cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Pemikiran Hukum Ibnu Hazm Yasin, Noer
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v7i2.4655

Abstract

The works of Ibnu Hazm, i.e. al Muhalla bi al Atsar, an encyclopedia of fiqh of mazhab zhahiri which is also a result of ‘istinbath’ and ‘ijtihad’ of Ibnu Hazm in Fiqh, becomes the most substantial reference because of the scarcity of written source of mazhab zhahiri. Another important work of his is al Ihkam fi Ushul al Ahkam becomes the only primary source of ijtihad method of the same mazhab. The birth of the greatest works gives the influential position for Ibnu Hazm and his works in this mazhab. Talking about mazhab zhahiri’s position and role in its development, he is well known as the most prominent figure after Daud al Ashbihani. Even, he is more radical compared to his ancestors and is called as the founder of two mazhab, Muhammad Abu Zahrah, Muhadharat fi Tarikh al Mazahib, al Fiqhiyyat. Karya Ibnu Hazm seperti al Muhalla bi al Atsar, sebuah ensiklopedi fikih mazhab zhahiri yang sekaligus merupakan hasil istinbath dan ijtihad Ibnu Hazm di bidang Fikih, menjadi buku referensi terpenting di tengah kelangkaan sumber tertulis tentang mazhab zhahiri. Demikian pula karyanya al Ihkam fi Ushul al Ahkam menjadi satu-satunya sumber primer metode ijtihad karya ulama mazhab ini. Munculnya karya-karya besar ini telah menempatkan Ibnu Hazm dan karya-karyanya pada mazhab ini. Tak heran jika kedudukan dan peranan yang amat penting dalam sejarah dan perkembangan mazhab ini, ia dikenal sebagai tokoh yang paling menonjol dalam mazhab zhahiri setelah Daud al Ashbihani. Bahkan ia lebih radikal disbanding pendahulunya itu dan disebut sebagai pendiri kedua mazhab ini, Muhammad Abu Zahrah, Muhadharat fi Tarikh al Mazahib, al Fiqhiyyat.
Hamoraon, Hagabeon & Hasangapon as The Basic Philosophy in Educating Children Dalimunthe, Irwan Saleh; Lubis, Agus Salim
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i2.6683

Abstract

Cultural and religious values of life for the people in South Tapanuli form the perspective of philosophy and various local wisdom. One of the principles they hold strongly is known as 3H they are; hamoraon (character and wealth), hagabeon (successful offspring) and hasangapon (influential and respectable). This research focused on how the 3H principles strongly encourage parents to provide knowledge for the future preparation of their children. Muslim communities are fanatics in religion, meanwhile the most dominant value in giving encouragement to school is not religious teachings, since religion is only a supporting factor of learning (Q.S. 58:11), and the cultural view of 3H is as the basis of the education. It was carried out by in-depth interview techniques with a sociological approach to respondents who were intentionally searched and determined, and the parents or families who were relatively successful in school and in changing lives, and also respectable in the community. It is found that the community is firmed with the 3H value, in which parents were tireless, even sacrificing everything so that their children succeed in enjoying welfare, prosperity and living respect. Nilai-nilai budaya dan agama bagi masyarakat di Tapanuli Selatan membentuk perspektif filsafat dan berbagai kearifan lokal. Salah satu prinsip yang mereka pegang dengan kuat yaitu yang dikenal sebagai 3H; hamoraon (karakter dan kekayaan), hagabeon (keturunan sukses) dan hasangapon (berpengaruh dan terhormat). Penelitian ini berfokus pada seberapa kuat prinsip 3H mendorong orang tua untuk memberikan pengetahuan bagi persiapan masa depan anak-anak mereka. Komunitas Muslim fanatik dalam agama, sedangkan nilai yang paling dominan dalam memberikan dorongan kepada sekolah bukanlah ajaran agama, karena agama hanya merupakan faktor pendukung pembelajaran (Q.S. 58:11), dan pandangan budaya 3H adalah sebagai dasar pendidikan. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam dengan pendekatan sosiologis kepada responden yang dipilih dan ditentukan, serta melibatkan orang tua atau keluarga yang relatif sukses dalam pendidikan dan dalam mengubah kehidupan, juga dihormati di masyarakat. Ditemukan bahwa masyarakat teguh dengan nilai 3H, di mana orang tua tidak kenal lelah, bahkan mengorbankan segalanya sehingga anak-anak berhasil berhasil menikmati kesejahteraan, kemakmuran dan penghormatan hidup.
Konsepsi Pers Islam Rhoviq, C.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v1i3.4697

Abstract

Islam is a religion that can only be conveyed to mankind through "da'wah", and one of the most effective and efficient tools of dakwah in this modern age is the press. As a tool, the Islamic press is necessary and indeed has a foundation, direction and work that can be adequately addressed. The existence and actualization of the concept of the Islamic press implementation is indeed never separated from the process of human life and the environment. In the process that will determine the identity and quality of people in the world historical stage. Carefulness in understanding the times and people as a process, then still able to wrestle the field of the press to seek and find insights development. To such extent not to be easily trapped in saturation, melancholy, decision or erosion of identity and quality as an Islamic press. Islam itu agama yang hanya bisa disampaikan pada umat manusia lewat “dakwah”, dan satu diantara berbagai perangkat dakwah yang efektif dan efisien di zaman mutakhir ini adalah pers. Sebagai suatu perangkat, pers Islami perlu dan memang telah punya landasan, arah dan tatakerja yang secara perspektif dapat disebut memadai. Keberadaan dan aktualisasi konsepsi pers Islam pelaksanaanya memang tak pernah lepas dari proses kehidupan manusia dan lingkungannya. Dalam proses itulah yang akan menentukan identitas dan kualitas umat di pentas kesejarahan dunia. Kejelian dalam memahami zaman dan umat sebagai proses, maka tetap mampu menggeluti bidang pers untuk mencari dan menemukan wawasan pengembangannya. Agar tidak lantas gampang terjebak dalam kejenuhan , kemurungan, keputusan atau erosi identitas dan kualitas sebagai insan pers Islam.
Conflict and Harmony between Islam and Local Culture in Reyog Ponorogo Art Preservation Riyadi, M. Irfan; Mujahidin, Anwar; Tasrif, Muh.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i2.3498

Abstract

Reyog as performing art procession already existing in Ponorogo since pre-Islamic era still grows today even expanding outside the region of Ponorogo both regionally, nationally, and internationally. Reyog at the present time is generally acknowledged as cultural identity of Indonesian nation. The case is different with other Javanese traditions such as kentrung, ludruk, and ketoprak that has collapsed over time. This fact raises interesting questions of how Reyog could withstand against the onslaught of various cultures that come to attack it from time to time. This study used anthropological approach by utilizing the theory of Robert Redfield on the interaction of great tradition and little tradition. The results of this study indicate that although Reyog has interacted with various cultures, particularly Islam, it is able to reform and reformulate its tradition and find cultural attitudes flexible with various cultures that come with it. The cultural attitudes embody in stage-modernization, transformation of mythologies and reforms of the symbols of social values. Reyog sebagai seni pentas arak-arakan yang telah ada di Ponorogo semenjak pra-Islam masih berkembang hingga saat ini bahkan terus mengalami perkembangan ke luar daerah Ponorogo baik secara regional, nasional, dan internasional. Reyog pada masa sekarang secara umum diakui sebagai identitas budaya bangsa Indonesia. Kenyataan itu berbeda dengan tradisi Jawa lain yang telah runtuh dan tinggal dalam arkeologi sejarah budaya seperti kentrung, ludruk, dan ketoprak. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan menarik tentang bagaimana Reyog bertahan dari gempuran berbagai budaya yang datang menyerangnya dari zaman ke zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi dengan memanfaatkan teori Robert Redfield tentang pertemuan tradisi besar (great tradition) dan budaya kecil (little tradition). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun Reyog bertemu dengan berbagai budaya, khususnya Islam, Reyog mampu mereformasi dan mereformulasi tradisinya sehingga ditemukan sikap budaya yang lentur dan cocok dengan berbagai budaya yang datang bersamanya. Sikap budaya itu berbentuk modernisasi pentas, transformasi mitologi, dan reformasi melalui simbol-simbol nilai sosial-kemasyarakatan.
Nahdhatul Ulama dan Perubahan Budaya Politik di Indonesia Muhammad, Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.444

Abstract

The aim of article to descriptive relationship between Nahdhatul Ulama institution and change of political culture in Indonesia. The first, explore many terminology of political culture, type of political culture and political behavior. Secondly, this article to analysis ideology of Nahdhatul Ulama and democracy. The last, this article recommended the new role of Nahdhatul Ulama to contribution in change of political culture in Indonesia. Tujuan artikel ini untuk menjabarkan hubungan antara lembaga Nahdhatul Ulama dan perubahan budaya politik di Indonesia. Yang pertama, yaitu dengan menjelajahi banyak terminologi budaya politik, jenis budaya politik dan perilaku politik. Kedua, artikel ini untuk menganalisis ideologi Nahdhatul Ulama dan demokrasi. Yang terakhir, artikel ini merekomendasikan peran baru Nahdhatul Ulama untuk berkontribusi dalam perubahan budaya politik di Indonesia.
Tinjauan Budaya atas Kultur Tasawuf Berbasis Mursyid Perempuan Mustofa, Mustofa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i3.4762

Abstract

Male and female, basically, have the same chance as idol muttaqin person, as well as a leader in the earth, including becoming a teacher of tarekat (mursyid). Assigning female as mursyid will not reduce or break the identity of the Sufism group, on the other hand, it is a kind of glorifying and respecting to the God. However, in tasawuf culture, most of the rituals conducted by the followers often reflecting the God in the male form. This conception, then, influences the way they lead the group. The common way of practicing the leadership model finally drives into legalizing the male superiority as the mursyid rather than the female one. Because of the phenomenon, the paper is written, to explore the issues on male and female role in the Sufism, specifically, for becoming the mursyid. It is expected to be powerful and meaningful cultural analysis which is viewed from tasawuf paradigm. Pria dan wanita pada dasarnya memiliki kesempatan yang sama dengan orang idola muttaqin, sekaligus pemimpin di bumi, termasuk menjadi guru tarekat (mursyid). Menugaskan wanita sebagai mursyid tidak akan mengurangi atau menghancurkan identitas kelompok Sufisme, di sisi lain, ini adalah semacam memuliakan dan menghormati Tuhan. Namun, dalam budaya tasawuf, sebagian besar ritual yang dilakukan oleh para pengikut sering mencerminkan Tuhan dalam bentuk laki-laki. Konsepsi ini, kemudian, mempengaruhi cara mereka memimpin kelompok. Cara umum mempraktikkan model kepemimpinan akhirnya mendorong legalisasi keunggulan laki-laki sebagai mursyid dan bukan pada perempuan. Karena fenomena tersebut, tulisan itu ditulis, untuk mengeksplorasi isu peran pria dan wanita dalam tasawuf, khususnya, untuk menjadi mursyid. Hal ini diharapkan bisa menjadi analisis budaya yang kuat dan bermakna yang dilihat dari paradigma tasawuf.
Reaktualisasi Syari'ah Islam Mahmudi, Zaenul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i3.4606

Abstract

As syari'ah, al-Qur'an is one of the sources of Islamic law and the living orientation for Muslim ummah in going through their life. Textual message of Islam (al-Qur'an) had stopped when Muhammad died. In other side, the growing problem is faster than its possible  solutions. The problems grow up in line with globalization and information technology that offer some traditions and cultures that meet our different cultures and traditions. We cannot create a new message of al-Qur'an but we can create method of understanding al-Qur'an in nowadays context. We need to use methodological tools from multidiscipline of science in understanding al-Qur'an in order to actualize spirit of al-Qur'an in Indonesian and nowadays context. Reactualizing al-Quran as the core of syari’ah is based on the statement “al-Islam shalih li kull zana wa makan” (Islam is always adaptive toward the dynamic of the era). Accordingly, understanding syari’ah requires the development of methodologies as well as science. Sebagai syari'ah, al-Qur'an adalah salah satu sumber hukum Islam dan orientasi hidup umat Islam dalam menjalani hidup mereka. Pesan tekstual Islam (al-Qur'an) telah berhenti saat Muhammad wafat. Di sisi lain, masalah yang berkembang lebih cepat daripada solusi yang mungkin dilakukannya. Masalahnya tumbuh sejalan dengan globalisasi dan teknologi informasi yang menawarkan beberapa tradisi dan budaya yang sesuai dengan budaya dan tradisi kita yang berbeda. Kita tidak bisa membuat pesan baru al-Qur'an tapi kita bisa menciptakan metode untuk memahami al-Qur'an dalam konteks saat ini. Kita perlu menggunakan alat metodologis dari multidisiplin ilmu dalam memahami al-Qur'an untuk mengaktualisasikan semangat al-Qur'an dalam konteks Indonesia dan saat ini. Reaktualizing al-Quran sebagai inti syari'ah didasarkan pada pernyataan "al-Islam shalih li kull zana wa makan" (Islam selalu adaptif terhadap dinamika zaman). Dengan demikian, pemahaman syari'ah membutuhkan pengembangan metodologi serta sains.
Mesopotamia dan Mesir Kuno: Awal Peradaban Dunia Umar, Mustofa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.434

Abstract

The existence of civilization cannot be separated from the existence of human beings. Mesopotamia and Ancient Egypt were the centers of the oldest civilization in the world. Both Mesopotamia and Ancient Egypt had typical characteristics. Mesopotamian civilization was more non-physical compared to Egypt. Sciences were emphasized more in Mesopotamia, while Egypt emphasized religious aspects. Political systems in both areas were almost the same, that is, absolutism and considered the king as god. Mesopotamia was more humanist than Egypt. The effectiveness of both civilizations was determined much by political power and economy. Keberadaan peradaban tak lepas dari keberadaan manusia. Mesopotamia dan Mesir Kuno adalah pusat peradaban tertua di dunia. Mesopotamia dan Mesir Kuno memiliki ciri khas. Peradaban Mesopotamia lebih bersifat non fisik dibandingkan dengan Mesir. Ilmu pengetahuan lebih ditekankan di Mesopotamia, sementara Mesir menekankan aspek religius. Sistem politik di kedua wilayah hampir sama, yaitu absolutisme dan menganggap raja sebagai tuhan. Mesopotamia lebih humanis daripada Mesir. Keefektifan kedua peradaban itu ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi.
Konsep Seni dan Keindahan M. Iqbal Soleh, A. Khudori
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i1.4595

Abstract

Generally, art work is divided in two great sects: expressionism and functionalism. The first sect is based on the interest in the art itself, whereas the second sect links its work to others, such as social problem in the surroundings. The art concept of Iqbal seems to adopt two sects, expressionism and functionalism. With expressionism,-Iqbal asserted that an art must constitute a creation of creativities and be originally from the artist him/herself not from a repetition or imitation. On functionalism, Iqbal stated that an art is not free from the certain purposes which must be morally achieved.-Finally, based on his own concept, Iqbal maintains certain criteria and purposes which have to be in an art work. Those criteria are: 1) art must be a creative work, and 2) the creativities must be original and not the result of plagiarism. In addition, the purposes and the functions that must be guaranteed are: 1) to create the missing thing to the life in hereafter or immortality, 2) to give cultivation for human being in the world, and 3) to give motivation for people progression.  Umumnya, karya seni terbagi dalam dua sekte besar: ekspresionisme dan fungsionalisme. Sekte pertama didasarkan pada kepentingan dalam seni itu sendiri, sedangkan sekte kedua menghubungkan pekerjaannya dengan orang lain, seperti masalah sosial di sekitarnya. Konsep seni Iqbal tampaknya mengadopsi dua sekte, ekspresionisme dan fungsionalisme. Dengan ekspresionisme, -Iqbal menegaskan bahwa sebuah seni harus merupakan penciptaan kreativitas dan berasal dari seniman itu sendiri bukan dari pengulangan atau tiruan. Pada fungsionalisme, Iqbal menyatakan bahwa sebuah seni tidak terlepas dari tujuan tertentu yang harus dicapai secara moral.-Akhirnya, berdasarkan konsepnya sendiri, Iqbal mempertahankan beberapa kriteria dan tujuan yang harus ada dalam sebuah karya seni. Kriteria tersebut adalah: 1) seni harus menjadi karya kreatif, dan 2) kreativitas harus asli dan bukan hasil plagiarisme. Selain itu, tujuan dan fungsi yang harus dijamin adalah: 1) Menciptakan hal yang hilang bagi kehidupan di akhirat atau keabadian, 2) memberi kultivasi bagi manusia di dunia, dan 3) memberi motivasi bagi perkembangan orang. 
Seni Kaligrafi: Peran Dan Kontribusinya terhadap Peradaban Islam Fitriani, Laily
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2014

Abstract

Calligraphy, one of the Islamic arts, has gotten a great attention in Muslim community. Basically, calligraphy is artistic writings (khat) taken from Al Quran and it is named based on the place:  Makki, Madani, Anbari and Baghdadi. By the time, names of (khat) shown, seems like Khufi, Mutsallats, Mudawwar, and some other types of writing.  Calligraphy  has  a big role in developing Islamic civilization in the world. The influence of Islamic power expantions, Arabitation, the role of the King and social elites give motivation and facilitate the development of calligraphy and influent the development of science especially in Abbasiyah period. After the Abbasiyah period, the existence of calligraphy still was existing, developing and showing the phenomenal calligrafers like Ibnu Muqlah. Kaligrafi, salah satu seni Islam, mendapat perhatian besar dalam komunitas Muslim. Pada dasarnya, kaligrafi adalah tulisan artistik (khat) yang diambil dari Al Quran dan dinamai berdasarkan tempat: Makki, Madani, Anbari dan Baghdadi. Pada saat itu, nama (khat) yang ditampilkan, sepertinya Khufi, Mutsallats, Mudawwar, dan beberapa jenis tulisan lainnya. Kaligrafi memiliki peran besar dalam mengembangkan peradaban Islam di dunia. Pengaruh ekspedisi kekuatan Islam, Arabitasi, peran Raja dan elit sosial memberikan motivasi dan memudahkan pengembangan kaligrafi dan mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pada masa Abbasiyah. Setelah masa Abbasiyah, keberadaan kaligrafi masih ada, berkembang dan menunjukkan kaligrafi fenomenal seperti Ibnu Muqlah.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue