cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 1,873 Documents
AN ANALYSIS ON CODE-SWITCHING USED BY MALE AND FEMALE TEACHERS AS A TEACHING STRATEGY IN TEACHING LEARNING EFL AT SMP NEGERI 3 SUKASADA ., Ni Kadek Deni Nitiasih; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alih kode yang digunakan oleh guru bahasa Inggris pria dan wanita di SMP Negeri 3 Sukasada. Subyek penelitian ini adalah guru laki-laki dan perempuan yang mengajar bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Sukasada. Untuk mencapai tujuan penelitian, peneliti menggunakan desain deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) perekam suara, (2) lembar observasi, dan (3) pedoman wawancara. Peneliti mengumpulkan data melalui observasi kelas menggunakan perekam suara digital. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru laki-laki dan perempuan menggunakan tiga jenis alih kode. Ketiga jenis tersebut adalah alih kode intra-sentensial (13% dan 5,7%), alih kode inter-sentensial (55,1% dan 62,3%), dan alih kode Interpersonal (31,9% dan 32%). Ada 5 fungsi alih kode yang digunakan oleh guru laki-laki. Fungsi-fungsi tersebut adalah emphasis, attention, clarification, sociolinguistics play, dan instruction. Fungsi yang paling dominan digunakan oleh guru laki-laki adalah fungsi clarification. Sementara itu, fungsi yang paling dominan digunakan oleh guru wanita adalah fungsi emphasis. Ada beberapa alasan guru menggunakan alih kode dalam pengajaran bahasa Inggris. Alasan-alasan tersebut adalah kurangnya kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki oleh siswa, kurangnya rasa percaya diri siswa saat berpartisipasi di dalam prosess pembelajaran, guru berusaha untuk membuat siswa lebih mudah menangkap materi yang diajarkan, untuk menekankan poin-poin tertentu pada materi pelajaran, dan membantu guru saat menyampaikan materi pelajaran.Kata Kunci : Alih kode, guru laki-laki dan perempuan This research aimed at finding out code switching used by male and female English teachers of eighth grade at SMP Negeri 3 Sukasada. The subjects of this research were male and female teachers teaching English at SMP Negeri 3 Sukasada. To achieve the goal, the researcher used the qualitative descriptive design. The instruments used in this research were (1) tape recorder, (2) observation sheet, and (3) interview guide. The researcher collected the data through class observation using a digital tape recorder. The results of this study showed that both of male and female teachers used three types of code switching. Those were Intra-sentential code switching (13% and 5.7%), Inter-sentential code switching (55.1% and 62.3%), and Interpersonal code switching (31.9% and 32%). There were five functions used by male teacher. Those functions were emphasis, attention, clarification, sociolinguistics play, and instruction. The most dominant function used by male teacher was clarification function of code switching. Meanwhile, the most dominant function used by female teacher was emphasis function. There were several reasons of using code switching. Those reasons were the students had lack of registrar competence, students had lack of confidence to participate in teaching and learning process, teacher tried to make the students easier to catch the material, to emphasize particular point, and help the teacher easier to deliver the material.keyword : code switching, male and female teachers
A PRAGMATIC ANALYSIS OF THE ADVERTISING LANGUAGE IN THE BILLBOARD ADVERTISEMENTS ., Made Yebbie Bismantara; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3362

Abstract

Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana prinsip pragmatik digunakan pada bahasa periklanan dari iklan yang terpasang di billboard sekitaran kota Singaraja. Peneliti adalah instrumen kunci pada penelitian ini sebagai pengumpul data melalui teknik dokumentasi dan interview tak terikat. Ada 8 iklan yang dianalisis berdasarkan maxim kerja sama Grice dan maxim kesopanan Leech. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bahasa iklan yang dianalisis mematuhi maxim Quantity, Relevance dan Manner. Sementara itu, maxim yang sering dilanggar adalah maxim Quality. Mengenai analisis terhadap maxim kesopanan Leech, didapat bahwa maxim Tact dan Sympathy sangat sering diimplementasikan pada bahasa periklanan dari iklan yang terpasang di billboard sekitaran kota Singaraja.Kata Kunci : maxim kerja sama Grice, maxim kesopanan Leech dan bahasa periklanan The purpose of this qualitative research was to explain how pragmatic princples employed in the advertising language of billboard advertisement found around Singaraja city. The researcher was the key instrument in this study that collected the data by the technique of documentation and free interview. There were 8 advertisements analyzed on the basis of Grice’s Cooperative Principle maxims and Leech’s Politeness Principle Maxims. The findings showed that in terms of Grice’s maxims, most of the advertising language observed Quantity, Relevance and Manner maxim. Meanwhile, Quality maxim was mostly flouted. Regarding to Leech’s maxims, it was found that Tact and Sympathy maxim were the two maxims mostly implemented in the advertising language of billboard advertisement found around Singaraja city.keyword : Grice’s Cooperative Principle maxims, Leech’s Politeness Principle maxims and advertising language
AN ANALYSIS OF DERIVATIONAL AND INFLECTIONAL MORPHEME IN SILANGJANA DIALECT ., I Gede Erlan Cahaya Unggawan; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3363

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran di Silangjana Dialek yang mengalami proses derivasi dan infleksi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dua informan sampel Silangjana Dialek dipilih berdasarkan seperangkat kriteria. Data dikumpulkan berdasarkan tiga teknik, yaitu: observasi, teknik perekaman, dan wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada enam jenis prefiks di Silangjana Dialek; awalan {mΛ-}, {n-}, {} ŋ-, {ñ-}, {m-} dan {Λ}-. Ada tiga macam akhiran di Silangjana Dialek; akhiran {-ē}, {-Λŋ}, dan {}-In. Prefiks dan sufiks di Silangjana Dialek menjalani proses derivasi: prefix {mΛ-}, {n-}, dan {m-} dan sufiks {-Λŋ}, dan {-in}. Prefiks dan sufiks di Silangjana Dialek menjalani proses infleksional: prefix {n-}, {} ŋ-, {ñ-}, {m-}, dan {Λ}-dan akhiran {-ē}, {-Λŋ}, dan {-In}.Kata Kunci : derivasi, infleksi, dialek silangjana The study aimed at describing the prefixes and suffixes in Silangjana Dialect which undergo derivational and inflectional processes. This research is a descriptive qualitative research. Two informants sample of Silangjana Dialect were chosen based on a set of criteria. The data were collected based on three techniques, namely: observation, recording technique, and interview (listening and noting) technique. The results of the study showed that there were six kinds of prefixes in Silangjana Dialect; prefix {mΛ-}, {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {m-} and {Λ-}. There were three kinds of suffixes in Silangjana Dialect; suffix {-ē}, {-Λŋ}, and {-In}. Prefixes and suffixes in Silangjana Dialect undergo derivational process: prefix {mΛ-}, {n-}, and {m-} and suffix {-Λŋ}, and {-in}. Prefixes and suffixes in Silangjana Dialect undergo inflectional process: prefix {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {m-}, and {Λ-} and suffix {-ē}, {-Λŋ}, and {-In}.keyword : derivational, inflectional, morpheme and silangjana dialect
An Analysis of Pidgin English Used by Tourism Police at Lake Beratan Tourism Object, Bali ., Ni Putu Yeni Andriyani; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3364

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bentuk, makna, dan fungsi dari Pidgin English yang digunakan oleh Polisi Pariwisata saat berkomunikasi dengan wisatawan berbahasa Inggris. Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Wisata Danau Beratan, Bali. Tiga orang polisi dipilih sebagai subyek penelitian ini berdasarkan beberapa kriteria. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dimana data yang telah dikumpulkan dianalisa secara kualitatif. Peneliti merupakan intrumen yang digunakan dalam penelitian ini. The researcher is an instrument employed in this study. Dua buah alat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, yaitu perekam video dan panduan wawancara. Peneliti berperan sebagai non-participant observer dimana data dikumpulkan dengan cara merekam percakapan yang dilakukan oleh para subyek sebanyak 17 kali. Kemudian data ditranskrip dan dianalisa untuk menemukan bentuk, makna, dan fungsi dari Pidgin English. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dai Pidgin English yang digunakan oleh para polisi menyimpang dari bentuk yang biasa digunakan berkaitan dengan tata bahasa, pelafalan, sintaksis, dan kosa kata. Sementara itu, hasil menunjukkan bahwa makna Pidgin English bersifat ambigu karena tata bahasa menyimpang yang digunakan oleh para polisi. Derdasarkan teori Tighe (2007), fungsi bahasa yang digunakan oleh para polisi saat berkomunikasi dengan wisatawan berbahasa Inggris adalah menyapa, memperkenalkan diri, menanyakan informasi, menanyakan pendapat, memberikan informasi, memberikan petunjuk arah, berterima kasih, dan berpisah. Selain itu, ditemukan juga bahwa polisi yang diteliti juga menggunakan Pidgin English untuk mengungkapkan pujian, penawaran, dan permintaan maaf. Kata Kunci : Pidgin English, Polisi Pariwisata, Bentuk, Makna, Fungsi Bahasa This study was aimed at finding out the forms, meanings, and function of Pidgin English used by the Tourism Police when communicating with the English-speaking tourists. This study was conducted at Lake Beratan Tourism Object, Bali. Three police officers were chosen as the subjects of this study based on a set of criteria. This study was designed by using descriptive qualitative approach in which the data collected were analyzed qualitatively. The researcher is an instrument employed in this study. Two devices were used by the researcher to collect the data, namely video recorder and interview guide. The researcher acted as non-participant observer in which the data were gathered by recording the conversation done by the subjects for 17 times. The data, then, were transcribed and analyzed to find out the form, meaning, and function of Pidgin English. The result of the data analysis showed that the form of Pidgin English used by the police officers was a deviation from what is normally used in terms of grammar, pronunciation, syntax, and vocabulary. Meanwhile, the result shows that the meaning of Pidgin English is ambiguous because of the incorrect grammar used by the police officers. Based on theory from Tighe (2007), the language functions used by the police officers when communicating with the English-speaking tourists are greeting, introducing, asking information, asking opinion, giving information, giving direction, thanking and leave-taking. Besides, it was also found that the police officers under study also used Pidgin English to express praises, offers, and apologizes.keyword : Pidgin English, Tourism Police, Form, Meaning, Language Function.
THE EFFECT OF SCRIPTED SONGS UPON THE ENGLISH COMPETENCE OF FOURTH GRADE ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS (An Experimental Study toward the Students of SD Negeri 4 Padangkerta in the Academic Year 2013/2014) ., Ni Kadek Suartini; ., Dra.Ni Made Ratminingsih, MA; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3365

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengungkap ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan teknik lagu-lagu kreasi dan siswa yang diajar menggunakan teknik konvensional dalam hal kompetensi berbahasa Inggris. Desain penelitian ini menggunakan Post-Test Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini melibatkan seluruh siswa kelas empat sekolah dasar di SD Negeri 4 Padangkerta pada tahun ajaran 2013/2014. Kelas IV A dan kelas IV B terpilih sebagai sampel melalui teknik Cluster Random Sampling. Sampel penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu, kelompok experimen dan kelompok kontrol,yang masing- masing diajar menggunakan teknik yang berbeda. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari hasil post-test sesudah pengajaran dilakukan. Hasil tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Hasil dari analisis deskriptif menunjukkan bahwa kelompok experimen memperoleh nilai rata-rata 82, sementara kelompok kontrol memperoleh nilai rata-rata 73. Hasil dari analisis inferensial melalui uji-t menunjukan nilai dari to (t-hitung) yaitu 4.034, melampaui nilai dari tcv (t-tabel) yaitu 1.99 (dengan level signifikan 5%). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kompetensi berbahasa Inggris kelompok experimen dan kelompok kontrol. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan lagu-lagu kreasi sebagai teknik dalam pengajaran Bahasa Inggris memiliki pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan teknik konvensional.Kata Kunci : kompetensi berbahasa Inggris, lagu-lagu kreasi This is research was an experimental research which concerned on revealing whether or not there was a significance difference in students’ English competence taught by using scripted songs and conventional technique. The design of this research was Post-Test Only Control Group Design. The population of the study was all fourth grade students of SD Negeri 4 Padangkerta in the academic year 2013/2014. Class IV A and class IV B were chosen as the sample through Cluster Random Sampling. The samples were divided into two groups, experimental group and control group, which were given different treatment. The data in this research were obtained from the result of posttest after the treatments were given and were analyzed further descriptively and inferentially. The result from descriptive analysis showed that the experimental group achieved higher mean score in English competence than the control group, in which the mean score of experimental group was 82 and the mean score of control group was 73. The result of the inferential statistical analysis through independent sample t-test showed that value of to (t-observed) was 4.034, exceeding value of tcv (t-critical value) at 1.99 (significance level 5%). Those results concluded that there was a significant difference between the experimental group and the control group, in which scripted songs as a technique for teaching English affected better than conventional technique.keyword : English competence, scripted songs
THE EFFECT OF SOCIAL INTERACTIVE WRITING METHOD ON THE STUDENT'S WRITING COMPETENCY AT EIGHTH GRADE OF SMP NEGERI 3 SAWAN IN THE ACADEMIC YEAR 2013/2014 ., Putu Perwita Hasri; ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha; ., Ni LP. Eka Sulistia Dewi, S.Pd. M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3366

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Metode Menulis Sosial Interaktif terhadap kemampuan menulis siswa. Penelitian ini menggunakan Randomized Posttest-Only Control Group Design yang terdiri dari 56 siswa. Instrumen dianalisis secara deskriptif dan inferential. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa siswa yang diajarkan menggunakan Metode Menulis Sosial Interaktif lebih baik daripada siswa yang diajarkan menggunakan metode konvesional. Hal ini terbukti, nila rata-rata (X ̅) dari kelompok eksperimental yaitu 87.64 sedangkan kelompok kontrol yaitu 67.92. Dari hasil analisis menggunakan statistik inferensial, telah ditemukan bahwa nilai observasi (tob) adalah 12.012. Nilai ini lebih tinggi dari nilai kritis (tcv) yaitu 1.64 (ɑ = .05). Hal ini jelas terlihat jika nilai observasi (tob) lebih besar dari dari nilai kritis (tcv) setelah dibandingkan nilai observasi (tob) dengan nilai kritis (tcv). Kesimpulannya, hipotesis alternatif diterima. Oleh karena itu, pengaplikasian Metode Menulis Sosial Interaktif telah memberikan efek yang signifikan terhadap kemampuan menulis siswa. Kata Kunci : Metode Menulis Sosial Interaktif, Kemampuan Menulis This study aimed at investigating the effect of Social Interactive Writing Method on the students’ writing competency. Randomized Posttest-Only Control Group Design was applied in this study which consists of 56 students. The instruments were analyzed descriptively and inferentially. The result of the analysis shows that the students who were taught by using Social Interactive Writing Method better than the students who were taught by using Conventional Method. It had been proven from the mean score was 87.64 while the control group was 67.92. Furthermore, from the analysis by using inferential statistic, it was found that the value of t observed (tob) was 12.012. It was higher than t critical value (tcv) which was 1.64 (ɑ = .05). After comparing t observed and t critical value, it was clear that t observed (tob) exceeded t critical value (tcv). In conclusion, the alternative hypothesis was accepted. Therefore, it could be confirmed that the application of Social Interactive Writing Method gave significant effect toward students’ writing competency. keyword : Social Interactive Writing Method, Writing competency
THE VERB-FORMING AFFIXATION IN SIDETAPA DIALECT OF BALINESE: A MORPHOPHONEMIC ANALYSIS ., Ni Kadek Ariasih; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3367

Abstract

The study aimed at discovering data and information about the number of prefixes and suffixes found in Sidetapa Dialect of Balinese (SDB) having role in constructing verb. This study was designed by using descriptive qualitative approach. The main informant of this study was one family which was chosen based on certain criteria. The data was collected by means of word lists: Swadesh, Nothofer, Holle, and Budasi and sentence list. Some natural speeches produced among family member with their neighbors and friends were also recorded. The obtained data were analyzed descriptively. The result revealed that there were two prefixes having role in constructing verb, namely: prefix {ma- and N-} and three suffixes {-ng, -a, and -na}. All of the prefixes experienced morphophonemic process in certain condition. Prefix {ma-} underwent morphophonemic process in the form of deleting phoneme /a/ in prefix {ma-} itself when it was added into any base which had an initial vowel. And prefix {N-} was indicated by its change into some allomorphs namely: |n-|, |ny-|, |ng-|, |m| when they were attached into a particular base. Meanwhile the suffix experiencing morphophonemic process was suffix {-ang}. Each prefix and suffix had more than one meaning depending on the bases attached into it. The usage of each prefix and suffix was also different. It is expected that this study can be used as a reference for the other researchers that interest in exploring more about SDB, especially the availability of the affixes and their changes. Kata Kunci : prefix, suffix, verb formation, morphophonemic process, Sidetapa Dialect of Balinese Penelitian ini bertujuan untuk menemukan data dan informasi tentang jumlah awalan dan akhiran yang mempunyai peran untuk membentuk kata kerja dalam dialek Sidetapa. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif. Informan utama dalam penelitian ini yaitu satu keluarga yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Data dikumpulkan dengan menggunakan daftar kata yang disusun oleh: Swadesh, Nothofer, Holle, and Budasi, daftar kalimat. Beberapa percakapan antara anggota keluarga, anggota keluarga dengan temannya dan juga dengan tetangganya juga direkam. Data yang sudah diperoleh dianalis secara deskriptif. Hail penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua awalan yang memiliki peran untuk membuat kata kerja yaitu awalan {ma- and N-} dan tiga akhiran {-ng, -a, and -na}. Semua awalan tersebut mengalami proses morpofonemik dalam beberapa kondisi tertentu. Awalan {ma-} mengalami proses morpofonemik yang ditandai dengan penghilangan fonem [a] terhadap awalan {ma-} itu sendiri ketika awalan tersebut digabungkan dengan kata dasar yang berinisial vowel. Sedangkan awalan{N-}dicirikan dengan allomorph yang dimilikinya yaitu |n-|, |ny-|, |ng-|, |m| ketika digabungkan dengan kata dasar tertentu. Sedangkan akhiran yang mengalami proses morpofonemik yaitu akhirin {-ang}. Masing-masing awalan maupun akhiran memiliki makna yang bervariasi tergantung dari kata dasar yang dilekatkan. Penggunaanya dari masing-masing awalan maupun akhiran tersebut jga berbeda-beda. Penulis sangat berharap agar penelitian ini bisa dijadikan sebagai acuan bagi peneliti-peneliti lain yang tertarik untuk mengksplor lebih dalam lagi tentang dialek Sidetapa khusunya keberadaan imbuhan-imbuhan dan perubahannya. keyword : awalan, akhiran, pembentukan kata kerja, proses morpofonemik, dialek Sidetapa
THE ANALYSIS OF GRAMMATICAL COHESIVE DEVICES IN THE EIGHTH GRADE STUDENTS’ WRITING OF SMP N 1 SINGARAJA ., I Komang Oka Agustiyana; ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha; ., Ni LP. Eka Sulistia Dewi, S.Pd. M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3368

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe-tipe Grammatical Cohesive Devices dan Error yang ditemukan dalam karangan Recount siswa kelas delapan SMP N 1 Singaraja. Karangan siswa dianalisa menggunakan teori Halliday dan Hasan (1976). dalam jumlah terbatas, sejumlah enam belas karangan Recount siswa dianalisis dalam penggunaan grammatical cohesive devices. Terdapat 339 penggunaan grammatical cohesive devices dalam karangan siswa. Siswa sebagian besar menggunakan Conjunction (Kata Pennghubung) dalam karangan recount untuk membuat karangan yang cohesive. Penggunaan kata penghubung merupakan yang terbayak. Sebesar 49.85%, dengan penggunaan sebanyak 169 penggunaan. Penggunaan Reference (Kata Acuan) sebesar 41.30% atau 140 temuan penggunaan. Penggunaan Ellipsis (Elipsis) sebesar 8.85%, atau 30 kali penggunaan. Namun demikian, penggunaan Substitution (Substitusi) tidak ditemukan penggunaannya dalam karangan siswa. Hasil temuan menunjukkan dari 339 penggunaan, 94.40% atau 320 penggunaan grammatical cohesive devices digunakan dengan tepat. Sedangkan 5.60% atau 19 error ditemukan dalam karangan Recount siswa. Error yang ditulis oleh siswa berupa penggunaan Reference 47.37%, atau sebanyak 9 penggunaan. Error dalam penggunaan Ellipsis dan Conjunction masing-masing 5 penggunaan yang sebanding dengan 52.63%.Kata Kunci : reference, substitution, ellipsis, conjunction, grammatical cohesive devices The purposes of the study were to identify kinds of grammatical cohesive devices and errors found in the eighth grade students’ recount writing of SMP N 1Singaraja. The analysis was based on Halliday and Hasan’s theory (1976). There were sixteen students’ recount writings analyzed restrictively on the grammatical cohesive devices use. There were 339 grammatical cohesive devices occurrences found in the students’ writing. The students used Conjunction dominantly in Recount to create cohesion in their writing. The use of conjunction was the biggest one. It was 49.85%, with 169 occurrences. The use of reference was 41.30%, or 140 occurrences. The use of ellipsis was found 8.85%, or 30 occurrences. However, the use of Substitution was not found in the students’ writing. The results of the findings show from the 339 occurrences, the appropriately used grammatical cohesive devices are 94.40% or 320 occurrences. Meanwhile, there are 5.60% or 19 errors appeared on the students’ recount writing. The errors are produced in the use of Reference 47.37%, or equal to 9 occurrences. The error use of Ellipsis and Conjunction contribute 5 errors each which are equal to 52.63%.keyword : reference, substitution, ellipsis, conjunction, grammatical cohesive devices
AN ANALYSIS OF COMMUNICATION STRATEGIES IN EFL TEACHING AND LEARNING AT XI IPA 1 IN SMA NEGERI 1 KUTA UTARA ., Ni Wayan Novita Yuliantari; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3369

Abstract

Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menemukan (1) tipe dari communication strategies yang digunakan oleh guru dan siswa selama proses belajar mengajar Bahasa Inggris, (2) tipe communication strategies yang paling banyak digunakan oleh guru dan siswa, (3) alasan dalam menggunakan communication strategies di proses belajar dan mengajar. Subyek penelitian ini adalah guru Bahasa Inggris dan siswa dari kelas XI IPA 1 di SMA Negeri 1 Kuta Utara. Sementara itu, obyek penelitian adalah communication strategies yang digunakan oleh guru dan siswa selama proses belajar dan mengajar Bahasa Inggris. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa guru menggunakan sembilan tipe dari communication strategies berdasarkan Dornyei’s theory sebagai berikut message abandonment, circumlocution, approximation, use of all-purpose words, prefabricated patterns, non-linguistic signals, literal translation, code switching, dan time-gaining strategy. Sementara itu, ada sebelas tipe dari communication strategies yang digunakan oleh siswa, antara lain message abandonment, topic avoidance, circumlocution , approximation, word coinage, prefabricated patterns, non-linguistic signals, literal translation, code switching, appeal for help, dan time-gaining strategy. Communication strategy yang paling banyak digunakan oleh guru dan siswa adalah code switching dan time-gaining strategy. Ada dua alasan utama guru dalam penggunaan communication strategies yaitu untuk membantu siswa memahami pelajaran dan menghindari kesalahpahaman dalam penguasaan materi. Sementara itu siswa menggunakan communication strategies dikarenakan oleh kesulitan bahasa dan ketakutan untuk membuat kesalahan. Kata Kunci : communication strategies, Dornyei’s theory, EFL This descriptive qualitative study aimed at finding out (1) the types of communication strategies which were used by the teacher and the students during English as Foreign Language (EFL) teaching and learning, (2) the types of communication strategies used most frequently by the teacher and the students, (3) the reasons of using the communication strategies in EFL teaching and learning process. The subjects were the English teacher and the students of XI IPA 1 of SMA Negeri 1 Kuta Utara. Meanwhile, the object of this study was communication strategies used by the teacher and the students during EFL teaching and learning. The results of this study showed that the teacher applied nine types of communication strategies based on Dornyei’s theory, namely, message abandonment, circumlocution, approximation, use of all-purpose words, prefabricated patterns, non-linguistic signals, literal translation, code switching, and time-gaining strategy. Meanwhile, there were eleven types of communication strategies which were used by the students, namely message abandonment, topic avoidance, circumlocution , approximation, word coinage, prefabricated patterns, non-linguistic signals, literal translation, code switching, appeal for help, and time-gaining strategy. The communication strategies that were most frequently used by the teacher and the students, i.e. code switching and time-gaining strategy. There were two main reasons of the teacher using communication strategies, namely in order to help the students to comprehend the lesson and to avoid misunderstanding or misconception. On the other hand the students’ reasons were because of language difficulty and anxiety in making mistakes. keyword : communication strategies, Dornyei’s theory, EFL
ENGLISH TEXTBOOK AND STUDENT WORKSHEET USED FOR ENGLISH SUBJECT FOR THE SEVENTH GRADE STUDENTS IN SMP NEGERI 3 SINGARAJA IN THE ACADEMIC YEAR 2013/2014: AN ANALYSIS FROM THEORIES, TEACHERS’ AND STUDENTS’ PERCEPTION ., Gusti Agung Ayu Made Indah Pradnyawati; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksankan untuk mengidentifikasi tentang buku ajar dan LKS Bahasa Inggris yang digunakan untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Singaraja tahun ajaran 2013/2014 sebagai materi pembelajaran yang baik berdasarkan analisis teori, persepsi guru dan siswa dan juga untuk mengidentifikasi perbedaan pandangan tentang kualitas dari buku ajar dan LKS tersebut. Sedangkan, subyek penelitian ini adalah 2 orang penelaah ahli (mereka adalah 2 dosen dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UNDIKSHA), 2 orang penelaah pengguna (dalam hal ini 2 guru pengajar kelas 7 di SMP Negeri 3 Singaraja) dan pengguna (100 siswa yang dipilih dari selurus siswa kelas 7 di SMP Negeri 3 Singaraja tahun ajaran 2013/2014). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan dilakukan diluar pelajaran dalam kelas. Data dikumpulkan melalui pengisian ceklist oleh kedua penilai, pengisian kuesioner oleh guru dan siswa. Data yang diperoleh merupakan hasil ceklist dari para ahli, dan kuesioner dari pengguna. Lalu data-data tersebut dianalisis dan disampaikan secara deskriptif. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa buku ajar dan LKS Bahasa Inggris yang digunakan di SMP Negeri 3 Singaraja tahun ajaran 2013/2014 telah memenuhi kriteria dari materi pembelajaran yang baik yang dibuat oleh Nitiasih, dkk. (2010). Berdasarkan persepsi dari ahli, guru dan siswa, hasilnya menunjukkan bahwa materi pembelajaran ini “Baik” untuk digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Akan tetapi, seperti Sharma (2008) katakan bahwa terdapat 4 faktor yang memepengaruhi persepsi seseorang seperti: diri sendiri, situasi dan lingkungan, pengalaman, dan juga keinginan dan harapan seseorang. Itulah yang memunculkan perbedaan persepsi pada beberapa aspek diantara para ahli, guru dan siswa. Ini menunjukkan adanya penilaian subyektifitas karena pandangan yang menyebabkan persepsi pribadi sesorang. Sehingga, sangatlah diperlukan agar guru memiliki kemampuan dan kewenangan untuk melaksanakan pembelajaran dengan kualitas baik. Itu dapat dilakukan dengan memiliki acuan untuk memilih dan menggunakan materi pembelajaran yang baik bagi siswanya. Kata Kunci : materi pembelajaran, buku ajar, LKS, persepsi, dan perbedaan pandangan This study was conducted to identify about the English Textbook and Student worksheet used in SMP Negeri 3 Singaraja in the academic year of 2013/2014 as good learning materials according to the theories, teachers’ and students’ perception and also to find out the discrepancy in the perceptions about quality of the textbook and student worksheet. The subjects of this study were two expert judges (they were 2 lecturers of English Education Department of UNDIKSHA), two user judges (they were 2 teachers who taught the seventh grade students at SMP Negeri 3 Singaraja) and users (100 students of the seventh grade students at SMP Negeri 3 Singaraja in the academic year of 2013/2014). This study was a qualitative study and was conducted outside of the classroom. The data were obtained through filling the checklist by both judges and the questionnaires for user judges and users. The data collected were the result of judges’ checklist and users’ questionnaire. Then, the data obtained were descriptively analyzed. The findings of the study showed the English Textbook and Students Worksheet used in SMP Negeri 3 Singaraja in the academic year of 2013/2014 met the criteria of a good material according to theories proposed by Nitiasih et.al (2010). According to the two experts, teachers and students, the result showed those learning materials were “Good” to be used for teaching English. However, as Sharma (2008) said there were four factors affecting personal perception, such as: the perceiver itself, the situation and environment, past experience, and also the personal target and desire. It made some discrepancies occured between experts, teachers and students. It made there was a demonstration of subjectivity because personal view caused personal perception. Thus, there is a need to equip teachers with ability and the authority to do effort in the attempt to established good quality learning. It could be done by having guidance to select and use good learning materials to the students. keyword : learning materials, textbook, student worksheet, perception, and discrepancy

Page 7 of 188 | Total Record : 1873