cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
Praktik Pertunjukan Musik Mandiri dalam Skena Metal Ekstrem Sutopo, Oki Rahadianto; Lukisworo, Agustinus Aryo
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.8328

Abstract

Independent Performance Practice in Extreme Metal Scene. Music performance, including extreme metal, is an integral part of music-based youth groups’ socio-cultural practices. The practice and meaning construction of music performance could not be considered as stagnant, but dynamic in its relationship with surrounding objective structure. In order to understand the meaning construction upon music performance, specifically within the extreme metal scene, this research focuses on the dynamics of independent music performance practice in Yogyakarta in the contemporary neoliberal era. This research was based on re-interpretation of ethnographic qualitative data. Yet, several challenges upon research data re-interpretation had been overcome by the insider status of the second author, and also triangulation interview with previously involved-informant. According to the re-interpretation of qualitative data, it can be argued that independent music performance is the reflection of the youth’s culture-based negotiations against the dominant discourse of commercial space by mainstream cultural industries as well as limited space of expression in the urban landscapes. This kind social networks-based of music performance, ranging from local to trans-local scene and constant experimentations of the scene habitus, show the manifestation of symbolic resistance. In this case, the symbolic resistance is not only based on social class, but also as a manifestation of spatial marginality. Thus, the independent music performance in this research can be a good example in order to keep the values of music idealism in the present and in the future.Pertunjukan musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik sosio-kultural kelompok budaya kaum muda berbasis musik, termasuk metal ekstrem. Adapun praktik dan pemaknaan terhadap pertunjukan musik bukan merupakan suatu hal yang stagnan, namun senantiasa bergulir secara dinamis dalam relasi dengan struktur objektif yang melingkupinya. Guna membangun pemahaman atas praktik dan pemaknaan terhadap pertunjukan musik, khususnya dalam skena metal ekstrem, artikel ini membahas dinamika praktik pertunjukan musik mandiri di Yogyakarta pada era neoliberal kontemporer. Artikel ini disusun melalui proses re-interpretasi atas data yang diperoleh dengan metode kualitatif etnografi. Beberapa tantangan atas re-interpretasi data penelitian dapat teratasi dengan posisi salah satu penulis sebagai insider dalam skena metal ekstrem serta melalui triangulasi dengan salah satu informan yang sudah terlibat dalam wawancara sebelumnya. Berdasarkan hasil re-interpretasi tersebut, dinamika pertunjukan musik mandiri merefleksikan bagaimana praktik negosiasi berbasis budaya kaum muda terhadap dominasi pewacanaan ruang komersial oleh industri budaya mainstream sekaligus keterbatasan ruang berekspresi dalam landscape perkotaan. Praktik pertunjukan musik mandiri yang mendasarkan pada jaringan sosial dari level lokal hingga trans-lokal dan eksperimentasi atas habitus skena secara berkelanjutan ini merupakan manifestasi perlawanan simbolik. Dalam hal ini, perlawanan tersebut tidak hanya berbasis kelas sosial namun juga merupakan manifestasi peminggiran berbasis ruang. Praktik pertunjukan musik mandiri ini dapat menjadi exemplar yang baik guna menjaga nilai-nilai idealisme bermusik tetap hidup di masa sekarang maupun di masa depan.
Cover, Table of Content, Back Matter VOL 24 NO 2 (2023) Resital, Admin
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.10569

Abstract

Aransemen Lagu Widodari Karya Denny Caknan sebagai Media Pembelajaran Musik Keroncong di SMK Negeri 8 Surakarta Dellavani, Charitra Yulia Dien Wardihastri; Mulyanto, Mulyanto; Kurniadi, Edi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.8767

Abstract

SMK Negeri 8 Surakarta, a high-school level formal educational institution, focuses on preserving the values of local wisdom in globalization era through art education. One of the methods is strengthening character education through Keroncong music subjects. In this research, the action was done through the elaboration of local wisdom values in Keroncong music by arranging a popular song among millennials entitled Widodari by Denny Caknan. The objective of this research is examining the relationship between the arrangement of Widodari song by Denny Caknan as a medium for learning Keroncong music to preserve the values of local wisdom and as a form of character education at SMK Negeri 8 Surakarta. In this research, the author implemented descriptive qualitative approach using Miles and Huberman's interactive model as a data analysis technique. It included data collection, data reduction, data display, and conclusions: drawing/verifying. Through the arrangement of Widodari songs as a medium for learning Keroncong music, the results reveal that the values of local wisdom in Keroncong music are aesthetic values, mutual aid values, and tolerance values. All of them can be conveyed through musical aspects, such as harmony and ensemble play of each Keroncong instrument.SMK Negeri 8 Surakarta sebagai lembaga pendidikan formal memiliki konsentrasi dalam pelestarian nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus globalisasi melalui pendidikan seni, salah satunya dengan menguatkan pendidikan karakter melalui mata pelajaran musik keroncong. Upaya yang dilakukan yaitu dengan mengelaborasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam Musik Keroncong dengan mengaransemen lagu yang popular dikalangan milenial, yaitu lagu Widodari karya Denny Caknan sebagai media pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini berfokus untuk mencermati relasi antara aransemen lagu Widodari karya Denny Caknan sebagai media pembelajaran musik keroncong dengan upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dan pendidikan karakter di SMK Negeri 8 Surakarta. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan model interaktif Miles & Huberman sebagai teknik analisis data yang memiliki komponen data collection, data reduction, data display, dan conclusions: drawing/verifying. Melalui aransemen lagu Widodari sebagai media pembelajaran musik keroncong, diperoleh hasil bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam musik keroncong seperti nilai estetika, nilai gotong royong, dan nilai toleransi dapat tersampaikan secara baik melalui aspek musikal, seperti harmoni dan permainan ansambel dari masing-masing instrumen keroncong.
Student Centered Learning-Comprehensive Musicianship Through Performance Dalam Pembelajaran Orkestra Fu'adi, Fu'adi; Agustianto, Agustianto; Fitria, Yunike Juniarti; Djahwasi, Herry Rizal
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i3.9346

Abstract

Model pembelajaran merupakan bagian penting untuk mengembangkan kapabilitas musikal peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran musik orkestra berbasis Student-Centered Learning: Comprehensive Musicianship through Performance (SCL-CMP). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Huberman meliputi pengumpulan data, kondensasi data, reduksi data, dan verifikasi/kesimpulan, serta didukung dengan penggunaan software NVivo 12 untuk pengorganisasian data. Hasilnya yang pertama adalah manfaat SCL-CMP dalam pembelajaran orkestra bagi peserta didik meliputi partitur musik orkestra dapat dijelaskan dengan detail, mendorong peserta didik untuk lebih aktif, karakter instrumen musik menjadi lebih mudah dipahami, dan permasalahan teknis dalam memainkan instrumen musik lebih mudah diatasi; kedua, daya tarik SCL-CMP dalam pembelajaran orkestra antara lain peserta didik memiliki waktu lebih banyak untuk berdiskusi, lebih berani berpendapat, dan mendiskusikan partitur musik secara kritis; ketiga , kendala yang dihadapi dalam pembelajaran berbasis SCL-CMP antara lain sikap peserta didik yang malas dan pasif, dan kurangnya kesadaran pendidik terhadap kemajuan peserta didik; dan keempat, optimalisasi SCL-CMP dalam pembelajaran orkestra melalui upaya mengutamakan diskusi dalam pembelajaran, membagi kelompok alat musik menjadi beberapa kelompok, dan mencari solusi dari setiap permasalahan. Permasalahan dalam pembelajaran orkestra dapat dibahas secara mendalam beserta solusinya, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis model Student-Centered Learning-Comprehensive Musicianship Through Performance sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran orkestra.
"Manguni," A Minahasan Cultural Identity: The Application of Practice-Based Research on A Program Music Gosal, Clifford Israel; Listya, Agastya Rama; Komalig, Yudi Novrian; Tan, Arwin Quiñones
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.12059

Abstract

Manguni is a Minahasan term for a carnivorous, nocturnal bird known as an owl. The manguni has the Latin name otus manadensis. Minahasan people believe that the manguni is a bird that brings news from Opo Wailan Wangko or God Almighty. In the modern era, mangunis have become endangered due to hunting and logging of trees that were mangunis' original habitat. The extinction of these birds has impacted the younger generation's understanding of the manguni as the identity of the Minahasan people, as well as the ancestral cultural values found in this bird. This research aims to introduce and preserve the noble values found in manguni to the younger generation through symphonic works that combine Minahasan and Western musical idioms. The use of orchestral instruments in nationalistic works has also been done by Romantic-era composers such as Bedrich Smetana, Antonin Dvorak, Bela Bartok, Zoltan Kodaly, and others. However, Manguni is the first orchestral composition to capture the magical figure of this bird musically. This research applies a qualitative and practice-based approach that positions the researcher as the vital instrument. Several stages of research include conceptualizing the composition, incorporating leitmotifs, adding extramusical ideas, pouring ideas or creations, composing detailed compositions, and evaluating. The research output is a descriptive programmatic musical work that uses manguni as an extramusical idea. Leitmotifs represent the nature and character of the manguni and its meanings to the Minahasan people. The work adopts Minahasan musical idioms, such as the rhythmic patterns of Kabasaran dance and the modes and ornamentation of Maengket singing. The Manguni movement is written in a sonata form consisting of exposition, development, recapitulation, and coda. The techniques used include polytonal, cluster, quartal, artificial harmony, polychord, sequence, augmentation, diminution, and retrograde.
Teknik Pengembangan Kacapi Siter: Menuju Permainan Kacapi Gaya Baru oleh Yayan Lesmana Amirah Soraya, Dhiya Silmi; Wrahatnala, Bondet; Putra, Randy Geovani
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i3.8563

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berkembangnya musik gaya baru dan berbagai faktor yang mempengaruhi dalam mengadaptasi, mengadopsi dan mengkonvensi pola tepakan kendang yang diaplikasikan dalam permainan kacapi siter. Kacapi Siter merupakan salah satu alat musik tradisi Sunda yang berfungsi sebagai pembawa melodi lagu (amardawalagu) pada umumnya. Dalam perkembangannya terjadi sebuah perubahan pada teknik dasar, fungsi dan peran, karena adanya kreativitas yang dilakukan oleh para praktisi seni tradisi. Salah satunya adalah Yayan Lesmana, seorang praktisi yang ahli dalam memainkan kacapi siter. Kreativitas merupakan kata kunci dari praktik bermusik, oleh karena itu, konsep proses kreatif Trustho digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis bagaimana tepak kendang jaipongan berubah dan dapat diaplikasikan dalam memetik kacapi siter. Konsep tersebut terdiri dari metode mendapatkan bahan: ngrancang, ngentha-entha, nggrambyang, dan metode penciptaan: proses mengubah bentuk dan alih fungsi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan literatur. Penelitian ini menunjukan bahwa faktor internal dan eksternal berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan konsep dari permainan baru kacapi siter yang dikembangkan oleh Yayan Lesmana. Jenis permainan kacapi siter ini kemudian dikenal dengan kacapi jaipongan gaya Yayan Lesmana.
Strategi Konservasi Musik Angklung Masyarakat Kampung Naga di Kota Tasiklamalaya Jawa Barat Muhtar, Sri Wahyuni; Sunarmi, Sunarmi; Soewarlan, Santosa
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.11716

Abstract

Musik Angklung merupakan salah satu kesenian tradisional khas Kampung Naga di kota Tasikmalaya Jawa Barat yang hingga saat ini masih dilestarikan, pertunjukan alat musik tradisional Angklung dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga di berbagai kegiatan. Tujuan penelitian untuk mengungkap kegiatan-kegiatan masyarakat Kampung Naga yang merupakan tindakan nyata pelestarian alat musik tradisional Angklung di era globalisasi saat ini. Bagaimana strategi konservasi musik Angklung yang diterapkan oleh masyarakat Kampung Naga menjadi rumusan masalah penelitian. Teori yang digunakan sebagai pijakan untuk menjawab pertanyaan penelitian adalah teori konservasi oleh Theodore Roosevelt. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan studi literatur. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa strategi konservasi musik Angklung yang diterapkan oleh masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya Jawa Barat ada tiga yaitu pertama, melakukan proteksi musik Angklung melalui pengembangan pertunjukan oleh generasi Kampung Naga secara turun temurun, serta penyebaran pertunjukan musik Angklung pada pentas budaya di berbagai wilayah Indonesia. Kedua, upaya negosiasi masyarakat Kampung Naga berupa penerimaan pengunjung domestik maupun mancanegara ke Kampung Naga. Ketiga, peningkatan respon masyarakat Kampung Naga terhadap situasi pariwisata berupa penyediaan jasa pertunjukan musik Angklung khas Kampung Naga bagi para wisatawan. Penelitian ini didanai oleh Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemendikbudristek Tahun Anggaran 2023.
"Grain Gamelan": Adaptation of One More Grain Band's Songs to Gamelan Pelog Slendro Gunawan, Iwan; ZZ, Afdhal Zikri; G, Sailendra Bedantara
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i3.11172

Abstract

"Grain Gamelan": Adaptation of One More Grain Band's Songs to Gamelan Pelog Slendro. Based on a recording project initiated by the label "Yantra" through one of the musicians of the group "one more grain", Daniel Patrick Quinn, the author was asked to adapt songs from their group to gamelan instruments. The songs use Western instruments that use a very different tonal system from gamelan. The phenomenon of the difference in tone system between Western instruments and gamelan is still a dilemma, especially when music creators have the idea to combine the two types of instruments. The purpose of this writing is to reveal the artistic process of working on One More Grain Band songs adapted to gamelan with the pelog slendro tone system. The method used is practice-led research/practice-based research by doing exploration, simulation, and practice. Artistically, the songs of one more grain band have repetitive patterns with a tendency to use only one chord and each pattern played has changes that can be interpreted openly by the musician. Both of these have the same principles as traditional gamelan music. In the composing process, an approach was found using a mixed 10-tone system of pelog and slendro tunings of Javanese gamelan tumbuk nem. Through the use of DAW, the adaptation process can be well organized and measured to produce audio simulations and notations that are ready to be played by musicians directly. In the process of practicing with the musicians, various communication and interpretation problems were encountered in adapting this work. Based on the results achieved, the adaptation of "One More Grain" songs to gamelan has new nuances and perspectives that can enrich the repertoire of gamelan music globally.
Metafora Konseptual dalam Praktik Musik Keroncong Vernakular Setiawan, Yulius Erie; Aribowo, Widodo; Mibtadin, Mibtadin; May, Adam
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.12479

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan (mengonseptualisasikan) praktik musik keroncong vernakular, yaitu sub-genre musik keroncong yang mengakomodasi keberagaman idiom musikal, syair, alat musik, teknik permainan, bentuk musik, dan ekspresi informal lainnya (kostum dan bahasa), yang berbeda dengan ekspresi keroncong asli (pakem). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang mengelaborasikan pendekatan musikologi, etnografi, dan kajian budaya. Analisis dilakukan dengan mengamati keberadaan sebuah kelompok musik asal Malang, yaitu Kos Atos dengan mengamati dua sample rekaman video musik lagu Kita Beda Berbahaya dan Kopi, didukung wawancara klarifikatif dari subjek. Ditemukan hasil: pertama, praktik musik keroncong vernakular yang diusung Kos Atos adalah bentuk artikulasi subjek (tindakan ekspresif dan praktik diskursif) yang bertujuan untuk menemukan segmentasi pendengar keroncong di luar keroncong asli dan mewacanakan nilai pengetahuan baru di bidang musik keroncong; kedua, terdapat beberapa elemen yang dapat dikonseptualisasikan dari praktik musik keroncong vernakular, yaitu ekspresi demotik (ekspresi kerakyatan), lagu yang tidak tersofistikasi (berselera umum), musical mood, dan politik-ekonomi; ketiga, praktik keroncong vernakular dapat dikatakan sebagai bentuk pelestarian keroncong dalam konsep yang lain. Melalui praktik keroncong vernakular, genre musik keroncong dapat dijamin kelestariannya karena dapat lebih mudah diterima masyarakat umum, aktual, serta dekat dengan praktik ekonomi yang menjamin kesejahteraan hidup seniman.
Mendengarkan Gaya Musik Rhythm n Blues dan Pengalaman Relaksasi Djohan, Djohan; Wardani, Indra Kusuma; Zahra, Fifyan Nisrina
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.13307

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh mental melalui pengalaman relaksasi seseorang ketika mendengarkan musik dengan gaya aransemen Rhythm n Blues. Selama ini banyak penelitian terkait musik tidak lagi hanya dalam konteks musikologis tetapi sudah berorientasi pada manfaat baik bagi pelaku aktif atau pendengar pasif. Sehingga perspektif musik atau seni pada umumnya saat ini sudah berkembang sedemikian rupa hingga tidak lagi berorientasi pada seni untuk seni. Model tema penelitian ini merupakan bagian dari penguatan dan pengumpulan bukti saintifik guna pengembangan psikoterapi musik yang banyak diimplementasikan dalam bidang terapi musik.Secara teoretis, paparan terhadap musik tidak hanya akan memunculkan familiaritas atas sebuah lagu atau karya musik tanpa lirik, tetapi juga membentuk kegemaran (liking) pendengar sebagai akibat dari respons emosi terhadap musik tersebut. Hal ini tidak terlepas dari peran ekspektasi dari efek kehadiran rasa puas serta kesan plesantness dan unpleasantness bagi pendengar yang memicu efek positif-negatif sebuah musik terhadap emosi. Selain itu, respons emosi seseorang terhadap rangsang stimulus juga tidak terlepas dari kerja sistem saraf pusat yang dapat berimplikasi pada reaksi fisiologis. Salah satu reaksi fisiologis yang sering kali dijadikan acuan dalam aplikasi musik untuk terapi dan bersifat terapeutik adalah kerja sistem saraf otonom (autonomic nervous system; selanjutnya disebut ANS).Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan kuasi eksperimen yang membandingkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Subjek di kelompok eksperimen adalah mahasiswa musik dari berbagai instrumen mayor, sedangkan subjek di kelompok kontrol adalah mahasiswa non-musik dengan berbagai latar belakang studi dengan total sampel sebanyak N=78. Usia subjek berada di rentang 17-27 tahun (=20,5±1,53). Subjek mendengarkan rekaman repertoar musik Barok yang dimainkan oleh piano dan sudah diaransemen ulang dalam format band-kombo. Kemudian pengukuran kondisi relaksasi dilakukan menggunakan kuesioner yang aitemnya mengukur indikator kerja sistem syaraf parasimpatetik dan indikator psikis berupa state anxiety. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan pengalaman rilaksasi yang signifikan di antara kedua kelompok baik melalui indikator ANS(t­ANS=.502, p=.617) maupun indikator psikir (tpsikis=1.38, p=.172) Kata kunci: gaya musik; rhythm n blues; relaksasi; musikologis; autonomic nervous system ABSTRACTThe aim of this research is to identify the effect of listening to RnB music to the experience of relaxation. Due to the increasing number of research in music and its benefit to the listeners, current researches tent to go over music beyond its trait as an art. These research themes and models are beneficial to be implemented in music theraphy in the long run. Focusing on the comparison between original and arranged music to different group of listeners, the present research explored the observable indicators of relaxation through the symptoms of parasympathetic nervous system and anxiety state. Two groups of subjects ranging of 17-27 years old (mean=20,5±1,53) divided into control and experiment group. The control group listened to the original Minuet in G major by J. S. Bach  meanwhile the experiment group  listened to the arranged version of this piece in RnB style. The data was collected though online survey to collect the demography, anxiet state, and relaxation state both phisically and psychologycally. The result showed no significant difference between the two subject groups in terms of relaxation state both physically (t­ANS=.502, p=.617) and psychologycally (tpsikis=1.38, p=.172)

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue