cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Core Subject : Education,
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 590 Documents
KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MENYUSUN TEKS CERITA PENDEK DENGAN MODEL QUANTUM DAN PROJECT BASED LEARNING (PBL) PADA SISWA SMP Rahman, Mahda Haidar; Zulaeha, Ida
Lingua Vol 11, No 1 (2015): January 2015
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui keefektifan pembelajaran menyusun teks cerita pendek secara tertulis dengan model quantum pada siswa kelas VII SMP, (2) mengetahui keefektifan pembelajaran menyusun teks cerita pendek secara tertulis dengan model Project Based Learning (PBL) pada siswa kelas VII SMP. (3) mengetahui perbedaan keefektifan antara pembelajaran menyusun teks cerita pendek secara tertulis menggunakan model quantum dengan model project based learning. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan kelas PBL sebagai kelas kontrol dan kelas quantum sebagai kelas eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran menyusun teks cerita pendek secara tertulis pada kelas VII efektif dilakukan dengan model quantum dan PBL. Pembelajaran menyusun teks cerita pendek secara tertulis pada kelas VII menggunakan model quantum lebih efektif dibanding dengan menggunakan  model PBL.This research aims to: (1) understand the effectiveness of learning to arrange short stories text written with the quantum model of class VII SMP, (2) understand the effectiveness of learning to arrange short stories text written project-based learning model (PBL) of class VII SMP. (3) know the difference between learning effectiveness arrange a short story text written using quantum model and project based learning model. The research used a quasi-experimental design with PBL class as the control class and quantum class as the experiment classs. The results showed that learning arrange a short story text written in class VII effectively with quantum models and PBL. Learning to arrange short stories text written in class VII quantum model is more effective than using PBL model.
REGISTER PENGASUHAN BAYI DI KEC. BANYUMANIK KOTA SEMARANG DAN DI KEC. ROWOSARI KAB. KENDAL: TELAAH ETNOLINGUISTIKREGISTER PENGASUHAN BAYI DI KEC. BANYUMANIK KOTA SEMARANG DAN DI KEC. ROWOSARI KAB. KENDAL: TELAAH ETNOLINGUISTIK Baehaqie, Imam
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

There is a slight different in the language use of baby parenting in Semarang Municipality and Kendal Regency.In this research the forms of baby parenting register in Semarang Municipality and Kendal Regency aredescribed and classified and the cultural background of the baby parenting register use in both second levelregions is outlined as well.The approach of the current study consists of two, namely theoretical and methodological approaches.Theoretically, the approach used in this research is the one of ethnolinguistics. In methodological terms,however, it is qualitative descriptive. The research data takes the form of all baby parenting registers inSemarang Municipality and Kendal Regency. The source of the research data is the utterance of mothersparenting their baby existing in both regions. The data collection is performed using conversation method with abasic technique in the form of captivate technique. Additionally, introspective method is also used. The data isanalyzed using qualitative method. The analyzed data is presented descriptively.From the obtained data, it is found that the baby parenting registers in Semarang Municipality and KendalRegency have quite varied forms. Those forms can be classified on the basis of (1) lingual unit, (2) lexiconsource, (3) need framing, and (4) actor.The cultural background of this baby parenting register use is the situational factor taking the form of thelocal social culture. This social culture can be seen in the form of the tradition developing in the baby parenting,since the age of 1 day, 7/9/11/13 days, selapan (35 days), until 1 year old developed in those two second levelregions.In addition, another issue supporting the formation of the baby parenting register is the difference in point ofview towards an event taken place around the language users in utterance event, between those in SemarangMunicipality and Kendal Regency.From the available conclusion, it is recommended for language researchers and followers of Copenhagenschool, i.e. a school of thought which, in addition to attempting to comprehend a language pattern, try tocomprehend any socio-cultural fields in general (in the context of the language) to perform research on registerin other fields. The policy makers in childhood education field are expected to be able to use it as supplementalinformation in making a policy concerning the early childhood education since seeing the lexicons related to thebaby parenting enables one to discover the working description of baby parenting.Keywords: register, baby parenting, and ethnolinguistics.
NILA-NILAI ISLAMI DALAM NOVEL AYAT-AYAT CINTA KARYA HABIBBURAKHMAN EL SHIRAZY Sunardi, Ahmad
Lingua Vol 12, No 1 (2016): January 2016
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya sastra merupakan media komunikasi antara pengarang dan pembaca yang pesannya mempunyai nilai yang dapat menghegemoni pemikiran dan pola hidup masyarakat. Nilai-nilai dalam karya sastra seyogyanya menyiratkan nilai luhur yang dapat memperkokoh karakter bangsa. Nilai-nilai tersebut adalah nilai religius dan karya sastra religius yang fenomenal adalah novel Ayat-ayat Cinta karya Habibburakhman El Shirazy. Hasil kajian novel AAC, nilai religius merupakan nilai yang paling dominan. Nilai religius berisi nilai-nilai islami yang selaras dengan rukun Iman dan rukun Islam. Nilai islami dalam teks novel AAC mempunyai kebermanfaatan dalam rangka memperkokoh karakter bangsa untuk bertakwa kepada Allah Swt. dan mencontoh kehidupan nabi Muhammad Saw. Nilai pendidikan karakter yang sesuai dengan substansi Nilai/Karakter yang ada pada SKL SMA/MA/SMLB ditemukan dalam novel AAC yaitu (1) Iman dan Taqwa, (2) disiplin, (3) tanggung jawab, dan (4) jujur. Pemanfaatan nilai karakter dalam novel AAC dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik meliputi kegiatan; a) mengamati; b) menanya; c) mengumpulkan informasi; d) mengasosiasi; dan e) mengkomunikasikan sesuai dengan pendekatan yang ada dalam kurikulum 2013. Saran untuk pembaca dan sastrawan hendaknya nilai islami yang terkandung dalam novel ACC bisa dijadikan inspirasi, dijadikan konservasi nilai budaya dan teladan dalam kehidupan untuk memperkokoh karakter bangsa.Literary work is communication between authors and readers which message contains values that capable to hegemonize thought and lifestyle of the people. The values of literary works should strengthen the characters of the nation. This values is the religious value and novel Ayat-ayat Cinta is phenomenal religious literature work created by Habibburakhman El Shirazy. Review result of the novel AAC, religious values is most dominant value. Religious values contains islamic values that is consistent with the pillars of the Islamic faith and the pillars of Islam. Islamic values in the novel AAC are beneficial in strengthening the character of the nation’s piety to Allah. and modeled on the life of the prophet Muhammad Saw. The value of character education in accordance with the existing value in the SKL SMA/ MA/ SMLB found in the novel AAC namely (1) Iman and Taqwa, (2) discipline, (3) responsibility, (4) honesty. Exploitization the value of the characters in the novel AAC can be done in learning activity with a scientific approach including; a) observing; b) asking; c) collecting information; d) associating; e) communicating that appropriate with curriculum in 2013.Suggestions for readers and writers should use Islamic values from novel ACC as inspiration, as conservation of cultural values and exemplary in life to strengthen the character of the nation.
PENGEMBANGAN MODEL MATERI AJAR BERBASIS KONTEKS SOSIOKULTURAL DI SMP (Kontribusi Sosiolinguistik dalam Peningkatan Kompetensi Komunikatif Berbahasa Indonesia) Yuniawan, Tommi
Lingua Vol 5, No 1 (2009): January 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model pengembangan materiajar bahasa Indonesia untuk SMP beserta desain pembelajarannya sesuaidengan pendekatan komunikatif berbasis konteks sosiokultural siswa. Melaluimodel pengembangan materi ajar tersebut diharapkan dapat mengembangkanperilaku berbahasa siswa, baik secara reseptif maupun produkitf sesuai dengankebutuhan komunikasi siswa dalam berbagai domain sosial. Untuk mencapaitujuan tersebut, pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini adalahpendekatan reseach and development (R&D). Model panduan dirumuskansecara kolaboratif antara peneliti, pakar ahli, guru, dan instansi terkait (DinasPendidikan Nasional) melalui disksusi terfokus (focus group discussion). Hasilpenelitianini adalah bahwa pengembangan materi ajar berbasis kontekssosiokultural masih belum dilakukan oleh guru bahasa Indonesia. Hal inidisebabkan alokasi waktu yang dimiliki guru sepenuhnya digunakan untukmengajar dan merancang perangkat pembelajaran. Konsep panduanpengembangan materi ajar ini disusun dalam bentuk materi ajar berbasiskonteks sosiokultural dilakukan mengikuti syarat-syarat yang meliputi: (a)acuan meliputi kurikulum, ilmu-ilmu yang relevan, kebutuhan bahasa anakatau siswa, dan hasil-hasil buku-buku pelajaran bahasa dan atau kegiatanbelajaran mengajar di kelas, (b) rancangan memperhatikan taksonomi bahanajar yang baku, yaitu buku siswa, buku kerja dan buku guru, (c) organisasi, (d)kebahasaan, (e) keterampilan berbahasa, (f) pengembangan kontekssosiokultural, dan (g) topik dan wacana. Pengembangan proses belajarmengajar (PBM) dengan pendekatan komunikatif berbasis kontekssosiokultural siswa dikembangkan dengan mempertimbangkan (1) prinsippembelajaran, (2) tujuan pembelajaran, (3) ruang lingkup, dan (4) pelaksanaanpembelajaran, dan (5) evaluasi pembelajaran.Kata kunci: materi ajar, sosiokultural, sosiolinguistik, dan pendekatankomunikatif
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENANGKAP MAKNA TEKS CERITA PENDEK SECARA LISAN MELALUI MEDIA PAPERCRAFT DAN TEKNIK URAI KEJADIAN Huda, Tika Fitri Nurul; Pristiwati, Rahayu
Lingua Vol 11, No 2 (2015): July 2015
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan penerapan media papercraft dan teknik urai kejadian pada pembelajaran menangkap makna teks cerita pendek, mengetahui perubahan sikap religius peserta didik, mengetahui perubahan sikap sosial peserta didik, dan memaparkan peningkatan hasil tes keterampilan menangkap makna teks cerita pendek peserta didik. Subjek penelitian ini adalah keterampilan menangkap makna teks cerita pendek secara lisan kelas VIIC SMP Negeri 9 Semarang. Pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Dari hasil penelitian, diketahui adanya peningkatan persentase ketuntasan klasikal yang diperoleh peserta didik dalam menangkap makna teks cerita pendek secara lisan. Pada siklus I persentase ketuntasan klasikal aspek sikap religius 85%, meningkat menjadi 92%. Berikutnya persentase aspek sosial pada siklus I seperti teliti 85% meningkat menjadi 92%, kreatif 65% meningkat menjadi 96%, percaya diri 65% meningkat menjadi 97%, tanggung jawab 75% meningkat menjadi 95%. Aspek terakhir yang dijadikan pedoman dalam peningkatan persentase kelas adalah aspek ketrampilan. Aspek ketrampilan siklus I sebesar 69% dan mengalami peningkatan mencapai 100% pada siklus II.The purpose of this research is to explain function by papercraft and tragedy technics on in grasping the meaning of the text short stories, to explain changes of religious attitude, to explain changes of social attitude, and to describe increasing of final skill aspect. The subjects were the skills to grasp the meaning of text short stories orally VIIC class Semarang SMP Negeri 9. Collecting data using a test technique and nontes. From the research, it is known to an increase in the percentage obtained by classical completeness learners in grasping the meaning of the text short stories orally. In the first cycle percentage classical completeness aspect of religious attitudes 85%, increased to 92%. Next percentage of social aspects in the first cycle as closely 85% increased to 92%, increasing to 65% creative 96%, 65% confidence increased to 97%, 75% responsibility increased to 95%. Aspects of knowledge also increased from the first cycle to the second cycle of 71% increased to 100%. The last aspect is used as guidelines in increasing the percentage of the class is the skill aspect. Aspects skills first cycle of 69% and an increase to 100% in the second cycle.
PENDEKATAN E-LEARNING DENGAN FASILITAS BLOG SEBAGAI MEDIA DALAM MATA KULIAH READING DAN WRITING Utami, Triyoga Dharma; Fitriati, Sri Wuli
Lingua Vol 7, No 1 (2011): January 2011
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study is a basic one. The objectives are to describe the readiness of planning and implementing theinternet-based program in English Department, to appraise student motivation and need in using the internetbasedlearning media that support their reading and writing skills in and outside the classroom, and to assessthe implementation, use and development of blog media in their reading and writing classes for one semester.The study involves the students from the reading and writing classes during the data collection by havingquestionnaires, discussion and observation to each class blog. The descriptive-qualitative approach is used withregards to quantitative outputs from the questionnaires. The study shows that the availability of internet facility inEnglish Department still needs improvement along with the extended requirements for the internet-basedlearning process, student skill in information technology and their motivation to access more quality information.Proper planning should be arranged in the learning process that uses blogs as the media, by emphasizingvalues, characters, novelty of the ideas revealed in the student writing works.Kata kunci: e-learning, media blog, jaringan internet, proses pembelajaran
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPENDAPAT MAHASISWA MELALUI PROBLEM BASED LEARNING (PBL) Syaifudin, Ahmad; Sulistyaningrum, Septina
Lingua Vol 10, No 2 (2014): July 2014
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rasa malu atau kecemasan mahasiswa menjadi kendala utama setiap individu untuk berkomunikasi, termasuk berpendapat. Karena itu, melalui problem based learning (PBL) mahasiswa termotivasi untuk berpikir secara kritis dan analitik sehingga kemampuan berpendapat meningkat. Desain penelitian ini dilaksanakan melalui lesson study (LS) yang terdiri atas tahap plan, do, dan see. Hasil kajian ini dinyatakan bahwa ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan mengemukakan pendapat, yakni kecemasan (takut) dan kemampuan memahami konsep materi yang rendah. Akan tetapi, melalui model PBL dengan sistem LS, rasa takut mahasiswa dapat dikikis. Pemahaman mahasiswa dalam konsep materi menjadi meningkat. Peningkatan itu diimbangi dengan peningkatan kemampuan mengemukakan pendapat sebanyak 91% dari jumlah mahasiswa yang terlibat dalam pembelajaran.This research aims to motivate students to think critically and analytically, through Problem-based Learning, thus, their ability to give argument increases. It needs to do since the students’ shyness and anxiety becomes major obstacles for each individual both to communicate and to give argument. Research design is done through Lesson Study having three stages; they are plan, do, and see. Result of this investigation shows that there are two factors causing the decrease of students’ ability to give argument. They are their anxiety (fear) and their low ability to understand subject matter concept. But, through Problem-based Learning with Lesson Study system, the students’ fear can be eliminated. The students’ understanding of subject matter concept also increases. This increase is balanced by the increase of students’ ability to give argument up to 95% of a number of students involved in this learning.
REGISTER KHOTBAH JUMAT BERBAHASA JAWA (STUDI KASUS DI MASJID AGENG KABUPATEN KLATEN) Miji Lestari, Prembayun; Dyah Kurnia, Ermi
Lingua Vol 10, No 1 (2014): January 2014
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang diangkat dalam tulisan ini berkaitan dengan register khotbah Jumatberbahasa Jawa khususnya yang dipergunakan para khotib di masjid Ageng, Jatinom,Kabupaten Klaten. Kajian yang dipergunakan yakni sosiolinguistik dengan jenis penelitiandeskriptif kualitatif. Bahasa Jawa dipergunakan oleh khotib sebagai bahasa pengantarmengingat mitra tutur –dalam konteks ini adalah jamaah sholat Jumat- sebagaimasyarakat tutur Jawa. Variasi bahasa lain yang dominan muncul adalah bahasa Arab danserpihan bahasa Indonesia sering dipergunakan khotib dalam penyampaian khotbahnya.Register atau kekhasan bahasa dalam ranah agama yakni khotbah Jumat berbahasa Jawaini selain adanya penggunaan variasi bahasa juga ditemukan adanya ajakan, larangan,perintah dan dominasi ungkapan-ungkapan tradisional Jawa. Karakteristik registerkhotbah Jumat bersifat terang dan jelas, singkat padat, meyakinkan dan standar This study aimed to describe problems related to registers of Javanese language Fridaysermon, especially delivered by the preachers of Ageng Mosque, Jatinom, Klaten Regency.This study applied sociolinguistics with descriptive qualitative research. The preachersdelivered their sermon in Javanese language since the speech-partner, which in thiscontext was Jumat prayers, was society of Javanese language speech. Other dominantvariations of other languages used were Arabic language and cuttings of Indonesianlanguage which were often used by the preachers in delivering their sermon. Thelanguage registers and special characteristic in religion field were the Javanese languageFriday sermon and the existence of applying language variation found in persuasion,prohibition, command, and Javanese dominant traditional expressions as well. Thespecial characteristics of Friday sermon registers were bright and clear, concise,convincing, and standard.
KODE DAN KESANTUNAN DALAM RAPAT DINAS BERPERSPEKTIF GENDER DAN JABATAN Joko Santoso, B. Wahyudi
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang dikaji adalah (i) bagaimana realisasi bentuk pemilihan kode dalam tindak tutur direktif (TTD) yang dilakukan oleh peserta rapat dinas, baik di tingkat fakultas maupun universitas di lingkungan Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam perspektif jender dan jabatan, (ii) bagaimana realisasi kesantunan TTD yang dilakukan oleh peserta rapat dinas tersebut? Metode penyediaan data berupa metode percakapan dengan teknik dasar sadap, serta teknik lanjutan teknik simak libat cakap, yakni menyimak dan berpartisipasi dalam pembicaraan sambil mencatat. Adapun metode analisis menggunakan metode padan, submetode sosiopragmatis dengan teknik ganti, sisip, dan perluas yang disampaikan secara deskriptif-analitik-interpretatif. Metode penyajian hasil analisis adalah informal. Hasil penelitian ini adalah realisasi penggunaan kode TTD, baik oleh rektor, ketua senat universitas, sekretaris senat universitas, dekan, pembantu dekan, kepala bagian, dan kepala subbagian (laki-laki dan perempuan) berupa kode Indonesia secara dominan, baik baku maupun tidak baku; dan sebagian kecil berupa campur kode (Indonesia tidak baku, Inggris, Jawa (halus dan ngoko), serta Arab. Dari sisi realisasi kesantunan berbahasa, baik pemimpin rapat maupun peserta rapat (laki-laki) cenderung menggunakan tindak tutur langsung, baik berpenanda kesantunan, seperti tolong, harap, mari, dan dipersilakan maupun tidak berpenanda dibandingkan dengan ber-TTD tidak langsung. Sebaliknya, pemimpin atau perserta rapat perempuan cenderung ber-TTD secara tidak langsung dengan modus interogatif. Arah TTD bersifat dua arah, baik dari pemimpin rapat maupun peserta rapat. Namun, kecenderungannya, arah tersebut TTD berasal dari yang memimpin rapat ke yang dipimpin (dari pejabat versus nonpejabat atau dari pejabat yang lebih tinggi ke yang lebih rendah). This study aimed to investigate (i) how the realization of the electoral code in the directive speech acts (TTD) conducted by a formal meeting participants, both at the faculty and university in the State University of Semarang in genre and position perspective, (ii) how the realization of politeness TTD conducted by the formal meeting participants. The data collecting method was conversation with the basic method of “tapping techniques“, advanced techniques of listening, watching, and talking in the conversation by noting. The method of data analysis was padan (matching) method. The submethod applied was sociopragmatic method with changing, inserting, expanding, and paraphrasing techniques, delivered of analytic-descriptive-interpretative writing. The method of presenting results used an informal presentation. The results of this study were: (1) the realization of TTD code, either by rector, chairman of the university senate, secretary of the university senate, dean, assistant dean, head of department, or head of subdivision officials (men and women) used Indonesian code predominantly, either formal or not formal usage, and in small groups, they used the mixed code of informal Indonesian, English, Javanese (smooth and not-smooth 'ngoko'), and Arabic; (2) the realization of linguistic politeness, both meeting leaders and meeting participants (men) tended to use direct speech act, either politeness sign, like tolong, harap, mari, and dipersilakan or not politeness sign compared to using of indirect speech act. On the contrary, the meeting leader or women participant tended to use the indirect speech act with the interrogative mode. The direction of the directive speech act was two-way direction, for both meeting leaders and participants of the meeting. However, apparently, the direction of directive speech act tended to come from the meeting leader to the participants meeting (from official(s) versus non-officials or of higher official(s) to lower one(s)).
PENGEMBANGAN RANCANGAN MATA KULIAH SASTRA BANDINGAN DENGAN METODE SINKRONIK-DIAKRONIK BERBASIS LAPANGAN DI PRODI BAHASA DAN SASTRA JAWA -, Sukadaryanto; Nugroho, Yusro Edy
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, apakah pengembangan rancangan perkuliahan Sastra Bandingandengan metode sinkronik-diakronik berbasis lapangan dapat meningkatkan hasil belajar dan etosmahasiswa . Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang dirancang melalui duasiklus. Subjek penelitiannya, mahasiswa prodi Sastra Jawa Unnes semester 6 sejumlah 30orang.Penelitian menggunakan dua instrumen, yaitu instrumen tes dan instrumen nontes.Teknik analisisdata menggunakan analisis deskriptif prosentase dan secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasilpenelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut. Hasil penelitian menunjukkan bahwarancangan perkuliahan sasta bandingan dengan metode sinkronik-deakronik berbasis lapangan terbuktisecara maknawi mampu meningkatkan kompetensi mahsiswa dalam membandingkan cerita rakyat yangmeliputi aspek peceritaan, unit naratif, fungsi pelaku, motif cerita, dan latar belakang cerita. Pada siklus Inilai rata-rata hasil belajar mahasiswa yang diungkap dalam kompetensi membandingkan cerita rakyatberbasis lapangan adalah 81,64, pada siklus II naik menjadi 88,09. Etos belajar mahasiswa menunjukkanperilaku yang positif dilihat dari awal perkuliahan sampai akhir perkuliahan. Hal ini tampak pada keaktifanselama perkuliahan, keterlibatan dalam bekerja sama di lapangan, dan keseriusan dalam mengerjakantugas.Kata kunci: sastra bandingan, sinkronik-diakronik