cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 18 No. 2 (2024)" : 9 Documents clear
Exploring the Role of Religious Leaders and Religious Organizations in Combating Corruption in Indonesia Roshady, Mohammad Ezha Fachriza; Wibowo, Satrio Adjie
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/txjcq141

Abstract

Corruption remains a significant issue in Indonesia, hindering development and governance across various sectors. Despite the strong religious character of Indonesian society, the role of religious leaders in combating corruption has yet to produce substantial results. This study aims to analyze the role and challenges faced by religious leaders in reducing corruption, focusing on their influence in anti-corruption movements at the community level. This research employs a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through literature reviews, interviews, and case studies from religious organizations collaborating with the Corruption Eradication Commission (KPK). Key informants included KPK officials and religious leaders. The findings reveal that while religious leaders possess moral authority and influence within their communities, their involvement in anti-corruption efforts remains limited. The study also identifies several obstacles, such as limited political influence, difficulties in addressing corruption issues, and challenges in effectively communicating anti-corruption messages to the public. Further research is needed to evaluate the long-term effectiveness of religious leaders' involvement and to develop strategies for strengthening their collaboration with state institutions in the fight against corruption. Korupsi tetap menjadi masalah serius di Indonesia yang menghambat perkembangan dan tata kelola di berbagai sektor. Meskipun masyarakat Indonesia dikenal religius, peran pemimpin agama dalam memberantas korupsi belum memberikan dampak yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan tantangan yang dihadapi pemimpin agama dalam upaya mengurangi korupsi, dengan fokus pada pengaruh mereka terhadap gerakan anti-korupsi di tingkat masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui tinjauan literatur, wawancara, dan studi kasus dari organisasi keagamaan yang bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Informan utama mencakup pejabat KPK dan pemimpin organisasi keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemimpin agama memiliki otoritas moral dan pengaruh dalam komunitas mereka, keterlibatan mereka dalam upaya pemberantasan korupsi masih terbatas. Penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai hambatan, seperti keterbatasan pengaruh politik, kesulitan dalam memahami isu korupsi, dan tantangan dalam menyampaikan pesan anti-korupsi agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang dari keterlibatan pemimpin agama serta mengembangkan strategi untuk meningkatkan kolaborasi mereka dengan lembaga negara dalam pemberantasan korupsi.
Navigating Sharia and Institutional Conflict: The Case of Land Pawning Practices in Aceh Afna, Mauloeddin Afna
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/pnqn4a91

Abstract

Sharia-based pawning practices in Aceh have long served as an important system for managing communal assets and fostering social cohesion. However, recent challenges, such as declining trust, rising gold prices, and misinterpretations of Sharia principles, have jeopardized the sustainability of this system. This study aims to explore the social, economic, and cultural dynamics that contribute to conflicts within Aceh’s pawning system, with a focus on how stakeholders address and resolve these conflicts. Employing a Participatory Action Research (PAR) approach, the study gathered data through literature reviews, interviews, and participant observation, involving local authorities, religious leaders, and community members. The research investigates how institutional logics—religious, cultural, and economic—shape conflict resolution strategies in the community. The findings indicate that while economic pressures and misapplications of Sharia principles drive these conflicts, successful resolution depends heavily on cooperation among stakeholders. The community’s role as mediator is critical in ensuring transparency, trust, and fairness. The study concludes that achieving a balance between Sharia compliance and local socio-economic realities is key to fostering sustainable reforms and ensuring the long-term stability of the pawning system in Aceh. Praktik gadai berbasis syariah di Aceh telah lama menjadi sistem penting dalam pengelolaan aset komunal dan memperkuat ikatan sosial. Namun, tantangan baru seperti erosi kepercayaan, kenaikan harga emas, dan penerapan yang salah dalam prinsip syariah telah mengancam keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang berkontribusi terhadap konflik dalam sistem gadai di Aceh, dengan fokus pada cara para pemangku kepentingan menyelesaikan konflik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan mengumpulkan data melalui tinjauan literatur, wawancara, dan observasi partisipatif, melibatkan otoritas lokal, pemuka agama, dan anggota masyarakat. Studi ini mengeksplorasi bagaimana logika institusional—agama, budaya, dan ekonomi—membentuk strategi penyelesaian konflik di dalam komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun konflik dipicu oleh tekanan ekonomi dan penerapan yang salah prinsip syariah, penyelesaian yang efektif justru sangat bergantung pada kerja sama antara pemangku kepentingan. Peran komunitas sebagai mediator sangat penting dalam menjaga transparansi, kepercayaan, dan keadilan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keseimbangan antara kepatuhan terhadap syariah dengan realitas sosial-ekonomi lokal adalah kunci untuk menciptakan reformasi yang berkelanjutan dan memastikan kelangsungan jangka panjang dari sistem gadai di Aceh.
The Changing Significance of the Gerebeg Maulid Tradition: An Examination of Its Socio-Economic Impact in Indonesia Permadi, Danur Putut; Yantari, Hanif Fitri
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/6qy79d79

Abstract

The tradition of Grebeg Maulid in Yogyakarta plays a significant role within Indonesian Musim society. It is not just a cultural identity with significances of religiosity, but also a multifaceted socio-economic phenomenon. The aim of this study is to explore how the Muslim society perceives this heritage, specifically within the socio-economic context. The study employed qualitative research methodology, utilizing observation and interviews to collect data from informants who are actively engaged in the practice. The findings indicated that Grebeg Maulid serves not only as a platform for religious expression, but also as a catalyst for economic endeavors and touristic aspects. Its economic impacts are clearly identified through the numerous business transactions that take place during the event, providing a boost to the local tourism industry. However, the commercialization of this tradition has changed its meaning, with economic values overshadowing its religious significance. In a nutshell, the significance of Grebeg Maulid has undergone a significant change within Javanese Muslim culture. It has evolved beyond being solely a celebration of the Prophet Muhammad's birth and now serves as a hub for tourism and commercial endeavors in the community. Tradisi Grebeg Maulid di Yogyakarta dalam kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia, tidak hanya sebagai simbol budaya dengan makna religius, tetapi juga sebagai fenomena sosial ekonomi yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemaknaan masyarakat Muslim terhadap tradisi ini, khususnya dalam konteks sosial ekonomi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, adapun pengumpulan data melalui proses observasi dan wawancara dengan informan yang terlibat dalam tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Grebeg Maulid tidak hanya menjadi sarana untuk mengekspresikan keberagamaan, tetapi juga sebagai sarana untuk aktivitas ekonomi dan pariwisata. Dimensi ekonomi dalam tradisi ini tercermin dalam bentuk transaksi ekonomi yang terjadi selama acara dan memberi dampak positif terhadap industri pariwisata setempat. Meskipun demikian, keberadaan dimensi ekonomi ini telah menggeser makna sakralitas tradisi tersebut, kebutuhan akan nilai ekonomi menjadi lebih dominan dibandingkan dengan makna religious yang melekat dalam tradisi Grebeg Maulud. Dengan kata lain, Grebeg Maulid telah mengalami transformasi makna yang signifikan bagi masyarakat Muslim Jawa, tidak lagi hanya sebagai pengingat kelahiran Nabi Muhammad, tetapi juga sebagai objek wisata dan ekonomi masyarakat.
Examining Sufi Practices on Social Media: Distortions and Complexities in Contemporary Pakistan Waheed, Usman; Junejo, Safiullah; Numan, Muhammad
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/522e5653

Abstract

The engagement of Sufism on Pakistani social media has sparked many concerns over the inclusivity of religious manifestations and the interpretation of the Qur'an. This research seeks to examine the historical development and objectives of Sufism in order to analyse the impact of Sufi activities in the digital domain, specifically focusing on the emergence of religious aberrations. The research was carried out utilizing qualitative methodologies by examining ancient Sufi literature and subsequently comparing it with Sufi practices in the digital domain. The findings demonstrate that internet platforms have fundamentally transformed the availability and dissemination of Sufi teachings, allowing an unparalleled avenue for dialogue and cultural manifestation that was before unachievable. Nevertheless, there are deficiencies in their attitude to community, instructional methods, and the impact of technology on their individual activities. The concept of Digital Sufism demonstrates the integration of traditional practices into the online world, resulting in both opportunities and challenges in the modern day. Praktik Sufi di media sosial Pakistan telah menimbulkan beberapa masalah terkait keberagaman dalam ekspresi keagamaan dan pemahaman terhadap teks Al-Qur’an. Melalui penelusuran sejarah dan tujuan tasawuf, penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana praktik Sufi di ranah digital tersebut memunculkan distorsi keagamaan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur Sufi klasik dan kemudian membandingkannya dengan praktik sufi di ranah digital. Hasil penelitian menunjukkan platform online telah merevolusi aksesibilitas dan penyebaran ajaran Sufi, mendorong sebuah cara yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk percakapan dan ekspresi budaya yang sebelumnya tidak mungkin tercapai. Namun, kesenjangan muncul dalam pendekatan mereka terhadap komunitas, teknik pengajaran, dan pengaruh teknologi terhadap praktik mereka masing-masing. Sufisme Digital mencontohkan asimilasi adat istiadat konvensional ke dalam ranah virtual, yang melahirkan prospek dan kompleksitas di era kontemporer.
Exploring Kuntowijoyo’s Concept of Prophetic Leadership and Its Relevance in Indonesian Muslim Society Syihabuddin, Muhammad; Huda, Luthfi Nurul
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/cme5rn08

Abstract

Exploring the concept of prophetic leadership as proposed by Kuntowijoyo and its significance in today's Indonesian Muslim holds immense value, given its enduring relevance and the deep interest it generates within the Indonesian Muslim community. The notions of liberation, humanization, and transcendence play a crucial role in establishing societal stability. This research seeks to elucidate Kuntowijoyo's idea of prophetic leadership and its contextualization within Muslim communities in Indonesia. The research methodology employed is qualitative-descriptive, involving a comprehensive review of literature pertaining to Kuntowijoyo's ideas. The findings demonstrated that the principles of liberation, transcendence, and humanization, which emerged as significant elements in Kuntowojoyo's prophetic leadership, were very applicable within the social and cultural milieu of Indonesia. The importance of understanding and implementing morality in leadership is emphasized by these ideals, with the goal of promoting stability and prosperity within the Indonesian Muslim community. Gagasan kepemimpinan profetik oleh Kuntowijoyo telah lama menjadi perhatian masyarakat Muslim di Indonesia, sehingga upaya untuk menggali konsep kepemimpinan profetik Kuntowijoyo dan relevansinya dalam masyarakat muslim saat ini menjadi sangat penting. Khususnya pada bagaimana liberasi, humanisasi, dan transendensi menjadi konsep kunci dalam menciptakan stabilitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep kepemimpinan profetik Kuntowijoyo dan bagaimana kontektualisasinya dalam masyarakat Muslim di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-destriptif dengan melakukan studi literatur terkait pemikiran Kuntowijoyo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai liberasi, transendensi, dan humanisasi yang menjadi konsep penting dalam kepemimpinan profetik Kuntowojoyo sangat relevan dalam konteks sosial dan budaya Indonesia. Nilai-nilai ini menjadi penegasan akan pentingnya pemahaman mendalam terhadap moralitas dan implementasinya dalam kepemimpinan, guna menciptakan stabilitas dan kesejahteraan dalam masyarakat Muslim Indonesia.
Examining Peacebuilding Strategies Amid Socio-Religious Conflicts: The Case of Pesantren Waria in Yogyakarta Salsabila, Astrid Syifa
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/5s2qy843

Abstract

The establishment of Pesantren Waria in Yogyakarta has faced various challenges, reflecting broader tensions between religious conservatism and the rights of transgender individuals in Indonesia. Since its founding, the pesantren has provided a safe space for waria (trans women) to practice their faith. However, it has encountered significant opposition, including its forced closure by the Front Jihad Islam (FJI) in 2016. This study aims to examine the conflict between Pesantren Waria and FJI and to identify appropriate peacebuilding interventions. The research focuses on understanding the socio-economic and religious dimensions of the conflict and how these factors have contributed to its escalation. This study employs a qualitative approach, including a literature review, interviews, and the use of Johan Galtung's ABC Triangle of Conflict and Lisa Schirch's peacebuilding model. The findings reveal that the conflict was driven not only by religious factors but also by socio-economic motivations, particularly FJI's desire to control local resources. While religious interpretation played a role, the conflict extended beyond theological debates. The study highlights the importance of involving local authorities, particularly the Yogyakarta Palace, in fostering sustainable peace. Effective interventions must consider the interests of all parties and the local context, rather than focusing solely on religious reconciliation. Pendirian Pesantren Waria di Yogyakarta menghadapi berbagai tantangan, hal ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara konservatisme agama dan hak-hak individu transgender di Indonesia. Sejak awal pendiriannya, pesantren ini menyediakan ruang aman bagi waria (trans perempuan) untuk beribadah. Namun mendapat perlawanan signifikan, termasuk penutupannya secara pak sa oleh FJI (Front Jihad Islam) pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konflik antara Pesantren Waria dan FJI serta menemukan intervensi perdamaian yang tepat. Fokus penelitian adalah memahami dimensi sosial-ekonomi dan agama dari konflik tersebut serta bagaimana faktor-faktor ini mempengaruhi eskalasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berupa tinjauan literatur, interview, serta menggunakan kerangka analisis konflik Segitiga ABC Johan Galtung dan model perdamaian Lisa Schirch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik ini dipicu tidak hanya oleh alasan agama, tetapi juga faktor sosial-ekonomi, terutama keinginan FJI untuk mengendalikan sumber daya lokal. Sementara interpretasi agama berperan, konflik ini melampaui perdebatan teologis. Studi ini menekankan pentingnya keterlibatan otoritas lokal, khususnya Keraton Yogyakarta, dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Intervensi yang tepat harus mempertimbangkan kepentingan semua pihak dan konteks lokal, bukan hanya berfokus pada rekonsiliasi agama.  
Preserving Cultural Identity Through Tahlilan: Strengthening Social Solidarity in Madura Jailani, Mohammad
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/8rsyag46

Abstract

The tahlilan tradition in Madura serves not only as a religious ritual but also as a significant social and cultural mechanism that strengthens communal bonds. In the context of Madura, tahlilan goes beyond prayer, representing solidarity, empathy, and social cohesion among community members. This study aims to analyze how tahlilan influences social solidarity and harmony within Madurese society, focusing on its role in community integration and the maintenance of social ties. A qualitative case study method was employed, involving interviews with local religious leaders, community figures, and participants in the tahlilan rituals, along with observations of religious practices in Pasean, Pamekasan. The results show that tahlilan plays a crucial role in reinforcing collective identity and social harmony in Madura. It fosters a sense of belonging and mutual support across social classes, while also serving as a mechanism for collective grieving and emotional expression. However, financial pressures related to hosting tahlilan can lead to social strain, particularly among lower-income families. This study highlights the cultural significance of tahlilan and its impact on social dynamics but acknowledges that further research is needed to explore economic challenges and evolving practices in different socio-economic contexts. Tradisi tahlilan di Madura tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai mekanisme sosial dan budaya yang memperkuat ikatan komunal. Dalam konteks Madura, tahlilan melampaui doa, mencerminkan solidaritas, empati, dan kohesi sosial di antara anggota masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tahlilan memengaruhi solidaritas sosial dan harmoni dalam masyarakat Madura, dengan fokus pada peran tradisi ini dalam integrasi komunitas dan pemeliharaan hubungan sosial. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif, melibatkan wawancara dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan peserta tahlilan, serta observasi langsung terhadap praktik keagamaan di Pasean, Pamekasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahlilan berperan penting dalam memperkuat identitas kolektif dan harmoni sosial di Madura. Tradisi ini mendorong rasa memiliki dan saling mendukung di berbagai lapisan masyarakat, serta menjadi mekanisme untuk meredakan duka bersama. Namun, tekanan finansial terkait pelaksanaan tahlilan dapat menimbulkan beban sosial, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah. Penelitian ini menekankan pentingnya tahlilan secara budaya dan pengaruhnya terhadap dinamika sosial, namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi tantangan ekonomi dan perubahan praktik dalam konteks sosial-ekonomi yang berbeda.
Analyzing the Philosophy of Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul in Promoting Social Solidarity and Addressing Social Inequality Nando, Fikri; Arifudin, Arifudin; Qilya Alrizis, Muhamad Omar
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/szfryh83

Abstract

Social disintegration resulting from discrimination and social inequality remains a persistent issue in various societies, including within the context of Javanese communities. The philosophy of Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul (whether we eat or not, what matters is to gather) represents a cultural value that can strengthen social solidarity and address the problem of social segregation. This study aims to analyze this philosophy through the lens of social solidarity and explore its potential as an alternative social movement for the lower-class communities. This research employs a qualitative approach using hermeneutic methods to interpret Javanese cultural texts within their socio-historical context. Data were gathered from primary sources such as journals and books, as well as secondary literature relevant to the research topic. The data analysis is grounded in Marx’s dialectical historical materialism and Neo-Marxist theory, specifically focusing on social solidarity and grassroots movements. The findings reveal that the philosophy of Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul plays a crucial role in promoting social solidarity within Javanese society, particularly in response to economic and social pressures. This philosophy not only fosters communal unity but also emphasizes the importance of equality and cooperation in confronting social injustice. As such, it holds significant potential to be developed as an inclusive social movement, centered on community values and collective welfare. Disintegrasi sosial akibat diskriminasi dan ketimpangan sosial masih menjadi persoalan di berbagai masyarakat, termasuk dalam konteks masyarakat Jawa. Filosofi Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul menjadi salah satu nilai budaya yang dapat memperkuat solidaritas sosial dan mengatasi masalah segregasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis filosofi tersebut dalam perspektif solidaritas sosial, serta mengeksplorasi potensi filosofi ini sebagai gerakan sosial alternatif di kalangan masyarakat kelas bawah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutik untuk memahami teks-teks budaya Jawa dalam konteks sosial-historis. Data dikumpulkan melalui kajian pustaka, baik dari sumber primer seperti jurnal dan buku, maupun sumber sekunder yang relevan dengan topik penelitian. Analisis dilakukan melalui pendekatan dialektika materialisme historis Marx dan teori Neo-Marxisme, khususnya terkait solidaritas sosial dan gerakan masyarakat akar rumput. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul memainkan peran penting dalam mempromosikan solidaritas sosial di kalangan masyarakat Jawa, khususnya dalam menghadapi tekanan ekonomi dan sosial. Filosofi ini tidak hanya memperkuat kebersamaan dalam komunitas, tetapi juga menekankan pentingnya kesetaraan dan kerjasama dalam menghadapi ketidakadilan sosial. Dengan demikian, filosofi ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bentuk gerakan sosial yang inklusif, berfokus pada nilai-nilai komunitas dan kesejahteraan bersama.
Book Review: Religion, Conflict, and Peacebuilding the Role of Religious Leadership Bosnia and Herzegovina: A Review Essay Fithriya, Dwi Nur Laela
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/32p9hp52

Abstract

The book Religion, Conflict, and Peacebuilding by Stipe Odak examines the role of religion in conflicts and peacebuilding efforts, focusing on Bosnia and Herzegovina. This book emerges amidst the rise of religiously motivated violence, such as the events of 2014, and addresses a critical question: Can religion be part of the solution when it is often perceived as part of the problem? In terms of substance, Odak explores how religious leaders can either exacerbate or mitigate conflicts and how they serve as agents of change in the peace process. The book is based on interviews with religious leaders and in-depth case studies, discussing strategies for interfaith dialogue and faith-based peace initiatives. Odak highlights two contrasting realities: violence fueled by religious beliefs and the substantial efforts by religious individuals and institutions to foster peace. Criticism of the book centers on its narrow geographic focus, which may lead readers to feel that its findings are confined to the Balkan context. Additionally, the book lacks a deeper critical analysis of the potential biases of religious leaders in their approaches. Nevertheless, it makes a significant contribution to the literature on religion, conflict, and peacebuilding, particularly for those interested in the dynamics of religion-based conflicts. Buku Religion, Conflict, and Peacebuilding karya Stipe Odak mengkaji peran agama dalam konflik dan upaya perdamaian, dengan fokus pada Bosnia dan Herzegovina. Buku ini muncul di tengah meningkatnya kekerasan bermotif agama, seperti yang terjadi pada tahun 2014, dan menyoroti pertanyaan penting: Dapatkah agama menjadi bagian dari solusi ketika sering kali dianggap sebagai penyebab masalah? Secara substansi, Odak mengeksplorasi bagaimana pemimpin agama dapat memperburuk atau mengurangi konflik dan bagaimana mereka berperan sebagai agen perubahan dalam proses perdamaian. Buku ini didasarkan pada wawancara dengan pemimpin agama dan studi kasus yang mendalam, serta membahas strategi dialog antar iman dan inisiatif perdamaian berbasis agama. Odak menunjukkan dua realitas yang bertentangan: kekerasan yang didorong oleh keyakinan agama dan upaya besar dari individu dan lembaga agama dalam membangun perdamaian. Kritik terhadap buku ini berfokus pada pendekatannya yang sempit secara geografis, sehingga pembaca mungkin merasa bahwa temuan buku ini terbatas untuk konteks Balkan saja. Selain itu, analisis kritis terhadap bias yang mungkin dimiliki oleh para pemimpin agama dalam pendekatan mereka belum digali secara mendalam. Meskipun demikian, buku ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam literatur tentang agama, konflik, dan resolusi perdamaian, terutama bagi mereka yang tertarik pada dinamika konflik berbasis agama.

Page 1 of 1 | Total Record : 9