cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
+6281805329239
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) is a journal that uses a double-blind peer review model that can be accessed online. The purpose of JISH is to publish a journal containing quality articles that will be able to contribute thoughts from a theoretical and empirical perspective in society and humanities at a regional, national, and global scale. The writings at JISH will significantly contribute to critical thinking in the area of society and humanities. The scope of the fields contained in JISH covers the following areas: social work, social welfare, social change, and social policy; humanism and human rights; corporate governance, and community studies; crosscultural and multiculturalism studies; population, and development studies; ethics, and intergroup relations; war, conflict, and international relations; linguistics, literature, and media studies; performing arts (music, theatre, and dance); studies of inequality (class, race and gender studies); and other related areas. Articles published on research results and literature review with acceptable research methodologies, qualitative studies, quantitative studies, or a combination of both, statistical analysis, case studies, field research, and historical studies. JISH received manuscripts from various related circles, such as relevant researchers, professors, students, policy-makers, scientists, and others.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 1 (2024)" : 20 Documents clear
The Conflict and Balance of Work-Family during the COVID-19 Pandemic Sulistiowati Sulistiowati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.50101

Abstract

Everyday activities have become very limited during the COVID-19 outbreaks in most countries. Many companies have established work-from-home (WFH) policies to reduce transmission risk. Balancing work and private life sometimes becomes challenging, which has worsened during the pandemic. This research aimed to observe the influence of work-life conflict (WFC) consisting of work impeding family (WIF) and family impeding work (FIW) on Work and Life Balance (WLB) and ascertain gender differences in WLB. Data were collected from 100 respondents (50 men and 50 women) through questionnaires. The inclusion criteria were married couples with occupations, had children and were then doing WFH during an outbreak. This research adopted quantitative methods. Data were analyzed using a multiple-regression test and an independent t-test. The outcomes indicated that the WIF conflict had no statistically remarkable influence on the WLB of workers during the COVID-19 pandemic. The FIW conflict has had a positive and statistically remarkable influence on the WLB of workers during the COVID-19 pandemic. Female workers experience a more significant imbalance in the middle of family and work than that experienced by male workers because of their WFH during the COVID-19 pandemic.
GRAND STRATEGY PENGUATAN RESILIENSI KELOMPOK NELAYAN TRADISIONAL DI DESA PESISIR BENGKULU TENGAH Alexsander Alexsander; Harmiati Harmiati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.64963

Abstract

Dilema resiliensi komunitas nelayan tradisional pesisir merupakan refleksi kondisi nelayan untuk terus bertahan dan melestarikan aktivitasnya menghadapi kerawanan ekonomi, ekologi, dan sosial. Penelitian ini bertujuan merumuskan grand strategy penguatan  resiliensi kelompok nelayan tersebut. Penelitian menggunakan kerangka analisis Strength-Weakness-Opportunity-Threats(SWOT) dari Steis (2019) dan David (2013). Metode yang digunakan yaitu metode campuran  dengan desain exploratoty sequential. Pada tahap kualitatif identifikasi dilakukan untuk menentukan faktor internal dan faktor eksternal. Informan penelitian terdiri dari kepala desa, nelayan, dan masyarakat. Triangulasi dilakukan berdasarkan sumber, waktu, dan metode. Analisis data dilakukan dengan model interaktif. Pada tahap kuantitatif 17 item kuisioner dirumuskan dengan menggunakan  skala Likert. Pengujian validitas dan reliabilitas dibantu dengan aplikasi SPSS 28.1.1. Populasi penelitian sebanyak 64 orang nelayan dengan sampel sebesar 54 responden (dk=95%). Analisis data dilakukan melalui pembobotan untuk menentukan nilai IFAS dan  EFAS.  Nilai tersebut kemudian dimasukkan dalam kuadran grand strategy. Analisis data kualitatif  menghasilkan beberapa faktor internal(S-W) dan faktor eksternal(O-T). Hasil IFAS (-1,25) dan EFAS(1,08) menunjukkan posisi kuadran II. Grand strategy konservatif yang perlu dilakukan yaitu; meningkatkan keterampilan nelayan dalam penangkapan dan pengolahan ikan, kaderisasi nelayan muda, dan mengembangkan industri perkapalan rakyat. Penelitian memberikan saran kebijakan untuk pelaksanaan program yang lebih baik, perlindungan terhadap nelayan muda, dan pengembangan perkapalan nelayan.
Penyerapan Kosakata Seni Tari Bali ke dalam Bahasa Indonesia Nengah Suandi; I Wayan Mudana; Kadek Wirahyuni
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.68878

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis potensi kosakata seni tari Bali yang dapat dijadikan kosakata bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah penyerapan kosakata dan karakteristik kosakata seni tari Bali ditinjau secara morfologis, sintaksis, dan semantik yang penting dijadikan kosakata bahasa Indonesia. Subjek penelitian ini adalah dokumen yang berupa kamus, yaitu KBBI V (Kamus Besar Bahasa Indonesia V) (kamus online tahun 2016) dan Kamus Seni Tari Bali (tahun 2019). Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi kosakata seni tari Bali yang dapat diserap ke dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah penyerapan kosakata ke dalam bahasa Indonesia ditemukan sebanyak 37 buah. Karakteristik kosakata terseb Secara morfologis, kosakata seni tari Bali yang perlu diserap ke dalam Bahasa Indonesia ditemukan sebanyak 25 buah (67,57%)  berupa kata dasar  dan sisanya 8 buah (21.62%) berupa kata berimbuhan dan 4 buah (10,81%) berupa  kata majemuk, dan tidak ditemukan kosakata yang berupa kata ulang. Dari segi kelas katanya, ditemukan kosakata seni tari Bali yang perlu diserap ke dalam Bahasa Indonesia sebanyak 28 buah (75,67%) berupa kata benda atau Noun (N), 8 buah (21,62%) kerupa kata kerja atau Verba (V), dan 1 buah (2,71%) berupa kata sifat atau Ajektif. Yang menarik, dari segi semantik, ditemukan 8 buah (21,62%) kosakata seni tari Bali yang bentuknya sama dengan kosakata dalam dalam bahasa Indonesia, tetapi maknanya berbeda sehingga membentuk kata homonim (lihat data nomor 2, 3, 7, 8. 13, 24, dan 34).
Ethnic Fractionalization, Ethnic Polarization, and Potential Conflict in Parent Districts of IKN I Ketut Gunawan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.69381

Abstract

The purpose of this research is to determine the degree of ethnic fractionalization and polarization in the parent districts of the new Indonesian Capital of Nusantara (IKN), namely Kutai Kartanegara (Kukar) and North Penajam Paser (PPU) Districts, and assess the potential of ethnic conflict. The research involves quantitative analysis, where statistical formulas are used to calculate the ethnic fractionalization index (EFI) and ethnic polarization index (EPOI). The 2010 BPS population census, the most recent census based on ethnicity, is the primary data used for the core analysis. The study results reveal that both districts have a high level of ethnic diversity, with Kukar having a higher EFI than PPU (0.80 versus 0.75). However, PPU has a greater potential for conflict, as it has a higher EPOI (0.66) than Kukar (0.59-0.60). Considering the socio-political situation, the condition of ethnopolitics in Kukar is relatively conducive to providing support for the IKN development. In PPU, its ethnopolitical climate appears favorable for supporting the development of IKN. However, it is crucial to pay due attention to the issue of indigenous Paser people in IKN, as they represent the third largest ethnic group in Rings 1 and 2 of the IKN areas.  
Local Wisdom-Based Village Potential of Talekoi and Danau Bambure Village: IKN Buffer Areas Luluk Tri Harinie; Muhamad Romadoni; Meylinda Sukmani; John Budiman Bancin
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.70160

Abstract

The results of available natural resources became a village potential that deserved to be developed as an independent effort for the village's well-being. This research aimed to reveal the potential of the local wisdom-based village in Talekoi and Danau Bambure Village as an effort to strengthen the IKN buffer areas. Qualitative research with phenomenological designs was the analytical tool. Research informants comprised two village chiefs, two public figures, and two youth figures. Data collection methods included partitional observations, in-depth interviews, and document study. The data analysis used was an interactive model of Miles and Huberman. The result of the research showed that the stink bean farm and salted fish processing from Talekoi Village was an economic activity for promising village potential. Furthermore, lake tourism and clean water in Danau Bambure Village became the leading potential in utilizing local wisdom-based village potential and preparing the village's well-being to strengthen the IKN buffer areas.
Society and the State: The Movement to Protect the Living Space of Indigenous People on Bengkalis Island Hasanuddin Hasanuddin; Evawani Elysa Lubis; Mashur Fadli; Khairul Amri; Agus Alfan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.70268

Abstract

This research aims to analyze community movements and efforts made by the state to protect the living space (territory) of indigenous peoples on Bengkalis Island. For generations, indigenous people have used the mangrove forest area as a living space. On the way, the indigenous people found that their living space was damaged and narrowed, which they understood but were unable to control. This research is qualitative, obtaining data through observation, interviews, and aggregate data. The research data is then analyzed following a logical flow built and adjusted to the flow of field research data. The resource mobilization theory was used as a guide. This research found that facing the rate of mangrove destruction as a living space, indigenous tribes can only adapt slowly by utilizing the remaining open resources and opportunities. The community movement to protect mangrove forests as a living space for indigenous people on Bengkalis Island is still limited to being carried out by the indigenous people. The new movement is only in the form of building relationships with officials who have power in the region, hoping that indigenous people can carry out their traditional activities, namely utilizing mangrove forests as their living space. This movement is far from successful. In the form of the Regional Environmental Protection and Management Policy, local government policy keeps indigenous people away from mangrove forests as their living space.
Menguasai Etika Digital : Pengaruh Kontrol Diri, Kelekatan Teman sebaya, dan Kecerdasan Emosional terhadap Etiket Berinternet (Netiket) Melalui Paparan Media Sosial pada Remaja Aisyah Puspita Putri; Nurjanah Purnama; Putri Fildza Andini; Yulina Eva Riany
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.71218

Abstract

The use of social media in the daily lives of adolescents is inevitable. The behavior in the virtual space also needs to be considered so that it does not have a negative impact on others. Internet Etiquette (Netiquette) is a set of social norms in cyberspace that all users need to apply. This study analyzes the influence of self-control, peer attachment, and emotional intelligence on netiquette through social media exposure in adolescents. Two hundred and thirty-seven (237) adolescents aged 10-24 from 21 provinces in Indonesia participated in this online survey. Researchers used five questionnaires and analyzed them using SEM with SmartPLS. The results showed an influence of emotional intelligence, self-control, and social media exposure on the application of teenage netiquette. Emotional intelligence has the highest influence on the application of netiquette. On the other hand, peer attachment indirectly affects netiquette with the mediator variable of social media exposure. It is essential to promote an understanding of netiquette to adolescents as one of the foundations of digital literacy.
Partisipasi Kerja Perempuan dalam Sektor Informal di Kawasan Pinggiran Kota Yogyakarta (Studi Kasus Dusun Tambakbayan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta) Sri Astutiningsih; Sri Rahayu Budiani; Sri Rum Giyarsih; Djaka Marwasta
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.72652

Abstract

Tujuan dari kajian ini adalah untuk menganalisis bagaimana gambaran karakteristik perempuan bekerja serta mengetahui hubungan karakteristik sosial, ekonomi, dan demografi terhadap partisipasi kerja perempuan di sektor informal. Lokasi penelitian ini berada di daerah pinggiran kota Yogyakarta yakni di Dusun Tambakbayan mengingat berbagai penelitian terdahulu belum berfokus pada wilayah peri-peri. Di Dusun ini kebanyakan perempuan ikut membantu memperoleh pendapatan dengan bekerja. Pada penelitian ini data dikumpulkan secara langsung dari responden dengan wawancara terhadap seluruh perempuan bekerja dengan kuesioner terstruktur dengan metode sensus atau cacah lengkap. Adapun metode analisis yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan analisis deskriptif yakni analisis univariat dengan tabel frekuensi dan analisis bivariat (Uji Chi-Square). Berdasarkan analisis univariat diketatahui bahwa mayoritas perempuan bekerja di Dusun Tambakbayan bekerja di sektor informal, berumur relatif tua, pernah menikah, memiliki pendidikan minimal sekolah menengah atas, memiliki kepala keluarga yang tidak bekerja pada sektor informal, serta memiliki ukuran keluarga yang cenderung besar. Selain itu, berdasarkan hubungan karakteristik sosial, ekonomi, dan demografi dengan Uji Chi-Square terhadap status sektor pekerjaan yang dimiliki diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang signifikan berpengaruh, yakni umur, status perkawinan, dan status pekerjaan kepala keluarga. Oleh karena itu, sebagai sektor penampung kelebihan pekerja pemerintah juga harus dapat menjamin hak-hak pekerja informal melalui pemberian fasilitas atau menghapuskan biaya dan prosedur perizinan di sektor informal.
Membangun Keluarga Harmonis: Kombinasi Nilai Adat dan Agama di Negeri Hukurila, Maluku Feky Manuputty; Afdhal Afdhal; Nathalia Debby Makaruku
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.73080

Abstract

Isu tingginya angka perceraian di Indonesia menjadi perhatian serius. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya untuk memperkuat hubungan dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya dan agama yang memiliki peran besar dalam membangun keharmonisan keluarga. Penelitian ini fokus pada keluarga di Negeri Hukurila, Kota Ambon, suatu daerah yang dikenal dengan tingginya penghormatan terhadap tradisi budaya dan hubungan sosialnya. Untuk itu, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen sebagai teknik pengambilan data. Hasilnya menunjukkan bahwa keluarga di Negeri Hukurila sangat berperan dalam mempertahankan nilai-nilai budaya dan rasa solidaritas komunitas. Nilai-nilai budaya tradisional ini menjadi dasar kuat untuk keharmonisan keluarga seperti Sarikat dan Badraheng. Sarikat merupakan konsep budaya tentang kerjasama dan saling membantu antar marga dalam suatu Negeri dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan atau persoalan. Sedangkan Badraheng merupakan konsep budaya tentang pentingnya solidaritas, saling mendukung, dan bekerja sama antar anggota keluarga besar dalam satu marga untuk menghadapi tantangan dan konflik yang mungkin timbul. Selain itu, nilai-nilai dan kegiatan dalam agama juga turut membantu mempererat hubungan dalam keluarga. Program seperti konseling sebelum menikah dan pendidikan agama telah membantu membentuk sikap dan perilaku positif dalam keluarga. Bagi masyarakat Negeri Hukurila, antara budaya luhur dan agama tidak dapat dipisahkan. Mereka mengibaratkan agama dan budaya sebagai tiga batutungku. Dengan demikian, menggabungkan nilai-nilai budaya dan agama menjadi kunci untuk memperkuat hubungan dalam keluarga. Tidak hanya itu, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat harmoni dalam rumah tangga sebagai upaya pencegahan tingginya tingkat perceraian, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Kompleksitas Efek Domino dari Tren Pernikahan Dini yang Mendarah Daging Alvin Pratama; M Taufik Rahmadi; Sugiharto
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i1.73225

Abstract

Pernikahan dini dinilai sebagai problematika sosial yang mengakar kuat di berbagai kehidupan negara di dunia, termasuk Indonesia. Pernikahan dini memberikan konsekuensi yang buruk dan membahayakan terhadap keberlanjutan generasi penerus selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efek domino dari kasus pernikahan dini yang sering terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan studi literatur tentang fenomena pernikahan dini yang terjadi di 10 wilayah Indonesia dengan memakai teknik traditional review (tidak sistematis) pada 10 jurnal nasional terkait pernikahan dini dari tahun 2020 hingga 2023. Hasil dari penelitian diperoleh bahwa terdapat berbagai macam dampak yang ditimbulkan dari maraknya kasus pernikahan dini, baik di perdesaan atau perkotaan. Dampak tersebut dikategorikan yang mencakup dampak terhadap diri sendiri (pasangan muda yang menikah), dampak terhadap keluarga, serta dampak terhadap masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya strategi intensif yang harus dilakukan untuk menghadapi dan mengatasi pernikahan dini tersebut. Meski perkembangan zaman melalui era globalisasi menghampiri Indonesia, kasus pernikahan dini belum sepenuhnya mengalami penurunan yang signifikan bahkan menjadi problematika yang sulit untuk dihilangkan.

Page 1 of 2 | Total Record : 20