cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Farmasi
ISSN : 16938666     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JIF merupakan jurnal yang dikelola oleh Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia, dan diterbitkan dua kali dalam setahun. Jurnal ini dirancang sebagai sarana publikasi penelitian yang mencakup secara rinci sejumlah topik dalam bidang farmasi yang berkaitan dengan farmasi sains dan teknologi serta klinik dan komunitas. Jurnal ini menyediakan sebuah forum sebagai sarana pertukaran gagasan dan dan informasi antar peneliti, akademisi dan praktisi sehingga diharapkan mampu mendukung dan menginisiasi berbagai penelitian terkini yang terkait dengan ilmu kefarmasian. Hasil penelitian yang disajikan dalam jurnal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu di bidang farmasi dan kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Pengaruh vitamin C dan vitamin E terhadap stabilitas EGCG (epigallocathecin gallate) pada fraksi etil asetat ekstrak daun teh hijau(Camellia sinensis L.) Naniek Widyaningrum; Titiek Sumarwati; Waode Sitti Sukryana
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 15 No. 2 (2019): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol15.iss2.art4

Abstract

IntisariLatar belakang: Daun teh hijau (Camellia sinensis L.)memiliki kandungan senyawa EGCG tertinggi. EGCG memiliki sifat yang mudah mengalami oksidasi dan tidak stabil selama penyimpanan. Untuk mencegah terjadinya oksidasi maka perlu dilakukan penambahan antioksidan alami salah satunyavitamin C dan vitamin E.Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan vitamin C, vitamin E dan kombinasi keduanyaterhadap stabilitas EGCG pada fraksi etil asetat ekstrak daun teh hijau.Metode:Jenis penelitian ini adalah experimental dengan post test only control group design.Ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensisL.)didekoktasi 90oC selama 30 menit, kemudian dilakukan ekstrim dingin dan diberi vitamin C, vitamin E dan kombinasi keduanyayang di simpan pada hari ke-0 dan hari ke-15 pada suhu 2oC, dilakukan fraksinasi dengan etil asetat. Kadar EGCG diuji menggunakan HPLC dan dianalisis menggunakan One Way Anova dengan taraf kepercayaan 95%.Hasil:Ekstrak daun teh hijau yang ditambah vitamin C menghasilkan kadar EGCG lebih tinggi dibanding vitamin E, kombinasi vitamin C dan vitamin E serta kontrol (23,82%w/w dibanding 23,56%w/w, 15,98%w/w, 13,65%w/w). Buffer solution pH-4 menghasilkan kadar EGCG paling tinggi (29,045w/w).Kesimpulan:Ektrak daun teh hijau dengan metode ekstrim dingin dan penurunan pH-4 dengan penambahan vitamin C menghasilkan kadar EGCG lebih tinggi dibanding vitamin E atau kombinasi keduanyaKata kunci:Camellia sinensis L., EGCG, vitamin C, vitamin E, StabilitasEffects of vitamin C and E on the stability of epigallocatechin gallate (EGCG) in the ethyl acetate fraction of green tea (Camellia sinensis L.) leaf  AbstractBackground: Green tea leaves (Camellia sinensis L.) have the highest metabolite content, epigallocatechin gallate (EGCG). Naturally, this compound susceptible oxidizes and becomes unstable when stored. Therefore, it is necessary to add natural antioxidants, such as vitamin C and vitamin E.Objective: To determine the effects of adding vitamin C, vitamin E, and a combination of both on the stability of EGCG in the ethyl acetate fraction of green tea leaves.Method: Green tea leaf extract was put in decoction process at 90C for 30 minutes. Extract was given vitamin C, vitamin E and a combination of both stored on day 0 and day 15 at 2oC. Then fractionation was using ethyl acetate. EGCG levels were tested using HPLC. Data analysis was using One Way Anova with a 95% confidence level.Results: The ethyl acetate fraction of green tea leaf added with vitamin C produced higher EGCG levels than vitamin E, and combination of both vitamins significantly (p<0.05).Conclusion:Adding vitamin C and E could maintain the stability of EGCG content.Keywords: Camellia sinensis L., EGCG, vitamin C, vitamin E, stability
EFEK ANTI PROLIFERATIF EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG TANAMAN CANGKRING (Erythrina fusca Lour) TERHADAP SEL MYELOMA Meiyanto, Edy; Sismindari, Sismindari; Triastuti, Asih
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 1 No. 1 (2004)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTErythrina fusca Lour has been traditionally used to cure hepatosis, malaria, hematuria, andcancer. The bark of this plant contains  carotene, polifenol, thiamin, saponin, and alkaloiderythralin and erythramin. The aim of this research was to know the underlying mechanism of itseffect as antiproliferative against Myeloma cells. The bark powder was extracted using ethanol(70%) and was used for the experiment after freezed drying. Citotoxicity test of this extractperformed LC50 of 0,367 mg/ml. The rate of proliferation was observed by doubling time effectagainst proliferating cells. The cells were exposed with ethanolic extract in RPMI 1640 mediumcontaining 1) 0,25 mg/ml 2) 6,25x10-2mg/ml, and 3) 1,56x10-2mg/ml and every 0, 6, 12, 24, 48,and 72 hours cell were counted. The result showed that extract treated cells delayed proliferation atall concentration with doubling time dose 2) of 161, 38 hours, and dose 3) of 93,91 hours, whereasdoubling time of control cells were 69,86 hours. Ethidium bromide staining of extract treated cellsshowed apoptosis like profile. These results indicated that ethanolic extract of the bark of Erythrinafusca Lour has an antiproliverative effect on Myeloma cell line. Several mechanisms might accountfor this effect, like inhibiting cell cycle progression, signal transduction, causing delayed andapoptosisKeywords: Erythrina fusca Lour, atiproliferative, Myeloma
PROFIL SENYAWA DAN AKTIFITAS ANTIOKSIDAN DAUN YAKON (Smallanthus sonchifolius) DENGAN METODE DPPH DAN CUPRAC Arde Toga Nugraha; Muhammad S. Firmansyah; Pinus Jumaryatno
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 13 No. 1 (2017): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstract Yakon (Smallanthus sonchifolius) is a plant of the Asteraceae family. Traditionally this plant has been protected immune from oxidant damage. The objective of this research was to evaluate the potential antioxidant activity of yacon leaf (Smallanthus sonchifolius) based on its antioxidant activity which carried by DPPH and CUPRAC methods. It also searches compounds from the leaves yacon (Smallanthus sonchifolius). The research process begins with the extraction process used soxletasion with 96% ethanol. The extract was tested qualitatively DPPH and calculated levels of total flavonoids and total phenolic. Result of total flavonoids was 98.229 mg QE / g. Result of total phenolic content was 27.246 mg GAE / g. Extract later in the fractionation and produces seven factions. The results of the fractions are conducted quantitative DPPH and CUPRAC. The value of antioxidant activity using DPPH method was IC50 106.57 µg/mL and CUPRAC 31407.79 REmol/g extract. The results showed that yacon (Smallanthus sonchifolius) has a good potential as an antioxidant. Keywords : Yacon, Smallanthus sonchifolius, DPPH, CUPRAC Intisari Yakon (Smallanthus sonchifolius) merupakan tanaman dari famili Asteraceae. Secara tradisional tanaman ini dipercaya dapat memelihara daya tahan tubuh dari kerusakan oksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan dari daun yakon (Smallanthus sonchifolius) berdasarkan pada hasil pengujian menggunakan metode DPPH dan CUPRAC serta kandungan senyawa yang terdapat dalam tumbuhan tersebut. Proses penelitian diawali dengan proses ekstraksi menggunakan metode sokhletasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kemudian diuji secara kualitatif menggunakan reagen DPPH serta dilakukan penghitungan kadar total flavonoid dan total fenoliknya. Hasil perhitungan total flavonoid dan total fenolik yang diperoleh dari ekstrak tersebut adalah sebesar 98,229 mg QE/g ekstrak dan 27,246 mg GAE/g. Ekstrak kemudian difraksinasi hingga dihasilkan tujuh fraksi. Fraksi-fraksi tersebut kemudian diuji aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH dan CUPRAC. Nilai IC50 yang diperoleh dengan menggunakan metode DPPH adalah sebesar 106,57 µg/mL. dan CUPRAC sebesar 31407,79 µmol RE/g ekstrak. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa yakon (Smallanthus sonchifolius) memiliki potensi yang cukup baik dalam perannya sebagai antioksidan. Kata kunci : Yakon, Smallanthus sonchifolius, DPPH, CUPRAC 
EVALUASI EFEKTIVITAS TERAPI PADA PASIEN ASMA DI RUMAH SAKIT KHUSUS PARU RESPIRA YOGYAKARTA KALASAN PERIODE NOVEMBER 2014 - JANUARI 2015 Okti Ratna Mafruhah; Chynthia Pradiftha Sari
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 12 No. 2 (2016): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstract Asthma is a chronic respiratory disease characterized by inflammation, the increased reactivity against a variety of stimulus, and obstruction of the airways which can be returned spontaneously with or without appropriate treatment.Priority treatment of asthma has so far been shown to control the symptoms. The treatment has been carried out effectively to lower morbidity, because effectiveness is only achieved if the accuracy of the drug to the patient compliance. The effectiveness of asthma treatment can be determined by whether or not controlled asthma attacks suffered by patients. Assessment of asthma control can be done by using a questionnaire Asthma Control Test (ACT). This research was conducted to find out the description of the therapyand the effectiveness of the therapy by using a questionnaire (ACT) in a special Hospital Pulmonary Respira Yogyakarta region UPKPM Kalasan. This research is observational research with cross sectional design and data collection carried out retrospectively with sampling purposive sampling basis that meets the criteria for inclusion. The type of data used is primary data that directly interview patients using questionnaires and secondary data is medical records of patients with asthma. Research results obtained a description of therapy is often given to patients with asthma are Salbutamol and Aminofilin combination therapy in patients with mild persistent asthma degrees. The effectiveness of asthma questionnaires of the ACT i.e. rated 62% (25 patients) uncontrollable or therapy is not effective, 38% (15 patients) asmanya controlled or the effectiveness of the therapy well and there were no patients who get a highly effective antiasma therapy. Keyword : Asthma, overview therapy, conformity of therapy, effectivenessIntisari Asma merupakan penyakit kronis saluran pernapasan yang ditandai oleh inflamasi, peningkatan reaktivitas terhadap berbagai stimulus, dan sumbatan saluran napas yang bisa kembali spontan dengan atau tanpa pengobatan yang sesuai. Prioritas pengobatan penyakit asma sejauh ini ditunjukkan untuk mengontrol gejala. Pengobatan secara efektif telah dilakukan untuk menurunkan morbiditas karena efektivitas terapi hanya tercapai jika ketepatan obat untuk pasien telah sesuai. Efektivitas terapi asma dapat diketahui dengan terkontrol atau tidaknya serangan asma yang dialami pasien. Penilaian terhadap kontrol asma dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner Asthma Control Test (ACT). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran terapi dan efektifitas terapi dengan menggunakan kuesioner ACT di Rumah Sakit Khusus Paru Respira Yogyakarta daerah UPKPM Kalasan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan pengambilan sampel secara purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Jenis data yang digunakan adalah data primer yaitu wawancara langsung kepada pasien dengan menggunakan kuesioner dan data sekunder yaitu data rekam medis pasien asma. Hasil penelitian diperoleh gambaran terapi yang sering diberikan pada pasien asma adalah terapi kombinasi Salbutamol dan Aminofilin. Tingkat efektivitas asma dinilai dari kuesioner ACT yaitu 62% (25 pasien) tidak terkontrol atau terapi tidak efektif, 38% (15 pasien) asmanya terkontrol atau efektivitas terapi baik dan tidak ada pasien yang mendapatkan terapi antiasma yang sepenuhnya efektif.Kata kunci : Asma, gambaran terapi, kesesuaian terapi, efektivitas terapi 
ISOLASI SENYAWA UTAMA KULIT BATANG TUMBUHAN PINUS DARI EKSTRAK ETIL ASETAT Afdhil Arel; Dira Anggun Setiawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 12 No. 2 (2016): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstract Sample of bark Pine merkusii Jungh. & De Vriese extracted with different polarity ranging from non-polar, semi-polar to polar. In this study, ethyl acetate was chosen as a solvent to extract the sample. Separation of the compound of the ethyl acetate extract done using column chromatography and monitored by Thin Layer Chromatography (TLC). Some fraction that showed the same spot pattern on the separation by TLC, has been combined as one fraction. The results of separation by TLC showed some good spot patterns, which are produced by several compounds: compounds A1, compounds B1, compound C1, compound D1, E1 compound, and the compound F1. Compounds that have a single spot A1 is then performed recrystallization and spectrometry analysis. The analysis showed that the compound A1 has amorphous shaped, yellowish-white, odorless, and has a melting point of 175 ° C-178 ° C. The results of IR spectrum of this compound showed a strong absorption at wave number 3412.67 cm-1 (OH), 2916.09 cm-1 (N-H), and 1613.95 cm-1 (C = O). The results of UV spectra showed the compound absorbs light at a wavelength maximum at 212.50 nm (0,517 A). The test results of phytochemical of compounds A1, indicates that this compound contains flavonoids and phenol. Based on the UV and IR analysis, it can be concluded that the compound A1 is a flavonoid compound. Keyword : Pine merkusii, column chromatography, recrystallization Intisari Sampel kulit batang Pinus merkussi Jungh. & De Vriese diekstraksi menggunakan pelarut dengan perbedaan polaritas mulai dari non polar, semi polar hingga polar. Dalam penelitian ini, etil asetat dipilih sebagai pelarut untuk mengekstraksi sampel. Pemisahan senyawa dari ekstrak kental etil asetat dilakukan menggunakan kromatografi kolom dan dimonitor dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Fraksi yang menunjukkan pola noda yang sama pada hasil pemisahan dengan KLT, digabungkan. Hasil pemisahan kromatografi lapis tipis tersebut menunjukkan beberapa pola noda yang baik, yang dihasilkan oleh beberapa senyawa, yaitu senyawa A1, senyawa B1, senyawa C1, senyawa  D1, senyawa E1, dan senyawa F1. Senyawa yang memiliki noda tunggal adalah senyawa A1, sehingga dilakukan rekristalisasi dan beberapa analisis terhadap senyawa tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa senyawa A1 berbentuk amorf, berwarna putih kekuningan, tidak berbau, dan mempunyai titik leleh 175°C-178°C. Hasil spektrum IR menunjukkan adanya serapan yang kuat pada bilangan gelombang 3412.67 cm-1 (OH), 2916.09 cm-1 (N-H), dan 1613.95 cm-1 (C=O). Hasil spektrum UV menunjukkan senyawa mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang maksimum pada 212.50 nm (0,517 A). Hasil uji fitokimia senyawa A1 menunjukkan bahwa senyawa tersebut memberikan reaksi positif terhadap uji kandungan flavonoid dan fenolik Berdasarkan data analisa UV dan IR yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa senyawa A1 diduga termasuk dalam golongan flavonoid.  Kata kunci : Pinus merkussi, kromatografi kolom, rekristalisasi 
Studi ketidaksesuaian pengobatan pada pasien geriatri rawat inap Ulfi Handayani; Ilham Alifiar; Keni Idacahyati
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 14 No. 2 (2018): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol14.iss2.art4

Abstract

IntisariLatar belakang: Kecenderungan pasien geriatri mengkonsumsi banyak obat menimbulkan resiko timbulnya efek yang tidak diinginkan akibat obat. Salah satu acuan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi penggunaan atau peresepan obat pada geriatri adalah Beers Criteria, panduan yang spesifik untuk pengobatan pada populasi geriatri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase jumlah penggunaan obat berdasar Beers Criteria (Beers List). Metode: Metode yang digunakan adalah observasional dengan rancangan deskriptif dan pengambilan data dilakukan secara prospektif terhadap resep pasien geriatri rawat inap RSUD dr. Soekardjo. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40 pasien (61,0%) dari total 65 pasien geriatri rawat inap menggunakan obat yang tidak tepat berdasarkan Beers Criteria. Dari 40 pasien tersebut terdapat 59 obat yang masuk kedalam Beers Criteria dengan 5 jenis obat yang memiliki rekomendasi dari bukti ilmiah yang kuat untuk dihindari, yaitu kategori 1 digoxin 10 item obat (17,5%), alprazolam 2 item obat (3,5%), ketorolac 8 item obat (14,0%), kategori 2 tramadol 2 item obat (3,5%) dan kategori 3 ranitidin 35 item obat (61,4%). Kesimpulan: Sehingga dapat disimpulkan dari penelitian ini yaitu pada pasien geriatri yang di rawat inap di RSUD dr. Soekardjo terdapat ketidaksesuain pengobatan (PIMs; potentially inappropriate medication) berdasar Beers Criteria.Kata kunci : Geriatri, Beers Criteria, PIMs, ketidaksesuaian pengobatan.Potentially inappropriate medication among geriatric inpatientsAbstractBackground: The pathology and physiology in geriatrics tend to make them consume more medications that carry a greater risk of experiencing side effects and adverse drug interactions. One of the references to evaluate drug use or prescription in geriatrics is the Beers Criteria, which describe a new type of basic guidelines, a specific guide to the treatment for geriatric population. Objective: This study aimed to determine the percentage of drug use according to the Beers Criteria. Methods: The method used was observational descriptive design in which data was taken retrospectively from the prescriptions for geriatric inpatients. Results: Forty patients (61.0%) out of a total of 65 identified geriatric inpatients experienced a potentially inappropriate drug use based on the Beers Criteria. In 40 patients, 59 drugs were found to meet the Beers Criteria with 5 types of drugs to be avoided based on the recommendation of strong scientific evidence, including 10 items of Digoxin (17.5%) 2 items of Alprazolam (3.5%), and 8 items of Ketorolac (14.0%) all in category 1, 2 items of Tramadol (3.5%) in category 2, and 35 items of Ranitidine (61, 4%) in category 3. Conclusion: The geriatric inpatients in dr. Soekardjo Hospital experienced PIMs (potentially inappropriate medications) according to the Beers Criteria.
Aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun Sonchus arvensis L. Rochmy Istikharah; Khittah Dea Annisa Annisa; Nofran Putra Pratama; Hady Anshory  Tamhid
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 11 No. 2 (2015): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intisari Penelitian terhadap ekstrak air dan ekstrak metanol daun Sonchus arvensis L. atau tempuyung telah terbukti mempunyai khasiat sebagai antioksidan. Salah satunya diduga karena kandungan flavonoidnya. Etanol merupakan pelarut yang paling sering digunakan dalam proses ekstraksi dan mempunyai kemampuan yang baik dalam mengekstraksi flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun S. arvensis sebagai antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) dan metode ABTS (2,2’-azino-bis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulphonic acid). Ekstrak daun S. arvensis diperoleh melalui proses maserasi dengan etanol 70%. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan DPPH dan ABTS sebagai sumber radikal bebas terhadap seri kadar ekstrak sehingga dapat dihitung nilai IC50 melalui perhitungan PROBIT. Seri kadar vitamin C digunakan sebagai kontrol positif. Hasil uji peredaman radikal bebas menunjukkan nilai IC50 S. arvensis sebesar 138,26 µg/mL terhadap ABTS dan 64,97 µg/mL terhadap DPPH. Ekstrak etanol daun S. arvensis yang diuji mempunyai aktivitas antioksidan. Kata kunci : Sonchus arvensis, antioksidan, ABTS, DPPH
ANALISIS HUBUNGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN ANTIASMA DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN ASMA DI RUMAH SAKIT KHUSUS PARU RESPIRA UPKPM YOGYAKARTA PERIODE FEBRUARI-APRIL 2013 Ika Alfinnisa Majida; Tri Murti Andayani; Okti Ratna Mafruhah
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 10 No. 2 (2013): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol10.iss2.art3

Abstract

Prevalensi asma yang terus meningkat menjadi perhatian bagi tenaga kesehatan. Kepatuhan pasien asma dalam penggunaan obat dan terwujudnya kualitas hidup pasien yang baik menjadi tujuan utama dalam penatalaksanaan asma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan penggunaan antiasma dengan kualitas hidup pasien asma. Populasi target dalam penelitian ini adalah semua pasien rawat jalan yang  menggunakan terapi anti asma pada tahun 2012. Sampel penelitian ini adalah pasien asma dewasa dengan kategori asma menetap. Sebanyak 72 pasien diambil secara purposive dari populasi target. Penelitian ini menggunakan metode penelitian non eksperimental dengan rancangan cross sectional. Pengambilan data dilakukan secara concurrent dan retrospektif. Tingkat kepatuhan pasien diukur menggunakan kuesioner MMAS (Morisky Medication Adherence Scale) dan kualitas hidup pasien diukur menggunakan AQLQ (Asthma Quality of LifeQuestionnaire). Hasil penelitian menunjukkan 52,78% pasien memiliki kepatuhan rendah dan sebesar 47,22% pasien memiliki kepatuhan sedang. Faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan adalah pola kunjungan pasien. Jumlah pasien asma dengan kualitas hidup kurang baik sebesar 30,56% dan pasien dengan kualitas hidup sedang sebesar 69,44%. Penelitian menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kepatuhan penggunaan antiasma dengan kualitas hidup pasien asma (p = 0,842).
Fomulasi self nano emulsifiying drug delivery system (SNEDDS) ekstrak daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Ait.) Hassk) Bambang Hernawan Nugroho; Nilam Permata Sari
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 14 No. 1 (2018): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol14.iss1.art01

Abstract

IntisariLatar Belakang: Salah satu tanaman yang mengandung senyawa flavonoid yaitu daun karamunting. Namun ekstrak daun karamunting memiliki kelarutan yang rendah, sehingga ektrak daun karamunting perlu diformulasikan menjadi sediaan SNEDDS untuk memperbaiki kelarutan.Tujuan : Untuk membuat formulasi sediaan SNEDDS dari ekstrak daun karamunting.Metode: Dalam pembuatan SNEDDS ekstrak daun karamunting dibuat dengan capryol 90 sebagai fase minyak, tween 20 dan tween 80 sebagai surfaktan, dan PEG 400 sebagai co-surfaktan menggunakan teknik low energy. Evaluasi terhadap sediaan berupa ukuran partikel, indeks polidispersitas (IP), potensial zeta, dan % transmitan.Hasil: Pada penelitian ini didapatkan formulasi sediaan SNEDSS ekstrak daun karamunting diambil pada diagram ternary A yang memiliki daerah wilayah lebih luas karena memiliki ukuran partikel < 200 nm, indeks polidispersitas (IP)< 0.7, potensial zeta > 30 mV dan % transmitan 70-100%.Kesimpulan: Hasil evaluasi ukuran partikel dari beberapa formulasi dengan perbandingan surfaktan yaitu tween 20 dan tween 80. Penggunaan tween 20 sebagai surfaktan menghasilkan daerah nanoemulsi yang lebih luas dan ukuran partikel yang lebih kecilKata Kunci: Daun Karamunting, SNEDDS, Capryol 90, Tween 20, PEG 400
OPTIMASI FORMULASI GEL EKSTRAK DAUN TEMBAKAU (Nicotiana tabacum) DENGAN VARIASI KADAR KARBOPOL940 DAN TEA MENGGUNAKAN METODE Simplex Lattice Design (SLD) Titis Rahayu; Achmad Fudholi; Annisa Fitria
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 12 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Antiseptic preparation that is currently developed today is the hand gel (hand sanitizer). The active substance that has antibacterial activity contained in this gel. Several studies have shown that tobacco leaf extract (Nicotiana tabaccum) has antibacterial activity, so that preparations can be developed by adding tobacco extracts as active ingredient. Formula optimization performed by the method simplex lattice design (SLD) uses 2 components such as Carbopol940 and TEA, with a variety of amount. Viscosity, pH, dispersive power and adhesion of gel formulation is used as a parameter optimization. Based on the equation simplex lattice design, contour plot made to determine the optimum formula. Carbopol940 and Trietanilamin (TEA) with a variety of different amount will affect the physical properties of the gel. The optimum formula obtained by the prediction program Design Expert is the Formula I which have high levels of Carbopol940 0.4 grams and 0.9 grams of TEA. Carbopol940 is the most dominant factor that increases the viscosity and stickiness. TEA is the most dominant factor in raising the pH and the scatter. Keyword: Gel, Carbopol 940, TEA,  Nicotiana tabacum, Simplex Lattice Design (SLD) Intisari Salah satu sediaan antiseptik yang saat ini banyak dikembangkan adalah gel pembersih tangan (hand sanitizer) dengan kandungan zat aktif yang bersifat antibakteri. Beberapa penelitian membuktikan bahwa ekstrak daun tembakau (Nicotiana tabaccum) menhasilkan aktivitas antibakteri, sehingga sediaan hand sanitizer dapat dikembangkan dengan menambahkan ekstrak tembakau sebagai zat aktifnya. Optimasi formula dilakukan dengan metode simplex lattice design (SLD) menggunakan 2 komponen yaitu Karbopol 940 dan TEA, dengan berbagai variasi kadar. Viskositas, pH, daya sebar dan daya lekat sediaan gel digunakan sebagai parameter optimasi. Berdasarkan persamaan simplex lattice design, dibuat contour plot untuk menentukan formula optimum. Karbopol dan Trietanilamin (TEA) dengan variasi kadar yang berbeda akan mempengaruhi sifat fisik gel yang dihasilkan. Formula optimum yang diperoleh berdasarkan prediksi program Design Expert adalah pada Formula I yang memiliki kadar Karbopol 940 0,4 gram dan TEA 0,9 gram. Karbopol 940 merupakan faktor yang paling dominan meningkatkan viskositas dan daya lekat TEA merupakan faktor yang paling dominan menaikkan pH dan daya sebar. Kata kunci: Gel, Karbopol 940, TEA,  Nicotiana tabacum, Simplex Lattice Design (SLD)

Page 3 of 27 | Total Record : 269