cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Islam di Spanyol: Kemunduran dan Kehancuran Firdaus, Firdaus
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.437

Abstract

Islam in Spain had an important role in many areas, especially science and culture. The history reveals that Islam reached its peak in the era of Abd al Rahman III (912-961 AD) when Cordova became the center of Islamic civilization in Western World, and one of the centers of world civilization. After reaching its peak, Islam domination declined due to the change of political structure. Decline and destruction of Islam in Spain were caused by some factors, both internal and external, that is, the attack from the Christians who directly destroyed Islam, but the most dominant factor was the internal factor of Islam itself. Islam di Spanyol memiliki peran penting di banyak bidang, terutama sains dan budaya. Sejarah menunjukkan bahwa Islam mencapai puncaknya di era Abd al Rahman III (912-961 M) ketika Cordova menjadi pusat peradaban Islam di Dunia Barat, dan salah satu pusat peradaban dunia. Setelah mencapai puncaknya, dominasi Islam menurun akibat perubahan struktur politik. Penurunan dan penghancuran Islam di Spanyol disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal, yaitu serangan dari orang Kristen yang secara langsung menghancurkan Islam, namun faktor yang paling dominan adalah faktor internal Islam itu sendiri.
Kejawen Spiritualism: The Actualization of Moral Values at Paguyuban Suci Hati Kasampurnan in Cilacap Mustolehudin, Mustolehudin; Muawanah, Siti
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v19i2.4029

Abstract

In Java, the existence of penghayat—believing in the One Almighty God—has grown significantly during the early reign of President Joko Widodo. This is supported by the Regulation of Ministry of Education and Culture Number 27 in 2016 about education services related to the belief in the One Almighty God at schools. Paguyupan Hati Suci Kasampurnan is one of penghayat groups in Cilacap which implements the teaching of budi pekerti (good behaviors) towards its adherents. This is a qualitative research examining the hidden meaning contained in the guidance book of Paguyupan Hati Suci Kasampurnan through semiotic analysis. This study results in two findings. First, the main source used at this paguyuban is Kitab Adam Makna. Second, the main teaching of this paguyuban is the teaching of good behaviors towards the adherents in order to reach the level of perfect life which is known as manunggaling kawula gusti. Di Jawa, keberadaan penghayat terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo. Hal ini dikuatkan dengan terbitnya regulasi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2016 tentang layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada satuan pendidikan. Paguyuban Suci Hati Kasampurnan merupakan salah satu kelompok penghayat di Cilacap yang ikut berperan aktif dalam mengimplementasikan ajaran budi pekerti kepada pemeluknya. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini berupaya mengkaji makna yang tersirat dalam kitab ajaran Paguyupan Hati Suci Kasampurnan melalui analisis semiotika. Hasil penelitian berupa dua temuan. Pertama, sumber ajaran Paguyuban SHK adalah Kitab Adam Makna (berupa simbol-simbol yang terdapat di jagat raya). Kedua, bahwa intisari dari ajaran paguyuban ini adalah mengajarkan budi pekerti luhur sebagai dasar untuk memperoleh kesempurnaan dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti).
Kamar Mandi sebagai Tempat Bersuci (Thaharah) Sedayu, Agung
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2020

Abstract

Keeping cleanliness and holiness is the duty for all Moslems. To perform these religious duties, every time and everywhere, we must keep and support hard on the holiness of the physic and psychic value aspects. Most cleaning activities have been done in toilet and the other similar places. The Main tool to clean is water; therefore toilet is always having water having the image as a wet place. Toilet is one of the arranged rooms in building and assumed to be added room that is not so important. In fact, it has a very vital and important function. Inside of the toilet we have the erudition and philosophy which must be done, like praying before and after entering this room, and also some other rules to follow when we are in it. Cleaning the psychic is started at cleaning the body, and cleaning the psychic is supported by cleanliness of our environment including toilet as a part of the house. Therefore, before designing it, all of the Moslem architects must concern and focus on the erudition and philosophy of Islamic fiqh containing about the effort to be clean and holy. Design results should reflect Islamic values, and the toilet having Islamic characteristics, especially having strength points on cleanliness and holiness. This paper is to discuss about toilet design from the perspective of fiqh values on cleanliness and holiness. The objectives are to give more information and knowledge about toilet design principles having Islamic values based on  fiqh law references on cleanliness and holiness. Menjaga kebersihan dan kesucian adalah tugas semua umat Islam. Untuk melakukan tugas keagamaan ini, setiap saat dan dimana saja, kita harus menjaga dan mendukung keras kekudusan aspek nilai fisik dan psikis. Sebagian besar kegiatan pembersihan telah dilakukan di toilet dan tempat-tempat lain yang serupa. Alat utama untuk membersihkan adalah air; karena itu toilet selalu memiliki air dan sebagai tempat yang basah. Toilet adalah salah satu ruangan yang tersusun di dalam bangunan dan diasumsikan sebagai ruang tambahan yang tidak begitu penting. Padahal, ia memiliki fungsi yang sangat vital. Di dalam toilet kita memiliki pengetahuan dan filosofi yang harus dilakukan, seperti doa sebelum dan sesudah memasuki ruangan ini, dan juga beberapa kaidah lain yang harus diikuti saat kita berada di dalamnya. Pembersihan dimulai dari pembersihan tubuh, dan pembersihan psikis didukung oleh kebersihan lingkungan kita termasuk toilet sebagai bagian dari rumah. Karena itu, sebelum merancangnya, semua arsitek muslim harus peduli dan fokus pada pengetahuan dan filosofi fiqih Islam yang berisi tentang usaha untuk menjadi bersih dan suci. Hasil desain harus mencerminkan nilai-nilai Islam, dan toilet memiliki karakteristik Islam, terutama memiliki titik kekuatan pada kebersihan dan kesucian. Tulisan ini membahas tentang desain toilet dari sudut pandang fiqih nilai kebersihan dan kesucian. Tujuannya adalah untuk memberikan lebih banyak informasi dan pengetahuan tentang prinsip desain toilet yang memiliki nilai-nilai Islam berdasarkan referensi hukum fiqih tentang kebersihan dan kesucian.
Mafhum Al-Matsal As-Sa’ir wa Khashaishihi wa ma Yusyabihuhu min Al-Mushthalahat ‘Inda Al-‘Arab Jumahalaso, Salih Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v22i1.8852

Abstract

تتركز هذه المقالة على تحديد مفهوم الكلمة «المثل» ومشتقاتها المختلفة في المعاجم العربية وفي التعبيرات القرآنية، وتمعن النظر فيما للكلمة من المدلولات المتباينة كالمثل الخرافي/الفرضي، والمثل القرآني والمثل السائر، وتدرس بصفة خاصة مفهوم «المثل السائر» وما يشابهه من العبارات العربية والمصطلحات الأدبية والبلاغية كالحكمة والتشبيه والمجاز وغيره، وذلك لبيان ما بين المثل السائر وبين هذه المصطلحات من الائتلاف والاختلاف، وأهم خصائص المثل السائر وأسرار استعماله مما تتناول المقالة، وذلك لكسب المفهوم الصحيح للمثل السائر ولزيادة الاهتمام به ودراسته. ومما توصلت إليها المقالة من النتائج أن إطلاق اللفظة «المثل» مجردا لا تظهر المقصود منها إلا بإضافة صفة إليها فيقال المثل الفرضي أو المثل السائر، وأنه لا يسمى مثلا سائرا إلا ما يكون سائرا بين الناس من التعبير، وأن المثل السائر يستعمل لتشبيه بين حالين: «المورد والمضرب». وقد نسج الباحث في جمع المعلومات وتحليلها على منوال المنهج الوصفي التحليلي كما استعان بالاستبانات المعبئة الالكترونية والورقية. وأخيرا اختمت المقالة بعدد من الاقتراحات والتوصيات التي تمت الصلة بفهوم المثل واسستعمالاته. This paper focuses on explaining the concept of the Arabic word “almatsal” and it’s various derivatives in the Arabic lexicology and Qur’anic expressions.It equally explains different usage of the word (Almathal) as Almatha alkhurafi (legendary proverb) almathal alQur’ani (Quranic proverb) etc. The paper particularly concentrates on what is known as “almatsal as-sair” (Common Proverb) and other related literary and rhetoric terms such as idiomatic/wisdom expression, simile, figure of speech etc, in order to distinguish and make clarification of similarities and dissimilarities among them, characteristics of the said proverb were also discussed. Some of the findings of the paper include: the term “almatsal” has several meanings and usage pending on adjective attached to it, alMathel as-sair can only be used for a common expression and that it is for comparing two different instances (almawrid: where the statement is made for the first time and almadrab: (where the statement is quoted). The researcher followed a descriptive analytical method, and administered both electronic and paper-based questionnaires. The article concluded with a number of suggestions and recommendations.
Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Sosiologi Islam sebagai Sebuah Tawaran Rahardjo, Mudjia
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v4i2.4635

Abstract

A discourse on the Islamization of science has grown among Muslim scholars since the last three decades. It begins with the view that Western science is no longer able to understand non-Western cultural systems, including Islamic culture. Inevitably this issue then becomes one of the most interesting academic discourse and invites public debate in various circles, especially Muslim intellectuals. This paper presents discourses on the issues that occur and then tries to look for possibilities in the future, especially in the field of sociology. Three sociological theories analyzed in this paper are structural-functional theory, conflict theory and the theory of symbolic interactionism which are compared to Islamic views. There are two things that distinguish between Islamic and contemporary sociology concerning the general treatment of religion and the application of sociology. Realizing the concept or theory of Islamic sociology will be a great job for Muslim sociologists because some existing grand theories can contain a perspective bias that is inconsistent with Islamic values and teachings. Sejak tiga dekade terakhir tumbuh di kalangan ilmuwan Muslim sebuah diskursus tentang Islamisasi ilmu, pengetahuan yang berawal dari pandangan bahwa ilmu Barat tidak lagi mampu memahami sistem kebudayaan non- Barat, termasuk kebudayaan Islam. Tak pelak persoalan ini lantas menjadi salah satu wacana akademik paling menarik dan mengundang debat publik di berbagai kalangan, khususnya intelektual Muslim. Tulisan ini memaparkan diskursus seputar persoalan yang terjadi dan kemudian mencoba mencari kemungkinannya di masa depan khususnya dalam bidang sosiologi. Tiga teori sosiologi dianalisa dalam makalah ini yaitu teori struktural-fungsional, teori konflik dan teori interaksionisme simbolik yang dibandingkan dengan pandangan Islam. Terdapat dua hal yang membedakan sosiologi Islam dan kontemporer yaitu menyangkut perlakuan umum atas agama dan penerapan sosiologi. Mewujudkan konsep atau teori sosiologi Islam akan menjadi pekerjaan besar bagi para sosiolog Muslim sebab beberapa teori inti yang ada dapat mengandung bias perpektif yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Pengembangan Jurusan/Program Studi dalam Perspektif Universitas Islam Negeri (UIN) Muhaimin, Muhaimin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i1.4728

Abstract

Islamic education is an effort to develop an Islamic view of life, to be manifested in life and life skills (manual and mental-social) in harmony with their interests, talents, abilities and areas of expertise. the development of STAIN towards UIN seeks to capture ibrah, values, attitudes and ways of thinking and behaving scholars (scientists) in the classical period mentioned above, because it is considered capable of facing increasing and complicated challenges, caused by the rapid progress of science and technology . As an implication, the Islamic education system built and developed through UIN is expected to produce a rational and professional cleric; broad-minded; virtuous noble character; his knowledge is not limited to "religious science" alone, but also includes "general science"; and able to stand alone (independent). Challenges to be anticipated by future UIN leaders, as well as the managers and developers of departments /courses in it, not to get caught up in the "ka 'adamihi" (presence as absence) in the midst of the struggles and competitions among the various the surrounding college. Pendidikan Islam adalah suatu upaya pengembangan pandangan hidup yang Islami, untuk dimanifestasikan dalam sikap hidup dan keterampilan hidupnya (manual maupun mental-sosial) selaras dengan minat, bakat, kemampuan dan bidang keahliannya masing-masing. pengembangan STAIN menuju ke UIN berusaha menangkap ibrah, nilai-nilai, sikap dan cara berfikir dan berperilaku ulama (ilmuwan) pada periode klasik tersebut di atas, karena hal itu dianggap mampu menghadapi tantangan yang makin banyak dan ruwet, yang ditimbulkan oleh kemajuan iptek yang pesat. Sebagai implikasinya, sistem pendidikan Islam yang dibangun dan dikembangkan lewat UIN diharapkan mampu menghasilkan ulama yang bersikap rasional dan profesional; berpandangan luas; berbudi pekerti luhur; pengetahuannya tidak terbatas pada "ilmu keagamaan" saja, tetapi juga mencakup "ilmu pengetahuan umum"; serta mampu berdiri sendiri (mandiri). Tantangan yang perlu diantisipasi oleh para pirnpinan UIN masa depan, serta para pengelola dan pengembang jurusan/ program studi yang ada di dalamnya, untuk tidak terjebak pada "wujuduhu ka 'adamihi" (adanya bagaikan tidak adanya) di tengah-tengah pergumulan dan kompetisi antar berbagai perguruan tinggi yang ada di sekitarnya.
Spiritualisme Ratu Kalinyamat: Kontroversi Tapa Wuda Sinjang Rambut Kanjeng Ratu di Jepara Jawa Tengah Said, Nur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i2.2761

Abstract

In Javanese tradition, patriarchal culture is hold strongly though it cannot be generalized as a necessity. The emergence of Queen Kalinyamat as the representation of Javanese woman apparently indicates a contrary to the mainstream Javanese tradition. This article is a semiotical analysis on the spiritualism of Queen Kalinyamat who lived in the 16th century and protested against injustice in that time. She sent the military forces to Malacca to repel the Portuguese so that she was known as a wealthy and very powerful woman. Meanwhile, when her husband and brother were killed by Arya Penangsang, she also demanded justice by living as a naked ascetic (tapa wuda sinjang rambut) which resulted in multiple spiritual interpretations for grass root society. This is mostly interpreted as the spirit of sex drive, but the sufis interpreted it as meaningful metaphor to leave all sorts of worldly power material and position, then it is symbolized by the Arabic letter of Alif. Naked in this case is as a symbol of self-emptying and then filled with repentance, love and taqorrub to God. Queen Kalinyamat’s spiritualism counters the Javanese tradition toward different perspective reflecting eco-feminism trend in post-colonial era. Dalam tradisi Jawa, budaya patriarki masih sangat kuat meskipun tidak bisa digeneralisasi sebagai suatu keniscayaan. Munculnya Ratu Kalinyamat sebagai representasi perempuan di Jawa, ternyata menunjukkan kondisi bertentangan dengan tradisi Jawa secara umum. Artikel ini melalui analisis semiotik membahas spiritualisme Ratu Kalinyamat di Jepara, Jawa Tengah yang hidup di abad ke16 dan berani protes terhadap ketidakadilan pada waktu itu. Dia mengirimkan armada pasukan militer ke Malaka untuk mengusir penjajah Portugis hingga dikenal sebagai wanita kaya dan sangat kuat. Sementara itu, ketika suami dan kakaknya dibunuh Arya Penangsang, dia juga menuntut keadilan dengan bertapa telanjang (tapa wuda sinjang rambut) yang telah melahirkan multi-makna spiritual di masyarakat akar rumput. Meskipun sebagian memaknainya sebagai semangat gairah seksual, kalangan sufistik memandangnya sebagai perilaku simbolik yang bermakna meninggalkan segala macam kekuasaan duniawi baik material dan jabatan sehingga dilambangkan dengan huruf Arab Alif. Telanjang dalam hal ini sebagai simbol pengosongan diri dan kemudian diisi dengan pertobatan, kasih dan taqorrub kepada Allah. Spiritualisme Ratu Kalinyamat menentang tradisi Jawa yang cenderung patriarki menuju perspektif yang berbeda yang mencerminkan trend ecofeminisme di era poskolonial.
Kehadiran Kyai Independen dalam Dinamika Sosial-Politik: Telaah Peran Kyai dalam Merespon Perpolitikan Era Reformasi Sahlan, Asmaun
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v6i2.4676

Abstract

Actually there are some people expect the position and role of independent standing kyai do not participate in practical political activities, not contaminated by frenzied and hot politics. The presence of kyai is expected to provide coolness and peace and cool the heat of political flow. Besides, it is also a force of politics and government life in Indonesia. This paper describes the variations and typology of kyai, and the relationship between religion and politics. Kyai that join the flow of politics is always suspected by groups that are not in line with it. The independent kyai that is not contaminated by politics is always waiting for the community. The kyai's decision to engage in politics or not is basically meant to build a just and prosperous community. Sebenarnya ada sebagian masyarakat mengharapkan posisi dan peran kyai berdiri independen tidak ikut dalam kegiatan politik praktis, tidak terkontaminasi oleh hingar-bingar dan panasnya perpolitikan. Kehadiran kyai ini diharapkan dapat memberikan kesejukan dan kedamaian serta mendinginkan panasnya arus politik. Selain itu juga menjadi force kehidupan perpolitikan dan pemerintahan di Indonesia. Tulisan ini menjabarkan mengenai variasi dan tipologi kyai, serta hubungan antara agama dan politik. Kyai yang ikut arus politik selalu dicurigai oleh kelompok yang tidak sejalan dengannya. Adapun kyai independen yang tidak terkontaminasi politik selalu dinantikan masyarakat. Keputusan kyai untuk terlibat politik atau tidak pada dasarnya dimaksudkan untuk membangun umat yang adil dan makmur.
Wanita dan Hukum: Perspektif Feminis Terhadap Hukum Baharuddin, Rahmawati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i2.5143

Abstract

Feminists insist that the greatest part of the law is legitimacy of a dominant ideology, and that the greatest part of the dominant ideology of most societies is characterized by patriarchy. The focus of recent feminist legal criticism is the result of a discovery that norms are often inserted bias that affirms the subordination of women to men. Although it is essentially a lawsuit of feminist legal theorists against. the legal system is so vast and diverse, at least there is a common thread that can be taken, namely that the established legal framework is very phallocentric (dominated by men), and is a vehicle for creating male domination to become stronger and legitimate by adopting a male point of view to the law, and at the same time it also reinforces the idea in society. Thus passing the law, male domination is imaged as a hallmark of life, not as a one-sided impression of a group's most dominant advantage. Kaum feminis menegaskan bahwa bagian terbesar dalam hukum merupakan legitimasi terhadap sebuah ideologi yang dominan, dan bahwa bagian terbesar dari ideologi yang dominan dari kebanyakan masyarakat adalah bercirikan patriarkhis. Fokus dari kritik hukum feminis belakangan ini merupakan hasil dari sebuah penemuan bahwa norma-norma seringkali disisipi bias yang mempertegas subordinasi perempuan terhadap laki-laki. Meskipun pada dasarnya gugatan para teoritisi hukum feminis terhadap. sistem hukum begitu luas dan beragam, setidaknya ada benang merah yang bisa diambil, yaitu bahwa kerangka hukum yang telah mapan sangat bersifat phallosentris (didominasi kaum pria), dan merupakan wahana untuk menciptakan dominasi laki-laki menjadi semakin kokoh dan sah dengan mengadopsi sudut pandang laki-laki terhadap hukum, dan pada saat bersamaan ia juga memperkuat gagasan tersebut di tengah masyarakat. Dengan demikian rnelaluijalur hukum, dominasi laki-laki dicitrakan sebagai ciri khas kehidupan, bukan sebagai pemahaman satu pihak yang dipaksakan untuk keuntungan kelompok yang paling dominan.
Sistem Kekerabatan Masyarakat Kampung Sawah di Kota Bekasi Jamaludin, Adon Nasrullah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i2.3347

Abstract

The phenomenon of population at Kampung Sawah Jatimurni District of Pondok Melati Bekasi shows that its people are not from ethnic Batak, but most of them are Sundanese and Betawinese. In the kinship structure of society of both ethnics, the term clan is unfamiliar. Rather it is known in the community of North Sumatra namely Batak. This paper focuses on describing how the people in Kampung Sawah uses the clan system and whether the surnames given in Kampung Sawah have similarities to those existing in Batak. Based on the data, the clan in Kampung Sawah is different from the one used in Batak, either in the marriage system, family system and socio-cultural system. Fenomena masyarakat Kampung Sawah Kelurahan Jatimurni Kecamatan Pondok Melati Kota Bekasi, warganya bukan dari etnis Batak, tetapi kebanyakan dari etnis Sunda dan Betawi. Dalam struktur kekerabatan masyarakat etnis Sunda dan Betawi tidak dikenal istilah marga. Istilah marga lebih identik dan dikenal di masyarakat Sumatera Utara pada etnis Batak. Fokus tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana masyarakat Kampung Sawah menggunakan sistem marga dan apakah nama marga yang dibangun oleh masyarakat Kampung Sawah Kota Bekasi memiliki kesamaan dengan marga yang ada pada etnis Batak. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa marga yang ada di Kampung Sawah berbeda dengan marga yang ada di Batak, baik sisi sistem perkawinannya, sistem keluarga dan sistem sosial budayanya.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue