cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Exploration of Religious Moderation with Local Culture among Samin Community, Bojonegoro Setiawan, Nanang; Khamid, Abdul; Huda, Muhammad Miftakhul; Muntholip, Abd
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i2.24243

Abstract

The promotion of religious moderation in Indonesia has become increasingly urgent amid the proliferation of radicalism and extremism among society. This research explores how religious moderation is realized in the daily lives of the Samin community in Bojonegoro. It is a qualitative study that involves observations of the community's traditional life and in-depth interviews with their leaders. The result unveils several local wisdoms: ngelmu iku sejatine dhewe (knowledge is truly one's own), ngudi ilmu (seeking knowledge), ponco soco (humble), ngluruk tanpa rupo (moving without a trace), nyawiji sepi ing pamrih (living in solitude without selfishness), nyawiji ngluruk (living without desire), ngganem sepi ing ngluruk (cultivating simplicity in living without expectations), and ngalembono (being serene). The local cultures play a substantial role in shaping and maintaining religious moderation. Customs and traditions are strong foundations for tolerance among religious communities, thereby creating harmony amidst the diversity of beliefs. This study contributes to a deeper understanding of the balance between religious moderation and local culture in that it provides new insights for researchers, practitioners, and readers interested in the field. It provides a positive contribution to support a better understanding of religious moderation in the local context, with a special focus on the unique experiences of the Samin community. Implementasi moderasi beragama di Indonesia sudah menjadi hal yang urgen di tengah banyaknya fenomena redikalisme dan ekstremisme di tengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana moderasi beragama diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Samin Bojonegoro. Penelitian ini bersifat kualitatif, melibatkan pengamatan kehidupan tradisional masyarakat Samin dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan beberapa kearifan lokal di masyarakat Samin Bojonegoro, yaitu: ngelmu iku sejatine dhewe, ngudi ilmu, ponco soco, ngluruk tanpa rupo, nyawiji sepi ing pamrih, nyawiji ngluruk, ngganem sepi ing ngluruk, dan ngalembono. Budaya masyarakat Samin berperan penting dalam membentuk dan menjaga moderasi beragama. Adat dan tradisi menjadi pondasi yang kuat bagi terbentuknya toleransi antar umat beragama dan menciptakan kerukunan di tengah keberagaman keyakinan. Studi ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang keseimbangan antara moderasi beragama dan budaya lokal sehingga memberikan wawasan baru bagi para peneliti, praktisi, dan pembaca yang tertarik dengan bidang ini. Diharapkan bahwa penelitian ini akan memberikan manfaat untuk mendukung pemahaman yang lebih baik tentang moderasi beragama dalam konteks lokal, dengan fokus khusus pada pengalaman unik masyarakat Samin.
Tradisi Sastra Dikili dalam Pelaksanaan Upacara Adat Maulidan di Gorontalo Baruadi, Moh. Karmin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v16i1.2760

Abstract

This article intent to reveal extent dikili's activity performing that terminological custom tradition/Gorontalo's culture. Assessment did by sosio-cultural's approaching passes through search empirik's literature and watch to its performing at any given custom scene about dikili  that. Study result points out that matter-of-fact social and tribal society culture Gorontalo places dikili as something that important and contains religious point in manage society life behaviour. Islamic aesthetical norms constitute translations symbolically to trusts and grasps to God that most formula deep mirror recitation. Assess dominant Islamic teaching obeyed by that Gorontalo's islamic community constitute basis source that bear artistry as modikili. Such thing this is too causative Gorontalo's society really price traditions especially that gets islami's nuance that all along maintained regular and is kept up. That islami's point was braced motto thru or slogan that becomes Gorontalo's culture reflection that identic with islam which is ‘ adati hula hula’a. to sara’a., sara’a. hula hula’a. to kuru’ani ’ or custom based on al Quran (kitab Allah). Artikel ini bertujuan mengungkapkan pelaksanaan kegiatan dikili atau maulud Nabi menurut tradisi Gorontalo. Pengkajian dilakukan dengan pendekatan sosio-kultural melalui penelusuran literatur dan pengamatan empirik terhadap setiap peristiwa adat terkait dikili. Hasil kajian menunjukan bahwa berdasarkan kenyataan, sosial dan budaya masyarakat suku Gorontalo menempatkan dikili sebagai sesuatu yang penting dan mengandung nilai-nilai religius dalam mengatur perilaku hidup masyarakat. Norma-norma keindahan Islam merupakan penerjemahan secara simbolis terhadap kepercayaan dan pemahaman kepada Tuhan yang tercermin dalam formula zikir. Nilai-nilai ajaran Islam yang dominan dipatuhi oleh masyarakat Islam Gorontalo tersebut merupakan sumber acuan yang melahirkan kesenian seperti modikili. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Gorontalo sangat menghargai tradisitradisi terutama yang bernuansa islami yang selamanya tetap dilestarikan. Nilai-nilai Islami tersebut telah dikukuhkan melalui semboyan yang menjadi cerminan budaya Gorontalo yang identik dengan Islam yaitu ‘adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to kuru’ani’ atau adat bersendi syarak dan syarak bersendi al Quran.
Pendekatan Multikultural menuju Pemahaman Agama yang Plural Zainuddin, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v7i2.4656

Abstract

We have the expectation of the birth of change which makes our life blissful. Among the educators and the intellects, a new awareness is now there for growing and developing the open-mindedness (inclusive) on religion comprehension. The birth of intellectual thinking of transformative Islam, liberal, inclusive, contextual, and many other terms whatsoever are the new era for desecration of the thought of Islam (alla taqsidiyyah). Moreover, the contemporary liberal-inclusive thoughts such as Hassan Hanafi, Arkoun, al Jabiri, al Naim, and so forth were already introduced to the young intellects generation in Indonesia. This article discusses about the absolute claims of some religions and also multicultural approach to create the harmony life among people with different religions. Kita masih memiliki harapan akan lahirnya perubahan yang menggembirakan. Di kalangan akademisi dan intelektual kita, kini telah muncul ‘kesadaran baru’ bagi tumbuh dan berkembangnya pemikiran terbuka (inklusif) dalam pemahaman agama. Munculnya pemikiran intelektual Islam transformative, liberal, inklusif, kontekstual, dan apapun istilahnya merupakan era baru bagi desakralisasi pemikran Islam (alla taqdisiyyah). Apalagi kemudian pemikiran-pemikiran kontemporer liberal-inklusif seperti Hassan Hanafi, Arkoun, al Jabiri, al Naim, dan seterusnya telah disosialisasikan oleh generasi intelektual muda di Indonesia. Artikel ini membahas klai-klaim absolut dari beberapa agama dan juga pendekatan multicultural untuk menciptakan kehidupan harmonis di kalangan umat beragama.
Javanese Belief in The Ceremony of Bersih Desa with Wayang Kulit Play Sulaksono, Djoko; Lestari, Winda Dwi; Waluyo, Budi; Islahuddin, Islahuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i2.12858

Abstract

Humans, nature, culture, and creators have an inseparable relationship. In Javanese culture, gratitude is realized through cultural events, such as Bersih Desa (village clean-ups ceremony). A puppet play of Sri Mulih is performed as an expression of gratitude. This research is a qualitative descriptive study with three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The data source is a video of Wayang Purwa play of Sri Mulih. First, the data are reduced and analyzed by discussing the problem. Finally, the data are assessed by using triangulation techniques to obtain data validity. This study found that the religious value within the play is related to the ceremony of Bersih Desa in the Purworejo district. The finding provides a picture of the acculturation of local culture and Islamic teachings because wayang plays are adapted according to the Javanese culture. Manusia, alam, budaya, dan pencipta memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam budaya masyarakat Jawa, rasa syukur diwujudkan dengan acara-acara kebudayaan seperti halnya bersih desa. Lakon wayang kulit Sri Mulih yang dipentaskan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keyakinan religi masyarakat hubungannya dengan kepercayaan bersih desa menggunakan sarana pertunjukan wayang kulit purwa dengan lakon Sri Mulih. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan tiga tahapan penelitian, yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Sumber data dalam penelitian ini adalah video pertunjukan wayang purwa lakon Sri Mulih. Data-data dalam sumber data utama direduksi dan dianalisis dengan pembahasan masalah. Terakhir data-data yang diperoleh diuji dengan menggunakan teknik triangulasi untuk mendapat suatu derajat validitas data. Hasil dalam penelitian ini, ditemukan nilai religius dalam lakon tersebut terkait prosesi bersih desa di kabupaten Purworejo. Hasil ini memberikan gambaran akulturasi budaya lokal dan ajaran Islam karena lakon wayang telah diadaptasi sesuai dengan kultur busaya masyarakat Jawa.
Kearifan Lokal Pela-Gandong di Lumbung Konflik Tualeka Zn, Hamzah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.457

Abstract

Revitalization of pela-gandong has become urgent to shade a light in the misunderstanding surrounding this concept. This research is aimed at answering three questions: (1) how does the conflict happened in Ambon-Lease, (2) what are the root of the conflict, and (3) what are the best solution according to Ambonesse - Lease people perspective. This research is a field study which is also supported by library research. This research used qualitative method. Finding of this research has a theoretical implication concerning the concept of conflict and integration conflict based on the Lewis A. Coser and Karl Marx theory. This paper believes that there is a close relation between the concept of pela-gandong and the two theories. Findings of the research are expected to inspire other researchers conducting a dialectical theory analysis among Lewis A. Coser, Karl Marx theory and pela-gandong concept which, therefore, can be constructed as theoretical concept related to multi-dimensional conflict.  Revitalisasi pela-gandong merupakan keharusan yang mendesak untuk dilakukan sebagai tebusan atas pemahaman miring dan apatis yang selama ini muncul. Penelitian ini ingin menjawab tiga permasalahan pokok: (1) bagaimana sebenarnya peristiwa konflik yang terjadi di Ambon-Lease, (2) apa akar permasalahannya, dan (3) bagaimana pola penyelesaian konflik dalam perspektif masyarakat Ambon-Lease. Penelitian ini merupakan studi lapangan yang ditunjang oleh penelitian literer (library research). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Temuan dari penelitian ini memiliki implikasi teoretik terhadap konsep konflik dan integrasi ala Lewis A. Coser dan dialektika Karl Marx. Terdapat benang merah antara konsep pela-gandong dengan dua teori di atas. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber inspirasi untuk melakukan dialektika antara pendekatan analitik teori Lewis A. Coser, Karl Marx dan konsep pela-gandong. Langkah selanjutnya, hal itu bisa dijadikan kerangka teoretik terkait dengan konflik multidimensional.
The Strategy of Empowerment Based on ESQ Power: A Social Innovation in The Poverty Overcoming Peribadi, Peribadi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v19i2.4208

Abstract

This research aimed to develop an innovation of empowerment strategy on ESQ Power – Based. It was designed through a phenomenology deductive, a case study and the methodof research and development or the procedure of member check. The three of them were used eclectically in order to design an ideal formulation. The research findings indicated that the actors and actresses of poverty overcoming in Kendari City have not had the emotional intelligence and spiritual intelligence yet as ESQ Power. As a result, they were not optimal in performing their duties, roles and responsibilities. Therefore, the urgency of empowerment paradigm on ESQ Power – Based that has been formulated and validated by the skillful validator must be used in the future to increase the sense of responsibility of the actor network in overcoming the pauperization and poverty. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah inovasi strategi pemberdayaan berbasis ESQ Power. Hal itu dirancang melalui deduksi fenomenologis, studi kasus serta metode penelitian dan pengembangan atau prosedur member check. Ketiganya digunakan secara eklektik untuk merancang formulasi ideal. Temuan penelitian menunjukkan bahwa aktor dan aktris penanggulangan kemiskinan di Kota Kendari belum memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual sebagai ESQ Power. Akibatnya, mereka tidak optimal dalam menjalankan tugas, peran dan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, urgensi paradigma pemberdayaan berbasis ESQ Power yang telah dirumuskan dan divalidasi oleh validator ahli tersebut harus mulai digunakan ke depan untuk meningkatkan rasa tanggung jawab jaringan aktor dalam mengatasi pemiskinan dan kemiskinan.
Religious Culture of Sharia Microfinance Institutions in Denpasar-Bali Siswanto Siswanto; Khairil Anwar
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v22i2.10070

Abstract

This study aims to develop organizational culture in Islamic microfinance institutions Baitul Maal wa at-Tamwil (BMT) Sidogiri in  Denpasar, Bali. Organizational culture is a basic assumption that grows from social construction results based on a mutual agreement to solve problems and achieve organizational goals. Therefore, the organizational culture in each company is different. This study uses a qualitative approach to data collection and analysis. Data collection uses in-depth interviews with the informant. The informants are leaders, employees, and customers of the BMT. The results of the study show the practice of religious culture. The dimensions of religious culture are amanah or trustworthy, mutual help (ta'awun), kinship and togetherness. Its value is clarified with sharia enterprise theory. This research has implications for developing the concept of organizational culture based on the peculiarities of Islamic microfinance institutions based on pesantren. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengembangkan konsep budaya organisasi di lembaga keuangan mikro syariah BMT Sidogiri Denpasar, Bali. Budaya organisasi merupakan asumsi dasar yang tumbuh dari hasil konstruksi sosial berdasarkan kesepakatan bersama untuk menyelesaikan masalah dan mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, budaya organisasi dalam setiap perusahaan berbeda-beda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam kepada informan. Para informan adalah pimpinan, karyawan, dan nasabah BMT Sidogiri. Hasil penelitian menemukan penerapan budaya religius. Dimensi budaya religius tersebut meliputi amanah, tolong menolong (ta’awun), kekeluargaan kebersamaan. Nilai budaya religius tersebut selanjutnya diperjelas dengan teori usaha syariah. Penelitian ini memiliki implikasi pada pengembangan konsep budaya organisasi berdasarkan kekhasan lembaga keuangan mikro syariah berbasis pesantren.
Symbolic Meaning of Buka Luwur: a Historical and Cultural Study of Sunan Kudus Grave Rosyid, Moh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.17130

Abstract

This article describes the symbolic meaning of Luwur (a covering cloth) of the grave of Sunan Kudus, the first preacher of Kudus in the annual tradition of Buka Luwur (replacement with new Luwur every month of Muharam/Sura). The tradition is performed by the Foundation Administrator of Mosque, Menara, and Sunan Kudus Grave (YM3SK) together with the residents of Kauman, Kudus, Central Java. The data of this study were obtained from observation, interview, and reference investigation with a qualitative descriptive analysis. The research result showed that the luwur of Sunan Kudus grave behind al-Aqsha Menara Mosque assigns various symbolic meanings. The event of Buka Luwur tradition is performed in every first to tenth of Sura/Muharam month, through the distribution of Asura porridge and jangkrik rice to the residents of Kauman village, Islamic art performance, learning about Islamic New Year (Muharram), and replacement of the old Luwur with the new one. The motif of Luwur consists of jasmine, unthuk banyu, kompol, and wiru, which symbolize honor to Sunan Kudus. The tradition has been conserved to honor the traces of dakwah of Sunan Kudus. Artikel ini menjelaskan makna simbolis dari Luwur makam Sunan Kudus, da'i pertama di Kudus dalam tradisi tahunan Buka Luwur (penggantian Luwur baru setiap bulan Muharam/Sura). Tradisi tersebut dilakukan oleh Pengurus Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) bersama warga Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, Jawa Tengah. Data penelitian ini berasal dari observasi, wawancara dan investigasi referensi dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Luwur makam Sunan Kudus di belakang Masjid Al-Aqsha Menara memiliki berbagai makna simbolis. Rangkaian acara tradisi Buka Luwur dilakukan setiap bulan Sura/Muharam pertama hingga kesepuluh, yaitu pembagian bubur Asura dan nasi jangkrik kepada warga desa Kauman, pertunjukan atraksi Seni Islam, program pengajaran Tahun Baru Islam (Muharram), dan penggantian Luwur lama dengan yang baru. Motif Luwur terdiri dari melati, unthuk banyu, kompol, dan wiru, yang memiliki makna simbolis penghormatan terhadap Sunan Kudus. Tradisi tersebut dilestarikan untuk menghormati jejak-jejak dakwah Sunan Kudus.
Integrasi Agama dan Budaya: Kajian Tentang Tradisi Maulod dalam Masyarakat Aceh Nurdin, Abidin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i1.3415

Abstract

Islam and tradition in Aceh Community likes substance and attribut that cannot be separated each other. Religion and culture has been integrated in way of life, system social, culture and Islamic values. In cultural perspective, tradition of maulod has become deeping ritual of religion that integrated by values of religion and tradition that connected each other. This study used sociological and religion anthropology approach by using data collection such as observation, interview and library research. The result of this study describe that in maulud tradition in Aceh, there are integrated between religion and culture. Islam influence culture deeply in the same manner as almost whole social life aspects of Aceh community. These are can be found in process of  uroe maulod (the day of maulod), idang meulapeh (beverage of maulod), dzikee maulod (repeatedly chant part of the confession of islamic faith) and Islamic missionary. Indeed, maulod celebration is done not only in a month but also in three months namely; Rabi’ul Awwal (mulod awai/the first maulod), Rabi’ul Akhir (maulod teungoh/ the middle maulod) dan pada bulan Jumadil Awwal (maulod ache/the last maulod). Islam dan adat dalam masyarakat Aceh bagaikan zat dan sifat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Agama dan budaya terintegrasi dalam pandangan hidup, sistem sosial, budaya, dan nilai-nilai Islam. Dari konteks budaya, tradisi maulud menjadi praktek keagamaan yang kental dengan integrasi nilai-nilai agama dan adat yang saling berkelit kelindang. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiologi dan antropologi agama dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan  studi kepustakaan.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tradisi maulod di Aceh terjadi integrasi antara agama dan budaya. Islam mewarnai budaya secara begitu kental, sebagaimana juga ditemukan dalam hampir seluruh aspek kehidupan bagi masyarakat Aceh. Hal ini dapat dilihat dalam proses uroe maulod, idang meulapeh, dzikee maulod, dakwah Islamiyah. Bahkan perayaan maulod tidak hanya sebatas satu bulan saja, namun dilaksanakan dalam tiga bulan yaitu, Rabi’ul Awwal (mulod awai), Rabi’ul Akhir (mulod teungoh) dan pada bulan Jumadil Awwal (mulod akhe).
The Meaning of Rebbe Ritual as An Interpretation of Shadaqah Jariyah in Probolinggo Hilmi, Danial; Sa'diyah, Halimatus
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v22i1.8213

Abstract

The community of Lemah Kembar Village has a form of local wisdom preserved in fostering relationships, not only about the living but also about people who have passed away through shadaqah jariyah. One way of the cultural wisdom is the rebbe ritual done by the Probolinggo community, which is seen as alms from living families to relatives who have passed away. This study focused on exploring community interpretations and the historical social construction of rebbe ritual in interpreting the meaning of shadaqah jariyah in the community of Lemah Kembar village, Sumberasih district, Probolinggo. The results revealed that the historical social construction of rebbe ritual emerged from the differences of community’s understanding about the shadaqah jariyah, which were grouped into three, namely the group of people who believed in rewarding the deceased, the students who carried out the tradition but interpreted it differently, and the students who refused to do the tradition because such rituals were considered contrary to Islamic teachings. Masyarakat Desa Lemah Kembar memiliki suatu bentuk kearifan lokal yang dilestarikan dalam membina hubungan tidak hanya dengan orang yang hidup, tetapi juga dengan orang yang telah meninggal melalui shadaqah jariyah. Salah satu bentuk kearifan budaya tersebut diantaranya adalah ritual Rebbe yang merupakan salah satu tradisi lokal masyarakat Probolinggo yang dipandang sebagai sedekah dari keluarga yang masih hidup kepada sanak kerabat yang sudah meninggal. Kajian ini menitikberatkan pada eksplorasi masyarakat dan konstruksi sosial historis ritual Rebbe dalam menginterpretasikan makna shadaqah jariyah pada masyarakat Desa Lemah Kembar, kecamatan Sumberasih, kabupaten Probolinggo. Adapun hasil penelitian ini adalah bahwa konstruksi sosial historis ritual Rebbe berangkat dari perbedaan pemahaman masyarakat tentang Shadaqah Jariyah yang bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kaum awam yang meyakini akan sampainya hadiah pahala kepada orang yang meninggal, kaum santri yang menjalankan tradisi namun memaknainya secara berbeda, dan kaum santri yang menolak sama sekali untuk melaksanakan tradisi tersebut lantaran ritualnya dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue