cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 1,873 Documents
LEXICAL BORROWING USED BY THE EIGHTH SEMESTER STUDENTS OF ENGLISH EDUCATION DEPARTMENT IN BLACKBERRY MESSENGER ., I Wayan Rusdiana; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd,M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8698

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis peminjaman leksikal dan untuk menyelidiki fungsi atau motif dari pengunaan peminjaman leksikal di Blackberry Messenger oleh mahasiswa semester delapan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Penelitian ini dirancang menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi media electronik, lembar observasi, pedoman wawancara, rekaman audio. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat tiga proses peminjaman leksikal yang dilakukan oleh mahasiswa semester delapan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Akumulasi data menunjukan bahwa terdapat enam puluh lima (65) kata yang diklasifikasikan sebagai proses impor, dua puluh enam (26) kata yang diklasifikasikan sebagai proses perpaduan pinjaman, dan yang terakhir ada satu (1) kata yang diklasifikasikan sebagai proses penerjemahan pinjaman. Fungsi atau motif dari peminjaman leksikal adalah “kebutuhan” dan “gengsi”, yang mana mereka mengakui meminjam kata-kata tersebut dikarenakan tidak adanya padanan kata yang ada di Bahasa Indonesia dan diharuskan untuk menggunakan kata-kata pinjaman dikarenakan mereka ingin terlihat pintar, keren, dan mempunyai status social yang lebih tinggi di social media. Kata Kunci : Blackberry Meessenger, Peminjaman Leksikal Abstract This study aimed to identify the types of lexical borrowing and to investigate the function or motive of the use of lexical borrowing in Blackberry Messenger by the eighth semester students of English Education Department. This study was conducted in descriptive qualitative design. The instruments used in this study were electronic media, observation sheet, interview guide, and audio recording. The result of this study showed that there were three process of lexical borrowing used by the eighth semester students of English Education Department. The data accumulation showed that there were sixty five (65) words borrowed by importation process, twenty six (26) words borrowed by loanblend process, and one (1) word classified as a of result loan translation process. The functions or motives in using of lexical borrowing were, “need” and “prestige”, in which they admitted borrowing the words because there is no exact equivalent word that exists in Bahasa Indonesia and have to used borrowed words because they want to look smart, being cool, and has higher social status in social media. keyword : Blackberry Messenger, Lexical Borrowing
The Lingusitic Evidences that Unite Perean and Taro Dialect: A Comparative Study ., Desak Made Mira Diahningsih; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2017):
Publisher : Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan persamaan fonologis dan leksikal antara dialek Perean dan dialek Taro. Penelitian ini didesain dalam bentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan karakteristik sinkronis. Data yang telah diperoleh dalam bentuk kata diidentifikasi dengan menggunakan daftar kata Swadesh, daftar kata Nothofer, dan daftar kata Holle. Data didapatkan dengan menggunakan teknik observasi, rekaman, dan catatan. Dalam mengumpulkan data, dipilih tiga narasumber pada setiap dialek. Hasil dari penelitin ini menunjukan bahwa ada 46 fonem yang telah dibuktikan sama di antara kedua dialek. Mereka adalah: 1) enam vokal /ʌ/,/i/,/u/,/ɛ/,/ɒ/, and /ə/; 2) delapan diftong /ʌɪ/, /ʌu/, /ʌɛ/, /ʌɒ/, /ɪʌ/, /ɪu/, /uʌ/, and /ʊʌ/; 3) lima geminates /ʌʌ/, /ɪɪ/, /ʊʊ/, /ɒɒ/, and /əə/; 4) sembilan belas konsonan /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /ʔ/, /s/, /c/, /j/, /l/, /h/, /m/, /n/, / ñ /, /ŋ/, /r/, /w/, and /y/; and 5) delapan konsonan kluster /kl/, /bl/, /ml/, /kr/, /pr/, /mp/, /mb/, dan /ŋkKata Kunci : diftong, fonologi, geminate, kata, konsonan, konsonan kluster, Perean Dialek, Taro Dialek, vokal. This research aimed at describing the phonological and lexical similarities between Perean Dialect and Taro Dialect. This research was designed in the form of descriptive qualitative study which has synchronic characteristics. The obtained data was in the forms of lexicon identified by using Swadesh’s, Nothofer’s, and Holle’s Wordlist. The data were collected through observation, recording, and note taking techniques. The sources of data were three informants from each dialect were selected by using a set of criteria. The results of this research show that there are 46 phonemes have been proven the same from both dialects. They are: 1) six vowels /ʌ/,/i/,/u/,/ɛ/,/ɒ/, and /ə/; 2) eight diphthongs /ʌɪ/, /ʌu/, /ʌɛ/, /ʌɒ/, /ɪʌ/, /ɪu/, /uʌ/, and /ʊʌ/; 3) five geminates /ʌʌ/, /ɪɪ/, /ʊʊ/, /ɒɒ/, and /əə/; 4) nineteen consonants /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /ʔ/, /s/, /c/, /j/, /l/, /h/, /m/, /n/, / ñ /, /ŋ/, /r/, /w/, and /y/; and 5) eight consonant clusters /kl/, /bl/, /ml/, /kr/, /pr/, /mp/, /mb/, and /ŋk/. From the three wordlists, this research found that there are 1297 words which were exactly the same and 181 words which were similar from both Perean Dialect and Taro Dialect.keyword : consonants, consonant clusters, diphthong, geminate, lexicon, Perean Dialect, phonology, Taro Dialect, vowels.
Derivational and Inflectional Morphemes in Wongaya Gede Dialect ., Pande Nyoman Ita Wulandari; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8081

Abstract

Penelitian ini dirancang dalam bentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran pada Bahasa Bali khususnya dialek Wongaya Gede yang termasuk morfem derivasi dan infleksi. Terdapat tiga informan dipilih berdasarkan beberapa kriteria. Tiga cara digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu melalui observasi, rekaman, dan wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan lima jenis awalan pada dialek Wongaya Gede, yaitu awalan {mÓ™-}, {kÓ™-}, {N-}, {si-}, dan {Ó™-} dan enam jenis akhiran: {-Ó™ng}, {-an}, {-in}, {-ne}, {-Ó™ }, dan {-n}. Ada empat jenis awalan: {mÓ™}, {kÓ™-}, {N-}, dan {si-}, dan satu jenis akhiran: {-Ó™ng} yang termasuk morfem derivasi. Tiga jenis awalan: {N-}, {Ó™-}, dan {mÓ™-} dan lima jenis akhiran: {-an}, {in}, {-ne}, {-Ó™}, and {-n} termasuk morfem infleksi. Kata Kunci : morfem derivasi, morfem infleksi, awalan, akhiran This study was designed in form of descriptive qualitative study with the aim of describing the prefixes and suffixes in Wongaya Gede dialect which belong to derivational and inflectional morphemes. Three were three informants chosen based on a set of criteria. Three techniques were used to collect the data, namely observation, recording, and interview technique (listening and noting). The results of the study indicare that there are five kinds of prefixes found in Wongaya Gede dialect, namely {mÓ™-}, {kÓ™-}, {N-}, {si-}, and {Ó™-} and six kinds of suffixes: {-Ó™ng}, {-an}, {-in}, {-ne}, {-Ó™}, and {-n}. There are four kinds of prefixes: {mÓ™}, {kÓ™-}, {N-}, and {si-}, and one kind of suffixes: {-Ó™ng} which belong to derivational morphemes. In addition, three kinds of prefixes: {N-}, {Ó™-}, and {mÓ™-} and five kinds of suffixes: {-an}, {in}, {-ne}, {-Ó™}, and {-n} belong to inflectional morphemes. keyword : derivational morphemes, inflectional morphemes, prefixes, suffixes
DEVELOPING GUESSING GAME FOR TEACHING VOCABULARY TO THE FIFTH GRADE STUDENTS OF SD NEGERI 5 KUBUTAMBAHAN ., Komang Gede Suardiyasa; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11181

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan yang menyangkut; Mengidentifikasi jenis kosa kata yang tepat untuk dikembangkan sebagai Guessing Game (GG) untuk pengajaran kosa kata ke kelas lima siswa SD Negeri 5 Kubutambahan. menganalisis kualitas dari Developing Guessing Game (GG) untuk mengajarkan kosakata ke kelas lima siswa SD Negeri 5 Kubutambahan. Penelitian ini mengikuti rancangan R & D yang diusulkan oleh Dick dan Carey (2005). Desain ini meliputi: analisis kebutuhan, analisis instruksional, lingkungan belajar dan pelajar, sasaran kinerja, rubrik penilaian, papan cerita, desain dan pengembangan, evaluasi formatif, revisi dan produk akhir. Subyek penelitian adalah siswa kelas lima dan guru SD Negeri 5 Kubutambahan. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, wawancara, review dokumen dan penilaian ahli. Data hasil observasi, kuesioner, wawancara dan kajian dokumen dianalisis dengan menggunakan Model Analisis Data Interaktif yang diajukan oleh Milles dan Huberman (1987). Hasil penilaian ahli dalam menganalisis kualitas permainan tebakan yang dikembangkan dianalisis dengan menggunakan Model Kesepakatan Interrater yang diajukan oleh Gregory (2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada empat permainan menebak telah dikembangkan dengan empat tema berbeda yang bertujuan untuk digunakan sebagai media pengajaran kosakata pada semester pertama siswa kelas 5. Game menebak itu dirancang berdasarkan kriteria silabus bahasa Inggris kurikulum berbasis sekolah untuk semester pertama siswa kelas 5 dan juga berdasarkan kriteria aplikasi pendidikan oleh Lee & Cherner (2015). Produk permainan menebak dipresentasikan ke dalam CD dan buku panduan manual untuk guru. (2) kualitas keseluruhan permainan tebakan yang dikembangkan dari penilaian ahli dikategorikan sangat baik (2,73).Kata Kunci : guessing game, kosa kata, kelas lima This present study was a research and development (R&D) which concerned in; identifying the kinds of vocabulary were appropriate to be developed as Guessing Game (GG) for teaching vocabulary to the fifth grade of students of SD Negeri 5 Kubutambahan, analyzing the quality of the developed Guessing Game (GG) for teaching vocabulary to the fifth grade of students of SD Negeri 5 Kubutambahan. This study followed the R&D design proposed by Dick and Carey (2005). This design involves: need analysis, instructional analysis, learner and learning environment, performance objectives, assessment rubric, story board, design and develop, formative evaluation, revision and final product. The subjects of the study were students of fifth grade and the teacher of SD Negeri 5 Kubutambahan. the data were collected through observation, questionnaire, interview, document review and expert judgment. The data from the result of the observation, questionnaire, interview and document review were analyzed using Interactive Data Analysis Model proposed by Milles and Huberman (1987). The result of the expert judgment in analyzing the quality of the developed guessing game were analyzed using Interrater Agreement Model proposed by Gregory (2000). The result of the study shows that: (1) there were four guessing games have been developed with four different themes which were aimed to be used as a media for teaching vocabulary to the first semester of 5th grade students. Those guessing game were designed based on the criteria of English syllabus of school based curriculum for the first semester of 5th grade students and also based on criteria of educational app by Lee & Cherner (2015). The final of the guessing game were presented into CD and a manual guide book for teacher. (2) the overall quality of the developed guessing game from the judgment of experts was categorized as excellent (2.73).keyword : guessing game, vocabulary, fifth grade.
An Analysis of Culture Shocks of BIPA Students in UPT Bahasa ., Ni Nengah Intan Sariningsih; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.834 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13325

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalsis fenomena geger budaya yang dialami oleh siswa asing yang datang ke Bali untuk belajar tentang budaya Bali di UPT Bahasa Undiksha yang merupakan i salah satu tempat untuk belajar bagi para siswa asing. Di sana mereka belajar tentang budaya, bahasa,makanan khas Bali, dan lain-lain. Peneliti membatasi penelitian pada analisis fenomena geger budaya yang berhubungan dengan komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Desain dari penelitian ini adalah desain penelitian deskritif kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah tiga siswa asing yang belajar tentang budaya di ULB Undiksha Singaraja. Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Selain itu peneliti juga mengumpulkan data dengan cara memberikan kuesioner kepada tiga siswa asing yang belajar di UPT Bahasa. Instrumen utama dari penelitian ini adalah peneliti sendiri. Instrumen-instrumen lain yang digunakan adalah pedoman wawancara, perekam suara, kuesioner dan catatan. Teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori dari Pedersen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada sebelas fenomena geger budaya yang ditemukan dalam komunikasi verbal dan lima fenomena dalam komunikasi nonverbal. Dari semua fenomena geger budaya, siswa mengalami geger budaya pada kebiasaan penduduk lokal,transportasi dan pasar tradisional. Selain itu para siswa asing mempunyai cara untuk mengatasi geger budaya tersebut seperti meminta informasi kepada penduduk lokal, mengikuti dengan hal yang sama, mecari solusi dengan cara mereka sendiri dan saling menghormati antar sesama budaya. Data dari hasil observasi, wawancara dan pemberian kuesioner menyatakan masalah dari siswa asing dalam beradaptasi dengan lingkukan baru selama belajar di UPT Bahasa Undiksha Singaraja dan tinggal di Bali. Kata Kunci : Kata kunci: Geger budaya, komunikasi verbal, dan komunikasi nonverbal Abstract This study aimed at analyzing the culture shock phenomena experienced by foreign students who come to Bali to study about culture especially in UPT Bahasa (Language Service Unite) Undiksha as one of the places for foreign students. In UPT Bahasa they study about culture, Bahasa Indonesia, Balinese food. The researcher limited her study to an analysis of the culture shock that is related to verbal communication and non-verbal communication. The design of this study was a qualitative research design. The subjects of this research were three foreign students who studied about Indonesian culture in UPT Bahasa Undiksha. The researcher collected the data by using semi structured interview and semi unstructured interview. The researcher also gave questionnaire to those three foreign students. The main instrument of this study was the researcher herself. Other instruments were interview guide, voice recorder, questionnaire, and note. The data in this research were analyzed with Pedersen’s theory. The result of this research showed that there were ten culture shock phenomena of verbal communication and five culture shock phenomena in non-verbal communication. From all the culture shock phenomena, the students experienced culture shock in the habit of local people, transportation and the traditional market. , The foreign students had some ways to overcome the culture shock such as by asking information to local people, trying to do something, thinking about the solution by themselves to overcome the culture shock, and respecting the different culture. The data from observation, interview and questionnaire revealed that the foreign students adapted to the new environment during their studies in UPT Undiksha and during their stay in Bali. keyword : Keywords: Culture shock, non-verbal communication, verbal communication.
THE IDENTIFICATION OF RACISM IN INTERNET MEME COMIC AT 9GAG.COM ., Gusti Ngurah Adi Kusuma; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd,M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8703

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menyelidiki isu-isu rasisme yang terkandung di dalam internet meme komik di 9gag.com melalui analisis tekstual menggunakan teori mythology dari Barthes. kajian ini juga difokuskan untuk menggali tujuan yang di miliki oleh internet meme di 9gag.com. dari hasil kajian ini ditemukan bahwa ada 56 meme yang teridentifikasi sebagai meme yang rasist dalam periode yang sudah di tentukan yaitu pada bulan Maret sampai dengan Mei 2106. Dari data, ditemukan bahwa, meme yang terkumpul bisa di bagi menjadi tiga klasifikasi besar yaitu rasis meme dengan isu politik, rasis meme dengan isu etnis dan rasis meme dengan isu agama. Dalam rasis meme dengan isu politic, bisa di bagi menjadi dua yaitu meme dengan isu politic mendukung pencalonan Donald Trump. dan meme dengan isu politik menolak pencalonan Donald Trump. dalam rasis memedengan isu etnik, dapat di bagi menjadi rasis meme dengan isu etnik menolak orang-orang asia, rasis meme dengan isu etnik menolak orang-orang kulit putih, rasis meme dengan isu etnik mendukung orang-orang kulit putih dan rasis meme dengan isu etnik menolak orang-orang Afro-American. Di dalam rasis meme dengan isu agama, meme itu terdiri dari rasis meme dengan isu agama terkait dengan anti islam.Kata Kunci : internet meme komik, teori mythology oleh Barthes, rasisme, myth. This present study was aimed at investigating racism issues signified in internet meme comic at 9gag.com through textual analysis using Barthes’s theory of mythology. This study also focused to discover the purpose conveyed by the internet meme comic at 9gag.com. The subject of this study was the internet meme comic at 9gag.com¬. It was found that there were 56 meme indicated as racist meme in the period of study that was from March to May 2016. From the data, it found that the meme collected could be divided into three major classifications that were racial meme with political issues, racial meme with ethnicity issues, and racial meme with religious issues. In racial meme with political issues, it could be divided into two that is meme with political issues supporting Donald Trump’s candidacy and meme with political issues against Donald Trump’s candidacy. In racial meme with ethnicity issues, it could be divided into racial meme with ethnicity issues against Asian people, racial meme with ethnicity issues against white people, racial meme with ethnicity issues supporting white people, and racial meme with ethnicity issues against Afro-American people. In racial meme with religion issues, it was consisted racial meme with religion issues related to anti-Islam.keyword : Key words: internet meme comic, Barthes theory of mythology, racism, myth.
THE USE OF JARGONS UTTERED BY FOOD AND BEVERAGE WORKERS AT PURI BAGUS LOVINA HOTEL ., Made Gede Viktor; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12130

Abstract

Dalam penelitian ini, penggunaan jargon yang diucapkan oleh para pegawai F&B servis di Puri Bagus Lovina Hotel diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dari jargon-jargon, arti dari jargon-jargon, dan fungsi dari jargon-jargon yang digunakan oleh pegawai tersebut. Sebuah desain penelitian yang digunakan dalam penyelidikan ini adalah pendekatan studi kasus. Tambahannya, teknik observasi, teknik rekaman, teknik transfer, dan teknik interview digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. Hasil dari investigasi ini menunjukkan bahwa terdapat 104 jargon, yang termasuk: 6 singkatan, 1 akronim, 54 kata, dan 43 frase. Berhubungan dengan arti dari jargon-jargon yang digunakan, mereka mengenai arti-arti konotatif dari jargon-jargon yang diterapkan oleh para pegawai. Arti-arti tersebut terhubung dengan konteks-konteks tertentu dari jargon-jargon yang digunakan. Dalam kaitannya dengan fungsi dari jargon-jargon yang dipakai, ditemukan bahwa ada dua fungsi utama dari jargon-jargon tersebut, yaitu: ‘untuk berkomunikasi dengan efisien’ dan ‘untuk meningkatkan solidaritas internal group’. Jargon-jargon tersebut dikategorikan secara fungsional sebagai berikut; 7 jargon termasuk dalam fungsi jargon-jargon yang digunakan pertama, dan 97 jargon termasuk ke fungsi jargon-jargon yang digunakan kedua. Kata Kunci : jargon, pegawai F&B servis, Hotel Puri Bagus Lovina In this study, the use of jargons uttered by Food and Beverage (F&B) workers at Puri Bagus Lovina Hotel was investigated. The study aimed at investigating the forms of jargons, the meanings of jargons, and the functions of jargons applied by the F&B workers. The research design used in this investigation was case study approach. In addition, observation technique, recording technique, transferring technique, and interview technique were conducted to collect the data of this study. The result of this investigation shows that there were 104 jargons, which included: 6 abbreviations, 1 acronym, 54 words, and 43 phrases. In connection with the meanings of jargons used, they concerned the connotative meanings of jargons applied by the workers. The meanings were related to particular contexts of jargons implemented. In relation to the functions of jargons used, it was found that there were two main functions of jargons being used, namely: ‘to conduct an efficient communication’ and ‘to enhance in-group solidarity’. The jargons used by the workers were functionally categorized as follows; 7 jargons belonged to the first function of jargons used, and 97 jargons were in line with the second function of jargons used.keyword : jargon, food & beverage workers, Puri Bagus Lovina Hotel
The effectiveness of teacher and peer feedback techniques toward the writing achievement of the eleventh grade students of SMA Negeri 1 Gianyar ., I Kadek Dwi Armawan; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12156

Abstract

Feedback guru dan feedback teman sebaya berdasarkan penelitian sebelumnya merupakan teknik yang efektif untuk pembelajaran menulis kepada siswa EFL. Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi keefektifan dari kedua teknik tersebut terhadap prestasi menulis dari siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Gianyar tahun akademik 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Sampel ditentukan menggunakan teknik cluster random sampling, dimana dua kelas dipilih sebagai sampel dari penelitian. Melalui lotre, kelas XI MIPA 6 dan kelas XI MIPA 7 sebagai sampel dari penelitian ini. Instrumen yang digunakan untuk mengambil data adalah test siswa (post-test) dan di bantu dengan rubrik penilaian menulis, tulisan siswa selama proses pengambilan data dan dibantu oleh rubric menulis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa feedback guru berkontribusi presentase lebih besar pada aspek ide, sedangkan feedback teman sebaya pada aspek mekanik. Kedua feedback tersebut juga berkontribusi positif pada grammar dan pilihan kata Data dianalisis secara deskriptif dengan bantuan SPSS 21.00 untuk Windows. Hasil dari analisis deskriptif menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari grup eksperimental adalah 85.46 dan nilai rata rata untuk grup control adalah 82.51. Berarti bahwa nilai rata-rata dari grup eksperimental lebih baik daripada grup control. Jadi, dapat disimpulkan bahwa feedback teman sebaya lebih efektif dari feedback guru.Kata Kunci : feedback guru, feedback teman sebaya, prestasi menulis Teacher and peer feedback based on the previous studies are effective techniques for teaching writing to ELF students. This study aimed to verify the effectiveness of both techniques toward the writing achievement of eleventh grade students of SMA Negeri 1 Gianyar in the academic year 2017/2018. This study was descriptive quantitative and qualitative research. The samples were determined by using cluster random sampling technique, whereby two classes were selected as the samples. Through the lottery, the class of XI MIPA 6 and XI MIPA 7 were chosen as the sample of the study. The instruments used to collect the data were student’s post-test completed with a writing rubric, students writing during the treatment assessed by writing rubric. The result indicated that the teacher feedback contributes higher percentage to the idea aspect, while peer feedback to mechanics aspect. Yet, both feedbacks also contribute positively on organization and diction aspects. Additionally, the data were analyzed descriptively with the help of SPSS 21.00 for Windows The result of descriptive statistical analysis shows that the mean score of the experimental group was 85.46 while the mean score of the control group was 82.51. It means that the experimental group was better than the control group in terms of their writing achievement. So, it can be concluded that peer feedback was more effective than teacher feedback.keyword : teacher feedback, peer feedback, writing achievement
IDENTIFICATION OF ENGLISH TEACHERS' AND STUDENTS’ READINESS TO IMPLEMENT ICT BASED INSTRUCTION IN PUBLIC JUNIOR HIGH SCHOOLS OF BULELENG SUB DISTRICT ., Ni Made Dian Damayanti; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.772 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.15055

Abstract

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terintegrasi di dalam semua aspek pendidikan. Kurikulum di Indonesia yaitu kurikulum 2013 mengharuskan guru untuk menerapkan TIK di dalam kelas. Penggunaan TIK di dalam kelas sangatlah penting untuk memberikan siswa kesempatan belajar dan menerapkan keterampilan yang dibuperlukan untuk abad 21. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesiapan guru bahasa Inggris dan siswa untuk menerapkan instruksi berbasis TIK pada SMP negeri di Kecamatan Buleleng dan untuk mengetahui jenis-jenis prasarana pendukung yang digunakan guru bahasa Inggris pada SMP negeri di kecamatan Buleleng. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara, hasil kuesioner dan wawancara dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Studi ini menunjukkan bahwa (1) guru bahasa Inggris dan siswa siap untuk menerapkan instruksi berbasis TIK dan 2) Laptop, LCD dan speaker adalah jenis-jenis prasarana pendukung yang paling sering digunakan oleh guru Bahasa InggrisKata Kunci : Kesiapan, TIK Information and Communication Technology (ICT) is integrated in all aspects of education. In Indonesia, the curriculum which is known as curriculum 2013 requires teacher to implement ICT in the classroom. The use of ICT in the classroom is important for giving students opportunities to learn and apply the required 21st century skills. Therefore, this study aimed at identifying the English teachers’ and students’ readiness to implement ICT based instruction in public junior high schools of Buleleng sub district and to describe kinds of infrastructures that use as supporting tools by the English teachers in public Junior high schools of Buleleng sub district. This study was a descriptive qualitative study. This study was done by using a descriptive qualitative method. The data of the research was collected by using questionnaire and interview, the result of questionnaire and interview were analyzed by using descriptive analysis. The study showed that (1) the English teachers and students were ready to implement ICT based instruction and 2) Laptop, LCD and speaker were kinds of infrastructures that mostly use as supporting tools by the English teacherskeyword : Readiness, ICT
AN ANALYSIS OF DIRECTIVE ACTS USED IN THE CLASSROOM INTERACTIONS FOR THE EIGHTH GRADE STUDENTS OF SMPN 2 SINGARAJA ., Luh Made Mira Wirawati; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra,Dip.,App.; ., Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd,M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8142

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tindak tutur dan gaya bertutur yang dugunakan oleh siswa perempuan dan laki-laki di SMPN 2 Singaraja. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1) tindak tutur yang digunakan oleh siswa kelas delapan di SMPN 2 Singaraja dalam hal struktur sintaksis dan pilihan kata, 2) gaya bertutur dalam hal kesopanan yang digunakan oleh siswa kelas delapan di SMPN 2 Singaraja. Subyek dari penelitian ini adalah siswa dari kelas VIII.14 dan VIII.15 di SMPN 2 Singaraja. Subyek terdiri dari 35 dan 36 siswa dengan 35 siswa perempuan dan 36 siswa laki-laki. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif. Pengumpulan data diambil melalui prosedur elisitasi. Data yang diperoleh dianaliss secara deskriptif. Hasil penelitian ditunjukkan dalam urutan berikut ini: 1) Tindak tutur yang digubakan adalah a) kalimat suruhan, b) kalimat permintaan, c) saran dan d) kalimat perintah; 2) gaya bertutur yang digunakan adalah a) kesopanan yang positif, b) tindak tutur langsung dan c) kesopanan yang negatif Kata Kunci : tindak tutur direktif, , struktur sintaksis, pilihan kata, kesopanan This research aimed at analyzing the locutionary acts and the locutionary styles that used by female and male students at SMPN 2 Singaraja. The problems raised in this research were: 1) the locutionary acts used by the eighth grade students of SMPN 2 Singaraja in terms of syntactical structure and lexical choice, 2) the locutionary styles in terms of politeness strategies applied by the eighth grade students at SMPN 2 Singaraja. The subjects were the students of class VIII.14 and VIII.15 of SMPN 2 Singaraja. The subjects consisted of 35 and 36 students with 35 female and 36 male students. The research design was qualitative. The data were collected through an elicitation technique. The obtained data were analyzed descriptively. The result were showed in the following order: 1) the locutionary acts used are a) order, b) request, c) suggestion and d) command; 2) the speech style applied namely a) positive politeness, b) on-record, and c) negative politeness.keyword : Directive acts, syntactical structure, lexical choice, politeness.

Page 54 of 188 | Total Record : 1873