cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Laporan Kasus: Manajemen Anestesi Operasi Caesar pada Wanita Usia 30 Tahun dengan Preeklampsia Berat dengan Hipertensi Pulmonal Probabilitas Tinggi Hermawan, Andi; Kurniawan, Adi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n.23869

Abstract

Ibu hamil dengan hipertensi pulmonal (HP) memiliki peningkatan risiko yang signifikan untuk dapat mengalami ketidakstabilan hemodinamik, gagal jantung, sepsis pascaoperasi, dan gagal napas. Kehamilan pada ibu dengan hipertensi pulmonal merupakan kehamilan risiko tinggi sehingga diperlukan perencanaan yang baik dan pendekatan tim multidisiplin. Kehamilan dengan hipertensi pulmonal memerlukan manajemen anestesi yang tepat untuk mencapai hasil klinis ibu dan janin yang optimal. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi yang telah dilakukan pada wanita multigravida berusia 30 tahun dengan preeklampsia berat dan kemungkinan besar menderita HP. Teknik yang digunakan dengan anestesi epidural total. Operasi berlangsung selama 2 jam dan pendarahan sebanyak 250 m. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU. Di ICU, keadaan pasien memburuk sehingga dilakukan intubasi dan ventilasi terkontrol. Pasien mengalami serangan jantung dan diresusitasi. Pasien meninggal 3 jam setelah masuk ICU. Hal yang perlu diwaspadai dalam penanganan pasien hipertensi pulmonal adalah pemantauan intensif pascaoperasi untuk memantau dan mengantisipasi terjadinya krisis hipertensi pulmonal yang dapat menyebabkan kematian. 
KORELASI ANTARA DOPPLER-BASED RENAL RESISTIVE INDEX DAN NILAI KREATININ PADA PASIEN SAKIT KRITIS Tanto, Dedi; Pradian, Erwin; Erlangga, Erias
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n3.3779

Abstract

Indeks resistriksi renal/renal resistive index (RRI) merupakan pemeriksaan ultrasonografi non invasif untuk menilai renovascular dan dapat dilakukan dengan prinsip point-of-care testing (POCT) RRI merefleksikan perubahan aliran darah arteri intrarenalis, yang dapat terganggu pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, yang tercermin dalam peningkatan nilai kreatinin serum. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain potong lintang, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara RRI dan nilai kreatinin serum pada pasien sakit kritis di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, dari Mei hingga Agustus 2023. Sebanyak 51 pasien berusia 18–65 tahun menjalani pemeriksaan RRI dan kreatinin serum pada 24 jam pertama dan kedua setelah masuk ICU. Analisis korelasi menunjukkan nilai R sebesar 0,538, koefisien determinasi (r²) sebesar 0,298, dan nilai p<0,001. Hasil ini menunjukkan korelasi positif moderat antara RRI dan nilai kreatinin serum.
Uji Kesesuaian Pengukuran Berat Badan antara Metode Lorenz dan Metode Modifikasi PAWPER-XL MAC dengan Tempat Tidur Bertimbangan Khusus Pamugar, Bramantyo; Suwarman, Suwarman; Rismawan, Budiana
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n3.3826

Abstract

Berat badan aktual sangat penting di Intensive Care Unit (ICU). Baku standar penilaian berat badan aktual adalah timbangan khusus, namun timbangan ini tidak banyak tersedia di ICU. Alternatif lain untuk estimasi berat badan aktual dapat menggunakan metode antropometrik. Penelitian ini merupakan uji kesesuaian antara estimasi berat badan aktual menggunakan metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan berat badan aktual menggunakan timbangan khusus baku standar. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan potong lintang pada 83 pasien ICU rumah sakit Hasan Sadikin Bandung antara Agustus hingga November 2023. Uji kesesuaian menggunakan: uji t, P10, P20, mean percentage error (MPE), dan limit of agreement (LOA). Pasien metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan rerata perawatan 2,00±1,704 dan rerata balans kumulatif 126,99±1483,62, didapatkan nilai p adalah 0,646 dan 0,717 secara berurutan, nilai P10 adalah 84,3% dan 71,1% secara berurutan, nilai P20 adalah 98,8% dan 95,2% secara berurutan, nilai MPE adalah 0,361 dan 0,463 secara berurutan, nilai LOA adalah -14,75 s/d 15,53 dan -18,12 s/d 19,04 secara berurutan. Semua berada dalam rentang yang direkomendasikan. Pengukuran estimasi berat badan aktual metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC sesuai dengan pengukuran berat badan aktual dengan tempat tidur bertimbangan khusus pada pasien-pasien ICU.
Perbandingan Antara Kombinasi Ibuprofen dan Parasetamol dengan Ketorolak dan Parasetamol Intravena Terhadap Derajat Nyeri dan Rasio Neutrofil Limfosit Pasca-Functional Endoscopic Sinus Surgery Rahim, Muh. Rezah; Musba, A. M. Takdir; Palinrungi, Ari Santri; Ahmad, Muh. Ramli; Muhadi, Ratnawati; Rum, Muhammad
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n3.3889

Abstract

Functional endoscopic sinus surgery (FESS) adalah metode gold-standard pada manajemen rinosinusitis kronik. Prosedur ini tetap menimbulkan rasa nyeri pascaoperasi, walaupun tindakan bersifat minimal invasif. Parasetamol yang dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dapat digunakan untuk analgesik pascaoperasi. Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai faktor prognostik adalah nilai rasio neutrofil limfosit (RNL). Penelitian ini mengamati penggunaan analgesia multimodal pada nyeri pascaoperasi serta apakah terdapat hubungan dengan RNL yang dilakukan di RSUlP Wahidin Suldirohulsodo dan rumah sakit jejaring antara bulan Agustus 2023 hingga Februari 2024. Desain penelitian adalah uji acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok P1 (pemberian kombinasi parasetamol dan ibuprofen intravena [IV]) dengan kelompok P2 (kombinasi parasetamol dan ketorolak IV) pascaoperasi FESS. RNL dihitung perioperatif, jam ke-6 dan ke-24 pascaoperasi. Penilaian derajat nyeri dilakukan pada 6 jam, 12 jam, 24 jam dan 48 jam pascaoperasi. Total didapatkan 40 pasien yang dibagi ke dua kelompok. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada derajat nyeri antar kelompok (p>0,05) dan juga RNL (p>0,05). Kombinasi parasetamol baik dengan ibuprofen maupun ketorolak dapat menjadi pilihan sebagai multimodal analgesia pascaoperasi.
PERBANDINGAN TEKNIK PEMASANGAN PIPA NASOGASTRIK ANTARA MANUVER REVERSE SELLICK DENGAN MANUVER FLEKSI LEHER TERHADAP ANGKA KEBERHASILAN DAN DURASI WAKTU PEMASANGAN PADA PASIEN TERINTUBASI DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG Nasution, Muhammad Habibi; Budipratama, Dhany; T. Maskoen, Tinni
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n3.3838

Abstract

Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) penting dilakukan pada beberapa pembedahan dan pada pasien di ruang rawat intensif (ICU). Pemasangan NGT menjadi sulit pada pasien terintubasi dan paling sering tertahan pada sinus priformis, kartilago aritenoid, dan esofagus yang tertekan oleh balon ETT. Manuver reverse Sellick merupakan teknik yang dilakukan dengan cara menggenggam kartilago krikoid lalu diangkat ke arah anterior dan manuver fleksi leher merupakan suatu cara menekukkan leher pasien semaksimal mungkin pada saat memasang NGT. Penelitian ini menggunakan metode prospektif analitik komparatif eksperimental dengan rancangan randomized clinical trial single blind study. Penelitian telah dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) terhadap 94 subjek. Analisis statistik data kategorik menggunakan Uji Chi Square dan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov smirnov. Hasil uji statistik perbandingan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 85,1% dan 74,5% dengan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Durasi pemasangan NGT pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 13,499±1,571 detik dan 20,5,06±3,051 detik dengan perbedaan signifikan (p<0,05; Tabel 2). Simpulan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse Sellick memiliki angka keberhasilan yang tidak berbeda signifikan dibanding dengan kelompok manuver fleksi leher. Durasi pemasangan dari kelompok manuver reverse Sellick lebih singkat dibanding dengan kelompok manuver fleksi leher.
Perbandingan Apgar Score pada Menit Pertama antara Sectio Caesarea Metode Konvensional dengan Enhanced Recovery After Caesarean Surgery di RS Bina Sehat Jember Safitri, Athiyah Naura; Efendi, Erfan; Rumastika, Nindya Shinta; Shodikin, Muhammad Ali; Parti, Dita Diana
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.3743

Abstract

Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) merupakan metode seksio sesaria yang menggunakan pendekatan multimodal untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan ibu sebelum, selama, dan setelah pembedahan dengan tujuan mempercepat pemulihan pascapersalinan. Metode ERACS terbukti memberikan manfaat klinis bagi ibu, namun penelitian mengenai dampaknya terhadap kondisi bayi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan skor Apgar bayi antara prosedur seksio sesaria konvensional dan ERACS. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan menggunakan data rekam medis di Rumah Sakit Bina Sehat Jember periode September 2022–Agustus 2023. Total terdapat 92 sampel, terdiri atas 46 bayi yang lahir melalui seksio sesaria konvensional dan 46 bayi yang lahir dengan metode ERACS. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk menilai perbedaan skor Apgar antara kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76 bayi memiliki skor Apgar baik, 16 bayi memiliki skor Apgar sedang, dan tidak terdapat bayi dengan skor Apgar rendah. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara skor Apgar bayi pada kelompok seksio sesaria konvensional dan ERACS (p=0,099).
Manajemen Anestesi pada Pasien Achondroplasia dan Osteogenesis Imperfecta Purwoko, Purwoko; Ihsaniar, Aura; Cinkalasari, Bunga Ayu
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.3374

Abstract

Osteogenesis Imperfecta (OI) merupakan bentuk displasia skeletal yang jarang ditemukan, diturunkan secara autosomal dominan, dan ditandai oleh gangguan osifikasi endokondral yang menyebabkan perawakan pendek, penurunan massa tulang, serta kerapuhan tulang. Dari sudut pandang anestesi, pasien dengan OI menghadirkan tantangan yang signifikan, terutama pada manajemen jalan napas. Kelainan kraniofasial seperti hipoplasia midface, makroglosia, dan keterbatasan ekstensi tulang servikal sering menyulitkan laringoskopi langsung serta menghambat visualisasi glotis. Kondisi ini meningkatkan risiko kesulitan intubasi dan komplikasi perioperatif. Pemberian anestesi umum yang cermat dengan ventilasi terkontrol, pemantauan invasif, serta persiapan menyeluruh terhadap kondisi darurat sangat penting untuk menjaga stabilitas hemodinamik dan oksigenasi, sehingga keselamatan pasien dapat dipertahankan. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi pada pasien dengan osteogenesis imperfecta serta strategi yang digunakan untuk menghadapi tantangan tersebut.
Perbandingan Capaian Kedalaman Anestesi dengan Konduksi Ketamin dan Fentanyl pada Anestesi Umum di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Burhanuddin, Burhanuddin; Jasa, Zafrullah Khany; Rahmi, Rahmi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.4457

Abstract

Kedalaman anestesi yang memadai untuk mencegah komplikasi intraoperatif, termasuk intraoperative awareness. Ketamin dan merupakan obat koinduksi yang umum digunakan, namun keduanya memiliki profil hemodinamik dan efek terhadap kedalaman anestesi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek koinduksi ketamin dan fentanil terhadap kedalaman anestesi dan stabilitas hemodinamik menggunakan bispectral index score (BIS). Penelitian merupakan uji klinis acak tersamar tunggal terhadap 44 pasien yang menjalani anestesi umum di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh periode April–Mei 2025. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ketamin 0,5kg/BB (n=22) dan fentanil 2 μg/kgBB (n=22). Parameter BIS, tekanan darah diastol, sistol laju jantung, laju napas dan SpO2 diukur pada menit ke-0, 5, 10, 15, dan 20 pascainduksi. Hasil menunjukkan bahwa ketamin menurunkan BIS lebih cepat dan lebih dalam, dengan perbedaan bermakna signifikan pada menit ke-5 (p=0,002), 15 dan 20 (p<0,001). Ketamin juga mempertahankan tekanan darah lebih stabil, sedangkan fentanil meningkatkan laju jantung lebih tinggi pada menit ke-10 (p=0,032). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada laju napas dan SpO2.  Ketamin lebih unggul dalam mencapai kedalaman anestesi yang cepat dan stabil secara hemodinamik, dibanding dengan fentanil.
Severe Hypokalemia in the Intensive Care Unit: Case Series on Potassium Correction Strategies and Clinical Outcomes Daniswara, Daniswara; Prasamya, Erlangga
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.4451

Abstract

Hypokalemia is one of the electrolyte disorders that often occurs in intensive care units (ICUs), defined as a serum potassium concentration below 3.5 mmol/L. Its severity is classified as mild (3.0–3.4 mmol/L), moderate (2.5–3.0 mmol/L), and severe (<2.5 mmol/L). Hypokalemia occurs when the body loses too much potassium due to several factors such as vomiting, excessive diarrhea, kidney disease, hormonal disorders, or taking diuretic drugs. Symptoms of hypokalemia generally appear when serum potassium is less than 3.0 mmol/L, ranging from mild weakness to life-threatening cardiac arrhythmias. In critically ill patients, untreated severe hypokalemia can lead to cardiac arrhythmias, respiratory arrest, and renal dysfunction, with a higher risk of complications and mortality in patients with hypotension, diabetes, or chronic kidney disease. This case series involved six ICU patients with severe hypokalemia (K⁺ ≤1.8 mmol/L) who underwent rapid potassium correction at a rate of 10–40 mEq/hour adjusted to the patient's clinical severity. In patients with ventricular arrhythmias, initial correction of 2 mEq/minute was followed by 10 mEq over 5–10 minutes. Most patients showed clinical improvement, while worse outcomes were observed in patients with hyperthyroidism and after return of spontaneous circulation (ROSC). This case series highlights the importance of individualized potassium replacement strategies, immediate intervention, and careful monitoring to prevent life-threatening complications and improve outcomes in patients with severe hypokalemia in the ICU.
GAMBARAN POLA KUMAN, RESISTENSI, FAKTOR RISIKO, DAN TINGKAT MORTALITAS PADA PASIEN VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA DI GENERAL INTENSIF CARE RSUP HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI 2022 - DESEMBER 2022 Oktaliansah, Ezra; Budipratama, Dhany; Putra, Rifki Dwi Anugrah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851//jap.v13n2.4036

Abstract

Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan infeksi paru yang terjadi 48–72 jam setelah tindakan intubasi endotrakeal dan menjadi salah satu infeksi nosokomial paling sering di Intensive Care Unit (ICU), dengan prevalensi mencapai 70-80% dari seluruh kasus pneumonia di rumah sakit. Di Indonesia, insiden VAP tergolong tinggi, terutama disebabkan oleh Acinetobacter baumannii yang bersifat resisten terhadap berbagai antibiotik dan berkontribusi terhadap peningkatan angka mortalitas. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien VAP di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari–Desember 2022. Dari 33 pasien yang diteliti, ditemukan 70 hasil kultur kuman, dengan 55 di antaranya tergolong Multidrug Resistant (MDR). Kuman yang paling dominan adalah Acinetobacter baumannii (85,7% MDR), diikuti Klebsiella pneumoniae (94,4% MDR) dan Pseudomonas aeruginosa (87,5% MDR). Angka mortalitas mencapai 60,6%, dengan tingkat kematian lebih tinggi pada pasien dengan kultur MDR. Faktor risiko yang sering ditemukan ialah hipertensi, penyakit serebrovaskular, dan gagal ginjal kronik. Pola resistensi tinggi teridentifikasi pada Acinetobacter baumannii terhadap cefazolin (95,7%) dan ampicillin-sulbactam (91,3%), Klebsiella pneumoniae terhadap cefazolin (97,0%) dan ceftriaxone (96,8%), serta Pseudomonas aeruginosa terhadap imipenem (94,7%) dan cefazolin (91,7%). Hasil ini menunjukkan perlunya peningkatan program penanganan VAP di RSUP Dr. Hasan Sadikin.