cover
Contact Name
Dr. Istiadah, MA
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
egalita@uin-malang.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
EGALITA
ISSN : 19073641     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
EGALITA merupakan Jurnal Kesetaraan dan Keadilan Gender yang menyajikan sejumlah hasil penelitian, pemahaman dan perenungan mendalam tentang problematika gender, baik dalam bangunan intelektual maupun konstruksi sosial yang ada pada masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Bias Gender dalam Kamus Bahasa Indonesia on-line (Studi Kritis tentang Pemaknaan Perempuan dalam Kamus Bahasa Indonesia) Suharnanik Suharnanik; Ulfa Mahayani
EGALITA Vol 10, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.619 KB) | DOI: 10.18860/egalita.v10i2.4543

Abstract

Indonesian On-Line Dictionary is a dictionary which use reference of indonesian Big dictionary. So the words which are explained in sentence have reference confessed as reference which can be justified. However, what will happen if woman defined as someone expressing individual normatively entered in ugly behavioral category. Woman in on-line dictionary is a system of representation form in forming woman construction in social practice. Woman through a text will give a dogma to woman in reality life of society. The Research using women as an actor who concern in definition of woman in indonesian online dictionary express very disagree of the treatment that they got. They realize that woman require the condition that support them to a good system in represent woman self as equal as man. Product of sentence in dictionary should be renewed so woman can real develope and have contribution in public region not like what defined in dictionary. Kamus Bahasa Indonesia On-line merupakan kamus yang menggunakan referensi dari kamus besar bahasa Indonesia. Sehingga kata-kata yang dijelaskan dalam kalimat memiliki referensi yang diakui sebagai rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun apa yang terjadi apabila perempuan didefinisikan sebagai seseorang yang mencerminkan individu yang secara normatif masuk dalam ketegori perilaku buruk. Parempuan dalam kamus bahasa on-line merupakan bentuk representasi sistem dalam membentuk konstruksi perempuan dalam praktek sosial. Perempuan melalui sebuah teks akan mendogma perempuan itu sendiri dalam kehidupan nyata di kehidupan masyarakat.Penelitian dengan menggunakan perempuan sebagai aktor yang terlibat dalam penyertaan makna pendefinian kamus bahasa Indonesia on-line menyatakan sangat tidak setuju atas perlakuan yang didapatkan dirinya. Mereka menyadari bahwa perempuan membutuhkan kondisi yang mendukung atas sebuah sistem yang kokoh dalam merepresentasikan diri perempuan agar setara dan sepadan dengan laki-laki. Produk kalimat dalam kamus seharusnya direfisi ulang agar perempuan mampu berkembang secara nyata serta berkontribusi di wilayah publik bukan semata-mata menjadi seperti apa yang didefinisikan dalam kamus.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan Dari Kekerasan Berbasis Gender Naimah Naimah
EGALITA Vol 10, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.524 KB) | DOI: 10.18860/egalita.v10i1.4538

Abstract

Solution of woman reproduction health is not new matter, but it still studied, because it still leave many problem for woman until today. National Commision of Anti Woman Violence (Komnas Perempuan) recorded that the number of woman violence is still high. According to the data from KPAI from 2011 until 2014, the number of woman violence is increase every year. Most of victim of physical violence are women. However, National Commission of Anti Woman Violence do the best to eliminate violation to woman. The curent law in Indonesia is still can not give the deterrent effect yet to the violence that happened to woman. added special laws on reproductive health only confirms CEDAW 1979, so not detailed yet according to the situation of indonesia society.Solusi tentang kesehatan reproduksi perempuan adalah bukan perihal baru, tetapi masih tetap dipelajari, karena banyak menyisahkan permasalahan bagi perempuan sampai hari ini. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat tahun lau jumlah kekerasan terhadap perempuan sangat tinggi. Menurut data KPAI tahun 2011 hingga 2014, jumlah kasus kekrasan seksual selalu naik tahun demi tahun. Korban kekerasan fisik kebanyakkan adalah perempuan. Meskipun demikian, Komnas Perempuan bekerja keras berjuang untuk untuk menghilangkan kekerasan. Di Indonesia hukum saat ini belum dapat memberi efek jera atas kekerasan yang terjadi pada perempuan. yang ditambahkan hukum khusus tentang kesehatan reproduksi hanya mensahkan CEDAW 1979, sehingga belum yang terperinci menurut situasi ada Indonesia.
REFLEKSI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEKERJA ANAK BERWAWASAN GENDER Nur Jannani; Uswatul Fikriyah
EGALITA Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.146 KB) | DOI: 10.18860/egalita.v11i1.4554

Abstract

This research discuss the problems of the legal protection of children workers in Indonesia are still not yet implemented properly even though it has many instruments of law that are pay attention on the rights of the children. From the results of this research shown that the protection of children had been integrated in national law contained in KUHPerdata, KUHPidana, and a number of laws. As an attempt to enforce legal protection for children workers there are at least five factors which should be strengthened, namely legal factors, law enforcement factor, means and facilities of law factor, Community law factor, and cultural law factor.Form of legal protection of children workers in Indonesia with gender perspective in addition that have already exist many laws that are provide legal protection of childrenren workers there are other things that should be more emphasized because in fact the implementation of laws are still many weaknesses. To solve the problem of children workers there are three approaches that can be done: the deletion (abolition), protection (protection), and enablement (empowerment) with give attention to three basic basic prevention, i.e. the application of the principle of cooperation and effective nationwide. In this case there are five steps that become priorities: first, changing public perception against children workers, second, advocate gradually to eliminate children workers, third, instituted and carried out laws for the protection of children workers with gender analysis Fourth, seek legal protection and providing adequate services to children, and the fifth to ensure that  children workers acquire basic education 9 years. Of all the forms of protection against children workers with  gender analysis in General can be divided into direct and indirect protection.Penelitian ini membahas mengenai permasalhaan perlindungan hukum terhadap pekerja anak di Indonesia yang sampai saat ini masih belum terimplementasi dengan baik meskipun telah banyak instrumen peraturan perundang- undangan yang memperhatikan tentang hak- hak anak. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa perlindungan terhadap anak sebenarnya telah terintegrasi dalam hukum nasional yang terkandung dalam KUHPerdata, KUHPidana, dan sejumlah peraturan perundang- undangan tentang perlindungan anak. Sebagai upaya untuk menegakkan perlindungan hukum bagi pekerja anak setidaknya ada lima faktor yang harus dikuatkan yaitu diantaranya faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor sarana  dan fasilitas hukum, faktor masyarakat hukum, faktor budaya hukum.Bentuk perlindungan hukum terhadap pekerja anak di Indonesia berwawasan gender selain sudah ada banyak peraturan perundang- undangan yang ada di Indonesia untuk memberikan perlindungan hukum terhadap anak yang bekerja ada hal- hal lain yang harus lebih ditekankan karena pada kenyataanya  pelaksanaan peraturan perundang- undangan masih banyak kekurangan. Untuk mengatasi masalah pekerja anak ini ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan yaitu penghapusan (abolition), perlindungan (protection), dan pemberdayaan (empowerment) dengan memperhatikan tiga asas yaitu asas pencegahan, asas penerapan secara efektif dan asas kerjasama nasional. Dalam hal ini terdapat lima langkah yang mnejadi prioritas yaitu pertama, mengubah persepsi msyarakat terhadap pekerja anak, kedua, melakukan advokasi secara bertahap untuk mengeliminasi pekerja anak, ketiga, mengundangkan dan melaksanakan peraturan perundang- undangan bagi perlindungan pekerja anak yang berwawasan gender analisis, keempat, mengupayakan perlindungan hukum dan menyediakan pelayanan yang memadai bagi anak- anak, dan kelima memastikan agar anak- anak yang bekerja memperoleh pendidikan dasar 9 tahun. Dari semua bentuk perlindungan terhadap pekerja anak  berwawasan gender tersebut secara umum dapat dibagi menjadi perlindungan langsung dan tidak langsung.    
PERKAWINAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA Dina Tsalist Wildana; Irham Bashori Hasba
EGALITA Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.927 KB) | DOI: 10.18860/egalita.v11i1.4549

Abstract

Marriage at the age of children still occur in some areas. Not only in Indonesia, in some areas is still high number of early marriages. Indonesia has had a regulation on the protection of children. But on the other hand the marriage at the age of children is still high even ranked second in Southeast Asia after Cambodia. This obviously shows that regulation owned does not run optimally. This article will discuss about some children's rights that are violated by the existence of early marriage. Despite showing some of the negative effects of marriage on the age of the child but at the end of this writing offers several formulations so that children in the age of marriage is not so much seized the rights of the child.Perkawinan di usia anak masih marak terjadi di beberapa wilayah. Tidak hanya di Indonesia, di beberapa wilayah masih tinggi angka perkawinan dini.Di Indonesia telah memiliki regulasi tentang perlindungan anak. Namun disisi lain perkawinan di usia anak masih tinggi bahkan menduduki peringkat ke 2 se Asia Tenggara setelah Kamboja. Hal ini jelas menunjukkan regulasi yang dimiliki tidak berjalan optimal. Pada tulisan ini akan membahas tentang beberapa hak anak yang dilanggar dengan adanya perkawinan dini. Kendati menunjukkan beberapa dampak negatifdari perkawinan di usia anak namun di akhir tulisan ini menawarkan beberapa formulasi agar perkawinan di usia anak tidak begitu banyak menyita hak-hak anak.   
Perspektif Psikoviktimologi dalam Pendampingan Dan Perlindungan Anak Korban Kekerasan Seksual Reni Kusumowardhani
EGALITA Vol 10, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.484 KB) | DOI: 10.18860/egalita.v10i2.4544

Abstract

Sexual violence to child is a serious crime, but on the other side, the case of sexual violence to child often difficult to proved. The Supreme Court of United States have perceived that sexual violence to child is one of the most difficult crime to detected and claimed because most of the case have not eyewitness except the victim. (Pennsylvania v. Ritchie, 480 U.S. 39, 60. 1987). In many cases, witness of eyewitness is very important matter. It  become very ironic because children in one side as victim because the weakness of them, but strength of children as eyewitness is the best expectation for them to get law protection. Kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan serius, namun di sisi lain kasus kekerasan seksual terhadap anak kerap kali sulit dibuktikan. Mahkamah Agung AS telah mengamati bahwa kekerasan seksual terhadap anak adalah salah satu kejahatan yang paling sulit untuk dideteksi dan dituntut karena kebanyakan tidak ada saksi kecuali korban (Pennsylvania v.  Ritchie,  480  U.S.  39,  60.  1987). Dalam  banyak  kasus  kesaksian  saksi merupakan hal yang sangat penting. Ini menjadi sangat ironis karena anak di satu sisi sebagai korban karena kelemahan mereka, namun kekuatan anak sebagai saksi  merupakan harapan terbaik mereka untuk mendapatkan  perlindungan hukum.
Refleksi Keterwakilan Perempuan Dalam Parlemen Perspektif Hak Asasi Manusia Imam Sukadi
EGALITA Vol 10, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.372 KB) | DOI: 10.18860/egalita.v10i1.4539

Abstract

Women as nation asset who play a role in resumption process and creation of generation with high quality are require to get guarantee to accomplishment of their rights. Involvement of men and woman in political area is a part that can not be separated in democratization process. Democracy give the largest opportunity to all citizen who have fulfilled the requiremets to be able to select and selected as representative of citizen  without discrimination againt  tribe, race, religion, and gender. From some general elections which have been executed, representative of women in parliament is still in minimum number. The low of  women delegation in parliament can become indicator of the low role of woman in political party. Perempuan sebagai asset bangsa yang berperan dalam proses penerusan dan penciptaan generasi yang berkualitas perlu mendapatkan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya. Keterlibatan perempuan dan laki-laki di bidang politik adalah bagian tidak terpisahkan dalam proses demokratisasi. Demokrasi memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga negara yang memenuhi syarat untuk dapat memilih dan dipilih sebagai wakil rakyat tanpa adanya diskriminasi terhadap suku, ras, agama, dan gender. Dari beberapa pemilu yang sudah dilaksanakan, wakil perempuan diparlemen masih sangat minim. Rendahnya keterwakilan perempuan di parlemen bisa menjadi indikator rendahnya peran perempuan di partai politik.
FENOMENA DAN MOTIVASI IBU RUMAH TANGGA BERKOMUNITAS DALAM ENTREPRENEUR PERSPEKTIF GENDER DI KOTA MALANG (Studi Kasus pada Komunitas Preman Super, Club Sosialita, dan Asosiasi Pengrajin Kota Malang/APKM) Sri Andriani; Dwi hidayatul Firdaus
EGALITA Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.367 KB) | DOI: 10.18860/egalita.v11i1.4555

Abstract

Perempuan dan bisnis adalah dua kata yang berbeda sifat, kata perempuan sangat feminin sedangkan kata bisnis cenderung lebih mengarah kepada pekerjaan yang maskulin. Tak dapat dipungkiri permasalah seputar gender juga terjadi di dalam dunia bisnis, hal ini tercermin pada anggapan bahwa dunia bisnis adalah  dunia laki-laki. Meskipun dalam kenyataannya, dunia internasional telah menjamin persamaan hak antara laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari hak asasi manusia, namun pada kenyataannya, kaum perempuan masih terus menghadapi kesenjangan dalam masyarakat baik secara legal maupun de facto. Semakin berkembangnya permasalah gender dan peluang untuk melakukan kegiatan usaha dengan berbagai motivasi dan harapan, maka munculah banyak wirausaha perempuan. Semakin banyak perempuan yang mulai menyadari bahwa menjadi wirausaha merupakan cara terbaik untuk membantu ekonomi keluarga, karier bisnis, dan aktualisasi diri. Sekarang, kata perempuan dan bisnis dapat berjalan beriringan, karena kini telah terbukti banyak perempuan yang terbukti sukses dalam menjalankan bisnis. Di Kota Malang terdapat 2.764 UMKM yang terwadahi dalam beberapa komunitas, salah satu komunitas di Koma Malang adalah preman super (perempuan mandiri sumber perubahan) adalah kelompok ibu-ibu rumah tangga yang melakukan wirausaha dengan berbagai motivasi, ada kelompok sosialita Malang merupakan kelompok perempuan yang cenderung berkumpul untuk bersosial, mengisi waktu, dan mencari eksistensi diri namun didalamnya juga melakukan wirausaha, kelompok lain adalah asosiasi pengrajin Kota Malang yang berkumpul dalam kegiatan kerajianan. Berawal dari bersosialisasi menjadikan kelompok ini bersaing dalam mengembangkan usaha, fenomena berwirausaha yang diawali dari bersosialisasi oleh ibu-ibu rumah tangga (mompreneurship), penggerak social (social entrepreneur).
PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL MELALUI PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN (Studi Pada Desa Candi Renggo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang) Fitriyah Fitriyah; Esy Nur Aisyah; Putri Kurnia Widiati
EGALITA Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.205 KB) | DOI: 10.18860/egalita.v11i1.4550

Abstract

Singosari is a town in Malang, East Java province, Indonesia. The subdistrict is located in the North of Malang city, district is crossed the main line of Surabaya-Malang and included as the worst jam region point in Malang. But from the human resources side, Singosari is arguably one of the most advanced sub top and most popular in Malang. Located at an altitude of 400-700 meters. Singosari district having a cool climate. Higher areas were located in Western foot of Arjuno mountain where most of its territory destined for plantations (coffee), forestry (mahogany) and livestock (chickens). Along with Lawang and Kepanjen, Singosari was known as satellite city of Malang main buffer, which is included in the area of Malang raya.This research is applied research (Applied Reseach) i.e. research that had practical reasons, desire to know which aims to be able to do something better, effective, efficient. Research conducted for the purpose to applying the results in order to solve a particular problem that is being experienced by an organization. This type of research is a qualitative with descriptive approach.Based on the results of the analysis undertaken in the development of the local economy based on trade and superior commodities sector's in the village of Candirenggo Kec. Singosari, we can get the conclussion as follows: Superior commodity trading sectors in the village  Candirenggo Kec. Singosari is for food crop subsector is Red Ginger. The development of  commodity can be done through an increase in variation products processing to create added value. In addition, it needs to be seen to cluster industry development opportunities to enhance the competitiveness of the superior commodity (Red Ginger).Singosari adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini berada di sebelah utara Kota Malang, kecamatan ini dilintasi jalur utama Surabaya-Malang dan termasuk sebagai daerah titik macet terparah di Malang. Namun dari sisi SDM Singosari dapat dikataka sebagai salah satu dai urutan teratas kecamatan termaju dan paling terpandang di Kabupaten Malang. Terletak pada ketinggian 400-700 meter . DPL, Singosari beriklim sejuk. Daerah yang lebih tinggi berada di sebelah barat kaki Gunung Arjuno dimana sebagian besar wilayahnya diperuntukkan bagi perkebunan (kopi), kehutanan (mahoni) dan peternakan (ayam). Bersama dengan Lawang dan Kepanjen, Singosari dikenal sebagai kota satelit penyangga utama Kota Malang, yang termasuk  dalam kawasan Malang raya            Penelitian ini merupakan jenis penelitian terapan (Applied Reseach) yaitu penelitian yang mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui yang bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien. penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menerapkan hasil penemuan guna memecahkan masalah tertentu yang sedang dialami suatu organisasi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif.            Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dalam pengembangan ekonomi lokal berdasarkan  sektor perdagangan dan komoditas unggulan di Desa Candirenggo Kec. Singosari diperoleh kesimpulan sebagai berikut:Komoditas unggulan sektor perdagangan di Desa Candirenggo Kec. Singosari adalah untuk subsektor tanaman bahan makanan adalah Jahe Merah. Pengembangan komoditas dapat dilakukan melalui peningkatan variasi produk hasil pengolahan untuk menciptakan nilai tambah. Disamping itu, perlu dilihat peluang pengembangan klaster industri untuk meningkatkan daya saing dari komoditas unggulan (Jahe Merah).     
PENDAMPINGAN MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA ISLAMI PADA KARYAWAN DAN KARYAWATI BANK JATIM SYARIAH CABANG MALANG Fitriyah Fitriyah; Dwi Sulistiani; Putri Kurnia Widati
EGALITA Vol 10, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.194 KB) | DOI: 10.18860/egalita.v10i2.4545

Abstract

PAR is made as a method of research on finance management of family employees who work in banking sector, both woman and man. the sample in this research is the employees of Bank Jatim. The result of this research shows that the employees of Bank Jatim Sharia malang have financial palanning, vission, mission, and also clear strategy for their family. In the relation with gender, women are more can manage a financial than men in the family. PAR dijadikan metode riset pada manajemen keuangan keluarga karyawan yang bekerja sektor perbankan, baik perempuan atau seorang laki-laki. Yang dijadikan sample adalah karyawan Bank Jatim. Hasil penelitian ini adalah karyawan Bank Jatim Syariah Cabang Malang menunjukkan bahwa  karyawan Bank Jatim memiliki perencanaan keuangan, visi misi dan strategi jelas untuk keluarga mereka. Dalam kaitan dengan jenis kelamin, wanita-wanita lebih bisa mengelola keuangan dibandingkan laki-laki dalam keluarga. 
Pelatihan Penulisan Cerita Pendek Berkeadilan Gender Di Madrasah Aliyah Al Hidayah Kecamatan Wajak Kabupaten Malang Rohmah, Galuh Nur; Fitriani, Laily; Santi, Vita Nur
EGALITA Vol 10, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In this time, some experts and practitioners of education have given idea about role of belles-lettres in education of child character. Do not deny again that belles-lettres of have important role in the world of education. Short story as one of belles-lettres form in creative writing region can be made as a media to study of justice and gender equality among adolescent as well as children. Adolescent in this time have recognized fiction readings in the form of short story, continued story, novel even pictorial story or comic. Meanwhile, its can not not be denied that a work, specially a story, not get out from its writer background. This research takes location in Madrasah Aliyah Al Hidayah of Wajak, District Of Wajak, Malang. And the result of this research is there is a change at student after done guidance; 1) student have information and knowledge about gender and its aspects 2) change of patterned thinking to treat fairly and equivalent between men and woman at home, school, and environment, and 3) student can put down issues about gender equality in his/ her short story. Dewasa ini beberapa ahli dan praktisi pendidikan juga telah memberikan gagasan tentang peran karya sastra dalam pendidikan karakter anak. Tak dipungkiri lagi bahwa karya sastra memilki peran penting dalam dunia pendidikan.  Cerita pendek sebagai salah satu bentuk karya sastra dalam wilayah kepenulisan kreatif bisa dijadikan media bagi pembelajaran keadilan dan kesetaraan gender di kalangan remaja dan juga anak-anak. Remaja saat ini sudah mengenal bacaan-bacaan fiksi berupa cerita pendek, cerita bersambung, novel bahkan cerita bergambar atau komik.  Sementara itu, tidak dipungkiri bahwa sebuah karya, sebuah cerita khususnya, tidak lepas dari latar belakang penulisnya.    Penelitian ini mengambil lokasi di Madrasah Aliyah Al Hidayah Desa Wajak, Kecamatan Wajak,  Kabupaten Malang sebagai lokusnya. Dan hasil dari penelitian ini adalahterjadi perubahan pada siswa setelah dilakukan pendampingan; 1) siswa memiliki pengetahuan dan informasi tentang gender dan aspek-aspeknya, 2) perubahan pola pikir untuk memperlakukan secara adil dan setara antara laki-laki dan perempuan baik itu di rumah, di sekolah, dan di lingkungan sekitar, dan 3) siswa mampu meletakkan isu keadilan gender dalam cerita pendeknya.

Page 10 of 20 | Total Record : 196