cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Islam Nusantara: Sebuah Alternatif Model Pemikiran, Pemahaman, dan Pengamalan Islam Qomar, Mujamil
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i2.3345

Abstract

Islam Nusantara is a model of thought, comprehension, and implementation of Islamic teachings covered by culture and tradition developed in Southeast Asia (the scope of which is limited to Indonesia), that reflects Islamic identity with methodological nuance. The identity has various and controversial responses when it is socialized among Moslem because Islam is one, namely, Islam taught by prophet Muhammad. Otherwise, the majority of Islamic scholars accepted Islam Nusantara. That Islam is one is substantively true, but it expressed widely including Islam Nusantara. Islam is presented (thought, comprehended, and implemented) through cultural approach. The result leads to the thinking model, comprehending, and implementing Islamic teachings which are harmonious, moderate, inclusive, tolerant, peaceful, and multicultural based. The diverse Islamic thought is caused by local culture, especially Javanese culture, or called cultural acculturation. The Indonesian Islam can be a role model. It brings peaceful and harmonious messages, so it could be socialized internationally and replaced misleading opinion that Islam is full of violence. Islam Nusantara merupakan model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang dikemas melalui pertimbangan budaya atau tradisi yang berkembang di wilayah Asia Tenggara (tetapi kajian ini dibatasi pada Indonesia), sehingga mencerminkan identitas Islam yang bernuansa metodologis. Identitas ini ketika disosialisasikan di kalangan umat Islam, khususnya para pemikirnya direspons dengan tanggapan yang kontroversial: ada yang menolak identitas Islam Nusantara itu karena Islam itu hanya satu, yaitu Islam yang diajarkan oleh Nabi. Sebaliknya, banyak pemikir Islam yang menerima identitas Islam Nusantara itu. Bagi mereka, Islam hanya satu itu benar secara substantif, tetapi ekpresinya beragam sekali, termasuk Islam Nusantara. Islam ini ditampilkan (dipikirkan, dipahami dan diamalkan) melalui pendekatan kultural. Hasilnya melahirkan model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang ramah, moderat, inklusif, toleran, cinta damai, harmonis, dan menghargai keberagaman. Keberagamaan Islam demikian ini terjadi lantaran perjumpaan Islam dengan budaya (tradisi) lokal, khususnya Jawa, yang biasa disebut akulturasi budaya. Islam Indonesia patut menjadi contoh cara berislam yang demikian. Model Islam yang serba menyejukkan ini perlu dipublikasikan secara internasional dan diharapkan mampu menggugurkan persepsi dunia bahwa Islam itu penuh kekerasan.
Haji dan Status Sosial: Studi tentang Simbol Agama di Kalangan Masyarakat Muslim Zainuddin, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i2.2764

Abstract

Religion as a fact and history has symbolic and sociological dimensions as a structure of abstract realm regardless of space and time. Pilgrimage substantially contains humanity values, such as the doctrines of equality, the necessity to preserve life, property, and honor of others, a ban of oppressing or exploiting the weak people, either economically or others. For example, releasing daily wear and changing it with ihram wear has meaning to erase the social gaps between the rich and the poor. That is the ideal teaching of pilgrimage making one aware that he is a social human. This paper is sociologically intended to see the phenomenon of pilgrimage in the Muslim society of Indonesia, especially in Java. The study showed that the pilgrimage of the majority of Indonesian Muslim is loaded with social attributes. Although the pilgrim is a part of the religion pillars, it has been utilized   by the local ruling elite as a political resource or a mean to establish power legitimacy. Agama sebagai fakta dan sejarah memiliki dimensi simbolis dan sosiologis sebagai struktur sebuah makna yang berada pada ranah abstrak, terlepas dari ruang dan waktu. Ibadah haji secara substansial mengandung nilai-nilai kemanusiaan, seperti ajaran tentang: persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain, larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah, baik di bidang ekonomi maupun bidang-bidang lain. Misalnya, menanggalkan pakaian yang dipakai sehari-hari dan menggantinya dengan baju ihram untuk menghapus kesenjangan sosial antara kaya dan miskin. Itulah harapan ideal ajaran haji untuk membuat pelakunya menyadari bahwa ia adalah makhluk sosial. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap fenomena haji dalam masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, secara sosiologis. Studi ini menunjukkan bahwa ibadah haji yang dilakukan oleh mayoritas muslim Indonesia dipenuhi dengan atribut-atribut sosial. Meski merupakan salah satu pilar agama, ibadah haji telah digunakan elit penguasa lokal sebagai sumberdaya politik atau alat membangun legitimasi kekuasaan.
Tragedi Kematian Tuhan: Kajian atas Aforisme Nietzsche “Tuhan Telah Mati” Muhammad Anwar Firdausi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v6i2.4670

