cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
Jaap Kunst Legacies: A Site of Forgetting, Remembering and History-Making Aryandari, Citra
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v23i3.7766

Abstract

ABSTRACT The study interrogate and reconfigure the project of disclosing the heritage of ethnomusicologist Jaap Kunst. Jaap Kunst recorded a lot of Indonesian music while living in Indonesia from 1919-1934. The teaching material and the development of ethnomusicology concepts as knowledge based on the sound record and his research experience. Now, after nearly 100 years, the Musicology Department of University van Amsterdam is initiating the opening of the Jaap Kunst legacy that has not yet been published. Because this heritage is related to Indonesia's cultural history and memory, University van Amsterdam collaborates with academics from Indonesia and trying to find support from the Indonesian government.   This study introduces philosophical approaches to reflection: critical, hermeneutic, and finally phenomenological. Reveal the dynamic relationship between Jaap Kunst legacies as a historical artifact and a site of forgetting, remembering, and history-making. How were the memory and identity stored in the Jaap Kunst materials reinterpreted in the postcolonial era? How is ethnomusicology addressing this matter related to shaping the colonial knowledge into the various subject positions? This paper is discussed with a retrospective approach in which individuals are sampled and information is collected about their past. Through interviews in some participants are asked to recall important events, or by identifying relevant administrative data to fill in information on past events and circumstances. With that method I assumed that tracking down Kunst's legacy was like taking a vacation at grandma's house, bringing back all the memories but not necessarily related to the present.  ABSTRAK Tulisan ini menginterogasi dan mengonfigurasi ulang proyek pembukaan warisan etnomusikolog yang Bernama Jaap Kunst. Jaap Kunst merekam banyak musik Indonesia selama tinggal di Indonesia dari tahun 1919-1934 dan menjadikan sebagai bahan ajar serta pengembangan konsep etnomusikologi sebagai ilmu pengetahuan berdasar rekaman suara dan pengalaman penelitiannya. Kini, setelah hampir 100 tahun, Departemen Musikologi Universitas Amsterdam memprakarsai pembukaan warisan Jaap Kunst yang belum sempat dipublikasikan. Warisan ini terkait dengan sejarah dan ingatan budaya Indonesia, Universitas Van Amsterdam bekerja sama dengan akademisi dari Indonesia dan berusaha mencari dukungan dari pemerintah Indonesia. Tulisan ini memperkenalkan pendekatan filosofis untuk refleksi: kritis, hermeneutik, serta fenomenologis. Mengungkapkan hubungan dinamis antara warisan Jaap Kunst sebagai artefak sejarah dan situs melupakan, mengingat, dan membuat sejarah. Bagaimana ingatan dan identitas yang tersimpan dalam materi Jaap Kunst diinterpretasikan ulang di era pascakolonial? Bagaimana etnomusikologi menyikapi hal ini terkait dengan pembentukan pengetahuan kolonial ke dalam berbagai posisi subjek? Pembahasan dalam tulisan ini menggunakan pendekatan retrospektif di mana individu diambil sampelnya dan dikumpulkan informasi tentang masa lalunya. Melalui wawancara beberapa partisipan diminta untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa penting, atau dengan mengidentifikasi data administrasi yang relevan untuk mengisi informasi tentang peristiwa dan keadaan masa lalu. Dengan cara itu dapat diasumsikan menelusuri peninggalan Kunst  seperti berlibur ke rumah nenek, membawa kembali semua kenangan tapi tidak harus terkait dengan masa kini.
Pengaruh Mendengarkan Musik Terhadap Kondisi Rilaksasi Djohan, Djohan; Tyasrinestu, Fortunata; Sualang, Lady Angela Exlesia
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v23i3.8337

Abstract

ABSTRACT The Impact of Listening to Music on Relaxation Condition. This study was conducted to identify the effectiveness of passively using instrumental music in stimulating subjects to reach relaxation. Music has been used for centuries in association with trance condition. Currently, the use has been developing, including in the realm of hypnosis or "brainwashing". The notion that music can affect listeners' self-control has become a well-known topic like the concepts of automatic responses and conditioned reflexes that form the basis of psychological models of musical stimulation. Relaxation as one of the achievements of hypnotherapy in which music has a role in the presence of 'physiological psychology' as a physical reflex phenomenon in response to sounds. The sound of gong – Indonesian traditional musical instrument – and tuning forks have been widely used to induce hypnotic trances to conditioned reflex – automatic responses to sounds that have physiological effects through the conscious mind. In the 1770s, Mesmer, a German doctor, combined the recovery process of his patients with the theory that the universe was deliberately manipulated used in health-related matters. The presence of hypnotism to gain relaxation was considered to be embodied from this treatment known as 'magnetic sleep'. The concept of magnetism was understood as a 'sympathetic vibration' which had something in common with music and it was believed that this condition can be communicated, transmitted and amplified through sounds. In subsequent developments, conventional musical instruments such as piano, violin, and harp were used which further strengthened the perspective of the previous theory. Nevertheless, hardly did the people use local traditional musical instruments or culture, such as gamelan. In this study the authors implemented experimental curation approach with one post-test design only for the same subject group. The authors picked sample consisting of adolescents with no hearing or health problems after being examined. The total sample of N = 10 were given passive musical intervention by listening through compositions of the sound sources and nuances Javanese gamelan nuances, then measurements were taken through self-report questionnaire and integrated group discussion. The results of the study indicate that attaining relaxed condition can reduce subjective stress through listening to music, thereby allowing a temporary reduction in somatic symptoms.ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi efektivitas penggunaan musik instrumental secara pasif dalam menstimuli subjek agar dapat mencapai kondisi rilaksasi. Musik telah berabad lamanya digunakan dalam asosiasinya dengan kondisi trans dan saat ini pemanfaatannya makin berkembang termasuk ke ranah hypnosis atau “cuci otak”. Gagasan bahwa musik dapat memengaruhi pengendalian diri pendengar telah menjadi tema yang makin dikenal seperti konsep respons otomatis dan refleks terkondisi yang menjadi dasar model psikologi ketika terjadi stimuli musik. Rilaksasi sebagai salah satu capaian hipnoterapi dan musik memiliki peran dengan hadirnya 'psikologi fisiologis' sebagai fenomena refleks fisik merespons suara. Mulai dari suara gong dan garpu tala banyak digunakan untuk menginduksi trans hipnosis hingga ke refleks terkondisi, respons otomatis terhadap suara yang berefek pada fisiologis melalui pikiran sadar. Pada 1770-an, Mesmer, seorang dokter kebangsaan Jerman telah menggabungkan penyembuhan pasiennya dengan teori alam semesta yang secara terencana dimanipulasi untuk digunakan dalam kaitannya dengan kesehatan. Kehadiran hipnotisme untuk mencapai rilaksasi juga dianggap lahir dari perlakuan tersebut yang dikenal dengan istilah ‘magnetic sleep’. Konsep magnetisme dipahami sebagai sebuah 'getaran simpatik' yang memiliki kesamaan dengan musik dan dipercaya kondisi tersebut dapat dikomunikasikan, disebarkan, serta diperkuat melalui suara. Pada perkembangan selanjutnya digunakan alat musik konvensional seperti piano, biola, dan harpa yang makin memperkuat pandangan teori sebelumnya. Namun demikian, hanya sebagian kecil yang menggunakan alat atau kultur musik tradisi setempat seperti, gamelan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kurasi eksperimen dengan rancangan one post-test design only pada kelompok subjek yang sama. Sampel dalam penelitian terdiri dari remaja yang telah dilakukan asesmen tanpa memiliki gangguan pendengaran atau kesehatan tertentu. Total sampel sebanyak N=10 diberi intervensi musik secara pasif dengan cara mendengarkan melalui komposisi berdasarkan sumber suara dan nuansa gamelan Jawa kemudian dilakukan pengukuran melalui kuesioner self-report serta diskusi kelompok terpadu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencapaian kondisi rileks dapat mengurangi stres subjektif melalui mendengarkan musik sehingga memungkinkan berkurangnya gejala somatik hingga beberapa saat.
Tembang Macapat Sebagai Metode Untuk Penanaman Dasar-Dasar Musikalitas Wahyudiono, Teguh; Mulyanto, Mulyanto; Supriyadi, Slamet
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v23i3.7412

Abstract

 ABSTRACT This research departs from a problem, namely that students of the Mangkunegaran Art Academy in Surakarta the II semester for the academic year 2021/2022 have difficulty understanding the musicality of the tembang macapat which includes titilaras and laya. Thus, this study aims to describe the learning process of the tembang macapat as an inculcation of the basics of student musicality in the students of the karawitan arts study program at the Mangkunegaran Art Academy in Surakarta. Researchers examine learning from the learning stages (pre, process, and post), learning components (objectives, materials, models, methods, media, and evaluation) and the basics of musicality including titilaras and laya. The research subjects are II semester students for the 2020/2021 academic year. The researcher chose a qualitative method in descriptive form by engaging directly with students and lecturers during the research process to obtain information and data about the learning process. The results of this study prove that there is an influence of the tembang macapat learning process on the cultivation of the basics of musicality in the form of theory and practice. This can be seen from the success of lecturers in instilling the basics of musicality to students as evidenced by 81.25% of students when presenting tembang macapat well in emphasizing titilaras and laya, due to various factors, namely basic conditions and student skills (eg the sound of sasap, blero, false "does not match the tone notation" and the beat of each tembang macapat is not the same), there are still 18.75% of students who have not been able to present the tembang macapat according to the predetermined titilaras and laya. According to the research findings, it can be said that lecturers have succeeded in carrying out their obligations as competent educators, apply learning tools well and are able to form creative, disciplined, independent, and motivated students.ABSTRAK Penelitian ini berangkat dari sebuah permasalahan yaitu mahasiswa Akademi Seni Mangkunegaran Surakarta pada semester II tahun ajaran 2020/2021 mengalami kesulitan dalam memahami tentang musikalitas tembang macapat yang diantaranya titilaras dan laya. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran tembang macapat sebagai penanaman dasar-dasar musikalitas mahasiswa di progam studi seni karawitan Akademi Seni Mangkunegaran Surakarta. Peneliti mengkaji pembelajaran dari tahapan pembelajaran (pra, proses, dan post), komponen pembelajaran (tujuan, materi, model, metode, media, dan evaluasi) dan dasar-dasar musikalitas diantaranya titilaras dan laya. Subjek penelitian adalah mahasiswa semester II tahun ajaran 2020/2021. Peneliti memilih metode kualitatif dalam bentuk deskriptif dengan melakukan keterlibatan langsung dengan mahasiswa dan dosen selama proses penelitian untuk mendapatkan informasi dan data tentang proses pembelajaran. Hasil penelitian ini membuktikan bawa adanya pengaruh proses pembelajaran tembang macapat terhadap penanaman dasar-dasar musikalitas dalam bentuk teori maupun praktik. Hal ini dapat dilihat dari keberhasilan dosen dalam menamkan dasar-dasar musikalitas kepada mahasiswa dengan dibuktikan 81,25% mahasiswa ketika menyajikan tembang macapat dengan baik dalam penekanan titilaras dan laya, karena berbagai faktor yaitu kondisi dasar dan keterampilan mahasiswa (misal suara sasap, blero, fals “tidak sesuai notasi nada” dan ketukan setiap tembang macapat tidak sama), masih ada 18,75% mahasiswa yang belum bisa menyajikan tembang macapat sesuai dengan titilaras dan laya yang sudah ditentukan. Menurut temuan penelitian sehingga bisa dikatakan yakni dosen telah berhasil melaksanakan kewajibannya sebagai tenaga pendidik yang berkompeten, menerapkan perangkat pembelajaran dengan baik dan mampu membentuk mahasiswa yang kreatif, dispilin, mandiri, dan memiliki motivasi. 
Konsep Kempel dalam Keprakan dan Dhodhogan pada Pergelaran Wayang Golek Menak Gaya Yogyakarta Sukistono, Dewanto
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v23i3.7154

Abstract

ABSTRACT The Concept of Kempel in Keprakan and Dhodhogan in Yogyakarta-style Menak Wooden Puppet Show. KKeprakan and dhodhogan are two of the accompaniments in Menak wooden puppet show in Yogyakarta. The term keprakan is derived from the essential word ‘keprak’ which refers to the principle of form, material, variety, and technique of creating sounds from the iron plates pounded by using cempala made from iron or wood. The term dhodhogan is taken from the root ‘dhog’ which refers to the sound produced by iron or wood that is pounded on kothak. The term kempel has meaning as ‘whole’ and ‘blend into one’. Further, in the context of keprakan, its meanings is that the sound created is harmonically integrated with the movement of the puppet and the motif of kendhangan. This study aims to disclose the pattern of keprakan and dhodhogan to produce a sense of kempel in supporting the aesthetic expression of puppet characters and the scenes’ ambiences. The author collected the data through direct participation, in-depth interviews, and observations of recordings of Menak puppet show in which Sukarno as the puppeteer. The data analysis was conducted to draw a conclusion as a result of an investigation of the relationship among the pattern of both keprakan and dhodhogan; the movement diversity of puppet characters; and the motif of kendhangan. According to the results, it can be stated that the design of keprakan and dhodhogan in Menak wooden puppet show in Yogyakarta consists of two styles – the one is free style and the other is bound style. The sense of kempel lies in the accuracy of keprakan and dhodhogan diverse sound combinations in relation to the movement varieties of puppet figures incorporated with the motif of kendhangan.ABSTRAK Keprakan dan dhodhogan adalah salah satu bagian dari iringan pergelaran wayang golek Menak gaya Yogyakarta. Istilah keprakan dari kata dasar keprak menunjuk pada persoalan bentuk, bahan, ragam, serta teknik menghasilkan bunyi dari lempengan besi yang dipukul menggunakan cempala berbahan besi maupun kayu. Istilah dhodhogan diambil dari kata dasar dhog yang menunjuk pada bunyi yang dihasilkan cempala besi atau kayu yang dipukul pada kothak. Kosa kata kempel mempunyai makna utuh dan melebur menjadi satu, dalam konteks keprakan maknanya bahwa bunyi yang dihasilkan menyatu dengan gerak wayang dan motif kendhangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pola keprakan dan dhodhogan untuk menghasilkan rasa kempel dalam mendukung ekspresi estetis tokoh wayang maupun suasana adegan. Data diperoleh melalui partisipasi terlibat, wawancara mendalam, serta pengamatan terhadap rekaman pergelaran wayang golek Menak dengan dalang Ki Sukarno. Analisis dilakukan untuk mendapatkan simpulan berdasarkan telaah terhadap relasi antara pola keprakan dan dhodhogan dengan ragam gerak tokoh wayang serta motif atau pola kendhangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa pola keprakan dan dhodhogan dalam pergelaran wayang golek Menak gaya Yogyakarta terdiri dari dua ragam, yaitu ragam bebas dan ragam berpola. Rasa kempel terletak pada ketepatan dalam memadukan ragam bunyi keprakan dan dhodhogan sesuai dengan ragam gerak tokoh wayang yang menyatu dengan motif kendhangan.
PRIYANGGA: Sebuah Komposisi Karawitan dalam Perspektif Personal Atmojo, R. Bambang Sri; Marsudi, Marsudi; Jatilinuar, Setya Rahdiyatmi Kurnia
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v23i3.6405

Abstract

ABSTRACT Priyangga composition is a karawitan composition that has a specific concept of presentation which is individual presentation. A karawitan composition performance normally has a lot of supportive elements because of affected by the collective character of traditional music. Inspired by the case, the writer has an idea to create a Priyangga composition then embody it into a musical artwork. A performer will individually or simultaneously play and present all of the available musical ricikan including himself/herself as the singer. The place arrangement of the ricikan is based on function and purpose so that the performer can easily move around. The arrangement procedure to create Priyangga composition is through two steps which are (1) preparation and implementation to rehearse and improve in order to find a new musical and vocal arrangement in the karawitan sphere; (2) to create karawitan composition with the number of ricikan which will be utilized by the performer with high value musicality. ABSTRAK Komposisi Priyangga merupakan komposisi karawitan yang mempunyai spesifikasi konsep penyajian dengan penyajian oleh seorang diri. Pergelaran komposisi pada umumnya banyak melibatkan pendukung, hal tersebut dipengaruhi dari musik tradisonal yang bersifat kolektif. Berangkat dari hal tersebut maka, penulis tergugah untuk membuat komposisi Priyangga dalam bentuk perancangan karya seni. Pemain menyajikan semua ricikan yang ada, baik secara bersamaan untuk beberapa ricikan maupun satu ricikan dan sekaligus sebagai vokalis. Penataan ricikan ditata sesuai dengan fungsi dan peranannya agar pemain dapat leluasa berpindah tempat. Metode penelitian dalam menciptakan komposisi Priyangga melalui dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Hasil karya menunjukkan bahwa berolah instrumen serta vokal dalam rangka mencari garapan baru dalam dunia karawitan serta menciptakan komposisi karawitan dengan menggunakan beberapa maupun banyak ricikan yang disajikan oleh seorang pemain yang terdapat rasa musikalitas dan nilai garap.
Membaca Praktik Musik Mamanda Kutai Lewat Ekosistem Musikal Vivian, Yofi Irvan; Putra, Bayu Arsiadhi; Kuncara, Singgih Daru; Max, Jonathan Irene Sartika Dewi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v23i3.7408

Abstract

ABSTRACT Mamanda Kutai (Ladon) music is a crucial aspect of Mamanda Kutai's performance. This is because, without the music, Mamanda Kutai is just an ordinary drama. Mamanda is a show originating from South Kalimantan. Mamanda arrived in East Kalimantan because Kutai was one of the areas controlled by the Banjarmasin Sultanate. The heyday of Mamanda Kutai occurred when this art was performed regularly by Kutainese society (not only in the Kutai Kartanegara Ing Maradipura Sultanate as the Karesmenan Aji). In its heyday, every village in Kutai Kartanegara had Mamanda Kutai group. Nowadays, there is only one group left, namely Mamanda Panji Berseri. This study aims to find out how to preserve Mamanda Kutai music by the Mamanda performer and the government. This study used a descriptive analysis method by collecting several sources of text and interview. The sustainability of Mamanda Kutai has degenerated in terms of the existing group’s quantity. This is due to the lack of preservation of the Mamanda Kutai musical ecosystem. Some of the challenges faced by Mamanda Kutai are (1) the lack of teachers with cultural literacy; (2) the lack of economic welfare of the Kutai Mamanda performer; (3) the absence of the documentation of this art; and (4) the lack of broadcasting of Mamanda Kutai's performances. ABSTRAK Musik Mamanda Kutai (Ladon) menjadi aspek yang sangat penting pada pertunjukan Mamanda Kutai. Hal ini dikarenakan, tidak adanya Musik Mamanda Kutai maka pertunjukan ini hanya sebagai drama biasa. Mamanda merupakan pertunjukan yang berasal dari Kalimantan Selatan. Mamanda sampai di Kalimantan Timur dikarenakan Kutai menjadi salah satu daerah yang dikuasai Kesultanan Banjarmasin. Masa kejayaan Mamanda Kutai pada saat kesenian ini dipertunjukan di masyarakat (tidak hanya di Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Maradipura sebagai Keresmenan Aji). Pada masa kejayaannya, setiap desa di Kutai Kartanegara memiliki kelompok Mamanda Kutai. Pada saat ini hanya tersisa satu kelompok saja, yaitu Mamanda Panji Berseri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara preservasi musik Mamanda Kutai oleh pelaku dan pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan mengumpulkan beberapa sumber literasi dan data wawancara. Keberlanjutan Mamanda Kutai mengalami kemunduran dilihat dari kuantitas kelompok yang ada. Hal ini disebabkan oleh kurangnya preservasi ekosistem musikal dari Mamanda Kutai. Beberapa tantangan yang dihadapi Mamanda Kutai yaitu (1) kurangnya guru pembawa kebudayaan; (2) kurangnya kesejahteraan ekonomi para pelaku Mamanda Kutai; (3) tidak adanya pengarsipan dari kesenian ini; dan (4) kurangnya penyiaran pertunjukan Mamanda Kutai. 
Ungkapan Estetika Karawitan Jawa pada Reproduksi Rekaman Gamelan Ageng Surakarta Santoso, Iwan Budi; Sunarto, Bambang; Santosa, Santosa; Mistortoify, Zulkarnaen
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.8885

Abstract

ABSTRACTThe Expression of Javanese Karawitan Aesthetics in the Reproduction of Gamelan Ageng Surakarta Recordings. Sound recordings have the purpose of transferring musical offerings to the storage media. The aesthetics and sound meanings contained in musical performances of course become a mandatory when sound is recorded. The concept of Javanese karawitan recordings certainly takes into consideration of the aesthetic value of the presentation and will not leave the principles as well as the sound meanings behind. Recorded musical performances of musical instruments must present an ideal sound according to the cultural convention. Recording documents in the form of audios are felt to be highly essential in karawitan concert area because they are way of storing events. As a result, musical concerts which are already in the form of audio media have more value compared to concerts being integrated with particular event. The authors found that karawitan concert carried out by using recorded audio are more practical, economic, efficient and encourage preservation value. Practical value arises because musical concerts that are already in the form of record media can be carried anywhere. Furthermore, this also lead to improve economic value since documentation can be a product of a commodity process if properly utilized. The value is efficient as the sounds are in the form of media, musical concert records can be employed without having to use devices and human resources as in the event.ABSTRAKProduk rekaman suara mempunyai tujuan memindahkan sajian musikal ke dalam media penyimpan. Estetika dan makna bunyi yang terkandung dalam sajian musik karawitan Jawa tentunya menjadi hal wajib ketika direkam. Kemasan produk rekaman karawitan Jawa pastinya mempertimbangkan nilai estetika sajian, serta tidak akan meninggalkan norma dan makna bunyi dalam sajiannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan ini mengharuskan peneliti melakukan tafsir tentang makna yang ada dibalik data, tujuan-nya untuk membantu memahami kehidupan sosial. Dokumen rekaman sajian musik karawitan wajib menghadirkan suara yang ideal sesuai konvensi budayanya. Dokumen perekaman dalam bentuk media audio dirasakan penting dalam wilayah konser karawitan karena menjadi cara penyimpanan akan peristiwanya, sehingga konser karawitan yang sudah dalam bentuk media audio lebih banyak memiliki nilai lebih dibandingkan dengan konser dalam konteks peristiwanya. Kelebihan media audio konser karawitan lebih memiliki nilai praktis, ekonomis, efisien dan pengawetan. Nilai praktis muncul karena konser karawitan yang sudah dalam bentuk media rekam bisa dibawa ke mana-mana. Nilai ekonomis karena dokumentasi bisa menjadi produk yang bisa bernilai ekonomi jika diberdayakaan sebagai barang komuditas. Nilai efisien karena dalam bentuk media rekam konser karawitan bisa dimanfaatkan tanpa harus menggunakan perangkat dan sumber daya manusia sebagaimana dalam peristiwanya.
Gayutan Rondo Alla Turca Karya WA. Mozart sebagai Iringan dalam Film Amadeus Panggabean, Ance Juliet; Simangunsong, Emmi; Batubara, Junita
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.7865

Abstract

ABSTRACTThe Use of WA Mozart's Gayutan Rondo Alla Turca in the Film Amadeus. This study describes the interconnection of Rondo music as an accompaniment in Amadeus film to the melodic structure of scene footage produced by HD Film Tributes and explains the form of Rondo which consists of six parts involving displayed scene expressions. The authors implemented qualitative approach with descriptive method in which the authors conducted literature review as well as observation through musical scores and YouTube channel to attain thorough results of field studies and documentation. Furthermore, the authors also conducted an analysis that began with the description of the film structure of the Rondo Alla Turca musical composition. The analysis was carried out by observing each scene footage of used melodic structure to form feelings and aesthetics in the film. The results of the study reveal that the melodic structure used in each scene creates feelings and aesthetics in Amadeus film since musical accompaniment plays an essential role in conveying the story of the film. In addition, the role of musical accompaniment is inherently employed to highlight the tones in Rondo Alla Turca music and visuals have the ability to provide a deeper and more complex interpretation of emotional content in every scene of Amadeus.ABSTRAKKajian ini mendiskripsikan gayutan atau hubungan musik Rondo sebagai iringan dalam film Amadeus terhadap struktur melodi dengan cuplikan adegan yang diproduksi oleh HD Film Tributes dan bentuk Rondo yang terdiri dari enam bagian dengan ekspresi adegan yang ditampilkan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif dimana peneliti melakukan telaah pustaka, melakukan observasi melalui skor musik, channel youtube untuk mendapat hasil kajian lapangan yang optimal dan dokumentasi. Selain itu peneliti juga melakukan analisis yang dimulai dengan penjabaran struktur film terhadap komposisi musik Rondo Alla Turca. Analisis dilakukan dengan pengamatan antara setiap cuplikan adegan terhadap struktur melodi yang digunakan untuk membetuk perasaan dan estetika dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur melodi yang digunakan dalam setiap cuplikan adegan membentuk perasaan dan estetika dalam film Amadeus, iringan musik memegang peranan penting dalam mengusung cerita film Amadeus, peran iringan musik secara inheren digunakan untuk menyoroti nada-nada dalam musik Rondo Alla Turca dan visual memiliki kemampuan untuk memberikan makna interpretasi konten emosional yang lebih dalam dan kompleks dalam setiap adegan fim Amadeus.
The Logic of Sensation and Fantasy as a Step of Art Creation Through Practice-Based Research Budiawan, Hery
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.8757

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study is to identify a stage of art creation, especially composition, where the sensations and fantasies of a composer can be understood in detail based on logic of sensation (Deleuze) and fantasy (Freud). Every work of art produced is not just a sensation or a fantasy of the artist put into the work. However, that process has its logic. Sensations and fantasies in the creation of art work are highly essential and may continue to occur until the artwork is produced. In this study the author implemented practice-based research where experience and work become the basis of a study with various approaches: literature study, content analysis, musicology, philosophy, experimental, and several things that corroborate practice-based research. The result of this study is a method of art creation with several stages that need to be done, even already done by a creator; aesthetic experience, body rhythm, chaos, fantasy, and force. These five stages are at least an interesting reference in the process of artwork and reveal that our logic of sensations and fantasies can work properly. The implications of these results can be used in any area of the art, so that the creator is aware of the working steps of the perceived sensations. This study can be applied in the process of creating and can be discussed in the process of work creation. As a result, it can be used as a reference by art creators.ABSTRAKLogika Sensasi dan Fantasi sebagai Langkah dalam Kreasi Seni melalui Practice-Based Research. Tujuan penelitian ini menemukan sebuah tahapan penciptaan karya seni khusnya komposisi dimana sensasi dan fantasi seorang komposer dapat dipahami proses kerjannya secara detail dengan logika sensasi (Deleuze) dan fantasi (Freud). Setiap karya seni yang lahir bukan sekedar sebuah sensasi maupun fantasi seniman yang dituangkan ke dalam karya. Namun proses itu mempunyai logikanya sendiri. Sensasi dan fantasi dalam penciptaan karya seni sangat perlu dan mungkin terus terjadi sampai karya seni itu lahir. Penelitian ini menggunakan pratice-based research dimana pengalaman, karya menjadi dasar sebuah penelitian dengan berbagai macam pendekatan: studi pustaka, analisis isi, filsafat, eksperimental dan beberapa hal yang menguatkan practice-based research. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah metode penciptaan seni dengan beberapa tahapan yang perlu dilakukan bahkan sudah dilakukan seorang pencipta; pengalaman estetis, ritme tubuh, chaos, fantasi dan force. Kelima tahapan ini setidaknya menjadi sebuah acuan yang menarik dalam proses karya seni dan bagaimana logika sensasi dan fantasi kita dapat bekerja dengan baik. Implikasi dari hasil ini dapat digunakan wilayah apapun di seni sehingga pencipta sadar akan langkah kerja sensasi yang dirasakan. Penelitian ini bisa diterapkan dalam proses berkarya dan dapat didiskusikan pada tahapan penciptaan dari hasil penelitian ini agar dapat menjadi rujukan oleh para pencipta seni.
Pengaruh Nyanyian Buku Ende terhadap Kualitas Bernyanyi Jemaat Gereja HKBP Yogyakarta Sitinjak, Linda
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.8054

Abstract

ABSTRACTThe Influence of the Buku Ende Hymn on the Quality of Singing Among the Congregation of the HKBP Church in Yogyakarta. This paper talks about Ende book, a collection of worship songs for the HKBP congregation composed by European composers in the 16th and 17th centuries. Conveyed by missionaries to Batak land, these songs were later translated into Toba Batak language and some were composed to suit the rhythms of Batak indigenous music. In singing the songs, HKBP Yogyakarta congregation sing the original notation (not transfused lower) that frequently consists of high notes, causing the congregation having low vocal range to sing the song in one octave below the basic tone. The objective of the study is to examine how immense Ende Book influences the vocal quality of HKBP Yogyakarta congregation. The author implemented descriptive qualitative method by adapting the theory of 'The Power of Habit' by Charles Duhigg. Data collection techniques used by the author were observation, interview, and documentation. The results of this study reveal that habit plays a major role in the routines to achieve a satisfactory quality of singing. When singing Ende book, HKBP Yogyakarta congregation have unconsciously acquainted several elements of vocal techniques. The vocal techniques in particular are breathing, resonance, voice range, and interpretation, in which a significant impact on the quality of the singing voices of HKBP Yogyakarta congregation retain. By implementing the original range and sentence structure (phrasing) in Ende book, the learning process taken place e every Sunday worshipping has unconsciously imporoved the singing quality of HKBP Yogyakarta congregation.ABSTRAKBuku Ende merupakan buku yang berisi nyanyian ibadah bagi jemaat HKBP yang sebagian besar diciptakan oleh komponis Eropa pada abad ke-16 dan ke-17 Masehi. Nyanyian ini dibawa oleh para misionaris ke tanah Batak lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Batak Toba dan ada juga yang digubah untuk disesuaikan dengan irama musik Batak. Menyanyikan nyanyian buku Ende ini jemaat HKBP Yogyakarta bernyanyi dengan tangga nada aslinya (tidak ditransfus lebih rendah) sehingga ketika menyanyikan nada-nada tinggi, bagi jemaat yang mempunyai ambitus suara yang rendah sering menyanyikannya dengan nada satu oktaf dibawah nada dasar. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat sejauh mana pengaruh nyanyian pada Buku Ende ini terhadap kualitas bernyanyi jemaat HKBP Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan memakai teori ‘The Power of Habit’ dari Charles Duhigg. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kebiasaan menjadi salah satu rutinitas untuk mencapai kualitas bernyanyi yang memuaskan. Dalam menyanyikan buku Ende ini terdapat banyak unsur-unsur teknik vokal yang tanpa disadari telah memberikan pembelajaran vokal, khususnya kepada jemaat HKBP Yogyakarta. Teknik vokal yang dimaksud, antara lain: pernapasan, resonansi, ambitus suara, dan interpretasi, berdampak besar bagi kualitas suara bernyanyi jemaat HKBP Yogyakarta. Dengan nyanyikan tangga nada asli pada buku Ende dan kebiasaan menerapkan teknik vokal yang baik dan benar, tanpa disadari proses pembelajaran berlangsung setiap Minggu. Hal ini yang menyebabkan suara jemaat gereja HKBP Yogyakarta semakin berkualitas baik.

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue