cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
Peran Musik dalam Kesenian Montro di Yogyakarta Sukotjo, Sukotjo; Md, Shahanum; Trilaksono, Joko
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i3.9374

Abstract

Montro sebagai salah satu seni pertunjukan merupakan perpaduan dari berbagai media komunikasi yaitu gerak tubuh sebagai garap tari, bunyi dan bahasa sebagai garap iringan, serta rias dan busana sebagai garap seni rupa, yang kesemuanya direalisasikan kemunculannya secara komplementer. Bentuk kompleksitas pertunjukan tari mengarahkan penghayat pada pemahaman yang menyeluruh terhadap unsur-unsur tari yang pada dasarnya tidak bersifat parsial. Hubungan yang terjalin antara unsur musik dengan wiraga, wirasa, dan wirama dalam pertunjukannya membuat kesenian Montro menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk diungkap dalam memahami tentang makna yang terkandung di dalamnya. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan  multidisiplin seperti: etnomusikologis, sejarah, antropologis, sosiologis, dan semiotika. Peranan musik dalam kesenian Montro memiliki peranan yang penting dalam memberikan unsur estetis dalam pertunjukannya. Hal ini dapat mengungkap tentang apa yang terkandung dalam makna kesenian tersebut.
Bar Sheet: Panduan Sinkronisasi Bunyi Mickey-Mousing Terhadap Visualisasi Animasi Rhapsody Rabbit Fadly, Alvriza Mohammed; Supiarza, Hery; Pawitan, Zakiah; Alfathadiningrat, Danendra
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.12611

Abstract

Animasi tradisional pada industri film Hollywood dahulu memiliki proses kreatif yang kompleks karena keterbatasan teknologi dan kerap menyelaraskan rangkaian gambar dengan musik. Istilah proses ini mengacu pada ‘mickey-mousing’, yakni menyinkronkan setiap aksi atau gerakan dengan lantunan musik. Teknik mickey-mousing memiliki kasus dimana musik terlebih dahulu ada sehingga visual menyesuaikan dengan bagian-bagian musik yang dipilih. Tata cara ini dilakukan dengan membuat sebuah bar sheet sebagai panduan bagi animator dan komponis untuk menandakan frame dan musik yang sinkronik. Sebagai contoh, hal ini dapat dilihat pada film animasi Rhapsody Rabbit dari serial Merrie Melodies milik Warner Bros. Teknik mickey-mousing selain menyinkronkan dapat menyelaraskan pula irama antara visual dan bunyi. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perihal teknis penciptaan teknik mickey-mousing untuk menyelaraskan irama film animasi Rhapsody Rabbit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konten. Sumber data primer yakni film animasi Rhapsody Rabbit dan partitur lagu The Hungarian Rhapsody no.2 karya Franz Liszt, sumber data sekunder didapatkan melalui studi literatur berupa tulisan ilmiah yang memiliki topik relevan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dan analisis data dilakukan menggunakan metode analisis konten Klaus Krippendorf yang terbagi menjadi 6 tahapan. Hasil yang ditemukan adalah teknik mickey-mousing menyelaraskan irama denga cara mengatur, mengkoordinasi, dan menggambar pose kunci pada frame tertentu yang sinkronik bersamaan musik. Prinsip-prinsip animasi straight ahead and pose to pose dan timing and spacing berperan penting dalam menepatkan suatu unsur dari komposisi dengan sketsa animasi. Implikasi penelitian ini dapat menjadi panduan bagi animator, filmmaker, dan komponis film.
Ketokohan dan Nilai-nilai Spritualitas Ajaran Sunan Kalijaga dalam Praktik Kesenian Karawitan di Kabupaten Demak Bagaskara, Akbar; Rokhani, Umilia; Yuliantari, Ans Prawati
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i3.10947

Abstract

Ketokohan dan Nilai-nilai Spritualitas Ajaran Sunan Kalijaga dalam Praktik Kesenian Karawitan di Kabupaten Demak. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengungkapkan ketokohan ataupun pengaruh Nilai-nilai spritualitas ajaran Sunan Kalijaga dalam praktek kesenian di Kabupaten Demak. Hal ini penting dilakukan, mengingat telah menjamurnya tokoh-tokoh dan ajaran atau falsafah barat yang lebih besar eksis di Indonesia, seolah Indonesia tidak mempunyai tokoh yang mewariskan falsafah/ajaran tertentu. Harapannya penelitian ini, bisa menjawab ketimpangan penggunaan falsafah/ajaran barat itu khususnya dalam bidang seni.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kualitatif. Dengan teknik pengumpalan data melalui observasi partisipatif, wawancara, dan studi pustaka. Adapun dalam analisis data, menggunakan model Miles & Huberman. Pertama, temuan dalam penelitian ini adalah, karya gending karawitan ciptaan Yusuf Sofyan pengurus Sanggar Seni Mulyo Sari Raras di Kabupaten Demak yang terinspirasi dari kisah hidup Wali sanga khususnya Sunan Kalijaga. Kedua, temuan falsafah murni Sunan Kalijaga dalam menjalani hidup bersosial maupun berkesenian yang diinformasikan oleh keturunan beliau.
Public Responsibility Towards Indonesian Idol's Music Talent: An Adorno Perspective Budiawan, Hery; Torondek, Timothy Revival April; Nyarong, Wise Witness; Koswara, Jason
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i2.13421

Abstract

The music expressed around us, particularly in the realm of competitive music, faces significant challenges in maintaining subjectivity and objectivity to ensure a fair competition process. This study examines reality shows like Indonesian Idol, questioning whether they are pure competitions or avenues for capitalist profit. From Adorno's perspective, this issue is linked to societal impact, highlighting three main problems: standardization, commodification, and massification. Using both quantitative and qualitative methods, this research involved 67 respondents who completed questionnaires to explore the systematic flaws in Indonesian Idol’s competition structure. The study aimed to analyse how these flaws align with Adorno's concepts of standardization, commodification, and massification, and their influence on public perception and critical thinking. The quantitative aspect involved statistical analysis of questionnaire responses, while the qualitative approach included in-depth interviews to gain insights into participants' views on transparency and fairness in the competition. The findings indicate that Indonesian Idol’s competition system is heavily influenced by industry standards that prioritize commercial success over artistic integrity. This results in a homogenized musical output that caters to mass appeal, undermining the authenticity of the competition. Additionally, the commodification of contestants transforms them into marketable products rather than genuine artists, while the massification process dilutes the cultural significance of the musical content presented. The study concludes that for reality shows to serve as responsible public entertainment, they must instil transparency and fairness in their competition processes. Implementing these principles can foster a more critical and discerning audience, ensuring that such shows contribute positively to the cultural landscape rather than merely serving commercial interests
Adaptasi Membaca Notasi Viola sebagai Solusi Teknis dalam Mata Kuliah Ansambel Gesek R.M. Surtihadi, R.M. Surtihadi; Yunita, Ayu Tresna; Maulana, Iqbal Harja
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i3.10500

Abstract

Pada prinsipnya secara struktur anatomi dan teknik memainkan instrumen violin dan viola tidak ada perbedaan yang signifikan. Kedua instrumen gesek tersebut boleh dikatakan serupa tetapi tidak sama. Perbedaan antara kedua instrumen tersebut terletak pada ukuran bodi, dawai yang digunakan, register suara dan notasi musiknya. Urgensi penelitian ini difokuskan pada perbedaan notasi yang digunakan pada kedua instrumen tersebut. Violin menggunakan kunci G (G clef) dan Viola menggunakan kunci C (C clef alto). Perbedaan notasi ini sering menimbulka masalah ketika pemain violin akan memainkan viola dalam sebuah ansambel atau orkestra. Pemain violin yang akan memainkan viola membutuhkan adaptasi membaca notasi ke kunci C alto. Tujuan dari penelitian ini untuk mencari solusi permasalahan yang dihadapi dalam Mata Kuliah Ansambel Gesek agar sebuah formasi ansambel gesek menjadi lengkap dan standar sesuai kebutuhan aransemen musik yang dimainkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus yang terjadi pada Mata Kuliah Ansambel Gesek dikarenakan jumlah mahasiswa violin banyak dan tidak ada mahasiswa viola, tetapi mahasiswa cello dan kontrabass terpenuhi. Hal ini perlu dicarikan solusi untuk memecahkan masalah tersebut dengan memberi kesempatan kepada para mahasiswa violin untuk memainkan instrumen viola agar dapat mengisi kekosongan pemain viola yang tidak ada. Tentu saja dengan mempelajari membaca notasi viola yang menggunakan kunci C diharapkan pemain violin bisa cepat menyesuaikan dalam bermain ansambel gesek. Hasil penelitian ini yakni formasi ansambel gesek menjadi lengkap dan standar karena posisi pemain viola yang kosong sudah terisi oleh mahasiswa violin yang telah melakukan adaptasi baik teknik permainan maupun teknik membaca notasi viola dengan lancar.
Musik Iringan Tari Pencak Silat Rancak Takasima dalam Koreografi Idiom Baru Rustiyanti, Sri; Listiani, Wanda; Ningdyah, Anrilia E.M.; Dwiatmini, Sriati; Suryanti, Suryanti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.11998

Abstract

The objective of this article is to elucidate the significance of music in complementing the choreography of the innovative Pencak Silat dance form known as Rancak Takasima. In the realm of dance performance, music plays a pivotal role as an accompaniment. While dance accompaniment music can exist independently, the reciprocal is not true – dance cannot be fully actualized without the support of accompanying music. Essentially, dance and music are inseparable counterparts, mutually enhancing and interdependent, akin to the interconnected sides of a coin. In the crafting of a dance performance, the presence of dance accompaniment, specifically in the form of musical compositions, serves as a crucial catalyst. This concept is referred to as external music, encompassing instruments like percussion, strings, and wind instruments employed as accompaniment in dance. In contrast, internal music entails sounds not generated by instrumental music but rather emanating from the dancer or performer, such as vocals, rhythmic footwork, finger snaps, chest and thigh percussion, hand claps, elbow taps, and the use of galembong (a patting technique on wide-legged pants). This research used a qualitative method with a dance ethnographic approach model. This technique research collected data through diverse methods such as observation, demonstration, interviews, and documentation during creating the creative process of choreographing the new idiom of Rancak Takasima. The development of dance accompaniment music and choreography unfolds gradually, originating from initially abstract ideas and taking visual form through Seni Pencak movements and the musicality crafted by the internal body's dancers themselves and using sound of  'serut bambu' props. The research outcomes showcase the Seni Pencak dance accompaniment music model as a valuable contribution to the evolution of Pencak Silat Nusantara dance. This particular dance accompaniment music model integrates seamlessly into the new idiom's choreography, featuring the distinctive ‘serut bambu’ property that generates the accompanying dance music. This research result conducted under Penelitian Terapan Jalur Hilirisasi (PTJH) scheme. For those interested in learning more, the dance accompaniment music and Seni Pencak choreography of Rancak Takasima can be easily accessed through the website https://www.dayaversapasua.tech.
Memahami Hubungan Tarawangsa dan Erhu dalam Perspektif Etnomusikologi Adhimas, Yogi Bagus; Anggoro, Raden Roro Maha Kalyana Mitta; Maulana, Muhammad Ahsin; Yasya, Luthfia Agsita; Deng, Boer
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i3.9396

Abstract

Etnomusikologi merupakan suatu pendekatan yang bisa diterapkan guna menganalisis dua buah atau lebih alat musik dengan cara diperbandingkan. Aspek-aspek yang dikaji juga sangat menyeluruh dari bentuk fisik, teknis tangga nada, hingga sejarah pembentukannya. Hal ini juga yang coba diterapkan pada alat musik yang mirip secara penampilan, namun memiliki asal pemilik bangsa yang tidak berdekatan. Akan tetapi fakta lain menyebutkan bahwa budaya Tiongkok dengan Indonesia sudah ada sejak lama, maka keunikan ini yang coba diuraikan dalam penelitian ini. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat kemiripan yang tinggi antara tarawangsa dan erhu dalam aspek bentuk fisik dan fungsi, namun kepastian secara sejarah belum bisa dibuktikan secara pasti bahwa erhu memiliki andil dalam terciptanya tarawangsa ataupun sebaliknya.
Keroncong Arrangement as an Expression of Freedom Congrock 17 Satria, Dioda; Setiawan, Aris; Darlenis, Teti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.9462

Abstract

This study aims to analyze the results of the arrangement of keroncong music performed by Congrock 17. Congrock 17 is a well-known progressive keroncong music group from Semarang City, Central Java, Indonesia. This study’s two musical works are the object of analysis: Keroncong Pemuda-Pemudi and Perdamaian. This study uses a musicological approach emphasizing the concepts of arrangement, freedom, expression, and musical form. These concepts determine how far Congrock 17 can create new characters and nuances in existing musical works. Musical considerations were made by Congrock 17 by keeping the fundamental nature of keroncong the same, especially in the use of musical instruments such as cak, cuk, bass, violin, and cello. As a result, the arrangement of old works by Congrong 17 was intended so that keroncong would develop more progressively, be liked by the younger generation, and avoid monotony.
Kreativitas Pertunjukan Musik dalam Perspektif Bergsonian Jatmika, Ovan Bagus; Mustikawati, Retno; Wisnumurti, Nikolas Antares Adi Pradana
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.12555

Abstract

Penelitian fenomenologi ini mengulas aspek kreativitas pada pertunjukan musik klasik dari perspektif Bergsonian (dan juga Deleuzian). Masalah yang coba dijawab adalah hubungan antara repetisi (praktik dengan tradisi yang berulang) dengan kreativitas (kebaruan yang diproduksi dari praktik yang berulang tersebut). Data penelitian diambil melalui wawancara dengan tiga musisi klasik (pianis Ary Sutedja, gitaris Royke Koapaha, dan dirigen Adrian Prabawa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik repetisi berdampak pada tiga model pengalaman:  repetisi sebagai cara membangun secure, repetisi sebagai kondisi pengalaman yang bergerak diantara dua tendensi, serta pengalaman sensasi. Dari temuan data dapat didiskusikan bahwa repetisi hanya bisa menghadirkan kebaruan sejauh melibatkan intensifikasi sehingga bisa menggeser kesadaran orang dari satu teritori pengalaman ke teritori pengalaman baru. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa musik, sejauh melibatkan praktik intensifikasi, dapat dilihat sebagai praktik pengembangan kedirian dalam arti, bisa membuat orang mengalami kesadaran baru melalui pergeseran kesadaran.
Ladrang Siyem: The Royal Anthem of Thailand, in Javanese Gamelan Version Jamnongsarn, Surasak; Detkrut, Phunchita; Wangsaptawee, Yotin
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i3.11067

Abstract

Ladrang Siyem: The Royal Anthem of Thailand, in Javanese Gamelan Version. During 19th century, Thailand modernized by associating itself with the "West" or Westernization; consequently, musical concepts from the West were implemented. Sansoen Phra Barami, also known as the Thailand Royal Anthem, is a musical composition composed to pay tribute to the King of Thailand. Therefore, the Western musical style was utilized in the composition. The Thai people should examine Java's prosperity in the areas of transportation, postal and telegraph, railways, military, and irrigation, in addition to European colonial policies and governance styles toward Asian nations. Through the Netherlands, the relationship between Thailand and Java was revealed during the three visits of Thai King Chulalongkorn in 1870, 1896, and 1901, as well as King Prajadhipok in 1929. An item that was performed in homage to His Majesty King Prajadhipok, King Rama VII of Thailand, who arrived at Surakarta palace in 1929 accompanied by the Queen, is Ladrang Siyem, which is the Javanese rendition of the Thai Royal Anthem. This item is mentioned in an archive titled Serat Saking Gotek or Wedhapradangga. The Javanese musicians at the Surakarta Palace adapted the gamelan piece known as "Sansoen Phra Barami" to become known as "Ladrang Siyem." An unmistakable illustration of the manner in which crypto-colonialism is projected through music is provided by the occurrence. In other words, the text takes into consideration political movements that occurred in Southeast Asia during the time of the colonial era.

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue