penurunan kesadaran, kejang. dan perubahan perilaku sejak 1 bulan yang lalu. Gambaran EEG menunjukkan gelombang epileptiform. Pemeriksaan LCS tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Pencitraan CT-Scan tidak menunjukkan gambaran khas ensefalitis. Pemeriksaan imunologis IgG dan IgM HSV non-reaktif. Pemeriksaan anti-NMDAR didapatkan hasil negatif. Pasien dirawat di ICU dengan ventilasi mekanik, disertai pemberian midazolam dan levitiracetam sebagai sedasi dan pengontrol kejang. Acyclovir diberikan sesuai pedoman tatalaksana ensefalitis selama 10 hari namun tidak menunjukkan perbaikan klinis. Setelah pemberian kortikosteroid, pasien tidak menunjukkan perbaikan neurologis. Pengobatan dilanjutkan dengan rituximab setiap minggu selama 2 minggu. Pada pemberian minggu pertama pasien menunjukkan perbaikan status neurologis dengan pemulihan derajat kesadaran. Laporan kasus ini mempertimbangkan penegakan diagnosis ensefalitis autoimun antibodi-negatif berdasarkan tanda klinis dan setelah menyingkirkan kemungkinan etiologi lain. Rituximab memainkan peran penting dalam mengendalikan efek merugikan dari ensefalitis autoimun. Di samping itu, ensefalitis autoimun mungkin memerlukan tindak lanjut rutin untuk mengevaluasi adanya gejala atau penyakit lain yang dapat mengubah strategi tatalaksana.
Lama Penggunaan Ventilator, ICU-LOS dan Mortalitas Pasien Ventilated Hospital Acquired Pneumonia dan Ventilated Community Acquired Pneumonia di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Periode Januari–Desember 2021 Sugianto Parulian Simanjuntak; Erwin Pradian; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n1.3551

Abstract

Ventilated hospital-acquired pneumonia (V-HAP) dan ventilated community-acquired pneumonia (V-CAP) merupakan subtipe klinis penyakit hospital-acquired pneumonia dan community-acquired pneumonia yang ditatalaksana dengan ventilasi mekanik di ICU. Penelitian yang mengeksplorasi karakteristik umum dan luaran kedua kategori pasien tersebut masih sangat terbatas. Penelitian observasional retrospektif ini menganalisis rekam medis pasien V-HAP dan V-CAP berusia 18 tahun ke atas yang dirawat di GICU Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin, Bandung antara Januari–Desember 2021. Terdapat 23 pasien V-HAP dan 21 pasien V-CAP. Ditemukan bahwa pasien V-HAP lebih lama menggunakan ventilator (rerata: 16,33±9,88 hari) dibanding dengan V-CAP (rerata: 8,25±4,92 hari). Pasien V-HAP juga lebih lama dirawat di ICU (rerata ICU-LOS: 19,33±13,42 hari) dibanding dengan V-CAP (rerata ICU LOS: 9±4,74 hari). Mortalitas yang tinggi pada kelompok V-HAP (87%) dan V-CAP (81%) dipengaruhi oleh komorbiditas dan kondisi dasar pasien. Pada biakan sputum juga ditemukan lebih banyak kuman gram negatif yang didominasi multi drug resistant organism (MDRO), yaitu sebanyak 93% pada V-HAP dan 78% pada V-CAP. Pasien V-HAP di ICU memiliki durasi penggunaan ventilator dan perawatan ICU yang lebih lama serta tingkat mortalitas yang tinggi dibanding dengan pasien V-CAP dan dengan prevalensi kuman gram negatif resisten obat yang lebih dominan.
Pengaruh Pemberian Aminophylline pada Pasien dengan Difficult Weaning Ventilator Mekanik Paksa Evanterasi Diafragma Franz Josef Tarigan; Erwin Pradian
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3370

Abstract

Penggunaan ventilasi mekanik dapat mengakibatkan kelemahan diafragma yang didiagnosis sebagai ventilator induced diaphragmatic injury (VIDD) yang dapat terjadi mulai 72 jam pascapenggunaan ventilator mekanik. Aminofilin, derivat teofilin diketahui dapat meningkatkan rangsangan nervus phrenicus dan kontraktilitas diafragma pada kasus kelemahan diafragma akibat penggunaan ventilator mekanik. Laporan kasus ini membahas pemberian terapi aminofilin pada pasien dengan kesulitan penyapihan ventilator mekanik pascaevanterasio diafragma, dengan komorbiditas ventilator associated pneumonia (VAP) selama rawatan. Aminofilin diberikan dengan dosis 6 mg/kgBB selama lima hari. Evaluasi dilakukan dengan menilai tidal volume, pressure support, dan keberhasilan spontaneous breathing trial. Pada pasien didapatkanpeningkatan tidal volume dengan penurunan kebutuhan pressure support (PS) signifikan pada hari pertama dan kedua pemberian terapi. Penurunan PS dari 12 menjadi 9 mmHg pada hari pertama, dan 6 mmHg pada hari kedua. Pasien dapat dilakukan spontaneous breathing trial (SBT) pada hari ketiga, dan penyapihan ventilator mekanik berhasil dilakukan. Kami menyimpulkan bahwa pemberian aminofilin bermanfaat dalam membantu penyapihan ventilator mekanik pada pasien dengan kesulitan penyapihan. 
Korelasi Nilai Platelets to Lymphocyte Ratio Dengan Length of Stay ICU Pada Pasien Sepsis Erlina Ana Sepra Liber Sigai; Suwarman Suwarman; Ricky Aditya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n2.3741

Abstract

Sepsis merupakan kondisi mengancam jiwa yang ditandai adanya disfungsi organ yang disebabkan oleh disregulasi respons imun terhadap infeksi. Pada sepsis dapat terjadi respons inflamasi yang tidak terkendali atau imunosupresi. Trombosit dan limfosit memainkan peran penting dalam proses imun dan rasionya dapat menggambarkan derajat keparahan pasien sepsis. Perawatan pasien sepsis di ICU seringkali membutuhkan waktu yang lama, tergantung pada keparahan penyakit dan topangan organ yang dibutuhkan pasien. Berdasarkan hal tersebut kami mencoba mengevaluasi korelasi nilai Platelets to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan lama rawat ICU pada pasien sepsis di ICU. Penelitian ini merupakan studi observasional kuantitatif retrospekstif pada pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari-Desember 2022. Uji Pearson digunakan untuk menganalisis korelasi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien sepsis di ICU. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mendapatkan persamaan prediksi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien di ICU. Sebanyak 102 data rekam medis pasien sepsis diamati dalam penelitian ini. Dari analisis statistik nilai PLR terhadap lama rawat ICU diperoleh r=0,611 (p≤0,001). Dari regresi linear sederhana didapatkan prediksi lama rawat ICU=(0,11xnilai PLR)–7,96 hari. Berdasarkan penelitian ini, terdapat korelasi positif antara nilai PLR dan lama rawat pasien sepsis di ICU.
CORRELATION OF PAIN AND AGITATION IN INTUBATED PATIENTS IN HAJI ADAM MALIK GENERAL HOSPITAL ICU Muhammad Syakur; Tasrif Hamdi; Andriamuri Primaputra Lubis
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n1.3702

Abstract

Agitasi umum terjadi pada pasien ICU dan dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti lingkungan baru, paparan obat, kondisi medis, dan kondisi kesehatan mental. Nyeri juga banyak dialami oleh pasien yang diintubasi di ICU yang menerima perawatan medis seperti suctioning ETT, pemasangan kateter urin, nasogastrik, dan tindakan perawatan pasien rutin sehari-hari dapat memperburuk agitasi. Dalam perawatan ICU, penting mempertimbangkan hubungan antara agitasi, nyeri, delirium, dan faktor-faktor lain untuk mengelola dan mengatasi kondisi pasien secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara nyeri menggunakan critical-care pain observation tool (CPOT) dan agitasi menggunakan RASS pada pasien intubasi di ICU Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan studi cross sectional menggunakan skala CPOT dan Richmond agitation sedation scale (RASS) sebagai alat ukur selama periode Oktober 2023. Didapatkan perbedaan yang signifikan antara pengukuran pagi dan malam di semua penilaian hemodinamik. Diketahui ada korelasi positif yang signifikan antara CPOT dan RASS pada pagi hari dengan tingkat korelasi sedang dan arah korelasi positif. Perbedaan nilai CPOT pagi dan RASS pagi dengan sore hari signifikan secara statistik. Simpulan, didapatkan korelasi antara nyeri dan agitasi pada pasien yang diintubasi di ICU RSUP Adam Malik dengan tingkat korelasi sedang. CPOT dianggap memiliki manfaat untuk digunakan di ICU.
Pengaruh Remifentanil Vs Fentanyl Terhadap Hemodinamik dan Kadar Kortisol Pada Pasien Dengan Ventilasi Mekanis Di Ruang Rawat Intensif Nadia Fitrianti; Faisal Muchtar; Hisbullah Hisbullah; Andi Salahuddin; Ratnawati Ratnawati; Ari Santri Palinrungi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3686

