cover
Contact Name
Tri Yulianti
Contact Email
jts@uajy.ac.id
Phone
+62274-487711
Journal Mail Official
jts@uajy.ac.id
Editorial Address
Program Studi Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl.Babarsari No.44 Yogyakarta
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 1411660X     EISSN : 25492918     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil adalah wadah informasi bidang Teknik Sipil berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait. Terbit pertama kali Oktober tahun 2000. Frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober. (ISSN 1411-660X).
Articles 406 Documents
OPTIMASI PINTU AIR DAERAH IRIGASI (D.I) PUNGGUR UTARA ZONA C PETAK 16 KIRI 1 KABUPATEN LAMPUNG TIMUR DAN LAMPUNG TENGAH Mardika, M Gilang Indra; Fitriana, Indri Rahmandhani; Rahmawati, Vaisyah
Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v18i1.9993

Abstract

Daerah Irigasi Punggur Utara, bagian dari Sistem Sekampung, mencakup 132,28 hektar di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Kota Metro. Tantangan utamanya adalah distribusi air yang tidak efisien, menyebabkan pemborosan dan persaingan atas sumber daya air yang terbatas. Untuk mengatasi masalah ini, pintu air dioptimalkan dengan menyesuaikan hubungan antara ketinggian pintu dan kebutuhan air. Daerah ini mengikuti pola tanam Padi-Padi-Bera, dengan data curah hujan dari tahun 2014-2023 menunjukkan puncak 5,13 mm/hari pada bulan Maret. Kebutuhan air berkisar dari 0,04 m³/detik di bulan April hingga 0,20 m³/detik di bulan Mei. Pintu air Crump de Gruyter, dengan lebar 0,75 meter dan koefisien 0,913, mengatur aliran air. Bukaan pintu 5 cm menyediakan 0,20 m³/detik untuk memenuhi kebutuhan tertinggi, sedangkan bukaan 1 cm menghasilkan 0,04 m³/detik untuk kebutuhan terendah. Optimalisasi dilakukan menggunakan Pemrograman Linear melalui Solver, menyesuaikan ketinggian pintu untuk memenuhi kebutuhan irigasi dalam batas kapasitas. Metode ini meningkatkan manajemen sumber daya air di Punggur Utara.
ANALISIS SAMBUNGAN MORTISE-TENON KOLOM BETON PRACETAK DENGAN PIPA BAJA DIISI BETON Jusuf, Andrew Hartanto; Christianto, Daniel; Pranoto, Wati Asriningsih; Leman, Sunarjo; Tavio
Jurnal Teknik Sipil Vol. 17 No. 4 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v17i4.10119

Abstract

Kinerja struktur beton pracetak sangat bergantung pada sambungannya, terutama untuk komponen struktur beton pracetak dengan sambungan kering. Prosedur desain rasional diperlukan untuk memproporsikan spesimen yang akan digunakan dalam studi eksperimental. Dalam penelitian ini, prosedur desain sambungan mortise-tenon kolom-ke-kolom beton pracetak yang didasarkan pada spesimen uji meja getar berupa miniatur gedung rangka momen beton pracetak dengan sambungan dowel baja akan dikembangkan. Rangka momen khusus beton pracetak tiga tingkat digunakan untuk studi kasus penerapan prosedur desain yang telah dikembangkan. Dalam penelitian ini, pipa baja diisi beton dengan tegangan leleh 550 MPa digunakan untuk menggantikan dowel baja. Pipa berukuran Ø130 mm × 20 mm tersebut ditanam sedalam 600 mm ke dalam mortise pada ujung kolom atas dan ke dalam kolom bawah berukuran 450 mm × 450 mm agar bertindak sebagai tenon. Lubang silinder sedalam 600 mm dibuat di ujung kolom atas dengan menggunakan pipa berukuran Ø150 mm × 10 mm agar bertindak sebagai mortise. Beton dengan kuat tekan 35 MPa dan tulangan BJTS-420B digunakan pada semua komponen beton. Distribusi gaya sambungan serupa model Osanai untuk socket foundation digunakan untuk desain sambungan. Tiga kasus beban ditinjau dalam desain sambungan, yang meliputi faktor kuat lebih dan asumsi pembentukan sendi plastis balok. Studi kasus yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tegangan tumpu, luas sengkang perlu, dan ukuran pipa lebih dipengaruhi oleh momen lentur dibandingkan gaya geser. Pipa baja bermutu tinggi dengan tebal relatif besar diperlukan untuk membatasi ukuran kolom.
EVALUASI SEISMIK GEDUNG PERKULIAHAN 3 DAN 6 LANTAI EKSISTING DI KOTA YOGYAKARTA Septhia Irawati, Inggar; Heriawati, Isnaini; Setiawan, Angga Fajar
Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v18i1.10168

Abstract

The three-story reinforced concrete building as a college building was built in the city of Yogyakarta in 2011. The building was originally designed to have 6 floors using SNI 1726-2002 and SNI 2847-2002. With the development of construction standards in Indonesia, both regulations have been updated to SNI 1726-2019 and SNI 2847-2019. As a consequence of the updated regulations, re-evaluation of building structures against earthquake loads is important to do. This study aims to evaluate the performance of the existing building structure. The buildings are analyzed under two scenarios: the existing three-story condition and the planned six-story construction according to the Detailed Engineering Design (DED). The analysis employs a nonlinear static procedure based on ASCE 41-23 standards, with seismic load distribution derived from the Indonesian Earthquake Hazard Deaggregation Map. The seismic loading considers two levels of seismic hazard: BSE-1E and BSE-2E. Results indicate that both the three-story and six-story buildings fail to meet the performance criteria stipulated in ASCE 41-23. The evaluation results show that neither the three-story nor the six-story building achieves the Immediate Occupancy (IO) performance level under design earthquake BSE-1E, nor do they meet the Life Safety (LS) performance level under earthquake BSE-2E. Additionally, neither structure meets the maximum allowable horizontal displacement requirements.
MANAJEMEN BISNIS KONSTRUKSI DENGAN BUILDING INFORMATION MODELLING PADA LIFE CYCLE COST: KAJIAN BIBLIOMETRIK Yulius Chaesario Kurniawan; Nectaria Putri Pramesti
Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v18i1.10217

Abstract

Penelitian ini mengkaji integrasi Building Information Modeling (BIM) dalam Life Cycle Cost (LCC) pada proyek konstruksi, menggunakan analisis bibliometrik untuk memetakan tren publikasi antara 2015 hingga 2024. Dari 103 dokumen yang dianalisis menggunakan perangkat lunak VOSviewer, tren menunjukkan peningkatan signifikan setelah 2019, dengan jumlah publikasi tertinggi pada 2019 dan 2021, masing-masing 17 artikel (16,67%). Analisis ini melibatkan 291 penulis, dengan Jrade Ahmad menjadi penulis paling produktif (4 dokumen, 66 kutipan). Dalam analisis co-citation, jurnal Sustainability tercatat sebagai sumber paling banyak dikutip (107 kutipan). Secara teknis, studi ini memanfaatkan VOSviewer untuk menganalisis jaringan kolaborasi, dengan 27 penulis memenuhi kriteria minimal dua dokumen. Jaringan kata kunci menyoroti “BIM” dengan frekuensi 293 kemunculan, terhubung erat dengan “life cycle cost” dan “life cycle assessment”. Hasil juga menunjukkan kontribusi signifikan dari negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Australia, masing-masing menghasilkan 10 publikasi. BIM memungkinkan otomatisasi perhitungan LCC, mengurangi kesalahan manual, dan meningkatkan efisiensi estimasi melalui integrasi perangkat seperti Revit dengan Dynamo atau Excel. Perhitungan biaya siklus hidup meliputi desain, konstruksi, hingga operasi dan pemeliharaan. Alat seperti Green Building Studio (GBS) dan One Click LCA membantu mengintegrasikan LCA untuk menganalisis dampak lingkungan dan efisiensi biaya. Penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan perpustakaan BIM yang seragam dan peningkatan kolaborasi global untuk mengatasi tantangan seperti biaya tinggi dan kurangnya tenaga ahli terlatih.
BRIDGE FOUNDATION DESIGN INTEGRATING GROUND IMPROVEMENT TECHNIQUES IN CHALLENGING SOIL Frank Lurich; Andri Irfan Rifai; Ade Jaya Saputra
Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v18i1.10313

Abstract

This study investigates the optimal design of bridge foundations incorporating ground improvement techniques in challenging soil conditions, employing a case study methodology. Bridge foundations primarily serve to transfer forces applied by the bridge to the underlying soil, and ground improvement techniques enhance soil properties, particularly in complex environments. Challenging soil conditions pose substantial difficulties in designing and constructing bridge foundations, requiring engineers to employ specific methodologies to ensure stability and long-term resilience. These solutions are crucial in areas with weak or unstable soil incapable of supporting large structures like bridges. This study aims to conduct a thorough comparative analysis to evaluate the suitability of Controlled Modulus Columns (CMC) for a roadway project in north-central Java, where soil conditions present significant challenges. By collecting and analyzing secondary data from various sources, including literature, case studies, and empirical research, the study assesses ground improvement techniques' effectiveness, efficiency, and performance in similar soil and geotechnical conditions. The objective is to determine whether CMCs are the most beneficial approach for enhancing the stability and performance of the highway or if alternative methods, which require rapid installation and high load-bearing capacity while minimizing soil disruption, might be more appropriate. The study highlights that Deep Soil Mixing (DSM) offers advantages comparable to CMCs and has proven effective in different soil conditions. This research aims to provide valuable insights into selecting optimal ground improvement techniques for bridge foundations in challenging soil conditions, ensuring stability and performance while addressing project-specific requirements.
PENEMPATAN SENSOR AKSELEROMETER PADA JEMBATAN MERAH PUTIH Lautan Wijaya Nusantara, Johan; Aminullah, Akhmad; Siswosukarto, Suprapto
Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v18i1.10354

Abstract

Kegiatan monitoring pada jembatan perlu dilakukan sebagai upaya dalam menjamin keamanan jembatan. Secara umum terdapat dua metode monitoring kesehatan struktur jembatan yaitu dengan melakukan Loading Test secara langsung dan melalui Structural Health Monitoring System (SHMS) yang dapat dipantau secara real time dan kontinu. Salah satu sensor yang penting dan populer dalam kegiatan SHMS adalah akselerometer. Data dari sensor tersebut dapat diproses lebih lanjut untuk mengetahui nilai frekuensi struktur, mode shape, dan displacement yang terjadi. Hal tersebut bermanfaat dalam pemantauan kesehatan struktur jembatan secara keseluruhan dan dapat dijadikan dasar penetapan kebijakan untuk pemeliharaan jembatan, serta penyusunan tindakan preventif dan kuratif. Penempatan sensor yang baik dengan jumlah sensor yang tepat harus ditentukan untuk mengetahui perilaku struktur yang sebenarnya dengan biaya yang minimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penempatan sensor akselerometer pada dek Jembatan Merah-Putih yang memiliki tipe double pylon cable stayed dengan bentang 300 m yang terletak di Kota Ambon, Provinsi Maluku, Indonesia. Empat metode Optimal Sensor Placement (OSP) telah dilakukan yaitu dengan Effective Independence (EI) Method, Eigenvalue Component Product (ECP), Mode Shape Summation Plot (MSSP) Method, serta Effective Independence – Drive Point Residu (EI-DPR) Method. Dari keempat metode tersebut, didapatkan bahwa penempatan sensor yang paling optimal didapatkan dari metode EI dengan jumlah sensor yang optimal adalah berjumlah 10. Konfigurasi sensor tersebut memiliki performa yang sedikit lebih baik dari konfigurasi sensor eksisting.