cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Gambaran Mortalitas Pasien Sepsis Berdsarkan Fluid Accumulation di ICU RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022 Faisal Rachman; Erwin Pradian; Nurita Dian Kestriani
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n2.3717

Abstract

Manajemen cairan pasien sakit kritis memiliki risiko terjadinya akumulasi cairan. Resusitasi cairan merupakan bagian penting dalam menstabilkan status hemodinamik dan meningkatkan oksigenasi jaringan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa balans cairan kumulatif positif merupakan faktor prognostik yang kuat untuk mortalitas pasien sepsis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran mortalitas pada pasien sepsis yang mengalami akumulasi cairan selama dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling secara retrospektif melalui rekam medis pasien sepsis yang mengalami akumulasi cairan di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode 1 Januari 2021–31 Desember 2022 dengan jumlah sampel adalah 107 orang subjek penelitian. Analisis menunjukkan bahwa karakteristik pasien relatif sama antara kelompok yang mengalami mortalitas dan yang bertahan hidup. Pada kategori akumulasi cairan >10%, semua pasien (100%) mengalami mortalitas, sedangkan pada kategori akumulasi cairan <10%, 27 pasien (51,9%) meninggal dan 25 pasien (48,1%) bertahan hidup. 
Hubungan Platelet Lymphocyte Ratio (PLR) dengan Status Mortalitas H-28 pada Pasien Sepsis Associated Acute Kidney Injury Franz Josef Tarigan; Tinni T. Maskoen; Dhany Budipratama
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n1.3626

Abstract

Inflamasi merupakan proses yang berperan penting dalam perkembangan Sepsis-associated acute kidney injury (S-AKI). Rasio platelet-limfosit (PLR) merupakan penanda inflamasi baru yang mulai sering digunakan untuk memperkirakan mortalitas. Pada fase inflamasi terjadi peningkatan produksi platelet akibat cedera endotel disertai dengan peningkatan rekrutmen limfosit ke ginjal sehingga dapat tergambar pada nilai PLR. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan PLR dengan mortalitas pada pasien S-AKI di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah case-control secara retrospektif dengan menggunakan rekam medis 136 pasien S-AKI di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin pada tahun 2021–2022 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dan dibagi menjadi kelompok bertahan hidup 68 orang dan kelompok mortal 68 orang. Penelitian dilakukan mulai dari Maret 2022 sampai Februari 2023. Pengambilan sampel dilakukan secara vkonsekutif, kemudian dilakukan analisis statistik chi-square untuk melihat hubungan nilai PLR dengan status mortalitas h-28. Didapatkan rasio odd pada PLR sebesar 165 dan nilai cut-off PLR penelitian ini adalah 120. Terdapat hubungan antara nilai PLR dan mortalitas h-28 pada pasien S-AKI. Pasien dengan nilai PLR≥120 memiliki risiko mortalitas h-28 lebih tinggi. Peningkatan nilai rasio platelet dan limfosit pada pasien cedera ginjal akut akibat sepsis yang mortal terjadi karena peningkatan penggunaan leukosit ke ginjal dan peningkatan produksi platelet akibat inflamasi yang berat.
Karakteristik Pasien Yang Dilakukan Trakeostomi Di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2021 – Desember 2022 Dewi Ramadani; Suwarman Suwarman; Indriasari Indriasari
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3372

Abstract

Cedera laring dan pita suara karena ventilasi mekanik jangka panjang menjadi salah satu alasan dilakukannya trakeostomi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif untuk mengetahui karakteristik pasien trakeostomi di ruang rawat intensif RSHS Bandung pada Januari 2021–Desember 2022 Karakterisitk pasien dengan skor APACHE II <25 (87%), 54% memiliki komorbid, indikasi terbanyak masalah otak (48,9%), 62,2% trakeostomi dini, 53,3% trakeostomi surgikal. Rerata lama hari rawat ruang intensif antara trakeostomi dini vs trakeostomi lanjut adalah 21,2 vs 31,1 dan 25 vs 36,8, rerata durasi ventilasi mekanik trakeostomi dini 12,2 hari. Pasien hidup 13,3%, seluruhnya dewasa, laki-laki, skor APACHE <25, 50% tanpa komorbid, seluruhnya trakeostomi dini; teknik surgikal dan dilatasi per kutan sama banyak. Mortalitas 86,7%; kelompok dewasa 86,1%; kelompok geriatri 88,9%; skor APACHE II <25 84,6%; skor APACHE II ≥25 seluruhnya meninggal, 26,2% >satu komorbid, 56% trakeostomi dini; 54% trakeostomi surgikal. Angka kejadian VAP 13,3% semuanya meninggal. Simpulan: Kelompok pasien hidup menjalani trakeostomi dini, skor APACHE II <25. Lama hari rawat ruang intensif dan rumah sakit trakeostomi dini lebih singkat dibandingkan trakeostomi lanjut, durasi ventilasi mekanik tidak dapat dibanding dengan karena semua pasien trakeostomi lanjut meninggal. Semua pasien VAP meninggal. 
Efektivitas Retrograde Autologous Priming dalam Menurunkan Volume Kebutuhan Transfusi Sel Darah Merah Selama Operasi pada Bedah Jantung Koroner dengan Mesin Pintas Jantung Paru: A Randomized Controlled Trial Cindy Elfira Boom; Dian Kesumarini; Riza Cintyandy; Lisa Sanjaya; Krisna Andria; Hilda Zareva; Cahya Rudiana; I Made Adi Parmana
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n2.3934

Abstract

Pemakaian mesin pintas jantung paru (PJP) dalam operasi coronary artery bypass graft (CABG) dapat meningkatkan kebutuhan transfusi darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas retrograde autologous priming (RAP) dalam menurunkan volume transfusi sel darah merah/packed red cell (PRC) pada pasien bedah jantung koroner dengan mesin PJP. Penelitian ini melibatkan 52 pasien yang dijadwalkan menjalani operasi coronary artery bypass graft (CABG). RAP dimulai selama bypass dalam satu kelompok dengan mengalirkan larutan kristaloid dari jalur arteri dan vena ke dalam kantong penampung dengan volume penarikan RAP yang dimaksudkan dan disesuaikan untuk setiap pasien. Non-RAP menggunakan teknik konvensional PJP. 52 pasien (RAP = 26; kontrol = 26) dilibatkan dalam analisis. Pasien dalam kelompok RAP menerima volume transfusi PRC intraoperatif yang jauh lebih rendah dibanding dengan pasien pada kelompok non-RAP (median, 0 mL vs 205 mL, p=0,014). Analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa prosedur RAP mempengaruhi secara signifikan (p<0,05) volume PRC yang dibutuhkan dalam transfusi intraoperatif. RAP selama operasi bedah jantung koroner dengan mesin PJP adalah prosedur yang aman dan efektif yang secara signifikan mengurangi kebutuhan transfusi volume PRC. 
Perbandingan Nilai rSO2 Pra dan Pasca Pembedahan Bedah Kraniotomi Tumor Removal Di RSUP Haji Adam Malik Medan Veronica Simamora; Rr. Sinta Irina; Andriamuri Primaputra Lubis
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n1.3390

Abstract

Pengukuran regional oxygen saturation (rSO2) menggunakan near- infrared spectroscopy (NIRS) berkorelasi dengan saturasi vena sentral. Oksigen serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan oksigen dapat bertambah maupun berkurang. Penelitian ini bertujuan melihat perbandingan nilai rSO2 pre dengan pascabedah kraniotomi tumor removal di RSUP Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian cohort prospective. Penelitian ini dilakukan pada 12 pasien yang menjalani prosedur pembedahan kraniotomi tumor removal selama 14 April–19 Mei 2023 Sampel dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji t berpasangan. Sebanyak 12 pasien diteliti rSO2 sebelum operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 64,50±2,98 pada kanan dan kiri didapatkan rerata sebesar 62,58±3,17. Pada rSO2 setelah operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 71,58±2,31 pada kanan dan kiri didapatkan rerata sebesar 70,25±3,52. Pada rSO2 kanan rerata sebesar 64,50±1,90 dan rSO2 kanan sesudah penelitian ini didapatkan rerata sebesar 71,58±1,71 dengan nilai p<0,05 secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara rSO2 kanan sebelum dan sesudah operasi. Simpulan, terdapat perbedaan antara rSO2 sebelum dan sesudah pembedahan kraniotomi tumor removal di RSUP Haji Adam Malik, Medan. 
Hubungan Kecemasan Pra-Operasi dan Karakteristik Individu terhadap Intensitas Nyeri Pasca-Operasi Pasien Bedah Non Emergensi dengan Teknik Anestesi Spinal di Soerojo Hospital Adam Kurnia Wandana; Catur Prasetyo Wibowo; Sri Handayani; Adi Cahyono; Ani Astuti; Tini Ariyati; Ery Surya Sevriana
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3408

Abstract

Nyeri pascaoperasi dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, mengganggu proses penyembuhan luka, pemulihan yang buruk, dan durasi perawatan lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kecemasan praoperasi dan karakteristik individu dengan intensitas nyeri pascaoperasi. Penelitian ini merupakan studi analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap 40 pasien bedah non emergensi dengan teknik anestesi spinal. Penelitian dilakukan di Soerojo Hospital Magelang periode September 2022–Februari 2023. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara kecemasan praoperasi dan intensitas nyeri pascaoperasi (ρ=0,000) dengan arah hubungan positif. Usia (ρ=0,003) dan jenis kelamin (ρ=0,017) juga memiliki hubungan yang signifikan dengan intensitas nyeri pascaoperasi, meskipun arah hubungannya negatif, sedangkan tingkat pendidikan (ρ=0,845) dan pengalaman operasi sebelumnya (ρ=0,069) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pascaoperasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kecemasan sebelum operasi, semakin tinggi intensitas nyeri setelah operasi; perempuan dan usia muda cenderung mengalami respons nyeri yang berat setelah operasi dibanding dengan laki-laki dan orang dewasa. 
Perbandingan Blokade Pektoralis dan Blokade Erektor Spinae Menggunakan Bupivakain 0,25% terhadap Durasi Analgesia dan Kebutuhan Morfin Pada Operasi Simple Mastectomy Muhammad Andy Prihartono; Elfira Teresa Anugrah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n2.3746

Abstract

Sekitar 60% pasien mastektomi mengalami nyeri akut. Beberapa metode yang dilakukan untuk mengurangi nyeri pascaoperasi mastektomi adalah blokade PECS dan ESP. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbandingan durasi analgesia dan total kebutuhan morfin dalam 24 jam pascaoperasi pada pasien yang dilakukan blokade PECS dengan ESP. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan single blind randomized controlled trial. Penilaian yang dilakukan yaitu durasi blokade, yang dinilai dari pemberian blokade sampai pasien menekan PCA/patient controlled analgesia pertama kali, selain itu dinilai juga total kebutuhan morfin yang diperlukan setelah operasi dengan menggunakan PCA. Penelitian dilakukan terhadap 32 subjek di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–September 2023 yang menjalani operasi mastektomi sederhana satu sisi yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria ekslusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi kelompok PECS memiliki rerata sebesar 6,06±0,69 jam dan ESP sebesar 5,17±0,40 jam sehingga kelompok PECS lebih lama 0,89±0,29 jam dibanding dengan ESP, sementara total konsumsi morfin dalam 24 jam pada kelompok PECS sebesar 2,06±0,772 mg dan ESP sebesar 2,88±0,62 mg sehingga total kebutuhan morfin antara kelompok PECS lebih rendah 0,21±0,41 mg dibanding dengan ESP (p<0,05). Simpulan dari penelitian ini blokade PECS mempunyai durasi analgesia yang lebih lama dan mengurangi kebutuhan morfin pascaoperasi dibanding dengan ESP.
PERBANDINGAN FLUOKSETIN 20 MG DENGAN AMITRIPTILIN 12,5 MG SEBAGAI ADJUVAN KOMBINASI PARASETAMOL DAN MORFIN DALAM MENGURANGI NYERI PADA PASIEN NYERI KANKER Ramud, Samawi Husein; Hamdi, Tasrif; Bangun, Chrismas Gideon; Yunanda, Yuki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n3.3628

Abstract

Data WHO menunjukkan bahwa 30–40% pasien kanker mengalami nyeri sedang atau berat. Empat kelas obat antidepresan dapat dipakai dalam pengobatan nyeri neuropatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan fluoksetin 20 mg dengan amitriptilin 12,5 mg sebagai adjuvant kombinasi parasetamol 1000 mg dalam mengurangi gejala nyeri pada pasien nyeri kanker. Penelitian dilaksanakan sejak Juli–September 2023 di klinik nyeri Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar. Sebanyak 40 subjek dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok A (n=20) mendapat fluoksetin, morfin dan parasetamol, sedangkan kelompok B (n=20) mendapat amitriptilin, morfin dan parasetamol. Skor nyeri pada subjek diukur dengan menggunakan PainDETECT. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Data bivariat dianalisis dengan uji Chi-Square, T-Test Independent, T-Test Paired dan Mann-Whitney. Terdapat penurunan skor numeric rating scale dan PainDETECT yang signifikan antara sebelum dan setelah pemberian fluoksetin maupun amitriptilin dengan nilai p<0,05. Kelompok fluoksetin maupun amitriptilin dapat menurunkan skor numeric rating scale dan PainDETECT secara statistik, akan tetapi tidak bermakna secara klinis.
PERBANDINGAN NEBULISASI PREOPERASI LIDOKAIN DENGAN KOMBINASI LIDOKAIN DAN BUDESONID TERHADAP SKALA NYERI TENGGOROK PASCAOPERASI AKIBAT INTUBASI ENDOTRAKEAL PADA PASIEN YANG DILAKUKAN ANESTESI UMUM Arifin, Ilman Hakim; Rismawan, Budiana; Zulfariansyah, Ardi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n3.3962

Abstract

Komplikasi intubasi dengan pipa endotrakeal (ETT) yang paling sering adalah nyeri tenggorok pascaoperasi/postoperative sore throat (POST). Insidensi POST berkisar 14,4%−50%. Penggunaan metode farmakologi terbukti menurunkan angka kejadian POST melalui efek analgesia dan anti-inflamasi. Salah satu obat yang sering digunakan untuk pencegahan POST adalah nebulisasi lidokain. Nebulisasi steroid juga efektif karena dapat mengurangi inflamasi, edema, transudasi cairan, dan juga derajat nyeri. Penelitian ini membandingkan antara nebulisasi preoperasi dengan lidokain dan nebulisasi preoperasi dengan lidokain dengan budesonide. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung antara bulan Oktober–Desember 2023 yang menggunakan analitik komparatif eksperimental, dengan rancangan double blind randomized controlled trial terhadap dua kelompok penelitian. pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara consecutive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Mann Whitney dan normalitas data menggunakan Uji Shapiro wilk. Hasil penelitian karakteristik umum subjek penelitian didapatkan data terdistribusi normal. Pada Jam ke-1, 2, 4 didapatkan skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p>0,05 atau tidak signifikan, pada jam ke-6, 12, 24 skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p<0,05 atau signifikan. Simpulan yang didapatkan adalah skala nyeri tenggorok pascaoperasi pada pemberian nebulisasi lidokain dan budesonid preoperasi lebih kecil dibanding dengan nebulisasi lidokain saja.
PERBANDINGAN NEBULISASI LIDOKAIN 2% DAN SPRAY LIDOKAIN 10% DALAM MENCEGAH REFLEKS BATUK PADA PASIEN BRONKOSKOPI DENGAN SEDASI DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN Pohan, Alfindy Maulana; Tanjung, Qadri Fauzi; Silaen, Ester Lantika Ronauli; Yunanda, Yuki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n3.4010

Abstract

Keluhan batuk sering muncul pada pasien yang menjalani bronkoskopi akibat adanya trauma mekanik pada dinding saluran napas. Lidokain digunakan pada bronkoskopi untuk menekan refleks batuk. Penelitian ini bertujuan menilai efek lidokain yang diberikan secara nebulisasi dan spray terhadap refleks batuk pada pasien bronkoskopi. Desain penelitian randomized control trial dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik bulan Agustus sampai dengan September 2023 pada pasien bronkoskopi dengan sedasi. Sampel yang diperoleh 36 pasien yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat spray Lidokain 10% dan kelompok yang mendapatkan nebulisasi lidokain 2%. Variabel yang diteliti adalah derajat batuk. Analisis statistik yang digunakan adalah mann whitney. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan derajat batuk yang bermakna pada pada menit ke-15, menit ke-30 dan postperlakuan (p<0,05). Pada kelompok nebulisasi Lidokain 2% derajat batuk lebih rendah dibanding dengan pada kelompok spray Lidokain 10%. Simpulan: Pemberian nebulisasi lidokain 2% lebih efektif menekan derajat batuk dibanding dengan spray lidokain 10% pada tindakan bronkoskopi dengan sedasi.