Abstract

Nyeri pascaventilasi mekanik membutuhkan analgosedasi untuk tata laksana nyeri, namun belum ada rekomendasi pasti penggunaan opioid dan perubahan fisiologis spesifik berdampak langsung pada farmakologi obat yang menyebabkan perbedaan respons antarpasien. Penelitian eksperimental secara double blind randomized control trial (RCT) pada 32 pasien dengan status fisik ASA I–II, usia 18–70 tahun, terventilator dengan durasi 24 jam pascaoperasi tiroid di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Juni–Agustus 2023. Pasien dibagi dalam kelompok analgosedasia remifentanil dan kelompok analgosedasia Fentanil. Respons hemodinamik, dan kadar kortisol dicatat dan dilakukan uji statistik dengan student t-test dan chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok remifentanil menunjukkan perubahan tekanan darah sistole, diastole, rerata tekanan arteri serta denyut jantung yang lebih stabil daripada fentanil. Penggunaan fentanil menunjukkan penurunan kadar kortisol dalam 24 jam yang lebih tinggi daripada penggunaan remifentanil (p<0,05), tetapi kadar kortisol serum dalam 24 jam lebih rendah pada kelompok remifentanil dibanding dengan kelompok fentanil. Simpulan, remifentanil lebih mempertahankan stabilitas hemodinamik dan memberikan kadar kortisol serum yang lebih rendah pada pasien yang terventilasi mekanik. 
Pengaruh Blok Peritonsiler Levobupivacaine Isobarik 0,125% Terhadap Intensitas Nyeri Dan Kadar Interleukin 6 Pada Pascabedah Tonsilektomi Herman Mangasi Silaban; Ari Santri Palinrungi; Muh. Ramli Ahmad; Syamsul Hilal Salam; Alamsyah Ambo Ala Husain; Charles Wijaya Tan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n2.3866

Abstract

Nyeri pascatonsilektomi memengaruhi banyak aspek pada pasien. Intensitas nyeri berhubungan dengan kadar interleukin (IL)-6 yang meningkat pada proses inflamasi. Levobupivakain merupakan anestesi lokal potensi tinggi dengan durasi kerja panjang dan onset kerja relatif lambat. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh blok peritonsiler levobupivakain isobarik terhadap intensitas nyeri dan kadar interleukin 6 pascatonsilektomi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan di Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin dan Rumah Sakit jejaring pendidikan pada bulan Desember 2023–Januari 2024. Pasien dibagi secara acak dalam dua kelompok yaitu kelompok intervensi (diberikan levobupivakain isobarik pascabedah) dan kontrol. Intensitas nyeri, jumlah opioid, dan efek samping pada 4, 8, 12, 24 jam pascabedah dievaluasi. Pemeriksaan IL-6 dilakukan sebelum pembedahan dan 12 jam pascabedah. Total 30 pasien diikutkan dengan 15 pasien pada tiap kelompok. Intensitas nyeri pascabedah pada kelompok kontrol lebih tinggi secara signifikan dibanding dengan kelompok intervensi pada 2, 4, 6, hingga 8 jam pascabedah (P<0,05). Perubahan kadar IL-6 pascabedah juga berbeda secara signifikan (p=0,033) dengan kelompok kontrol (74,56±33,79) mengalami kenaikan lebih tinggi dibanding dengan kelompok intervensi (44,67±45,44). Simpulan didapatkan bahwa levobupivakain isobarik dapat menurunkan intensitas nyeri dan kadar IL-6 pascatonsilektomi. 
Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Bedah Anak pada Persiapan Perioperatif di RSD dr. Soebandi Jember Supangat Supangat; Elly Nurus Sakinah; Muhammad Yuda Nugraha; Achmad Haykal Baswedan; Prisma Atha Haritsah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n1.3126

Abstract

Pasien yang akan menjalani tindakan pembedahan umumnya akan mengalami cemas, khususnya pasien anak. Kecemasan yang dirasakan dapat berhubungan dengan prosedur pembedahan maupun anestesi yang akan dilakukan. Kecemasan yang terjadi akan berdampak pada proses penyembuhan luka pascaoperasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pengalaman operasi dapat memengaruhi tingkat kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran tingkat kecemasan pasien yang akan mengalami prosedur pembedahan dan dikaitkan dengan usia pasien. Desain penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional pada bulan September–Oktober 2022 di RSD dr. Soebandi Jember pada pasien anak berusia 1–18 tahun yang akan menjalani operasi. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner Modified Yale Preoperative Anxiety Scale sebagai alat ukur tingkat kecemasan pasien. Selanjutnya, tingkat kecemasan dianalisis berdasarkan data demografi pasien. Pada penelitian ini didapatkan data responden sebanyak 48 pasien. Hasil penelitian terdapat 48% pasien mengalami kecemasan. Tingkat kecemasan pasien ini berhubungan dengan usia (p=0,000). Sebagian besar pasien yang mengalami kecemasan usia kurang dari 10 tahun. Simpulan, tingkat kecemasan berhubungan dengan usia terutama usia <10 tahun.