cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 1,873 Documents
THE QUALITATIVE EVIDENCES THAT DIFFERENTIATE PELAGA AND TAMBAKAN DIALECTS: A CONTRASTIVE STUDY ., Putu Bagus Mahardika; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3358

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedakan sistem fonologi antara dialek Pelaga (PD) dan Tambakan (TD) dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Subjek dari penelitian ini adalah dialek Pelaga dan Tambakan. Penelitian ini merupakan jenis dari penelitian konstrastif. Sistem fonologi dari kedua dialek dipaparkan pertamanya. Data dipaparkan menggunakan 3 jenis wordlist (Swadesh, Budasi, dan Holle) yang dikumpulkan menggunakan teknik perekaman dan pencatatan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dari kedua dialek. Dalam hal fonem, PD memiliki 55 dan TD memiliki 48. Sementara itu, distribusi dari vokal kedua dialek menunjukkan perbedaan, walaupun jumlah keduanya sama. PD dan TD memiliki jumlah diftong yang sama, yakni 9. Dari 19 konsonan kedua dialek, kebanyakan memiliki distribusi yang lengkap. Namun, konsonan /ʔ/ dalam PD muncul di posisi tengah dan akhir, sementara dalam TD hanya muncul di posisi akhir. Dalam hal gugus konsonan, PD memiliki 17 dan TD hanya 11. Dalam pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, fonem bahasa Inggris /ӕ/, /ɒ/, /ɜ/, /ɑ/, /ɑI/, /ɑʊ/, /f/, /v/, /ɵ/, /ð/, /z/, /ʃ/, /ʤ/ dan semua triftong menjadi kendala dalam pengucapannya oleh orang-orang Pelaga dan Tambakan.Kata Kunci : bukti-bukti kualitatif, dialek Pelaga, dialek Tambajan, penelitian kontrastif The study aimed at contrasting the phonological systems of Pelaga Dialect (PD) and Tambakan Dialect (TD) and its implication to learning English as a foreign language. The subjects of this study were Pelaga and Tambakan dialects. This study was a contrastive research. The phonological systems of both dialects were firstly described. The obtained data in the form of wordlists (Swadesh, Budasi, and Holle) were collected through recording and listening and noting techniques. The result of the study shows that PD and TD have differences. In terms of phonemes, it was found that PD had 55 phonemes and TD had 48 phonemes. In term of vowel, the distribution of the vowels is different, although they have the same number of it. PD has 9 diphthongs and TD also has 9 diphthongs. From the 19 consonants of both dialects, most of the consonant have complete distribution. There is only the distribution of consonant /ʔ/ that differentiates both dialects in which in PD consonant /ʔ/ appears in the middle and final position, while in TD it appears in the final position only. In term of consonant cluster, PD has 17 consonant clusters and TD only has 11 consonant clusters. On the implication to learning English as a foreign language, English phonemes /ӕ/, /ɒ/, /ɜ/, /ɑ/, /ɑI/, /ɑʊ/, /f/, /v/, /ɵ/, /ð/, /z/, /ʃ/, /ʤ/ and all of the English triphthong are difficult to be pronounced by people in Pelaga and Tambakan.keyword : qualitative evidences, Pelaga dialect, Tambakan dialect, contrastive study
AN ANALYSIS OF DERIVATIONAL AND INFLECTIONAL MORPHEMES OF TENGANAN PEGRINGSINGAN DIALECT ., Ni Nyoman Trisna Utami; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., I Putu Ngurah Wage M, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3359

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses derivasi dan infleksi di Dialek Tenganan Pegringsingan (DTP). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dua informan dari Tenganan Pegringsingan telah dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Data dikumpulkan berdasarkan tiga teknik, yaitu: observasi, teknik perekaman dan teknik wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 3 awalan di DTP; awalan {ma-}, {N-}, dan {a-}. Ada tiga jenis akhiran di DTP; akhiran {-e}, {-ang}, dan {-in}. Awalan dan akhiran di Dialek Tenganan Pegringsingan yang termasuk derivasi adalah awalan {ma-}, {N-}, and and suffix {-ang}, dan {-in}. Awalan dan akhiran di Dialek Tenganan Pegringsingan yang temasuk infleksi adalah awalan {N-}, and {a-} and suffix {-ǝ}, {-ang}, and {-in}.Kata Kunci : derivasi, morfem infleksi, dialek Tenganan Pegringsingan The study aimed at describing derivational and inflectional processes in Tenganan Pegringsingan Dialect (TPD). This research is a kind of linguistics research which is design in descriptive qualitative research. Two informants sample of TPD were chosen based on a set of criteria. The data were collected based on three techniques, namely observation, recording technique and interview (listening and noting) technique. The result of the study showed that there were three kinds of prefixes in Tenganan Pegringsingan Dialect; prefix {ma-}, {N-}, and {a-}. There were three kinds of suffixes in Tenganan Pegringsingan Dialect; suffix {-e}, {-ang}, and {-in}. Prefixes and suffixes in TPD having derivational process were: prefix {ma-}, {n-}, and suffix {-ang}, and {-in}. Prefixes and suffixes in TPD having inflectional process were: prefix {N-}, and {a-} and suffix {-ǝ}, {-ang}, and {-in}.keyword : Derivational, Inflectional, Morpheme and Tenganan Pegringsingan Dialect (TPD)
THE EFFECT OF THE TRANSITION-ACTION- DETAILS AND ACTION-FEELINGS-SETTING STRATEGIES ON STUDENTS’ WRITING COMPETENCY AT TENTH GRADE STUDENTS OF SMA N 1 SAWAN ., Ni Kadek Widiantari; ., Drs. Asril Marjohan,MA; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3360

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh dari strategi pembelajaran Transition-Action-Details (TAD) dan Action-Feelings-Setting (AFS) terhadap kompetensi menulis siswa. Lima puluh dua orang siswa kelas X dari SMA Negeri 1 Sawan dipilih sebagai sampel melalui Cluster Random Sampling. Randomized Pretest- Posttest Control Group Design diterapkan dalam penelitian ini. Prates diterapkan sebelum perlakuan setelah perlakuan, pascates diberikan untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan. Dikarenakan desain penelitian adalah Randomized Pretest- Posttest Control Group, nilai prates dan pascates diubah ke dalam gain skor ternormalisasi. Kemudian gain skor ternormalisasi dianalisis menggunakan uji-t. Dari data yang dianalisis secara deskriptif dan inferensial diperoleh rata-rata nilai gain skor ternormalisasi dari kelompok eksperimen X (TAD) sebesar 0,55 dan kelompok eksperimen Y (AFS) sebesar 0,4. Hasil dari uji-t juga menunjukkan nilai tobs adalah 7,081 sedangkan nilai dari tcv adalah 2,06. Penelitian ini menemukan bahwa ada perbedaan nilai yang signifikan antara para siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran TAD dan siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran AFS dalam kemampuan menulis. Siswa yang diajarkan dengan strategi TAD memperoleh kemampuan menulis yang lebih baik daripada siswa yang diajarkan menggunakan strategi AFS.Kata Kunci : Action-Feelings-Setting (AFS, Kompetensi Menulis, Transition-Action-Details (TAD) This study aimed at investigating the effect of the Transition-Action-Details (TAD) and Action-Feelings-Setting (AFS) Strategies on students’ writing competency. 52 students at tenth grade of SMA N 1 Sawan were chosen as the sample through Cluster Random Sampling. The Randomized Pretest-Posttest Control Group Design was implemented in this study. Pretest was administrated before the treatment then after the treatment, posttest was administrated to find out the impact of the treatment. Because the research design was The Randomized Pretest-Posttest Control Group Design, the pretest and posttest scores were transformed into normalized gain score. The normalized gain score were then analyzed by using t-Test. From the data that were analyzed descriptively and inferentially, it was obtained that the mean normalized gain score of Exp. Group X (TAD) is 0.55 and Exp. Group Y (AFS) is 0.4 while, the result of t-Test showed that the value of tobs is 7.081 and tcv is 2.06. This study discovered that there is significant difference between the students taught by using TAD and those taught by using AFS strategies on students’ writing competency, the students taught by using TAD have better writing competency than those taught by using AFS.keyword : Action-Feelings-Setting (AFS, Transition-Action-Details (TAD), Writing Competency
AN ANALYSIS ON CODE-SWITCHING USED BY MALE AND FEMALE TEACHERS AS A TEACHING STRATEGY IN TEACHING LEARNING EFL AT SMP NEGERI 3 SUKASADA ., Ni Kadek Deni Nitiasih; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alih kode yang digunakan oleh guru bahasa Inggris pria dan wanita di SMP Negeri 3 Sukasada. Subyek penelitian ini adalah guru laki-laki dan perempuan yang mengajar bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Sukasada. Untuk mencapai tujuan penelitian, peneliti menggunakan desain deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) perekam suara, (2) lembar observasi, dan (3) pedoman wawancara. Peneliti mengumpulkan data melalui observasi kelas menggunakan perekam suara digital. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru laki-laki dan perempuan menggunakan tiga jenis alih kode. Ketiga jenis tersebut adalah alih kode intra-sentensial (13% dan 5,7%), alih kode inter-sentensial (55,1% dan 62,3%), dan alih kode Interpersonal (31,9% dan 32%). Ada 5 fungsi alih kode yang digunakan oleh guru laki-laki. Fungsi-fungsi tersebut adalah emphasis, attention, clarification, sociolinguistics play, dan instruction. Fungsi yang paling dominan digunakan oleh guru laki-laki adalah fungsi clarification. Sementara itu, fungsi yang paling dominan digunakan oleh guru wanita adalah fungsi emphasis. Ada beberapa alasan guru menggunakan alih kode dalam pengajaran bahasa Inggris. Alasan-alasan tersebut adalah kurangnya kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki oleh siswa, kurangnya rasa percaya diri siswa saat berpartisipasi di dalam prosess pembelajaran, guru berusaha untuk membuat siswa lebih mudah menangkap materi yang diajarkan, untuk menekankan poin-poin tertentu pada materi pelajaran, dan membantu guru saat menyampaikan materi pelajaran.Kata Kunci : Alih kode, guru laki-laki dan perempuan This research aimed at finding out code switching used by male and female English teachers of eighth grade at SMP Negeri 3 Sukasada. The subjects of this research were male and female teachers teaching English at SMP Negeri 3 Sukasada. To achieve the goal, the researcher used the qualitative descriptive design. The instruments used in this research were (1) tape recorder, (2) observation sheet, and (3) interview guide. The researcher collected the data through class observation using a digital tape recorder. The results of this study showed that both of male and female teachers used three types of code switching. Those were Intra-sentential code switching (13% and 5.7%), Inter-sentential code switching (55.1% and 62.3%), and Interpersonal code switching (31.9% and 32%). There were five functions used by male teacher. Those functions were emphasis, attention, clarification, sociolinguistics play, and instruction. The most dominant function used by male teacher was clarification function of code switching. Meanwhile, the most dominant function used by female teacher was emphasis function. There were several reasons of using code switching. Those reasons were the students had lack of registrar competence, students had lack of confidence to participate in teaching and learning process, teacher tried to make the students easier to catch the material, to emphasize particular point, and help the teacher easier to deliver the material.keyword : code switching, male and female teachers
A PRAGMATIC ANALYSIS OF THE ADVERTISING LANGUAGE IN THE BILLBOARD ADVERTISEMENTS ., Made Yebbie Bismantara; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3362

Abstract

Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana prinsip pragmatik digunakan pada bahasa periklanan dari iklan yang terpasang di billboard sekitaran kota Singaraja. Peneliti adalah instrumen kunci pada penelitian ini sebagai pengumpul data melalui teknik dokumentasi dan interview tak terikat. Ada 8 iklan yang dianalisis berdasarkan maxim kerja sama Grice dan maxim kesopanan Leech. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bahasa iklan yang dianalisis mematuhi maxim Quantity, Relevance dan Manner. Sementara itu, maxim yang sering dilanggar adalah maxim Quality. Mengenai analisis terhadap maxim kesopanan Leech, didapat bahwa maxim Tact dan Sympathy sangat sering diimplementasikan pada bahasa periklanan dari iklan yang terpasang di billboard sekitaran kota Singaraja.Kata Kunci : maxim kerja sama Grice, maxim kesopanan Leech dan bahasa periklanan The purpose of this qualitative research was to explain how pragmatic princples employed in the advertising language of billboard advertisement found around Singaraja city. The researcher was the key instrument in this study that collected the data by the technique of documentation and free interview. There were 8 advertisements analyzed on the basis of Grice’s Cooperative Principle maxims and Leech’s Politeness Principle Maxims. The findings showed that in terms of Grice’s maxims, most of the advertising language observed Quantity, Relevance and Manner maxim. Meanwhile, Quality maxim was mostly flouted. Regarding to Leech’s maxims, it was found that Tact and Sympathy maxim were the two maxims mostly implemented in the advertising language of billboard advertisement found around Singaraja city.keyword : Grice’s Cooperative Principle maxims, Leech’s Politeness Principle maxims and advertising language
AN ANALYSIS OF DERIVATIONAL AND INFLECTIONAL MORPHEME IN SILANGJANA DIALECT ., I Gede Erlan Cahaya Unggawan; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3363

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran di Silangjana Dialek yang mengalami proses derivasi dan infleksi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dua informan sampel Silangjana Dialek dipilih berdasarkan seperangkat kriteria. Data dikumpulkan berdasarkan tiga teknik, yaitu: observasi, teknik perekaman, dan wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada enam jenis prefiks di Silangjana Dialek; awalan {mΛ-}, {n-}, {} ŋ-, {ñ-}, {m-} dan {Λ}-. Ada tiga macam akhiran di Silangjana Dialek; akhiran {-ē}, {-Λŋ}, dan {}-In. Prefiks dan sufiks di Silangjana Dialek menjalani proses derivasi: prefix {mΛ-}, {n-}, dan {m-} dan sufiks {-Λŋ}, dan {-in}. Prefiks dan sufiks di Silangjana Dialek menjalani proses infleksional: prefix {n-}, {} ŋ-, {ñ-}, {m-}, dan {Λ}-dan akhiran {-ē}, {-Λŋ}, dan {-In}.Kata Kunci : derivasi, infleksi, dialek silangjana The study aimed at describing the prefixes and suffixes in Silangjana Dialect which undergo derivational and inflectional processes. This research is a descriptive qualitative research. Two informants sample of Silangjana Dialect were chosen based on a set of criteria. The data were collected based on three techniques, namely: observation, recording technique, and interview (listening and noting) technique. The results of the study showed that there were six kinds of prefixes in Silangjana Dialect; prefix {mΛ-}, {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {m-} and {Λ-}. There were three kinds of suffixes in Silangjana Dialect; suffix {-ē}, {-Λŋ}, and {-In}. Prefixes and suffixes in Silangjana Dialect undergo derivational process: prefix {mΛ-}, {n-}, and {m-} and suffix {-Λŋ}, and {-in}. Prefixes and suffixes in Silangjana Dialect undergo inflectional process: prefix {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {m-}, and {Λ-} and suffix {-ē}, {-Λŋ}, and {-In}.keyword : derivational, inflectional, morpheme and silangjana dialect
An Analysis of Pidgin English Used by Tourism Police at Lake Beratan Tourism Object, Bali ., Ni Putu Yeni Andriyani; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3364

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bentuk, makna, dan fungsi dari Pidgin English yang digunakan oleh Polisi Pariwisata saat berkomunikasi dengan wisatawan berbahasa Inggris. Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Wisata Danau Beratan, Bali. Tiga orang polisi dipilih sebagai subyek penelitian ini berdasarkan beberapa kriteria. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dimana data yang telah dikumpulkan dianalisa secara kualitatif. Peneliti merupakan intrumen yang digunakan dalam penelitian ini. The researcher is an instrument employed in this study. Dua buah alat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, yaitu perekam video dan panduan wawancara. Peneliti berperan sebagai non-participant observer dimana data dikumpulkan dengan cara merekam percakapan yang dilakukan oleh para subyek sebanyak 17 kali. Kemudian data ditranskrip dan dianalisa untuk menemukan bentuk, makna, dan fungsi dari Pidgin English. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dai Pidgin English yang digunakan oleh para polisi menyimpang dari bentuk yang biasa digunakan berkaitan dengan tata bahasa, pelafalan, sintaksis, dan kosa kata. Sementara itu, hasil menunjukkan bahwa makna Pidgin English bersifat ambigu karena tata bahasa menyimpang yang digunakan oleh para polisi. Derdasarkan teori Tighe (2007), fungsi bahasa yang digunakan oleh para polisi saat berkomunikasi dengan wisatawan berbahasa Inggris adalah menyapa, memperkenalkan diri, menanyakan informasi, menanyakan pendapat, memberikan informasi, memberikan petunjuk arah, berterima kasih, dan berpisah. Selain itu, ditemukan juga bahwa polisi yang diteliti juga menggunakan Pidgin English untuk mengungkapkan pujian, penawaran, dan permintaan maaf. Kata Kunci : Pidgin English, Polisi Pariwisata, Bentuk, Makna, Fungsi Bahasa This study was aimed at finding out the forms, meanings, and function of Pidgin English used by the Tourism Police when communicating with the English-speaking tourists. This study was conducted at Lake Beratan Tourism Object, Bali. Three police officers were chosen as the subjects of this study based on a set of criteria. This study was designed by using descriptive qualitative approach in which the data collected were analyzed qualitatively. The researcher is an instrument employed in this study. Two devices were used by the researcher to collect the data, namely video recorder and interview guide. The researcher acted as non-participant observer in which the data were gathered by recording the conversation done by the subjects for 17 times. The data, then, were transcribed and analyzed to find out the form, meaning, and function of Pidgin English. The result of the data analysis showed that the form of Pidgin English used by the police officers was a deviation from what is normally used in terms of grammar, pronunciation, syntax, and vocabulary. Meanwhile, the result shows that the meaning of Pidgin English is ambiguous because of the incorrect grammar used by the police officers. Based on theory from Tighe (2007), the language functions used by the police officers when communicating with the English-speaking tourists are greeting, introducing, asking information, asking opinion, giving information, giving direction, thanking and leave-taking. Besides, it was also found that the police officers under study also used Pidgin English to express praises, offers, and apologizes.keyword : Pidgin English, Tourism Police, Form, Meaning, Language Function.
THE EFFECT OF SCRIPTED SONGS UPON THE ENGLISH COMPETENCE OF FOURTH GRADE ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS (An Experimental Study toward the Students of SD Negeri 4 Padangkerta in the Academic Year 2013/2014) ., Ni Kadek Suartini; ., Dra.Ni Made Ratminingsih, MA; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3365

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengungkap ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan teknik lagu-lagu kreasi dan siswa yang diajar menggunakan teknik konvensional dalam hal kompetensi berbahasa Inggris. Desain penelitian ini menggunakan Post-Test Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini melibatkan seluruh siswa kelas empat sekolah dasar di SD Negeri 4 Padangkerta pada tahun ajaran 2013/2014. Kelas IV A dan kelas IV B terpilih sebagai sampel melalui teknik Cluster Random Sampling. Sampel penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu, kelompok experimen dan kelompok kontrol,yang masing- masing diajar menggunakan teknik yang berbeda. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari hasil post-test sesudah pengajaran dilakukan. Hasil tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Hasil dari analisis deskriptif menunjukkan bahwa kelompok experimen memperoleh nilai rata-rata 82, sementara kelompok kontrol memperoleh nilai rata-rata 73. Hasil dari analisis inferensial melalui uji-t menunjukan nilai dari to (t-hitung) yaitu 4.034, melampaui nilai dari tcv (t-tabel) yaitu 1.99 (dengan level signifikan 5%). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kompetensi berbahasa Inggris kelompok experimen dan kelompok kontrol. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan lagu-lagu kreasi sebagai teknik dalam pengajaran Bahasa Inggris memiliki pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan teknik konvensional.Kata Kunci : kompetensi berbahasa Inggris, lagu-lagu kreasi This is research was an experimental research which concerned on revealing whether or not there was a significance difference in students’ English competence taught by using scripted songs and conventional technique. The design of this research was Post-Test Only Control Group Design. The population of the study was all fourth grade students of SD Negeri 4 Padangkerta in the academic year 2013/2014. Class IV A and class IV B were chosen as the sample through Cluster Random Sampling. The samples were divided into two groups, experimental group and control group, which were given different treatment. The data in this research were obtained from the result of posttest after the treatments were given and were analyzed further descriptively and inferentially. The result from descriptive analysis showed that the experimental group achieved higher mean score in English competence than the control group, in which the mean score of experimental group was 82 and the mean score of control group was 73. The result of the inferential statistical analysis through independent sample t-test showed that value of to (t-observed) was 4.034, exceeding value of tcv (t-critical value) at 1.99 (significance level 5%). Those results concluded that there was a significant difference between the experimental group and the control group, in which scripted songs as a technique for teaching English affected better than conventional technique.keyword : English competence, scripted songs
THE EFFECT OF SOCIAL INTERACTIVE WRITING METHOD ON THE STUDENT'S WRITING COMPETENCY AT EIGHTH GRADE OF SMP NEGERI 3 SAWAN IN THE ACADEMIC YEAR 2013/2014 ., Putu Perwita Hasri; ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha; ., Ni LP. Eka Sulistia Dewi, S.Pd. M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3366

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Metode Menulis Sosial Interaktif terhadap kemampuan menulis siswa. Penelitian ini menggunakan Randomized Posttest-Only Control Group Design yang terdiri dari 56 siswa. Instrumen dianalisis secara deskriptif dan inferential. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa siswa yang diajarkan menggunakan Metode Menulis Sosial Interaktif lebih baik daripada siswa yang diajarkan menggunakan metode konvesional. Hal ini terbukti, nila rata-rata (X ̅) dari kelompok eksperimental yaitu 87.64 sedangkan kelompok kontrol yaitu 67.92. Dari hasil analisis menggunakan statistik inferensial, telah ditemukan bahwa nilai observasi (tob) adalah 12.012. Nilai ini lebih tinggi dari nilai kritis (tcv) yaitu 1.64 (ɑ = .05). Hal ini jelas terlihat jika nilai observasi (tob) lebih besar dari dari nilai kritis (tcv) setelah dibandingkan nilai observasi (tob) dengan nilai kritis (tcv). Kesimpulannya, hipotesis alternatif diterima. Oleh karena itu, pengaplikasian Metode Menulis Sosial Interaktif telah memberikan efek yang signifikan terhadap kemampuan menulis siswa. Kata Kunci : Metode Menulis Sosial Interaktif, Kemampuan Menulis This study aimed at investigating the effect of Social Interactive Writing Method on the students’ writing competency. Randomized Posttest-Only Control Group Design was applied in this study which consists of 56 students. The instruments were analyzed descriptively and inferentially. The result of the analysis shows that the students who were taught by using Social Interactive Writing Method better than the students who were taught by using Conventional Method. It had been proven from the mean score was 87.64 while the control group was 67.92. Furthermore, from the analysis by using inferential statistic, it was found that the value of t observed (tob) was 12.012. It was higher than t critical value (tcv) which was 1.64 (ɑ = .05). After comparing t observed and t critical value, it was clear that t observed (tob) exceeded t critical value (tcv). In conclusion, the alternative hypothesis was accepted. Therefore, it could be confirmed that the application of Social Interactive Writing Method gave significant effect toward students’ writing competency. keyword : Social Interactive Writing Method, Writing competency
THE VERB-FORMING AFFIXATION IN SIDETAPA DIALECT OF BALINESE: A MORPHOPHONEMIC ANALYSIS ., Ni Kadek Ariasih; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3367

Abstract

The study aimed at discovering data and information about the number of prefixes and suffixes found in Sidetapa Dialect of Balinese (SDB) having role in constructing verb. This study was designed by using descriptive qualitative approach. The main informant of this study was one family which was chosen based on certain criteria. The data was collected by means of word lists: Swadesh, Nothofer, Holle, and Budasi and sentence list. Some natural speeches produced among family member with their neighbors and friends were also recorded. The obtained data were analyzed descriptively. The result revealed that there were two prefixes having role in constructing verb, namely: prefix {ma- and N-} and three suffixes {-ng, -a, and -na}. All of the prefixes experienced morphophonemic process in certain condition. Prefix {ma-} underwent morphophonemic process in the form of deleting phoneme /a/ in prefix {ma-} itself when it was added into any base which had an initial vowel. And prefix {N-} was indicated by its change into some allomorphs namely: |n-|, |ny-|, |ng-|, |m| when they were attached into a particular base. Meanwhile the suffix experiencing morphophonemic process was suffix {-ang}. Each prefix and suffix had more than one meaning depending on the bases attached into it. The usage of each prefix and suffix was also different. It is expected that this study can be used as a reference for the other researchers that interest in exploring more about SDB, especially the availability of the affixes and their changes. Kata Kunci : prefix, suffix, verb formation, morphophonemic process, Sidetapa Dialect of Balinese Penelitian ini bertujuan untuk menemukan data dan informasi tentang jumlah awalan dan akhiran yang mempunyai peran untuk membentuk kata kerja dalam dialek Sidetapa. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif. Informan utama dalam penelitian ini yaitu satu keluarga yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Data dikumpulkan dengan menggunakan daftar kata yang disusun oleh: Swadesh, Nothofer, Holle, and Budasi, daftar kalimat. Beberapa percakapan antara anggota keluarga, anggota keluarga dengan temannya dan juga dengan tetangganya juga direkam. Data yang sudah diperoleh dianalis secara deskriptif. Hail penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua awalan yang memiliki peran untuk membuat kata kerja yaitu awalan {ma- and N-} dan tiga akhiran {-ng, -a, and -na}. Semua awalan tersebut mengalami proses morpofonemik dalam beberapa kondisi tertentu. Awalan {ma-} mengalami proses morpofonemik yang ditandai dengan penghilangan fonem [a] terhadap awalan {ma-} itu sendiri ketika awalan tersebut digabungkan dengan kata dasar yang berinisial vowel. Sedangkan awalan{N-}dicirikan dengan allomorph yang dimilikinya yaitu |n-|, |ny-|, |ng-|, |m| ketika digabungkan dengan kata dasar tertentu. Sedangkan akhiran yang mengalami proses morpofonemik yaitu akhirin {-ang}. Masing-masing awalan maupun akhiran memiliki makna yang bervariasi tergantung dari kata dasar yang dilekatkan. Penggunaanya dari masing-masing awalan maupun akhiran tersebut jga berbeda-beda. Penulis sangat berharap agar penelitian ini bisa dijadikan sebagai acuan bagi peneliti-peneliti lain yang tertarik untuk mengksplor lebih dalam lagi tentang dialek Sidetapa khusunya keberadaan imbuhan-imbuhan dan perubahannya. keyword : awalan, akhiran, pembentukan kata kerja, proses morpofonemik, dialek Sidetapa

Page 92 of 188 | Total Record : 1873