Abstract

The declaration of “God is dead” is the most memorable statement for people knowing Nietzsche. That declaration made him well-known around the world for centuries. It is no wonder that he then got people’s negative impression, for example “The God’s butcher” which is identical to atheism and other anti-religion communities. At a glance, Nietzsche is seen as the hater of God though wisely he deserved to be in the mid position between “religion and anti-religion” or “religious and secular”. The reason is that, The God he hates is The One being arbitrary and unfair. He wants others to be free from the fake promises of the world and search for the truth. Proklamasi God is dead adalah pernyataan yang paling melekat dalam ingatan orang tentang sosok Nietzsche. Sabda itulah yang melambungkan dirinya hingga pada tingkat kesohoran melintasi ruang geografis dan waktu dalam hitungan abad. Tidak heran jika kemudian ia mendapatkan beragam stigma. Sebut saja julukan “Sang Penjagal Tuhan” yang diidentikkan dengan ateisme dan gerakan-gerakan anti agama. Sekilas Nietzsche terlihat seperti pembenci Tuhan meskipun secara bijak ia telah pantas berada pada posisi tengah di antara “agama dan anti agama”, “religius dan sekular”. Alasannya ialah Tuhan yang dia benci adalah Tuhan yang sewenang-wenang dan tidak adil. Ia ingin agar manusia bebas dari janji-janji palsu dunia dan mulai mencari kebenaran.
Kalindaqdaq Tradition of Mandar Community in West Sulawesi: Islamic Education Study Based on Local Wisdom Ridhwan, Ridhwan; Samad, Sri Astuti A.; Kiramang, Khaeruddin; Hasan, Hasan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i2.13337

Abstract

Kalindaqdaq is a literary work of Mandar community which is considered as an old poetry and one of the actualizations of religion and local wisdom harmonization. Several studies on Kalindaqdaq have been conducted but none explores from ethno-pedagogical perspective. This study is aimed at supporting the importance of local wisdom in Islamic education because the education process cannot be separated from the expression of culture and customary orders proven to be capable of educating humans.  This study employs a qualitative method with ethno pedagogical approach. The data are collected through a library research by identifying, selecting, and reviewing research outputs relevant to the topic and literary works about Kalindaqdaq. The analysis is conducted by finding out the integration or interconnection relationships of the local wisdom with education. The findings reveal that Kalindaqdaq functions as a means of religious education, morals, traditional socialization media, communication tools for traditional narratives and entertainment. Kalindaqdaq as a cultural product contains Islamic educational values, such as monotheism, worship, morals, social and heroism. The implication of this study derives from the findings. The findings imply that kalindaqdaq is important under an ethnopedagogical perspective, applicable in the educational process. This study is the evidence of Islam and local wisdom harmonization, which highly supports the development of Islamic education as an integral part of education in Indonesia. Kalindaqdaq merupakan karya sastra masyarakat Mandar yang tergolong sebagai puisi lama dan dianggap sebagai salah satu aktualisasi harmonisasi agama dan kearifan lokal. Beberapa penelitian tentang Kalindaqdaq telah dilakukan tetapi belum ada yang mengeksplorasi harmonisasi pendidikan Islam dan kearifan lokal dengan perspektif etnopedagogis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnopedagogis. Signifikansi kajian ini adalah untuk menegaskan bahwa keberadaan kearifan lokal dalam pendidikan Islam menjadi penting karena proses pendidikan tidak lepas dari ekspresi budaya dan tatanan adat yang dapat mendidik manusia. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan mengidentifikasi, memilih, dan mengkaji literature ilmiah yang relevan dengan topik penelitian dan karya sastra tentang Kalindaqdaq. Analisis dilakukan untuk mengetahui keterpaduan atau keterkaitan kearifan lokal dengan pendidikan. Temuan mengungkapkan bahwa Kalindaqdaq memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan agama, moral, media sosialisasi tradisional, alat komunikasi untuk narasi tradisional dan hiburan. Kalindaqdaq sebagai produk budaya mengandung nilai-nilai pendidikan Islam seperti tauhid, ibadah, akhlak, sosial dan kepahlawanan. Implikasi dari penelitian ini berasal dari temuan. Temuan ini menyiratkan bahwa kalindaqdaq penting dari perspektif etnopedagogis, yaitu penggunaan kearifan lokal dalam proses pendidikan. Kajian ini merupakan bukti harmonisasi dan adat Islam serta mendukung pengembangan pendidikan Islam sebagai bagian integral dari pendidikan di Indonesia.
From Extremists to Loyalists: Religious Moderation in Lingkar Perdamaian Shohibatussholihah, Fiana; Abidin, Munirul; Kawakip, Akhmad Nurul; Huda, Miftachul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i2.21337

Abstract

A sequence of radicalism movements in Indonesia have drawn international attention, especially the Ambon-Poso conflict and the Bali bombings, due to the fact that the perpetrators have established Lingkar Perdamaian Foundation (YLP) in Lamongan. YLP was established to protect society from extremist organizations and to promote love for the Republic of Indonesia. What becomes the main concern of this study is the implementation of religious moderation in YLP. Therefore, this article aims at finding out: (1) The strategies implemented by YLP to internalize religious moderation values, (2) The internalization process of moderation values in YLP and (3) The impacts obtained from the process. The research implemented descriptive qualitative design through field observations at YLP, interviews with YLP founder and members as well as documentation from related publications. The results obtained are: (1) The strategies used are indoor, outdoor, and humanistic. (2) The value of moderation is internalized through 5 stages, namely the radical stage, confrontation with reality, openness of perspective, reorientation of values and contributions (3) The impacts show that members can involve in active social interactions with society, get decent work and help deradicalization program. Serangkaian gerakan radikalisme yang terjaadi di Indonesia menarik perhatian dunia, terutama konflik Ambon-Poso dan serentetan Bom Bali. Hal ini karena pelaku dari aksi-aksi tersebut membentuk sebuah yayasan yang bernama Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di Lamongan. YLP ini sengaja didirikan untuk menumbuhkan cinta NKRI dan meninggalkan kelompok radikal. Disamping itu, topik terhangat di masyarakat adalah moderasi beragama yang menggelitik peneliti untuk mencaritahu penerapannya di YLP. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Strategi yang diterapkan YLP untuk menginternalisasikan nilai moderasi beragama kepada anggota YLP, (2) Proses internalisasi nilai moderasi beragama kepada anggota YLP dan (3) Dampak yang dihasilkan dari proses internalisasi nilai moderasi beragama itu. Peneliti menggunakan desain deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan di YLP, wawancara dengan pendiri dan anggota YLP serta dokumentasi dari publikasi terkait. Hasil penelitian yaitu (1) Strategi yang digunakan meliputi indoor, outdoor dan humanistik. (2) Proses internalisasi nilai-nilai moderasi beragama meliputi lima tahapan: tahap radikal, tahap konfrontasi dengan realitas, tahap pembukaan perspektif, tahap reorientasi nilai dan tahap kontribusi. (3) Dampak yang dihasilkan yaitu anggota YLP dapat aktif bermasyarakat, memperoleh pekerjaan yang layak dan membantu pemerintah dalam program deradikalisasi. Penelitian ini berkontribusi pada teori lima tahapan dalam proses perubahan dari radikal ke nasionalis yang terintegrasi nilai-nilai moderasi beragama.
Apresiasi Masyarakat terhadap Film Islami Ayat-Ayat Cinta (AAC) Mulyono, Mulyono
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i2.4582

Abstract

AAC film is a new phenomenon in Indonesian film industry. Since the first week of its launching in movie theatres, the film directed by Hanung Bramantyo has got a great appreciation from society, especially teenagers. AAC is not only a new motivation for the lovers of Islamic fictions and the society who need Islamic programs, but also an inspiration concerning Islamic aspects. For instance Islamic schools, learning society, Al- Qur'an, Hadist, Al Azhar, Cairo, Muslim scholars, praying, mosque, and others. It also includes the negative impression of Islam. AAC is adapted from the best seller novel Ayat- ayat Cinta by Habiburrohman El-Shirozy that tells about the love story of an Indonesian student who studies in Al-Azhar University, Egypt. Both the novel and the film have high missionary endeavors. Therefore, works of Islamic culture have multi-junctions, at least as an entertainment and guidance as well. Consequently, it is natural that the society will give a high appreciation for both the novel and the film. Film AAC merupakan fenomena baru dalam industri perfilman Indonesia. Sejak minggu pertama peluncurannya di bioskop, film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini mendapat apresiasi besar dari masyarakat terutama remaja. AAC bukan hanya merupakan motivasi baru bagi pecinta fiksi Islam dan masyarakat yang membutuhkan program syariah, tapi juga inspirasi mengenai aspek-aspek Islam. Misalnya sekolah Islam, masyarakat belajar, Al-Qur'an, Hadis, Al azhar, Kairo, cendekiawan Muslim, shalat, masjid, dan lain-lain. Ini juga mencakup kesan negatif tentang Islam. AAC diadaptasi dari novel best seller Ayat-ayat Cinta oleh Habiburrohman El-Shirozy yang menceritakan tentang kisah cinta seorang pelajar Indonesia yang belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir. Baik novel maupun filmnya memiliki usaha misionaris yang tinggi. Oleh karena itu, karya budaya Islam memiliki multi persimpangan, setidaknya sebagai hiburan dan bimbingan juga. Konsekuensinya, wajar bila masyarakat memberi apresiasi tinggi terhadap novel dan filmnya.
Sunan Kalijaga’s Da'wah Strategy in Suluk Linglung and Its Implication to Indonesian Radicalism Movement Muslih, Mohammad; Rohman, Abdul; Ahmad, Ahmad; Saifullah, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i1.11672

Abstract

Sunan Kalijaga was known as a creative da’i in spreading da'wah. One of the media for his da’wah is a literary work entitled Suluk Linglung. In the Suluk Linglung manuscript, two da’wah strategies had been employed by Sunan Kalijaga, both of which were expected to be relevant if applied in Indonesia today, considering the many issues of radicalism. This research is a literature review. Data were collected by using documentation method through a research on Suluk Linglung. Therefore, to dissect the contents of the manuscript, the authors used qualitative research methods and Gadamer's hermeneutic approach. Finally, it suggested that Sunan Kalijaga used two da'wah strategies, Sufistic da'wah strategy and multicultural da’wah strategy. It is expected that the use of the strategies in the current da’wah can dismiss the radicalism movement. Therefore, it brings out the principle of da’wah that is gentle, friendly, and nurturing to people, or da'wah rahmatan li-l 'alamin. Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang da’i yang kreatif dalam menyebarkan dakwah. Salah satu media dakwah beliau adalah melalui karya sastra yang berjudul Suluk Linglung. Dalam manuskrip Suluk Linglung tercermin dua strategi dakwah yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga, yang keduanya itu diharapkan akan relevan jika diterapkan di Indonesia pada zaman sekarang meninjau banyak sekali isu radikalisme. Penelitian ini berjenis kajian kepustakaan. Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi melalui penelitian manuskrip Suluk Linglung. Oleh karenanya, agar dapat membedah isi manuskrip Suluk Linglung, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan hermeneutika Gadamer.  Adapun untuk teknik analisa data menggunakan teknik analisis isi. Akhirnya, setelah melakukan penelitian lebih lanjut peneliti mendapatkan hasil bahwasanya dalam manuskrip Suluk Linglung, Sunan Kalijaga menggunakan dua strategi dakwah yang meliputi strategi dakwah sufistik dan strategi dakwah multikultural. Jika dua strategi dakwah tersebut diterapkan pada zaman sekarang, maka diharapkan akan berimplikasi terhadap gerakan radikalisme yakni menepis gerakan radikalisme. Sehingga, akan memunculkan prinsip dakwah yang lembut, ramah, dan mengayomi kepada mad’u atau dapat disebut sebagai dakwah rahmatan li-l ‘alamin.
Tradisi Peusijuek dalam Masyarakat Aceh: Integritas Nilai-Nilai Agama dan Budaya Marzuki Marzuki
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.458

Abstract

Peusijuek is one of the traditions of the people of Aceh are still preserved and practiced. Peusijuek, especially in Aceh moslem society, has been adapted into of Islam pratice. This study is aimed at revealing how peusijuek is believed and practiced  then become one of  religious creed which, originally, is not purely derived from Islamic teaching. This study used content analysis methods. Islam has universalism concept that is able to converge and fuse to various civilizations and culture; this makes Islam accepted in many nations and civilizations. Aceh people believe that Peusijuek is one of the rituals associated with religious belief. Because it is consist of several religious values which must be executed, such as 3 (three) aspects as follow: firstly; the Actor of Peusijuek should have a good understanding of the religion, usually called by the ustadz and ustadzah. Secondly, the moment to do peusijuek is when someone is going for haji, to marry, to be khitanan, and others. Thirdly, prayer of peusijuek are taken from the Quran and Sunnah as well as addressed to Allah SWT. Therefore, considering the three aforementioned aspects, peusijuek is considered to be closely related islam and, so it becomes a public belief.Peusijuek merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang masih dilestarikan dan dipraktekkan. Peusijuek ini sebagai sebuah budaya yang telah menjadi bagaian dari Islam, khususnya masyarakat Islam di Aceh. Penelitian ini ingin mengungkap bagaimana peusijuek diyakini dan beroperasi menjadi sebuah kepercayaan masyarakat yang secara keagamaan hal tersebut bukan sepenuhnya murni berasal dari ajaran agama. Penelitian ini menggunakan metode content analisis. Islam memiliki konsep universalisme yang mampu menyatu dan melebur dalam berbagai peradaban dan kebudayaan, Islam menyatu dan dapat diterima oleh berbagai bangsa dan peradaban. Peusijuek diyakini oleh masyarakat Aceh sebagai salah satu ritual yang dikaitkan dengan kepercayaan terhadap agama, karena peusijuek tersebut sarat dengan nilai-nilai agama, yang mesti dijalankan. Hal tersebut dapat dilihat dari 3 (tiga) unsur, yaitu pertama; Pelaku Peusijuek, biasanya dilakukan oleh para tengku (ustadz) dan tengku inong (ustadzah), yang paham agama. Kedua, momen peusijuek, dilakukan ketika akan berangkat haji, pernikahan/walimah, dan khitanan, dan lain-lain. Ketiga, doa peusijuek, doa yang dibacakan adalah doa yang ditujukan kepada Allah SWT, dengan menggunakan doa-doa yang dari al Quran dan Sunnah. Melihat ketiga tinjauan tersebut, dapat disimpulkan bahwa peusijuek sangat sarat dengan nilai-nilai keislaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai Islam, sehingga menjadi sebuah kepercayaan masyarakat.
The Continuity and Discontinuity of Visiting Sheikh Yusuf Tomb Tradition in Kobbang Gowa-South Sulawesi Syukur, Syamzan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i1.3500

Abstract

The findings of this paper show that the ritual tradition of visiting the tomb of Sheikh Yusuf in Kobbang from time to time amended. It was initially a strong ritual primarily influenced by the nuances of heresy, but on its further development the influence fades due to the efforts of Islamic preachers. The general motivation of the pilgrims is hoping the livelihood they can acquire, such as finding mates, sustenance, offspring, health and inner tranquility. Yet, some are visiting the tomb to appreciate the scholars or heroes or just for sightseeing. In the context of developing society, this tradition seems to be persisted as Sheikh Yusuf is regarded as having karomah, a guardian, scholars and a hero. His personality is considered to bring blessing to the pilgrims. Therefore, for most modern societies this tradition remains alive and serves as one alternative to find peace and cure severe diseases. Temuan tulisan ini menunjukkan bahwa ritual tradisi ziarah makam Syekh Yusuf di Kobbang dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Pada awalnya masih ditemukan ritual yang kental dengan nuansa bid’ah tapi pada perkembangan lebih lanjut nuansa bid’ahnya mulai terkikis berkat usaha para da’i Islam. Motivasi yang melatarbelakangi para peziarah pada umumnya agar hajat mereka dapat terpenuhi, seperti hajat mendapatkan jodoh, keturunan, rezeki, kesehatan dan ketenangan batin. Tetapi ada pula yang berziarah ke makam Syekh Yusuf karena motivasi menghargai ulama atau pahlawan atau sekedar berwisata. Dalam konteks masyarakat yang terus mengalami perkembangan, nampaknya tradisi ini tetap bertahan, karena Syekh Yusuf dianggap sebagai seorang yang memiliki karomah, seorang wali, ulama dan seorang pahlawan. Kepribadian yang dimiliki oleh Syekh Yusuf dianggap akan mendatangkan berkah bagi para peziarah. Karena itu, bagi sebagian masyarakat modern, tradisi ini tetap hidup dan dijadikan sebagai salah satu alternatif mencari ketenangan batin dan menyembuhkan penyakit yang tidak terjangkau oleh medis.
Values of Islamic Teaching in Candung Kawik Folklore Sari, Sri Nur; Subiyantoro, Slamet; S., Kundharu
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v22i1.8500

Abstract

Folklore is part of the community. So that there is no extinction then done as documentation such as folklore Candung Kawik who came from Lampung. Folklore is currently less desirable and does not have a place from the community; therefore, the research is done so that the story still exists. The purpose of this study is to describe the values of Islamic teachings contained in Candung Kawik folklore. The method used to find the values of Islamic teachings is a descriptive qualitative method with content analysis. The primary data source in this study is Lampung folklore. The technique of data collection is done by literature study and recording. The result showed that there were eight values of Islamic teachings, namely faith, Islam, ihsan, taqwa, sincerity, trust, gratitude, and patience. All the values of Islamic education are obtained from the learning and actions of the characters in the story and can be used as learning material. Cerita rakyat merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat. Agar kebudayaan tidak punah maka dilakuakn suatu pendokumentasian seperti cerita rakyat Candung Kawik yang berasal dari Lampung. Cerita rakyat sekarang ini kurang diminati dan tidak mendapatkan tempat dari masyarakat, oleh karena itu dilakukan penelitian agar ceritanya masih ada. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan nilai-nilai ajaran Islam yang terdapat dalam cerita rakyat Candung Kawik. Metode yang digunakan untuk menemukan nilai-nilai ajaran Islam adalah metode kualitatif deskriptif dengan analisis isi. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah cerita rakyat Lampung. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan pencatatan. Hasil penelitian menunjukan ada delapan nilai-nilai ajaran Islam yaitu iman, islam, ihsan, taqwa, ikhlas, tawakal, syukur, dan sabar. Semua nilai-nilai pendidikan Islam didapat dari perilaku dan perbuatan para tokoh di dalam cerita dan dapat dijadikan bahan pembelajaran.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue