cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 146 Documents
PENERAPAN “MIE PERMATA” UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IXB SMP NEGERI 15 SURAKARTA Latifah, Siti
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 6 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.737 KB)

Abstract

Karya tulis  berjudul Penerapan “Mie Permata” Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Pada Siswa Kelas IXB  SMP Negeri 15 Surakarta, dilatarbelakangi karena tuntutan pembelajaran yang berdasarkan Pakem. Oleh karena itu diadakan Penelitian sebagaimana judul karya tulis di atas dengan menvariasi metode mengajar dengan permainan atau game. Permasalahan : Apakah Penerapan Mie Permata dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar IPA pada siswa kelas IXB SMP Negeri 15 Surakarta? Tujuan : Dengan menerapkan Mie Permata dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar IPA pada siswa kelas IXB SMP Negeri 15 Surakarta.        Jenis Penelitian  : Penelitian tindakan kelas, dengan subyek siswa kelas IXB berjumlah 28 siswa terdiri dari 15 siswa perempuan dan 13 siswa laki – laki. Ada 3 variabel yang menjadi fokus penelitian tindakan kelas ini yaitu Variabel input : siswa yang akan diberi tindakan, Variabel proses : berupa variabel pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi yaitu penerapan Mie Permata, Variabel output : aktifitas dan hasil belajar IPA siswa pada kelangsungan hidup makhluk hidup. Rencana tindakan melalui dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Penilaian hasil proses pembelajaran adalah deskriptif prosentase untuk mengetahui peningkatan aktifitas dan hasil belajar IPA. Apabila ada peningkatan aktifitas dan hasil belajar IPA setelah proses belajar mengajar dengan menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi yaitu “Mie Permata” maka dapat dikatakan tujuan penelitian sudah tercapai.             Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar IPA materi kelangsungan hidup makhluk hidup dengan menerapkan metode “Mie Permata” pada siklus I ada 22 siswa atau  78,57% % terlampaui dari KKM 70, ada peningkatan yang optimal dari kondisi awal 67,86 % dan pada siklus II ada 26 siswa atau 92,86% terlampaui dari KKM, ada peningkatan  yang cukup signifikan 14,29 % dari siklus I. Keaktifan siswa dari siklus I ke siklus II meningkat 39,29 %. Kesimpulan : Penerapan “Mie Permata” dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar IPA pada siswa kelas IXB SMP Negeri 15 Surakarta tahun pelajaran 2014/2015. Saran : guru hendaknya selalu kreatif dan inovatif dalam menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga diharapkan hasil belajar IPA siswa dapat meningkat
IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA SMA KELASXI PADA MATERI DINAMIKA ROTASI DAN KESETIMBANGAN BENDA TEGAR TAHUN AJARAN 2013/2014 Aprilianingrum, Fitri; Jamzuri, Jamzuri; Supurwoko, Supurwoko
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 6 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.526 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk (1) mengetahui ada atau tidak adanya miskonsepsi siswa SMA kelas XI Tahun Ajaran 2013/2014 tentang materi Dinamika Rotasi dan Kesetimbangan Benda Tegar, (2) mengetahui bagaimana profil miskonsepsi siswa SMA kelas XI Tahun Ajaran 2013/2014 tentang materi Dinamika Rotasi dan Kesetimbangan Benda Tegar, (3) menjelaskan langkah-langkah mengatasi miskonsepsi siswa SMA kelas XI Tahun Ajaran 2013/2014 tentang materi Dinamika Rotasi dan Kesetimbangan Benda Tegar.Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dan sampelnya siswa kelas XI.IPA.2 dan XI.IPA.4 SMA Negeri 8 Surakarta, yang diperoleh secara purposive sampling. Data penelitian miskonsepsi siswa diperoleh dari perangkat tes berbentuk pilihan ganda tipe II dan tipe III, yang dianalisis dengan statistik deskriptif.Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan: (1) ada sebagian siswa kelas XI SMA Negeri 8 Surakarta pada Tahun Ajaran 2013/2014 memiliki miskonsepsi tentang materi Dinamika Rotasi dan Kesetimbangan Benda Tegar, (2) Profil miskonsepsi siswa kelas XI SMA Negeri 8 Surakarta dengan persentase rata-rata terbesar adalah pada konsep Kesetimbangan statis (79,17 %). Berdasarkan kelompok bentuk miskonsepsi, siswa mengalami miskonsepsi pengertian yang paling dominan sebesar 81,25 % tetang konsep Kesetimbangan Statis, miskonsepsi hubungan antar konsep yang paling dominan sebesar 75,00 % tentang konsep Hubungan Momen Gaya dengan Percepatan Sudut, miskonsepsi penggunaan konsep yang paling dominan sebesar 65,50 % tentang konsep Momen Inersia dan miskonsepsi contoh-contoh konsep yang paling dominan sebesar 75,00 % tentang konsep Energi Kinetik Dalam Gerak Menggelinding, (3) Langkah-langkah mengatasi miskonsepsi siswa yaitu: (a) mencari dan mengungkap miskonsepsi siswa yang terjadi, (b) mencoba menemukan penyebab miskonsepsi siswa tersebut, (c) menentukan prioritas dan pelajaran remidial khusus.Kata Kunci: Miskonsepsi Siswa, Dinamika Rotasi dan Kesetimbangan Benda Tegar, Metode Deskriptif.
Media Pembelajaran Menggunakan Spreadsheet Excel Untuk Materi Osilasi Harmonik Teredam Paramita, Putri Sulistiyani Shanti; pujayanto, pujayanto
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 5 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.069 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk membuat media pembelajaran berupa simulasi gerak osilasi harmonik sederhana dan osilasi harmonik teredam menggunakan program yang terkomputerisasi yaitu menggunakan spreadsheet Excel.Osilasi harmonik merupakan fenomena fisis yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari – hari. Fenomena fisis tersebut dinyatakan dalam model matematis yaitu persamaan. Solusi persamaan osilasi harmonik yang berupa  persamaan differensial dapat diselesaikan melalui pendekatan analitik. Kemampuan abstraksi suatu konsep dapat dilakukan melalui simulasi interaktif terkomputerisasi menggunakan program spreadsheet Excel berbantuan aplikasi Visual Basic Application (VBA).Pembuatan media pembelajaran simulasi osilasi harmonik menggunakan spreadsheet Excel melalui beberapa tahapan antara lain : identifikasi kebutuhan, penentuan topik pelajaran, penentuan jenis atau golongan media pembelajaran, pengorganisasian isi/ materi dan bahan yang diperlukan, penyususnan media pembelajaran, ujicoba media pembelajaran, revisi media pembelajaran, dan produksi media pembelajaran.Prosedur pengoperasian media pembelajaran simulasi osilasi harmonik cukup mudah, sebab pengguna hanya menggeser scrollbar untuk menentukan nilai parameter. Selanjutnya dengan menekan tombol navigasi yang disediakan maka simulasi secara otomatis bergerak dari 0 sekon sampai 20 sekon. Media simulasi menggunakan spreadsheet Excel menyajikan simulasi osilasi harmonik sederhana dan simulasi osilasi harmonik teredam. Selain itu kelebihan media simulasi osilasi dapat dijalankan pada berbagai Personal Computer, sehingga sangat mudah dipelajari dimanapun dan kapanpun.  
HARVESTING ENERGY PANAS MATAHARI MENGGUNAKAN THERMOELECTRIC DAN PHOTOVOLTAIC Putri, Desy Erma; Harjunowibowo, Dewanto; Fauzi, Ahmad
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 2 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.268 KB)

Abstract

Paper ini bertujuan untuk: (1) Membuat prototipe Harvesting Energy panas matahari menggunakan Thermoelectric dan Photovoltaic; dan (2) Mengetahui pengaruh variasi suhu dan intesitas cahaya terhadap arus dan tegangan yang dihasilkan dari Thermoelectric dan Photovoltaic. Makalah ini disusun berdasarkan kajian literatur seperti buku, jurnal, internet, dan literatur lainnya yang membahas tentang pemanfaatan modul Thermoelectric dan Photovoltaic sebagai alat konversi energi panas dan cahaya Matahari menjadi energi listrik. Metode penelitian dalam Eksperimen Fisika II ini adalah metode eksperimen sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis kuantitatif dan grafik. Hasil analisis data dibandingkan dengan teori yang sudah ada. Percobaan ini dilakukan dengan cara merangkai seri 4 buah modul Thermoelectric kemudian memberikan perbedaan suhu pada kedua permukaan modul Thermoelectric yakni pada sisi panas diberikan suhu lebih tinggi dan pada sisi dingin diberikan suhu yang lebih rendah. Lalu dari keluaran modul dihitung nilai tegangan dan arus yang dihasilkan. Kemudian untuk modul Photovoltaic yang diberi pancaran cahaya Matahari yang diubah menjadi arus dan tegangan listrik yang masing-masing keluaran dari modul diperkuat oleh rangkaian Blocking Oscilator. Dengan diperolehnya data tegangan, arus, dapat digunakan untuk mencari berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengisi baterai 2,4 V dengan kapasitas 2000 mAh. Dari hasil percobaan yang dilakukan dengan waktu pengamatan yang berbeda diperoleh bahwa tegangan maksimal yang mampu dihasilkan oleh sistem adalah V = 3,115 volt, dan arus I = 47,07 mA, sehingga waktu yang dibutuhkan baterai agar terisi secara penuh dapat dihitung dengan persamaan Kapasitas Baterai (mAh) = Kapasitas Charger (mA) x Waktu Pengisian (h), dari perhitungan diperoleh lama waktu pengisian baterai adalah t = 42,49 jam.Kata kunci : Harvesting Energy, Thermoelectric, Photovoltaic, waktu pengisisan baterai
Model Learning Cycle 7E Dalam Pembelajaran IPA Terpadu Adilah, Dina Nur; Budiharti, Rini
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 4 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.24 KB)

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat model learning cycle 7E. Model learning cycle 7E merupakan model pembelajaran yang berbasis konstruktivisme yang terdiri dari tujuh fase berupa Elicit, Engage, Explore, Explain, Elaborate, Evaluate, dan Extend yang terorganisasi dan berpusat pada siswa sehingga siswa secara aktif menemukan konsep sendiri. Pada fase Elicit, guru berusaha mendatangkan pengetahuan awal siswa, pada fase Engage, guru mengajak dan menarik perhatian siswa. Siswa diberikan pengalaman langsung untuk berkeksplorasi pada fase Explore dan menjelaskan apa yang ia dapatkan dari hasil ekslporasi pada fase Explain. Selanjutnya pada fase Elaborate siswa menerapkan simbol, definisi, konsep, dan keterampilan pada permasalahan. Pada fase Evaluate, guru menilai siswa, dan kemudian pada fase Extend siswa memperluas pengetahuannya dengan menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari ataupun mencari hubungan antara konsep yang mereka pelajari dengan konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari. Model ini dapat menumbuhkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran secara aktif. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti pendahulu, dengan model learning cycle 7E dapat meningkatkan hasil belajar dan keterampilan berpikir kritis. Model ini cocok apabila diterapkan dalam pembelajaran IPA karena hakikat IPA yang meliputi empat unsur (sikap, proses, produk, dan aplikasi) dapat muncul dalam fase learning cycle 7E.Kata kunci : learning cycle 7E, IPA Terpadu
SURAT KETERANGAN PENDAMPING IJAZAH BAGI MAHASISWA LULUSAN PENDIDIKAN FISIKA DAN TANTANGAN MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN Sarwanto, Sarwanto
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 1 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.253 KB)

Abstract

Berita yang cukup mengejutkan pada bulan Mei 2015 bahwa perawat-perawat Indonesia yang bekerja di Timur Tengah terancam dipulangkan (Sindo, 15 Mei 2015). Sebenarnya rencana pemulangan perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri sudah diketahui oleh Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemenristek-Dikti Illah Sailah pada awal tahun 2015. Konsekuensinya, Direktur Belmawa harus memberi penjelasan kepada penyalur tenaga kerja, majikan dan pemerintah Kuwait perihal keabsahan ijazah pendidikan para perawat di Indonesia, akreditasi prodi, dan sertifikasi lulusan. Selain itu Kemenristek-Dikti melakukan kegiatan dengan meningkatkan intensitas sosialisasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sampai dengan penyusunan learning outcome ke Universitas/Prodi di Indonesia.KKNI menjadi salah satu alat untuk menyejajarkan kompetensi lulusan perguruan tinggi di Indonesia dengan kompetensi lulusan dari negara lain misalnya Philipina (Philippine Qualification Framework / PQR) bahkan dengan standar Asean (Asean Qualification Reference Framework-AQRF). Kualifikasi adalah kelayakan seorang lulusan perguruan tinggi dengan kompetensi-kompetensi minimal yang distandarkan. Sedangkan sertifikasi adalah kewenangan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. KKNI bukan sebuah sertifikasi tetapi kelayakan pada level tertentu yang diperoleh melalui: pendidikan, pengalaman pribadi, peningkatan profesionalitas, atau melalui peningkatan karir di dunia kerja.Dibukanya ekonomi bebas masyarakat Asean (ASEAN Economic Community/AEC), memberikan peluang kepada lulusan Pendidikan Fisika untuk bersaing dengan lulusan dari negara lain. Agar pengguna lulusan dapat mengetahui kompetensi calon tenaga kerja yang akan direkrutnya, maka diperlukan surat keterangan yang menunjukkan kompetensi ini dalam bentuk narasi pada surat keterangan pendamping ijazah (SKPI).
PENDALAMAN MATERI IPA BERBASIS PENDEKATAN PROSES BAGI GURU SD DI SUKOHARJO Jamzuri, Jamzuri; Aminah, Nonoh Siti
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 3 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.241 KB)

Abstract

Pembelajaran IPA harus distrukturkan sedemikian rupa hingga para siswa mampu memahami, mengingat dan mengaplikasikan materi yang diajarkan. Untuk memenuhi persyaratan tersebut jam pelajaran harus diberi struktur dengan struktur utama : Pengembangan suatu masalah atau pertanyaan IPA, membahas solusi-solusi yang mungkin, contoh merumuskan hipotesa dan menguji hipotesa melalui perencanaan, pelaksanaan dan analisa percobaan-percobaan.Ada 8 struktur pembelajaran IPA, ialah : (a) Motivasi untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap materi IPA pembelajaran (b) Penjabaran masalah sebagai bentuk uraian dari rumusan pertanyaan ilmiah IPA tertentu (c) Penyusunan Opini-opini sebagai perumusan sejumlah hipotesa atau dugaan sementara (d) Perencanaan dan konstruksi untuk memilih peralatan dari percobaan agar berfungsi (e) Percobaan IPA sebagai perwujudan sebab akibat dari reaksi alam (f) Kesimpulan hasil IPA dari suatu prosedur pemecahan masalah (g) Abstraksi dar hasil ilmiah yang sah (h) Konsolidasi pengetahuan melalui aplikasi dan praktek pengetahuan IPA secara menyeluruh suatu fenomena alam dan integrasi hasil pendidikan.Rumusan masalah penelitian : Apakah 8 struktur pembelajaran IPA di SD pola SEQIP masih dilaksanakan ?Metodologi penelitian ialah dengan mengamati perilaku mengajar IPA berdasarkan indikator delapan struktur pembelajaran ilmiah.Kesimpulan penelitian : Ke delapan struktur pembelajaran dilaksanakan secara luwes, tetapi harus memper hatikan aspek khusus sebagai berikut : (a) Makna masing-masing struktur dapat sangat bervariasi. Bobot tergantung pada materi yang akan diajarkan maupun kepada situasi dan didaktik suatu kelas (b) Dalam praktek pengajaran ada transisi terus menerus dari satu struktur ke struktur berikutnya, sehingga sulit menarik garis tegas masing-masing struktur (c) Kadang ada struktur yang diabaikan atau dua struktur terjadi secara bersamaan atau saling menyusul dengan begitu cepat sehingga sulit menarik garis pembatas yang tegas antara masing-masing struktur. Misalnya antara konstruksi dan percobaan, abtara percobaan dan kesimpulan, antara kesimpulan dan abstraksi. Terutama di kelas rendah, struktur-struktur “konstruksi”, “kesimpulan” dan “Abstraksi” kadang dapat diabaikan sama sekali. (d) Tergantung pada struktur dan pengaturan materi yang diberikan, ada struktur-struktur yang berulang-ulang secara teratur, kadang dalam jangka waktu yang sangat singkat dalam satu unit pelajaran.Saran : Sebelum mampu menangani delapan struktur ilmiah maupun variasinya secara mantap, sangat perlu untuk praktek menggunakan bentuk yang sederhana dulu, yang mempunyai struktur yang terpisah secara jelas, berdasarkan suatu protokol pelaksanaan pendidikan yang ditulis sebelumnya.Kata kunci : Struktur Pembelajaran Ilmiah
Trafasi-220 Sederhana : Alat Peraga Anti-kesetrum Untuk Praktikum Instalasi Listrik Arus Kuat Pada Mata Pelajaran Keterampilan Elektro Sugandhi, Ugan; Kristiyanto, Wahyu Hari
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 6 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.885 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah merancang alat peraga sederhana untuk mencegah kesetrum pada praktikum instalasi listrik bertegangan 220 volt yang terkesan natural. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen laboratorium terhadap rancangan rangkaian 2 (dua) trafo step-down 2 Ampere bekas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trafo 1 step-down yang digunakan untuk menurunkan tegangan listrik 220 volt menjadi 12 volt yang dirangkai secara seri dengan trafo 2 yang diposisikan sebagai tafo step-up yang menaikkan tegangan listrik 12 volt menjadi 220 volt dapat menghasilkan tegangan listrik keluaran sebesar 220 volt. Keluaran trafo 2 sebesar 220 volt telah dapat menyalakan lampu 5W/220V dan tidak menyebabkan kesetrum ketika setiap bagian rangkaian tersebut dipegang secara langsung oleh praktikan. Rangkaian 2 trafo tersebut yang menghasilkan tegangan 220 volt dan menyebabkan tidak kesetrum ini dinamakan Trafasi-220. Simpulan penelitian ini adalah rancangan Trafasi-220 sederhana dapat mencegah kesetrum dan dapat dipergunakan siswa secara aman dalam praktikum instalasi listrik bertegangan 220 volt.Saran penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh penggunaan Trafasi-220 sederhana ini terhadap peningkatan keberanian siswa dalam praktikum instalasi listrik pada mata pelajaran Keterampilan Elektro.Kata kunci : Trafasi-220,anti-kesetrum,praktikum, instalasi, listrik
PROYEK “VIDEO PENDEK” UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL KERJA PRAKTIK LABORATORIUM PADA SISWA KELAS XII-IPA5 SMAN 1 WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Suparjo, Suparjo
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 2 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.733 KB)

Abstract

Penelitian tindakan kelas dilakukan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Wonogiri dimulai bulan Agustus 2013 sampai bulan Nopember 2013, dengan tujuan (1) meningkatkan aktivitas kerja praktik laboratorium siswa kelas XII-IPA5 SMA Negeri 1 Wonogiri melalui penerapan model proyek “pembuatan media video pendek“ (2) meningkatkan hasil kerja praktik laboratorium siswa kelas XII-IPA5 SMA Negeri 1 Wonogiri melalui penerapan model proyek “pembuatan media video pendek“. Sejalan dengan tujuan penelitian, maka penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan dua siklus, tiap siklus meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Terjadi peningkatan rerata nilai hasil kerja praktik laboratorium siswa dari siklus 1 (79,00) ke siklus 2 (80,33) sebesar 1,33 dan aktivitas siswa selama penerapan model proyek “pembuatan media video pendek“ juga meningkat. Dengan demikian penelitian menyimpulkan bahwa melalui penerapan model  proyek “pembuatan media video pendek“ aktivitas dan hasil kerja praktik laboratorium siswa SMA Negeri 1 Wonogiri Kelas XII-IPA5 dapat ditingkatkan Kata kunci :  video pendek, aktivitas, hasil kerja, praktik laboratorium.
PENGGUNAAN KARTUN SEBAGAI INSTRUMEN DIAGNOSTIK MISKONSEPSI PADA HUKUM NEWTON III Manialoka, Sepriyanti; Sudarmi, Marmi; Rondonuwu, Ferdy S.
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 6, No 5 (2015): SNFPF 2015 Prospek Pendidikan Sains 5 Tahun ke Depan
Publisher : Physics Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.913 KB)

Abstract

Paper ini bertujuan untuk melaporkan efektivitas penggunaan kartun sebagai instrumen diagnostik miskonsepsi. Tipe soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal esai yang disajikan dalam bentuk kartun dan bentuk teks. Soal dalam bentuk kartun dan teks dibagikan kepada sampel untuk dikerjakan. Setelah soal selesai dikerjakan, lembar jawaban dikumpulkan. Jawaban dari siswa kemudian dikelompokkan menjadi dua jenis jawaban yaitu : jawaban benar dan salah. Jawaban salah dibagi lagi menjadi dua yaitu : kesalahan yang acak (tidak konsisten) dan kesalahan yang konsisten. Kesalahan yang konsisten ini disebut miskonsepsi. Hasil dari masing - masing jenis jawaban ditampilkan dalam bentuk tabel. Dari tabel tersebut, masing - masing jenis jawaban dari soal bentuk kartun dan soal bentuk teks dibandingkan  Data yang diperoleh menunjukkan bahwa, ketika siswa yang sama diberi soal dalam bentuk teks dan soal dalam bentuk  kartun, soal dalam bentuk kartun dapat menghasilkan jawaban yang lebih konsisten jika dibandingkan dengan soal dalam bentuk teks.Â