cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
MASALAH KEAKTORAN DALAM TEATER MODERN (The Problem of Being an Actor in Modern Theater) Doyin, Muh
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.858

Abstract

Aktor adalah unsuryang memegang peran penting dalam teater modern. Perbedaan utama antara aktor dalam teater modem dan dalam teater tradisional terletak pada pertanggungjawabannya atas naskah atau teks yang menjadi sumber pementasan. Dalam teater tradisional, pertanggungjawaban aktor terhadap naskah tidak begitu ketat –bahkan  boleh dikatakan sangat longgar, sementara dalam teater modern sangat ketat. Hal ini disebabkan oleh adanya tuntutan yang berat bagi seorang  aktor teater modern, yaitu kemampuan menempatkan dirinya pada tokoh yang diperaninya dan kemampuan mengomunikasikan apa yang  dipahaminya itu melalui permainannya di panggung. Melihat kondisi seperti ini, seorang aktor memang harus rajin berlatih (pernafasan, vokal, ekspresi,  gesture, dan interpretasi naskah) dan senantiasa mengikuti perkembangan  teater. Pelajaran Richard Boleslavsky dengan demikian juga menjadi  penting, sehingga seorang aktor mampu bermain dan tahapan yang paling  rendah sampai pada akhirnya dapat bermain secara sempurna. Ukuran keberhasilan permainan seorang aktor dapat dilihat dengan kriteria lima  tingkatan, yaitu tahap memerankan, tahap sebagai, tahap menjadi, tahap  adalah, dan tahap sempurna. Semakin tinggi tahap yang dapat dicapai oleh  seorang aktor, semakin tinggi pula nilai permainannya. Kata Kunci: aktor, pelajaran Richard Boleslavsky, pelatihan dasar
Pornografi dalam Dunia Seni Tari (Pornography in Dance’s World) Pratjichno, Bambang
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.769

Abstract

Pornografi dapat dipahami sebagai ekspresi perilaku secara erotis, disadariatau tidak mampu untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks (libido).Inheren dengan fenomena pornografi tersebut, dunia tari sering disinyalirsebagai bidang yang relatif dekat (implikatif) dengan pornografi. Sinyalemenatau kesan seperti itu barangkali ada benarnya karena aktivitas tari sendirimemang lekat dengan pengolahan tubuh, sehingga layak diduga mudahmemunculkan libido orang yang menikmatinya. Kelenturan gerak dan sikapyang dilakukan oleh seorang penari tidak jarang mengundang daya pesonatertentu. Namun demikian, tari tidak selayaknya dipandang sebagai suatuproduk sebuah mesin atau unsur-unsur kebendaan, melainkan harus dipandangsebagai bagian yang integral dari eksistensi manusia itu sendiri terutamamenyangkut salah satu kebutuhan dasar manusia, yakni simbol. Sebab, sangatmungkin bahwa tujuan awal orang menari bukanlah untuk menari itu sendiri,tetapi untuk memenuhi kebutuhan simbolisasi (pernyataan diri). Sebaliknya,bila kita ingin menempatkan tari sebagai objek kajian, maka harus didasarkanperspektif yang mampu menggali latar belakang dan potensi pada tari yangbersangkutan.Kata kunci: Pornografi, Etika dan Estetika.
Kidung: Myth of Welfare for Kuthuk People in Kudus Regency Bahtiar, Hafid Zuhdan
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 14, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v14i2.3297

Abstract

The study is to describe the art of kidung in Kuthuk village Blora regency. This study used qualitative method with Structural Functional theory approach. Data in the form of the song, especially the lyrics and other data were used for primary data sources in addition to interviewing and observation. Data were analyzed qualitatively with structural and functional theory and anthropological approach developed by Malinowski. The result shows that the people of the village embracing many beliefs, have an art tradition of Puputan ritual. In Javanese culture, this ritual is done at the time of released cloth wrapping the baby’s navel. Kidung, an expression of the people when request welfare to God, reflects the acculturation between Islamic and non-religious beliefs, which characterize the people of those two cities that exist around Kuthuk village.
RITUAL DAN HIBURAN DALAM TARI TOPENG (Ritual and Entertainment on Mask Dance) Setiawati, Rahmida
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i2.707

Abstract

Tari maupun topeng bukan hanya mempunyai fungsi ritual, melainkan juga fungsi hiburan. Keduanya saling kait­mengkait dalam satu kontinum untuk memenuhi sebagian dari kehidupan manusia, terutama kebutuhan berekspresi. Eksistensi tari topeng dilatarbelakangi oleh peristiwa yang bersifat ritual, tetapi karena sering digunakan dalam acara­acara yang bersifat hiburan maka ia menjadi tari hiburan. Ketika itu tari merupakan suatu bagian dari kegiatan maanusia yang erat kaitannya dengan magi, musi, agama, kesusastraan, maka tari ebrfungsi ritual. Demikian pula halnya dengan topeng, yang pada masa lalu menjadi alat yang sangat penting dalam hubungannya dengan komunikasi dengan roh­roh maupun Tuhan, maka dia berfungsi ritual. Namun ketika keduanya dikemas menjadi seni tontonan, maka keduanya berfungsi hiburan. Perbedaan dari kedua fungsi tersebut sesungguhnya terletak pada konteks peristiwanya.Kata kunci : Ritual, hiburan, dan tari topeng
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SENI BUDAYA MELALUI TUGAS MANDIRI PADA MATERI ENSAMBEL MUSIK Kuntomo, -; Suharto, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v9i2.642

Abstract

This study aims to find out and describe the extent to which provision of independent tasks canimprove learning achievement at the Cultural Arts ensemble material. The method used in thisstudy is the class-action research using a descriptive approach to quantitative and qualitative.The model was used with step cycle: planning, action, observation and reflection. Data wasanalyzed in each cycle of observation and reflection. The results showed that: independent taskmethod can enhance students' learning achievement 8th-grade students of Watumalang JuniorHigh School, was seen from the increase in the percentage of success from all cycles. In cycle I,the success of students only 10.7% good, cycle II, the success of students increased to 82.1% good,and the third cycle of increased student success more to 96.4%. Suggestions in this research are:(1) Teachers can socialize independent assignment method and implementing these methods inlearning and Cultural Arts as far as the condition of their students with students who have thecondition in this study that students have the responsibility, discipline, willingness andenthusiasm for learning high.Kata Kunci : prestasi belajar seni budaya, tugas mandiri, ensambel musik.
JAROG DANCE FOR CHILDREN WITH SPECIAL Needs : Case Study in The Celebration of The International Dance Day in Surakarta Wahyu, Eko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2776

Abstract

The International Dance Day is celebrated every year as a self-expression since dances belong to the world. Jarog dance was created to facilitate children with special needs in order to celebrate the International Dance Day in Surakarta in 2013. The research method applied was data collection consisting of observation, interview and documentation. The data analysis was the narrative one by using qualitative approach. The research result shows that Jarog is a new creation dance which combines Jaranan dance and Reog dance. The main functions of Jarog dance are character education, entertainment, and self-confidence improvement. Persistent learning, special commands by beating kendhang loudly and raising hands highly in every movement change and the rhythm of the instruments supporting the dance are needed. There were internal and external factors which support and obstruct the dance performance. The internal supporting factors were motivation, identification, sympathy and audience’s interest, while the external supporting factors were the influence of the world recognition, the motto ”Solo Berseri”, and the development of technology. The obstructing internal factors were the difficulties in practicing and adapting the movement, gendhing which was memorized easily, the beats of kendhang and other instruments which should have been louder. The external obstructing factors were the time-consuming rehearsal which interfered the children’s study hours, less attention from their parents, and the poor cooperation with the supporting karawitan musicians. Hari tari dunia diperingati setiap tahun sebagai ekspresi diri karena tari dianggap sebagai milik dunia. Tari Jarog diciptakan untuk memenuhi anak berkebutuhan khusus dalam rangka merayakan hari tari dunia di Surakarta tahun 2013.  Metode penelitian meliputi pengumpulan data yang terdiri atas observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data bersifat naratip, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian yang dicapai, Jarog merupakan tari kreasi baru yang menggabungkan antara tari Jaranan dengan tari Reog. Fungsi utama tari Jarog adalah sebagai pendidikan karakter, hiburan yang menyenangkan, dan meningkatkan kepercayaan diri. Diperlukan pembelajaran yang ulet, aba-aba khusus melalui pukulan kendhang yang keras dengan angkatan tangan yang tinggi pada waktu perpindahan gerak tari serta bunyi irama instrumen sebagai pendukung tari. Terdapat faktor  yang mendukung dan menghambat dalam pentas tari, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor  internal yang mendukung adalah motivasi, identifikasi, simpati dan animo penonton dari luar. Adapun faktor eksternal yang mendukung adalah pengaruh pengakuan dunia, slogan Solo berseri, dan perkembangan teknologi. Faktor penghambat dari dari dalam antara lain kesulitan dalam berlatih dan membiasakan gerak, gendhing mudah yang dihafal, bunyi kendhang dan instrumen tertentu harus lebih keras. Faktor penghambat dari luar antara lain pada saat berlatih  menyita banyak waktu belajar, kurangnya perhatian orang tua, kerjasama dengan musik  karawitan pendukungnya.
PENDIDIKAN SENI TARI PADA ANAK USIA DINI DI TAMAN KANAK-KANAK TADIKA PURI CABANG ERLANGGA SEMARANG SEBAGAI PROSES ALIH BUDAYA Kusumastuti, Eny
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v5i1.826

Abstract

Pendidikan seni tari pada anak usia dini adalah salah satu sarana pendiidkan untuk mengembangkan kepribadian anak yang positif dalam mencapai kedewasaan.  Dalam proses mencapai kedewasaan, anak juga mengalami proses pengalihan kebudayaan sebagai model-model pengetahuan, nilai-nilai dan kepercayaan. Proses pengalihan kebudayaan yang meliputi proses sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi, dikenalkan pada anak sejak anak usia dini melalui proses pembelajaran seni tari, anak mampu ebrsosialisasi dengan guru, lingkungan, sekolah, teman sebaya; anak mampu membentuk pola-pola yangt etap dan mantap melalui proses meniru yang dilakukan secara terus menerus; anak mampu mengembangkan ebrbagai macam perasaan, hasrat, nafsu, serta emosi dalam kepribadiannya yang ditunjukkan dengan ekspresi gerak. DI samping itu, anak juga dapat mengenal seni budaya, adat istiadat, norma-norma, tata peraturan yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.   Kata Kunci : pendidikan seni tari, proses alih budaya, sosialisasi, inkulturasi, internalisasi.  
KESADARAN ESTETIS MENURUT HANS-GEORG GADAMER (1990-2002) -, Sunarto
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2212

Abstract

Hans-Georg Gadamer (1900-2002) adalah seorang filsuf dalam bidang hermeneutika yang sangat terkenal. Menjelang pensiunnya tahun 1960, kariernya menanjak dengan diterbitkan bukunya, Wahrheit und Method atau Truth and Method. Dalam bukunya Gadamer memberikan pemahaman pada tingkatan ontologis bukan metodologis. Di sini Gadamer ingin mencapai kebenaran tidak lewat metode melainkan dengan dialektika. Alasannya, dengan dialektika mengandaikan suatu kebebasan dalam mengajukan berbagai pertanyaan dibanding dalam proses metodis. Berangkat dari hal tersebut Gadamer merambah ke persoalan estetik (seni). Gadamer mengatakan bahwa dalam estetis ditemukan kebenaran, tetapi bukan kebenaran melalui metodis (penalaran) melainkan kebenaran yang menurut faktanya “berlainan dengan kebenaran metodis”. Gadamer juga mencetuskan tentang konsep “permainan”. Hans-Georg Gadamer (1990-2002) is a famous philosopher in Hermeneutics. During his retirement in 1960, his career escalated by the publishing of his book, Wahrheit und Method or Truth and Method. In his book, Gadamer gives an ontological and not a methodological understanding. In this case, Gadamer wanted to achieve the truth, not through method but by dialectics. The reason is that the dialectics enables people to imagine freedom in proposing various questions rather than those in methodical process. Starting from these things, Gadamer explored more on aesthetic subjects (arts). Gadamer said that in aesthetics, he found truth, but not the truth through methodical process (reasoning) but the truth based on its facts, “different from its methodical truth.” Gadamer also proposed a concept of “games.”
NILAI- NILAI BUDAYA DALAM KESENIAN TUTOR PMtoH Nilai-nilai Budttya dalam Kesenian Tutur PMtoh (Cultural Values in Art of PM toH) Yeningsih, Tata Kurnita
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 2 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i2.794

Abstract

Salah satu kesenian Aceh dalam bentuk tutur (cerita) adalah PMToH yang hidup danberkembang dalam masyarakat. Kesenian tersebut dalam penyajiannya didukung olehsatu penyaji saja dengan membawa pesan yang berbeda, pola penyajian yang dinamis darikesenian ini dapat melalui simbol-simbol tertentu yang memformulasikan perasaan danfungsi bahasa sebagai media komunikasi simbolik dan berbentuk puisi. Kesenian PMToHlahir sekitar tahun 1800, kesenian ini disebut dengan kesenian PMToH karena menurutpara pendengar dan pengemarnya hidung dari bapak Adnan itu mirip klakson PMToH.Kesenian itu terus digemari oleh masyarakat Aceh, hal ini terbukti dengan semakinbanyaknya permintaan tayangan kesenian tersebut di TVRI yang penayangannya sudah lebihdari dua tahun lalu. Kesenian tersebut dari hari ke hari terus mendapat tempat di hatirakyat, kesenian tersebut mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi dan sangatberpengaruh bagi masyarakat penikmatnya. PMToH merupakan seni tutur yangpenampilannya menggunakan atribut-atribut yang mendukung cerita. Atribut tersebutberupa benda-benda yang ada dalam kehidupan seperti; gayung air, panci, sendok, wig,baju, topi, palu, dan beberapa peralatan lain yang biasanya telah disesuaikan dengancerita.Kata kunci: kesenian, teather, dinamis, penyaji, puisi, tutur, simbolik
ASPEK HISTORIS WIRAWANITA DALAM BUDAYA JAWA (The Historical Aspect of Women's Bravery in Javanese Culture) Subandi, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 2 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i2.848

Abstract

Seiring perjalanan waktu , sejarah peradaban manusia mencatat berbagaiperisiwa penting dalam hidup manusia. Pada budaya Jawa pria dan wanitamengalami siklus dalam memimpin masyarakat. Wanita bukan lagidipandang sebagai lambang kesuburan. Wira wanita menunjukkan buktisejarah bahwa kepemimpinan wanita pernah terjadi di lingkungan budayaJawa. Berbagai prasasti yang tertinggal, arca dalam candi-candi, legende,karya sastra dan babat merupakan peningalan yang berharga agarmendapatkan makna baru dalam peradaban sekarang.Kata Kunci: Sejarah, Wirawanita, Budaya Jawa, Makna Baru

Page 62 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue