cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 1,873 Documents
AN ANALYSIS OF METAPHOR USED IN THE NEWS ITEMS OF JAKARTA POST NEWSPAPER ., Ni Made Lia Kesumayanti; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., I Putu Ngurah Wage M, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3387

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi jenis-jenis metafora yang digunakan pada teks berita di koran Jakarta Post, (2) mengidentifikasi jenis metafora yang paling banyak digunakan, dan (3) mendeskripsikan bagaimana metafora digunakan di setiap segmen berita di koran Jakarta Post. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Objek penelitian ini adalah metafora. Subjek penelitian ini adalah empat koran Jakarta Post yang dipilih secara purposive dengan menggunakan teknik snowball. Dalam mengidentifikasi metafora, metode yang digunakan adalah MIP (Metaphor Identification Procedure). Peneliti, catatan, dan checklist digunakan sebagai instrumen dalam proses pengumpulan data. Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat enam jenis metafora yang digunakan pada teks berita di koran Jakarta Post yang meliputi (1) structural, (2) orientational, (3) ontological, (4) anthropomorphic, (5) animal, dan (6) synaesthesia mentaphor. Structural metaphor adalah jenis metafora yang paling banyak digunakan. Structural metaphor juga mendominasi di tiap segmen berita yaitu Headlines, Business Headlines, National, Archipelago, City, World, Business, World Business, Sports, Life Lines, People, dan Bali Daily.Kata Kunci : metafora, teks berita, koran Jakarta Post This study aimed to (1) identify the kinds of metaphor used in the news items of the Jakarta Post newspapers, (2) identify which kind of metaphor that is mostly used, and (3) describe how the metaphors are used among the news segments in the Jakarta Post newspapers. This research was a qualitative study. The object of this study was metaphor. The subjects of the study were four Jakarta Post newspapers selected purposively by using snowball technique. In identifying the metaphor, the method used was MIP (Metaphor Identification Procedure). The researcher, notes, and checklists were used as the instruments in the data collection process. The data were analysed descriptively by using Miles and Huberman model. The results of this study showed that there were six kinds of metaphor used in the newspapers studied. They were (1) structural, (2) orientational, (3) ontological, (4) anthropomorphic, (5) animal, and (6) synaesthesia metaphor. Among those metaphors, structural metaphor was mostly used in the news items of the Jakarta Post newspapers. It was also dominantly used in each of the twelve news segments of the newspapers which included Headlines, Business Headlines, National, Archipelago, City, World, Business, World Business, Sports, Life Lines, People, and Bali Daily.keyword : metaphor, news items, Jakarta Post newspaper
The Analysis of Terms of Address Used in the Debate Situations in the Indonesia Lawyers Club TV Program (A Sociolinguistics Study) ., Putu Indah Partami Putri; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., I Putu Ngurah Wage M, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3411

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan jenis kata sapaan yang digunakan oleh peserta dalam situasi debat dalam program TV Indonesia Lawyers Club, (2) menggambarkan representasi dari kata sapaan yang digunakan oleh peserta dalam situasi perdebatan di program TV Indonesia Lawyers Club. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Obyek penelitian ini adalah kata sapaan. Subjek penelitian ini adalah 62 peserta program TV Indonesia Lawyers Club yang mengucapkan kata sapaan. Data dikumpulkan dengan menggunakan laptop, pemutar video, notebook, dan checklist. Metode yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh adalah metode kualitatif dan desain yang digunakan adalah desain kualitatif. Implikasi dari penelitian ini yang mengungkapkan jenis kata sapaan yang digunakan seperti: Nama seperti I Wayan Koster; Istilah kekerabatan seperti Ibu Theresia, dan Saudara AW; Istilah yang samar seperti Pemirsa dan Hadirin; Gelar seperti Mayor Jendral; Istilah kata benda yang abstrak seperti Johan Budi Yang saya hormati; Istilah pekerjaan seperti Penjaga Keamanan; Istilah panggilan sayang seperti Aunty; Selain itu, istilah Teknonyms seperti Anak saya. Dari delapan tipe, sapaan kekerabatan yang paling sering digunakan oleh peserta sebesar 38,19% dari total presentase. Representasi sapaan berdasarkan strategi kesantunan yang digunakan oleh peserta dalam program TV ILC seperti untuk bersikap sopan, pujian, mengekspresikan kealamian, menunjukkan rasa hormat, dan membuat malu seseorang.Kata Kunci : Kata Sapaan, Situasi Debat, Indonesia Lawyers Club This study aimed at: (1) describing types of terms of address used by the participants in the debate situations in the Indonesia Lawyers Club TV program, (2) describing the representation of terms of address used by the participants in the debate situations in the Indonesia Lawyers Club TV program. The study was a descriptive study. The objects of this study were terms of address. The subjects of this study were 62 participants of Indonesia Lawyers Club TV program who produced terms of address. The data were collected by using laptop, video player, notebook, and checklist. The method applied for analyzing the data obtained was qualitative method and the design used was qualitative design. The findings of this study that revealed the types of terms of address used were: name terms such as I Wayan Koster; kinship terms such as Ibu Theresia, and Saudara AW; vague terms such as Pemirsa and Hadirin; title terms such as Major Jendral; abstract noun terms such as; Johan Budi yang saya hormati; occupational terms such as Penjaga Keamanan; endearment terms such as Aunty; and teknonyms terms such as Anak saya. Kinship terms of address type from eight types were most widely used by the participants in ILC TV program amounting to 38,19% of the total percentage. There are several reasons used by the participants in order to represent terms of address such as being-polite, complimenting, expressing naturalness, losing-other’s-face context and expressing-neutralness context.keyword : Terms of Address, Debate Situations, Indonesia Lawyers Club
THE PHONOLOGICAL SYSTEM OF BALINESE SPOKEN BY BUNUTAN VILLAGERS: A DESCRIPTIVE QUALITATIVE STUDY ., I Gede Tawa Utara Jaya; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jumlah fonem Bahasa Bali yang diucapkan oleh penduduk desa Bunutan (BB). Selain itu, untuk mengetahui proses fonologi yang terjadi pada bahasa itu sendiri. Penelitian sinkronis ini dirancang dengan menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan alat rekaman, daftar kata, dan daftar kalimat. Dua daftar kata yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Swadesh dan Daftar Kata Nothofer. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BB memiliki 31 fonem, yaitu: 6 vokal; /ʌ/, /i/, /u/, /e/, /o/, dan //. 3 Dipthongs; /ʌi/, /iʌ/, dan /ʌԑ/, 1 vokal rangkap; //, 19 Konsonan; /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /ʔ/, /s/, /c/, /j/, /l/, /r/, /h/, /m/, /n/, /ñ/, /ŋ/, /w/, dan /y/, dan 2 gugus konsonan; /kl/ dan /sl/. Tidak semua distribusi fonem terjadi pada tiga posisi (awal, tengah, dan posisi akhir). Ada juga jenis proses fonologi yang ditemukan yaitu proses struktur suku kata meliputi penyisipan konsonan dan penyisipan vokal.Kata Kunci : Sistem fonologi, proses fonologi, Bahasa Bali yang diucapkan oleh Penduduk Desa Bunutan. The study aimed at describing the number of phonemes of Balinese spoken by Bunutan villagers (BB). Also, to find out the phonological process that happened in the language itself. This synchronic study was designed by using a descriptive qualitative research. The data were collected using the recording tools, word lists, and sentence list. Two word lists used in this research namely: Swadesh and Nothofer’s Word Lists. The obtained data were analyzed descriptively. The result of the study shows that BB has 31 phonemes, namely: 6 vowels; /ʌ/, /i/, /u/, /e/, /o/, and //. 3 Dipthongs; /ʌi/, /iʌ/, and /ʌԑ/, 1 geminate vowel; //, 19 Consonants; /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /ʔ/, /s/, /c/, /j/, /l/, /r/, /h/, /m/, /n/, /ñ/, / ŋ/, /w/, and /y/, and 2 Consonant cluster; /kl/ and /sl/. Not all of phonemes distribute in three positions (initial, middle, and final position). There was also found type of phonological process of syllable structure process namely consonant insertion and vowel insertionkeyword : Phonological System, Phonological process, Balinese Spoken by Bunutan Villagers.
AN ANALYSIS OF CLASSROOM INTERACTION USING FOREIGN LANGUAGE INTERACTION ANALYSIS (FLINT) SYSTEM IN AURA SUKMA INSANI BILINGUAL KINDERGARTEN ., Ni Putu Ana Agusthini; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3413

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kategori interaksi kelas yang terjadi di kelas B1 di TK Bilingual Aura Sukma Insani berdasarkan sistem Foreign Language Interaction Analysis (FLINT), kategori yang paling sering dan jarang terjadi, dan fungsi instruksional kategori interaksi kelas. Subjek penelitian yaitu guru dan 26 siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuaitatif dalam bentuk observasi non-partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) hubungan antara perasaan terjadi 50 kali, memuji atau mendorong terjadi 41 kali, lelucon terjadi 12 kali, menggunakan pendapat siswa terjadi 22 kali, mengulang respon siswa harafiah terjadi 47 kali, memberi pertanyaan terjadi 96 kali, memberikan informasi terjadi 25 kali, membenarkan tanpa penolakan terjadi 10 kali, memberikan arahan terjadi 198 kali, mengkritisi prilaku siswa terjadi 54 kali, mengkritisi respon siswa terjadi 19 kali, respon siswa-spesifik terjadi 227 kali, respon siswa terbuka-tertutup atau inisiasi-siswa terjadi 114 kali, keheningan terjadi 12 kali, keheningan-audiovisual (AV) terjadi 4 kali, kekacauan berorientasi-kerja terjadi 29 kali, kekacauan tidak berorientasi-kerja terjadi 17 kali, gelak tawa terjadi 27 kali, menggunakan bahasa asli terjadi 101 kali, dan non-verbal terjadi 19 kali, (2) kategori pembicaraan guru yang paling sering terjadi yaitu memberikan arahan, sedangkan yang paling jarang terjadi yaitu mengkoreksi tanpa penolakan; kategori pembicaraan siswa yang paling sering muncul respon siswa spesifik, sedangkan kategori yang paling jarang terjadi yaitu keheningan-AV, dan (3) fungsi insruksional kategori interaksi kelas secara umum yaitu untuk membuat atmosfer kelas yang nyaman dan meningkatkan keinginan sswa untuk belajar.Kata Kunci : interaksi, interaksi kelas, sistem Foreign Language Interaction Analysis (FLINT), TK Bilingual This study aimed at finding the classroom interaction categories occurred in class B1 of Aura Sukma Insani Bilingual Kindergarten based on Foreign Language Interaction Analysis (FLINT) System, category which most and least frequently occurred, and the instructional functions of the classroom interaction categories. The subjects of the study were a teacher and 26 students. This study employed qualitative approach in forms of nonparticipant observation. The result showed that: (1) deals with feelings occurred 50 times, praises or encourages occurred 41 times, jokes occurred 12 times, uses ideas of students occurred 22 times, repeats student response verbatim occurred 47 times, asks questions occurred 96 times, gives information occurred 25 times, corrects without rejection occurred 10 times, gives directions occurred 198 times, criticizes student behavior occurred 54 times, criticizes student response occurred 19 times, student response-specific occurred 227 times, student response open-ended or student-initiated occurred 114 times, silence occurred 12 times, silence-audiovisual (AV) occurred 4 times, confusion work-oriented occurred 29 times, confusion non-work oriented occurred 17 times, laughter occurred 27 times, uses the native language occurred 101 times, and nonverbal occurred 19 times, (2) the teacher talk category that mostly occurred was giving direction, while the least frequently occurred was correcting without rejection; student talk category that mostly appeared was student response specific, while the category that least frequently occurred was silence-AV, and (3) the instructional function of the classroom interaction categories in general was that to make comfortable classroom atmosphere and improve students’ willingness to study.keyword : interaction, classroom interaction, Foreign Language Interaction Analysis (FLINT) System, Bilingual Kindergarten
THE CODES USED IN LINE MESSENGER APPLICATION BY THE STUDENTS OF CLASS E IN EIGHT SEMESTER OF ENGLISH EDUCATION DEPARTMENT ., Ni Ketut Indah Permata Sari; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3414

Abstract

Bahasa adalah alat komunikasi yang sangat penting. Beberapa orang berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan masyarakat yang memiliki budaya dan bahasa masing masing yang akan membangun sistem bahasa untuk digunakan dalam berkomunikasi. Seperti di era globalisasi ini, orang memiliki cara untuk berkomunikasi lebih banyak ke dunia. Hubungan sosial tidak hanya muncul dalam lingkungan tempat tinggal, tetapi dalam kehidupan dunia maya. Orang-orang yang berinteraksi di internet juga mengembangkan sistem komunikasi tertentu. Salah satu komunitas jejaring sosial yang memiliki kode khusus dalam interaksi yaitu aplikasi pesan Line. Pesan Line adalah jejaring sosial yang fungsinya untuk mempermudah seseorang menghubungi satu sama lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kode yang digunakan oleh pengguna dan artinya. Dalam penelitian ini, observasi dan teknik wawancara digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu, iPad, internet, dan panduan wawancara menjadi instrumen yang sangat berguna. Penelitian ini dilakukan dari Februari 2014 sampai Mei 2014. Data dari riwayat pembicaraan dilakukan dari Januari 2014 dicatat menggunakan aplikasi PrintScreen di iPad. Berdasarkan data yang dikumpulkan, ditemukan bahwa kode yang digunakan dalam aplikasi pesan Line bervariasi khususnya yang berkaitan dengan lexicons. Mereka terdiri dari borrowed words, compounded words, dan acronyms. Sementara itu, emoticon dalam aplikasi Line diklasifikasikan menjadi emoticon ekspresi wajah dan emoticon tindakan. Jelas bahwa emoticon tidak hanya mewakili perasaan dan emosi, tetapi juga tindakan tertentu. Semua kode ini berhubungan dengan kreativitas para anggota dalam komunitas pesan Line, anggota komunitas pesan Line, dan juga keuntungan teks tertulis sebagai media komunikasi.Kata Kunci : sociolinguitics, kode, komunitas pesan Line. Language is an important tool of communication. However, people speak a language differently because of they come from a different background. This is because of a different community that impact to their language systems that used within their own people. As the development of the time, people need to develop their interaction to the world. The people who interact through the internet also increase a particular system. One of the social networking that have special code in the interaction among people is Line messenger application. Line messenger is a social networking which makes people easier to contact one another. This study research was intended to investigate the codes used in Line Messenger community and their meanings. In this study, observation and interview techniques were used to collect the data. Therefore, iPad, internet, and interview guide became useful instrument. This study was done from February 2014 until May 2014. The data from the chat history posted from January 2014 were recorded using Printscreen application in the iPad. Based on the data collected, it was found that the codes used in Line messenger application varied especially with regard to lexicons. They consist of borrowed words, compounded words, and acronym which explained by Yule (2006). Meanwhile, emoticons in Line messenger are classified into facial expression emoticons and action emoticons explained by Ruan (2011). It is clear that emoticons do not only represent feeling and emotions, but also particular actions.keyword : sociolinguitics, code, Line messenger community.
Sociolinguistic Study on Code Used among People in Air Kuning Village ., Sri Pithamahayoni; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kode – kode yang digunakan oleh masyarakat di Desa Air Kuning. Kode yang digunakan dianalisis menggunakan teori dari Steinberg, Chaer dan Romaine. Subjek dari penelitian ini adalah masyarakat yang melakukan percakapan berdasarkan tiga domain yaitu, keluarga, tetangga, dan pertemanan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang memberikan gambaran tentang kode – kode yang digunaan oleh tiga domain di Desa Air Kuning. Data dikumpulkan melalui observasi dan interview. Penelitian ini menggunakan observasi partisipasi dimana peneliti menjadi bagian dari penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tiga domain yaitu keluarga, tetangga dan pertemanan tidak mempengaruhi kode yang digunakan oleh masyarakat. Peneliti menemukan 96 kode yang digunakan di Desa Air Kuning. Kode – kode itu di kelompokkan menjadi tag question, kata bantu, bahasa sehari – hari, register, dan kata sapaan. Air Kuning mempunyai kata yok sebagai tag question, 3 kata bantu: budi, sa’a, seh, 6 register: ngujur, ngerawe, deldel, katih, nyambeng, kalbok, 12 macam kata sapaan: icang, awak, nyai, beng, cung, cai, nanang, ketuk, mbok, lik, ruang, dan 74 bahasa sehari – hari seperti,barang, pati, nyai, kelambi, tongtongan, kalijepan, sepedaha, gara, incega, wet. Kode – kode tersebut adalah percampuran antara bahasa Bali dan bahasa Bugis yang mereka sebut sebagai bahas kampung. Kata Kunci : penelitian deskriptif, kode, Desa Air Kuning The study aimed at describing the codes used among people in Air Kuning village. The codes used were analyzed by using Steibergs theory, Chaer theory, and Romaine theory. The subjects of this study were people in terms of three domains namely family, neighborhood, and friendship. This study is a descriptive study which gives description of codes used by three domains in Air Kuning village. The data were collected through observation and interview. This study used participative observation. The result of the study shows that three domains: family, neighborhood and friendship do not influence the way people used the codes. The researcher found 96 codes which were used by people in Air Kuning village. Those codes were separated into question tag, register, form of address and daily languages. Air Kuning has the word yok as the question tag, 3 auxiliaries: budi, sa’a, seh, 6 registers: ngujur, ngerawe, deldel, katih, nyambeng, kalbok, 12 kinds of form addresse: icang, awak, nyai, beng, cung, cai, nanang, ketuk, mbok, lik, ruang, and 74 daily languages such as, barang, pati, kelambi, tongtongan, kalijepan, sepedaha, gara, incega, wet. Those codes were the mixed of Balinese language and Bugis language that they called as ‘bahasa kampung’keyword : descriptive study, codes used, Air Kuning village
An Analysis of Derivational and Inflectional Morphemes on Balinese Affixes of Tambakan Dialect ., Petrus I Wayan Brahmadyantara; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Drs.Gede Batan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3416

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk menjelaskan awalan dan akhiran pada dialect Tambakan yang mengalami proses derivasi dan infleksi. Dua narasumber dari Tambakan dipilih berdasarkan beberapa kriteria. Data Dikumpulkan menggunakan tiga teknik, yaitu: teknik observasi, teknik merekam, dan teknik wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada enam jenis awalan ditemukan dalam dialek Tambakan . Awalan itu adalah: [ si - ] , [ ma - ] , [ n - ] , [ ka - ] , [ pa - ] , dan [ba - ] . Juga ada enam jenis akhiran ditemukan ada dalam dialek Tambakan . Akhiran itu adalah : [ -in ] , [ - ang ] , [ - ne ] [ -an ] , [ -a ] , [ - n ] . Selain itu ada empat awalan yang mengalami derivasi: [ si - ] , [ ma - ] , [ n - ] dan [ ka - ] dan ada dua macam akhiran ditemukan pada dialek Tambakan yang diklasifikasikan sebagai akhiran derivatif . Akhiran itu adalah : [ -in ] dan [ - ang ] . Sementara itu, awalan yang mengalami infleksi adalah [ ma - ] , [ n - ] , dan [ pa - ] dan akhiran yang mengalami infleksi adalah [ -in ] , [ - ne ] , [ - ang ] , [ -an ] , [ -a ] dan [ - n ] .Kata Kunci : morfem derivasi, morfem infleksional, Tambakan Dialek (TD) This research is a descriptive qualitative research, which aimed at describing the prefixes and suffixes in Tambakan Dialect which belong to derivational and inflectional. Two informants sample of TD were chosen based on a set of criteria. The data were collected based on three techniques, namely: observation, recording technique, and interview (listening and noting) technique. The results of the study showed that there were six types of prefix found in Tambakan dialect. Those prefixes are: [si-], [ma-], [n-], [ka-], [pa-], and [ba-]. Also there were six types of suffixes found existing in Tambakan dialect. Those suffixes are: [-in], [-ang], [-ne] [-an], [-a], [-n]. Moreover there are four prefixes belong to derivational prefix, they are: [si-], [ma-], [n-] and [ka-] and There were two kinds of suffixes found in TD that classified as derivational suffix. They are: [-in] and [-ang]. Meanwhile, inflectional prefixes are [ma-], [n-], and [pa-] and inflectional suffixes are [-in], [-ne], [-ang], [-an] , [-a] and [-n].keyword : derivational morpheme, inflectional morpheme, Tambakan Dialect (TD)
An Analysis Of Code Mixing In The Interaction Between English Teachers And Students During English Class Toward Tenth Graders Of SMA Negeri 1 Kediri In Academic Year 2013/2014 ., Cucu Ardiah Ningrum; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3417

Abstract

Dalam pembelajaran bahasa, peluang munculnya campur bahasa sangat mungkin terjadi. Fenomena tersebut selaras dengan fakta yang terjadi di Indonesia dimana Bahasa Inggris dipelajari bahasa asing. Campur Bahasa dapat diindikasikan dari dua atau lebih bahasa yang digunakan dalam percakapan selama proses pembelajaran. Para guru cenderung untuk mencampur bahasa yang dipelajari dengan bahasa pertama peserta didik untuk membuat proses belajar menjadi mudah untuk diikuti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan fenomena campur bahasa yang digunakan oleh para guru dan siswa tingkat sepuluh SMA Negeri 1 Kediri selama pelajaran Bahasa Inggris. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti campur bahasa yang muncul lalu menganalisa data yang didapat berdasarkan klasifikasi oleh Ho. Hasil dari penelitian dan pengambilan data menunjukkan bahwa hanya lima tipe campur bahasa dari tujuh tipe berdasarkan klasifikasi Ho yang muncul selama proses pengajaran dan pembelajaran. Klasifikasi tersebut adalah;(1) kata benda (2) kata kata leksikal (3) frase (4) kalimat tidak lengkap dan (5) kalimat tunggal lengkap. Jumlah total dari seluruh ungkapan ynag terkait dengan campur bahasa adalah 194 ungkapan.Kata Kunci : campur bahasa, SMA Negeri 1 Kediri, klasifikasi Ho ABSTRACT The aim of this study is to find out the code mixing used by the teachers and the students of the tenth graders in SMA Negeri 1 Kediri during English Class. In language learning, the opportunity of code mixing appeared is very possibly happening. This phenomenon is in line with the fact in Indonesia in which English is learned foreign language. The teachers tend to mix the language with the leaner’s first language in order to make the learning process become easier to be followed. In this study, the researcher observed the code mixing occurred and analyzed the data obtained based on Ho’s classification. The result of the observation and recordings showed that there were only five types from seven types of code mixing based in Ho’s classification that was appeared in teaching learning process. The classifications are; (1) Proper nouns (2) Lexical words, (3) Phrases, (4) Incomplete sentence and (5) Single Full Sentences. The total numbers of utterances in relation to code mixing are 194 utterances. keyword : Keywords: Code mixing, SMA Negeri 1 Kediri, Ho’s classification
THE PHONOLOGICAL SYSTEM OF TAMBAKAN DIALECT: A DESCRIPTIVE QUALITATIVE STUDY ., I Wayan Wiranata; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3418

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan jumlah fonem dari Dialek Tambakan (DT). Penelitian sinkronis ini dirancang dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Tiga sampel informan dari DT dipilih berdasarkan seperangkat kriteria. Data dikumpulkan berdasarkan empat daftar kata: Swadesh, Budasi dan Daftar Kata Holle. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DT memiliki 48 fonem, yaitu: 6 vokal; /ʌ/, /i/, /u/, /e/, /o/, dan /∂/. 11 Diftong; /ʌi/, /iʌ/, /ʌu/, /uʌ/, /u∂/, /ʌ∂/, /ʌe/, /ʌɔ/, /ui/, /i∂/, dan /iu/, 3 vokal rangkap; /ʌʌ/, /II/, and /uu/, 19 konsonan; /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/,/ʔ/,/s/, /c/,/j/, /l/, /r/, /h/, /m/, /n/, /ñ/, / ŋ/, /w/, dan /y/, dan 9 kelompok konsonan; /kl/, /bl/, /ml/, /pl/, /sl/, /kr/, /pr/, /tr/dan /br/. Tidak semua fonem menyebar di yiga posisi (awal, tengah, dan akhir kata). Kata Kunci : penelitian kualitatif deskriptif, sistem fonologi, dialek tambakan, fonem, vokal, diftong, konsonan dan konsonan kelompok. The study aimed at describing the number of phonemes of Tambakan Dialect (TD). This synchronic study was designed by using a descriptive qualitative research. Three informant samples of TD were chosen based on a set of criteria. The data was collected based on four word lists: Swadesh’s, Budasi’s and Holle’s Word Lists. The obtained data were analyzed descriptively. The result of the study shows that TD has 48 phonemes, namely: 6 vowels; /ʌ/, /i/, /u/, /e/, /o/, and /∂/. 11 Dipthongs; /ʌi/, /iʌ/, /ʌu/, /uʌ/, /u∂/, /ʌ∂/, /ʌe/, /ʌɔ/, /ui/, /i∂/, and /iu/, 3 geminate vowels; /ʌʌ/, /II/, and /uu/, 19 Consonants; /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/,/ʔ/,/s/, /c/,/j/, /l/, /r/, /h/, /m/, /n/, /ñ/, / ŋ/, /w/, and /y/, and 9 Consonant clusters; /kl/, /bl/, /ml/, /pl/, /sl/, /kr/, /pr/, /tr/and /br/. Not all of phonemes distribute in three positions (initial, middle, and final position). keyword : descriptive qualitative study, the phonological system, tambakan dialect, phonemes, vowel, diphthong, consonant cluster and consonant.
AFFIXATION IN MELAYA PANTAI DIALECT: A DESCRIPTIVE STUDY OF MORPHOLOGICAL PROCESS ., Laras Wahyurini; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Drs.Gede Batan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3419

Abstract

Penelitian ini mendiskusikan tentang proses morfologi pada imbuhan yang ditemukan pada dialek Melaya Pantai yang berperan membentuk kata dan artinya ketika imbuhan tersebut ditambahkan pada kata dasar tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk menemukan jenis-jenis imbuhan pada dialek Melaya Pantai, (2) mengetahui proses imbuhan membentuk kata, dan (3) menemukan arti kata setelah mendapatkan imbuhan. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara, dan menggunakan beberapa instrumen seperti: peneliti itu sendiri, alat perekam, daftar kata, daftar kalimat, dan panduan wawancara. Subjek pemberi informasi dalam penelitian ini adalah pembicara asli dialek Melaya Pantai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dialek Melaya Pantai memiliki tiga jenis imbuhan. Imbuhan-imbuhan yang ditemukan yaitu: awalan {N-; me-; di-; ber-; ter-; se-}, akhiran {-i; -an; -ken; -nye}, dan imbuhan gabung {N-i; N-ken; ke-an; pe-an; me-i}. Disamping itu ada beberapa proses imbuhan yang ditemukan pada dialek Melaya Pantai yaitu; proses ellipsis, proses derivasional, dan proses infleksional. Dari proses imbuhan pada dialek Melaya Pantai ditemukan bahwa proses-proses tersebut dapat mengubah arti kata setelah mendapatkan imbuhan.Kata Kunci : Proses morpologi, Imbuhan, Dialek Melaya Pantai This research discussed about morphological process of affixation found in Melaya Pantai dialect which has roles in constructing words and their meaning when they were added to certain bases. The purposes of this research were: (1) to find the kinds of affixes in Melaya Pantai dialect, (2) to know the process of affixation constructing the word, and (3) to find the meaning of the word after getting the process of affixation. This research was designed as a descriptive qualitative research. The data were collected through observation and interview process, and it used some instruments such as: the researcher itself, recording tools, word list, sentence list and interview guide. The subjects in this research were the native speakers of Melaya Pantai dialect. The result in this study showed that Melaya Pantai Dialect had three kinds of affixes. Those affixes that were found are: prefix {N-; me-; di-; ber-; ter-; se-}, suffix {-i; -an; -ken; -nye}, and circumstance {N-i; N-ken; ke-an; pe-an; me-i}. Besides that there were some process of affixation found in Melaya Pantai Dialect; they were deletion process, derivational process, and inflectional process. From the process of affixation in Melaya Pantai Dialect it was found that those processes can change the meaning of the words after getting the affixation process.keyword : Morphological process, Affixation, Melaya Pantai dialect

Page 94 of 188 | Total Record : 1873