Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) is a journal that uses a double-blind peer review model that can be accessed online. The purpose of JISH is to publish a journal containing quality articles that will be able to contribute thoughts from a theoretical and empirical perspective in society and humanities at a regional, national, and global scale. The writings at JISH will significantly contribute to critical thinking in the area of society and humanities. The scope of the fields contained in JISH covers the following areas: social work, social welfare, social change, and social policy; humanism and human rights; corporate governance, and community studies; crosscultural and multiculturalism studies; population, and development studies; ethics, and intergroup relations; war, conflict, and international relations; linguistics, literature, and media studies; performing arts (music, theatre, and dance); studies of inequality (class, race and gender studies); and other related areas. Articles published on research results and literature review with acceptable research methodologies, qualitative studies, quantitative studies, or a combination of both, statistical analysis, case studies, field research, and historical studies. JISH received manuscripts from various related circles, such as relevant researchers, professors, students, policy-makers, scientists, and others.
Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 10 No. 1 (2021)"
:
14 Documents
clear
HUMOR CERITA PANJI DALAM SERAT KANDA DAN CERITA DJAJAKUSUMA
Pana Pramulia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.23135
Humor tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, karena perilaku manusia sering menimbulkan kekonyolan yang mengundang senyum dan tawa. Humor bisa sebuah persitiwa, bisa juga sikap hidup. Humor tidak hanya tumbuh dalam kehidupan nyata, tetapi tumbuh dan mengalir juga dalam cerita, imajinasi, dan sastra. Humor juga dapat ditemukan dalam Cerita Panji, terutama dalam Serat Kanda dan Cerita Djajakusuma. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan serangkaian material berupa teks humor dalam cerita Panji. Melalui uraian deskriptif diharapkan tujuan penelitian dan penafsiran data dapat tersampaikan dengan baik. Pendekatan penelitian menggunakan riset naratif, di mana cerita panji diambil dari dokumen Serat Kanda dan kisah Djajajusuma. Hasil dari penelitian ini menyajikan temuan humor dalam dialog, peristiwa dan sikap tokoh. Penyebabnya adalah kontradiksi peristiwa atau keadaan dan paradoks sikap yang diperagakan tokoh, misalnya dalam keadaan tegang (perang) menjadi satu kesatuan dengan peristiwa romantis.
TRANSLATING THAT: AN IDEATIONAL CORRESPONDENCE ANALYSIS OF MACHINE TRANSLATION
Ardik Ardianto
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.23140
This paper aims to contrast the translation of two machine translation systems, Google Translate and Bing Translator, in translating the lexeme in news articles. The approach used in scrutinizing the lexeme's translation correspondence in this study is systemic functional linguistics, especially in both experiential and logical structures. This study was carried out through descriptive comparative analysis. This study's data were 40 constituents that were taken from six BBC World news articles randomly selected. A thorough analysis demonstrates that the two machine translation systems can recognize the three functions of that, i.e., Head, post-modifier, and conjunction. The highest emerging function is post-modifier by 19 times (47.5%), followed by the conjunction function by 17 times (42.5%) on the first machine translation system and 18 times (45%) on the second one. The lowest emerging function is Head by four times (10%) on the first machine translation system and three times (7.5%) on the second one. Furthermore, due to the elliptical variation of that as a relative pronoun and the translation variation of that as a post-determiner, it concludes that the translation outputs of Google Translate are more accurate, semantically acceptable, creative, and contextual than those of Bing Translator.
INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP DPMPTSP DAN NAKER KOTA PANGKALPINANG
Aning Kesuma Putri;
Devi Valeriani;
Dian Prihardini Wibawa;
Nanang Wahyudin
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.23337
Upaya peningkatan kualitas pelayanan harus dilaksanakan secara terpadu, terprogram, terarah dan konsisten. Kemudian pelayanan kepada masyarakat diberikan dengan tepat, cepat, murah, terbuka, sederhana dan mudah dilaksanakan. Semua ini dilakukan untuk memberikan kepuasan kepada masyarakat. Maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur Indeks Kepuasan Masyarakat pada Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP dan NAKER) Kota Pangkalpinang. Indeks kepuasan ini akan digunakan sebagai dasar dalam membuat dan menetapkan kebijakan peningkatan kualitas pelayanan publik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, pengukuran dengan indeks kepuasan masyarakat dan spider web. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan hasil survei IKM dengan sembilan unsur, diperoleh nilai unsur pelayanan yang memiliki nilai tertinggi adalah unsur kepastian biaya (U8), kemudian unsur biaya/tarif (U4), dan unsur penanganan pengaduan layanan (U9). Sedangkan unsur terendah adalah unsur kecepatan waktu (U3). Hasil analisa kepuasan masyarakat di Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kota Pangkalpinang dikonversi dalam Indeks Kepuasan Masyarakat unit pelayanan termasuk ke dalam kategori B (baik).
PEREMPUAN DALAM WAYANG SUNDA: ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP LAKON DRAUPADI DAN ARIMBI
Farieda Ilhami Zulaikha;
Sundari Purwaningsih
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.25159
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan sebuah karya dan masyarakat Sunda, dan Draupadi dan Arimbi sebagai tokoh perempuan yang menggambarkan relasi kuasa dalam masyarakat Sunda. Penelitian ini menggunakan kerangka analisis Feminist Critical Discourse Analysis (FCDA) untuk menggambarkan narasi kuasa yang terjadi pada lakon Arimbi dan Draupadi. Penjelasan terkait pengaruh wayang terhadap identitas perempuan dalam masyarakat tradisional Sunda diperoleh dari observasi yang dilaksanakan di Dusun Cengkir Manis, Desa Cinyasag, Kab. Ciamis, Jawa Barat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa narasi kuasa pria pada lakon Draupadi dan Arimbi yang akhirnya mereproduksi identitas perempuan dan laki-laki dalam masyarakat patriarki. Praktek itu terlihat melalui fenomena komodifikasi dan objektifikasi dalam masyarakat tradisional Sunda. Perempuan menjadi entitas yang ditandai atau dikenal dengan sebutan marked society dalam dunia heteronormatif.
PERSEPSI DAN AKSI MASYARAKAT PEDESAAN DI MASA PANDEMI
Chusna Apriyanti;
Riza Dwi Tyas Widoyoko
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.25526
Data statistik dari Satgas Penanganan COVID-19 Indonesia menunjukkan kenaikan pasien yang signifikan. Akan tetapi, kesadaran masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan semakin berkurang dan abai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi dan aksi masyarakat pedesaan dalam kehidupan sehari-hari selama pandemi COVID-19 di Pacitan dan faktor yang mempengaruhinya. Banyak riset yang mengulas tentang sikap masyarakat dalam menghadapi pandemi, namun penelitian ini berfokus pada masalah masyarakat pedesaan karena mereka menganggap wilayahnya aman sehingga menyepelekan protokol kesehatan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan melibatkan 51 responden dari 51 dusun di Kabupaten Pacitan. Responden tersebut bertindak sebagai observer bagi lingkungan masyarakatnya. Satu orang responden mengamati 10 orang di sekitar tempat tinggalnya. Sehingga jumlah sampel penelitian berjumlah 510 orang. Data diambil menggunakan lembar observasi yang dilaporkan secara online menggunakan google form. Data dianalisis dengan cara menghitung hasil angket, menganalisis data, menyajikan data, melakukan telaah mendalam, dan membuat kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa persepsi dan aksi masyarakat di pedesaan dalam menghadapi pandemi COVID-19 menunjukkan tingkat kesadaran, kepatuhan, dan konsistensi yang masih rendah. Penelitian menemukan hanya 13.7% masyarakat yang konsisten menggunakan masker terutama ketika beraktivitas di luar rumah. Penerapan physical distancing menunjukkan sebanyak 56.9% masyarakat masih beraktivitas dan berkumpul di luar rumah. Pada aspek ketersediaan sarana cuci tangan menunjukkan ada sebanyak 31.4% rumah tidak menyediakan sarana cuci tangan. Berbagai faktor dan persepsi yang mempengaruhi persepsi dan aksi masyarakat di masa pandemi mencakup kurangnya pemahaman akan COVID-19, rendahnya partisipasi masyarakat untuk ikut serta dalam upaya pencegahan COVID-19, kondisi ekonomi masyarakat dan tidak adanya aturan yang mengikat.
MELACAK EKSISTENSI KEARIFAN LOKAL DALAM KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PARIWISATA KABUPATEN SIAK DI ERA GLOBALISASI
Zulfa Harirah;
Wazni Azwar;
Isril Isril
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.26629
Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat eksistensi kearifan lokal dalam kebijakan pariwisata di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Ide dasar tulisan ini berangkat dari kegelisahan dalam mengamati fenomena pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal yang mulai ditinggalkan. Kearifan lokal dianggap kuno dan tidak menarik menyebabkan tidak banyak daerah yang mengembangkan pariwisata berbasis kearifan lokal. Terlebih dalam era globalisasi, kekhawatiran akan pudarnya kearifan lokal yang dikelilingi oleh budaya barat menjadi tantangan tersendiri bagi eksistensi kearifan lokal. Namun berbeda yang terjadi di Kabupaten Siak, kearifan lokal justru menjadi kekuatan dalam kebijakan pariwisata. Sehingga menjadi penting untuk melacak lebih jauh penguatan kearifan lokal dalam kebijakan pariwisata di Kabupaten Siak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilakukan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dokumentasi. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode/tanda, dan mengkategorikan data sehingga diperoleh temuan yang sesuai dengan masalah yang ingin dijawab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara formalitas kearifan lokal dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Siak masih terbukti eksis. Namun secara substansi, nilai-nilai kearifan lokal mulai mengalami perubahan seiring dengan tidak dilibatkannya Lembaga Adat Melayu dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Siak. Secara konteks, masyarakat mendukung pelaksanaan kebijakan pengembangan pariwisata berbasis budaya melayu. Sedangkan pada sisi input, proses dan produk menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal masih memerlukan perbaikan pada sisi kualitas SDM, koordinasi antar lembaga dan pelestarian nilai budaya.
PROSES NEGOSIASI KONFLIK PAPUA: DIALOG JAKARTA-PAPUA
Delvia Ananda Kaisupy;
Skolastika Genapang Maing
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.27056
Konflik Papua merupakan konflik vertikal dan berlangsung lebih dari 50 tahun. Penyebab utama konflik ini adalah keinginan untuk “Papua Merdeka” yang diperjuangkan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Konflik ini juga semakin memanas dengan keberadaan Freeport serta isu rasial dan diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang pada bulan agustus 2019. Negosiasi menjadi pilihan terbaik Pemerintah Indonesia untuk resolusi konflik di Papua. Tujuan utama artikel ini adalah untuk memahami proses negosiasi konflik Papua terkait aktor, tuntutan dan proses negosiasi dengan menggunakan teori negosiasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif, dimana penelitian dilakukan terhadap fenomena sosial masyarakat yang secara wajar dan alamiah terjadi tanpa adanya rekayasa atau laboratoris. Pendekatan ini memberikan data-data yang sifatnya deskriptif berupa perkataan tertulis atau lisan yang menggambarkan berbagai kondisi dan situasi atau variabel tertentu. Teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan studi literatur untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses negosiasi konflik Papua melibatkan aktor internal (pemerintah pusat/daerah, KKB/OPM, kepala suku/tokoh agama dan masyarakat sipil) dan aktor eksternal (Freeport) dengan tuntutan utama adalah Papua merdeka. Proses negosiasi berlangsung lama dan menghadapi banyak kendala, namun hal ini akan terus diusahakan untuk mendapatkan keputusan yang bersifat win-win solution. Dialog antara Jakarta-Papua harus lebih mencerminkan nilai-nilai budaya orang Papua.
HEGEMONI DAN NEGOSIASI DALAM GAYA BERBUSANA
Wury Dwiwardani;
Wahyu Handayani Setyaningsih
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.28126
Tulisan ini berangkat dari ketertarikan pada fenomena fashion statement dari para pejabat publik akhir-akhir ini yang mendapat perhatian dari masyarakat luas. Saat ini, seorang pejabat publik tidak hanya akan mendapatkan perhatian dari khalayak luas karena official atau political statement yang disampaikannya, namun juga karena fashion statement yang ditampilkannya. Fashion statement tersebut memunculkan berbagai pendapat yang merepresentasikan nilai-nilai hegemonik terkait kode-kode fashion yang berlaku, sekaligus juga upaya melakukan negosiasi dan transformasi atasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana hegemoni bekerja mengontrol persepsi masyarakat dalam memahami realitas, dan bagaimana negosiasi dan transformasi terjadi dalam kode-kode fashion. Analisis dilakukan dengan mencermati artikel dan komentar-komentar warganet di media-media daring untuk melihat makna yang tersirat. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terlihat adanya upaya untuk melakukan negosiasi dan transformasi pada kode-kode fashion. Fashion dan gagasan-gagasan yang disematkan padanya memunculkan kebutuhan mengkonsumsi pakaian serta assories penyertanya, dan membuka pasar yang tidak pernah mati bagi bisnis dan industri fashion. Pada akhirnya hegemoni budaya pada produk fashion bekerja untuk penguasa yang sesungguhnya, yaitu mereka para pemilik modal.
BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL KERAJAAN INSANA DI DATARAN TIMOR
Faizal Arvianto;
Giri Indra Kharisma
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.28540
Pada era globalisasi pengetahuan masyarat tentang kerajaan di masa lampau menjadi semakin terbatas. Minimnya literatur tertulis yang mengungkapkan keanekaragaman kerajaan di masa lampau menjadi salah satu penyebabnya. Hal ini dapat dijumpai pada kerajaan-kerajaan di dataran Timor tepatnya di Kabupaten Timor Tengah Utara seperti kerajaan Insana yang dipimpin klan Us Finit, Kerajaan Biboki oleh klan Us Boko, dan Kerajaan Amarasi oleh klan Koroh. Dalam perkembangannya, sumber informasi tradisi dan budaya yang diketahui sampai sekarang masih berasal dari cerita rakyat dan tradisi yang berkembang turun-temurun. Penelitian untuk mengungkap budaya dan kearifan lokal Kerajaan Insana di Dataran Timor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dilaksanakan di Oelolok, Desa Ainiut, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Instrumen penelitian yang digunakan berupa: panduan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa kebudayaan dan kearifan lokal yang ada di kerajaan Insana cukup beragam. Dari segi budaya, terdapat beberapa kesenian dan kerajinan yang ada di kerajaan Insana. Ragam budaya yang ada pada masyarakat Insana juga telah melahirkan kearifan lokal yang sudah diwariskan secara tutun temurun. Kearifan lokal tersebut dapat terlihat pada upacara ritual dan tradisi yang menjadi adat istiadat masyarakat Insana.
NARKOBA DI KALANGAN PELAJAR KOTA ‘SANTRI’ TASIKMALAYA
Ai Kusmiati Asyiah;
Ristina Siti Sundari;
Ade Maftuh;
Samsu Herdiana
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i1.28933
Penyalahgunaan narkoba pada masyarakat Tasikmalaya semakin mencemaskan. Sebagai salah satu akses dari mudahnya informasi melalui segala media, masyarakat yang kurang filter dalam menyikapi banyak yang terjerumus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi tentang penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan analisis statistika menggunakan analisis linier berganda untuk dapat diketahui ada atau tidaknya pengaruh dari variable internal dan eksternal terhadap 22 orang responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa factor internal yaitu individu dan proses psikologis memiliki pengaruh yang nyata terhadap penyalah gunaan narkoba di kalangan mahasiswa dan pelajar di Tasikmalaya. Begitu juga factor eksternal yaitu lingkungan dan kondisi ekonomi sama berpengaruh nyata dalam kategori tinggi yang menyebabkan terjadinya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar mahasiswa. Sosialisasi untuk menurunkan factor-faktor internal dan eksternal oleh orang tua, guru, lembaga, media social. Disarankan untuk membuat suatu perkumpulan atau organisasi di lembaga sekolah atau kampus dalam menggalakkan pelajar menjadi kader anti narkoba.