cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
Akhir Zaman: Representasi Fenomena Alam dan Sosial melalui Komposisi Kacapi Yulaeliah, Ela
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.8028

Abstract

ABSTRACTThe End of Time: Representations of Natural and Social Phenomena through Kacapi Kawih Composition. The objective of this study is to analyze the results of a composition entitled End Times as a representation of natural and social phenomena. The method proposed by Alma W. Hawkins used in the process of creating this work include exploration, improvisation, and formation. The work entitled End Times is inspired by various natural and social phenomena that occur in society, such as volcanic eruption, flood, tsunami, and even covid-19 that boomed recently. Furthermore, the social order of society is increasingly uncertain due to war, assassination, and even oppression by the powerful over the weak. These are signs or characteristics of the end of time related to the involvement of mankind in nature. These various phenomena are the source of creativity and inspire the author to create a fresh work in the composition of the Sundanese kacapi kawih entitled "The End of Time". This composition attempts to construct an atmosphere of silence, emotion, comfort as well as anxiety through the Sundanese musical concepts and elements (rhythmic, melodic, ornamentation, dynamics, and other musical interweaving). In this study, the author used kacapi instruments, flutes, and song lyrics in which the song lyrics were carried through vocals. Since the lyrics are means of conveying moral messages to the public, they are considered as the prominent priority in this composition. The result indicates that the composition work entitled "The End of Time" has succeeded in conveying moral messages about the characteristics of the world’s end of time (apocalypse) to the public through the various phenomena reflected in performances and publications in online media. This art work is a wholesome reminder of moral values that have been eroded recently and encourages people to realize the true purpose of life.ABSTRAKTujuan penulisan ini untuk menganalisis hasil komposisi berjudul Akhir Zaman sebagai representasi dari fenomena alam dan sosial. Metode Alma W. Hawkins digunakan dalam proses penciptaan karya ini meliputi eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Karya berjudul Akhir Zaman terinspirasi oleh berbagai fenomena alam dan sosial yang terjadi di masyarakat dunia. Dunia sudah dianggap tua dan rapuh, sehingga sering terjadi bencana di mana-mana, seperti gunung meletus, banjir, sunami, bahkan covid-19 yang terjadi bau-baru ini. Begitu pula tatanan sosial masyarakat dunia semakin tidak menentu dengan terjadi perang di mana-mana, pembunuhan, bahkan penindasan oleh orang yang berkuasa terhadap orang yang lemah. Inilah sebagai tanda atau ciri-ciri akhir zaman yang penuh gejolak dengan keterlibatan umat manusia beserta alam lingkungannya. Berbagai fenomena tersebut menjadi inspirasi pengkarya untuk membuat karya baru serta dijadikan sumber ide penciptaan dalam komposisi kacapi kawih Sunda berjudul “Akhir Zaman”. Komposisi ini mencoba membangun suasana hening, haru, hidmat namun was-was yang dibangun melalui konsep musikal Sunda dan unsur-unsurnya (ritmis, melodi, ornamentasi, dinamika, serta jalinan musikal lainnya) dengan instrumen kacapi, suling, dan lirik lagu. Lirik lagu melalui vokal bertujuan agar pesan moral dapat tersampaikan ke publik. Kekuatan lirik lagu merupakan prioritas utama dalam komposisi ini untuk menyampaikan pesan pengkarya. Hasil kesimpulan menunjukkan bahwa karya komposisi berjudul Akhir Zaman telah berhasil menyampaikan pesan moral tentang ciri-ciri akhir zaman (kiamat) kepada publik dengan berbagai fenomenanya yang disampaikan melalui pertunjukan serta publikasi di media online. Hasil karya ini bermanfaat bagi pengingat nilai-nilai moralitas yang sudah tergerus akhir-akhir ini untuk lebih menyadarkan tujuan hidup yang sebenarnya.
“Jroning Salah”, Realitas Sosial Politik: Sebuah Proses Kreatif Karawitan yang berpijak pada Salah Gumun Subowo, Yohanes; Wahyudi, Aris
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.8330

Abstract

ABSTRACT“Jroning Salah”, A Socio-Political Reality: A Karawitan Creative Process based on Salah Gumun. “Jroning Salah” is a karawitan work that tells a social phenomenon based on one of Gender Barung, Indonesian traditional musical instrument, whose patterns called “salah gumun” become the basis of this artwork. This work is a new genre in karawitan projecting three “wrong” phenomena in Javanese: “Salah Gumun”, “Salah Kaprah”, and “Salah Kedadèn”. Therefore, the work is entitled “Jroning Salah”. The authors used acoustic approach whose point of view emphasizes combining two or more tones to express all ideas into karawitan compositions. The presence of dance in this karawitan composition is not a collaboration, but a strengthening of the presentation. Its function is to give tone pressure on certain instruments. Furthermore, the authors also implemented experimental method to avoid regulatory absoluteness for the sake of imagination development— an exploration process to find particular voices as alternatives that are relatively capable of representing ideas. Following the phenomenon of “wrong” as the source of the idea for this work, “Jroning Salah” was constructed in three repertoires entitled “Salah Gumun”, “Salah Kaprah”, and “Salah Kedadèn”. The presentation process was conducted sequentially and continuously, each of which was an expression of a situation in each story line.ABSTRAK“Jroning salah” adalah karya karawitan yang menceritakan salah satu fenomena sosial yang didasarkan pada salah satu pola tabuhan gender, yaitu “salah gumun”. Karya ini merupakan genre baru dalam karawitan untuk mempresentasikan tiga fenomena “salah”, yaitu salah kaprah, salah gumun, dan salah kedaden. Oleh karena itu, karya ini diberi judul “Jroning Salah”. Sudut pandang pendekatan akustik yang menekankan pada perpaduan dua nada atau lebih untuk mengungkapkan semua gagasan ke dalam komposisi karawitan. Kehadiran tarian dalam komposisi karawitan ini bukan sebagai kolaborasi, melainkan hanya sebagai penguatan presentasi. Fungsinya untuk memberi tekanan nada pada instrumen tertentu. Metode eksperimen digunakan untuk menghindari kemutlakan regulasi agar mampu mengembangkan imajinasi. Eksplorasi untuk menemukan suara tertentu sebagai suara alternatif yang relatif mampu merepresentasikan ide. Sesuai dengan fenomena salah sebagai sumber ide karya ini, maka “Jroning Salah” ini dibangun menjadi tiga repertoar, yaitu “Salah Gumun”, “Salah Kaprah”, dan “Salah Kedadèn”. Proses penyajiannya dibuat secara berurutan dan berkesinambungan, yang masing-masing merupakan ekspresi situasi fase cerita.
Conservation and Development Model of Mamaca in Pamekasan Madura Dana, I Wayan; Prasetya, St. Hanggar Budi; Anggraeni, Agustin
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.8200

Abstract

ABSTRACTMamaca traditional performing art is an essential intangible asset for the people of Madura and Indonesia. Mamaca in Madurese language means reading. Contextually, it means reading verses from particular texts. Its diversity and uniqueness are not only known by Indonesian, but also worldwide people. Its paramount role in the life of Mamaca-supporting community is undeniable as the songs and notations generated while performing is not only functioned as performing, but also efforts to establish Madurese moral values. Unfortunately, the local people, especially younger generation currently have started to abandon this traditional art. It leads to a worrisome position of Mamaca existing in Pamekasan Regency, Madura Island. Considering that this traditional performing art emphasizes the nobility of values and norms in its form and implementation and its capability of strengthening the Indonesian character and the harmony of social life, Mamaca is urgently required to be preserved and developed in accordance to the fervor of nowadays era. The performers take turns reading and singing the verses containing some epics of Mahabharata, Ramayana, stories of Islamic Prophets, and values of benevolence regarding wisdom teachings. This research is a model for the conservation and development of noble cultural values that involves active supporting elements of Mamaca, relevant government, academics, industries or sponsors, and the role of the media.ABSTRAKModel Konservasi dan Pengembangan Mamaca di Pamekasan Madura. Seni pertunjukan tradisi Mamaca merupakan aset non bendawi yang penting bagi masyarakat di Madura dan bangsa Indonesia. Mamaca dalam bahasa Madura berarti membaca. Dalam penelitian ini, Mamaca yang dimaksud adalah tradisi membaca syair-syair dari naskah tertentu. Keanekaragaman dan keunikannya tidak hanya dikenal oleh bangsa Indonesia sendiri, tetapi juga sudah secara luas. Peran pentingnya Mamaca di dalam kehidupan masyarakat penyelenggaranya tidak dapat terbantahkan karena lagu-lagu yang dilantunkan serta notasi yang dimainkan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, namun sebuah upaya untuk menanamkan nilai moral. Sayangnya, Mamaca kini mulai ditinggalkan, terutama oleh generasi muda setempat. Oleh karena itu, seni Mamaca yang hidup di wilayah Kabupaten Pamekasan Pulau Madura dipandang penting dilestarikan dan dikembangkan sesuai zamannya. Mengingat bahwa seni pertunjukan tradisi yang berdasarkan pada pemanfaatan musik internal ini mengutamakan keluhuran nilai dan norma di dalam wujud dan penyelenggaraannya, Mamaca dipandang mampu menguatkan karakter bangsa dan harmoni kehidupan sosial. Para pelakunya secara bergantian membaca dan melagukan syair-syair yang memuat sebagian wiracarita Mahabharata, Ramayana, dan kisah para Nabi dalam agama Islam serta menyampaikan norma dan nilai kebaikan mengenai ajaran kebijaksanaan. Kajian ini merupakan model pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya adiluhur yang melibatkan unsur penyangga aktif Mamaca, pemerintah terkait, akademisi, pihak industri atau sponsor, dan peran media.
Apropriasi Seni Musik Gugah Sahur: Studi Kasus Tongklek Tuban dan Tong-Tong Madura Fitriasari, Paramitha Dyah; Hamsyah, M. Ismail; Danugroho, Agus
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.8410

Abstract

ABSTRACTThe Appropriation of Gugah Sahur Musical Art: A Case Study of Tongklek Tuban and Tong-Tong Madura. This study aims to identify the interrelation between Tongklek Tuban and Tong-tong Madura. Tongklek Tuban, which is a typical music art of Tuban, evolves from the Patrol art in the form of music created originally in Tuban Regency. Interestingly, at first glance, Tongklek Tuban seems to have similarities to Tong-tong art that develops in Madura. To examine both art work thoroughly in this study, the authors implemented qualitative approach, employing both the literature review and documentation techniques. The results of the study reveal that Tongklek Tuban has undergone various changes in its visual form in terms of costumes, equipment, and decorations. It takes both tangible and intangible property from Tong-tong Madura. Moreover, Tonglek Tuban is experiencing another development in terms of creativity reflected to the wheelbarrow used to push the iron xylophone. Over time, the wheelbarrow has undergone a very extraordinary change in shape. At this time, Tongklek Tuban music groups are competing to form their wheelbarrows which actually look like Madurese Tong-tong music. According to the results of the study, positively, appropriation between artworks can be interpreted both positively or negatively. On one hand, an adapted culture can develop through innovation, so that the culture can remain sustainable. On the other hand, negatively, the feelings of disapproval from the owners of the original culture could emerge since they feel that their culture is carried out as an addition to the artistic elements of the appropriating subject.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana apropriasi dalam kesenian antara Tongklek Tuban dan Tong-Tong Madura. Kesenian yang diambil dalam penelitian ini adalah Tongklek Tuban dan Tong-Tong Madura. Kesenian Tongklek Tuban yang muncul berawal dari kesenian Patrol merupakan kesenian yang berkembang di Kabupaten Tuban. Sekilas Tongklek Tuban jika dilihat ada kesamaan dengan kesenian Tong-Tong yang berkembang di Madura. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode studi pustaka dan menggunakan teknik dokumen. Hasil penelitian menemukan bahwa Tongklek Tuban yang merupakan kesenian musik khas Tuban mengalami berbagai macam fase perubahan secara visual mulai dari kostum, peralatan yang digunakan, hingga dekorasi. Tongklek Tuban mengapropriasi secara tangible dan intangible dari Tong-tong Madura. Tongklek mengalami perkembangan lagi secara kreativitas yakni terkait gerobak dorong yang biasanya digunakan untuk mendorong gambang besi. Seiring berjalannya waktu gerobak dorong mengalami perubahan bentuk yang sangat luar biasa. Kini para grup musik Tongklek Tuban berlomba-lomba membentuk gerobak dorong mereka yang jika dilihat malah menyerupai musik Tong-tong Madura. Apropriasi dapat dimaknai secara positif maupun negatif. Secara positif, budaya yang di apropriasi mengalami perkembangan dengan inovasi sehingga budaya tersebut dapat tetap lestari. Sisi negatifnya adalah timbulnya rasa tidak terima dari pemilik budaya asal karena merasa budayanya diambil untuk digunakan sebagai penambah unsur seni subjek pelaku apropriasi.
Komposisi Musik Alam Menyapa sebagai Media Terapi Pasien Narkoba di Yayasan Mutiara Abadi Binjai (MAB) Sumatera Utara Galingging, Kamaluddin; Batubara, Junita; Marbun, Tulus; Marbun, Juliaster
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.7864

Abstract

The objective of this research is to provide an alternative treatment for people affected by drugs at Mutiara Abadi Binjai Foundation (MAB). Currently, music therapy has been promoted as one of the treatments for various patient conditions. This treatment can be conducted through auditory system in which the audio is then connected to the nerves of the brain. These nerves have relationship with the emotional behavior system. The composition of the instrumental music of Alam Menyapa was used by the author as a therapeutic media for drug patients at Mutiara Abadi Binjai Foundation. The choice of the composition of the instrumental music of Alam Menyapa was based on the strains of the music which are more calming since it combines natural sounds and musical instruments in the form of digital music. The author applied mixed method or both qualitative and quantitative. In this research, the author implemented passive music therapy as it is an easy and highly effective therapy. The patients were instructed to sit down, then listened to the instrumental music through BmT (Music Box Therapy). The results of this research show that patients who take part in music therapy of Alam Menyapa feel they can decrease their stress levels while staying in rehabilitation at Mutiara Abadi Binjai Foundation (MAB). Moreover, they are also able to increase their self-esteem to return for living in society when they release.Terapi musik adalah sebagai salah satu alternatif sistem pengobatan bagi orang-orang yang terdampak narkoba di Yayasan Mutiara Abadi Binjai (MAB). Saat ini sedang mulai digalakkan terapi musik dapat menjadi salah satu pengobatan dengan berbagai kondisi pasien. Perlakuan ini bisa dilakukan dengan cara melalui sistem pendengaran. Melalui pendengaran yang kemudian dihubungkaitkan dengan saraf otak dimana memiliki hubungan dengan sistem perilaku emosional. Karya komposisi musik instrumental Alam Menyapa digunakan sebagai alat pengobatan terapi kepada pasien narkoba di Yayasan Mutiara Abadi Binjai. Pemilihan komposisi musik instrumental Alam Menyapa ini berdasarkan alunan musiknya lebih bersifat menenangkan dengan adanya penggabungan suara-suara alam dan instrumen musik digital. Metode penelitian yang yang digunakan adalah metode penelitian campuran yaitu kualitatif dan kuantitatif Pemilihan terapi musik secara pasif merupakan terapi yang lebih mudah dilakukan dan sangat efektif, dimana pasien duduk, kemudian mendengarkan musik isntrumental melalui Box musik Terapi (BmT). Hasil dari penelitian ini adalah pasien-pasien yang mengikuti terapi musik Alam Menyapa merasakan dapat menurunkan tingkat stress mereka selama dalam rehabilitasi di Yayasan Mutiara Abadi Binjai (MAB) dan memiliki kepercayaan diri untuk kembali melakukan kehidupan ditengah-tengah masyarakat.
Design of “Munyer” as a Respons to Social Condition in New Normal Warsana, Warsana; Irawati, Eli
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.9276

Abstract

This study aimed to observe social background of “Munyer” masterpiece creation. This study was a qualitative study through library research, observation and interview to elaborate the composition. The finding showed that the design method consisted of initial stimulation, idea generation, exploration, improvisation, formation and presentation or performance. The result of this design was a new musical masterpiece with instruments, pattern and performance in five composition parts. Each part illustrates online learning situation happened in New Normal. Thus, the creation of “munyer” was a response to social condition in new normal where all pedagogical activities were conducted via online. However, there were complex obstacles and problems during online classes such as poor provider network, massive internet data plan, non-updated hardware and software, etc.
Gamelan Koromong dalam Konteks Ritual 14 Mulud pada Masyarakat Cikubang Sumedang Jawa Barat Sutisna, Rony Hidayat; Wiresna, Asep Ganjar; Sukmana, Ece
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.7913

Abstract

This research is about the social transformation process in gamelan Koromong performance in Cikubang Village area, Sumedang Regency, West Java. The fundamental objective of this research is to analyze the structural changes resulting social changes in the ritual of gamelan Koromong in Cikubang. The villagers still carry out this ritual activity as an annual activity which has a predetermined time accorded to the local calendar (Sundanese calendar) exactly on 14th of Mulud. This ritual is carried out by Cikubang community as a manifestation of a form of devotion and gratitude expression to God for everything that has been received and perceived during life. This disclosure is carried out with full rules based on what has been passed down by the ancestors in this region as a guide or management of ritual customs which then develops and adapts as time changes. The results of the study reveal that there are various structures that undergo a process of transformation, both textually and contextually. In the old structure that is ritualistic as well as in the context of the performance, it is the local wisdom that has high philosophical values. These are highly attractive to analyze. However, the values of this local wisdom have been degraded resulting changes in values. This phenomena is an interesting cultural transformation process which becomes the background for this research. The research method applied was qualitative approach. The data collection techniques implemented by the author were observation, interview, and document studies. The results show that the initial context of Koromong art as a ritual slowly experiences transformation process over time becoming a performing art that is not only ritualistic, but also popular.Artikel ini mengenai proses perubahan sosial pada masyarakat pelaku ritual seni gamelan koromong yang berada di wilayah Kampung Cikubang Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Dasar pemikiran penting artikel ini adalah menganalisis perubahan struktur yang mengakibatkan terjadinya perubahan sosial pada ritual seni gamelan koromong Cikubang. Masyarakat di kampung ini masih melaksanakan kegiatan ritual ini sebagai rutinitas tahunan yang sudah ditentukan waktu pelaksanaannya pada penanggalan kalender lokal (kalender Sunda) yaitu pada tanggal 14 Mulud. Kegiatan ritual ini dilaksanakan oleh masyarakat Cikubang sebagai manifestasi dari bentuk pengabdian dan pengungkapan rasa bersyukur terhadap Tuhan atas segala yang telah diterima dan dirasakan selama menjalani kehidupan. Pengungkapan ini dijalankan dengan penuh aturan berdasarkan apa yang pernah diwariskan oleh para leluhur di wilayah ini sebagai panduan atau tata kelola adat ritual yang kemudian berkembang dan menyesuaikan terhadap perkembangan jaman. Hasil penelitian mengungkapkan terdapatnya berbagai struktur yang mengalami proses transformasi baik secara tekstual maupun kontekstual. Pada struktur yang bersifat ritual, dalam konteks pertunjukannya merupakan sebuah kearifan lokal yang mempunyai nilai filosofi tinggi yang menarik untuk dianalisis. Namun, nilai kearifan lokal ini mengalami degradasi yang mengakibatkan berubahnya nilai. Perubahan nilai tersebut merupakan sebuah proses perubahan sosial yang menarik untuk dikaji dan menjadi latar belakang pembahasan artikel ini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konteks awal seni koromong dipakai oleh masyarakatnya sebagai seni ritual, perlahan-lahan mengalami proses perubahan seiring berubahnya waktu menjadi sebuah seni pertunjukan yang tidak hanya bersifat ritual saja namun bisa bersifat kekinian.
Embedded Criticism Sebagai Cara Lain Menulis Kritik Seni Pertunjukan di Indonesia Raditya, Michael Haryo Bagus
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.9534

Abstract

Embedded criticism as another way to write performing arts criticism in Indonesia. This paper performs a re-examining of performing arts criticism in Indonesia, particularly about a critic-artist relationship. The modern tradition of criticism has built a hierarchy in the performing arts ecosystem. It happened in any tradition of criticism and has been living in Indonesia for more than 50 years. Instead of it has lived in print media, for instance, newspapers and magazines, the relationship also happens on the Indonesian website. In fact, traditional performing arts in Indonesia were connected by a good relationship between a critic—for instance, a teacher or influential person—and an artist. It means the critic has access to watch a rehearsal, has a good chit-chat with an artist, can talk about the idea of the performance, and so on; it is not like the West critic, who was watching only the performance. The paper aims at presenting the other way of writing criticism, not only as an option of ways of writing but also providing the idea of a reciprocal relationship and renders less hierarchal the critic-artist relationship. As explained, this paper would like to discuss embedded criticism, the other way of criticism that attempted showing the relation between critic and artist as a productive work. Writing an embedded criticism describes a critic's duty that is not about judging the performance but also articulating the production and performance complexity. This paper would like to ask, how does critic presenting the criticism accommodates the relation between them? How can the embedded criticism apply to performing arts criticsm in Indonesia? Those questions will be answered by a literature study. The result of this research is that embedded criticism can be solved the gap problem of criticism—emphasizing the relationship between critic and artist in traditional performing arts, that undisclosed in the modern tradition of critic—through a website that disseminates performing art criticism.Tulisan ini mengkaji ulang kritik seni pertunjukan di Indonesia, khususnya tentang hubungan antara kritikus-seniman. Tradisi kritik modern telah membangun hierarki dalam ekosistem seni pertunjukan. Itu terjadi dalam tradisi kritik apa pun dan telah hidup di Indonesia selama lebih dari 50 tahun. Selain hidup di media cetak, misalnya koran dan majalah, yang cukup disayangkan hubungan itu juga terjadi di Indonesia melalui website seni. Padahal, seni pertunjukan tradisional di Indonesia dihubungkan oleh hubungan yang baik antara seorang kritikus—misalnya seorang guru atau orang berpengaruh—dan seorang seniman. Tidak seperti kritikus Barat, yang hanya menonton pertunjukan; tradisi kritik kita memiliki akses untuk menonton geladiresik, berbincang-bincang dengan artis secara akrab, dapat berbicara tentang ide pertunjukan, dan sebagainya. Atas dasar itu, tulisan ini bertujuan untuk menyajikan cara lain dalam menulis kritik, tetapi bukan hanya sebagai pilihan cara menulis melainkan juga memberikan gagasan tentang hubungan timbal balik dan memangkas hierarki antara kritikus-seniman. Seperti yang telah dijelaskan, tulisan ini hendak membahas embedded criticism atau kritik melekat, yaitu cara ungkap kritik yang berusaha menunjukkan hubungan antara kritikus dan seniman sebagai sebuah hal yang produktif. Menulis kritik melekat menunjukkan tugas seorang kritikus yang tidak hanya menilai ketika pertunjukan dihelat, tetapi juga mengartikulasikan kompleksitas produksi sekaligus pertunjukan. Tulisan ini memiliki dua pertanyaan, bagaimana kritikus menyampaikan kritik yang mengakomodasi relasi di antara kritik-pencipta karya? Bagaimana kritik melekat bisa diterapkan pada kritik seni pertunjukan di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dengan studi literatur. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa kritik melekat dapat memecahkan masalah kesenjangan kritik—menekankan hubungan antara kritikus dan seniman yang terjadi pada seni pertunjukan tradisional, yang tidak terungkap dalam kritik tradisi modern—melalui website yang menyebarkan kritik seni pertunjukan.
The Use of Growl Vocal Technique to Enhance Voice Quality in Singing Pop Songs Suryati, Suryati
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.7934

Abstract

This study aims to provide solutions for students of Music Education Study Program of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta who face problems in singing pop songs, particularly to reach high notes. Growl is a kind of vocal technique for producing growling sounds. Initially, Growl vocal technique was used by metal or rock vocalists. However, this technique can be applied to pop songs as a variation. As a result, it can be functioned as a solution to reach high notes for the singers having low range of notes. This study focused on the process of practicing Growl vocal technique and the use of Growl when singing pop songs. The author implemented qualitative method emphasizing on cas study approach. The data collection was carried out through literature studies, observations, and interviews by selecting sample from the respondents engaging in this study case in which the subjects of the study were Pop Jazz vocal students in Music Education Study Program of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta. The application of Growl Vocal Technique is highly efficacious when singing both low and high notes in legato manner. In addition, Growl can be an emphasis on the specific lines of song lyrics to convey the enotional meaning of that part. Furthermore, it also can be functioned as an alteration to create divergence of a singer in using vocal techniques when singing. It leads to a novelty that the use of Growl vocal technique can be said to be an aesthetic expression to make voice much more amusing. 
Efek Reinstrumentasi Karya Organ Js. Bach Melalui Alih Timbre Terhadap Selera Musik Djohan, Djohan; Wirayudha, Asep Hidayat; Mawarni, Aghisna Indah
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.9747

Abstract

As today teenagers have less appreciation for instrumental works from Baroque era, the objective of this research is to identify the indicators their music preference through timbre shifting of the musical instrument. In the context of the creative economy, this will open opportunities for art music to compete in the music industry. Music has been studied and observed for centuries, and even today, the works of great composers are associated with timeless creations. One factor that has contributed to the continued existence of music is its strong reliance on conductors during performances, especially when presented in orchestral format involving dozens of supporting musicians. Generally, not only do audiences watch a stage filled with musicians, but they also listen to the works of composers in various timbres. Some musics are performed in the form of solo, duet, or as ensemble. However, the challenge for musicians is that the majority of society do not understand art music well due to lack of knowledge and the prevalence of easily accepted popular music. It occurs because music education still upholds the tradition of classifying music into high and low art according to European concepts. Art music carries musicological elements rooted in mathematical discipline, which implicitly requires audiences to have a background in music knowledge, even during performances. In Indonesia, which is currently developing and strengthening its creative economy, creative breakthroughs are needed to make art music more popular and have a positive impact on musicians. In this study, the author implemented a quantitative method with a one-posttest design approach. The sample consisted of teenagers studying art music. The total sample was N=100, consisting of students in music performance vocational program who were given treatment by listening to a recorded toccata in D minor by JS Bach played on the organ and re-instrumented using the electric guitar, electric bass, and synthesizer. The results reveal that the subjects' preference for rock music is significantly influenced by personal preference with p<0.05. Particularly, the predictor of preference has a coefficient of R 0.900 with an R2 of 0.809, indicating that preference contributes 80.9% to the variability of the preferences. Therefore, it can be concluded that the renewing instrumentaion of Baroque music by shifting timbre of electric instruments with rock sensation has an influence on the musical preference of today youth. It happens especially when the ornamentation, one of the characteristic of Baroque music, is played with forte dynamic and blended technique, resulting in piercing and swinging sounds as an effect of electric guitar distortion.Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi indikator selera musik remaja masa kini yang kurang menyukai karya instrumental era Barok (musik seni) melalui rekayasa warna suara (timbre) alat musiknya. Karena dalam konteks ekonomi kreatif akan membuka peluang musik seni untuk berkompetisi dalam dunia industri musik. Selama ini musik seni telah berabad lamanya dipelajari dan ditekuni hingga saat ini bahkan karya-karya para komponis besar diasosiasikan dengan karya abadi. Salah satu faktor yang menjadikan eksistensi musik seni hingga sekarang adalah karena dalam pertunjukkannya sangat dipengaruhi oleh konduktor. Terutama sekali jika karya tersebut dipertunjukkan dalam format orkestra yang melibatkan puluhan musisi pendukung. Di satu sisi secara visual selain menyaksikan panggung penuh dengan musisi juga mendengarkan karya para komponis dalam berbagai macam warna suara. Sementara di sisi lain, ada musik seni yang dimainkan secara solo, duet atau kelompok (musik kamar). Pada kenyataannya, tantangan musisi musik seni adalah karena sebagian besar masyarakat tidak paham musik seni baik karena kurangnya pengetahuan dan maraknya musik industri yang jauh lebih mudah dicerna. Hal ini terjadi karena dalam pendidikan musik seni pun masih mempertahankan tradisi seni tinggi sesuai dengan sumbernya di Eropah. Musik seni memiliki muatan musikologi yang berasal dari disiplin matematika sehingga dalam bentuk pertunjukanpun secara implisit mensyaratkan audiens memiliki latar belakang pengetahuan musik. Indonesia yang sedang mengembangkan serta memperkuat ekonomi kreatif maka diperlukan terobosan kreatif agar musik seni dapat semakin digemari sehingga membawa dampak positif bagi musisi musik seni. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan one posttest design only dan sampel dalam penelitian ini adalah remaja yang sedang belajar musik seni. Total sampel sebanyak N=100 terdiri dari mahasiswa program vokasi penyajian musik yang diberi intervensi dengan mendengarkan rekaman toccata in d-minor karya JS Bach untuk alat musik organ dan yang sudah direinstrumentasi menggunakan alat musik gitar, bas elektrik dan synthesizer. Hasilnya menunjukkan bahwa selera subjek terhadap musik rock secara signifikan lebih ditentukan oleh preferensi pribadi dengan p<0.05. Terutama dengan prediktor preferensi yang memiliki koefisien R 0.900 dengan R2 0.809 sehingga preferensi memberi sumbangsih sebanyak 80.9% terhadap variabilitas selera. Maka, dapat disimpulkan bahwa reinstrumentasi musik barok menggunakan warna suara instrumen elektrik dengan sensasi rock memiliki pengaruh terhadap selera musik subjek remaja. Terutama sekali ketika pada bagian ornamentasi sebagai ciri khas musik barok dibunyikan dalam dinamika forte dengan teknik blend sehingga terdengar melengking dan mengayun sebagai efek dari suara distorsi gitar elektrik.

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue