cover
Contact Name
Dr. Istiadah, MA
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
egalita@uin-malang.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
EGALITA
ISSN : 19073641     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
EGALITA merupakan Jurnal Kesetaraan dan Keadilan Gender yang menyajikan sejumlah hasil penelitian, pemahaman dan perenungan mendalam tentang problematika gender, baik dalam bangunan intelektual maupun konstruksi sosial yang ada pada masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 1 (2025): June" : 6 Documents clear
BRIDGING GENDER GAPS IN EDUCATION THROUGH ISLAMIC VALUES AND TECHNOLOGY AT PPTQ AL-HASAN Syahrudin, Syahrudin; Aisi, Okta Khusna; Susanto, Roni; Isa, Khairunesa
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.30589

Abstract

Abstract Achieving gender equality in education remains a pressing global challenge and a core component of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in regions where religious values deeply influence social structures. This study explores an integrative approach that combines Islamic principles with educational technology to address gender disparities in education, with a focus on Madrasah Riyadlatusy Syubban, part of Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Hasan in Ponorogo, East Java. Utilizing a qualitative case study design, the research investigates how Islamic values that uphold gender justice can be harmonized with technological innovations to expand access to education and enhance learning outcomes. Data were gathered through in-depth interviews, participant observation, and institutional document analysis. The findings reveal that aligning Islamic teachings on gender justice with the use of digital platforms and online applications significantly improves educational access for female students, while also fostering their intellectual and technical growth. This synergy not only narrows the gender gap in religious education but also supports broader efforts toward women's empowerment in a culturally resonant manner. The study contributes to both theoretical and practical discourses by proposing a sustainable and inclusive educational model that integrates faith-based values with digital innovation. It offers a contextual framework for promoting gender equality in Islamic educational settings, and highlights the potential of religious institutions to play a transformative role in achieving the SDGs, especially in advancing quality education and empowering women.  Keywords: Gender Equality; Inclusive Education; Educational Technology; Islamic Values; SDGs; Madrasah; Women's Empowerment; Value Integration.Abstrak Mewujudkan kesetaraan gender dalam pendidikan tetap menjadi tantangan global yang mendesak serta merupakan salah satu komponen utama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di wilayah yang struktur sosialnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan. Studi ini mengeksplorasi pendekatan integratif yang menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan teknologi pendidikan untuk mengatasi kesenjangan gender dalam sektor pendidikan, dengan fokus pada Madrasah Riyadlatusy Syubban yang merupakan bagian dari Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Hasan di Ponorogo, Jawa Timur. Menggunakan desain studi kasus kualitatif, penelitian ini menelaah bagaimana nilai-nilai Islam yang menjunjung keadilan gender dapat diselaraskan dengan inovasi teknologi untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen institusional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelarasan antara ajaran Islam tentang keadilan gender dan pemanfaatan platform digital serta aplikasi daring secara signifikan meningkatkan akses pendidikan bagi santri perempuan, sekaligus mendorong pertumbuhan intelektual dan keterampilan teknis mereka. Sinergi ini tidak hanya mempersempit kesenjangan gender dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga mendukung pemberdayaan perempuan secara lebih luas dalam konteks budaya yang relevan. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana teoritis dan praktis dengan mengusulkan model pendidikan berkelanjutan dan inklusif yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan inovasi digital. Penelitian ini juga menawarkan kerangka kontekstual dalam mendorong kesetaraan gender di lingkungan pendidikan Islam, serta menyoroti potensi lembaga keagamaan untuk memainkan peran transformatif dalam pencapaian SDGs, khususnya dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pemberdayaan perempuan.  Kata Kunci: Kesetaraan Gender; Pendidikan Inklusif; Teknologi Pendidikan; Nilai Islam; SDGs; Madrasah; Pemberdayaan Perempuan; Integrasi Nilai
REPRESENTATION OF INHERITANCE RIGHTS IN PATRIARCHAL CULTURE IN BALI BASED ON GENDER EQUALITY THEORY Dewi, Frisca Putriana; Valentina, Tience Debora
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.32337

Abstract

Abstract Gender equality is a concept of balance put forward to equalize the position between women and men. In implementing this concept, Balinese people experience challenges in realizing it, this is due to the influence of patriarchal culture. One aspect that is difficult to implement gender equality is inheritance rights in Bali, due to the concept of patriarchal culture that is intertwined with Hindu religious beliefs. The research method used in this research is a literature review with a narrative literature-overview article approach. This research aims to understand a more specific picture of how patriarchal culture influences inheritance rights and how the transformation that occurs to obtain gender equality can be pursued in a complex cultural context such as in Bali. The results of this study show that the patriarchal culture in Bali is influenced by Hinduism and adat, where men are the main heirs through a major inheritance system, while women often experience marginalization and subordination. The results of this study are expected to provide new insights and encourage changes in a more equitable inheritance system. Keywords: Patriarchal Culture; Inheritance Rights; Gender Equality; Balinese Society.Abstrak Kesetaraan gender merupakan suatu konsep keseimbangan yang dikemukakan untuk menyetarakan posisi antara perempuan dan laki-laki. Dalam penerapannya, masyarakat Bali menghadapi tantangan dalam mewujudkan konsep tersebut, yang disebabkan oleh pengaruh budaya patriarki. Salah satu aspek yang sulit diterapkan dalam konteks kesetaraan gender adalah hak waris di Bali, karena konsep budaya patriarki yang melekat erat dengan ajaran agama Hindu. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah tinjauan pustaka dengan pendekatan artikel naratif-literatur. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran yang lebih spesifik mengenai bagaimana budaya patriarki memengaruhi hak waris serta bagaimana transformasi menuju kesetaraan gender dapat diupayakan dalam konteks budaya yang kompleks seperti di Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya patriarki di Bali dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan adat istiadat, di mana laki-laki merupakan ahli waris utama melalui sistem waris utama, sementara perempuan kerap mengalami marginalisasi dan subordinasi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru serta mendorong perubahan menuju sistem pewarisan yang lebih adil dan setara. Kata Kunci: Budaya Patriarki; Hak Waris; Kesetaraan Gender; Masyarakat Bali.
THE ROLE OF FATHER INVOLVEMENT IN BUILDING ADOLESCENT MENTAL HEALTH Sari, Putri Puspita; Hanifah, Rulia; Dewi, Rini Liana; Riady, Muhammad Antos
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.32914

Abstract

Abstract Fathers' involvement is often overlooked in the parenting discourse, despite its important role in shaping adolescents' mental health. However, related studies are scattered and have not been systematically reviewed. This review aims to examine fathers' involvement in parenting, the dimensions of involvement, its impact on adolescents' mental health, and factors that may moderate the relationship. This study is a Systematic literature review that follows the PRISMA 2020 guidelines. Articles were searched through PsycINFO, PubMed, Springer, Ebsco, Google Scholar, and Scopus databases using keywords such as "father involvement", "adolescent mental health", "parenting style", "father absence", "psychological well-being", "emotional regulation", "self-esteem", dan "behavioral problems. Of the 1,238 articles identified, 17 articles met the inclusion criteria and were analyzed further. Selection was done through identification, screening, and eligibility assessment. Data were analyzed using a thematic approach. Analysis of 17 studies showed that father involvement, including involvement including physical presence, emotional support, cognitive involvement, open communication, and role as a role model with various positive indicators in adolescents, such as increased self-esteem, decreased symptoms of depression and anxiety, and better emotional regulation skills. Factors such as child gender, family economic status, quality of father-mother relationship, and cultural background function as moderators in the relationship. Father involvement has a significant influence on shaping adolescent mental health and behavior. These findings highlight the importance of a more holistic and participatory parenting approach, as well as the need for family-based interventions that strengthen the role of fathers. Keywords: Father Involvement; Mental Health; Adolescents.Abstrak Keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih sering diabaikan dalam pengasuhan anak, padahal memiliki peran penting dalam pembentukan kesehatan mental remaja. Namun, studi terkait masih tersebar dan belum dikaji secara sistematis. Tinjauan ini bertujuan untuk mengkaji keterlibatan ayah dalam pengasuhan, dimensi keterlibatan, dampaknya terhadap kesehatan mental remaja, serta faktor-faktor yang dapat memoderasi hubungan tersebut. Studi ini merupakan tinjauan pustaka sistematis yang mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian artikel dilakukan melalui database PsycINFO, PubMed, Springer, Ebsco, Google Scholar, dan Scopus menggunakan kata kunci seperti "father involvement", "adolescent mental health", "parenting style", "father absence", "psychological well-being", "emotional regulation", "self-esteem", dan "behavioral problems". Dari 1.238 artikel yang diidentifikasi, sebanyak 17 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Seleksi dilakukan melalui tahap identifikasi, penyaringan, dan penilaian kelayakan. Data dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Analisis terhadap 17 studi menunjukkan keterlibatan ayah yang mencakup beberapa dimensi antara lain interaksi emosional dan afeksi, kehadiran fisik, pendidik, pelindung, dan dukungan finansial. Hal ini berkorelasi dengan berbagai indikator positif pada remaja, seperti peningkatan harga diri, penurunan gejala depresi dan kecemasan, serta kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Faktor-faktor yang memoderasi seperti jenis sosial budaya, ekonomi dan pekerjaan, faktor psikologis dan emosional, faktor relasi keluarga dan dukungan sosial. Keterlibatan ayah memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk kesehatan mental dan perilaku remaja. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan pengasuhan yang lebih holistik dan partisipatif, serta perlunya intervensi berbasis keluarga yang memperkuat peran ayah. Kata Kunci: Keterlibatan Ayah; Kesehatan Mental; Remaja.
IBN KATHIR'S INTERPRETATION OF FEMALE DESIRE: A CRITICAL ANALYSIS OF SURAH YUSUF VERSE 31 Manggala, Kayan; Istiadah, Istiadah; Hamidah, Tutik; Barizi, Ahmad; Arifin, Syamsul
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.30010

Abstract

Abstract This study critically examines the representation of female desire in Surah Yusuf, verse 31, through the lens of Ibn Kathir’s classical tafsir. Despite growing scholarly attention to gender and sexuality in Islamic texts, focused analyses of female desire within Qur’anic exegesis remain limited. Addressing this gap, the present research offers a pioneering contribution by employing a qualitative descriptive method to analyze both linguistic and interpretative dimensions of the verse. The study pursues three main objectives: (1) to investigate the linguistic nuances and variations across major English translations of the verse; (2) to explore Ibn Kathir’s interpretive framing of the narrative involving the women of Egypt; and (3) to analyze how the concept of female desire is constructed within his tafsir. The findings reveal significant disparities in how translations convey the intensity and consequences of the women’s attraction to Prophet Yusuf. Ibn Kathir’s exegesis characterizes their behavior as influenced by both individual and collective longing, catalyzed by Yusuf’s extraordinary beauty. Notably, the tafsir identifies elements such as physical attraction, emotional overwhelm, and even metaphorical “drunkenness” as markers of female desire. This study contributes to the broader discourse on gender in Islamic thought by highlighting how classical interpretations engaged with complex emotional and psychological dimensions of female figures in the Qur’an. By revisiting these exegetical traditions, the research fosters a more nuanced and historically grounded understanding of female desire, offering critical insights for contemporary debates on gender, sexuality, and the interpretation of sacred texts. Keywords: Female Desire; Surah Yusuf; Ibn Kathir’s Interpretation.Abstrak Penelitian ini secara kritis mengkaji representasi hasrat perempuan dalam Surah Yusuf ayat 31 melalui tafsir klasik Ibn Kathir. Meskipun kajian akademik mengenai gender dan seksualitas dalam teks-teks Islam semakin berkembang, analisis yang secara khusus membahas hasrat perempuan dalam konteks tafsir Al-Qur’an masih sangat terbatas. Untuk menjembatani kekosongan ini, penelitian ini menawarkan kontribusi awal dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif guna menganalisis dimensi linguistik dan interpretatif dari ayat tersebut. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama: (1) menyelidiki nuansa kebahasaan dan variasi dalam sejumlah terjemahan bahasa Inggris utama terhadap ayat tersebut; (2) mengeksplorasi cara Ibn Kathir membingkai narasi tentang para perempuan Mesir; dan (3) menganalisis bagaimana konsep hasrat perempuan dikonstruksikan dalam tafsirnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam cara terjemahan menggambarkan intensitas dan konsekuensi dari ketertarikan para perempuan terhadap Nabi Yusuf. Tafsir Ibn Kathir menggambarkan perilaku mereka sebagai hasil dari hasrat individu maupun kolektif, yang dipicu oleh pesona luar biasa Yusuf. Menariknya, tafsir ini mengidentifikasi unsur daya tarik fisik, gejolak emosi, hingga “mabuk” secara metaforis sebagai penanda dari hasrat perempuan. Studi ini memberikan kontribusi penting bagi diskursus gender dalam pemikiran Islam dengan menyoroti bagaimana tafsir klasik merespons dimensi emosional dan psikologis tokoh-tokoh perempuan dalam Al-Qur’an. Dengan meninjau kembali tradisi tafsir tersebut, penelitian ini menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam dan historis tentang hasrat perempuan, sekaligus menawarkan wawasan kritis bagi perdebatan kontemporer mengenai gender, seksualitas, dan penafsiran teks suci. Kata Kunci: Syahwat Wanita; Surat Yusuf; Tafsir Ibnu Katsir.
A CRITICAL STUDY OF THE DOMINANT PARADIGM OF ENTREPRENEURSHIP IN THE EMPOWERMENT PROGRAM FOR FORMER WOMEN MIGRANTS Susanti, Lina Rintis; Sinaga, Hariati
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.32992

Abstract

AbstractThis study attempts to answer the question of why the programs provided by the government for post-migrant women after they have completed migration (post-migration) seem to be lip service. Rather than empowering and providing protection from various vulnerabilities, the empowerment framework with such characteristics actually burdens women. This study uses a qualitative method with a feminist perspective. The case study approach was chosen in this study in order to illustrate the problem. The case study was taken from the experience in Krasak Village, Indramayu Regency. In looking at the problem of the reduction of empowerment programs for women-returnee, this paper uses the capability perspective of Martha Nussbaum and the intersectionality framework of Patricia Hill Collins. Based on the perspective of capability theory, empowerment should also aim to achieve equality, including targeting the gap in opportunities that are rooted deep in their life cycle in the past. The absence of social support and an enabling environment for a person's growth and development is also recognized as the issue of social inequality that needs to be targeted, in order to achieve equality of conditions for returnee. Meanwhile, based on the intersectionality framework, this study reveals the incompleteness of the approach used in the entrepreneurship program. It has ignored the various vulnerabilities experienced by returnee, which occur as a result of the interaction of several intertwined power systems (gender, class, and development inequality in the areas of origin of returnees) Keywords: Emancipatory empowerment; Women-migrant-returnees; Post-migration vulnerability; Women’s capability gap.AbstrakPenelitian ini berupaya menjawab persoalan mengapa program yang disediakan pemerintah bagi perempuan purna migran setelah mereka selesai bermigrasi (pasca-migrasi) seolah nampak bagai lip service. Alih-alih memberdayakan dan memberikan perlindungan dari berbagai kerentanan, kerangka pemberdayaan yang berkarakterisitik demikian justru membebani perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan perspektif feminis. Pendekatan studi kasus dipilih dalam studi ini dalam rangka untuk mengilustrasikan permasalahan. Studi kasus diambil dari pengalaman di desa Krasak, Kabupaten Indramayu. Dalam melihat persoalan direduksinya program perlindungan dan pemberdayaan perempuan pasca-migrasi, tulisan ini menggunakan perspektif kapabilitas dari Martha Nussbaum dan kerangka interseksionalitas Patricia Hill Collins. Berdasarkan perspektif teori kapabilitas, dalam melakukan pemberdayaan seharusnya juga bertujuan untuk mencapai kesetaraan, termasuk juga menyasar kesenjangan kesempatan yang berakar jauh sejak dari siklus hidup mereka di masa lalu. Absennya dukungan sosial serta enabling environment bagi tumbuh kembang seseorang, juga termasuk dalam persoalan ketimpangan sosial yang penting disasar dalam rangka mencapai kesetaraan kondisi perempuan purna migran. Sementara berdasarkan kerangka interseksionalitas, studi ini mengungkap ketidaklengkapan pendekatan yang digunakan dalam program kewirausahaan karena telah mengabaikan berbagai kerentanan yang dialami perempuan purna migran, yang terjadi sebagai hasil interaksi dari beberapa sistem kuasa yang saling berkelindan (gender, kelas, dan ketimpangan pembangunan di daerah asal purna migran). Kata Kunci: Pemberdayaan emansipatif; Perempuan-purna-migran; Kerentanan pasca-migrasi; Kesenjangan kapabilitas perempuan.
SEXUAL VIOLENCE SURVIVOR RESISTANCE: RECLAIMING SAFE SPACES FOR SANTRIWATI IN PESANTREN Komala, Ajeng Ratna; Fajriyah, Iklilah Muzayyanah Dini
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.33641

Abstract

Abstract The persistent occurrence of gender-based sexual violence within Indonesian pesantren (Islamic boarding schools) demands urgent academic scrutiny, particularly due to its underreported nature and the complex power dynamics embedded within their exclusive and autonomous educational structures. While existing scholarship has primarily centered on the causes and prevention of sexual violence in these institutions, the lived experiences, agency, and resistance strategies of survivors remain critically underexplored. Addressing this gap, the present study investigates how survivors within pesantren contexts navigate their transformation from perceived powerless victims to active agents of resistance. Specifically, it examines the sociocultural barriers they encounter, the forms of resistance they employ, and the broader implications of their defiance. Employing a qualitative literature review methodology, this research synthesizes insights from 20 relevant studies—7 focused on pesantren in Indonesia and 14 international studies on survivor resistance. Thematic analysis was conducted, with data interpreted through the lenses of radical feminist theory and agency theory, focusing on female representation in pesantren and survivor-driven resistance. Findings indicate that, despite the deeply patriarchal and feudal systems that characterize many pesantren, survivors assert agency through diverse strategies—ranging from personal resilience and storytelling to legal advocacy and collective mobilization. These acts of resistance not only challenge systemic silencing but also contribute meaningfully to shifts in public discourse and legal accountability. This study contributes a critical perspective to gender and Islamic education scholarship by centering survivor agency and offering pathways for transformative justice within religious educational settings. Keywords: Resistance; Survivors; Sexual Violence; Pesantren; Santriwati.Abstrak Kasus kekerasan seksual berbasis gender yang terus terjadi di lingkungan pesantren di Indonesia menuntut perhatian akademik yang mendesak, terutama karena sifatnya yang jarang dilaporkan serta dinamika kekuasaan yang kompleks dalam struktur pendidikan yang eksklusif dan otonom. Meskipun sejumlah penelitian telah menyoroti penyebab dan upaya pencegahan kekerasan seksual di pesantren, pengalaman hidup, agensi, dan strategi perlawanan para penyintas masih sangat minim dieksplorasi. Untuk mengisi kekosongan ini, studi ini menelusuri bagaimana para penyintas di lingkungan pesantren membangun transformasi dari korban yang dipersepsikan tidak berdaya menjadi subjek aktif yang melawan. Secara khusus, penelitian ini mengkaji hambatan sosial dan kultural yang mereka hadapi, bentuk-bentuk perlawanan yang mereka lakukan, serta dampak yang lebih luas dari tindakan perlawanan tersebut. Dengan menggunakan metode tinjauan pustaka kualitatif, penelitian ini mensintesis temuan dari 20 studi relevan—7 di antaranya berfokus pada konteks pesantren di Indonesia dan 14 studi internasional tentang perlawanan penyintas. Analisis tematik dilakukan dengan menggunakan kerangka teori feminis radikal dan teori agensi, dengan fokus pada representasi perempuan dalam pesantren dan resistensi yang digerakkan oleh penyintas. Temuan menunjukkan bahwa, meskipun sistem patriarkal dan feodal sangat mengakar dalam banyak pesantren, para penyintas menunjukkan agensi melalui berbagai strategi—mulai dari ketahanan pribadi dan narasi pengalaman, hingga advokasi hukum dan mobilisasi kolektif. Tindakan perlawanan ini tidak hanya menantang pembungkaman sistemik, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perubahan wacana publik dan akuntabilitas hukum. Studi ini menawarkan perspektif kritis dalam kajian gender dan pendidikan Islam, dengan menekankan agensi penyintas serta membuka jalan bagi keadilan transformatif dalam lingkungan pendidikan keagamaan. Kata Kunci: Perlawanan; Penyintas; Kekerasan Seksual; Peantren; Santriwati.

Page 1 of 1 | Total Record : 6