cover
Contact Name
Asti Rahmaningrum
Contact Email
kawistara@ugm.ac.id
Phone
+62 895-3345-98070
Journal Mail Official
kawistara@ugm.ac.id
Editorial Address
Gedung Lengkung, Unit 1, Lantai 2, Sayap Timur Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Jalan Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta Telp. (0274-564239 extc. 207)
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kawistara : Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora
ISSN : 20885415     EISSN : 23555777     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 567 Documents
Penelitian tentang Pemberitaan Perubahan Iklim di Negara Global North dan Global South: Sebuah Tinjauan Literatur Sistematis Suluh Gembyeng Ciptadi
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.114214

Abstract

Studi tentang perubahan iklim menunjukkan rendahnya kesadaran tentang perubahan iklim di kalangan jurnalis media. Hal ini menjadikan perubahan iklim bukanlah isu yang populer. Oleh karena media massa beroperasi dalam dinamika kepentingan ekonomi dan politik dalam produksi berita, maka hal tersebut telah berkontribusi pada tingginya risiko dampak perubahan iklim di banyak negara termasuk Indonesia. Studi ini meneliti bagaimana kepentingan-kepentingan ini membentuk ekonomi politik media dalam pelaporan perubahan iklim. Studi ini menggunakan ekonomi politik media sebagai kerangka analitis untuk mengeksplorasi interaksi antara kekuatan politik dan ekonomi yang memengaruhi liputan berita. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis dengan mengidentifikasi artikel-artikel relevan yang terindeks dalam basis data Scopus yang diterbitkan antara tahun 2015 dan 2025, menggunakan kata kunci “political economy AND climate change AND news media.” Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis 18 literatur. Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar studi dalam perspektif ekonomi politik cenderung memprioritaskan kepentingan politik daripada pertimbangan ekonomi. Kebijakan pemerintah tentang perubahan iklim di berbagai negara secara signifikan memengaruhi pembingkaian media. Selain itu, munculnya media alternatif dan lokal telah menantang dominasi media nasional dalam melaporkan isu-isu perubahan iklim. Lebih lanjut, perbandingan antar negara menunjukkan perbedaan dalam pendekatan peliputan antara media di Global North dan Global South. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa kekuasaan dan hubungan politik tetap dominan dalam membentuk pemberitaan perubahan iklim. Namun, penelitian yang secara khusus membahas kepentingan dan dinamika ekonomi dalam peliputan tersebut masih terbatas. Keywords: Political economy; Media; Climate change.
The Roles of Social Capital in Policies for the Development of Maritime Gastronomic Tourism in the Coastal Areas of Bulukumba Syahrial Syahrial; Ahmad Ab; Irva Yulia Rohmah; Muh. Zainuddin Badollahi
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.115072

Abstract

This research examines maritime culinary tourism development policy from a social capital perspective using a functional approach. Bulukumba, known for its maritime cuisine, is a strategic asset for tourism development that can preserve its rich culture and marine resources. However, the reality is that over-exploitation of marine resources threatens the sustainability of fish populations and marine ecosystems. Lack of infrastructure, such as transportation, cold storage, and marketing networks make it difficult for fishers to market their catches efficiently. In addition, local community involvement is often limited due to a lack of access to information, training, and awareness of the importance of conservation. Without active participation, conservation efforts will struggle, exacerbating environmental degradation and harming the economic well-being of coastal communities in the long run. Government policies play a critical role in the development of this sector, with the aim of developing ideal community social capital in the tourism and maritime sectors, using thematic analysis to explore the roles and functions of various stakeholders and assess the potential for community empowerment. The findings show that effective policies include support for sustainable supply chains, training for local businesses, and promotion of seafood as part of the tourism destination offering in Bulukumba. However, there are still obstacles in policy implementation, such as suboptimal coordination between sectors, minimal budget allocation, and challenges in integrating local values into tourism promotion strategies.
Menghidupkan Memori Kolektif: Fotografi dalam Pelestarian Warisan Budaya Mento Toelakan Wonogiri dengan Perspektif Poskolonial Adi Putra Surya Wardhana; Taura Ayu Fajrin Handoko; Hana Hidayatul Umma; Kristina Novi Susanti
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.116576

Abstract

  ABSTRACT Collective memory plays an important role in preserving cultural heritage, while photography can serve as a medium for recording and revitalizing memories of the past. This study examines the use of photography in preserving the cultural heritage of Wonoharjo Village through a postcolonial perspective. During the colonial period, Wonoharjo was known as the site of the Mento Toelakan pineapple fiber plantation, which declined following Indonesian independence. Using a descriptive interpretive qualitative method and a postcolonial approach, this study traces the historical legacy of the plantation and examines how photography contributes to reconstructing collective memory. The findings show that the colonial Agave plantation shaped the identity of Wonoharjo’s community as an Onderneming Mento Toelakan society, while colonial photographs reflected power relations that positioned plantation workers as subaltern subjects. Following independence, the appropriation of plantation remains within an increasingly anti-colonial discourse contributed to the neglect and fading of its historical memory. Today, the remaining traces primarily include irrigation channels, soaking ponds, a plantation railway bridge, and the graves of prominent figures. Photographing these sites serves as a catalyst for collective memory and provides a space for critically revisiting the colonial past. Thus, photography functions not merely as documentation but also as a medium for transmitting collective memory and strengthening the cultural identity of the Wonoharjo community.ABSTRAK Memori kolektif berperan penting dalam pelestarian warisan budaya, sementara fotografi dapat menjadi medium untuk merekam dan menghidupkan kembali ingatan tentang masa lalu. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan fotografi dalam pelestarian warisan budaya Desa Wonoharjo melalui perspektif poskolonial. Pada masa kolonial, Wonoharjo dikenal sebagai kawasan perkebunan serat nanas Mento Toelakan yang mengalami kemunduran setelah kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-interpretatif dengan pendekatan poskolonial untuk menelusuri jejak historis perkebunan dan pemanfaatan fotografi dalam merekonstruksi ingatan kolektif masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan Agave kolonial membentuk identitas masyarakat Wonoharjo sebagai komunitas Onderneming Mento Toelakan, sekaligus merepresentasikan relasi kuasa yang menempatkan buruh sebagai kelompok subaltern dalam fotografi kolonial. Pasca kemerdekaan, pengambilalihan peninggalan perkebunan dalam wacana antikolonial turut mendorong pengabaian dan pelupaan sejarahnya. Kini, jejak tersebut terutama tersisa dalam bentuk saluran pengairan, kolam rendaman, jembatan lori, dan makam tokoh. Pemotretan situs-situs tersebut menjadi pemantik memori kolektif sekaligus ruang untuk membaca kembali sejarah kolonial secara kritis. Dengan demikian, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai medium pewarisan memori dan penguatan identitas masyarakat Wonoharjo. 
Peran Ruang Budaya dalam Menumbuhkan Kesejahteraan Psikologis Masyarakat Nani Sriwardani; Nia Emilda; Rachmi Kumala Widyasari
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.116941

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kampung Jalawastu Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Kampung ini masih mempertahankan kearifan lokal di tengah arus modernisasi yang seringkali menggerus berbagai praktik kultural. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran ruang budaya terhadap kesejahteraan psikologis masyarakat Jalawastu. Permasalahan yang diangkat berfokus pada memetakan ruang budaya dan melihat hubungannya dengan kesejahteraan masyarakatnya. Ruang budaya dilihat dengan makna, aktifitas dan nilai-nilai tradisi di dalamnya, sehingga tradisi sebagai mekanisme kolektif yang menopang ketenangan batin, kesederhanaan, dan kebersamaan dapat terus dijaga dan bisa menjadi pondasi dalam pengembangan serta peningkatan kesejahteraan psikologis masyarakatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta dokumentasi terhadap aktifitas budaya masyarakat Jalawastu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ruang budaya dapat dibaca dan menjadi panduan dengan melihat seluruh rangkaian ruang yang tidak hanya teraba namun juga tak teraba dengan aktivitas dan maknanya. Integrasi antara tradisi, ritual, dan ruang budaya membentuk sistem nilai yang secara fungsional mendukung kesejahteraan psikologis masyarakat. 
Navigasi di Ruang Abu-Abu: Aksi Kolektif dan Penghindaran Institusi dalam Transformasi Ruang Pascatambang Rian Pebriansyah; Doddy Aditya Iskandar
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.117547

Abstract

ABSTRACT Post-mining lands are synonymous with ecological degradation and institutional gridlock. Many studies have shown that disputes over land ownership often make post-mining lands subject to destructive exploitation. In contrast to this pattern, this article analyzes the public space transformation anomaly in Danau Pading, where communities independently transformed former mining lands into tourism areas. This qualitative research used purposive sampling across four actor clusters. Data accuracy was tested through source, method, and time triangulation. Data analysis adapted a Constructivist Grounded Theory pproach using constant comparative analysis to inductively categorize information. Theories of Olson, Ostrom, and North were positioned as sensitizing concepts providing an initial foundation to openly explore empirical findings without prescriptive theoretical constraint. Results indicate that spatial production during initiation was driven by a privileged group leveraging social capital to dismantle latent group apathy. However, spatial resilience proved vulnerable during stagnation. Demographic transitions increased opportunity costs, triggering pioneer withdrawal, while the absence of monitoring mechanisms spawned free-riders causing asset degradation. The study’s novelty lies in showing that when state intervention triggers institutional rigidity through the compulsory imposition of local revenue levies (retribusi), spatial sustainability is rescued by the flexibility of informal constraints through local actors’ adaptive tactics in policy gray areas. As an operational prescription, local governments are recommended to institutionalize this flexibility through formal cooperation agreements (PKS) featuring a retribution-free grace period clause.ABSTRAK Lahan pascatambang identik dengan kerusakan ekologis dan kebuntuan institusional. Banyak kajian menunjukkan bahwa sengketa kepemilikan lahan seringkali membuat kawasan pascatambang terdorong ke eksploitasi destruktif. Berbeda dengan pola tersebut, artikel ini menganalisis anomali transformasi ruang publik Danau Pading, di mana masyarakat swadaya merekayasa lahan eks-tambang menjadi kawasan pariwisata. Penelitian kualitatif ini menggunakan sampel purposif pada empat klaster aktor. Akurasi data diuji melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu. Analisis data mengadaptasi Constructivist Grounded Theory melalui constant comparative analysis guna mengategorisasikan informasi secara induktif. Teori Olson, Ostrom, dan North diposisikan sebagai konsep pensensitisasi yang menjadi landasan awal untuk mengeksplorasi temuan empiris secara terbuka tanpa kendala teori bersifat reskriptif. Hasilnya, produksi ruang fase inisiasi digerakkan oleh kelompok perintis melalui pengerahan modal sosial untuk meruntuhkan apatisme kelompok laten. Namun, resiliensi ruang terbukti rentan pada fase stagnasi. Transisi demografis pengelola meningkatkan biaya peluang, memicu mundurnya perintis, sementara ketiadaan mekanisme pengawasan melahirkan penumpang gelap yang mendegradasi aset. Kebaruan kajian terletak pada temuan bahwa ketika intervensi negara memicu kekakuan institusi akibat paksaan retribusi, kelangsungan ruang diselamatkan oleh kelenturan aturan informal melalui taktik adaptif aktor lokal di ruang abu-abu kebijakan. Sebagai preskripsi operasional, pemerintah daerah direkomendasikan melembagakan kelenturan ini secara formal melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) berklausul masa tenggang (grace period) bebas retribusi.
Religious Verification Through AI: Tagging Grok in Indonesian Online Debates on X Muhammad Maulana; Muhammad Arinalhaq; Muhammad Hendri; Gustira Monita
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.117610

Abstract

Studies of digital religion have shown that computational systems can shape public judgment by organizing information and appearing as neutral evaluators of contested claims. One form of this AI mediated religious knowledge is religious verification, which refers to how religious claims are tested, justified, and made credible in public exchanges. This occurs, for example, when the artificial intelligence system Grok appears in discussion threads on X when users tag the system while debating religious teachings, interpretations, and public claims. This study examines how religious verification is enacted through tagging Grok in Indonesian online debates. Rather than treating AI only as a technical source of information, the article approaches tagging as a communicative practice through which participants recruit an algorithmic system into the evaluation of religious knowledge. Using qualitative internet-based research, the study observes publicly accessible Indonesian threads that explicitly tag @grok in conversations related to religion. The analysis shows three interconnected forms of verification: teaching verification, claim verification, and polemical verification. These forms indicate that users mobilize AI as a visible reference point for clarification, comparison, and argumentative support. The article argues that religious verification in platformed debate depends on negotiated relations between users, religious claims, and algorithmic responses. This process shows how AI begins to acquire perceived epistemic authority in everyday digital religious exchanges without replacing established religious authorities.
Nusantarazation and Green Diplomacy: Local Ecological Knowledge in OISCA–Indonesia's Human Resource Development Programs Fiya Ainur Rohmatika; Mohammad Reevany Bustami; Joko Sutopo
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.117813

Abstract

This study explores how green diplomacy is operationalized through the integration of local wisdom and Local Ecological Knowledge (LEK) within the human resource development programs of the Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement (OISCA)–Indonesia. The research is situated within the limited scholarly discussion on the role of cultural values and LEK as normative and practical foundations of international environmental cooperation, which is often framed through technocratic and one-way knowledge transfer models. This study investigates how the Javanese of Memayu Hayuning Bawana and LEK are internalized within OISCA–Indonesia's environmental and agricultural training programs through a Nusantarazation approach. Using a qualitative case study design, the research draws on semi-structured in-depth interviews (n=2), field observations, and document analysis, with thematic analysis and source/method triangulation applied to strengthen validity. The findings indicate that green diplomacy in OISCA–Indonesia functions not only as a means of transferring technical knowledge but also as a space for exchanging values and ecological perspectives. The exploratory contribution of this study lies in illustrating how local wisdom can serve as a foundational framework for green diplomacy, enabling more contextual, culturally rooted, and sustainable human resource development. Future research with expanded samples across multiple sites is required to validate these initial insights.