Corak : Jurnal Seni Kriya
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Articles
294 Documents
Aplikasi Korsase Painting Motif Bunga Lily Stargazer sebagai Ornamen Dekoratif pada Busana Pesta
Sita Ratna Hapsari;
Mutiara Annandara
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.18791
Pengembangan teknik dekoratif dalam desain busana terus berkembang, namun penerapan teknik painting pada korsase tiga dimensi belum pernah dikembangkan sehingga inovasi surface design belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini menunjukkan untuk menghadirkan pendekatan baru yang mampu menggabungkan tekstur, warna, dan bentuk secara lebih kreatif. Penelitian ini bertujuan menciptakan busana pesta dengan model kamisol dengan aplikasi korsase painting motif Lily Stargazer serta menganalisis nilai estetikanya. Metode kualitatif dengan pendekatan penciptaan dilakukan melalui tiga tahap: eksplorasi untuk mengkaji karakter visual Lily Stargazer sebagai sumber ide, perancangan untuk menyusun moodboard, sketsa, dan penempatan korsase, serta perwujudan melalui pembentukan kelopak satin, pewarnaan menggunakan cat tekstil Pébéo Setacolor, dan perakitan korsase dalam berbagai ukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter visual Lily Stargazer terutama gradasi warna dan bentuk kelopak dapat diterapkan secara efektif dalam teknik korsase painting sehingga menghasilkan dekorasi tiga dimensi yang memperkuat kesan feminin dan elegan pada busana pesta kamisol.
Exploration of Glow-in-the-Dark Pigment and Resin Materials in Relation to Types and Illumination Duration in Craft Products
Chici Yuliana Nadi;
Sri Marwati;
Pratita Rara Raina
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.17783
This research was motivated by the limited availability of structured experimental data on innovative materials in the fields of craft and art. Glow-in-the-dark pigments and resin were chosen as the main focus due to their potential in experimental and contemporary creation. The purpose of this study is to explore the characteristics of glow-in-the-dark pigments and resin, and to examine the effects of light type and exposure duration on the visual quality of craft products produced. The approach used is practice-led research, positioning the creation process as the primary source of knowledge. The results show that epoxy resin has advantages over polyester and UV resin, while strontium aluminate–based pigments produce higher light intensity and longer afterglow duration than zinc sulfide. The experiments indicate that CAST R-GID and TOP R-GID samples produce similar luminescence after UV LED and white LED exposure, while ART R-GID shows dimmer and shorter-lasting luminescence due to uneven pigment distribution caused by longer curing times. In addition, UV LED illumination produces brighter and more durable luminescence compared to white LED. Longer exposure time results in more persistent afterglow
Adopsi Cahaya Kunang-Kunang (Bioluminescence) pada Hiasan Korsase Bunga Mawar untuk Busana Pesta Malam
Fairuzia Istighfarina;
Cucu Ruhidawati
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.18882
Adopsi fenomena bioluminesensi kunang-kunang menjadi dasar penciptaan busana pesta malam dengan penerapan korsase bunga mawar bercahaya yang memadukan unsur alam dan teknologi. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penciptaan busana pesta malam yang mengadaptasi karakter cahaya bioluminesensi melalui penggunaan lampu LED mini sebagai elemen dekoratif. Proses penciptaan dilakukan melalui tahapan eksplorasi, perancangan, perwujudan, dan validasi karya. Tahap eksplorasi difokuskan pada pengamatan karakter cahaya kunang-kunang dan bentuk bunga mawar, yang kemudian diterjemahkan ke dalam rancangan busana melalui pengolahan siluet, peplum, dan penempatan korsase. Tahap perwujudan meliputi pembuatan korsase berbentuk bunga mawar, integrasi lampu LED mini, serta penyelesaian akhir busana. Hasil penciptaan berupa busana pesta malam dengan korsase bercahaya yang menampilkan efek cahaya lembut menyerupai bioluminesensi kunang-kunang. Penciptaan ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi pencahayaan pada busana dapat memperkaya eksplorasi visual dan membuka kemungkinan pengembangan desain busana pesta malam berbasis konsep alam dan teknologi.
Eksplorasi Teknik Canadian Smocking Pada Evening Gown Dengan Tema Artsimplicity
Nazma, Mandhe Sekar Khoerunnisa, Nurindah
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.18769
Perkembangan desain busana kontemporer menunjukkan kecenderungan pada eksplorasi teknik dan material yang menekankan kesederhanaan visual serta kualitas pengerjaan tangan. Namun, penerapan teknik smocking dalam evening gown malam masih cenderung diposisikan sebagai elemen dekoratif berskala kecil dan belum banyak dieksplorasi sebagai pendekatan konstruktif utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan teknik Canadian Smocking sebagai elemen utama dalam desain evening gown bertema Artsimplicity, yang mengedepankan kesederhanaan bentuk, warna yang tenang, dan kualitas detail buatan tangan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan penciptaan karya berbasis desain yang meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan, dengan fokus pada eksperimen material dan aplikasi teknik smocking pada bagian bustier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik Canadian Smocking mampu membentuk tekstur tiga dimensi yang halus dan terstruktur serta menciptakan point of interest tanpa menghilangkan karakter sederhana dan elegan evening gown. Keberhasilan penerapan teknik ini sangat dipengaruhi oleh pemilihan material dan pendekatan desain yang mempertahankan siluet minimalis. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan lebih lanjut melalui penerapan Canadian Smocking pada variasi siluet busana, pengujian ketahanan struktur smocking, serta eksplorasi material yang lebih beragam untuk memperkaya kemungkinan visual dalam desain busana kontemporer.
Motif as a Sign of Power: Gender Stratification in the Batik Tradition of the Yogyakarta Palace
Huda Prasetya Utama;
Sylmina Cahaya Sukendar;
Nandini Ayu Sapitri
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.17986
Artikel ini mengeksplorasi batik keraton tidak hanya sebagai seni visual tetapi sebagai sistem simbolik yang mengatur dan mereproduksi struktur sosial Jawa. Berfokus pada motif larangan di Keraton Yogyakarta seperti Parang Barong, Parang Gendreh, dan Parang Klitik , penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang menggabungkan analisis semiotik, komunikasi personal, dan kritik budaya berorientasi gender. Temuan menunjukkan bahwa distribusi motif hierarkis berdasarkan skala dan intensitas visual berfungsi sebagai penanda status sosial sekaligus membentuk identitas gender. Motif besar dan tegas diperuntukkan bagi laki-laki bangsawan, sedangkan pola yang lebih kecil dan lebih halus dikenakan oleh perempuan, mencerminkan bahasa visual yang memandu perilaku, melegitimasi otoritas, dan memperkuat hierarki gender. Artikel ini berpendapat bahwa batik harus dibaca tidak hanya sebagai objek estetika tetapi sebagai media politik-budaya yang tertanam dalam hubungan kekuasaan. Artikel ini juga mengusulkan penelitian yang lebih luas tentang tradisi batik non-keraton, seperti sodagaran dan pesisiran, untuk memperluas narasi yang lebih inklusif. Penafsiran ini mengakui warisan budaya keraton dan menyoroti signifikansi historis wanita keraton dalam mempertahankan tradisi batik.
Pengembangan Teknik Pencelupan sebagai Decorative Surface 3D pada Busana Pesta
Aini Nurul Hidayah;
Feny Puspitasari
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.18674
Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji teknik pencelupan ikat celup berbasis object-bound resist sebagai decorative surface tiga dimensi pada gaun pesta dengan fokus pada tekstur yang menyerupai struktur organik terumbu karang. Pendekatan Practice-Led Research diterapkan melalui eksperimen pengembangan objek perintang, pengujian pada kain katun, tile, dan organdi, variasi diameter tali ikat, serta penerapannya pada desain gaun pesta yang dinilai secara estetis, fungsional, dan konstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi objek perintang dan diameter tali memengaruhi karakter tonjolan, ritme tekstur, dengan organdi sebagai material paling mampu mempertahankan volume dan bentuk timbul tanpa mengurangi kualitas visual kilau permukaannya. Penerapan decorative surface 3D organdi pada gaun pesta membuktikan bahwa tekstur dapat diaplikasikan secara strategis tanpa mengganggu kenyamanan maupun struktur pola, sekaligus menawarkan alternatif dekoratif yang unik dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam inovasi manipulasi tekstil fashion kontemporer.
Revitalisasi Batik Tuban: Eksplorasi Pewarnaan Sogan Sebagai Strategi Peningkatan Nilai Estetis
Sugeng Wardoyo;
Yonata Buyung Mahendra;
Aryo Anggorojati
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.20238
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pewarnaan sogan sebagai alternatif warna khas batik Tuban. Eksotika warna sogan pada sentra batik Tuban merupakan karakter yang unik selain warna wedel. Warna sogan ini dihasilkan dari pohon mengkudu yang spesifikasinya berasal dari bagian akar. Keterbatasan bahan baku akar mengkudu ini menjadi kendala dalam proses produksi skala besar. Upaya revitalisasi batik Tuban dengan berfokus pada peningkatan artistik melalui eksplorasi pewarna soga alami menjdi Solusi alternatif dalam menghadapi tantangan di pasar modern yang didominasi oleh pewarna sintetis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengutamakan pendekatan metode Practice-Based Research, dengan serangkaian proses kreatif termasuk eksperimen pencelupan, penyempurnaan motif, dan analisis dampak visual. Temuan ini mengungkapkan bahwa penerapan pewarna soga secara signifikan meningkatkan kedalaman, kekayaan, dan kompleksitas artistik batik, menciptakan gradien warna unik yang sulit ditiru dengan pewarna sintetis. Proses ini tidak hanya melestarikan pengetahuan tradisional tetapi juga menghasilkan produk batik dengan nilai estetika yang unggul, membuka peluan pasar yang menghargai keahlian dan keaslian. Studi ini menyimpulkan bahwa revitalisasi teknik pencelupan tradisional seperti soga adalah strategi yang tepat untuk pelestarian budaya berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi, dan memberikan alternatif warna estetis pada batik Tuban.
The Application of Moon Orchid Corsage as a Decorative Element in Evening Gown
Shofia Ahdia;
Mutiara Annandara
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.19447
This study is motivated by the need to develop three-dimensional ornaments in evening wear that not only emphasize aesthetics but also represent local cultural identity. Although Indonesian flora possesses strong visual potential, its application as a decorative source of inspiration in evening gown design remains relatively limited. Therefore, this research aims to create an evening gown inspired by the morphological characteristics of the Moon Orchid (Phalaenopsis amabilis) through the application of corsage techniques as three-dimensional decorative elements, as a form of three-dimensional interpretation of Indonesia’s national flower. The study employs a creative design methodology consisting of exploration, design development, and realization stages. The findings indicate that the petal structure of the Moon Orchid can be effectively transformed into layered corsages using satin and organza, resulting in a soft yet dramatic three-dimensional effect. The completed work successfully highlights feminine and elegant qualities while presenting the identity of local flora within the context of contemporary fashion design.
Raku as a Low-Fire Finishing Strategy for Galogandang Earthenware: An Experimental Study of Glaze Oxide Variation
Rahmat Hafiz Fauzi
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.19489
This pilot study investigates raku as a low-fire finishing strategy for Galogandang earthenware (balango) by examining how controlled oxide variation affects raku surface outcomes under a consistent firing and staged reduction protocol. A single low-fire base glaze was prepared and modified using a fixed total coloring-oxide addition of 2 wt%, while the CuO–Fe₂O₃ ratio was varied across five compositions (S1–S5). Test pieces were formed from Galogandang clay, bisque-fired, glaze-applied by spraying, then raku-fired to a peak temperature of 1000°C followed by a 30-minute staged reduction. Surface outcomes were documented photographically and evaluated using ordinal visual indicators for metallic lustre intensity, crackle visibility, glaze stability/continuity, and defect severity (pinholes/bubbles/blistering). Results show a clear trade-off between achieving strong metallic lustre and maintaining surface stability on a porous low-fire body. The copper-dominant composition produced the strongest metallic raku character with minor defects, while increasing iron content generally reduced lustre and increased defect expression, with severe breakdown at higher Fe₂O₃ ratios. The iron-dominant composition yielded a more stable smoked surface with minimal metallic character. These findings support raku as a feasible differentiation strategy for Galogandang/balango, provided oxide composition and process control are balanced to limit defects.
Pertemuan Dua Dimensi: Harmonisasi Kayu dan Serat Sintetis pada Kursi Teras Kontemporer
Ahmad Anang Choiril Munir;
Dwi Agus Susila;
DS Drajad Wibowo
Corak Vol 15, No 1 (2026): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Corak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/corak.v15i1.20142
Reka Bentuk ini mengeksplorasi integrasi material kayu dalam furnitur eksterior sebagai respons terhadap desain kursi teras konvensional yang sering kali memisahkan antara aspek estetika alami dan ketahanan material buatan. State of art dari Reka Bentuk ini terletak pada upaya menggabungkan dari struktur kayu solid dengan sifat fleksibel serat sintetis untuk menciptakan produk dengan kekuatan konstruksi yang optimal. Tantangan utama yang diangkat adalah bagaimana teknik mengkolaborasikan dua material dengan sifat mekanis yang kontradiktif ini dapat menghasilkan produk yang kokoh namun tetap menonjolkan estetika Contemporary Tropical. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan prototipe kursi teras yang mampu menyeimbangkan nilai estetika material alam dengan material polimer. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode perancangan berbasis eksperimen material dan pendekatan desain antropometri, yang meliputi tahap pengumpulan data, analisis teknis sambungan, hingga uji coba purwarupa. Hasil Reka Bentuk menunjukkan bahwa penggunaan sistem frame kayu dengan modul celah khusus untuk penguncian anyaman sintetis berhasil menciptakan konstruksi yang stabil dan meningkatkan rasa nyaman dan ergonomis. Kesimpulannya, harmonisasi ini tidak hanya menjawab persoalan durabilitas iklim tropis, tetapi juga menciptakan identitas visual yang modern bagi hunian urban. Sebagai rekomendasi, penelitian selanjutnya dapat difokuskan pada eksplorasi variasi pola anyaman yang lebih kompleks untuk menguji batas elastisitas serat sintetis terhadap beban statis pengguna dalam jangka waktu lama dan berkelanjutan